2. Mulai Hari Ini, Bukan Belvina

Belvina tidak menjawab. Ia hanya mundur setengah langkah, kembali ke posisinya semula.

Namun kali ini, ia tidak menyentuh Alden lagi.

Senyum Seraphina memudar, tapi tidak benar-benar hilang.

“Aku hanya ingin menyapa dengan baik…”

Beberapa orang di sekitar mulai saling melirik.

"Ingin menyapa..." Belvina tersenyum sinis. "...atau ingin menjatuhkan diri ke pelukan suami orang?"

“Sudah cukup,” suara Alden tiba-tiba terdengar. Rendah. Dingin.

Belvina menoleh.

Tatapan pria itu tajam. Penuh peringatan.

“Kamu berlebihan.”

Belvina tidak langsung menjawab. Jarinya menegang di sisi tubuh.

“Dia yang—”

“Cukup, Belvina.”

Nada suaranya tidak naik. Namun tidak memberi ruang untuk membantah.

Beberapa orang berhenti bicara. Makin banyak tatapan yang mengarah ke mereka.

“Jadi kamu percaya dia?" Belvina menatap Alden tak percaya. " Lebih membela dia daripada istrimu sendiri?”

Alden tidak menjawab. Ia hanya menatapnya dengan tatapan datar.

Belvina terdiam.

Alden berbalik pergi tanpa menunggu. Tanpa menoleh.

Belvina terpaku beberapa detik. Lalu—

“Al—!”

Ia mengejar pria itu. Tumit tinggi itu beradu cepat dengan lantai marmer. Langkahnya tergesa. Napasnya mulai tidak teratur.

“Al— tunggu!”

Namun pria itu tidak berhenti. Tidak juga melambat. Belvina terus mengejarnya hingga di lobby.

Langkahnya terlalu cepat. Tumitnya terpeleset.

“Ah—!”

BRUK!

Tubuhnya jatuh.

Benturan itu memantul di lantai marmer. Beberapa orang tersentak.

Namun Alden tidak menoleh. Ia terus berjalan menuju pintu keluar.

Belvina terbaring di lantai dingin. Pandangannya kabur. Lampu di atasnya berputar. Suara-suara mulai menjauh.

“Kenapa…”

Suaranya nyaris tidak terdengar. Dadanya terasa sesak.

Pandangan itu semakin gelap. Semakin jauh. Dan di detik terakhir kesadarannya, semuanya… berhenti.

Gelap.

“Ah—!”

Dina meringis, memegangi kepalanya. Tubuhnya goyah. Ingatan pemilik tubuh asli itu terasa menusuk hati.

Alden langsung menghentikan langkahnya. Alis pria itu berkerut, melihat ekspresi kesakitan yang tak dibuat-buat.

“Belvina?”

Hangat. Cairan mengalir dari pelipisnya. Dina menyentuhnya. Darah. Napasnya memburu.

Lalu—

Potongan ingatan menyerbu.

Suara-suara.

“Perjodohan keluarga.”

“Untuk bisnis.”

“Aku tidak bisa hidup tanpa dia—”

Darah di pergelangan tangan.

Tangisan.

Lalu— kamar gelap.

Gaun tipis.

Penolakan.

Berulang.

Dina terdiam. Napasnya tertahan.

“Segila itu…” bisiknya lirih.

Potongan itu terasa… familiar. Terlalu familiar. Matanya membesar.

“Tidak mungkin… Ini... gak masuk akal."

Suara Dina nyaris tak terdengar.

“Ini bukan cerita…” napasnya tersendat. “Ini jebakan.”

Ia menatap, tangannya. Kulit halus. Jari-jari ramping. Bukan miliknya.

Ia menatap tubuhnya yang dibalut gaun mewah. Lalu menatap pria di depannya. Semuanya terasa asing… sekaligus nyata.

Kesadaran itu menghantam tanpa ampun. Ia tidak lagi berada di tubuhnya sendiri. Ia adalah, Belvina Laurent.

Dan satu hal langsung terpatri dalam benaknya, ia tidak akan hidup seperti wanita itu.

Belum sempat ia mencerna semuanya—

“Tsk.”

Tanpa banyak bicara, Alden mengangkat tubuhnya.

Belvina tersentak. “Apa yang kau lakukan?”

Alden mengabaikannya. Genggamannya justru semakin kuat.

“Kalau kau ingin berpura-pura berubah…” bisiknya dingin, “pastikan kau bisa mempertahankannya.”

Langkahnya tak berhenti.

Dan entah kenapa, ucapan itu terdengar seperti ancaman.

Belvina refleks menegang, namun tidak melawan. Rahangnya mengatup.

"Ini pria yang dikejar-kejar sampai segitunya?" batinnya.

