The Nerdy Couple [Jisung NCT X Karina Aespa]

The Nerdy Couple [Jisung NCT X Karina Aespa]

BAB 1: Mahkota dari Kaca yang Pecah

​Aula Universitas Indonesia siang itu terasa seperti sebuah gladiator bagi para remaja jenius. Udara di dalam ruangan besar itu dipenuhi dengan aroma kecemasan dan ambisi yang pekat. Di atas panggung, sebuah spanduk besar bertuliskan “Olimpiade Sains Nasional Tingkat SMP – Babak Final” membentang gagah. Di bawahnya, hanya ada dua meja yang tersisa.

​Bima Arkana Adhikara Wijaya, duduk di meja sebelah kiri dengan punggung tegak sempurna, seolah-olah tulang belakangnya terbuat dari tiang besi. Seragam SMP internasionalnya yang berwarna biru navy tampak licin tanpa kerutan, mencerminkan kehidupan yang tertata dan disiplin tinggi. Di balik kacamata berbingkai perak yang bertengger di hidung mancungnya, mata Bima menatap tajam ke arah soal-soal fisika kuantum di depannya. Namun, setiap beberapa menit, matanya secara tidak sadar melirik ke barisan kursi tamu VIP di bagian depan.

​Sebuah kursi baja dengan sandaran beludru merah masih kosong. Di sana terdapat kertas bertuliskan nama, Adi Wijaya.

​Bima mengepalkan tangannya di bawah meja hingga kuku-kukunya memutih. Ayahnya kembali tidak datang. Bahkan untuk sebuah acara nasional di mana putranya sedang bertarung demi nama keluarga, Adi Wijaya lebih memilih berada di ruang rapat atau lapangan golf. Bagi ayahnya, prestasi Bima bukan lagi pencapaian, melainkan sebuah kewajiban. Jika Bima menang, itu sudah seharusnya. Dan jika Bima kalah, itu adalah kegagalan investasi.

​Rasa sesak mulai merayap di dada Bima, namun ia menekannya dengan kemarahan. Ia mengalihkan pandangannya ke arah lawan di meja sebelah kanan.

​Senara Zafira Atmaja, Gadis itu tampak sangat kecil di balik meja yang besar. Ia mengenakan seragam putih biru yang sudah mulai pudar warnanya, dan di bagian siku terdapat bekas jahitan tangan yang kasar. Senara tidak menatap kursi penonton, ia bahkan tidak menatap juri. Fokusnya hanya satu, lembar jawaban di depannya. Rambutnya dikuncir kuda dengan sangat kencang, membuat wajahnya terlihat pucat dan semakin tirus.

​Senara meremas pulpen murahnya hingga jari-jarinya gemetar. Bukan karena takut pada soal, melainkan karena ia tahu apa yang sedang ia pertaruhkan. Di dalam tas kainnya yang diletakkan di bawah kursi, terdapat sebuah amplop tagihan listrik rumah yang sudah berwarna merah, tanda peringatan terakhir sebelum pemutusan daya. Hadiah juara pertama olimpiade ini adalah satu-satunya harapan agar ibunya tidak perlu menangis lagi malam ini, saat ayahnya pulang dengan tangan kosong dan emosi yang meledak.

​"Waktu pengerjaan selesai. Mohon letakkan pulpen kalian!" suara juri bergema di seluruh aula.

#​Bima menarik napas panjang, melepaskan pulpen mahalnya dengan bunyi denting yang elegan. Ia menoleh ke arah Senara, yang tampak hampir pingsan karena menahan napas terlalu lama.

​"Kamu terlihat sangat menyedihkan, Senara," bisik Bima saat mereka berdiri untuk menunggu pengumuman. Suaranya rendah, hanya bisa didengar oleh gadis itu. "Tanganmu gemetar seperti orang yang belum makan tiga hari."

​Senara tidak menoleh. Ia hanya menatap lurus ke depan dengan mata yang memerah. "Aku memang belum makan, Bima. Dan gemetarku ini bukan karena takut, tapi karena aku muak melihat wajahmu yang merasa paling hebat hanya karena punya akses ke semua buku di dunia ini."

