3. Tidak Tertarik

Belvina menutup kotak P3K itu kembali, lalu menyerahkannya tanpa melihat.

Sopir segera menerimanya dan kembali ke kursi kemudi. Dalam hati ia bergumam,

"Malam ini... nyonya berbeda. Aku kayak gak kenal dia." Ia melirik Belvina dari kaca spion.

"Nyonya itu… diam."

Alden bersandar. Tatapannya masih tertuju pada wanita di sampingnya, sejenak lebih lama dari yang seharusnya.

“Jalan.”

Satu kata. Pendek. Tegas.

“Baik, Tuan.”

Mesin mobil berdengung pelan. Lampu kota melintas di balik kaca.

Belvina tidak menoleh. Tatapannya tetap lurus ke depan. Seolah pria di sampingnya… tidak ada.

Alden menyilangkan kaki, bersandar santai. Namun matanya tidak lepas dari wanita itu.

“Cukup dramanya?” Nada suaranya datar. Rendah. Tajam.

Tidak ada jawaban. Belvina bahkan tidak berkedip.

Alden tersenyum tipis. Sinis.

“Jatuh di depan banyak orang, lalu berpura-pura berubah?” ia memiringkan kepala sedikit. “Metode baru untuk cari perhatian?”

Belvina bergeming. Satu detik. Dua detik. Lalu—

“Kalau aku butuh perhatian,” jawab Belvina akhirnya, suaranya tenang, “aku tidak akan memilih cara yang mempermalukan diri sendiri.”

Alden terdiam. Singkat. Namun cukup untuk membuat udara di dalam mobil berubah.

Tatapan pria itu mengeras. “Berani sekali bicaramu hari ini.”

Dina akhirnya menoleh. Perlahan. Tatapannya bertemu langsung dengan Alden. Tidak goyah. Sedikit pun.

“Baru hari ini kamu sadar?” balasnya ringan.

Alden menatapnya beberapa detik lebih lama. Mencari sesuatu. Celah. Kepalsuan. Kepanikan.

Namun yang ia temukan-- tidak ada. Hanya ketenangan yang asing.

“Jangan lupa posisimu,” ucapnya dingin. Satu kalimat. Tapi penuh tekanan.

Belvina mengangguk kecil. Seolah mengerti. Namun yang keluar dari bibirnya—

“Sebagai istri?” Nada suaranya tipis. Hampir seperti mengejek. “Tenang saja. Aku tidak tertarik melanggar batas.”

Alis Alden bergerak tipis. “Aku juga tidak tertarik,” balasnya cepat.

Dina tersenyum samar. Kali ini benar-benar terlihat.

“Bagus,” katanya pelan. “Berarti kita sepakat.”

Alden mengalihkan pandangannya ke depan. Sejak ia mengenalnya, baru kali ini ia tidak bisa membaca wanita di sampingnya ini. Dan itu… mengganggunya.

Sang supir kembali melirik dari kaca spion. "Apa ini masih Nyonya Belvina yang aku kenal?" batinnya penuh tanya.

Sementara Belvina kembali menatap ke luar jendela. Lampu kota berpendar di matanya. Di balik ketenangannya, satu keputusan sudah bulat.

"Cukup."

Ia tidak akan menguranginya.

"Harga diriku terlalu mahal untuk mengemis cinta. Apalagi..." ia melirik Alden. "...padanya. Dia bukan satu-satunya pria tampan dan mapan di dunia.”

-

Mobil itu akhirnya berhenti di depan rumah besar bergaya modern klasik.

Pintu terbuka.

Alden turun lebih dulu tanpa menoleh.

Belvina keluar beberapa detik kemudian. Langkahnya pelan. Matanya terangkat, baru pertama kali ini ia melihat tempat itu.

Rumah itu besar. Terlalu besar.

Pilar tinggi. Lampu gantung berkilauan dari dalam. Halaman luas yang terawat sempurna.

"Ini rumah atau istana?"

