Munajat Cinta

Munajat Cinta

Matahari Yang Terlalu Tinggi

Pagi hari menyambut, membangunkan sosok gadis cantik dengan segala kesederhanaannya itu.

Baginya pukul empat pagi bukan sekadar waktu untuk bangun, melainkan waktu di mana ia merasa paling "hidup".

Sebagai seorang ustadzah muda yang tumbuh besar di bawah naungan Pesantren Al-Anwar.

Dia adalah Zunaira Prameswari, gadis berusia 24 tahun yang sehari-hari mengajar di pesantren Al-Anwar.

Dia telah lama berada di tempat ini dan semua yang ada di ini ia anggap sebagai bagian dari napasnya.

Zunaira berhenti sejenak menyeka keringat tipis di dahi dengan ujung khimar instannya yang berwarna abu-abu pudar.

Ia menatap langit fajar yang perlahan merekah di ufuk timur, menciptakan gradasi warna jingga dan ungu yang magis.

Di saat-saat seperti ini, kerinduan pada sosok ayah dan ibu yang tak pernah benar-benar ia ingat wajahnya sering kali datang mengetuk pintu hati.

Namun Zunaira bukan tipe wanita yang senang berkubang dalam kesedihan.

Baginya menjadi yatim piatu bukanlah label kemalangan, melainkan cara Allah memaksanya untuk hanya bersandar pada-Nya.

"Ustadzah Zu, kok sudah menyapu sendiri? Biar bagian piket saja yang teruskan." suara lembut itu datang dari arah belakang.

Zunaira menoleh dan mendapati Ummi Salamah, istri dari Kyai pengasuh pesantren berdiri dengan senyum keibuan yang tak pernah luntur.

Zunaira segera meletakkan sapunya dan mendekat untuk mencium tangan wanita yang sudah dianggapnya sebagai pengganti ibu kandung itu.

"Hanya mencari keringat sedikit Ummi, lagipula udara subuh ini sayang kalau dilewatkan hanya dengan duduk diam." jawab Zunaira santun.

Ummi Salamah mengusap bahu Zunaira lembut.

"Zunaira, hari ini kamu tidak perlu jadwal mengajar di kelas pagi, ummi minta tolong bantu di dapur utama karena ada tamu-tamu jauh yang akan datang dan... kamu sudah dengar kabarnya kan?" ucap ummi Salamah.

Zunaira tertegun, ia tahu ke mana arah pembicaraan ini.

"Tentang kepulangan Gus Azlan, Ummi?" tebak Zunaira.

Ummi Salamah mengangguk antusias.

"Putra kedua Ummi itu sudah selesai di Kairo, katanya sore ini sampai di bandara. Sudah hampir tujuh tahun dia di sana Zunaira dan Ummi hampir lupa bagaimana detail wajahnya jika tidak melihat foto-fotonya." ujar Ummi Salamah dengan senang.

Gus Azlan sendiri anak kedua dari tiga bersaudara, kakak pertamanya bernama Gus Haidar yang sudah menikah dan memiliki seorang putri kecil, dan sang adik yang begitu ceria bernama Arifa yang baru berusia 17 tahun.

Ada sesuatu yang berdesir di dada Zunaira mendengar nama itu yaitu Azlan.

Nama yang selama tujuh tahun ini hanya ia dengar lewat cerita-cerita kebanggaan para santri atau sesekali dalam doa-doa yang dipimpin Kyai di masjid.

Dulu sebelum berangkat ke Mesir Azlan adalah pemuda yang sangat tertutup berbeda dengan kakak sulungnya yang ekspresif atau adiknya yang bungsu yang ceria.

Azlan memiliki aura ketenangan yang membuat siapapun segan, termasuk Zunaira yang saat itu masih menjadi santri remaja.

"Nggih Ummi, Zunaira nanti segera ke dapur setelah merapikan mukena di kamar." jawab Zunaira sesingkat mungkin, mencoba menyembunyikan getaran di suaranya.

Langkah kaki Zunaira membawa dirinya kembali ke kamar kecilnya di pojok asrama ustadzah.

