Chapter 4 - Menagih Hutang

Malam mulai turun di kawasan pinggiran kota. Lampu-lampu jalan menyala redup, sementara warung gorengan di ujung gang mulai ramai oleh orang-orang yang mencari camilan.

Ge menghentikan motornya di depan warung itu.

BRRAAAKK!

Suara knalpotnya langsung membuat beberapa orang menoleh. Di bangku panjang depan warung sudah duduk beberapa pria bertato yang wajahnya lebih cocok jadi pemeran film preman daripada pelanggan gorengan biasa.

Mereka adalah anak buah Mamaknya Ge. Begitu melihat Ge datang, salah satu dari mereka melambaikan tangan.

“WOY! Anak bos datang!” Itu Bang Ucup, pria berkumis tebal yang badannya besar seperti lemari.

Ge duduk santai di bangku kayu. “Apa kabar, para penjahat kelas teri?”

Bang Ucup tertawa. “Kurang ajar lu. Kita ini pekerja profesional!” sahutnya.

Bang Jali yang duduk di sampingnya ikut nimbrung. “Iya. Kita penagih utang bersertifikat.”

Ge mengambil gorengan di meja. “Bayarnya pakai apa? Sertifikat preman?”

Semua langsung tertawa. Penjual gorengan yang sudah kenal mereka hanya menggeleng sambil terus menggoreng tempe.

Bang Ucup menatap Ge. “Ge.”

“Apa, Bang?”

“Kata emak lu, lu nyolong duit lagi.”

Ge santai menggigit bakwan. “Bukan nyolong. Tapi pinjam!”

Bang Jali mengangkat alis. “Pinjam?”

“Iya.”

“Balikinnya kapan?”

Ge mengangkat bahu. “Nunggu kaya.”

Bang Ucup tertawa keras sampai hampir tersedak. “Kalau nunggu lu kaya, emak lu bangkrut duluan.”

Ge menyenggol meja. “Eh, Bang. Ngomong-ngomong...”

“Apa?”

“Kita adu panco yuk.”

Bang Ucup langsung tertarik. “Berani lu lawan gue?”

Ge menyeringai. “Kenapa nggak?”

Bang Jali langsung menepuk meja. “Wah ini seru!”

Orang-orang di warung langsung memperhatikan. Bang Ucup meletakkan tangannya di meja.

“Oke. Kalau gue menang, lu traktir gorengan satu meja," ujar Bang Ucup.

Ge ikut menaruh tangan. “Kalau gue menang?”

Bang Ucup menyeringai. “Gue traktir es teh.”

Ge langsung protes. “Curang banget! Gue yang kecil hadiahnya.”

Bang Jali tertawa. “Udah cepet!”

Mereka mulai. “Satu… dua… tiga!”

Bang Ucup langsung menekan. Namun Ge ternyata tidak selemah kelihatannya. Tangannya menahan kuat.

“WOY!” teriak Bang Jali. “Anak bos kuat juga!”

Bang Ucup mulai kesal. “Lu latihan apa sih?”

Ge menyeringai. “Angkat galon tiap hari. Terus manjat tembok sekolah pas bolos! Terus hari ini gue mati-matian bersihin tai di toilet!"

Bang Ucup menekan lebih kuat. Ge hampir kalah.

DEG!

Ge membanting tangan Bang Ucup ke meja.

“MENANG!”

Warung langsung heboh.

Bang Jali melotot. “ANJIR!” rutuknya tak percaya.

Bang Ucup menatap tangannya tidak percaya. “Ini curang!” protesnya.

Ge tertawa. “Yang kalah traktir!”

Penjual gorengan langsung nyeletuk. “Tambah tempe ya?”

Bang Ucup menunjuk Ge. “Anak setan emang lu, Ge!"

Mereka semua tertawa lagi. Setelah makan beberapa gorengan, Bang Ucup menyalakan rokok. Lalu menatap Ge.

“Ge!" ujarnya.

“Apa?”

“Mau ikut kerja?”

Ge menyipitkan mata. “Kerja apaan?”

“Nagih utang.”

Ge mengangkat alis. “Yang kabur itu?”

Bang Jali mengangguk. “Iya. Sudah dua bulan nggak bayar.”

Ge berdiri. “Gas!"

Bang Ucup tertawa. “Cepet amat.”

Ge mengambil helmnya. “Lumayan buat hiburan malam.”