Namun wajah Belvina tetap datar. Tidak ada kekaguman berlebihan. Tidak ada kegugupan.

Hanya… mengamati. Detail demi detail. Seolah sedang memetakan tempat yang akan ia tinggali.

Di dalam, para pelayan sudah berbaris rapi.

“Selamat datang, Tuan. Nyonya.”

Suara mereka serempak.

Beberapa pelayan saling melirik. Lalu diam.

Belvina berjalan lurus. Tenang. Menjaga jarak. Tanpa satu pun usaha mendekat. Langkahnya bahkan tidak menyesuaikan langkah Alden. Seolah, mereka bukan pasangan.

Alden juga menyadarinya. Namun ia tidak berkata apa-apa.

“Siapkan makan malam,” ucapnya singkat.

“Baik, Tuan.”

Belvina berhenti sejenak di tengah ruangan. Matanya kembali berkeliling.

Tangga besar di sisi kanan. Ruang keluarga di kiri. Lorong panjang menuju bagian dalam.

Potongan-potongan ingatan mulai muncul.

Kamar utama di lantai dua. Ruang kerja Alden, tidak boleh dimasuki sembarangan.

Area makan keluarga, tempat paling sering dipenuhi keheningan.

Ia mengerjap pelan. "Jadi… ini rumah Belvina."

Namun ia langsung meralatnya. Matanya melirik Alden sekilas. "Ah, tidak. Ini rumah si es balok arogan itu."

Di belakangnya, bisik-bisik mulai muncul, nyaris tak terdengar.

“Kenapa Nyonya diam saja…?”

“Biasanya langsung ke Tuan…”

“Aneh ya…”

Belvina mendengarnya. Namun tidak menoleh. Tidak peduli. Karena, Belvina yang sekarang tidak hidup untuk dilihat orang lain.

-

Makan malam disiapkan dengan cepat. Di atas meja panjang, hidangan lengkap.

Alden sudah duduk lebih dulu.

Belvina datang beberapa saat kemudian. Ia menarik kursi, dan duduk. Di seberang Alden.

Bukan di sampingnya.

Satu gerakan kecil. Namun cukup untuk membuat seorang pelayan hampir menjatuhkan gelas.

Alden mengangkat alis tipis. Sikap Belvina jelas menarik perhatiannya.

“Kenapa di sana?” tanyanya datar.

Belvina menatapnya sebentar. “Lebih nyaman.”

Jawaban singkat. Tanpa basa-basi. Tanpa senyum. Tanpa usaha menyenangkan.

Alden tidak langsung menjawab. Ia mengambil gelasnya, menyeruput pelan. Matanya tidak lepas dari wanita itu.

“Tidak ingin duduk di dekatku?” nada suaranya tipis, mengandung sesuatu yang sulit ditebak. Menguji.

Dulu, wanita ini akan langsung duduk di sampingnya tanpa diminta.

Sekarang?

“Tidak.”

Jawaban itu datang cepat. Tenang. Tanpa ragu.

Sendok di tangan pelayan berhenti sesaat.

Alden menyandarkan tubuhnya. Tatapannya menajam.

“Atau memang tidak berani?”

Serangan halus.

Belvina terdiam sejenak. Lalu, ia mengangkat kepalanya. Tatapan mereka bertemu.

“Tidak tertarik.”

Jawaban itu ringan. Namun seperti batu yang jatuh di keheningan.

Alden terdiam.

Sejak jatuh di lobby hotel tadi, tidak ada usaha dari Belvina untuk mendekat. Tidak ada obsesi. Tidak ada rasa ingin memiliki.

Dan justru itu, terasa jauh lebih mengganggu.

Alden meletakkan gelasnya pelan. Bunyinya kecil. Namun cukup jelas di tengah suasana yang menegang.

“Jangan main permainan yang tidak bisa kau selesaikan.” Nada suaranya turun. Lebih dingin. Lebih berat.