Dari jarak sedekat ini, tatapannya menyapu wajah Alden tanpa ragu. Terlalu sempurna. Dan terlalu dingin.

Tapi bagi Belvina yang sekarang, sikapnya menjijikkan. Tatapannya dingin. Tidak berubah.

Sudut bibir Belvina bergerak tipis, nyaris tak terlihat.

"Belvina yang lama… benar-benar tidak waras. Kalau harus mengemis cinta pria seperti ini… lebih baik aku mati lagi," gerutu Belvina dalam hati.

Langkah Alden yang semula mantap… sedikit melambat. Alisnya berkerut samar. Wanita di pelukannya— diam.

Terlalu diam.

Tidak meronta. Tidak menangis. Tidak memohon. Tidak seperti biasanya.

Tatapannya turun sedikit. Dan untuk sesaat, mata mereka bertemu.

Dingin.

Bukan tatapan penuh harap yang biasa ia lihat. Bukan juga tatapan putus asa.

Tapi…

Tatapan datar. Kosong. Seolah-olah, ia tidak lagi peduli.

Rahang Alden mengeras. Ada sesuatu yang tidak beres.

"Apa lagi yang sedang ia rencanakan sekarang?" pikirnya.

Pintu mobil sudah terbuka. Sopir berdiri kaku di sampingnya.

Tanpa berkata apa-apa, Alden menurunkan tubuh Belvina. Tidak ada kelembutan.

Kaki Belvina hampir goyah saat menyentuh tanah, namun ia segera menyeimbangkan diri.

"Masuk.”

Satu kata perintah dari Alden. Dingin. Tegas.

Belvina menatapnya sekilas. Tatapan itu singkat, namun cukup untuk menunjukkan sesuatu yang berbeda.

Lalu ia masuk ke dalam mobil. Tanpa bantahan.

Pintu mobil tertutup. Suasana langsung hening.

Belvina menyandarkan kepalanya ke kursi. Matanya menatap lurus ke depan, kosong. Namun di dalam kepalanya, satu pikiran berputar jelas.

“Aku tidak akan hidup seperti ini lagi.”

Di sampingnya, tanpa ia sadari, Alden masih menatapnya.

Lebih lama dari yang seharusnya. Tatapannya perlahan berubah. Bukan lagi sekadar dingin.

Tapi… mengamati.

“Dia berubah. Sejak jatuh tadi. Jangan-jangan—”

Kalimat itu terputus. Alisnya berkerut tipis. Tatapannya turun ke pelipis wanita itu. Jejak darah masih terlihat samar di sana.

Alden mendecak pelan.

“Bersihkan lukanya.” Perintah singkat. Tanpa emosi.

Sopir di depan langsung menjawab, “Baik, Tuan.”

Belvina mengernyit.

"Apa maksudnya? Dia menyuruh sopir membersihkan lukaku?"

Pintu di sampingnya terbuka.

Sopir itu sudah berdiri di luar, kotak P3K di tangannya.

“Nyonya… izinkan saya.”

Belvina menatap Alden sekilas. Tatapannya tipis. Tidak senang. Tangannya mengepal. Lalu ia menoleh ke arah sopir.

“Tidak perlu.” Suaranya datar.

Ia mengambil kotak P3K dari tangan sopir, lalu meraih tisu di sampingnya. Dengan gerakan rapi, ia membersihkan darah di pelipisnya sendiri.

Tanpa meringis. Tanpa keluhan. Seolah luka itu… tidak berarti apa-apa.

Alden memerhatikan. Tidak ada tangisan. Tidak ada permohonan.

Aneh.

"Sejak kapan dia… setenang ini?"

 

...✨“Yang paling menyakitkan bukan ditinggalkan, tapi tidak pernah dipilih sejak awal.”...

...“Mengemis cinta dari pria yang tidak menginginkanmu bukan cinta. Itu penghinaan.”...

...“Wanita yang mencintainya sudah mati. Yang tersisa… tidak akan memohon lagi.”✨...

.

To be continued

Terpopuler

Comments

🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍

🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍

Aku suka karakter Dina... bisa tegas buat mengubah balik keadaan yang pernah Belvina lakukan pada Alden.👍👍👍

