Team Teaching

Azlan mendongak lalu sedikit menggeser posisi duduknya untuk memberikan ruang yang cukup luas bagi Zunaira di sisi meja yang berseberangan.

"Wa’alaikumussalam warahmatullah, tidak Zunaira tapi saya yang datang terlalu awal karena udara sore di sini terlalu sayang untuk dilewatkan hanya di dalam ruangan." ucap Gus Azlan.

Zunaira duduk dengan posisi bersimpuh yang sangat sopan, ia meletakkan buku catatannya di atas meja.

Ada jarak sekitar dua meter di antara mereka sebuah batas yang tak kasat mata namun sangat disadari oleh keduanya.

"Kita mulai dari mana Gus?" tanya Zunaira, mencoba membuka percakapan seprofesional mungkin.

Azlan memutar laptopnya sedikit ke arah Zunaira agar wanita itu bisa melihat poin-poin yang sudah ia ketik.

"Saya melihat kurikulum bahasa Arab kita selama ini terlalu fokus pada Qawaid (tata bahasa) yang kaku, santriwati kita pintar dalam meng-i'rab kata tapi mereka gagap saat harus berbicara atau menuliskan gagasan dalam bahasa Arab yang hidup dan saya ingin mengubah itu." seru Gus Azlan.

Zunaira mengangguk mulai tertarik pada topik tersebut, sisi akademisnya perlahan mengalahkan rasa gugupnya.

"Saya setuju Gus, selama ini anak-anak memang cenderung menghafal rumus, mereka tahu bahwa fa'il itu harus marfu' tapi saat diminta mendeskripsikan perasaan atau kejadian harian mereka bingung mencari kosakata." sahut Zunaira.

Azlan tersenyum kecil senyum yang hanya muncul sekejap namun cukup untuk membuat jantung Zunaira berdesir.

"Tepat, itu sebabnya saya ingin memasukkan metode Muhadatsah (percakapan) yang lebih interaktif, saya ingin mereka tidak hanya belajar bahasa surga ini untuk membaca kitab gundul, tapi juga untuk memahami dunia."

Diskusi itu pun mengalir, untuk satu jam pertama Zunaira berhasil menjaga profesionalitasnya.

Ia memberikan masukan tentang jadwal harian santriwati yang sudah sangat padat, sehingga kurikulum baru ini tidak boleh menambah beban stres mereka.

Ia berbicara dengan tenang, logis dan penuh empati yaitu ciri khas yang membuat Kyai Hamid sangat mempercayainya.

Namun di tengah diskusi Azlan tiba-tiba berhenti bicara, ia menatap salah satu catatan tangan Zunaira yang ada di atas meja.

"Tulisan tanganmu tidak berubah Zunaira, masih rapi dan memiliki lekukan yang sama seperti dulu saat kamu mengirimkan ringkasan kitab Imriti ke meja guru." seru Gus Azlan keluar dari topik.

Zunaira tertegun, iaa merasa napasnya tertahan sejenak.

"Gus... masih ingat tulisan saya?" tanya Zunaira tidak percaya.

Azlan menutup laptopnya setengah, matanya menatap ke arah pohon sawo di depan masjid seolah sedang memanggil kembali memori lama.

"Dulu saat saya masih sering membantu Abah mengoreksi tugas-tugas santri sebelum saya berangkat ke Kairo ada satu buku yang selalu saya nantikan, bukunya bersih tulisannya tegak bersambung yang sangat disiplin dan jawaban-jawabannya selalu menunjukkan bahwa pemiliknya bukan sekadar menghafal tapi memahami dengan hati."

Ia kemudian menoleh kembali pada Zunaira menatap mata wanita itu selama dua detik sebelum Zunaira kembali menunduk.

"Saya tahu itu bukumu karena nama 'Zunaira' selalu tertulis di pojok kanan atas dengan tinta biru yang tebal." tutur Gus Azlan.

Zunaira merasa wajahnya memanas, ia tidak menyangka bahwa selama ini sosok yang ia kagumi secara rahasia juga memperhatikan detail kecil tentang dirinya.

