BAB 4: Titik Didih di Antara Lelah

Bagi Bima dan Senara, rutinitas bukan lagi sekedar jadwal, melainkan sebuah jerat yang perlahan-lahan menghisap keceriaan masa remaja mereka. Di kamar-kamar yang berbeda, satu di istana yang dingin, dan satu di rumah petak yang sesak. Dua remaja genius itu mulai menyentuh titik jenuh yang mematikan.

​Bima duduk di depan meja belajarnya yang terbuat dari kayu mahoni. Di depannya, ada prototipe proyek sainsnya, sebuah alat purifikasi udara berbasis nanomaterial yang tampak sempurna. Namun, Bima merasa hampa. Sudah tiga hari ia tidak keluar rumah kecuali ke sekolah. Matanya merah, kepalanya berdenyut, dan nafsu makannya hilang.

​Bima menatap tumpukan sertifikat di dinding kamarnya. Semua itu tampak seperti tumpukan kertas sampah di matanya. "Untuk apa sebenarnya semua ini?" gumamnya pelan.

​Tiba-tiba, ia menyapu semua peralatan di atas mejanya dengan tangan. Botol-botol sampel yang terbuat dari kaca itu jatuh ke lantai, tidak pecah karena dilapisi karet, namun suaranya cukup nyaring untuk memecah keheningan malam. Bima menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap langit-langit kamarnya yang tinggi. Ia ingin menyerah, ia ingin bangun besok pagi tanpa harus memikirkan nilai, tanpa harus memikirkan ekspektasi ayahnya, dan tanpa harus memikirkan saingan terberatnya, Senara.

​Namun, tepat saat ia hendak mematikan lampu dan tidur lebih awal, sebuah email masuk ke tabletnya. Itu adalah notifikasi resmi dari panitia LKIR (Lomba Karya Ilmiah Remaja) tingkat provinsi.

​“Lampiran Finalis: Selamat kepada, Bima Arkana Adhikara Wijaya (SMP Super Internasional) dan Senara Zafira Atmaja (SMP Negeri 12) terpilih sebagai dua kandidat utama dengan poin proposal tertinggi.”

​Melihat nama Senara yang bersanding dengan namanya seperti sebuah sengatan listrik yang mematikan. Rasa jenuh itu mendadak tergusur oleh gelombang adrenalin yang kasar.

"Poin proposal tertinggi? Dia hanya memakai bahan bekas tapi poinnya setara dengan nanomaterialku?" Bima berdiri, rasa kantuknya hilang seketika. Ia mengambil kembali botol sampel yang jatuh di lantai.

​"Kamu benar-benar tidak memberi aku waktu untuk bernapas, Senara!" bisiknya pada layar tablet.

​Di tempat lain, Senara sedang duduk di lantai dapur, kepalanya bersandar pada dinding yang lembap. Di hadapannya, botol-botol plastik bekas dan susunan kabel tembaga tampak berantakan. Ia baru saja gagal melakukan uji coba filtrasi untuk kesepuluh kalinya malam itu. Air yang keluar tetap keruh, tidak sesuai dengan parameter yang ia targetkan.

​Senara memejamkan mata, ia merasa sangat lelah. Bahunya sakit karena terus-menerus mengangkut sampel air dari sungai, dan jarinya lecet karena teriris kabel tembaga. "Mungkin memang aku tidak bisa," bisiknya lirih. "Mungkin Bima benar, peralatan mahal itu memang tidak bisa dikalahkan dengan sampah-sampah ini."

​Ibunya masuk ke dapur, membawa segelas air putih hangat. Beliau tidak bicara apa-apa, hanya mengelus rambut Senara dengan tangan yang kasar karena terlalu banyak mencuci baju orang lain. Senara ingin menangis, ingin bilang bahwa ia ingin berhenti sekolah saja dan bekerja agar ibunya tidak perlu sesakit ini.

​"Nara," panggil ibunya lembut. "Kalau sudah capek, tidur saja. Kamu sudah berusaha sangat keras."

​Senara menatap ibunya, lalu menatap botol-botol plastiknya. Saat ia hendak membereskan semuanya, ia teringat wajah Bima saat di perpustakaan tempo hari. Tatapan meremehkan itu dan ucapan tentang sepatu gelandangan miliknya.

​Jika ia menyerah sekarang, ia bukan hanya kalah dalam lomba, tapi ia mengakui bahwa kemiskinannya adalah batas dari kecerdasannya. Ia tidak bisa membiarkan itu terjadi.

​Senara mengambil ponsel retaknya yang tergeletak di lantai. Ia membuka situs pengumuman LKIR. Di sana, ia melihat namanya ada di urutan kedua, tepat di bawah nama Bima. Selisih poin proposal mereka hanya 0,1.