Belvina menatapnya beberapa detik. Lalu, ia tersenyum tipis. Bukan senyum manis. Bukan juga penuh arti.

Lebih ke… tajam.

“Tenang saja,” katanya pelan. “Aku tidak tertarik pada hal yang tidak bernilai.”

Satu detik. Dua detik. Tidak ada yang bergerak. Namun sesuatu berubah.

Jari Alden yang tadi bertumpu di meja berhenti. Tatapannya mengeras samar, garis rahangnya menegang tipis. Bukan marah yang meledak, lebih seperti ada bagian yang terusik.

Ia tidak langsung membalas. Hanya menatap wanita di depannya. Lebih lama. Lebih dalam. Seolah memastikan kalimat itu benar-benar keluar dari Belvina.

“Kau sekarang suka merendahkan sesuatu tanpa melihat cerminnya dulu?” ucapnya akhirnya, pelan. Tenang, tapi jelas bukan datar lagi.

 

...✨“Cinta yang harus diminta berulang kali… bukan cinta, tapi kebiasaan merendahkan diri.”...

...“Ketika perhatian berhenti, barulah rasa penasaran dimulai.”✨...

.

To be continued

Terpopuler

Comments

Lucyana H

Lucyana H

bagus Dina,bikin Alden menyesal nantinya,jgn mudah memaafkan ,mending sm yg lain aja yg bisa Nerima kmu ...belvina bodoh ngapain masih ngejar si Alden,mending cari cowok lain aja yg bisa mencintaimu

2026-07-15

7

🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍

🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍

Aku suka gaya Mu Din, biarpun kehidupanMu dulu ga senyaman kehidupan raga Belvina yang Kamu yempati sekarang tapi Kamu tau dan bisa menempatkan diri dalam setiap keadaan tanpa harus kesulitan bahkan memanfaatkan situasi.👍👍👍

