Jeritan Lina baru saja menggema di kamar ketika pintu terbuka dengan keras.
Langkah kaki cepat terdengar di lorong.
Beberapa detik kemudian, Rizky muncul di ambang pintu.
Tatapannya langsung tertuju pada Lina yang duduk di ranjang dengan tangan menutup wajahnya.
Jejak merah tamparan terlihat jelas di pipinya.
Rizky berhenti.
Sorot matanya langsung menggelap.
“Apa yang kamu lakukan?”
Suara itu tajam dan dingin.
Dewi berdiri di sisi ranjang dengan tangan masih di samping tubuhnya. Ia tidak bergerak.
Rizky melangkah masuk.
Beberapa dokter dan perawat langsung memberi jalan.
Ia berdiri di depan Dewi, tubuhnya sedikit menghalangi Lina di belakangnya.
Tatapan matanya keras.
“Dewi.”
“Apa maksudmu datang ke sini dan memukulnya?”
Nada suaranya jelas menunjukkan kemarahan.
Namun Dewi tidak terlihat terpengaruh.
Di belakang Rizky, Lina mulai menangis.
Ia menutup wajahnya dengan satu tangan sambil menunduk.
Air mata tampak mengalir.
“Rizky…”
Suaranya gemetar.
“Aku tidak tahu kenapa Kak Dewi tiba-tiba memukulku…”
Ia menggigit bibir, seolah menahan rasa sakit.
“Aku benar-benar tidak melakukan apa-apa…”
Beberapa perawat langsung menunjukkan ekspresi simpati.
Dokter yang berdiri di dekat ranjang juga mengerutkan kening melihat Dewi.
Namun Dewi hanya tertawa pelan.
Tawa pendek yang dingin.
“Tidak melakukan apa-apa?”
Ia mengulangi kalimat itu perlahan.
Lina masih menunduk sambil menangis.
“Kalau aku melakukan sesuatu yang salah…”
kata Lina dengan suara lemah,
“aku bisa minta maaf…”
“Aku hanya tidak mengerti kenapa Kak Dewi begitu marah…”
Dewi menatapnya lama.
Lalu ia berjalan dua langkah mendekat.
Lina sedikit menegang ketika Dewi berdiri tepat di depan ranjang.
Namun Dewi tidak mengangkat tangan lagi.
Ia hanya membuka tasnya.
Dari dalam tas, ia mengeluarkan selembar kertas.
Kertas itu sudah dilipat rapi.
Dewi membuka lipatan itu tanpa terburu-buru.
Kemudian—
ia melemparkannya ke atas tempat tidur.
Kertas itu jatuh tepat di antara Lina dan Rizky.
“Kamu tidak perlu pura-pura lagi,” kata Dewi datar.
“Karena aku sudah tahu semuanya.”
Rizky menatap kertas itu dengan kening berkerut.
Ia mengambilnya.
Ketika melihat isi gambar di atasnya—
ekspresinya langsung berubah.
Foto itu jelas.
Rizky sendiri sedang tertidur di ranjang rumah sakit.
Kepalanya sedikit bersandar ke belakang.
Di sampingnya, Lina memeluk lengannya sambil tersenyum ke arah kamera.
Foto yang sama persis dengan yang diterima Dewi.
Rizky langsung mengenalinya.
Itu diambil kemarin.
Saat ia datang menjenguk Lina.
Ia memang sempat tertidur sebentar di kursi dekat ranjang.
Saat itu…
hanya Lina yang ada di ruangan.
Tatapan Rizky perlahan berubah.
Ia menoleh ke arah Lina.
Wajahnya tidak lagi setenang sebelumnya.
Sementara itu, wajah Lina tiba-tiba pucat.
Ia tidak menyangka Dewi akan membawa foto itu.
Foto yang sebenarnya ia kirim dengan tujuan menyakiti Dewi.
Sekarang justru menjadi bukti yang menjerat dirinya sendiri.
Beberapa detik ruangan menjadi sangat sunyi.
Dewi menyilangkan tangan di depan dada.
Tatapannya dingin.
“Bagaimana?”
“Masih ingin bilang kamu tidak melakukan apa-apa?”
Lina membuka mulut, namun tidak langsung berbicara.
Matanya sedikit panik.
Ia tidak menyangka situasi berubah secepat ini.
Namun hanya beberapa detik kemudian—
air mata kembali mengalir di wajahnya.
Ia menunduk.
“Rizky…”
Suaranya terdengar putus-putus.
“Aku tidak tahu kenapa Kak Dewi membawa foto itu…”
Ia menggeleng pelan.
“Aku juga tidak tahu siapa yang mengambilnya…”
Dewi langsung tertawa.
Kali ini lebih keras.
“Masih mau berakting?”
Ia menunjuk foto itu.
“Kemarin di ruangan itu hanya ada kalian berdua.”
“Kalau bukan kamu yang mengambilnya…”
“apa kursinya yang mengambil?”
