Selimut yang tersingkap jatuh ke lantai.
Ruangan langsung membeku.
Lina terkejut dan mencoba menarik kembali kain itu, namun Dewi sudah lebih dulu bergerak. Tangannya menekan bahu Lina ke kasur dengan kekuatan yang tidak biasa bagi tubuh yang sedang demam.
“Lepaskan aku!” teriak Lina panik.
Namun Dewi tidak peduli.
Dengan satu gerakan tegas, ia meraih perban yang melilit paha kiri Lina.
Lalu menariknya dengan keras.
Perban itu terlepas.
Beberapa lilitan kain jatuh ke lantai.
Semua orang di ruangan menatap kaki Lina.
Hening.
Sangat hening.
Di paha Lina hanya terlihat goresan kecil.
Kulitnya sedikit lecet.
Bahkan hampir tidak ada darah.
Luka itu bahkan sudah mulai mengering.
Dokter yang berdiri di dekat ranjang langsung menunduk.
Perawat juga tidak berani berbicara.
Sementara Dewi berdiri tegak.
Senyum tipis muncul di sudut bibirnya.
Senyum yang penuh ejekan.
“Luka yang sangat serius,” katanya pelan.
Ia menunjuk goresan kecil itu.
“Serius sampai hampir sembuh.”
Tatapan semua orang berpindah ke Rizky.
Pria itu berdiri kaku di samping ranjang.
Matanya tertuju pada luka itu.
Ekspresinya perlahan menjadi gelap.
Lina merasakan tatapan itu.
Dadanya langsung dipenuhi rasa panik.
Ia buru-buru menarik kaki ke bawah selimut yang sudah setengah terlepas.
“Bukan begitu…”
Suaranya gemetar.
“Aku memang lemah…”
Ia memegang lengan Rizky.
“Dokter bilang kalau aku transfusi darah, tubuhku bisa pulih lebih cepat…”
Dewi tertawa pendek.
“Pulih lebih cepat?”
Ia menatap Lina dengan mata dingin.
“Kamu tahu berapa kali kamu ‘jatuh’ bulan ini?”
Lina terdiam.
Dewi mengangkat empat jari.
“Empat.”
Kemudian ia menambahkan satu jari lagi.
“Bahkan hampir lima.”
Suaranya semakin dingin.
“Setiap kali kamu jatuh… kamu kehilangan darah.”
“Setiap kali kamu kehilangan darah… aku harus datang.”
Ia menatap langsung ke mata Lina.
“Atau sebenarnya…”
“Kamu hanya ingin menguras darahku sampai habis?”
Kata-kata itu membuat Lina pucat.
Namun sebelum ia sempat membalas—
Dewi sudah menoleh ke Rizky.
Tatapannya tidak lagi menyimpan emosi.
“Tenang saja.”
“Aku tidak akan datang lagi.”
Ia memasukkan kembali foto ke dalam tasnya.
Lalu melanjutkan dengan nada dingin.
“Kalau Lina butuh darah lagi…”
“silakan menikah lagi.”
Beberapa dokter langsung menatapnya dengan kaget.
Dewi tersenyum sinis.
“Cari saja wanita lain yang cukup bodoh.”
“Untuk menjadi bank darah berjalan kalian.”
Setelah mengatakan itu, Dewi tidak menunggu reaksi siapa pun.
Ia berbalik.
Langkahnya tenang.
Namun tidak sedikit pun ragu.
Ia berjalan keluar dari kamar.
Pintu tertutup di belakangnya.
Suara langkahnya menghilang di lorong rumah sakit.
Begitu keluar dari ruangan itu, kekuatan Dewi langsung seolah menghilang.
Ia berjalan beberapa meter.
Kakinya terasa lemah.
Pandangan sedikit berputar.
Ia akhirnya berhenti di kursi panjang di lorong.
Tubuhnya jatuh duduk.
Demam membuat kepalanya berat.
Ditambah emosi yang selama ini ia tahan akhirnya meledak.
Dewi menunduk.
Tangannya menutup wajah.
Air mata perlahan jatuh di sela jari-jarinya.
Tiga tahun.
Ia memberikan segalanya.
Namun yang ia dapat hanya penghinaan.
Setelah beberapa menit, ia menarik napas panjang.
Dengan tangan gemetar, ia mengeluarkan ponsel.
Daftar kontak terbuka.
Jarinya berhenti di satu nama.
Ia menekan tombol panggil.
Telepon berdering dua kali.
Lalu tersambung.
Dewi membuka mulut.
Suaranya serak.
“Abang…”
Hanya satu kata.
Namun di seberang telepon langsung terdengar suara pria yang tenang namun tajam.
“Dewi?”
Pria itu langsung menyadari sesuatu dari suara adiknya.
“Kamu di mana?”
Nada suaranya berubah lebih serius.
Dewi menelan air mata.
“Rumah sakit…”
Ia bahkan belum selesai menjelaskan.
Pria di seberang telepon langsung berkata singkat.
“Tunggu di sana.”
“Aku datang menjemputmu.”
Telepon terputus.
Dewi memegang ponsel di tangannya.
Matanya perlahan tertutup.
Tubuhnya akhirnya tidak sanggup lagi menahan lelah.
Beberapa menit kemudian—
langkah kaki terdengar di ujung lorong.
Bukan satu orang.
Banyak.
Sekelompok pria berpakaian hitam berjalan cepat memasuki area itu.
Di tengah mereka berdiri seorang pria tinggi dengan wajah dingin dan sikap tenang.
Tatapannya tajam.