"Saya hanya berusaha mengerjakan tugas dengan sebaik mungkin Gus karena sebagai santri yang dibiayai pesantren saya merasa punya hutang budi untuk tidak mengecewakan Kyai."

"Kamu tidak pernah mengecewakan siapa pun Zunaira." suara Azlan merendah terdengar lebih personal.

"Bahkan saat saya di Mesir lewat surat-surat Abah saya selalu bertanya secara tersirat bagaimana kabar perkembangan para pengajar di sini dan nama kamu selalu muncul dalam cerita Abah sebagai ustadzah yang paling disayangi santri."

Suasana mendadak menjadi sangat sunyi hanya diiringi suara riuh burung-burung yang kembali ke sarang.

Zunaira merasa perbincangan ini mulai memasuki wilayah yang berbahaya bagi kesehatan jantungnya.

Ia segera mengalihkan pembicaraan kembali ke berkas di depannya.

"Ehm... untuk pembagian jam di kelas Ulya (tingkat atas), apakah Gus ingin saya yang memegang kendali penuh atau kita akan mengajar secara bergantian?" tanya Zunaira dengan nada yang dibuat-buat datar.

Azlan tampak menyadari perubahan sikap Zunaira yang kembali menjaga jarak, ia kembali membuka laptopnya.

"Untuk kelas awal saya ingin kita team-teaching, saya akan memberikan materi besar di awal minggu dan kamu yang akan melakukan penguatan di kelas-kelas kecil, saya butuh kamu untuk memantau apakah metode saya ini terlalu sulit bagi mereka atau tidak."

Zunaira mencatat hal itu.

"Nggih Gus, saya akan siapkan jurnal pantauannya."

Saat mereka sedang asyik mencocokkan jadwal, tiba-tiba Ummi Salamah datang membawa nampan berisi teh hangat dan camilan pasar.

Beliau tersenyum melihat kedua orang itu sedang sibuk dengan tumpukan kertas.

"Wah serius sekali kelihatannya." goda Ummi Salamah.

"Ayo diminum dulu tehnya, Azlan jangan terlalu keras memaksa Zunaira bekerja dia ini mutiara pesantren jangan sampai dia kelelahan karena ide-idemu yang terlalu banyak itu." seru ummi Salamah.

Azlan tertawa kecil, suara tawa yang jarang sekali terdengar.

"Zunaira ini lebih tangguh dari yang Ummi bayangkan dia bahkan lebih detail dari Azlan dalam menyusun jadwal."

Zunaira hanya menunduk malu mendengar pujian itu.

"Ummi bisa saja, saya hanya membantu Gus Azlan agar kurikulumnya bisa segera diterapkan."

Ummi Salamah duduk sejenak di samping Zunaira mengusap punggung wanita yatim piatu itu dengan penuh kasih sayang.

"Ummi senang melihat kalian akur karena pesantren ini butuh sentuhan anak-anak muda seperti kalian agar tidak ketinggalan zaman."

Setelah Ummi pergi diskusi berlanjut namun dengan ritme yang lebih santai.

Azlan mulai bercerita sedikit tentang bagaimana sistem pengajaran di Al-Azhar tentang perpustakaan-perpustakaan besar di sana dan tentang kerinduannya pada masakan pesantren selama ia merantau.

Zunaira mendengarkan dengan penuh minat, setiap kata yang keluar dari mulut Azlan seolah menjadi oase bagi rasa ingin tahunya tentang dunia luar yang belum pernah ia jamah.

Namun di balik itu ada rasa nyeri yang halus semakin ia mengenal Azlan semakin ia menyadari betapa jauhnya perbedaan mereka.

Azlan adalah pria dengan visi dunia, sementara ia hanyalah wanita yang dunianya hanya sebatas pagar pesantren.

"Gus." panggil Zunaira pelan saat diskusi hampir berakhir.

"Ya?"

