Bab 5: Nyonya Malik yang Tak Terduga

Pagi itu, lobi Malik Tower yang biasanya tenang berubah menjadi medan tempur bisik-bisik. Sebuah limusin hitam berhenti tepat di depan pintu utama. Arkanza Malik keluar dengan setelan jas navy yang sangat rapi, tapi pemandangan di sebelahnya membuat semua karyawan mematung.

Arkanza menggandeng tangan seorang gadis yang mengenakan gaun sutra simpel namun elegan. Gadis itu adalah Aira.

"Tuan Arkanza... menggandeng wanita?" bisik seorang resepsionis dengan mata hampir keluar.

"Tanpa sarung tangan? Dia tidak sesak napas?" sahut yang lain.

Arkanza mengabaikan mereka semua. Ia justru mempererat genggamannya pada tangan Aira yang sedikit dingin.

"Angkat kepalamu, Aira. Kau bukan lagi pelayan kafe. Kau adalah istriku," bisik Arkanza, suaranya berat dan penuh dominasi.

"Tapi Tuan... mereka semua menatapku seolah aku ini alien," jawab Aira pelan, suaranya bergetar.

"Biarkan saja. Mereka menatap karena mereka iri. Tetaplah di sampingku."

Saat mereka mencapai lift eksekutif, asisten pribadi Arkanza, Reno, datang dengan wajah pucat. "Tuan, ada rapat dewan direksi sepuluh menit lagi. Tuan Dion sudah berada di dalam."

Arkanza menyeringai dingin. "Bagus. Biarkan dia melihat apa yang paling dia takuti."

Lantai 50 - Ruang Rapat Dewan Direksi

Pintu ruang rapat terbuka lebar. Arkanza melangkah masuk, menarik Aira tepat ke sisi kursinya yang berada di kepala meja. Dion, yang duduk di sisi kanan, langsung berdiri dengan wajah merah padam.

"Arkanza! Apa maksudnya ini? Ini ruang rapat rahasia, kenapa kau membawa wanita asing ke sini?" teruk Dion sambil menunjuk Aira dengan kasar.

Arkanza duduk dengan tenang, lalu menarik Aira untuk duduk di kursi kosong tepat di sebelahnya. "Wanita asing? Jaga bicaramu, Dion. Dia adalah Nyonya Arkanza Malik. Istri sahku."

Seluruh ruangan hening seketika. Para direktur saling pandang dengan bingung.

"Menikah? Kau bercanda?" Dion tertawa sinis, meski matanya berkilat marah. "Semua orang tahu kau punya 'cacat' fisik. Kau tidak bisa menyentuh wanita. Jangan bilang kau menyewa wanita ini untuk sandiwara demi warisan Ayah!"

Arkanza menatap Dion dengan pandangan menghina. Ia perlahan meraih tangan Aira, mengangkatnya ke atas meja, lalu mengecup punggung tangan Aira di depan semua orang.

"Sandiwara? Lihat sendiri, Dion. Apakah aku terlihat seperti pria yang sedang sekarat?" tanya Arkanza dengan nada mengejek. "Justru sebaliknya, aku merasa sangat sehat. Jauh lebih sehat daripada kau yang terus-menerus kalah dalam tender proyek."

"Kau—!" Dion memukul meja. "Gadis ini pasti punya trik. Siapa namamu, hah? Berapa Arkanza membayarmu untuk akting ini?"

Aira tersentak, namun ia teringat kata-kata Arkanza di mobil. Ia harus kuat.

"Nama saya Aira Kirana Malik, Tuan Dion," ucap Aira dengan suara yang diusahakan tetap tenang. "Dan saya tidak dibayar untuk akting. Saya di sini karena suami saya membutuhkan saya."

"Suami? Cih! Dasar wanita mata duitan," maki Dion. Ia beralih pada para direksi. "Tuan-tuan, kita tidak bisa membiarkan perusahaan ini dipimpin oleh orang yang membawa masalah pribadinya ke kantor! Ini melanggar etika!"

"Etika?" Arkanza berdiri, auranya yang mengintimidasi langsung memenuhi ruangan. "Etika mana yang kau maksud? Etika saat kau mencoba menjebakku di hotel kemarin malam? Atau etika saat kau berusaha mencuri saham pribadiku?"

Dion terdiam, wajahnya berubah pucat. "Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan!"

"Reno, bagikan dokumennya," perintah Arkanza.