2026-07-29

1

Aqil Ahlam Nazmil

Aqil Ahlam Nazmil

𝗺𝗮𝗸𝗶𝗻 𝗸𝗲 𝘀𝗶𝗻𝗶 𝗺𝗮𝗸𝗶𝗻 𝘀𝗲𝗿𝘂𝗵 𝘆𝗵

2026-08-08

1

lihat semua
Episodes
1 1. Ketika Takdir Memaksaku Menjadi Dia
2 2. Mulai Hari Ini, Bukan Belvina
3 3. Tidak Tertarik
4 4. Yang Tidak Bisa Ia Pahami
5 5. Di Luar Perhitungannya
6 6. Sesuatu yang Tidak Cocok
7 7. Dunia yang Terlalu Mahal
8 8. Ketenangan yang Mengganggu
9 9. Yang Tidak Bisa Dikendalikan
10 10. Jawaban yang Tidak Diberikan
11 11. Masuk ke Duniamu
12 12. Saat Dia Berhenti Peduli
13 13. Batas yang Tidak Pernah Disepakati
14 14. Aku Tidak Mengemis Cinta
15 15. Saat Ia Berhenti Memohon
16 16. Saat Kendali Tak Lagi di Tangannya
17 17. Ketika Ia Tak Lagi Menunggu
18 18. Istri Pajanganku Jadi Rebutan
19 19. Terlambat Menyadari
20 20. Rumah yang Pernah Menghinaku
21 21. Manis Sebelum Badai
22 22. Rumah yang Bukan Karena Aku
23 23. Tempat yang Dulu Kupilih
24 24. Jangan Coba Kabur Lagi
25 25. Pagi Setelah Kekacauan
26 26. Wajah yang Tak Ingin Dilihat
27 27. Wanita yang Tak Lagi Sama
28 28. Keyakinan Ganjil
29 29. Istriku Membajak Mobilku
30 30. Hari Saat Alden Turun Kasta
31 31. Satu Kamar, Dua Ego
32 32. Salah Tarik
33 33. Masalahku Kamu
34 34. Jangan Salahkan Aku
35 35. Bekas yang Sama
36 36. Komunikasi Pakai Gigi
37 37. Datang di Waktu yang Menarik
38 38. Perubahan yang Tidak Diinginkan
39 39. Yang Mulai Bergerak
40 40. Jarak yang Terlihat Dekat
41 41. Menolak Tapi Goyah
42 42. Semakin Menjauh, Semakin Ditarik
43 43. Di Antara Penolakan dan Kepemilikan
44 44. Di Balik Sikap Tenang
45 45. Saat Ia Memilih Pergi
46 46. Pelarian yang Sia-Sia
47 47. Bukan Lagi Tempat Aman
48 48. Saat Takdir Terulang
49 49. Sesuatu yang Tidak Ditulis
50 50. Novel yang Tidak Lengkap
51 51. Ruang di Antara Mereka
52 52. Kesempatan Kedua
53 53. Posisi yang Mulai Bergeser
54 54. Rumah yang Tak Lagi Dingin
55 55. Aku Tidak Memilih Dia
56 56. Bukan Karena Kasihan
57 57. Yang Mulai Terlihat
58 58. Saat Kau Mulai Melihatku
59 59. Di Sisi Alden
60 60. Pagi dalam Pelukan Musuh
61 61. Dalam Jangkauan Mataku
62 62. Yang Mulai Kehilangan Kendali
63 63. Harapan yang Mulai Tumbuh
64 64. Harapan yang Mulai Mengikat
65 65. Janji Seorang Ayah
66 66. Perlahan Menjadi Rumah
67 67. Antara Takut dan Percaya
68 68. Janji dan Detak Jantung
69 69. Awal Kehilangannya
70 70. Utang yang Telah Lunas
71 71. Alasan untuk Pulang
72 72. Persetujuan yang Mencurigakan
73 73. Saat Kepercayaan Berpindah
74 74. Rumor Lama
75 75. Sebuah Pengakuan Tanpa Kata
76 76. Saat Aku Mulai Mempercayaimu
77 77. Kepercayaan yang Rapuh
78 78. Lebih Berharga dari Harta
79 79. Harga Sebuah Kepercayaan
80 80. Batas yang Jelas
81 81. Wanita yang Dipilih
82 82. Peringatan Terakhir
83 83. Saat Ancaman Menjadi Nyata
84 84. Pahlawan Palsu
85 85. Ketika Topeng Runtuh
86 86. Putusnya Semua Ikatan
87 87. Satu Langkah ke Dalam Perangkap
88 88. Perlombaan Melawan Waktu
89 89. Tak Ada Jalan Kembali
90 90. Harga Sebuah Obsesi
91 91. Selamat, Tapi Belum Aman
92 92. Akhir Sebuah Obsesi
93 93. Keluarga yang Akhirnya Kumiliki
94 94. Kebahagiaan Sebelum Babak Terakhir
95 95 Semalam Tanpa Alden
96 96. Tak Lagi Saling Menjauh
97 97. Akhir Sebuah Obsesi
98 98. Akhir dari Penantian
99 99. Karya Baru
100 100. Kembali Menjadi Rumah
Episodes

