BAB 3: Menumpuk Tahta di Atas Kertas

​Awal semester ganjil di kelas dua SMP seharusnya menjadi waktu bagi para siswa untuk mulai memikirkan kenangan masa remaja. Namun, bagi Bima dan Senara, ini adalah awal dari musim perburuan. Poin-poin prestasi akademik bukan lagi sekedar angka, melainkan tumpukan batu bata yang mereka susun untuk membangun benteng pertahanan. Siapa pun yang memiliki tumpukan paling tinggi di akhir semester, dialah yang akan memegang kunci menuju SMA terbaik di negeri ini.

​Di SMP Super Internasional, Bima memulai harinya dengan rutinitas yang membosankan namun mematikan. Pukul tujuh pagi, ia sudah duduk di perpustakaan sekolah yang sepi, mengulas materi Kalkulus yang sebenarnya baru akan diajarkan dua bulan lagi. Ia tidak bisa memberikan celah sedikit pun. Di sekolah ini, anak-anak orang kaya lainnya mulai menyewa konsultan pendidikan dari luar negeri untuk mengejar posisinya.

​"Bima, ini daftar proyek sains kolaborasi untuk bulan depan," ucap Darmono, guru Fisika sekaligus koordinator prestasi sekolah. Ia meletakkan sebuah map di depan Bima. "Sekolah ingin kamu memimpin tim. Jika proyek ini menang di tingkat provinsi, poinmu akan sulit dikejar oleh siapa pun di angkatan ini."

​Bima menatap map itu dengan mata yang sedikit sembab karena kurang tidur. "Siapa saja anggota timnya, Pak?"

​"Pilih saja siapa pun yang kamu mau, semua anak di sekolah ini akan merasa terhormat jika satu tim denganmu," jawab Darmono dengan nada yang terdengar seperti penjilat.

​Bima mendengus pelan. Ia tahu bahwa satu tim dengannya berarti ia yang akan mengerjakan sembilan puluh persen tugasnya, sementara yang lain hanya akan menumpang nama dan membayar biaya operasional. Namun, ia tidak peduli. Ia hanya butuh poin itu, ia butuh daftar prestasinya terlihat begitu berkilau sehingga ayahnya tidak punya alasan untuk mencaci-makinya saat makan malam singkat mereka yang langka.

​"Saya akan kerjakan sendiri, Pak. Saya tidak butuh tim yang hanya akan memperlambat logika saya," ujar Bima dingin.

​Darmono tertegun, namun ia hanya bisa mengangguk. Di sekolah ini, Bima adalah aset yang lebih berharga daripada gedung laboratorium itu sendiri.

​Di belahan kota yang lain, Senara sedang berdiri di depan papan pengumuman SMP Negeri 12. Namanya tercantum sebagai peringkat satu umum untuk hasil tes diagnostik awal semester. Namun, di bawah namanya, ada coretan spidol merah yang bertuliskan. "Anak kesayangan guru, pantas saja, dapat bocoran soal."

​Senara menghela napas, ia menghapus coretan itu dengan ujung seragamnya yang kasar. Tuduhan seperti itu sudah menjadi makanannya sehari-hari. Mereka tidak tahu bahwa setiap malam, Senara harus belajar di antara suara gaduh tetangganya yang bermain kartu atau suara tv tua yang volumenya dipaksakan maksimal.

​"Nara, dipanggil Bu kepsek ke ruangan," lapor seorang siswa dengan nada malas.

​Senara merapikan rambutnya dan berjalan menuju ruang kepala sekolah. Di sana, ia ditawari sebuah tantangan yang berat.

​"Senara, sekolah kita terpilih untuk ikut Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR). Tapi, jujur saja, anggaran sekolah sangat terbatas. Sekolah tidak bisa membelikan alat-alat laboratorium yang canggih atau bahan kimia mahal," ucap Maria, kepala sekolah, dengan raut wajah menyesal. "Tapi jika kamu bisa memenangkan ini dengan bahan-bahan seadanya, poinmu untuk jalur prestasi SMA akan sangat aman. Kamu tahu sendiri, sainganmu dari sekolah elit itu pasti punya fasilitas lengkap."