Rizky tidak mengatakan apa pun.
Namun ekspresi wajahnya semakin dingin.
Tatapannya kembali ke Lina.
Tatapan itu tidak lagi penuh kepercayaan seperti sebelumnya.
Lina merasakan perubahan itu.
Jantungnya berdebar.
Ia langsung meraih lengan Rizky.
Tangannya gemetar.
“Rizky… kamu harus percaya padaku…”
Air mata terus mengalir di wajahnya.
“Aku benar-benar tidak melakukan itu…”
Ia menarik napas dalam-dalam.
Lalu berkata dengan nada seolah putus asa.
“Mungkin Kak Dewi menyuruh seseorang mengambil foto itu untuk menjebakku…”
Kata-kata itu keluar dengan cepat.
Seolah sudah dipikirkan sebelumnya.
“Kalau memang aku salah…”
“aku bisa minta maaf…”
Ia menunduk lebih dalam.
“Aku juga tidak akan menyusahkan Kak Dewi lagi…”
“Mulai sekarang aku tidak akan meminta donor darah darinya…”
Kata-kata itu terdengar sangat tulus.
Namun Dewi hanya menatapnya dengan senyum sinis.
Lina kemudian mengangkat tangan.
“Aku bersumpah…”
“Sumpah demi Kak Hendra…”
Nama itu membuat Rizky sedikit terdiam.
Hendra.
Sahabatnya.
Rekan seperjuangan.
Pria yang meninggal di medan tugas dua tahun lalu.
Sebelum meninggal, Hendra sempat memegang tangan Rizky.
Memintanya menjaga adik perempuannya.
Lina.
Itu adalah janji yang selalu diingat Rizky.
Ketika mendengar nama itu disebut—
ekspresi wajahnya sedikit melunak.
Ia menarik napas panjang.
Kemudian menepuk tangan Lina perlahan.
“Cukup.”
Ia menoleh ke dokter.
“Apakah lukanya perlu dirawat?”
Lina segera menggeleng.
“Tidak… tidak apa-apa…”
“Aku baik-baik saja…”
Ia menunduk lagi.
Seolah tidak ingin memperbesar masalah.
Namun di dalam hatinya, ia diam-diam lega.
Rizky masih berpihak padanya.
Rizky kemudian menoleh ke arah Dewi.
Tatapan Dewi masih penuh ejekan.
Ia tidak mengatakan apa-apa.
Namun ekspresi wajahnya seolah mengatakan bahwa semua ini hanyalah sandiwara.
Perasaan aneh kembali muncul di dada Rizky.
Namun ia menekannya.
Baginya, kondisi Lina lebih penting sekarang.
Satu foto saja tidak cukup untuk menjelaskan semuanya.
“Masalah ini kita bicarakan nanti,” kata Rizky dingin.
Ia menoleh ke dokter.
“Sekarang yang penting transfusi darah.”
Kemudian ia melihat Dewi.
“Kamu ikut dokter.”
“Donor sekarang.”
Nada itu seperti perintah biasa.
Seolah semuanya akan berjalan seperti sebelumnya.
Di belakang Rizky, Lina perlahan menoleh ke arah Dewi.
Tidak ada orang yang memperhatikan wajahnya.
Di sudut bibirnya muncul senyum kecil.
Senyum penuh kemenangan.
Seolah berkata—
kamu tetap kalah.
Dokter yang berdiri di dekat ranjang langsung berkata,
“Nona Lina kehilangan banyak darah karena jatuh tadi.”
“Kondisinya memang membutuhkan transfusi segera.”
Beberapa perawat mulai menyiapkan peralatan.
Rizky mengangguk.
“Siapkan semuanya.”
Suaranya tegas.
Lalu ia kembali melihat Dewi.
“Cepat.”
Namun Dewi tidak bergerak.
Ia tetap berdiri di tempat.
Tatapannya dingin.
Beberapa detik kemudian, ia berkata dengan suara pelan.
“Tunggu.”
Semua orang menoleh padanya.
Dewi berjalan mendekat ke ranjang.
Langkahnya tenang.
Namun ada sesuatu dalam gerakannya yang membuat suasana ruangan tiba-tiba tegang.
Ia berdiri di sisi ranjang.
Tatapannya turun ke arah selimut yang menutupi tubuh Lina.
Tanpa berkata apa-apa—
Dewi mengulurkan tangan.
Lalu menarik selimut itu dengan keras.
Selimut langsung tersingkap.
Gerakan itu cepat dan tegas.
Semua orang di ruangan langsung terkejut.
Lina bahkan tidak sempat bereaksi.
Kakinya yang selama ini tertutup langsung terlihat jelas di depan semua orang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 120 Episodes
Comments
Jumia Farsi
lanjut
2026-06-14
0
Jumia Farsi
lanjut
2026-06-14
0
luluk hadjarwati
apa yang kamu lakukan...
2026-05-23
3