​Bima tertawa kecil, suara tawa yang hampa. "Dunia ini memang tidak adil, Senara. Dan kamu harusnya sadar bahwa pintar saja tidak cukup untuk mengalahkan orang yang memiliki segalanya seperti aku."

​"Kita lihat saja nanti," jawab Senara pelan namun penuh penekanan.

​Suasana menjadi sangat sunyi saat kepala juri naik ke podium. Ketegangan di antara Bima dan Senara seolah menciptakan medan listrik di udara. Ribuan pasang mata penonton tertuju pada mereka berdua, dua matahari dari dunia yang berbeda.

​"Dan pemenang Olimpiade Sains Nasional tahun ini, dengan selisih poin yang sangat tipis... 0,5 poin..." juri itu menjeda, menciptakan drama yang menyiksa. "...Selamat kepada... Senara Zafira Atmaja!"

​Gemuruh tepuk tangan memenuhi ruangan. Senara jatuh terduduk di kursinya, air mata akhirnya tumpah membasahi pipinya yang cekung. Ia menang, angka 0,5 itu adalah napas bagi keluarganya. Ia berdiri dengan kaki gemetar, berjalan menuju panggung untuk menerima piala dan cek simbolis hadiah uang pembinaan.

​Di tempatnya berdiri, Bima mematung. Wajahnya berubah pucat, lalu perlahan memerah karena malu dan marah yang luar biasa. Juara dua Nasional, bagi orang lain itu luar biasa. Namun bagi Bima, itu adalah hukuman mati. Ia bisa membayangkan ekspresi dingin ayahnya saat mendengar kabar ini. Ia bisa membayangkan sunyinya meja makan malam ini, di mana kegagalannya akan dibahas dengan nada yang lebih tajam dari pisau.

​Setelah acara selesai, di lorong belakang aula yang sepi, Bima mencegat Senara yang sedang membawa piala emas besarnya.

​"Selamat, Senara. Kamu baru saja memenangkan uang yang mungkin setara dengan gaji ibumu setahun," ujar Bima dengan nada menghina yang kental, mencoba menutupi luka egonya sendiri.

​Senara berhenti. Ia menatap Bima dengan pandangan yang tidak lagi mengandung rasa takut, melainkan kebencian murni yang bercampur dengan rasa kasihan. "Kamu tahu, apa yang paling menyedihkan darimu, Bima? Kamu punya piala perak di tanganmu, tapi kamu lebih tidak punya harga diri daripada aku yang memakai seragam loakan ini."

​Senara maju satu langkah, menatap tepat ke mata Bima yang tersembunyi di balik kacamata mahalnya. "Kamu kalah dari orang yang kamu anggap remeh. Dan rasa sakit dari angka 0,5 itu akan menghantuimu setiap malam. Karena kamu tahu, di atas kertas kamu lebih hebat, tapi dalam kenyataan, kamu tidak punya mental untuk menang di bawah tekanan."

​"Jaga bicaramu!" bentak Bima, langkahnya maju mengintimidasi.

​"Kenapa? Mau memukulku? Atau mau memanggil ayahmu agar membelikan piala emas untukmu?" Senara tertawa getir. "Oh, aku lupa. Ayahmu bahkan tidak mau repot-repot duduk di kursi itu untuk melihatmu gagal."

​Kalimat itu menghantam bagian terdalam dari luka Bima. Ia terdiam, rahangnya mengeras hingga berbunyi. Senara melewatinya begitu saja, meninggalkan aroma sabun cuci murah dan semangat yang membara.

​Bima berdiri sendirian di lorong yang dingin itu. Ia menatap trofi peraknya, lalu dengan gerakan tiba-tiba, ia melempar trofi itu ke dalam tempat sampah besar di sudut lorong. Ia tidak butuh perak. Ia tidak butuh pengakuan sebagai yang kedua.

