Tepat tiga puluh menit yang lalu, jarum dingin itu menembus kulit. Cairan kimia yang mengendap di sana tiba-tiba bereaksi, melesat liar membedah jalur vena, lalu menghantam katup jantung Poppy dengan hantaman yang brutal.
Dalam satu tarikan napas yang tersedak, kegelapan pekat yang semula merangkul kesadarannya robek menjadi serpihan. Poppy tersentak bangun—tubuhnya melengkung di atas ranjang pesakitan, seperti nyawa yang ditarik paksa dari dasar sumur mimpi buruk yang paling hitam. Oksigen masuk ke paru-parunya dengan rasa perih yang membakar, sementara matanya terbelalak menatap langit-langit bangsal yang putih pucat.
Aisyah terpaku. Tatapannya kosong, terperangkap dalam lamunan sebelum akhirnya terperanjat melihat wajah Poppy yang pias—seperti melihat sesosok nyawa yang bangkit dari liang lahat. Bangkit dari kematian.
"Poppy!" bisik Aisyah tertahan.
Poppy menoleh. Sisa kekuatannya nyaris nihil, terkuras habis di atas meja operasi Caesar yang dingin. Pendarahan hebat telah menguras merah dari kulitnya, namun kejutan adrenalin dan sengatan listrik jantung tadi memaksa nadinya kembali berdenyut, meski tertatih.
"Apakah... aku bisa melihat bayiku?"
Aisyah tersentak mundur. Kebahagiaan melihat Poppy terjaga seketika menguap, digantikan rasa sesak yang menghimpit dada. Bibirnya bergetar, giginya bergemeretak menahan rahasia yang terlalu berat untuk dipikul.
"Mana bayiku?" suara Poppy parau, menuntut.
"Dia..." Aisyah memutus kalimatnya. Tangannya mengepal kuat hingga kuku memutih. "Dia di kamar bayi."
Satu kebohongan lolos begitu saja. Sebuah dosa kecil demi menjaga napas yang baru saja kembali.
"Bagaimana rupanya? Bisa kau bawa dia ke sini?" pinta Poppy dengan mata yang mulai bersinar penuh harap.
Mata Aisyah memanas, genangan air mata mulai mengaburkan pandangannya. Namun, bibirnya kembali menenun dusta: "Ia lahir mungil, kulitnya masih kemerahan, dia... dia sangat tampan. Dia terus merengek mencarimu."
Setiap kata adalah belati. Fakta yang sebenarnya tertinggal di ruang gelap sana: tubuh kecil yang kurus, lebam kebiruan yang membeku, dan sunyi yang abadi di dalam kamar mayat.
"Siapa nama yang kau siapkan untuknya?" tanya Poppy lagi.
"Aku menunggumu... aku menunggumu bangun untuk memberinya nama."
Energi entah dari mana merasuki tubuh ringkih itu. Poppy berusaha bangkit, mencoba duduk di atas ranjang pesakitan. Aisyah segera menyongsongnya dengan panik. "Jangan! Kau masih terlalu lemah. Jangan banyak bergerak."
Aisyah berpaling, pura-pura sibuk mengambil nampan sarapan. Di balik punggung Poppy, ia menyeka air matanya dengan kasar. Ia takut, sangat takut. Bagaimana jika saraf kehidupan Poppy terputus saat ia tahu bahwa jantung kecil yang ia perjuangkan itu tak lagi berdetak?
"Bagaimana jika namanya Kaisar?" tanya Poppy penuh semangat, sebuah ironi atas luka di perutnya.
Aisyah berbalik membawa nampan, dan ia mendapati Poppy sudah terduduk tegak. "Kau duduk? Poppy, baringlah!"
"Makan sambil berbaring itu tidak baik," Poppy tersenyum tipis, sebuah senyuman yang bagi Aisyah terasa lebih menyakitkan daripada tangisan. "Jangan remehkan aku. Aku tidak selemah itu."
"Tapi kau baru saja melahirkan. Jahitannya—"
"Jahitan?" Poppy memotong dengan nada remeh. Gadis itu memang keras kepala. Aisyah mendekat, duduk di sisi ranjang dan menyodorkan suapan. "Jarum dan benang itu tidak ada apa-apanya. Jarum tato sudah menyentuh setiap inci kulitku tanpa anestesi, dan aku tidak pernah merintih."
Mata Poppy mendadak nanar, menerawang jauh ke masa lalu. "Ingat, aku hampir jatuh ke dalam pelukan maut saat tahu aku mengandung Kaisar. Saat jarum-jarum pesakitan itu hampir merenggutku..."
Aisyah mengangkat sendok, berusaha menyumpal percakapan itu. Ia tak ingin nama 'Kaisar' terus bergema. Bayi malang yang lahir di usia 34 minggu itu telah terbang ke langit dengan sayap indah, persis seperti yang dulu pernah Poppy harapkan saat ia ingin menggugurkannya. Namun, janin itu bertahan, tetap kokoh meski Poppy mencoba meluruhkannya—sampai akhirnya Poppy luluh dan memilih mencintainya dalam diam.