Mereka bertiga naik motor. Ge di depan dengan motor tuanya. Bang Ucup dan Bang Jali mengikuti dari belakang. Mereka masuk ke gang sempit yang lampunya jarang.

Setelah beberapa menit perjalanan, Bang Ucup menunjuk sebuah rumah kecil di ujung gang. Rumah itu tampak kumuh. Catnya sudah mengelupas. Atap sengnya bahkan miring.

Ge mematikan motor. “Ini?”

Bang Ucup mengangguk. “Iya.”

Ge menatap rumah itu sebentar. “Yang punya rumah utangnya berapa?”

Bang Jali menjawab santai. “Lima juta. Tapi jadi dua puluh juta karena ditambah bunganya."

Ge mengangkat alis. “Gila! Berkembang banyak amat tuh bunga!" komentarnya tak percaya.

Bang Ucup mendengus. “Itulah resiko ngutang ke rentenir. Kalau nunggaknya lama, bunganya makin nambah!" sahutnya.

Ge mengangguk pelan. “Pantes.”

Bang Ucup berjalan ke pintu.

Tok!

Tok!

Tok!

Tidak ada jawaban. Bang Jali mengetuk lebih keras.

“WOY!”

Masih sunyi.

Ge menyeringai. “Kayaknya kabur lagi.”

Bang Ucup menendang pintu sedikit. “WOY! KELUAR!”

Tiba-tiba terdengar suara dari dalam rumah. “Si… siapa?”

Bang Ucup menjawab keras. “Ini gue! Nggak usah sok nggak kenal deh lu! Cepat keluar!" desaknya galak.

Pintu perlahan terbuka. Seorang pria kurus muncul. Wajahnya pucat seperti habis melihat hantu.

Begitu melihat Bang Ucup dan Bang Jali, dia langsung panik. Namun bersamaan dengan itu, muncul sosok gadis dari dalam rumah. Gadis yang terasa tak asing di mata Ge.

Terpopuler

Comments

Tiara Bella

Tiara Bella

temen baru disekolah Ge kynya....