Updated 100 Episodes

1
1. Ketika Takdir Memaksaku Menjadi Dia
2
2. Mulai Hari Ini, Bukan Belvina
3
3. Tidak Tertarik
4
4. Yang Tidak Bisa Ia Pahami
5
5. Di Luar Perhitungannya
6
6. Sesuatu yang Tidak Cocok
7
7. Dunia yang Terlalu Mahal
8
8. Ketenangan yang Mengganggu
9
9. Yang Tidak Bisa Dikendalikan
10
10. Jawaban yang Tidak Diberikan
11
11. Masuk ke Duniamu
12
12. Saat Dia Berhenti Peduli
13
13. Batas yang Tidak Pernah Disepakati
14
14. Aku Tidak Mengemis Cinta
15
15. Saat Ia Berhenti Memohon
16
16. Saat Kendali Tak Lagi di Tangannya
17
17. Ketika Ia Tak Lagi Menunggu
18
18. Istri Pajanganku Jadi Rebutan
19
19. Terlambat Menyadari
20
20. Rumah yang Pernah Menghinaku
21
21. Manis Sebelum Badai
22
22. Rumah yang Bukan Karena Aku
23
23. Tempat yang Dulu Kupilih
24
24. Jangan Coba Kabur Lagi
25
25. Pagi Setelah Kekacauan
26
26. Wajah yang Tak Ingin Dilihat
27
27. Wanita yang Tak Lagi Sama
28
28. Keyakinan Ganjil
29
29. Istriku Membajak Mobilku
30
30. Hari Saat Alden Turun Kasta
31
31. Satu Kamar, Dua Ego
32
32. Salah Tarik
33
33. Masalahku Kamu
34
34. Jangan Salahkan Aku
35
35. Bekas yang Sama
36
36. Komunikasi Pakai Gigi
37
37. Datang di Waktu yang Menarik
38
38. Perubahan yang Tidak Diinginkan
39
39. Yang Mulai Bergerak
40
40. Jarak yang Terlihat Dekat
41
41. Menolak Tapi Goyah
42
42. Semakin Menjauh, Semakin Ditarik
43
43. Di Antara Penolakan dan Kepemilikan
44
44. Di Balik Sikap Tenang
45
45. Saat Ia Memilih Pergi
46
46. Pelarian yang Sia-Sia
47
47. Bukan Lagi Tempat Aman
48
48. Saat Takdir Terulang
49
49. Sesuatu yang Tidak Ditulis
50
50. Novel yang Tidak Lengkap
51
51. Ruang di Antara Mereka
52
52. Kesempatan Kedua
53
53. Posisi yang Mulai Bergeser
54
54. Rumah yang Tak Lagi Dingin
55
55. Aku Tidak Memilih Dia
56
56. Bukan Karena Kasihan
57
57. Yang Mulai Terlihat
58
58. Saat Kau Mulai Melihatku
59
59. Di Sisi Alden
60
60. Pagi dalam Pelukan Musuh
61
61. Dalam Jangkauan Mataku
62
62. Yang Mulai Kehilangan Kendali
63
63. Harapan yang Mulai Tumbuh
64
64. Harapan yang Mulai Mengikat
65
65. Janji Seorang Ayah
66
66. Perlahan Menjadi Rumah
67
67. Antara Takut dan Percaya
68
68. Janji dan Detak Jantung
69
69. Awal Kehilangannya
70
70. Utang yang Telah Lunas
71
71. Alasan untuk Pulang
72
72. Persetujuan yang Mencurigakan
73
73. Saat Kepercayaan Berpindah
74
74. Rumor Lama
75
75. Sebuah Pengakuan Tanpa Kata
76
76. Saat Aku Mulai Mempercayaimu
77
77. Kepercayaan yang Rapuh
78
78. Lebih Berharga dari Harta
79
79. Harga Sebuah Kepercayaan
80
80. Batas yang Jelas
81
81. Wanita yang Dipilih
82
82. Peringatan Terakhir
83
83. Saat Ancaman Menjadi Nyata
84
84. Pahlawan Palsu
85
85. Ketika Topeng Runtuh
86
86. Putusnya Semua Ikatan
87
87. Satu Langkah ke Dalam Perangkap
88
88. Perlombaan Melawan Waktu
89
89. Tak Ada Jalan Kembali
90
90. Harga Sebuah Obsesi
91
91. Selamat, Tapi Belum Aman
92
92. Akhir Sebuah Obsesi
93
93. Keluarga yang Akhirnya Kumiliki
94
94. Kebahagiaan Sebelum Babak Terakhir
95
95 Semalam Tanpa Alden
96
96. Tak Lagi Saling Menjauh
97
97. Akhir Sebuah Obsesi
98
98. Akhir dari Penantian
99
99. Karya Baru
100
100. Kembali Menjadi Rumah

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!