Asisten Reno membagikan map hitam kepada para direktur. "Itu adalah bukti legalitas pernikahan Tuan Arkanza dan Nyonya Aira. Lengkap dengan sertifikat kesehatan yang menyatakan Tuan Arkanza dalam kondisi prima."

Arkanza mencondongkan tubuh ke arah Dion, berbisik cukup keras agar terdengar semua orang. "Harta warisan itu tetap milikku, Dion. Karena sekarang, aku tidak hanya punya istri, tapi aku punya 'alasan' untuk tetap hidup lebih lama darimu."

Dion mengepalkan tangan hingga buku jarinya memutih. "Jangan pikir ini sudah selesai, Arkan. Aku akan mencari tahu siapa gadis ini sebenarnya. Dan saat aku menemukannya, kau akan menyesal pernah membawanya ke sini!"

Dion keluar dari ruang rapat sambil membanting pintu. Arkanza kembali duduk, napasnya sedikit memberat karena emosi, tapi tangannya tidak lepas dari Aira.

"Tuan... Anda tidak apa-apa?" bisik Aira cemas.

Arkanza menatap Aira. Tatapannya yang tadi tajam pada Dion, mendadak melunak saat melihat wajah khawatir Aira. "Aku baik-baik saja selama kau ada di sini."

"Tapi Tuan Dion terlihat sangat marah. Dia pasti akan melakukan sesuatu," lanjut Aira.

Arkanza menarik kursi Aira agar lebih dekat dengannya, mengabaikan para direktur yang masih ada di sana. "Biarkan dia mencoba. Dia hanya tidak tahu bahwa dengan menyentuhmu, dia baru saja menggali kuburannya sendiri."

Arkanza beralih pada para direktur yang masih terpaku. "Rapat dimulai sekarang. Dan Nyonya Malik akan tetap di sini, mendengarkan setiap kata yang kalian ucapkan. Ada keberatan?"

Tidak ada satu pun direktur yang berani bersuara. Mereka hanya mengangguk patuh.

Sepanjang rapat yang berlangsung dua jam itu, Arkanza tidak melepaskan tangan Aira. Bagi Arkanza, tangan kecil itu bukan hanya obat, tapi juga senjata untuk menunjukkan pada dunia bahwa sang Monster kini telah memiliki pelindungnya sendiri.

...****************...

Saat rapat selesai, Reno masuk dengan terburu-buru dan berbisik pada Arkanza. "Tuan, ada seorang pria bernama Alan di lobi bawah. Dia berteriak-teriak bahwa dia adalah ayah mertua Anda dan meminta uang dua puluh miliar atau dia akan membeberkan rahasia Aira ke media."

Episodes
1 Bab 1: Oksigen Sang Iblis
2 Bab 2: Sangkar Emas Berjalan
3 Bab 3: Tes di Kamar Pengantin
4 Bab 4: Di Bawah Satu Selimut
5 Bab 5: Nyonya Malik yang Tak Terduga
6 Bab 6: Harga Sebuah Tamparan
7 Bab 7: Perhatian di Balik Amarah
8 Bab 8: Racun di Balik Bingkai
9 Bab 9: Pertaruhan di Tengah Malam
10 Bab 10: Oksigen di Ambang Kematian
11 Bab 11: Rahasia yang Tercekat
12 Bab 12: Oksigen yang Hilang
13 Bab 13: Detak Jantung yang Kembali
14 Bab 14: Sisa Trauma di Balik Awan
15 Bab 15: Pengorbanan Sang Sahabat
16 Bab 16: Sandiwara di Balik Tirai Putih
17 Bab 17: Penawar di Balik Pintu Rahasia
18 Bab 18: Ambisi di Balik Kedok Pengobatan
19 Bab 19: Altar Pengkhianatan
20 Bab 20: Darah di Atas Altar
21 Bab 21: Takhta yang Tertukar
22 Bab 22: Benang Merah di London
23 Bab 23: Predator di Balik Bayangan
24 Bab 24: Distorsi Kebenaran
25 Bab 25: Sayap-Sayap Maut
26 Bab 26: Rahasia di Balik Kabut Sterling
27 Bab 27: Lorong-Lorong Pengkhianatan
28 Bab 28: Iblis yang Tak Pernah Mati
29 Bab 29: Permainan Dua Raja
30 Bab 30: Barter Nyawa di Ujung Laras
31 Bab 31: Mawar Hitam dan Bayangan Masa Lalu
32 Bab 32: Mahkota Berduri
33 Bab 33: Abu di Atas Luka
34 Bab 34: Debu di Atas Mahkota
35 Bab 35: Darah Sisilia
36 Bab 36: Pelarian di Bawah Langit Sisilia
37 Bab 37: Racun di Dalam Selimut
38 Bab 38: Topeng Sang Pengasuh
39 Bab 39: Detak yang Tertunda
40 Bab 40: Menjadi Iblis Demi Sang Malaikat
41 Bab 41: Kebangkitan Sang Predator
42 Bab 42: Cahaya di Balik Retakan
43 Bab 43: Gema di Balik Dinding Putih
44 Bab 44: Langit yang Runtuh
45 Bab 45: Altar Air Mata
46 Bab 46: Kebangkitan Sang Bayang
47 Bab 47: Proyek Orisinal
48 Bab 48: Langkah Skakmat Sang Pewaris
49 Bab 49: Akar dari Segala Luka
50 Bab 50: Cahaya di Ujung Badai (Finale)
51 Bab 51: Duri dan Kelopak Mawar
52 Bab 52: Warisan Sang Ayah
53 Bab 53: Saingan Kecil Sang Singa
54 Bab 54: Benang Merah di London
55 Bab 55: Mata Sang Pewaris
56 Epilog: Bara di Balik Kedamaian
57 Epilog Final: Bunga Terindah di Musim Semi
Episodes