​"Hanya nol koma satu," Senara bergumam, suaranya kembali menguat. Ia berdiri, mengabaikan rasa perih di jari-jarinya. "Dia punya segalanya, tapi dia hanya unggul nol koma satu poin dariku? Itu artinya, dia yang seharusnya takut padaku."

​Senara mengambil kembali kabel tembaganya, ia mulai membongkar ulang susunan sirkuitnya. Rasa lelahnya mendadak berubah menjadi bahan bakar yang membara.

​Satu minggu menjelang hari H perlombaan, tensi di antara mereka semakin memuncak meskipun mereka tidak bertemu secara fisik. Melalui media sosial sekolah masing-masing, mereka saling memantau perkembangan rivalnya.

​SMP Super Internasional mengunggah foto Bima di laboratorium yang sangat canggih dengan judul, "Kesiapan Menuju Emas: Sang Maestro Sains Kami." Bima dalam foto itu terlihat sangat profesional, namun matanya tampak dingin dan waspada.

​Di sisi lain, SMP Negeri 12 mengunggah foto Senara yang sedang bekerja di halaman sekolah dengan alat dari botol bekas dengan judul, "Kreativitas Tanpa Batas: Perjuangan Senara untuk Lingkungan." Senara dalam foto itu terlihat berkeringat, rambutnya berantakan, senyumnya tipis, namun terlihat sangat menantang.

​Bima melihat foto Senara saat ia sedang berada di dalam mobil dalam perjalanan pulang. Ia memperbesar foto itu, fokus pada alat filtrasi Senara yang sederhana.

​"Botol bekas? Dia bersungguh-sungguh mau memenangkan lomba tingkat provinsi dengan botol-botol bekas itu?" Bima mendengus, namun di dalam hatinya, ia merasa terintimidasi. Ia tahu, jika Senara bisa mencapai poin proposal setinggi itu dengan alat seminim itu, berarti logika di balik alat itu sangat luar biasa.

​Bima segera menelepon asistennya. "Siapkan tambahan bahan kimia murni kelas satu untuk besok pagi di lab. Aku akan melakukan kalibrasi ulang. Aku tidak mau ada satu pun kotoran yang lolos dari filterku."

​"Tapi Tuan Muda, ini sudah malam..."

​"Besok pagi harus ada!" perintah Bima mutlak.

​Malam sebelum perlombaan, keduanya terjaga dalam kondisi yang serupa namun tak sama.

​Bima berdiri di balkon kamarnya, menatap pemandangan kota Jakarta yang penuh lampu. Ia merasa kesepian di tengah kemegahan. Ia tahu, jika ia menang besok, ayahnya mungkin hanya akan mengangguk kecil. Namun jika ia kalah, ia akan kehilangan tempatnya di rumah ini secara emosional.

​"Aku harus menang. Bukan untuk piala itu, tapi untuk membuktikan bahwa aku tidak bisa digantikan oleh siapa pun," bisiknya pada angin malam.

​Sementara itu, Senara sedang duduk di teras rumahnya, memperbaiki tali tasnya agar tidak putus saat membawa alatnya besok. Ia menatap bintang-bintang yang samar tertutup polusi. Ia merasa tertekan, namun ia merasa memiliki tujuan. Jika ia menang, uang hadiahnya bisa digunakan untuk membayar biaya pendaftaran SMA Garuda yang sangat mahal itu.

​"Hanya tinggal satu langkah lagi, Nara. Kalahkan si sombong itu, dan jalanmu menuju masa depan akan terbuka," gumam Senara sambil mengikat kencang simpul tasnya.

​Lomba LKIR bukan lagi sekedar kompetisi akademik. Ini adalah pertarungan antara dua martabat yang sudah terluka. Jenuh yang sempat menghinggapi mereka kini telah membeku menjadi ambisi yang tajam. Mereka berdua siap untuk meledak di panggung provinsi besok, membawa seluruh rasa sakit dan harapan mereka dalam bentuk rumus dan logika.

​Bima dengan kesempurnaan teknologinya, dan Senara dengan kejeniusan survivalnya.

​Dua matahari itu kini sudah berada di ujung cakrawala, siap untuk saling menelan satu sama lain dalam gerhana yang paling kompetitif sepanjang sejarah SMP mereka.

