Suamiku Juragan Kerupuk
Arisa baru saja selesai dirias. Kecantikannya tambah sempurna saat dia mengenakan gaun pengantin. Gaun putih itu berarak indah sekali.
Arisa tersenyum saat melihat pantulan dirinya di cermin. Ia sudah tak sabar ingin memamerkan kecantikannya pada Marcel, calon suaminya.
"Nah, sekarang kita hanya perlu menunggu dipanggil keluar. Kau cantik sekali!" ujar Nita, si perias pengantin.
"Makasih, Mbak. Ini kan juga karena Mbak yang merias," tanggap Arisa.
Bersamaan dengan itu, ayahnya Arisa datang. Lelaki paruh baya tersebut melengos masuk begitu saja ke dalam kamar.
"Kenapa, Papa?" tanya Arisa.
"Ini loh, Papa mau kenalin Ogi sama kamu. Ayo masuk, Gi!" sahut Fedi sambil membuka lebar pintu.
Mendengar nama Ogi, seketika Arisa memutar bola mata jengah. Bagaimana tidak? Ogi bagaikan nama yang selalu menghantuinya. Fedi sering sekali memuji bagaimana kebaikan dan kerajinan Ogi. Bahkan beberapa kali Fedi menyarankan Arisa untuk menikah dengan Ogi saja. Ogi adalah murid kebanggannya saat masih menjadi dosen di universitas.
"Punten..." sosok bernama Ogi itu muncul. Dia tampak culun dengan rambut klimis, serta kemeja yang dimasukkan ke dalam celana. Namun meskipun begitu, dia terbilang tampan untuk ukuran pemuda dari desa.
"Ini anakku, Arisa." Fedi merangkul Ogi. Membawanya ke hadapan Arisa.
Ogi tak langsung bicara. Dia terdiam sejenak saat menatap Arisa. Seolah dia tersihir dengan kecantikan gadis tersebut.
Berbeda dengan Arisa yang justru tersenyum sumringah. "Hei, Ogi. Aku Arisa. Papa banyak sekali bicara tentangmu. Ogi beginilah, Ogi begitulah. Bahkan saat aku berbuat salah, dia tak jarang membandingkanku denganmu. Aku rasa dia lebih menyayangimu dibandingkan aku," cerocosnya.
"Punten, Neng. Aku Ogi." Ogi tersenyum malu.
"Kau tahu? Papa bahkan menyuruhku menikah denganmu. Gila bukan?" balas Arisa. Sekarang dia merasa sangat bersemangat karena pernikahannya sudah di depan mata.
"Ya, itu gila..." Ogi hanya menjawab seadanya.
Fedi terkekeh. "Sudahlah, Ris. Jangan meracuni Ogi," timpalnya.
Tak lama, teman-teman Arisa berdatangan. Gadis itu sibuk meladeni teman-temannya sejenak. Sementara Ogi di ajak makan oleh Fedi keluar.
Saat menikmati makanan, atensi Ogi tak lepas dari Arisa. Dia terpesona dengan gadis itu. Kecantikannya dan keceriaannya sangat menarik.
Ogi tak tahu kenapa, tapi jantungnya bedebar kencang sekali saat melihat Arisa. Ia tak tahu apakah dirinya mengalami cinta pada pandangan pertama.
...***...
Waktu berlalu, namun calon pengantin pria tak kunjung datang. Itu tentu membuat Arisa panik. Dia lantas menghubungi Marcel. Namun nomornya tidak aktif. Hal serupa juga berlaku dengan nomor keluarganya. Tidak ada kabar sama sekali dari mereka.
Arisa semakin dibuat gelisah saat penghulu mulai menanyakan keberadaan calon pengantin pria. Satu hingga dua jam berlalu, barulah Arisa mendapat pesan dari Marcel.
'Maafkan aku, Ris. Sejak awal kita merencanakan pernikahan, sebenarnya aku sudah ragu. Aku belum siap untuk menikah. Belum siap menanggung beban untuk calon istri yang tak bekerja. Aku jadi semakin mantap dengan pilihanku saat mendengar kalau bisnis papamu sedang di masa sulit. Aku harap kau baik-baik saja. Mengenai semua kerugiannya, biar aku yang tanggung. Selamat tinggal.'
Mata Arisa berkaca-kaca saat membaca pesan itu. Hatinya seketika remuk. Kalimat di surat itu seperti pedang yang menghujam hatinya.
Dengan mudahnya Marcel membatalkan pernikahan di hari H hanya lewat sebuah pesan. Meskipun begitu, Arisa mencoba menahan tangisnya. Dia berusaha kuat. Sekarang ada banyak orang di rumahnya. Menantikan momen sakral dan membahagiakan.
"Aku nggak bisa biarin Marcel menyakitiku begitu saja. Aku juga nggak mau membuat papa malu," gumam Arisa sambil menatap Fedi yang sedang bicara dengan tamu.
"Papa!" Arisa memanggil ayahnya.
Fedi lantas mendatangi Arisa ke kamar. "Ada apa, Nak?" tanyanya.
"Mana Ogi?" tanya Arisa.
"Dia ada di luar. Kayaknya lagi bantu menyajikan makanan tadi," jawab Fedi.
"Suruh dia ke sini, Pa. Aku ingin dia memakai pakaian pengantin," sahut Arisa.
"Apa?!" Fedi sontak kaget. Matanya membulat sempurna.
Arisa mengangguk. "Aku mau menikahinya, Pa!" ungkapnya dengan mata yang berkaca-kaca. Dia lalu memaksakan dirinya tersenyum.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 123 Episodes
Comments
🅿🅴🆂🅾🅽🅰 GₐDᵢₛ ĐĘŠĄ
Mungkin menjadi impian sebagian pasangan yang akan menikah dapat mengadakan resepsi pernikahan.
Berharap dalam resepsi pernikahan tersebut menjadi kebahagiaan bisa bercengkerama dengan sanak-saudara dan teman-teman yang ikut berbahagia bersama pasangan.
Tapi apa jadinya jika pada saat resepsi pernikahan, sang pengantin pria tak kunjung datang?
Arisa mengalami nasib pahit, dia ditinggal kabur calon suaminya jelang ijab kabul dan resepsi pernikahan.
Aku yang baca jadi ikut nyesek, apalagi yang mengalaminya...🤧😭
Tapi aku salut sama keputusanmu, Arisa..👍💪
Ada peribahasa "tak ada rotan, akar pun jadi" memiliki makna tersendiri.
arti peribahasa "tak ada rotan, akar pun jadi" adalah dalam keadaan terpaksa, manusia harus kreatif untuk memecahkan masalahnya sendiri dengan cara alternatif.
Amanat yang disampaikan oleh peribahasa ini adalah untuk mencari solusi alternatif jika suatu hal tidak bisa dilakukan.
Sebagai manusia, kita harus selalu memutar otak dalam kondisi terdesak. Pikirkan solusi alternatif yang bisa dimanfaatkan dalam keadaan terbatas, seperti akar yang menggantikan rotan.
2026-02-13
1
Qaisaa Nazarudin
Bagus Arisa kamu berpikiran dewasa,Moga Allah membalas perbuatan Marcell dan keluarga nya..
2026-03-08
2
Qaisaa Nazarudin
Wooaaahhh Gampang banget dia ngomong gitu,dasar lelaki PENGECUT.,Moga kau gak NYESEL nanti..😡
2026-03-08
2