Episode 4

Selimut yang tersingkap jatuh ke lantai.

Ruangan langsung membeku.

Lina terkejut dan mencoba menarik kembali kain itu, namun Dewi sudah lebih dulu bergerak. Tangannya menekan bahu Lina ke kasur dengan kekuatan yang tidak biasa bagi tubuh yang sedang demam.

“Lepaskan aku!” teriak Lina panik.

Namun Dewi tidak peduli.

Dengan satu gerakan tegas, ia meraih perban yang melilit paha kiri Lina.

Lalu menariknya dengan keras.

Perban itu terlepas.

Beberapa lilitan kain jatuh ke lantai.

Semua orang di ruangan menatap kaki Lina.

Hening.

Sangat hening.

Di paha Lina hanya terlihat goresan kecil.

Kulitnya sedikit lecet.

Bahkan hampir tidak ada darah.

Luka itu bahkan sudah mulai mengering.

Dokter yang berdiri di dekat ranjang langsung menunduk.

Perawat juga tidak berani berbicara.

Sementara Dewi berdiri tegak.

Senyum tipis muncul di sudut bibirnya.

Senyum yang penuh ejekan.

“Luka yang sangat serius,” katanya pelan.

Ia menunjuk goresan kecil itu.

“Serius sampai hampir sembuh.”

Tatapan semua orang berpindah ke Rizky.

Pria itu berdiri kaku di samping ranjang.

Matanya tertuju pada luka itu.

Ekspresinya perlahan menjadi gelap.

Lina merasakan tatapan itu.

Dadanya langsung dipenuhi rasa panik.

Ia buru-buru menarik kaki ke bawah selimut yang sudah setengah terlepas.

“Bukan begitu…”

Suaranya gemetar.

“Aku memang lemah…”

Ia memegang lengan Rizky.

“Dokter bilang kalau aku transfusi darah, tubuhku bisa pulih lebih cepat…”

Dewi tertawa pendek.

“Pulih lebih cepat?”

Ia menatap Lina dengan mata dingin.

“Kamu tahu berapa kali kamu ‘jatuh’ bulan ini?”

Lina terdiam.

Dewi mengangkat empat jari.

“Empat.”

Kemudian ia menambahkan satu jari lagi.

“Bahkan hampir lima.”

Suaranya semakin dingin.

“Setiap kali kamu jatuh… kamu kehilangan darah.”

“Setiap kali kamu kehilangan darah… aku harus datang.”

Ia menatap langsung ke mata Lina.

“Atau sebenarnya…”

“Kamu hanya ingin menguras darahku sampai habis?”

Kata-kata itu membuat Lina pucat.

Namun sebelum ia sempat membalas—

Dewi sudah menoleh ke Rizky.

Tatapannya tidak lagi menyimpan emosi.

“Tenang saja.”

“Aku tidak akan datang lagi.”

Ia memasukkan kembali foto ke dalam tasnya.

Lalu melanjutkan dengan nada dingin.

“Kalau Lina butuh darah lagi…”

“silakan menikah lagi.”

Beberapa dokter langsung menatapnya dengan kaget.

Dewi tersenyum sinis.

“Cari saja wanita lain yang cukup bodoh.”

“Untuk menjadi bank darah berjalan kalian.”

Setelah mengatakan itu, Dewi tidak menunggu reaksi siapa pun.

Ia berbalik.

Langkahnya tenang.

Namun tidak sedikit pun ragu.

Ia berjalan keluar dari kamar.

Pintu tertutup di belakangnya.

Suara langkahnya menghilang di lorong rumah sakit.

Begitu keluar dari ruangan itu, kekuatan Dewi langsung seolah menghilang.

Ia berjalan beberapa meter.

Kakinya terasa lemah.

Pandangan sedikit berputar.

Ia akhirnya berhenti di kursi panjang di lorong.

Tubuhnya jatuh duduk.

Demam membuat kepalanya berat.

Ditambah emosi yang selama ini ia tahan akhirnya meledak.

Dewi menunduk.

Tangannya menutup wajah.

Air mata perlahan jatuh di sela jari-jarinya.

Tiga tahun.

Ia memberikan segalanya.

Namun yang ia dapat hanya penghinaan.

Setelah beberapa menit, ia menarik napas panjang.

Dengan tangan gemetar, ia mengeluarkan ponsel.

Daftar kontak terbuka.

Jarinya berhenti di satu nama.

Ia menekan tombol panggil.

Telepon berdering dua kali.

Lalu tersambung.

Dewi membuka mulut.

Suaranya serak.

“Abang…”

Hanya satu kata.

Namun di seberang telepon langsung terdengar suara pria yang tenang namun tajam.

“Dewi?”

Pria itu langsung menyadari sesuatu dari suara adiknya.

“Kamu di mana?”

Nada suaranya berubah lebih serius.

Dewi menelan air mata.

“Rumah sakit…”

Ia bahkan belum selesai menjelaskan.

Pria di seberang telepon langsung berkata singkat.

“Tunggu di sana.”

“Aku datang menjemputmu.”

Telepon terputus.

Dewi memegang ponsel di tangannya.

Matanya perlahan tertutup.

Tubuhnya akhirnya tidak sanggup lagi menahan lelah.

Beberapa menit kemudian—

langkah kaki terdengar di ujung lorong.

Bukan satu orang.

Banyak.

Sekelompok pria berpakaian hitam berjalan cepat memasuki area itu.

Di tengah mereka berdiri seorang pria tinggi dengan wajah dingin dan sikap tenang.

Tatapannya tajam.

Aura yang ia bawa membuat orang di sekitarnya secara alami memberi jalan.