Poppy telah berhenti menjadi seniman tato, membuang semua uang dari pria bajingan yang memberinya luka, dan memilih menjadi 'bersih' demi sang buah hati.
"Bukankah kau yang bilang?" Poppy mengelus perutnya, jemarinya meraba barisan jahitan di balik kain rumah sakit. "Bahwa hidup Kaisar bukan hakku untuk memutuskannya. Karena itu, aku mulai mencatat setiap detak jantungnya di dalam perutku."
Ia menatap jahitan itu dengan cinta yang dalam. Baginya, benang-benang itu bukan sekadar luka operasi, melainkan sulaman suci yang meresmikan dirinya sebagai seorang Ibu.
"Apakah nama Kaisar bagus? Kau boleh memberikan nama belakangnya," usul Poppy, matanya berbinar membayangkan masa depan yang megah.
Tangan Aisyah bergetar hebat. Sendok di jemarinya terlepas, berdenting memilukan saat menghantam lantai. Ia menunduk, bahunya terguncang menahan isak yang nyaris meledak. Setelah berhasil meredam badai di dadanya, ia berbisik parau, "Nama itu... sangat bagus. Biarkan satu kata saja. Jangan tambahkan apa pun lagi."
Poppy tak menyadari kehancuran di hadapannya. Ia menerawang, "Kaisar adalah raja. Sebanyak apa pun uang yang pria itu tinggalkan setelah menghancurkan hidupku, kini karma mulai berjalan. Anakku akan tumbuh besar, ia akan menjadi pedang yang memerangi pria jahanam itu."
Air mata Aisyah jatuh tanpa suara. Yang Poppy tidak tahu, 'Kaisar' telah menjadi sosok yang mengangkasa, terbang menuju keabadian bukan untuk membalas dendam, melainkan untuk meninggalkan lubang duka yang semakin dalam.
"Kau ingat katamu dulu?" lanjut Poppy. "Bayi yang lahir dari kegelapan akan tumbuh mencintai ibunya dan menghancurkan pria itu. Bukankah kau mengatakannya untuk menguatkanku?"
Aisyah mengangguk kaku, tenggorokannya tercekat. "Ya... itu bukan dongeng. Kita hanya tahu bahwa karma itu berjalan. Apalagi... napas bayi mungil adalah hak Tuhan sepenuhnya."
"Kau benar," sahut Poppy tajam. "Suatu hari, ikatan darah itu akan bertemu. Dendam malam jahanam itu akan terbalas. Pria itu akan sadar bahwa ia tak bisa menghapus tinta hitam yang ia tumpahkan di atas kertas bersih! Dia mengambil sesuatu yang bukan haknya."
"Ya, dia bajingan!" Aisyah menimpali dengan suara pecah. "Karma akan menyiram kepalanya setiap hari. Setiap detik, dia akan disiksa oleh penyesalannya sendiri."
Poppy tersenyum getir, mengusap perutnya yang masih nyeri. "Untung aku mendengarkanmu untuk tidak membunuh Kaisar. Jika aku melakukannya, mungkin dia akan kembali sebagai hantu kecil yang marah, memprotesku dengan bibir mungilnya: 'Kau bukan Tuhan, tapi kenapa kau mengakhiriku?'"
Mendengar itu, hati Aisyah seakan diremas hingga hancur. Kau jangan berkhayal lebih jauh lagi, Poppy... jeritnya dalam hati. Cerita ini sudah dipahat oleh Tuhan, dan ujungnya tidak seperti yang kau bayangkan.
"Makanlah dulu," potong Aisyah cepat, suaranya gemetar. "Setelah kau kenyang... kita akan melihat Kaisar."
Satu suapan bubur putih disodorkan. Poppy menerimanya dengan senyum kemenangan, tanpa tahu bahwa senyum itu adalah lilin terakhir sebelum kegelapan total menyergapnya. Aisyah merasa seluruh tenaganya menguap. Ia ingin hilang, ingin mati sekejap saja agar tidak perlu menghadapi momen ketika kenyataan menghantam Poppy.
Nasihat yang dulu ia berikan untuk menyemangati Poppy agar tetap bertahan hidup, kini berbalik menghajarnya seperti senjata makan tuan. Ia telah membangun menara harapan di atas fondasi yang sudah runtuh.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 38 Episodes
Comments
𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
aduh gmn ini kalo tau anak nya di tukar anak org lain yg katanya udh mati gila ini org
2026-03-23
1
Risa dan Yayang
Poppy anak kamu belum meninggal tapi di tukar dengan anaknya Yayuk yang meninggal
2026-04-09
0
ˢ꩜ᰔᵖ Salytraᰔ🪻
kasian poppy, pasti hancur banget klo tau anaknya udah nggak ada
2026-03-27
0