Menguji Keteguhan Janji Zunaira

Saat sampai di kamarnya, ia segera menutup pintu dan bersandar di baliknya, ia menghirup oksigen dalam-dalam mencoba menetralkan ritme jantungnya yang berantakan.

"Ya Allah... jaga hati ini." bisiknya pelan.

Di sisi lain, di dalam perpustakaan yang kini kembali sepi Azlan masih berdiri di tempat yang sama.

Ia menatap ke arah pintu keluar di mana bayangan Zunaira baru saja menghilang.

Ia perlahan menghela napas panjang, sebuah senyum tipis yang sangat samar muncul di wajahnya yang biasanya kaku.

Ia membuka kitab yang ia pegang namun pikirannya tidak sedang berada pada teks-teks klasik tersebut.

Pikiran Azlan melayang kembali ke masa tujuh tahun lalu.

Saat ia memutuskan berangkat ke Kairo, ada satu alasan tersembunyi mengapa ia belajar dengan begitu giat hingga jarang sekali pulang ke Indonesia.

Ia ingin memantaskan diri, ia tahu statusnya sebagai putra kedua akan memberikan tanggung jawab besar dan ia tidak ingin menjadi sekadar "anak Kyai" tanpa isi.

Namun di balik itu ada memori tentang seorang santriwati yatim piatu yang selalu tekun belajar di bawah lampu neon masjid yang redup.

Sosok yang diam-diam selalu ia perhatikan dari balik jendela lantai dua kamarnya.

Kini, setelah tujuh tahun sosok itu tumbuh menjadi wanita yang luar biasa anggun dalam kesederhanaannya.

Tatapan matanya yang selalu tertunduk justru memancarkan kekuatan karakter yang luar biasa.

Siang harinya suasana pesantren terasa lebih sibuk dari biasanya, kabar bahwa Gus Azlan mulai turun tangan mengurus manajemen pesantren membuat para pengurus bergerak lebih cepat.

Zunaira mencoba tetap fokus pada tumpukan lembar jawaban ujian santriwati di hadapannya, namun fokusnya pecah saat seorang santri utusan mengetuk pintu kantor ustadzah.

"Ustadzah Zunaira dipanggil Kyai ke kediaman sekarang nggih." lapor santri tersebut.

Zunaira merapikan jilbabnya sejenak sebelum berangkat, perasaan waswas mulai muncul.

Biasanya Kyai memanggilnya jika ada urusan penting mengenai santri yang bermasalah atau urusan administrasi besar.

Namun saat ia sampai di ruang tamu kediaman Kyai yang luas ia tidak hanya melihat Kyai Hamid dan Ummi Salamah, tetapi juga Azlan yang duduk di sofa seberang dengan laptop dan beberapa tumpukan berkas.

"Sini nduk duduk." panggil Kyai Hamid dengan suara kebapakannya yang berat.

Zunaira duduk bersimpuh di atas karpet tebal, tidak berani duduk di sofa yang sama dengan para majikannya itu, ia menunduk khidmat.

"Begini Zunaira.." lanjut Kyai Hamid.

"Gus Azlan ini membawa banyak pemikiran baru dari Mesir, dia ingin mengubah metode pengajaran bahasa Arab di sini agar lebih aplikatif bukan hanya teori nahwu sharaf saja. Dan saya melihat selama ini kamu adalah pengajar yang paling telaten dan punya kedekatan emosional yang baik dengan para santriwati." ucap Kyai Hamid.

Zunaira mendengarkan dengan saksama, perasaannya mulai tidak enak atau lebih tepatnya mulai merasa terancam oleh kedekatan yang mungkin akan terjadi.

"Jadi Abah memutuskan agar kamu menjadi pendamping Azlan dalam menyusun kurikulum ini, kamu yang paling tahu kondisi lapangan di asrama putri sedangkan Azlan yang membawa standarisasi dari Al-Azhar. Bagaimana? Kamu bersedia kan?" tawar kyai Hamid.