​Senara terdiam sejenak. Ia memikirkan Bima, ia membayangkan Bima sedang duduk di lab mewahnya dengan mikroskop elektron dan sensor laser terbaru. Sementara dia? Dia mungkin hanya punya botol plastik bekas dan kertas lakmus sisa tahun lalu.

​"Saya akan coba, Bu. Saya akan cari cara agar logika saya lebih kuat daripada alat-alat mahal mereka," jawab Senara dengan keyakinan yang dipaksakan.

​Setelah informasi lomba itu, kehidupan mereka berubah menjadi seperti mesin. Bima menghabiskan jutaan rupiah untuk membeli jurnal-jurnal penelitian internasional agar proyek sainsnya memiliki landasan teori yang tak terbantahkan. Ia sering berada di laboratorium sekolah hingga penjaga sekolah harus mengusirnya pulang pada pukul tujuh malam.

​Suatu sore, Bima sedang mengamati reaksi kimia di dalam tabung reaksi ketika asisten ayahnya menelpon.

​"Tuan Muda, Tuan Adi berpesan agar Anda tidak hanya fokus pada satu proyek. Beliau ingin Anda juga mengambil sertifikasi bahasa Mandarin tingkat lanjut semester ini. Beliau bilang, juara sains saja tidak cukup untuk menjadi pemimpin perusahaan di masa depan."

​Bima melempar pipetnya ke meja. "Bilang pada Papa, aku bukan robot yang bisa diprogram dengan sepuluh perintah sekaligus!"

​"Maaf, Tuan Muda. Saya hanya menyampaikan pesan. Beliau bilang, jika Anda tidak bisa melakukannya, mungkin liburan akhir tahun Anda ke Swiss harus dibatalkan dan diganti dengan kelas tambahan."

​Bima mematikan teleponnya dengan kasar. Ia menatap pantulan wajahnya di kaca laboratorium. Ia terlihat lelah, kantung matanya menghitam, dan wajahnya tampak lebih tua dari remaja usia empat belas tahun lainnya. Namun, ia kembali mengambil pipetnya. Ketakutannya akan kekecewaan ayahnya jauh lebih besar daripada rasa lelahnya.

​Di tempat lain, Senara sedang mengumpulkan sampel air sungai yang kotor di dekat pasar, ia menggunakan botol bekas selai yang sudah dibersihkan. Rencananya adalah membuat alat filtrasi air bertenaga surya dari barang-barang bekas untuk proyek LKIR-nya.

​Bau air sungai itu sangat menyengat, dan beberapa orang pasar meneriakinya karena dianggap menghalangi jalan.

​"Ngapain sih, Dek, main air got kok pakai seragam?" ejek seorang pedagang sayur.

​Senara tidak membalas, ia fokus mencatat tingkat kekeruhan air tersebut. Tiba-tiba, gerimis turun. Senara buru-buru membungkus botol-botolnya dengan plastik. Ia harus berjalan kaki satu kilometer menuju warnet terdekat untuk mencari jurnal pendukung, karena ia tidak punya kuota internet di ponselnya yang layarnya retak.

​Di warnet, Senara duduk di pojok yang paling gelap agar tidak diganggu. Ia hanya punya uang lima ribu rupiah, yang berarti ia hanya punya waktu satu jam untuk mengunduh semua materi yang ia butuhkan. Jarinya bergerak sangat cepat di atas keyboard yang tombolnya sudah terkelupas.

​Saat sedang asyik membaca sebuah artikel ilmiah internasional, ia melihat sebuah nama yang familiar di kolom komentar diskusi jurnal tersebut. Bima_Wijaya99.

​Bima sedang mendebat seorang profesor dari universitas di luar negeri tentang teori termodinamika. Komentarnya sangat tajam, sombong, dan menunjukkan betapa banyak buku yang sudah ia baca.

​Senara tersenyum getir. "Jadi kamu ada di sini juga, Bima? Kamu sedang membangun bentengmu dengan emas, ya?"