Pria itu berhenti ketika melihat Dewi yang setengah tidak sadar di kursi.

“Dewi.” Ia memanggil pelan.

Tidak ada jawaban.

Pria itu menghela napas. Ia memberi isyarat.

Salah satu pria segera mengangkat Dewi dengan hati-hati. Kelompok itu membawa Dewi pergi dari rumah sakit, seolah mereka tidak pernah muncul.

Sementara itu di dalam kamar.

Rizky berdiri dengan wajah gelap.

Ia meraih kerah dokter utama.

“Keluar.”

Suaranya dingin.

Dokter langsung pucat.

Mereka berjalan keluar ke lorong.

Begitu pintu tertutup—

Rizky langsung menatap dokter dengan mata tajam.

“Kamu bilang Lina kehilangan banyak darah.”

Ia menunjuk ke arah kamar.

“Luka seperti itu?”

“Kamu menyebut itu kehilangan darah?”

Dokter gemetar.

“Kami… kami hanya…”

Rizky semakin marah.

“Kalian tidak punya profesionalitas?”

“Kalian dokter atau penipu?”

Dokter langsung mengangkat tangan.

“Kami tidak punya pilihan!”

Suaranya hampir panik.

“Nona Lina yang meminta!”

Rizky terdiam.

Dokter buru-buru melanjutkan.

“Dia bilang Tuan Rizky juga sudah setuju…”

“Kami hanya mengikuti perintah…”

Kata-kata itu membuat wajah Rizky semakin dingin.

Rasa bersalah tiba-tiba muncul di hatinya.

Ia teringat semua kejadian beberapa bulan terakhir.

Setiap kali Lina jatuh.

Setiap kali ia memanggil Dewi.

Ia bahkan tidak pernah benar-benar memeriksa lukanya.

Ia hanya mempercayai Lina.

Rizky menghembuskan napas berat.

Sebuah pikiran tiba-tiba muncul.

Mungkin…

ia memang terlalu memanjakan Lina.

Ia mengingat lagi perceraian tadi.

Dewi terlihat sangat tegas.

Mungkin semua ini terjadi karena foto itu.

Karena Dewi salah paham hubungan mereka.

Rizky mengeluarkan ponselnya.

Ia membuka kontak Dewi.

Menekan tombol panggil.

Beberapa detik kemudian—

suara mesin menjawab.

Ponsel yang Anda tuju sedang tidak aktif.

Rizky mengerutkan kening.

Ia mencoba lagi.

Jawabannya sama.

Ponsel dimatikan.

Perasaan aneh muncul di dadanya.

Ia memanggil salah satu pengawal.

“Cari dia.”

Pengawal itu segera pergi.

Beberapa menit kemudian pria itu kembali.

Wajahnya terlihat bingung.

“Tuan Rizky…”

“Ada masalah.”

Rizky menatapnya.

“Apa?”

Pengawal itu berkata dengan suara rendah.

“Sepuluh menit lalu sistem CCTV rumah sakit diretas.”

“Rekaman lorong tempat Nyonya Dewi duduk… hilang.”

Rizky langsung berdiri.

“Kalian sudah mencari?”

“Kami sudah periksa seluruh rumah sakit.”

“Tidak ada jejak.”

Rizky menatap lorong yang kosong.

Perasaan gelisah tiba-tiba muncul.

Ia tidak mengerti kenapa.

Dewi sudah bukan istrinya lagi.

Namun pikiran bahwa ia tiba-tiba menghilang…

membuatnya tidak nyaman.

Ia mengerutkan kening.

“Terus cari.”

“Begitu menemukannya…”

“laporkan padaku.”

“Ya, Tuan.”

Ketika Dewi membuka mata lagi…

ia melihat langit-langit yang sangat familiar.

Lampu kristal menggantung di atasnya.

Dinding ruangan dihiasi ukiran gaya Italia.

Di sudut ruangan ada sofa mahal.

Meja kayu dengan ukiran rumit.

Bahkan lemari pakaian yang berdiri di dekat jendela adalah edisi terbatas dari Italia.

Dewi duduk perlahan.

Matanya melebar.

Ini…

kamarnya.

Kamar yang sudah lama tidak ia lihat.

Kamar di rumah keluarga Wijaya.

Air mata langsung jatuh dari matanya.

Tiba-tiba suara berat terdengar dari samping.

“Baru bercerai saja…”

“sampai menangis seperti ini?”

Dewi menoleh.

Seorang pria paruh baya berdiri di dekat jendela.

Tubuhnya tegap.

Tatapannya tajam penuh wibawa.

Ia adalah orang yang hampir semua pengusaha di Jakarta Selatan segani.

Pemimpin Perusahaan Wijaya.

Bapak Wijaya.

Ayahnya.

Pria itu memandang Dewi dengan wajah sedikit kesal.

“Keluarga Wijaya tidak sanggup membiayaimu sampai kamu harus menikah dengan keluarga Rizky?”

Nada suaranya terdengar keras.

Namun di baliknya ada sesuatu yang jelas.

Kekhawatiran.

Dewi menatap pria itu dengan mata berkaca-kaca.

Bibirnya bergetar.

“Ayah…”

Satu kata itu keluar dengan suara pecah.

Air mata jatuh tanpa bisa dihentikan lagi.

Terpopuler

Comments

Ds Phone

Ds Phone

hidup nya terlalu sedih

2026-05-04

1

Liza Syamsu

Liza Syamsu

jika bisa kasih like 10 saya akan beri 10 ceritanya bagus thor semangat walaupun yg like sedikit

2026-03-17

2

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
Episodes

Updated 120 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!