Dunia seolah berhenti berputar sejenak bagi Zunaira, ia melirik sekilas ke arah Azlan.

Pria itu nampak tenang seolah sudah mengetahui keputusan ini sebelumnya, tatapan mata Azlan yang tadinya fokus pada layar laptop kini beralih pada Zunaira dan menantikan jawaban.

"Tapi Abah... saya merasa ilmu saya masih jauh di bawah Gus Azlan, takutnya saya malah menghambat kerja beliau." Zunaira mencoba mencari alasan diplomatis.

"Ilmu bisa dipelajari Zunaira tapi ketulusan dalam mengabdi itu yang sulit dicari, saya butuh orang yang mengerti hati pesantren ini dan itu adalah kamu." sahut Kyai Hamid mantap.

Zunaira tidak punya pilihan lain, menolak perintah Kyai sama saja dengan tidak hormat.

"Nggih Abah, saya sam'an wa tha'atan (mendengar dan taat)."

"Alhamdulillah." ucap Ummi Salamah sambil tersenyum lebar.

"Kalau begitu kalian bisa mulai berdiskusi sore ini di serambi masjid atau di kantor pengurus, cari tempat yang terbuka agar tidak menimbulkan fitnah."

Zunaira mengangguk pelan, ia tidak menyadari bahwa di hadapannya Azlan sedikit memperbaiki posisi duduknya, menyembunyikan rasa lega yang amat sangat di balik wajah datarnya.

Bagi Azlan ini adalah langkah awal dari sebuah perjalanan panjang yang sudah ia rencanakan sejak di negeri para nabi.

...****************...

Sore itu, saat Zunaira berjalan kembali menuju asramanya, ia merasa beban di pundaknya bertambah.

Bukan beban pekerjaan melainkan beban untuk terus menjaga hatinya yang kini dipaksa berada di dekat api.

Ia tahu bermain dengan api bisa membakar tapi ia juga tahu bahwa di balik api itu ada kehangatan yang selama ini ia rindukan dalam kesendiriannya sebagai seorang yatim piatu.

Di atas langit pesantren awan-awan berarak perlahan seolah sedang menata skenario pertemuan-pertemuan berikutnya yang akan menguji keteguhan janji Zunaira pada dirinya sendiri yaitu untuk tetap mencintai dalam diam ataukah akhirnya menyerah pada takdir yang sedang diuntai oleh sang pemilik semesta.

Zunaira menghela napas, jemarinya kembali memutar butiran tasbih di dalam saku gamisnya.

La haula wala quwwata illa billah... Tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan-Mu, ya Allah.

Matahari mulai condong ke arah barat, menciptakan bayangan panjang dari tiang-tiang masjid yang megah.

Angin sore berhembus membawa aroma tanah dan melati yang tumbuh subur di halaman kediaman Kyai.

Bagi Zunaira sore ini terasa berbeda, ada beban yang lebih berat dari sekadar menyiapkan materi hafalan santri.

Ia harus melangkah menuju serambi masjid bagian utara, tempat yang telah disepakati untuk memulai diskusi kurikulum bersama Gus Azlan.

Zunaira berjalan dengan langkah yang sengaja diperlambat, ia menggenggam erat sebuah buku catatan bersampul cokelat dan beberapa lembar silabus lama.

Di dalam hatinya ia terus merapalkan doa agar Allah menjaga lisan dan hatinya.

Baginya bertemu dengan Azlan dalam jarak dekat dan membicarakan hal serius adalah sebuah ujian konsentrasi yang luar biasa.

Sesampainya di serambi ia mendapati Azlan sudah duduk di sana.

Pria itu duduk bersila di atas permadani tipis, menghadap ke arah taman.

Di depannya terdapat sebuah meja kayu kecil yang dipenuhi dengan kitab-kitab referensi dari Mesir dan sebuah laptop yang terbuka.