Episodes
1 BAB 1: Mahkota dari Kaca yang Pecah
2 BAB 2: Luka di Balik Angka
3 BAB 3: Menumpuk Tahta di Atas Kertas
4 BAB 4: Titik Didih di Antara Lelah
5 BAB 5: Panggung Logika dan Kemenangan yang Tidak Bisa Dibeli
6 BAB 6: Arena yang Terbakar
7 BAB 7: Sabotase dalam Senyap
8 BAB 8: Keretakan di Meja Bundar
9 BAB 9: Tembok yang Tak Terlihat
10 BAB 10: Arena di Atas Awan
11 BAB 11: Cahaya yang Menyilaukan
12 BAB 12: Kasta di Balik Gerbang Baja
13 BAB 13: Logika di Atas Logika
14 BAB 14: Hutan Para Penguasa
15 BAB 15: Kepulangan dan Bayangan
16 BAB 16: Musim yang Berubah
17 BAB 17: Wilayah Tanpa Hukum
18 BAB 18: Barter Kepentingan
19 BAB 19: Gema di Lorong Sekolah
20 BAB 20: Dua Dunia yang Berbeda
21 BAB 21: Hening Sebelum Badai
22 BAB 22: Isolasi Jaringan
23 BAB 23: Efek Domino
24 BAB 24: Jatuhnya Sang Matahari
25 BAB 25: Undangan Emas
26 BAB 26: Satu Minggu Menuju Akhir
27 BAB 27: Garis Finis yang Sunyi
28 BAB 28: Koper dan Perpisahan
29 BAB 29: Di Balik Gerbang Garuda
30 BAB 30: Tradisi Kertas dan Pena
31 BAB 31: Logika di Balik Kabel
32 BAB 32: Kasta dan Kecurigaan
33 BAB 33: Tes Bahasa yang Mengejutkan
34 BAB 34: Sisi Lain dari Pangeran Teknologi
35 BAB 35: Perubahan Sang Pangeran Teknologi
36 BAB 36: Logika Gravitasi dan Tangan yang Kotor
37 BAB 37: Debu, Buku, dan Rahasia di Balik Rak
38 BAB 38: Gema di Balik Enkripsi
39 BAB 39: Undangan dari Menara Gading
40 BAB 40: Kristal Air dan Bayang-Bayang Blok 4
41 BAB 41: Sinkronisasi dalam Kegelapan
42 BAB 42: Antara Luka dan Logika
43 BAB 43: Uji Coba di Balik Bayang-Bayang
44 BAB 44: Inspeksi Profesor Gunawan dan Mata-Mata Sofia
45 BAB 45: Kode di Balik Lembar Jawaban
46 BAB 46: Sinyal yang Tertinggal
47 BAB 47: Ujian Terakhir dan Jarak yang Menghilang
48 BAB 48: Menara Wijaya dan Protokol Zero-Trust
49 BAB 49: Sarapan dengan Sang Penguasa dan Celah di Protokol Listrik
50 BAB 50: Algoritma Hantu di Jantung Sektor Prima
51 BAB 51: Sangkar Kaca dan Protokol Bayangan
52 BAB 52: Proyeksi Retak dan Teror Tanpa Wajah
53 BAB 53: Labirin Kaca dan Arsitektur Paranoia
54 BAB 54: Protokol Cermin dan Ujian Loyalitas
55 BAB 55: Penyamaran Sempurna dalam Arus Filtrasi
56 BAB 56: Citra Sempurna dan Pencurian Sunyi
57 BAB 57: Deskripsi Sunyi di Balik Asrama Garuda
58 BAB 58: Efek Domino dan Luka di Bursa Saham
59 BAB 59: Konferensi Pers Berdarah Digital
60 BAB 60: Sisa-Sisa Kejayaan dan Dinginnya Dunia
61 BAB 61: Pemegang Kartu AS
62 BAB 62: The Shadow Queen
63 BAB 63: Perang Dingin di Ruang Guru
64 BAB 64: Peringatan di Balik Layar
65 BAB 65: Demonstrasi Ego
66 BAB 66: Diplomasi di Meja Kantin
67 BAB 67: Algoritma Kepercayaan
68 BAB 68: Sisi Lain Shadow Queen
69 BAB 69: Manifesto B-Tech
70 BAB 70: Di Balik Tirai Kedekatan
71 BAB 71: Markas Sang Pangeran Wijaya
72 BAB 72: Infiltrasi Senyap di Blok 4
73 BAB 73: Sisa-Sisa Kerajaan yang Membusuk
74 BAB 74: Gelombang Balasan dan Penyamaran Ganda
75 BAB 75: Frekuensi yang Hanya Dimengerti Jenius
76 BAB 76: Arsitektur Bayangan
77 BAB 77: Simulasi Normalitas
78 BAB 78: Di Balik Lembar Kerja
79 BAB 79: Ketenangan yang Menipu
Episodes