2026-03-09

0

Untaian Nada

Untaian Nada

👍

2026-05-31

0

Mamat Stone

Mamat Stone

/Casual/

2026-05-26

0

lihat semua
Episodes
1 Chapter 1 - Sage Iskandar
2 Chapter 2 - Membersihkan Toilet
3 Chapter 3 - Pinjaman Cepat
4 Chapter 4 - Menagih Hutang
5 Chapter 5 - Reputasi Palsu
6 Chapter 6 - Tak Jadi Nongkrong
7 Chapter 7 - Belajar Biologi
8 Chapter 8 - Murid Baru
9 Chapter 9 - Bolos
10 Chapter 10 - Pria Asing
11 Chapter 11 - Membuktikan
12 Chapter 12 - Cerita Arif
13 Chapter 13 - Sampel DNA
14 Chapter 14 - Dihukum Lagi
15 Chapter 15 - Tentang Naya
16 Chapter 16 - Di Ajak Ngobrol Cewek Lagi
17 Chapter 17 - Permohonan Tantri Lagi
18 Chapter 18 - Hasil Tes DNA
19 Chapter 19 - Memberitahu
20 Chapter 20 - Seluruh Warisan Katanya
21 Chapter 21 - Ibu & Dua Saudara Tiri Spek Bidadari
22 Chapter 22 - Bersikap Baik
23 Chapter 23 - Keliling Mansion
24 Chapter 24 - Glow Up
25 Chapter 25 - Musuh Zara
26 Chapter 26 - Kembali Ke Mansion
27 Chapter 27 - Perasaan Aneh Ibu Tiri
28 Chapter 28 - Minta Maaf
29 Chapter 29 - Serangan
30 Chapter 30 - Kuasa Hukum Romy
31 Chapter 31 - Karma
32 Chapter 32 - Menyusul Bapak
33 Chapter 33 - Menerobos
34 Chapter 34 - Hidup Tak Bisa Ditebak
35 Chapter 35 - Kantor Polisi
36 Chapter 36 - Belum Pulang
37 Chapter 37 - Kolam Renang
38 Chapter 38 - Bantuan
39 Chapter 39 - Cuman Mimpi
40 Chapter 40 - Kembali Ke Sekolah
41 Chapter 41 - Idola Sekolah Baru
42 Chapter 42 - Berani
43 Chapter 43 - Rumah Baru Ge
44 Chapter 44 - Serangan Kevin
45 Chapter 45 - Tugas Ge
46 Chapter 46 - Kembali Dengan Motor
47 Chapter 47 - Gebetan Kevin
48 Chapter 48 - Salah Paham
49 Chapter 49 - Ancaman Hukuman
50 Chapter 50 - Hukuman Lain
51 Chapter 51 - Beda Level
52 Chapter 52 - Ketegasan Arif
53 Chapter 53 - Mau Tak Mau
54 Chapter 54 - Teman & Perempuan
55 Chapter 55 - Kabur
56 Chapter 56 - Saudara Tiri
57 Chapter 57 - Ungkapan Zara
58 Chater 58 - Ke Klub Malam
59 Chapter 59 - Gara-Gara Marni
60 Chapter 60 - Berkelahi
61 Chapter 61 - Bukan Bocah Biasa
62 Chapter 62 - Di Blacklist
63 Chapter 63 - Kepergok
64 Chapter 64 - Ada Kabar
65 Chapter 65 - Keadaan Tarno
66 Chapter 66 - Duka
67 Chapter 67 - Memulai Rencana
68 Chapter 68 - Tak Ada Petunjuk
69 Chapter 69 - Berbeda
70 Chater 70 - Cokelat Hangat
71 Chapter 71 - Masih Bertengkar
72 Chater 72 - Ke Kamar
73 Chapter 73 - Aneh
74 Chapter 74 - Hasil Otopsi
75 Chapter 75 - Hukuman
76 Chapter 76 - Dilepaskan
77 Chapter 77 - Permintaan Maaf Kosong
78 Chapter 78 - Pemakaman
79 Chater 79 - Menyusun Rencana
80 Chapter 80 - Pembalasan
81 Chapter 81 - Rencana Di Klub Malam
82 Chapter 82 - Tak Tahu
83 Chapter 83 - Tempat Rahasia
84 Chapter 84 - Rencana Penyusupan
85 Chapter 85 - Misi Bimo & Taufik
86 Chapter 86 - Rekaman CCTV
87 Chapter 87 - Dapat Bukti
88 Chapter 88 - Tidak Gegabah
89 Chapter 89 - Tersebar
90 Chapter 90 - Orang Gila
91 Chapter 91 - Mendapat Balasan
92 Chapter 92 - Lulus
93 Chapter 93 - Dendam
94 Chapter 94 - Saatnya Pergi
95 Chapter 95 - Kuliah
96 Chater 96 - Menolong Naya
97 Chapter 97 - Apartemen Ge
98 Chapter 98 - Terpesona
99 Chapter 99 - Gak Peka
100 Chapter 100 - Seranjang
101 Chapter 101 - Tak Bisa Tidur
102 Chapter 102 - Hanya Mimpi
103 Chapter 103 - Tak Sengaja
104 Chapter 104 - Membersihkan Jejak
105 Chapter 105 - Tak Peduli
106 Chapter 106 - Sekalian Saja
107 Chapter 107 - Dibawa Pergi
108 Chapter 108 - Emergency
109 Chapter 109 - Penemuan Koper
110 Chapter 110 - Pantas Mati
111 Chapter 111 - Ngopi
112 Chapter 112 - Tumbuh Dewasa
113 Chapter 113 - Ending
114 Pengumuman Novel Baru
Episodes