Azlan tampak begitu fokus kacamatanya bertengger di pangkal hidung memberikan kesan intelektual yang semakin kental pada raut wajahnya yang teduh.

"Assalamu’alaikum Gus, mohon maaf jika saya terlambat." sapa Zunaira dengan suara rendah tetap menjaga pandangannya pada lantai pualam yang dingin.

.

.

Cerita Belum Selesai.....

...JANGAN LUPA BERI DUKUNGAN ⬇️⬇️⬇️...

...ULASAN DAN BINTANG LIMA NYA🌟...

...FAVORITKAN CERITA INI ❤️...

...VOTE 💌...

...LIKE 👍🏻...

...KOMENTAR 🗣️...

...HADIAHNYA 🎁🌹☕...

...FOLLOW IG @LALA_SYALALA13...

...SUBSCRIBE YT @NOVELLALAAA...

Terpopuler

Comments

Rahma Inayah

Rahma Inayah

bgus ceritanya apalgi di bulan ramadhan GK ada unsur 18 + 🤭🤭🤭 semangat Thor moga masuk revisi dan lolos ya 💪💪💪 👍👍

2026-02-19

1

Amanah Subardiyana

Amanah Subardiyana

bagus cerita awalnya, lanjut ya thor

2026-06-15

0

Yasinta Niken

Yasinta Niken

saya senang baca novelnya 👍👍👍

2026-06-04

0

lihat semua
Episodes
1 Matahari Yang Terlalu Tinggi
2 Hal-hal Yang Berharga
3 Menguji Keteguhan Janji Zunaira
4 Team Teaching
5 Hampir Bersentuhan
6 Kaset Rusak
7 Tanda Wanita Shalihah
8 Kamu Juga Khawatir
9 Kedatangan Tamu
10 Tasbih Kayu Zaitun Dari Yerusalem
11 Rasa Subjektif
12 Amanah Yang Lebih Besar
13 Memuliakan Secepat Mungkin
14 Pernikahan Rahasia?
15 Tidak Punya Alasan Untuk Menolak
16 Surat Dari Ning Syifa
17 Inspeksi Mandiri
18 Detik Menuju Garis Takdir
19 Pembantu Teknis
20 Mencapai Titik Jenuh
21 Menjenguk
22 Pidato Yang Menggetarkan
23 Detik-detik Menuju Sah
24 Baju Perang Spiritual
25 Sah!
26 Rahasia Besar Telah Dimulai
27 Surat Kecil
28 Status Suami Tapi Rasa Bujang
29 Kotak Bekal
30 Kecurigaan Ning Syifa
31 Kamera CCTV
32 Ceramah Singkat
33 Bidadari
34 Tiket Umroh
35 Alasan Paling Masuk Akal
36 Koordinasi Haul
37 Perjalanan Batin
38 Berangkat Umroh
39 Level Yang Berbeda
40 Sebaik-baiknya Penjaga
41 As-Shabr (Sabar)
42 Stasiun Kereta Cepat Madinah
43 Sepasang Hamba Yang Saling Menggenggam
44 Misi Intelijen Pesantren
45 Teledor
46 Mata Yang Mengawasi
47 Kebohongan Tidak Akan Bertahan Lama
48 Hampir Saja
49 Suntikan Semangat
50 Hinalah Saya
51 Zunaira Adalah Ning Kalian
52 Merasa Kecil
53 Dibatasi
54 Cara Lain
55 Abah Jatuh Sakit
56 Melampaui Batas Privasi
57 Transparansi
58 Menuntaskan Satu Amanah Lagi
59 Berani Bicara Jujur
60 Mohon Tinggalkan Al-Anwar
61 Kajian Rutin
62 Demonstran
63 Mata-mata Kecil
64 Hati Yang Mulai Retak
65 Satu Tantangan
66 Nasihat Pernikahan
67 Estafet Barakah
68 Sebuah Kotak Kayu Kecil
69 Tidak Sendiri
70 Kualitas Yang Kamu Miliki
71 Gerai Syariah Al-Anwar
72 Cara Yang Keras
73 Ban Pecah
74 Kesabarannya Menjaga Kehormatan Suaminya
75 Dokter Pribadi
76 Perpustakaan Tua
77 Tidak Punya Foto Misterius
78 Zunaira Sakit
79 Malam Terakhir Di Mekkah
80 Amanah Kehidupan Baru (END)
81 New Story: Menikah Dengan Om Sahabatku
82 New Story: Benih Rahasia Sang Dokter
83 New Story: Di Bawah Kuasa Mantan Suami
84 New Story: Istri Figuran Sang Pewaris
Episodes