​Senara ingin membalas komentar itu, ingin menunjukkan bahwa logika Bima memiliki celah. Namun, pengingat waktu di layar monitor warnet berbunyi. Waktunya habis, ia harus pergi sebelum tagihannya membengkak.

​Minggu berikutnya, sekolah mereka mengadakan "Simulasi Ujian Gabungan" yang diikuti oleh beberapa sekolah menengah di wilayah tersebut. Meskipun hanya simulasi, bagi Bima dan Senara, ini adalah medan latihan untuk saling menjatuhkan mental.

​Hasilnya keluar tiga hari kemudian. Di papan pengumuman gabungan yang diunggah secara online, nama mereka kembali berdampingan.

​1. Bima Arkana Adhikara Wijaya (Skor: 99,5)

Senara Zafira Atmaja (Skor: 99,2)

​Hanya selisih 0,3 poin.

​Bima menatap layar ponselnya di dalam mobil, ia tidak merasa lega meskipun berada di peringkat satu, selisih itu terlalu tipis. Itu artinya, satu kesalahan kecil saja dalam memilih jawaban pilihan ganda bisa membuatnya terjungkal.

​"Dia mengejarku lagi," desis Bima. "Bahkan tanpa buku-buku mahal, dia bisa mendapatkan skor 99,2?"

​Sementara itu, Senara yang melihat hasil itu di ponsel milik temannya, merasa sedikit kecewa namun tetap bersemangat. "0,3 poin... sedikit lagi. Aku hanya butuh lebih banyak waktu untuk belajar, dan aku akan melampauinya."

​Persaingan mereka di awal semester ini menjadi semakin personal. Mereka berdua sama-sama menimbun nilai, menimbun prestasi, dan menimbun rasa lelah. Di sekolah masing-masing, mereka dipuja sebagai bintang, namun di dalam hati, mereka merasa seperti tahanan yang sedang berusaha membeli kebebasan dengan nilai-nilai sempurna.

​Luka batin mereka belum sembuh, malah tertutup oleh tumpukan kertas ujian dan laporan praktikum. Dan mereka tidak sadar, bahwa semakin tinggi mereka membangun benteng itu, semakin keras pula benturan yang akan terjadi saat mereka akhirnya bertemu kembali di lomba tingkat provinsi bulan depan.