Updated 114 Episodes

1
Chapter 1 - Sage Iskandar
2
Chapter 2 - Membersihkan Toilet
3
Chapter 3 - Pinjaman Cepat
4
Chapter 4 - Menagih Hutang
5
Chapter 5 - Reputasi Palsu
6
Chapter 6 - Tak Jadi Nongkrong
7
Chapter 7 - Belajar Biologi
8
Chapter 8 - Murid Baru
9
Chapter 9 - Bolos
10
Chapter 10 - Pria Asing
11
Chapter 11 - Membuktikan
12
Chapter 12 - Cerita Arif
13
Chapter 13 - Sampel DNA
14
Chapter 14 - Dihukum Lagi
15
Chapter 15 - Tentang Naya
16
Chapter 16 - Di Ajak Ngobrol Cewek Lagi
17
Chapter 17 - Permohonan Tantri Lagi
18
Chapter 18 - Hasil Tes DNA
19
Chapter 19 - Memberitahu
20
Chapter 20 - Seluruh Warisan Katanya
21
Chapter 21 - Ibu & Dua Saudara Tiri Spek Bidadari
22
Chapter 22 - Bersikap Baik
23
Chapter 23 - Keliling Mansion
24
Chapter 24 - Glow Up
25
Chapter 25 - Musuh Zara
26
Chapter 26 - Kembali Ke Mansion
27
Chapter 27 - Perasaan Aneh Ibu Tiri
28
Chapter 28 - Minta Maaf
29
Chapter 29 - Serangan
30
Chapter 30 - Kuasa Hukum Romy
31
Chapter 31 - Karma
32
Chapter 32 - Menyusul Bapak
33
Chapter 33 - Menerobos
34
Chapter 34 - Hidup Tak Bisa Ditebak
35
Chapter 35 - Kantor Polisi
36
Chapter 36 - Belum Pulang
37
Chapter 37 - Kolam Renang
38
Chapter 38 - Bantuan
39
Chapter 39 - Cuman Mimpi
40
Chapter 40 - Kembali Ke Sekolah
41
Chapter 41 - Idola Sekolah Baru
42
Chapter 42 - Berani
43
Chapter 43 - Rumah Baru Ge
44
Chapter 44 - Serangan Kevin
45
Chapter 45 - Tugas Ge
46
Chapter 46 - Kembali Dengan Motor
47
Chapter 47 - Gebetan Kevin
48
Chapter 48 - Salah Paham
49
Chapter 49 - Ancaman Hukuman
50
Chapter 50 - Hukuman Lain
51
Chapter 51 - Beda Level
52
Chapter 52 - Ketegasan Arif
53
Chapter 53 - Mau Tak Mau
54
Chapter 54 - Teman & Perempuan
55
Chapter 55 - Kabur
56
Chapter 56 - Saudara Tiri
57
Chapter 57 - Ungkapan Zara
58
Chater 58 - Ke Klub Malam
59
Chapter 59 - Gara-Gara Marni
60
Chapter 60 - Berkelahi
61
Chapter 61 - Bukan Bocah Biasa
62
Chapter 62 - Di Blacklist
63
Chapter 63 - Kepergok
64
Chapter 64 - Ada Kabar
65
Chapter 65 - Keadaan Tarno
66
Chapter 66 - Duka
67
Chapter 67 - Memulai Rencana
68
Chapter 68 - Tak Ada Petunjuk
69
Chapter 69 - Berbeda
70
Chater 70 - Cokelat Hangat
71
Chapter 71 - Masih Bertengkar
72
Chater 72 - Ke Kamar
73
Chapter 73 - Aneh
74
Chapter 74 - Hasil Otopsi
75
Chapter 75 - Hukuman
76
Chapter 76 - Dilepaskan
77
Chapter 77 - Permintaan Maaf Kosong
78
Chapter 78 - Pemakaman
79
Chater 79 - Menyusun Rencana
80
Chapter 80 - Pembalasan
81
Chapter 81 - Rencana Di Klub Malam
82
Chapter 82 - Tak Tahu
83
Chapter 83 - Tempat Rahasia
84
Chapter 84 - Rencana Penyusupan
85
Chapter 85 - Misi Bimo & Taufik
86
Chapter 86 - Rekaman CCTV
87
Chapter 87 - Dapat Bukti
88
Chapter 88 - Tidak Gegabah
89
Chapter 89 - Tersebar
90
Chapter 90 - Orang Gila
91
Chapter 91 - Mendapat Balasan
92
Chapter 92 - Lulus
93
Chapter 93 - Dendam
94
Chapter 94 - Saatnya Pergi
95
Chapter 95 - Kuliah
96
Chater 96 - Menolong Naya
97
Chapter 97 - Apartemen Ge
98
Chapter 98 - Terpesona
99
Chapter 99 - Gak Peka
100
Chapter 100 - Seranjang
101
Chapter 101 - Tak Bisa Tidur
102
Chapter 102 - Hanya Mimpi
103
Chapter 103 - Tak Sengaja
104
Chapter 104 - Membersihkan Jejak
105
Chapter 105 - Tak Peduli
106
Chapter 106 - Sekalian Saja
107
Chapter 107 - Dibawa Pergi
108
Chapter 108 - Emergency
109
Chapter 109 - Penemuan Koper
110
Chapter 110 - Pantas Mati
111
Chapter 111 - Ngopi
112
Chapter 112 - Tumbuh Dewasa
113
Chapter 113 - Ending
114
Pengumuman Novel Baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!