Darah dari nadi sang ayah

Delapan Bulan Kemudian

Poppy menatap nanar perutnya yang membuncit, buah dari malam bersama pria yang bahkan tidak ia kenali identitasnya. Selama ini, ia menyimpan rahasia itu rapat-rapat dalam kesunyian, hingga tiba-tiba rasa sakit yang luar biasa menghantam pangkal rahimnya. Kontraksi itu datang jauh lebih awal dari yang seharusnya.

Awalnya, Poppy mencoba bertahan sendirian. Ia menggigit ujung serbet sekuat tenaga, mencoba meredam jeritannya sendiri, berharap rasa sakit itu hanya lewat. Namun, harapannya hancur saat ia merasakan cairan hangat mengalir deras. Pendarahan. Darah itu mengalir terlalu banyak, memerahkan lantai dan memicu ketakutan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Aisyah, sahabatnya yang baru berusia 24 tahun, masuk ke kamar dan langsung jatuh dalam kepanikan. Dengan tangan gemetar, ia segera menghubungi ambulans. Wajah Aisyah pucat pasi, peluhnya bercucuran hampir sama derasnya dengan Poppy yang terus mengerang kesakitan. Dalam benak Aisyah hanya ada satu kecemasan besar: usia kandungan Poppy baru menginjak 34 minggu—terlalu dini bagi sang bayi untuk melihat dunia.

Dunia seolah runtuh di lobi UGD itu. Raungan sirine belum benar-benar hilang dari telinga ketika pintu ambulans terbanting buka, memuntahkan kepanikan yang pekat. Udara malam yang dingin terasa membeku saat aroma anyir darah—darah Poppy—menyerbu keluar, menyentak kesadaran siapa pun yang berada di dekatnya.

"Gawat! Solusio plasenta! Gestasi tiga puluh empat minggu! Detak jantung janin lemah!" teriak petugas paramedis, suaranya parau, berpacu dengan waktu yang kian menipis.

Brankar dihantamkan ke aspal dengan bunyi jeduk besi yang memilukan, lalu didorong liar memasuki lorong. Di atasnya, Poppy tak lagi merintih; ia melolong. Suaranya adalah jeritan keputusasaan seorang ibu yang merasakan nyawa buah hatinya perlahan menjauh.

"Sakiitt! Di... perutku hancur! Bayiku... bayiku jangan biarkan mati!" teriak Poppy, tangannya mencengkeram sprei brankar hingga kukunya memutih dan patah. Wajahnya, yang dulu disukai Vicky, kini berlumuran airmata dan peluh, tertutup masker oksigen yang berembun parah.

Aisyah berlari di sampingnya, air mata membanjiri wajahnya. Kemejanya basah oleh darah sahabatnya. "Tuhan, jangan sekarang! Poppy, bertahan! Pikirkan bayimu, Pop! Kamu harus kuat!" Aisyah menjerit, putus asa, tangannya gemetar mencoba menghapus peluh di dahi Poppy.

"Mbak, tolong jangan menghalangi! Kami harus segera ke ruang tindakan!" bentak perawat, terus memacu kecepatan brankar di atas lantai marmer yang dingin.

Tepat di persimpangan lorong VIP, sebuah ketenangan yang kontras terlihat. Yayuk. duduk di kursi roda, tampak anggun dan tenang dalam balutan jubah pasien bedah berwarna biru muda. Di sampingnya, berdiri Vicky—pria yang delapan bulan lalu membuang Poppy seperti sampah. Ia mengenakan setelan jas gelap yang rapi, keningnya sedikit berkerut menatap ponsel di tangannya.

"Semua sudah diatur, sayang. Dokter terbaik, fasilitas terbaik. Bayi kita akan lahir dengan selamat, tanpa celaka sedikit pun," ucap Vicky, suaranya berat, datar, dan penuh otoritas. Sebuah jaminan keselamatan yang tak pernah ia berikan pada Poppy.

Yayuk. tersenyum, lalu menoleh saat kegaduhan itu mendekat. "Sayang, lihat itu... mengerikan sekali. Kasihan wanita itu."

Vicky mendongak, tepat saat brankar Poppy melesat lewat di hadapan mereka. Jarak mereka tak sampai satu meter. Embusan angin yang dibawa brankar itu menerpa wajah Vicky, membawa bau darah yang sangat pekat—bau dari kehidupan yang pernah ia sentuh, lalu ia hancurkan.

Vicky tertegun. Langkahnya terkunci. Matanya—mata elang yang biasa menatap dingin dunia—kini terpaku pada sosok yang bersimbah darah di atas brankar. Meskipun wajahnya tertutup masker, jeritan kesakitan itu... ada nada yang sangat familiar di dalamnya. Nada yang membangkitkan ingatan tentang seorang gadis yang pernah ia panggil 'Mawar'.

"Pop, bertahan! Jangan tinggalkan aku!" teriakan Aisyahyang histeris menggema di lorong, menusuk pendengaran Vicky.

Mawar? Sebuah denyutan aneh menghantam dada Vicky. Ia merasakan ketidaknyamanan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Tangan yang tadi menggenggam ponsel kini mengepal kuat.

"Sayang?" panggil Yayuk, menyadari perubahan drastis pada wajah pria itu. Mata Vicky terlihat... terguncang. "Kamu... kenal wanita itu?"