Kamar itu sederhana hanya ada sebuah kasur tipis, lemari kayu kecil dan rak buku yang penuh dengan kitab-kitab kuning.

Di atas meja kecilnya, tergeletak sebuah pembatas buku dari daun kering yang ia buat sendiri.

Di sana tertulis sebuah kalimat pendek.

“Cinta yang paling rahasia adalah cinta yang dibicarakan hanya antara hamba dan Tuhannya.”

Zunaira duduk di tepi kasur, ia teringat kejadian sepuluh tahun lalu saat ia baru berusia belasan tahun, diaman pertemuan nya dengan Gus Azlan membuat hatinya tergerak.

Suatu hari di perpustakaan pesantren yang sepi ia kesulitan mengambil kitab di rak yang tinggi.

Tiba-tiba sebuah tangan yang kokoh mengambilkan kitab itu dan meletakkannya di depannya tanpa sepatah kata pun.

Pemilik tangan itu adalah Azlan, ia hanya menunduk memberikan kitab tersebut lalu berlalu begitu saja.

Sejak saat itu Zunaira menanam sebuah rasa yang ia tahu diri tak boleh tumbuh liar.

Ia sadar siapa dirinya tapi seorang anak yang besar dari zakat dan sedekah, sementara Gus Azlan adalah pangeran pesantren dengan silsilah keluarga yang mulia.

Ia menggelengkan kepala, mencoba mengusir memori itu.

"Istighfar Zunaira, fokus pada pengabdian." bisiknya pada diri sendiri.

Di dapur utama suasana sudah sangat sibuk, aroma bumbu opor dan sambal goreng ati menyeruak di udara.

Zunaira segera bergabung mengiris bawang dengan kecepatan yang terlatih.

Teman-temannya sesama ustadzah sedang sibuk bergosip tentang betapa tampannya Gus Azlan sekarang berdasarkan foto terbaru yang beredar di grup pesan singkat pesantren.

"Katanya Gus Azlan sekarang lebih berisi, jenggotnya rapi persis orang Arab asli." celetuk Ustadzah Halimah sambil tertawa kecil.

"Kira-kira siapa ya yang akan jadi istrinya nanti? Pasti harus ning atau minimal anak kyai besar."

Zunaira hanya tersenyum tipis mendengarkan itu, dadanya terasa sedikit sesak tapi ia terus fokus pada bawang merah di depannya.

Ia merasa tidak berhak ikut dalam obrolan itu, baginya Azlan adalah matahari yang terlalu tinggi untuk disentuh oleh embun pagi seperti dirinya.

"Zunaira, kamu kok diam saja? Kamu kan dulu seangkatan sekolah di madrasah bawah sebelum Gus Azlan berangkat ke Mesir. Masih ingat wajahnya?" tanya ustadzah Halimah tiba-tiba.

Zunaira menghentikan irisan pisaunya sejenak.

"Hanya ingat sedikit Mbak, Gus Azlan kan orangnya pendiam sekali."

"Wah kalau dia pulang nanti pesantren ini bakal makin ramai, beliau kabarnya akan memegang kendali kurikulum bahasa Arab." lanjut Halimah tanpa sadar bahwa Zunaira sedang berjuang mengendalikan debar jantungnya sendiri.

Hari itu berlalu dengan penuh kesibukan, Zunaira sengaja menyibukkan diri agar pikirannya tidak melantur.

Ia memimpin kelas nahwu-sharaf sore itu dengan suara yang setenang mungkin, meskipun pikirannya sesekali melayang ke arah gerbang pesantren.

Setiap kali ada bunyi mesin mobil yang mendekat jantungnya seolah berhenti berdetak sejenak.

Mengapa ia merasa secemas ini? Padahal ia belum tentu bertemu langsung dengan Azlan.

Lagipula ia hanyalah salah satu dari puluhan pengajar di sini.

Malam harinya setelah shalat Isya berjamaah, seluruh pesantren tampak bersinar lebih terang dari biasanya.

Lampu-lampu hias dipasang di sepanjang jalan menuju rumah utama Kyai.