Updated 79 Episodes

1
BAB 1: Mahkota dari Kaca yang Pecah
2
BAB 2: Luka di Balik Angka
3
BAB 3: Menumpuk Tahta di Atas Kertas
4
BAB 4: Titik Didih di Antara Lelah
5
BAB 5: Panggung Logika dan Kemenangan yang Tidak Bisa Dibeli
6
BAB 6: Arena yang Terbakar
7
BAB 7: Sabotase dalam Senyap
8
BAB 8: Keretakan di Meja Bundar
9
BAB 9: Tembok yang Tak Terlihat
10
BAB 10: Arena di Atas Awan
11
BAB 11: Cahaya yang Menyilaukan
12
BAB 12: Kasta di Balik Gerbang Baja
13
BAB 13: Logika di Atas Logika
14
BAB 14: Hutan Para Penguasa
15
BAB 15: Kepulangan dan Bayangan
16
BAB 16: Musim yang Berubah
17
BAB 17: Wilayah Tanpa Hukum
18
BAB 18: Barter Kepentingan
19
BAB 19: Gema di Lorong Sekolah
20
BAB 20: Dua Dunia yang Berbeda
21
BAB 21: Hening Sebelum Badai
22
BAB 22: Isolasi Jaringan
23
BAB 23: Efek Domino
24
BAB 24: Jatuhnya Sang Matahari
25
BAB 25: Undangan Emas
26
BAB 26: Satu Minggu Menuju Akhir
27
BAB 27: Garis Finis yang Sunyi
28
BAB 28: Koper dan Perpisahan
29
BAB 29: Di Balik Gerbang Garuda
30
BAB 30: Tradisi Kertas dan Pena
31
BAB 31: Logika di Balik Kabel
32
BAB 32: Kasta dan Kecurigaan
33
BAB 33: Tes Bahasa yang Mengejutkan
34
BAB 34: Sisi Lain dari Pangeran Teknologi
35
BAB 35: Perubahan Sang Pangeran Teknologi
36
BAB 36: Logika Gravitasi dan Tangan yang Kotor
37
BAB 37: Debu, Buku, dan Rahasia di Balik Rak
38
BAB 38: Gema di Balik Enkripsi
39
BAB 39: Undangan dari Menara Gading
40
BAB 40: Kristal Air dan Bayang-Bayang Blok 4
41
BAB 41: Sinkronisasi dalam Kegelapan
42
BAB 42: Antara Luka dan Logika
43
BAB 43: Uji Coba di Balik Bayang-Bayang
44
BAB 44: Inspeksi Profesor Gunawan dan Mata-Mata Sofia
45
BAB 45: Kode di Balik Lembar Jawaban
46
BAB 46: Sinyal yang Tertinggal
47
BAB 47: Ujian Terakhir dan Jarak yang Menghilang
48
BAB 48: Menara Wijaya dan Protokol Zero-Trust
49
BAB 49: Sarapan dengan Sang Penguasa dan Celah di Protokol Listrik
50
BAB 50: Algoritma Hantu di Jantung Sektor Prima
51
BAB 51: Sangkar Kaca dan Protokol Bayangan
52
BAB 52: Proyeksi Retak dan Teror Tanpa Wajah
53
BAB 53: Labirin Kaca dan Arsitektur Paranoia
54
BAB 54: Protokol Cermin dan Ujian Loyalitas
55
BAB 55: Penyamaran Sempurna dalam Arus Filtrasi
56
BAB 56: Citra Sempurna dan Pencurian Sunyi
57
BAB 57: Deskripsi Sunyi di Balik Asrama Garuda
58
BAB 58: Efek Domino dan Luka di Bursa Saham
59
BAB 59: Konferensi Pers Berdarah Digital
60
BAB 60: Sisa-Sisa Kejayaan dan Dinginnya Dunia
61
BAB 61: Pemegang Kartu AS
62
BAB 62: The Shadow Queen
63
BAB 63: Perang Dingin di Ruang Guru
64
BAB 64: Peringatan di Balik Layar
65
BAB 65: Demonstrasi Ego
66
BAB 66: Diplomasi di Meja Kantin
67
BAB 67: Algoritma Kepercayaan
68
BAB 68: Sisi Lain Shadow Queen
69
BAB 69: Manifesto B-Tech
70
BAB 70: Di Balik Tirai Kedekatan
71
BAB 71: Markas Sang Pangeran Wijaya
72
BAB 72: Infiltrasi Senyap di Blok 4
73
BAB 73: Sisa-Sisa Kerajaan yang Membusuk
74
BAB 74: Gelombang Balasan dan Penyamaran Ganda
75
BAB 75: Frekuensi yang Hanya Dimengerti Jenius
76
BAB 76: Arsitektur Bayangan
77
BAB 77: Simulasi Normalitas
78
BAB 78: Di Balik Lembar Kerja
79
BAB 79: Ketenangan yang Menipu

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!