"Mengapa Gus memilih saya untuk membantu? Maksud saya ustadz-ustadz senior yang lulusan Madinah atau Yaman juga banyak di sini, mereka pasti lebih kompeten secara keilmuan." tanya Zunaira karena masih bingung sampai sekarang.

Azlan merapikan kitab-kitabnya kemudian memasukkannya ke dalam tas kulitnya dengan rapi.

.

.

Cerita Belum Selesai.....

...JANGAN LUPA BERI DUKUNGAN ⬇️⬇️⬇️...

...ULASAN DAN BINTANG LIMA NYA🌟...

...FAVORITKAN CERITA INI ❤️...

...VOTE 💌...

...LIKE 👍🏻...

...KOMENTAR 🗣️...

...HADIAHNYA 🎁🌹☕...

...FOLLOW IG @LALA_SYALALA13...

...SUBSCRIBE YT @NOVELLALAAA...

Terpopuler

Comments

Rahma Inayah

Rahma Inayah

Krn hati ku SDH terdampar pada mu zunairah tp hanya BS di ucap Azlan dlm hati.dgn km Azlan merasa nyaman Krn jg SDH dr km mengenal mu zunairah maknya Azlan memilih mu sdkt byk SDH tau tentg mu apalgi Abah ponpes ortu Azlan SDH sering byk cerita PD Azlan tentg mu slm mengajar dan hidup mengabdi di ponpes

2026-02-19

0

Amanah Subardiyana

Amanah Subardiyana

karena hatiku terpaut oadamu zunaira

2026-06-15

0

Supryatin 123

Supryatin 123

❤️❤️❤️ mampir thor 💪💪💪jodoh nich.lnjut Thor 💪💪

2026-02-19

0

lihat semua
Episodes
1 Matahari Yang Terlalu Tinggi
2 Hal-hal Yang Berharga
3 Menguji Keteguhan Janji Zunaira
4 Team Teaching
5 Hampir Bersentuhan
6 Kaset Rusak
7 Tanda Wanita Shalihah
8 Kamu Juga Khawatir
9 Kedatangan Tamu
10 Tasbih Kayu Zaitun Dari Yerusalem
11 Rasa Subjektif
12 Amanah Yang Lebih Besar
13 Memuliakan Secepat Mungkin
14 Pernikahan Rahasia?
15 Tidak Punya Alasan Untuk Menolak
16 Surat Dari Ning Syifa
17 Inspeksi Mandiri
18 Detik Menuju Garis Takdir
19 Pembantu Teknis
20 Mencapai Titik Jenuh
21 Menjenguk
22 Pidato Yang Menggetarkan
23 Detik-detik Menuju Sah
24 Baju Perang Spiritual
25 Sah!
26 Rahasia Besar Telah Dimulai
27 Surat Kecil
28 Status Suami Tapi Rasa Bujang
29 Kotak Bekal
30 Kecurigaan Ning Syifa
31 Kamera CCTV
32 Ceramah Singkat
33 Bidadari
34 Tiket Umroh
35 Alasan Paling Masuk Akal
36 Koordinasi Haul
37 Perjalanan Batin
38 Berangkat Umroh
39 Level Yang Berbeda
40 Sebaik-baiknya Penjaga
41 As-Shabr (Sabar)
42 Stasiun Kereta Cepat Madinah
43 Sepasang Hamba Yang Saling Menggenggam
44 Misi Intelijen Pesantren
45 Teledor
46 Mata Yang Mengawasi
47 Kebohongan Tidak Akan Bertahan Lama
48 Hampir Saja
49 Suntikan Semangat
50 Hinalah Saya
51 Zunaira Adalah Ning Kalian
52 Merasa Kecil
53 Dibatasi
54 Cara Lain
55 Abah Jatuh Sakit
56 Melampaui Batas Privasi
57 Transparansi
58 Menuntaskan Satu Amanah Lagi
59 Berani Bicara Jujur
60 Mohon Tinggalkan Al-Anwar
61 Kajian Rutin
62 Demonstran
63 Mata-mata Kecil
64 Hati Yang Mulai Retak
65 Satu Tantangan
66 Nasihat Pernikahan
67 Estafet Barakah
68 Sebuah Kotak Kayu Kecil
69 Tidak Sendiri
70 Kualitas Yang Kamu Miliki
71 Gerai Syariah Al-Anwar
72 Cara Yang Keras
73 Ban Pecah
74 Kesabarannya Menjaga Kehormatan Suaminya
75 Dokter Pribadi
76 Perpustakaan Tua
77 Tidak Punya Foto Misterius
78 Zunaira Sakit
79 Malam Terakhir Di Mekkah
80 Amanah Kehidupan Baru (END)
81 New Story: Menikah Dengan Om Sahabatku
82 New Story: Benih Rahasia Sang Dokter
83 New Story: Di Bawah Kuasa Mantan Suami
84 New Story: Istri Figuran Sang Pewaris
Episodes