2026-07-29

3

Uthie

Uthie

wanita yg selalu disakiti bisa saja berubah sewaktu-waktu 😏

2026-05-14

2

Kyky ANi

Kyky ANi

jelas beda lah Alden, karna yang bersamamu sekarang Dina, bukan Belvina,,,

2026-06-11

1

lihat semua
Episodes
1 1. Ketika Takdir Memaksaku Menjadi Dia
2 2. Mulai Hari Ini, Bukan Belvina
3 3. Tidak Tertarik
4 4. Yang Tidak Bisa Ia Pahami
5 5. Di Luar Perhitungannya
6 6. Sesuatu yang Tidak Cocok
7 7. Dunia yang Terlalu Mahal
8 8. Ketenangan yang Mengganggu
9 9. Yang Tidak Bisa Dikendalikan
10 10. Jawaban yang Tidak Diberikan
11 11. Masuk ke Duniamu
12 12. Saat Dia Berhenti Peduli
13 13. Batas yang Tidak Pernah Disepakati
14 14. Aku Tidak Mengemis Cinta
15 15. Saat Ia Berhenti Memohon
16 16. Saat Kendali Tak Lagi di Tangannya
17 17. Ketika Ia Tak Lagi Menunggu
18 18. Istri Pajanganku Jadi Rebutan
19 19. Terlambat Menyadari
20 20. Rumah yang Pernah Menghinaku
21 21. Manis Sebelum Badai
22 22. Rumah yang Bukan Karena Aku
23 23. Tempat yang Dulu Kupilih
24 24. Jangan Coba Kabur Lagi
25 25. Pagi Setelah Kekacauan
26 26. Wajah yang Tak Ingin Dilihat
27 27. Wanita yang Tak Lagi Sama
28 28. Keyakinan Ganjil
29 29. Istriku Membajak Mobilku
30 30. Hari Saat Alden Turun Kasta
31 31. Satu Kamar, Dua Ego
32 32. Salah Tarik
33 33. Masalahku Kamu
34 34. Jangan Salahkan Aku
35 35. Bekas yang Sama
36 36. Komunikasi Pakai Gigi
37 37. Datang di Waktu yang Menarik
38 38. Perubahan yang Tidak Diinginkan
39 39. Yang Mulai Bergerak
40 40. Jarak yang Terlihat Dekat
41 41. Menolak Tapi Goyah
42 42. Semakin Menjauh, Semakin Ditarik
43 43. Di Antara Penolakan dan Kepemilikan
44 44. Di Balik Sikap Tenang
45 45. Saat Ia Memilih Pergi
46 46. Pelarian yang Sia-Sia
47 47. Bukan Lagi Tempat Aman
48 48. Saat Takdir Terulang
49 49. Sesuatu yang Tidak Ditulis
50 50. Novel yang Tidak Lengkap
51 51. Ruang di Antara Mereka
52 52. Kesempatan Kedua
53 53. Posisi yang Mulai Bergeser
54 54. Rumah yang Tak Lagi Dingin
55 55. Aku Tidak Memilih Dia
56 56. Bukan Karena Kasihan
57 57. Yang Mulai Terlihat
58 58. Saat Kau Mulai Melihatku
59 59. Di Sisi Alden
60 60. Pagi dalam Pelukan Musuh
61 61. Dalam Jangkauan Mataku
62 62. Yang Mulai Kehilangan Kendali
63 63. Harapan yang Mulai Tumbuh
64 64. Harapan yang Mulai Mengikat
65 65. Janji Seorang Ayah
66 66. Perlahan Menjadi Rumah
67 67. Antara Takut dan Percaya
68 68. Janji dan Detak Jantung
69 69. Awal Kehilangannya
70 70. Utang yang Telah Lunas
71 71. Alasan untuk Pulang
72 72. Persetujuan yang Mencurigakan
73 73. Saat Kepercayaan Berpindah
74 74. Rumor Lama
75 75. Sebuah Pengakuan Tanpa Kata
76 76. Saat Aku Mulai Mempercayaimu
77 77. Kepercayaan yang Rapuh
78 78. Lebih Berharga dari Harta
79 79. Harga Sebuah Kepercayaan
80 80. Batas yang Jelas
81 81. Wanita yang Dipilih
82 82. Peringatan Terakhir
83 83. Saat Ancaman Menjadi Nyata
84 84. Pahlawan Palsu
85 85. Ketika Topeng Runtuh
86 86. Putusnya Semua Ikatan
87 87. Satu Langkah ke Dalam Perangkap
88 88. Perlombaan Melawan Waktu
89 89. Tak Ada Jalan Kembali
90 90. Harga Sebuah Obsesi
91 91. Selamat, Tapi Belum Aman
92 92. Akhir Sebuah Obsesi
93 93. Keluarga yang Akhirnya Kumiliki
94 94. Kebahagiaan Sebelum Babak Terakhir
95 95 Semalam Tanpa Alden
96 96. Tak Lagi Saling Menjauh
97 97. Akhir Sebuah Obsesi
98 98. Akhir dari Penantian
99 99. Karya Baru
100 100. Kembali Menjadi Rumah
Episodes