​Malam itu, Bima pulang ke rumahnya yang seperti istana hantu. Benar saja, ayahnya tidak ada di rumah, hanya ada sebuah catatan di atas meja makan dari asisten ayahnya. “Tuan Adi kecewa dengan hasil olimpiade anda, Tuan muda. Beliau membatalkan makan malam besok. Silakan belajar lebih giat lagi.”

​Bima merobek kertas itu menjadi kepingan kecil. Ia masuk ke kamarnya, mematikan semua lampu, dan duduk di lantai di bawah cahaya bulan yang masuk dari jendela besar. Ia membuka buku catatannya, menuliskan nama "Senara Zafira Atmaja" di halaman paling depan dengan tekanan pulpen yang sangat kuat hingga kertasnya hampir robek.

​"0,5," bisiknya. "Aku akan membayar angka itu dengan kehancuranmu, Senara."

​Sementara itu, di sebuah rumah petak di pinggiran kota, Senara duduk di lantai bersama ibunya. Mereka makan nasi dengan garam dan satu butir telur yang dibagi dua, di bawah cahaya bohlam yang berkedip-kedip karena voltase yang tidak stabil. Piala emas itu diletakkan di tengah meja sebagai pusat gravitasi kebahagiaan singkat mereka.

​Senara menatap piala itu, namun pikirannya melayang pada tatapan mata Bima yang penuh kebencian. Ia tahu, kemenangannya hari ini baru saja membuka kotak pandora. Bima bukan tipe orang yang akan membiarkan kekalahan berlalu begitu saja.

​"Aku harus tetap jadi nomor satu," janji Senara pada dirinya sendiri. "Karena kalau aku jatuh sekali saja, orang-orang seperti Bima akan menginjakku sampai aku tidak bisa bangun lagi."

​Dua remaja itu, di tempat yang sangat berbeda, menutup mata mereka dengan pikiran yang sama, saling mengalahkan. Tidak ada cinta, tidak ada persahabatan. Yang ada hanyalah sebuah obsesi murni untuk menjadi yang teratas di atas penderitaan satu sama lain.