Aura yang ia bawa membuat orang di sekitarnya secara alami memberi jalan.
Pria itu berhenti ketika melihat Dewi yang setengah tidak sadar di kursi.
“Dewi.” Ia memanggil pelan.
Tidak ada jawaban.
Pria itu menghela napas. Ia memberi isyarat.
Salah satu pria segera mengangkat Dewi dengan hati-hati. Kelompok itu membawa Dewi pergi dari rumah sakit, seolah mereka tidak pernah muncul.
Sementara itu di dalam kamar.
Rizky berdiri dengan wajah gelap.
Ia meraih kerah dokter utama.
“Keluar.”
Suaranya dingin.
Dokter langsung pucat.
Mereka berjalan keluar ke lorong.
Begitu pintu tertutup—
Rizky langsung menatap dokter dengan mata tajam.
“Kamu bilang Lina kehilangan banyak darah.”
Ia menunjuk ke arah kamar.
“Luka seperti itu?”
“Kamu menyebut itu kehilangan darah?”
Dokter gemetar.
“Kami… kami hanya…”
Rizky semakin marah.
“Kalian tidak punya profesionalitas?”
“Kalian dokter atau penipu?”
Dokter langsung mengangkat tangan.
“Kami tidak punya pilihan!”
Suaranya hampir panik.
“Nona Lina yang meminta!”
Rizky terdiam.
Dokter buru-buru melanjutkan.
“Dia bilang Tuan Rizky juga sudah setuju…”
“Kami hanya mengikuti perintah…”
Kata-kata itu membuat wajah Rizky semakin dingin.
Rasa bersalah tiba-tiba muncul di hatinya.
Ia teringat semua kejadian beberapa bulan terakhir.
Setiap kali Lina jatuh.
Setiap kali ia memanggil Dewi.
Ia bahkan tidak pernah benar-benar memeriksa lukanya.
Ia hanya mempercayai Lina.
Rizky menghembuskan napas berat.
Sebuah pikiran tiba-tiba muncul.
Mungkin…
ia memang terlalu memanjakan Lina.
Ia mengingat lagi perceraian tadi.
Dewi terlihat sangat tegas.
Mungkin semua ini terjadi karena foto itu.
Karena Dewi salah paham hubungan mereka.
Rizky mengeluarkan ponselnya.
Ia membuka kontak Dewi.
Menekan tombol panggil.
Beberapa detik kemudian—
suara mesin menjawab.
Ponsel yang Anda tuju sedang tidak aktif.
Rizky mengerutkan kening.
Ia mencoba lagi.
Jawabannya sama.
Ponsel dimatikan.
Perasaan aneh muncul di dadanya.
Ia memanggil salah satu pengawal.
“Cari dia.”
Pengawal itu segera pergi.
Beberapa menit kemudian pria itu kembali.
Wajahnya terlihat bingung.
“Tuan Rizky…”
“Ada masalah.”
Rizky menatapnya.
“Apa?”
Pengawal itu berkata dengan suara rendah.
“Sepuluh menit lalu sistem CCTV rumah sakit diretas.”
“Rekaman lorong tempat Nyonya Dewi duduk… hilang.”
Rizky langsung berdiri.
“Kalian sudah mencari?”
“Kami sudah periksa seluruh rumah sakit.”
“Tidak ada jejak.”
Rizky menatap lorong yang kosong.
Perasaan gelisah tiba-tiba muncul.
Ia tidak mengerti kenapa.
Dewi sudah bukan istrinya lagi.
Namun pikiran bahwa ia tiba-tiba menghilang…
membuatnya tidak nyaman.
Ia mengerutkan kening.
“Terus cari.”
“Begitu menemukannya…”
“laporkan padaku.”
“Ya, Tuan.”
Ketika Dewi membuka mata lagi…
ia melihat langit-langit yang sangat familiar.
Lampu kristal menggantung di atasnya.
Dinding ruangan dihiasi ukiran gaya Italia.
Di sudut ruangan ada sofa mahal.
Meja kayu dengan ukiran rumit.
Bahkan lemari pakaian yang berdiri di dekat jendela adalah edisi terbatas dari Italia.
Dewi duduk perlahan.
Matanya melebar.
Ini…
kamarnya.
Kamar yang sudah lama tidak ia lihat.
Kamar di rumah keluarga Wijaya.
Air mata langsung jatuh dari matanya.
Tiba-tiba suara berat terdengar dari samping.
“Baru bercerai saja…”
“sampai menangis seperti ini?”
Dewi menoleh.
Seorang pria paruh baya berdiri di dekat jendela.
Tubuhnya tegap.
Tatapannya tajam penuh wibawa.
Ia adalah orang yang hampir semua pengusaha di Jakarta Selatan segani.
Pemimpin Perusahaan Wijaya.
Bapak Wijaya.
Ayahnya.
Pria itu memandang Dewi dengan wajah sedikit kesal.
“Keluarga Wijaya tidak sanggup membiayaimu sampai kamu harus menikah dengan keluarga Rizky?”
Nada suaranya terdengar keras.
Namun di baliknya ada sesuatu yang jelas.
Kekhawatiran.
Dewi menatap pria itu dengan mata berkaca-kaca.
Bibirnya bergetar.
“Ayah…”
Satu kata itu keluar dengan suara pecah.
Air mata jatuh tanpa bisa dihentikan lagi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 120 Episodes
Comments
Ds Phone
hidup nya terlalu sedih
2026-05-04
1
Liza Syamsu
jika bisa kasih like 10 saya akan beri 10 ceritanya bagus thor semangat walaupun yg like sedikit
2026-03-17
2