Episodes
1 BAB 1: Mahkota dari Kaca yang Pecah
2 BAB 2: Luka di Balik Angka
3 BAB 3: Menumpuk Tahta di Atas Kertas
4 BAB 4: Titik Didih di Antara Lelah
5 BAB 5: Panggung Logika dan Kemenangan yang Tidak Bisa Dibeli
6 BAB 6: Arena yang Terbakar
7 BAB 7: Sabotase dalam Senyap
8 BAB 8: Keretakan di Meja Bundar
9 BAB 9: Tembok yang Tak Terlihat
10 BAB 10: Arena di Atas Awan
11 BAB 11: Cahaya yang Menyilaukan
12 BAB 12: Kasta di Balik Gerbang Baja
13 BAB 13: Logika di Atas Logika
14 BAB 14: Hutan Para Penguasa
15 BAB 15: Kepulangan dan Bayangan
16 BAB 16: Musim yang Berubah
17 BAB 17: Wilayah Tanpa Hukum
18 BAB 18: Barter Kepentingan
19 BAB 19: Gema di Lorong Sekolah
20 BAB 20: Dua Dunia yang Berbeda
21 BAB 21: Hening Sebelum Badai
22 BAB 22: Isolasi Jaringan
23 BAB 23: Efek Domino
24 BAB 24: Jatuhnya Sang Matahari
25 BAB 25: Undangan Emas
26 BAB 26: Satu Minggu Menuju Akhir
27 BAB 27: Garis Finis yang Sunyi
28 BAB 28: Koper dan Perpisahan
29 BAB 29: Di Balik Gerbang Garuda
30 BAB 30: Tradisi Kertas dan Pena
31 BAB 31: Logika di Balik Kabel
32 BAB 32: Kasta dan Kecurigaan
33 BAB 33: Tes Bahasa yang Mengejutkan
34 BAB 34: Sisi Lain dari Pangeran Teknologi
35 BAB 35: Perubahan Sang Pangeran Teknologi
36 BAB 36: Logika Gravitasi dan Tangan yang Kotor
37 BAB 37: Debu, Buku, dan Rahasia di Balik Rak
38 BAB 38: Gema di Balik Enkripsi
39 BAB 39: Undangan dari Menara Gading
40 BAB 40: Kristal Air dan Bayang-Bayang Blok 4
41 BAB 41: Sinkronisasi dalam Kegelapan
42 BAB 42: Antara Luka dan Logika
43 BAB 43: Uji Coba di Balik Bayang-Bayang
44 BAB 44: Inspeksi Profesor Gunawan dan Mata-Mata Sofia
45 BAB 45: Kode di Balik Lembar Jawaban
46 BAB 46: Sinyal yang Tertinggal
47 BAB 47: Ujian Terakhir dan Jarak yang Menghilang
48 BAB 48: Menara Wijaya dan Protokol Zero-Trust
49 BAB 49: Sarapan dengan Sang Penguasa dan Celah di Protokol Listrik
50 BAB 50: Algoritma Hantu di Jantung Sektor Prima
51 BAB 51: Sangkar Kaca dan Protokol Bayangan
52 BAB 52: Proyeksi Retak dan Teror Tanpa Wajah
53 BAB 53: Labirin Kaca dan Arsitektur Paranoia
54 BAB 54: Protokol Cermin dan Ujian Loyalitas
55 BAB 55: Penyamaran Sempurna dalam Arus Filtrasi
56 BAB 56: Citra Sempurna dan Pencurian Sunyi
57 BAB 57: Deskripsi Sunyi di Balik Asrama Garuda
58 BAB 58: Efek Domino dan Luka di Bursa Saham
59 BAB 59: Konferensi Pers Berdarah Digital
60 BAB 60: Sisa-Sisa Kejayaan dan Dinginnya Dunia
61 BAB 61: Pemegang Kartu AS
62 BAB 62: The Shadow Queen
63 BAB 63: Perang Dingin di Ruang Guru
64 BAB 64: Peringatan di Balik Layar
65 BAB 65: Demonstrasi Ego
66 BAB 66: Diplomasi di Meja Kantin
67 BAB 67: Algoritma Kepercayaan
68 BAB 68: Sisi Lain Shadow Queen
69 BAB 69: Manifesto B-Tech
70 BAB 70: Di Balik Tirai Kedekatan
71 BAB 71: Markas Sang Pangeran Wijaya
72 BAB 72: Infiltrasi Senyap di Blok 4
73 BAB 73: Sisa-Sisa Kerajaan yang Membusuk
74 BAB 74: Gelombang Balasan dan Penyamaran Ganda
75 BAB 75: Frekuensi yang Hanya Dimengerti Jenius
76 BAB 76: Arsitektur Bayangan
77 BAB 77: Simulasi Normalitas
78 BAB 78: Di Balik Lembar Kerja
79 BAB 79: Ketenangan yang Menipu
Episodes