Updated 84 Episodes

1
Matahari Yang Terlalu Tinggi
2
Hal-hal Yang Berharga
3
Menguji Keteguhan Janji Zunaira
4
Team Teaching
5
Hampir Bersentuhan
6
Kaset Rusak
7
Tanda Wanita Shalihah
8
Kamu Juga Khawatir
9
Kedatangan Tamu
10
Tasbih Kayu Zaitun Dari Yerusalem
11
Rasa Subjektif
12
Amanah Yang Lebih Besar
13
Memuliakan Secepat Mungkin
14
Pernikahan Rahasia?
15
Tidak Punya Alasan Untuk Menolak
16
Surat Dari Ning Syifa
17
Inspeksi Mandiri
18
Detik Menuju Garis Takdir
19
Pembantu Teknis
20
Mencapai Titik Jenuh
21
Menjenguk
22
Pidato Yang Menggetarkan
23
Detik-detik Menuju Sah
24
Baju Perang Spiritual
25
Sah!
26
Rahasia Besar Telah Dimulai
27
Surat Kecil
28
Status Suami Tapi Rasa Bujang
29
Kotak Bekal
30
Kecurigaan Ning Syifa
31
Kamera CCTV
32
Ceramah Singkat
33
Bidadari
34
Tiket Umroh
35
Alasan Paling Masuk Akal
36
Koordinasi Haul
37
Perjalanan Batin
38
Berangkat Umroh
39
Level Yang Berbeda
40
Sebaik-baiknya Penjaga
41
As-Shabr (Sabar)
42
Stasiun Kereta Cepat Madinah
43
Sepasang Hamba Yang Saling Menggenggam
44
Misi Intelijen Pesantren
45
Teledor
46
Mata Yang Mengawasi
47
Kebohongan Tidak Akan Bertahan Lama
48
Hampir Saja
49
Suntikan Semangat
50
Hinalah Saya
51
Zunaira Adalah Ning Kalian
52
Merasa Kecil
53
Dibatasi
54
Cara Lain
55
Abah Jatuh Sakit
56
Melampaui Batas Privasi
57
Transparansi
58
Menuntaskan Satu Amanah Lagi
59
Berani Bicara Jujur
60
Mohon Tinggalkan Al-Anwar
61
Kajian Rutin
62
Demonstran
63
Mata-mata Kecil
64
Hati Yang Mulai Retak
65
Satu Tantangan
66
Nasihat Pernikahan
67
Estafet Barakah
68
Sebuah Kotak Kayu Kecil
69
Tidak Sendiri
70
Kualitas Yang Kamu Miliki
71
Gerai Syariah Al-Anwar
72
Cara Yang Keras
73
Ban Pecah
74
Kesabarannya Menjaga Kehormatan Suaminya
75
Dokter Pribadi
76
Perpustakaan Tua
77
Tidak Punya Foto Misterius
78
Zunaira Sakit
79
Malam Terakhir Di Mekkah
80
Amanah Kehidupan Baru (END)
81
New Story: Menikah Dengan Om Sahabatku
82
New Story: Benih Rahasia Sang Dokter
83
New Story: Di Bawah Kuasa Mantan Suami
84
New Story: Istri Figuran Sang Pewaris

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!