BIMA ARKANA ADHIKARA WIJAYA

SENARA ZAFIRA ATMAJA

Terpopuler

Comments

Rain

Rain

Haloo kak aku suka pairingnya 🤭🤭 Hehee

2026-04-08

0

lihat semua
Episodes
1 BAB 1: Mahkota dari Kaca yang Pecah
2 BAB 2: Luka di Balik Angka
3 BAB 3: Menumpuk Tahta di Atas Kertas
4 BAB 4: Titik Didih di Antara Lelah
5 BAB 5: Panggung Logika dan Kemenangan yang Tidak Bisa Dibeli
6 BAB 6: Arena yang Terbakar
7 BAB 7: Sabotase dalam Senyap
8 BAB 8: Keretakan di Meja Bundar
9 BAB 9: Tembok yang Tak Terlihat
10 BAB 10: Arena di Atas Awan
11 BAB 11: Cahaya yang Menyilaukan
12 BAB 12: Kasta di Balik Gerbang Baja
13 BAB 13: Logika di Atas Logika
14 BAB 14: Hutan Para Penguasa
15 BAB 15: Kepulangan dan Bayangan
16 BAB 16: Musim yang Berubah
17 BAB 17: Wilayah Tanpa Hukum
18 BAB 18: Barter Kepentingan
19 BAB 19: Gema di Lorong Sekolah
20 BAB 20: Dua Dunia yang Berbeda
21 BAB 21: Hening Sebelum Badai
22 BAB 22: Isolasi Jaringan
23 BAB 23: Efek Domino
24 BAB 24: Jatuhnya Sang Matahari
25 BAB 25: Undangan Emas
26 BAB 26: Satu Minggu Menuju Akhir
27 BAB 27: Garis Finis yang Sunyi
28 BAB 28: Koper dan Perpisahan
29 BAB 29: Di Balik Gerbang Garuda
30 BAB 30: Tradisi Kertas dan Pena
31 BAB 31: Logika di Balik Kabel
32 BAB 32: Kasta dan Kecurigaan
33 BAB 33: Tes Bahasa yang Mengejutkan
34 BAB 34: Sisi Lain dari Pangeran Teknologi
35 BAB 35: Perubahan Sang Pangeran Teknologi
36 BAB 36: Logika Gravitasi dan Tangan yang Kotor
37 BAB 37: Debu, Buku, dan Rahasia di Balik Rak
38 BAB 38: Gema di Balik Enkripsi
39 BAB 39: Undangan dari Menara Gading
40 BAB 40: Kristal Air dan Bayang-Bayang Blok 4
41 BAB 41: Sinkronisasi dalam Kegelapan
42 BAB 42: Antara Luka dan Logika
43 BAB 43: Uji Coba di Balik Bayang-Bayang
44 BAB 44: Inspeksi Profesor Gunawan dan Mata-Mata Sofia
45 BAB 45: Kode di Balik Lembar Jawaban
46 BAB 46: Sinyal yang Tertinggal
47 BAB 47: Ujian Terakhir dan Jarak yang Menghilang
48 BAB 48: Menara Wijaya dan Protokol Zero-Trust
49 BAB 49: Sarapan dengan Sang Penguasa dan Celah di Protokol Listrik
50 BAB 50: Algoritma Hantu di Jantung Sektor Prima
51 BAB 51: Sangkar Kaca dan Protokol Bayangan
52 BAB 52: Proyeksi Retak dan Teror Tanpa Wajah
53 BAB 53: Labirin Kaca dan Arsitektur Paranoia
54 BAB 54: Protokol Cermin dan Ujian Loyalitas
55 BAB 55: Penyamaran Sempurna dalam Arus Filtrasi
56 BAB 56: Citra Sempurna dan Pencurian Sunyi
57 BAB 57: Deskripsi Sunyi di Balik Asrama Garuda
58 BAB 58: Efek Domino dan Luka di Bursa Saham
59 BAB 59: Konferensi Pers Berdarah Digital
60 BAB 60: Sisa-Sisa Kejayaan dan Dinginnya Dunia
61 BAB 61: Pemegang Kartu AS
62 BAB 62: The Shadow Queen
63 BAB 63: Perang Dingin di Ruang Guru
64 BAB 64: Peringatan di Balik Layar
65 BAB 65: Demonstrasi Ego
66 BAB 66: Diplomasi di Meja Kantin
67 BAB 67: Algoritma Kepercayaan
68 BAB 68: Sisi Lain Shadow Queen
69 BAB 69: Manifesto B-Tech
70 BAB 70: Di Balik Tirai Kedekatan
71 BAB 71: Markas Sang Pangeran Wijaya
72 BAB 72: Infiltrasi Senyap di Blok 4
73 BAB 73: Sisa-Sisa Kerajaan yang Membusuk
74 BAB 74: Gelombang Balasan dan Penyamaran Ganda
75 BAB 75: Frekuensi yang Hanya Dimengerti Jenius
76 BAB 76: Arsitektur Bayangan
77 BAB 77: Simulasi Normalitas
78 BAB 78: Di Balik Lembar Kerja
79 BAB 79: Ketenangan yang Menipu
Episodes

