Abang Ojek Sultanku

Abang Ojek Sultanku

Desakan

"Akhirnya selesai juga." Ujar Riri sambil menutup laptopnya. Ia menyandarkan diri di kursi kerjanya. Sudah satu tahun lebih Riri menjalankan profesinya sebagai seorang marketing di salah satu perusahaan di Surabaya. Sebenarnya ia bisa saja bekerja di kotanya. Orang tuanya juga bukan orang sembarangan. Mereka memeliki usaha di bidang perhotelan. Namun Riri tidak ingin dianggap aji mumpung. Apa lagi ia sudah terlanjur nyaman tinggal di kota Pahlawan.

Tok tok tok

"Masuk!"

"Bu, ini berkas yang ibu minta."

"Okey Za, Terima kasih."

"Sama-sama, bu."

Faza pun keluar dari ruangan Riri.

Riri memeriksa berkas yang baru diantarkan oleh Faza. Berkas tersebut berisi daftar barang baru yang harus ia pasarkan.

Tiba-tiba handphone Riri berdering.

"Hem... mama. Pasti yang dibahas itu lagi." Gerutunya.

Riri pun terpaksa mengangkat telpon dari sang Mama.

"Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikum salam."

"Mama ganggu, Ri?"

"Hem... nggak kok. Ini baru mau istirahat."

"Jangan lupa shalat!"

"Lagi haid, ma."

"Oh.... iya, jangan lupa makan siang!"

"Iya, ini juga mau ke kantin kok."

Riri mengerti mamanya pasti sedang basa-basi.

"Ri... "

"Iya ma, kenapa?"

"Itu si Arga ke sini lagi lho sama orang tuanya."

"Tuh kan, apa kubilang." Batin Riri.

"Terus?"

"Ya, dia mau melamar kamu. Umur kamu sudah mau 24 tahun, lho. Sampai kapan kamu kerja? Kerja kan bisa di sini di hotel kita."

"Ma... bukannya Riri sudah bahas ini dari awal ya. Target kumpulkan masih dua tahun lagi. Lagian Riri nggak suka sama Arga. Kalau mau mama saja."

"Astaghfirullah... Riri!"

Tidak ingin berdebat lagi dangan sang Mama. Riri pun pamit baik-baik. Ia beralasan mau makan karena sudah lapar.

Setelah menutup telponnya, Riri hanya bisa menghela nafas panjang.

"Ampuni hamba ya Allah."

Riri pun keluar dari ruangannya. Ia mengajak salah satu temannya di bagian HRD untuk makan di kantin bersamanya.

"Mau pesan apa, Ri?"

"Pingin seblak sih sebenarnya."

"Dih, mana ada di sini."

"Aku pesan pecel lele saja."

"Bu, pecel lele dua, es teh dua."

"Siap, mbak."

Sambil menunggu pesanannya datang, teman Riri membalas chat dari kekasihnya. Riri hanya bisa menopang dagunya dengan tangannya melihat temannya senyum-senyum sendiri.

"Ya elah... Lama-lama ikutan gila aku nih lihat kamu Fir!"

"Hem... makanya cari pacar. "

"Males!"

Riri memang terlalu cuek dengan urusan asmaranya. Itu bkan berarti ia tidak menyukai laki-laki. Hanya saja ia malas berusaha dengan sakit hati. Dulu saat SMA ia pernah berpacaran. Namun ternyata pacarnya selingkuh dengan temannya sendiri. Sejak itu, Riri tidak ingin lagi berpacaran. Saat kuliah pun, Riri selalu cuek dengan pria yang mendekatinya.

Pesanan mereka pun akhirnya datang. Mereka makan dengan santai.

10 menit kemudian, mereka selesai makan. Jam masuk tinggal 10 menit lagi. Mereka memutuskan untuk kembali ke ruangannya masing-masing.

Riri kembali berkutat dengan laptopnya. Ia mempersiapkan proposal yang akan dia ajukan kepada investor nantinya.

Sekedar informasi tentang Riri. Ia adalah anak sulung dari dua bersaudara. Pantas saja orang tuanya ingin ia segera menikah, karena adik Riri saat ini sudah bertunangan. Mereka tidak ingin Riri dilangkahi oleh adiknya. Berbeda halnya dengan Riri, adiknya tidak melanjutkan kuliah. Ia langsung bekerja di hotel milik keluarga mereka. Sisi enggan menikah jika kakaknya belum bertunangan. Padahal Riri sudah pernah bilang agar adiknya itu segera menikah saja. Kasihan tunangannya yang sudah menunggu selama 3 tahun.