Updated 79 Episodes

1
BAB 1: Mahkota dari Kaca yang Pecah
2
BAB 2: Luka di Balik Angka
3
BAB 3: Menumpuk Tahta di Atas Kertas
4
BAB 4: Titik Didih di Antara Lelah
5
BAB 5: Panggung Logika dan Kemenangan yang Tidak Bisa Dibeli
6
BAB 6: Arena yang Terbakar
7
BAB 7: Sabotase dalam Senyap
8
BAB 8: Keretakan di Meja Bundar
9
BAB 9: Tembok yang Tak Terlihat
10
BAB 10: Arena di Atas Awan
11
BAB 11: Cahaya yang Menyilaukan
12
BAB 12: Kasta di Balik Gerbang Baja
13
BAB 13: Logika di Atas Logika
14
BAB 14: Hutan Para Penguasa
15
BAB 15: Kepulangan dan Bayangan
16
BAB 16: Musim yang Berubah
17
BAB 17: Wilayah Tanpa Hukum
18
BAB 18: Barter Kepentingan
19
BAB 19: Gema di Lorong Sekolah
20
BAB 20: Dua Dunia yang Berbeda
21
BAB 21: Hening Sebelum Badai
22
BAB 22: Isolasi Jaringan
23
BAB 23: Efek Domino
24
BAB 24: Jatuhnya Sang Matahari
25
BAB 25: Undangan Emas
26
BAB 26: Satu Minggu Menuju Akhir
27
BAB 27: Garis Finis yang Sunyi
28
BAB 28: Koper dan Perpisahan
29
BAB 29: Di Balik Gerbang Garuda
30
BAB 30: Tradisi Kertas dan Pena
31
BAB 31: Logika di Balik Kabel
32
BAB 32: Kasta dan Kecurigaan
33
BAB 33: Tes Bahasa yang Mengejutkan
34
BAB 34: Sisi Lain dari Pangeran Teknologi
35
BAB 35: Perubahan Sang Pangeran Teknologi
36
BAB 36: Logika Gravitasi dan Tangan yang Kotor
37
BAB 37: Debu, Buku, dan Rahasia di Balik Rak
38
BAB 38: Gema di Balik Enkripsi
39
BAB 39: Undangan dari Menara Gading
40
BAB 40: Kristal Air dan Bayang-Bayang Blok 4
41
BAB 41: Sinkronisasi dalam Kegelapan
42
BAB 42: Antara Luka dan Logika
43
BAB 43: Uji Coba di Balik Bayang-Bayang
44
BAB 44: Inspeksi Profesor Gunawan dan Mata-Mata Sofia
45
BAB 45: Kode di Balik Lembar Jawaban
46
BAB 46: Sinyal yang Tertinggal
47
BAB 47: Ujian Terakhir dan Jarak yang Menghilang
48
BAB 48: Menara Wijaya dan Protokol Zero-Trust
49
BAB 49: Sarapan dengan Sang Penguasa dan Celah di Protokol Listrik
50
BAB 50: Algoritma Hantu di Jantung Sektor Prima
51
BAB 51: Sangkar Kaca dan Protokol Bayangan
52
BAB 52: Proyeksi Retak dan Teror Tanpa Wajah
53
BAB 53: Labirin Kaca dan Arsitektur Paranoia
54
BAB 54: Protokol Cermin dan Ujian Loyalitas
55
BAB 55: Penyamaran Sempurna dalam Arus Filtrasi
56
BAB 56: Citra Sempurna dan Pencurian Sunyi
57
BAB 57: Deskripsi Sunyi di Balik Asrama Garuda
58
BAB 58: Efek Domino dan Luka di Bursa Saham
59
BAB 59: Konferensi Pers Berdarah Digital
60
BAB 60: Sisa-Sisa Kejayaan dan Dinginnya Dunia
61
BAB 61: Pemegang Kartu AS
62
BAB 62: The Shadow Queen
63
BAB 63: Perang Dingin di Ruang Guru
64
BAB 64: Peringatan di Balik Layar
65
BAB 65: Demonstrasi Ego
66
BAB 66: Diplomasi di Meja Kantin
67
BAB 67: Algoritma Kepercayaan
68
BAB 68: Sisi Lain Shadow Queen
69
BAB 69: Manifesto B-Tech
70
BAB 70: Di Balik Tirai Kedekatan
71
BAB 71: Markas Sang Pangeran Wijaya
72
BAB 72: Infiltrasi Senyap di Blok 4
73
BAB 73: Sisa-Sisa Kerajaan yang Membusuk
74
BAB 74: Gelombang Balasan dan Penyamaran Ganda
75
BAB 75: Frekuensi yang Hanya Dimengerti Jenius
76
BAB 76: Arsitektur Bayangan
77
BAB 77: Simulasi Normalitas
78
BAB 78: Di Balik Lembar Kerja
79
BAB 79: Ketenangan yang Menipu

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!