Updated 57 Episodes

1
Bab 1: Oksigen Sang Iblis
2
Bab 2: Sangkar Emas Berjalan
3
Bab 3: Tes di Kamar Pengantin
4
Bab 4: Di Bawah Satu Selimut
5
Bab 5: Nyonya Malik yang Tak Terduga
6
Bab 6: Harga Sebuah Tamparan
7
Bab 7: Perhatian di Balik Amarah
8
Bab 8: Racun di Balik Bingkai
9
Bab 9: Pertaruhan di Tengah Malam
10
Bab 10: Oksigen di Ambang Kematian
11
Bab 11: Rahasia yang Tercekat
12
Bab 12: Oksigen yang Hilang
13
Bab 13: Detak Jantung yang Kembali
14
Bab 14: Sisa Trauma di Balik Awan
15
Bab 15: Pengorbanan Sang Sahabat
16
Bab 16: Sandiwara di Balik Tirai Putih
17
Bab 17: Penawar di Balik Pintu Rahasia
18
Bab 18: Ambisi di Balik Kedok Pengobatan
19
Bab 19: Altar Pengkhianatan
20
Bab 20: Darah di Atas Altar
21
Bab 21: Takhta yang Tertukar
22
Bab 22: Benang Merah di London
23
Bab 23: Predator di Balik Bayangan
24
Bab 24: Distorsi Kebenaran
25
Bab 25: Sayap-Sayap Maut
26
Bab 26: Rahasia di Balik Kabut Sterling
27
Bab 27: Lorong-Lorong Pengkhianatan
28
Bab 28: Iblis yang Tak Pernah Mati
29
Bab 29: Permainan Dua Raja
30
Bab 30: Barter Nyawa di Ujung Laras
31
Bab 31: Mawar Hitam dan Bayangan Masa Lalu
32
Bab 32: Mahkota Berduri
33
Bab 33: Abu di Atas Luka
34
Bab 34: Debu di Atas Mahkota
35
Bab 35: Darah Sisilia
36
Bab 36: Pelarian di Bawah Langit Sisilia
37
Bab 37: Racun di Dalam Selimut
38
Bab 38: Topeng Sang Pengasuh
39
Bab 39: Detak yang Tertunda
40
Bab 40: Menjadi Iblis Demi Sang Malaikat
41
Bab 41: Kebangkitan Sang Predator
42
Bab 42: Cahaya di Balik Retakan
43
Bab 43: Gema di Balik Dinding Putih
44
Bab 44: Langit yang Runtuh
45
Bab 45: Altar Air Mata
46
Bab 46: Kebangkitan Sang Bayang
47
Bab 47: Proyek Orisinal
48
Bab 48: Langkah Skakmat Sang Pewaris
49
Bab 49: Akar dari Segala Luka
50
Bab 50: Cahaya di Ujung Badai (Finale)
51
Bab 51: Duri dan Kelopak Mawar
52
Bab 52: Warisan Sang Ayah
53
Bab 53: Saingan Kecil Sang Singa
54
Bab 54: Benang Merah di London
55
Bab 55: Mata Sang Pewaris
56
Epilog: Bara di Balik Kedamaian
57
Epilog Final: Bunga Terindah di Musim Semi

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!