Kebohongan sangat manis

Butir-butir bubur itu tandas tak bersisa, seolah-olah tiap suapannya memompa nyawa baru ke tubuh Poppy yang ringkih. Tiba-tiba, ia meraba dadanya sendiri. Ada denyut nyeri yang menuntut di sana—payudaranya terasa berat, panas, dan penuh. Dengan suara parau yang bergetar oleh kebahagiaan prematur, ia berbisik, "Sakit sekali, Aisyah... tapi ini untuknya. Aku harus memberikan kolostrum pertamaku pada Kaisar sekarang juga."

​Aisyah mematung. Ia hanya mampu mengangguk sangat pelan, nyaris tak kentara, sebelum buru-buru memalingkan wajah. Tangannya gemetar hebat saat pura-pura merapikan nampan besi di atas nakas. Suara denting sendok yang beradu dengan piring seakan mengejek detak jantungnya yang kian sesak. Di dalam kepalanya, Aisyah sudah terjun bebas ke jurang duka yang paling gelap, jauh sebelum Poppy menyentuh dasar kenyataan yang paling pahit.

​"Antarkan aku ke sana, Aisyah. Cepat," pinta Poppy. Sepasang matanya berbinar-binar, jernih dan penuh harap bak kelinci yang merindukan padang rumput, menatap lurus ke arah sahabatnya.

​"Baik," sahut Aisyah singkat, suaranya tercekat di tenggorokan. "Aku... aku ambil kursi roda dulu."

​Begitu kakinya melangkah keluar dan pintu kamar rawat itu tertutup rapat, pertahanannya runtuh. Aisyah tidak mencari kursi roda. Ia merosot di balik dinding koridor yang dingin, menutup mulutnya rapat-rapat agar raungannya tidak terdengar ke dalam. Ia menangis sejadi-jadinya, meratapi detik-detik mengerikan yang akan segera tiba: saat di mana binar di mata Poppy harus padam selamanya ketika menatap jasad kaku Kaisar yang telah dingin.

Di ujung koridor yang remang, sesosok bayangan berdiri kaku, menyatu dengan kegelapan yang memanjang. Vicky.

​Wajah pria itu tampak keras, terpahat oleh ketegangan yang tertahan lama. Namun, saat melihat pintu kamar rawat itu terbuka. Sosok Aisyah keluar menangis tersedu. Ia mengembuskan napas panjang—sebuah desah lega yang berat. Karena, akhrinya wanita itu bangun.

Akhirnya, kau bangun, batinnya dingin. Urus putramu yang sudah membeku itu. Baginya, kebangkitan wanita itu hanyalah akhir dari tugas penjagaannya yang melelahkan.

Tak lama, Aisyah kembali masuk ke kamar rawat muncul mendorong kursi roda, membawa Poppy keluar dari "penjaranya" selama ini. Poppy tampak kontras dengan suasana rumah sakit yang pucat; piyama merah muda seragam pasien rumah sakit membungkus tubuhnya yang ringkih, memberikan rona semu pada kulitnya yang seputih porselen. Ia terlihat begitu cantik, seolah maut tak pernah menyentuhnya.

​Bunyi decit roda kursi itu bergema saat melewati tempat Vicky berdiri. Aisyah sempat melemparkan senyum tipis—sebuah isyarat permisi yang penuh duka. Namun, Aisyah tidak menyadari perubahan drastis pada gurat wajah pria di sampingnya.

​Napas Vicky tertahan di kerongkongan. Pupil matanya melebar, menatap tak percaya pada sosok yang duduk di kursi roda itu. Wajah cantik yang terlelap delapan bulan yang lalu dengan sepasang kain merah penutup matanya. Yang berada di bawah tubuhnya. kini menatap dunia dengan binar hidup, tersenyum begitu tulus, seolah tidak mengenal beban dosa atau duka.

Satu nama menghantam benak Vicky bagai gada besi. Mawar.

​Dia bukan sekadar Poppy. Dia adalah Mawar.

​Deg! Jantung Vicky seakan berhenti berdetak. Lututnya yang kokoh mendadak lemas, nyaris membuatnya tersungkur di lantai koridor yang dingin. Seluruh dunianya jungkir balik hanya dalam satu tatapan.

Bagaimana bisa takdir mempertemukan kita kembali seperti ini? batin Vicky, matanya terpaku pada punggung wanita di kursi roda itu.

​Di dalam kepalanya, memori tentang sebuah inkubator emas berputar—tempat ia menyimpan bayi kecil yang tak berdosa, bayi dari seorang wanita bernama Poppy alias Mawar. Namun, kenyataan yang ia suguhkan hari ini jauh lebih dingin dari logam mana pun. Ia sedang menggiring Mawar menuju sebuah dekapan maut; mengantarkan seorang ibu untuk memeluk jasad kecil yang sudah membeku.