Updated 79 Episodes

1
BAB 1: Mahkota dari Kaca yang Pecah
2
BAB 2: Luka di Balik Angka
3
BAB 3: Menumpuk Tahta di Atas Kertas
4
BAB 4: Titik Didih di Antara Lelah
5
BAB 5: Panggung Logika dan Kemenangan yang Tidak Bisa Dibeli
6
BAB 6: Arena yang Terbakar
7
BAB 7: Sabotase dalam Senyap
8
BAB 8: Keretakan di Meja Bundar
9
BAB 9: Tembok yang Tak Terlihat
10
BAB 10: Arena di Atas Awan
11
BAB 11: Cahaya yang Menyilaukan
12
BAB 12: Kasta di Balik Gerbang Baja
13
BAB 13: Logika di Atas Logika
14
BAB 14: Hutan Para Penguasa
15
BAB 15: Kepulangan dan Bayangan
16
BAB 16: Musim yang Berubah
17
BAB 17: Wilayah Tanpa Hukum
18
BAB 18: Barter Kepentingan
19
BAB 19: Gema di Lorong Sekolah
20
BAB 20: Dua Dunia yang Berbeda
21
BAB 21: Hening Sebelum Badai
22
BAB 22: Isolasi Jaringan
23
BAB 23: Efek Domino
24
BAB 24: Jatuhnya Sang Matahari
25
BAB 25: Undangan Emas
26
BAB 26: Satu Minggu Menuju Akhir
27
BAB 27: Garis Finis yang Sunyi
28
BAB 28: Koper dan Perpisahan
29
BAB 29: Di Balik Gerbang Garuda
30
BAB 30: Tradisi Kertas dan Pena
31
BAB 31: Logika di Balik Kabel
32
BAB 32: Kasta dan Kecurigaan
33
BAB 33: Tes Bahasa yang Mengejutkan
34
BAB 34: Sisi Lain dari Pangeran Teknologi
35
BAB 35: Perubahan Sang Pangeran Teknologi
36
BAB 36: Logika Gravitasi dan Tangan yang Kotor
37
BAB 37: Debu, Buku, dan Rahasia di Balik Rak
38
BAB 38: Gema di Balik Enkripsi
39
BAB 39: Undangan dari Menara Gading
40
BAB 40: Kristal Air dan Bayang-Bayang Blok 4
41
BAB 41: Sinkronisasi dalam Kegelapan
42
BAB 42: Antara Luka dan Logika
43
BAB 43: Uji Coba di Balik Bayang-Bayang
44
BAB 44: Inspeksi Profesor Gunawan dan Mata-Mata Sofia
45
BAB 45: Kode di Balik Lembar Jawaban
46
BAB 46: Sinyal yang Tertinggal
47
BAB 47: Ujian Terakhir dan Jarak yang Menghilang
48
BAB 48: Menara Wijaya dan Protokol Zero-Trust
49
BAB 49: Sarapan dengan Sang Penguasa dan Celah di Protokol Listrik
50
BAB 50: Algoritma Hantu di Jantung Sektor Prima
51
BAB 51: Sangkar Kaca dan Protokol Bayangan
52
BAB 52: Proyeksi Retak dan Teror Tanpa Wajah
53
BAB 53: Labirin Kaca dan Arsitektur Paranoia
54
BAB 54: Protokol Cermin dan Ujian Loyalitas
55
BAB 55: Penyamaran Sempurna dalam Arus Filtrasi
56
BAB 56: Citra Sempurna dan Pencurian Sunyi
57
BAB 57: Deskripsi Sunyi di Balik Asrama Garuda
58
BAB 58: Efek Domino dan Luka di Bursa Saham
59
BAB 59: Konferensi Pers Berdarah Digital
60
BAB 60: Sisa-Sisa Kejayaan dan Dinginnya Dunia
61
BAB 61: Pemegang Kartu AS
62
BAB 62: The Shadow Queen
63
BAB 63: Perang Dingin di Ruang Guru
64
BAB 64: Peringatan di Balik Layar
65
BAB 65: Demonstrasi Ego
66
BAB 66: Diplomasi di Meja Kantin
67
BAB 67: Algoritma Kepercayaan
68
BAB 68: Sisi Lain Shadow Queen
69
BAB 69: Manifesto B-Tech
70
BAB 70: Di Balik Tirai Kedekatan
71
BAB 71: Markas Sang Pangeran Wijaya
72
BAB 72: Infiltrasi Senyap di Blok 4
73
BAB 73: Sisa-Sisa Kerajaan yang Membusuk
74
BAB 74: Gelombang Balasan dan Penyamaran Ganda
75
BAB 75: Frekuensi yang Hanya Dimengerti Jenius
76
BAB 76: Arsitektur Bayangan
77
BAB 77: Simulasi Normalitas
78
BAB 78: Di Balik Lembar Kerja
79
BAB 79: Ketenangan yang Menipu

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!