Zunaira memilih untuk tetap berada di teras asrama putri duduk di kursi kayu tua sambil memegang tasbihnya.

Ia menatap ke arah rumah utama yang berjarak sekitar dua ratus meter dari sana.

.

.

Cerita Belum Selesai.....

...🥕🥕🥕🌟🌟🌟🌟🌟🥕🥕🥕...

...GUYS KARENA INI CERITA ISLAMI PERTAMA AUTHOR JADI KALAU ADA SALAH KATA ATAU PENGETAHUAN YANG KURANG PAS BOLEH KOMEN YA DI PART NYA SUPAYA BISA SALING BELAJAR BERSAMA...

...🥕🥕🥕🌟🌟🌟🌟🌟🥕🥕🥕...

...****************...

...Yeyyy cerita baru nihhh jangan lupa baca yaaaaa!!!...

...JANGAN lupa buat follow akun author biar gak ketinggalan cerita2 lainnya....

...Jangan lupa buat VOTE dan ULASAN BINTANG nya ya readers biar tambah semangat buat update ceritanya....

...Like dan komen juga yaaaaa...

...Follow juga IG author di @Lala_Syalala13 karena di sana ada rekomendasi cerita author lainnya yang gak author upload di sini....

Terpopuler

Comments

Soraya

Soraya

Assalamu'alaikum q mampir thor lanjut

2026-02-18

1

🔴 incha💘🏡s⃝ᴿ◌⑅⃝ͩ●

🔴 incha💘🏡s⃝ᴿ◌⑅⃝ͩ●

mantap kak toleransi ny tinggi ditunggu y kak uodate selanjut ny

2026-02-18

1

Rahma Inayah

Rahma Inayah

suka ceritanya lnjutkn

2026-02-18

0

lihat semua
Episodes
1 Matahari Yang Terlalu Tinggi
2 Hal-hal Yang Berharga
3 Menguji Keteguhan Janji Zunaira
4 Team Teaching
5 Hampir Bersentuhan
6 Kaset Rusak
7 Tanda Wanita Shalihah
8 Kamu Juga Khawatir
9 Kedatangan Tamu
10 Tasbih Kayu Zaitun Dari Yerusalem
11 Rasa Subjektif
12 Amanah Yang Lebih Besar
13 Memuliakan Secepat Mungkin
14 Pernikahan Rahasia?
15 Tidak Punya Alasan Untuk Menolak
16 Surat Dari Ning Syifa
17 Inspeksi Mandiri
18 Detik Menuju Garis Takdir
19 Pembantu Teknis
20 Mencapai Titik Jenuh
21 Menjenguk
22 Pidato Yang Menggetarkan
23 Detik-detik Menuju Sah
24 Baju Perang Spiritual
25 Sah!
26 Rahasia Besar Telah Dimulai
27 Surat Kecil
28 Status Suami Tapi Rasa Bujang
29 Kotak Bekal
30 Kecurigaan Ning Syifa
31 Kamera CCTV
32 Ceramah Singkat
33 Bidadari
34 Tiket Umroh
35 Alasan Paling Masuk Akal
36 Koordinasi Haul
37 Perjalanan Batin
38 Berangkat Umroh
39 Level Yang Berbeda
40 Sebaik-baiknya Penjaga
41 As-Shabr (Sabar)
42 Stasiun Kereta Cepat Madinah
43 Sepasang Hamba Yang Saling Menggenggam
44 Misi Intelijen Pesantren
45 Teledor
46 Mata Yang Mengawasi
47 Kebohongan Tidak Akan Bertahan Lama
48 Hampir Saja
49 Suntikan Semangat
50 Hinalah Saya
51 Zunaira Adalah Ning Kalian
52 Merasa Kecil
53 Dibatasi
54 Cara Lain
55 Abah Jatuh Sakit
56 Melampaui Batas Privasi
57 Transparansi
58 Menuntaskan Satu Amanah Lagi
59 Berani Bicara Jujur
60 Mohon Tinggalkan Al-Anwar
61 Kajian Rutin
62 Demonstran
63 Mata-mata Kecil
64 Hati Yang Mulai Retak
65 Satu Tantangan
66 Nasihat Pernikahan
67 Estafet Barakah
68 Sebuah Kotak Kayu Kecil
69 Tidak Sendiri
70 Kualitas Yang Kamu Miliki
71 Gerai Syariah Al-Anwar
72 Cara Yang Keras
73 Ban Pecah
74 Kesabarannya Menjaga Kehormatan Suaminya
75 Dokter Pribadi
76 Perpustakaan Tua
77 Tidak Punya Foto Misterius
78 Zunaira Sakit
79 Malam Terakhir Di Mekkah
80 Amanah Kehidupan Baru (END)
81 New Story: Menikah Dengan Om Sahabatku
82 New Story: Benih Rahasia Sang Dokter
83 New Story: Di Bawah Kuasa Mantan Suami
84 New Story: Istri Figuran Sang Pewaris
Episodes