"Repot banget jadi aku ya? Kenapa mereka nggak ngerti sih? Lagian laki-laki mana yang bisa dipercaya di jaman sekarang?" Gumamnya.

*

Sementara itu, di suatu rumah yang sangat megah di Surabaya bagian barat, seorang pria yang berstatus sebagai anak sulung dalam keluarganya saat ini sedang merenungi perdebatannya dengan orang tuanya tadi pagi.

"Usiamu sudah 27 tahun. Adik-adikmu Hana dan Hani sudah menikah dan memiliki anak. Apa kamu akan begini terus? Kamu adalah harapan dalam keluarga ini, bang. Kamu penerus abi mu."

"Abang sudah melakukan yang abi mau, ummi. Abang kan, sudah membantu abi di perusahaan meskipun nggak setiap hari. Masalah pasangan nanti kalau sudah waktunya akan ketemu. Abang ini laki-laki, ummi. Umur tidak menjadi penghalang untuk menikah."

"Begitu terus jawabanmu!" Sahut abi.

"Ummi tahu, sekarang kamu malah asik menjadi ojek online. Sebenarnya apa yang kamu cari, bang?"

"Tenanglah, ummi. Yang penting abang tidak neko-neko. Ummi tenang saja, abang masih memegang teguh ajaran agama. Abang shalat, tidak minum alkohol atau semacamnya, tidak mencuri, tidak balap liar, tidak.... "

"Ah sudah-sudah, cukup! Lama-lama abi struk dengar pembelaan mu! Ayo mi, balik ke kamar. Biarkan anakmu itu bertingkah sesuka hatinya!"

Begitu kira-kira perdebatan mereka.

"Apa ummi dan abi marah ya? Ini buktinya saat makan siang, mereka nggak panggil aku. Biasanya ummi akan menjemputku ke kamar. Huh....." Gumamnya.

Tok tok tok

"Nah itu pasti ummi."

Saat membuka pintu kamarnya, ternyata adiknya yang paling kecil yang datang membawakan makanan.

"Dek, kamu?"

"Abang ini gimana sih? Mau makan saja repot. Nih makanannya! Yang lain sudah pada makan."

"Hem... makasih ya."

"Sama-sama."

Hafiza pun meninggalkan kamar abangnya.

Di rumah itu, kini tinggal mereka berempat saja dan beberapa asisten rumah tangga serta sopir dan security. Sedangkan kedua adiknya yang lain sudah tinggal bersama suami mereka di rumah yang dibangun tidak jauh dari rumah itu. Abi dan ummi tidak angin anak-anaknya jauh dari mereka. Hafiza pun sudah disiapkan rumah untuk masa depannya nanti. Rumah tersebut berada di belakang rumah utama. Sedangkan abang, kebagian rumah utama.

Setelah menghabiskan makanannya, ia pergi ke dapur untuk meletakkan piring kotor.

"Den, sini biar bibi yang cuci piringnya."

"Eh iya, bi. Terima kasih ya."

"Iya, sama-sama."

Ia melangkah keluar dari dapur. Saat itu ia melihat kedua orang tuanya keluar dari rumah. Ia tidak sempat untuk bertanya karena mereka sudah sampai di depan.

"Mereka mau ke mana ya?" Gumamnya.

Saat akan naik ke kamarnya, ia berapasan dengan Hafiza.

"Eh dek, ummi sama abi mau ke mana?"

"Mau ke dokter katanya."

"Siapa yang sakit?"

"Abi mau periksa katanya."

"Oh... "

"Bang, coba deh abang dengerin kata abi dan ummi. Kasihan mereka sudah tua."

Ia tidak menyangka jika adiknya yang masih berusia 16 tahun itu bisa menasehatinya. Namun ia tidak membalasnya. Hafiza lahir dengan jarak yang cukup jauh dengan kakak kembarnya. Mereka terpaut usia 9 tahun.

"Eh... abang ih, dibilangin malah pergi gitu aja!"

Bersambung....