Updated 84 Episodes

1
Matahari Yang Terlalu Tinggi
2
Hal-hal Yang Berharga
3
Menguji Keteguhan Janji Zunaira
4
Team Teaching
5
Hampir Bersentuhan
6
Kaset Rusak
7
Tanda Wanita Shalihah
8
Kamu Juga Khawatir
9
Kedatangan Tamu
10
Tasbih Kayu Zaitun Dari Yerusalem
11
Rasa Subjektif
12
Amanah Yang Lebih Besar
13
Memuliakan Secepat Mungkin
14
Pernikahan Rahasia?
15
Tidak Punya Alasan Untuk Menolak
16
Surat Dari Ning Syifa
17
Inspeksi Mandiri
18
Detik Menuju Garis Takdir
19
Pembantu Teknis
20
Mencapai Titik Jenuh
21
Menjenguk
22
Pidato Yang Menggetarkan
23
Detik-detik Menuju Sah
24
Baju Perang Spiritual
25
Sah!
26
Rahasia Besar Telah Dimulai
27
Surat Kecil
28
Status Suami Tapi Rasa Bujang
29
Kotak Bekal
30
Kecurigaan Ning Syifa
31
Kamera CCTV
32
Ceramah Singkat
33
Bidadari
34
Tiket Umroh
35
Alasan Paling Masuk Akal
36
Koordinasi Haul
37
Perjalanan Batin
38
Berangkat Umroh
39
Level Yang Berbeda
40
Sebaik-baiknya Penjaga
41
As-Shabr (Sabar)
42
Stasiun Kereta Cepat Madinah
43
Sepasang Hamba Yang Saling Menggenggam
44
Misi Intelijen Pesantren
45
Teledor
46
Mata Yang Mengawasi
47
Kebohongan Tidak Akan Bertahan Lama
48
Hampir Saja
49
Suntikan Semangat
50
Hinalah Saya
51
Zunaira Adalah Ning Kalian
52
Merasa Kecil
53
Dibatasi
54
Cara Lain
55
Abah Jatuh Sakit
56
Melampaui Batas Privasi
57
Transparansi
58
Menuntaskan Satu Amanah Lagi
59
Berani Bicara Jujur
60
Mohon Tinggalkan Al-Anwar
61
Kajian Rutin
62
Demonstran
63
Mata-mata Kecil
64
Hati Yang Mulai Retak
65
Satu Tantangan
66
Nasihat Pernikahan
67
Estafet Barakah
68
Sebuah Kotak Kayu Kecil
69
Tidak Sendiri
70
Kualitas Yang Kamu Miliki
71
Gerai Syariah Al-Anwar
72
Cara Yang Keras
73
Ban Pecah
74
Kesabarannya Menjaga Kehormatan Suaminya
75
Dokter Pribadi
76
Perpustakaan Tua
77
Tidak Punya Foto Misterius
78
Zunaira Sakit
79
Malam Terakhir Di Mekkah
80
Amanah Kehidupan Baru (END)
81
New Story: Menikah Dengan Om Sahabatku
82
New Story: Benih Rahasia Sang Dokter
83
New Story: Di Bawah Kuasa Mantan Suami
84
New Story: Istri Figuran Sang Pewaris

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!