Updated 84 Episodes

1
Matahari Yang Terlalu Tinggi
2
Hal-hal Yang Berharga
3
Menguji Keteguhan Janji Zunaira
4
Team Teaching
5
Hampir Bersentuhan
6
Kaset Rusak
7
Tanda Wanita Shalihah
8
Kamu Juga Khawatir
9
Kedatangan Tamu
10
Tasbih Kayu Zaitun Dari Yerusalem
11
Rasa Subjektif
12
Amanah Yang Lebih Besar
13
Memuliakan Secepat Mungkin
14
Pernikahan Rahasia?
15
Tidak Punya Alasan Untuk Menolak
16
Surat Dari Ning Syifa
17
Inspeksi Mandiri
18
Detik Menuju Garis Takdir
19
Pembantu Teknis
20
Mencapai Titik Jenuh
21
Menjenguk
22
Pidato Yang Menggetarkan
23
Detik-detik Menuju Sah
24
Baju Perang Spiritual
25
Sah!
26
Rahasia Besar Telah Dimulai
27
Surat Kecil
28
Status Suami Tapi Rasa Bujang
29
Kotak Bekal
30
Kecurigaan Ning Syifa
31
Kamera CCTV
32
Ceramah Singkat
33
Bidadari
34
Tiket Umroh
35
Alasan Paling Masuk Akal
36
Koordinasi Haul
37
Perjalanan Batin
38
Berangkat Umroh
39
Level Yang Berbeda
40
Sebaik-baiknya Penjaga
41
As-Shabr (Sabar)
42
Stasiun Kereta Cepat Madinah
43
Sepasang Hamba Yang Saling Menggenggam
44
Misi Intelijen Pesantren
45
Teledor
46
Mata Yang Mengawasi
47
Kebohongan Tidak Akan Bertahan Lama
48
Hampir Saja
49
Suntikan Semangat
50
Hinalah Saya
51
Zunaira Adalah Ning Kalian
52
Merasa Kecil
53
Dibatasi
54
Cara Lain
55
Abah Jatuh Sakit
56
Melampaui Batas Privasi
57
Transparansi
58
Menuntaskan Satu Amanah Lagi
59
Berani Bicara Jujur
60
Mohon Tinggalkan Al-Anwar
61
Kajian Rutin
62
Demonstran
63
Mata-mata Kecil
64
Hati Yang Mulai Retak
65
Satu Tantangan
66
Nasihat Pernikahan
67
Estafet Barakah
68
Sebuah Kotak Kayu Kecil
69
Tidak Sendiri
70
Kualitas Yang Kamu Miliki
71
Gerai Syariah Al-Anwar
72
Cara Yang Keras
73
Ban Pecah
74
Kesabarannya Menjaga Kehormatan Suaminya
75
Dokter Pribadi
76
Perpustakaan Tua
77
Tidak Punya Foto Misterius
78
Zunaira Sakit
79
Malam Terakhir Di Mekkah
80
Amanah Kehidupan Baru (END)
81
New Story: Menikah Dengan Om Sahabatku
82
New Story: Benih Rahasia Sang Dokter
83
New Story: Di Bawah Kuasa Mantan Suami
84
New Story: Istri Figuran Sang Pewaris

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!