Updated 100 Episodes

1
1. Ketika Takdir Memaksaku Menjadi Dia
2
2. Mulai Hari Ini, Bukan Belvina
3
3. Tidak Tertarik
4
4. Yang Tidak Bisa Ia Pahami
5
5. Di Luar Perhitungannya
6
6. Sesuatu yang Tidak Cocok
7
7. Dunia yang Terlalu Mahal
8
8. Ketenangan yang Mengganggu
9
9. Yang Tidak Bisa Dikendalikan
10
10. Jawaban yang Tidak Diberikan
11
11. Masuk ke Duniamu
12
12. Saat Dia Berhenti Peduli
13
13. Batas yang Tidak Pernah Disepakati
14
14. Aku Tidak Mengemis Cinta
15
15. Saat Ia Berhenti Memohon
16
16. Saat Kendali Tak Lagi di Tangannya
17
17. Ketika Ia Tak Lagi Menunggu
18
18. Istri Pajanganku Jadi Rebutan
19
19. Terlambat Menyadari
20
20. Rumah yang Pernah Menghinaku
21
21. Manis Sebelum Badai
22
22. Rumah yang Bukan Karena Aku
23
23. Tempat yang Dulu Kupilih
24
24. Jangan Coba Kabur Lagi
25
25. Pagi Setelah Kekacauan
26
26. Wajah yang Tak Ingin Dilihat
27
27. Wanita yang Tak Lagi Sama
28
28. Keyakinan Ganjil
29
29. Istriku Membajak Mobilku
30
30. Hari Saat Alden Turun Kasta
31
31. Satu Kamar, Dua Ego
32
32. Salah Tarik
33
33. Masalahku Kamu
34
34. Jangan Salahkan Aku
35
35. Bekas yang Sama
36
36. Komunikasi Pakai Gigi
37
37. Datang di Waktu yang Menarik
38
38. Perubahan yang Tidak Diinginkan
39
39. Yang Mulai Bergerak
40
40. Jarak yang Terlihat Dekat
41
41. Menolak Tapi Goyah
42
42. Semakin Menjauh, Semakin Ditarik
43
43. Di Antara Penolakan dan Kepemilikan
44
44. Di Balik Sikap Tenang
45
45. Saat Ia Memilih Pergi
46
46. Pelarian yang Sia-Sia
47
47. Bukan Lagi Tempat Aman
48
48. Saat Takdir Terulang
49
49. Sesuatu yang Tidak Ditulis
50
50. Novel yang Tidak Lengkap
51
51. Ruang di Antara Mereka
52
52. Kesempatan Kedua
53
53. Posisi yang Mulai Bergeser
54
54. Rumah yang Tak Lagi Dingin
55
55. Aku Tidak Memilih Dia
56
56. Bukan Karena Kasihan
57
57. Yang Mulai Terlihat
58
58. Saat Kau Mulai Melihatku
59
59. Di Sisi Alden
60
60. Pagi dalam Pelukan Musuh
61
61. Dalam Jangkauan Mataku
62
62. Yang Mulai Kehilangan Kendali
63
63. Harapan yang Mulai Tumbuh
64
64. Harapan yang Mulai Mengikat
65
65. Janji Seorang Ayah
66
66. Perlahan Menjadi Rumah
67
67. Antara Takut dan Percaya
68
68. Janji dan Detak Jantung
69
69. Awal Kehilangannya
70
70. Utang yang Telah Lunas
71
71. Alasan untuk Pulang
72
72. Persetujuan yang Mencurigakan
73
73. Saat Kepercayaan Berpindah
74
74. Rumor Lama
75
75. Sebuah Pengakuan Tanpa Kata
76
76. Saat Aku Mulai Mempercayaimu
77
77. Kepercayaan yang Rapuh
78
78. Lebih Berharga dari Harta
79
79. Harga Sebuah Kepercayaan
80
80. Batas yang Jelas
81
81. Wanita yang Dipilih
82
82. Peringatan Terakhir
83
83. Saat Ancaman Menjadi Nyata
84
84. Pahlawan Palsu
85
85. Ketika Topeng Runtuh
86
86. Putusnya Semua Ikatan
87
87. Satu Langkah ke Dalam Perangkap
88
88. Perlombaan Melawan Waktu
89
89. Tak Ada Jalan Kembali
90
90. Harga Sebuah Obsesi
91
91. Selamat, Tapi Belum Aman
92
92. Akhir Sebuah Obsesi
93
93. Keluarga yang Akhirnya Kumiliki
94
94. Kebahagiaan Sebelum Babak Terakhir
95
95 Semalam Tanpa Alden
96
96. Tak Lagi Saling Menjauh
97
97. Akhir Sebuah Obsesi
98
98. Akhir dari Penantian
99
99. Karya Baru
100
100. Kembali Menjadi Rumah

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!