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Terpopuler

Comments

joe Joe oke

joe Joe oke

bagus mudah Dimengerti dan mudah dipahami Alur ceritanya
Lumayan hiburan pas lagi bekerja

2026-08-09

0

Achnad Asbert

Achnad Asbert

289

2026-05-25

1

@E𝆯⃟🚀BuNdAιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸

@E𝆯⃟🚀BuNdAιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸

mulai membaca. 👍🏻

2026-04-30

0

lihat semua
Episodes
1 Desakan
2 Abang ojek
3 Sultan
4 Bertemu lagi
5 Bang Ahmed
6 Bros
7 Mengembalikan bros
8 Salah sangka
9 Bertemu ummi dan abi
10 Ummi dan Riri
11 Kecelakaan
12 Kepikiran
13 Masih bujangan
14 Gagal fokus
15 Rumah sakit lagi
16 Bertemu Mama Riri
17 Kalau cinta bilang saja
18 Latar belakang Riri
19 Mendadak Rindu
20 Perasaan
21 Dijemput ummi
22 Izin ummi
23 Calon istri
24 Ngedate pertama
25 Nonton
26 Pulang kampung
27 Acara demi acara
28 Arga berulah
29 Nikah Dadakan
30 Ngambek
31 Kecupan pertama
32 Persiapan
33 Resepsi Pernikahan
34 Usai Resepsi
35 Pembukaan
36 Lukisan Sultan
37 Pulang dari hotel
38 Rumah Mertua
39 Beradaptasi
40 Malu
41 Rumah opa
42 Laki-laki Luar biasa
43 Swiss
44 Dinner
45 Keliling Swiss
46 Oleh-oleh
47 Kembali Kerja
48 Menginap di rumah opa
49 Kejutan
50 Sahabat kecil
51 Gagal pulang
52 Pijat
53 Jujur
54 Kedatangan ummi dan abi
55 Minta maaf
56 Pingin
57 Periksa
58 Mabok
59 Kembali ke Surabaya
60 Persiapan
61 Singapore
62 USG
63 Hormon tidak stabil
64 Tugas Leo
65 Lapis legit
66 Sawan
67 USG lagi
68 Kue pancong
69 Kembali ke Singapore
70 Salah persepsi
71 Ulang tahun Zainab
72 Menyusul
73 Kembali ke Indonesia
74 Kebab
75 Bertemu Dita
76 Ketahuan
77 Empat bulanan
78 Membujuk
79 Tujuh bulanan
80 Pernikahan Leo dan Zainab
81 Mendadak
82 Triple H
83 Membawa kebahagiaan
84 Kontrol
85 Aqiqah
86 Konsultasi
87 Pulang kampung
88 Tentang Sisi
89 Satu tahun kemudian
Episodes

Updated 89 Episodes

1
Desakan
2
Abang ojek
3
Sultan
4
Bertemu lagi
5
Bang Ahmed
6
Bros
7
Mengembalikan bros
8
Salah sangka
9
Bertemu ummi dan abi
10
Ummi dan Riri
11
Kecelakaan
12
Kepikiran
13
Masih bujangan
14
Gagal fokus
15
Rumah sakit lagi
16
Bertemu Mama Riri
17
Kalau cinta bilang saja
18
Latar belakang Riri
19
Mendadak Rindu
20
Perasaan
21
Dijemput ummi
22
Izin ummi
23
Calon istri
24
Ngedate pertama
25
Nonton
26
Pulang kampung
27
Acara demi acara
28
Arga berulah
29
Nikah Dadakan
30
Ngambek
31
Kecupan pertama
32
Persiapan
33
Resepsi Pernikahan
34
Usai Resepsi
35
Pembukaan
36
Lukisan Sultan
37
Pulang dari hotel
38
Rumah Mertua
39
Beradaptasi
40
Malu
41
Rumah opa
42
Laki-laki Luar biasa
43
Swiss
44
Dinner
45
Keliling Swiss
46
Oleh-oleh
47
Kembali Kerja
48
Menginap di rumah opa
49
Kejutan
50
Sahabat kecil
51
Gagal pulang
52
Pijat
53
Jujur
54
Kedatangan ummi dan abi
55
Minta maaf
56
Pingin
57
Periksa
58
Mabok
59
Kembali ke Surabaya
60
Persiapan
61
Singapore
62
USG
63
Hormon tidak stabil
64
Tugas Leo
65
Lapis legit
66
Sawan
67
USG lagi
68
Kue pancong
69
Kembali ke Singapore
70
Salah persepsi
71
Ulang tahun Zainab
72
Menyusul
73
Kembali ke Indonesia
74
Kebab
75
Bertemu Dita
76
Ketahuan
77
Empat bulanan
78
Membujuk
79
Tujuh bulanan
80
Pernikahan Leo dan Zainab
81
Mendadak
82
Triple H
83
Membawa kebahagiaan
84
Kontrol
85
Aqiqah
86
Konsultasi
87
Pulang kampung
88
Tentang Sisi
89
Satu tahun kemudian

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!