Pertukaran identitas kematian ini adalah tragedi sewarna biru samudra—sebuah palung duka yang mampu menenggelamkan seluruh belahan dunia dengan air mata yang menyesakkan.

Tanpa sadar, kaki Vicky melangkah, membayangi kursi roda itu dari kejauhan. Ia terus membisikkan pembenaran-pembenaran keji untuk menepis rasa mual di hatinya sendiri. Seharusnya kau bersyukur, Mawar. Kau, wanita murah sepertimu, memiliki bayi yang telah kuangkat dengan tangan emasku ini, bisiknya dalam kegelapan batin.

Ia mencoba meyakinkan diri bahwa ini bukan dosanya. Ini adalah hukuman bagi Mawar—wanita yang bahkan tidak tahu siapa ayah dari anak yang dikandungnya. Meski ada secuil kecewa yang mengganjal karena ia harus mengotori tangannya merawat bayi titisan pelacur, Vicky tetap teguh pada niatnya yang bengkok.

Aku akan mengubah masa depan bayimu, Mawar, janjinya pada bayang-bayang.

Vicky terus mengekor, bersembunyi di balik pilar ujung lorong yang dingin. Inilah momen yang ia tunggu-tunggu dengan gairah yang sakit: saat sang ibu melangkah masuk ke gerbang kematian.

​Di depan pintu kamar mayat yang berat, kursi roda itu mendadak berhenti. Keheningan yang mencekam pecah oleh suara Poppy—suara yang tak lagi terdengar seperti manusia, melainkan rintihan jiwa yang terkoyak.

​"Mengapa... mengapa kau tidak mengatakannya dari tadi? Jika Kaisar sudah tidak ada?"

​Kalimat itu meluncur dari bibir Poppy, kering dan hancur. Harapannya kini menyerupai remah roti yang jatuh ke lantai kotor, hancur menjadi serpihan tak berguna yang siap diinjak atau dijilat kehinaan. Poppy tidak lagi sekadar jatuh; ia telah terperosok ke dalam lubang hitam yang tak memiliki dasar.

Seolah sudah diatur oleh takdir yang bengkok, Suster Amelia membuka pintu ruangan dingin itu. Udara beku menyeruak keluar, menyergap Poppy bagai hawa neraka yang sunyi. Amelia tahu benar, setiap tetes cairan kimia mahal yang ia suntikkan diam-diam tadi kini tengah bekerja—memaksa organ-organ inti Poppy mencapai puncak vitalitas semu. Itu adalah "hadiah" rahasia dari pria yang kini meringkuk di balik kegelapan koridor, menonton eksperimen emosinya sendiri.

Tangis Poppy pecah seketika, mengalir deras bagai banjir bandang yang menghancurkan bendungan jiwanya. Jemarinya mencengkeram erat sandaran kursi roda, seolah ingin meremukkan besi dingin itu demi melampiaskan sesak yang tak tertahankan. Ia kembali meraba dadanya; rasa bengkak dan nyeri di payudaranya kini terasa seperti ejekan yang menyakitkan.

​"Bahkan... aku tak sempat menyusuinya sekali saja," rintih Poppy, suaranya setajam silet yang mengiris kesunyian.

​Tiba-tiba, dengan sisa energi buatan yang membakar tubuhnya, Poppy memaksa diri bangkit dari kursi roda. Kakinya goyah, hampir saja ia ambruk kembali ke lantai jika Aisyah tidak sigap menopangnya. Namun, bukannya rasa terima kasih, sebuah penolakan kasar yang penuh kebencian justru meledak.

​"Jangan menyentuhku!" Mata Poppy menyalang merah, menatap Aisyah dengan kemarahan yang liar. "Kau berbohong dengan sangat manis... Seharusnya aku tidak perlu bangun dari tidurku ini jika hanya untuk tahu bahwa Kaisar telah..."

Kalimat itu terputus oleh raungan panjang yang menyayat hati. Poppy melangkah maju dengan tertatih.

​Kaisar telah mati, lanjutnya dalam bisikan yang lebih ngeri daripada teriakan.

​Dengan sepasang kaki telanjang yang gemetar, ia memasuki ruangan itu. Di sana, berderet bankar besi yang membisu, masing-masing menyimpan sosok di balik kain putih yang menutup rapat dari ujung kaki hingga ujung kepala. Dingin, kaku, dan tak bernyawa.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Terpopuler

Comments

𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ

𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ

padahal anak nya masih hidup apakah begiitu uang bisaembeli segalanya
hadeh

2026-03-23

3

kinoy

kinoy

si Vicky gila y..seenaknya ngatain Poppy pelacur kan dia sndr yg merawanin

2026-04-08

1

Risa dan Yayang

Risa dan Yayang

Kasihan banget Poppy pasti sedih bangat apalagi Poppy belum menyusui bayinya sama sekali malah bayinya Poppy di nyatakan meninggal

2026-04-09

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!