Vicky perlahan memalingkan wajahnya dari arah brankar yang menjauh. Ia menatap Yayuk., mencoba mengembalikan ketenangannya, namun ada sesuatu yang retak di balik topeng kedinginannya.

"Tidak," jawab Vicky, suaranya sedikit bergetar, lebih seperti mencoba meyakinkan dirinya sendiri daripada menjawab Yayuk.. "Hanya... orang asing yang sedang sial. Ayo."

Vicky mendorong kursi roda Yayuk. menuju pintu lift VIP, mencoba mengubur firasat buruk yang mendadak mencekik lehernya. Ia tidak tahu bahwa di balik sekat tipis di ruang operasi gawat darurat, 'Mawar'-nya sedang bertaruh nyawa untuk melahirkan darah dagingnya—bayi yang ia tolak bahkan sebelum ia tahu keberadaannya. Dan di luar pintu, Aisyah jatuh terduduk di lantai, menangis tanpa suara, mencengkeram kemejanya yang berlumuran darah, berdoa pada tuhan yang seolah-olah sedang menghukum mereka.

Lantai ruang operasi itu kini terbelah menjadi dua dunia. Di balik pintu kayu yang kokoh dan kedap suara, Yayuk sedang menjalani prosesi persalinan VIP yang terencana. Namun, hanya beberapa meter di sisi lain, di balik pintu ganda baja yang dingin, Poppy diantar ke ruang oeprasi. Ia sedang meregang nyawa. Dokter telah memutuskan: tidak ada jalan normal. Operasi caesar darurat adalah satu-satunya cara sebelum jantung Poppy benar-benar berhenti berdenyut.

Aisyah duduk bersimpuh di lantai koridor yang kaku, telapak tangannya menutupi wajah yang sembap. Di seberangnya, Vicky berdiri tegak dengan keangkuhan yang mulai retak, matanya terus melirik ke arah lorong tempat brankar bersimbah darah itu menghilang tadi.

Tiba-tiba, pintu ruang operasi Poppy terbuka panik. Seorang dokter keluar dengan langkah terburu-buru, wajahnya tertutup masker namun matanya memancarkan kegentingan yang luar biasa.

"Keluarga Nona Poppy?!" seru dokter itu, suaranya menggema membelah kesunyian.

Aisyah tersentak bangun, kakinya hampir mati rasa. "Saya, Dok! Saya sahabatnya! Bagaimana Poppy? Bagaimana bayinya?"

"Kondisinya kritis. Terjadi pendarahan hebat dan kami kekurangan stok darah. Kami butuh golongan darah B sekarang juga! Satu kantong lagi, atau kita akan kehilangan ibu dan bayinya!" Dokter itu bicara dengan nada yang menuntut kecepatan. "Persediaan di bank darah rumah sakit sedang kosong!"

Dunia Aisyah serasa berputar. "B? Darah saya A, Dok... Ambil saja darah saya! Tolong, apa tidak bisa?!" Aisyah meracau, suaranya pecah oleh tangis. Ia tahu permintaannya konyol secara medis, namun keputusasaan telah melumpuhkan logikanya. "Tolong jangan biarkan mereka mati..."

Vicky, yang sedari tadi hanya mengamati dari kejauhan, merasakan debaran aneh di dadanya. Rasa iba yang tak biasa merayapi hatinya saat melihat noda darah yang mengering di kemeja Aisyah.darah yang ia tidak tahu adalah darah dagingnya sendiri.

Dengan langkah pelan namun pasti, bayangan tinggi besar Vicky mendekat, menaungi tubuh Aisyahyang gemetar hebat.

"Kebetulan," suara berat Vicky memecah kepanikan, "golongan darah saya B."

Deg!

Aisyah tersentak. Ia berpaling, mendongak menatap pria asing yang berdiri di hadapannya. Di bawah pendar lampu neon rumah sakit yang pucat, wajah Vicky yang tampan dan dingin tampak seperti mukjizat yang turun dari langit di detik-detik terakhir. Pria yang terlihat begitu berkuasa itu kini menawarkan satu-satunya hal yang bisa menyelamatkan sahabatnya.

"Anda... Anda serius?" bisik Aisyah, matanya yang basah menatap penuh harapan sekaligus tak percaya.

Vicky tidak membuang waktu untuk berbasa-basi. Ia menatap dokter itu dengan tatapan tajam yang tak terbantahkan. "Ambil darah saya. Sebanyak yang kalian butuhkan. Segera."

Tanpa ada yang menyadari, di detik itu, darah dari nadi sang ayah bersiap mengalir kembali ke rahim yang pernah ia lupakan.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Golongan Darah Author juga B 🥰

Terpopuler

Comments

𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ

𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ

ehh masih berperikemanusian juga dia
kukira tlah mati hati nurani nya
kira3 gmn ya anak siapa yg akan meningoy

2026-03-20

4

Risa dan Yayang

Risa dan Yayang

Vicky jangan jangan pernah menanam benih di rahim Aisyah

2026-04-09

0

sasip

sasip

sama kak.. sy jg b goldar-nya.. infonya seh stok goldar paling banyak di PMI itu b, karena yg punya goldar b itu baik², sering donor sukarela.. 😉🤭😅

2026-03-28

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!