Belvina tidak langsung menjawab. Tatapannya bertahan sesaat, lalu perlahan bergeser. Bukan menghindar. Lebih seperti… kehilangan minat.
Matanya jatuh pada meja makan di depan mereka. Beragam hidangan tersaji rapi. Mewah. Hangat. Aromanya naik perlahan, memenuhi udara.
Perutnya bereaksi lebih dulu sebelum pikirannya sempat menahan. Ia menelan ludah halus.
"Astaga… ini semua dimakan orang tiap hari?"
Ekspresinya tetap terjaga.
Namun sorot matanya berubah sepersekian detik, cukup untuk seseorang yang memerhatikan dengan serius bisa menangkapnya.
Dan Alden, tidak melewatkan itu. Tatapannya turun mengikuti arah pandang Belvina. Ke makanan. Lalu kembali ke wajahnya. Keningnya berkerut tipis.
Aneh.
Baru saja wanita itu bicara seperti tidak peduli apa pun. Sekarang, terlihat… tertarik?
Kontras itu terlalu jelas.
Dan justru itu, yang membuat Alden semakin sulit mengalihkan perhatian.
Belvina menarik napas kecil. Tenang. Ia sekarang bukan Dina. Ia Belvina.
Perlahan, ia mengambil sendok. Mencicipi satu suapan. Lalu, diam. Rasanya langsung memenuhi mulutnya.
Dalam kepalanya, satu kata muncul jelas: "Gila. Enak banget."
Namun wajahnya tetap datar. Ia menelan, mengambil suapan berikutnya. Lalu berikutnya lagi.
Masih berusaha tenang. Masih berusaha terlihat biasa. Meski kecepatannya… sedikit meningkat tanpa ia sadari.
Di seberangnya, Alden memerhatikannya tanpa suara. Tanpa ekspresi jelas. Namun matanya tajam.
“Lapar?” ucapnya tiba-tiba.
Nada suaranya ringan, tapi jelas… menyindir.
“Atau capek berakting seharian?”
Sendok Belvina berhenti sepersekian detik. Ia meliriknya sekilas. Tatapan datar. Tanpa tersinggung. Tanpa reaksi berlebihan.
Lalu—
Ia kembali makan. Seolah-olah komentar itu… tidak layak ditanggapi.
"Menganggu sekali," gerutunya dalam hati.
Alden menyandarkan punggungnya, mengamati lebih serius.
Cara makannya rapi, tapi tidak lagi dibuat-buat. Tidak ada gerakan elegan berlebihan yang biasanya selalu ditampilkan.
Yang ada justru, efisien. Fokus. Seperti seseorang yang benar-benar menikmati makanan.
Alisnya berkerut tipis. "Aneh."
-
Setelah makan malam, Belvina langsung beranjak dari kursinya.
Tanpa menunggu. Tanpa menoleh. Ia berjalan meninggalkan meja makan. Langkahnya tenang. Tegas. Mantap.
Para pelayan diam-diam menatapnya.
Alden juga. Alis pria itu sedikit berkerut.
"Kenapa cara jalannya terasa berbeda?"
Biasanya, Belvina berjalan seperti model di atas catwalk. Terlalu dibuat-buat. Terlalu sadar diri.
Namun sekarang?
Tidak ada gaya berlebihan. Tidak ada usaha menarik perhatian. Hanya langkah lurus… tanpa ragu. Dan justru karena itu, ia terlihat lebih elegan.
Belvina masuk ke kamar. Pintu tertutup di belakangnya. Matanya langsung menyapu seisi ruangan.
Luas. Mewah. Terlalu rapi.
"Jadi ini kamarnya…"
Potongan-potongan ingatan Belvina yang asli mulai kembali. Seperti puzzle yang perlahan tersusun.
Letak lemari. Kamar mandi. Meja rias. Tempat-tempat yang tadi terasa asing, kini mulai terasa… dikenali.
Ia melangkah ke depan cermin. Berhenti. Menatap dirinya sendiri. Wajah itu, indah. Kulit mulus. Fitur sempurna. Tubuh proporsional.
Tidak ada yang kurang.
"Astaga..ini beneran wajahku sekarang?"
Ia menatap cermin tak berkedip. Tangannya terangkat mengusap dan menepuk pipinya sendiri. Memastikan ini bukan mimpi.
"Ini bukan mimpi. Aaa... Ya Tuhan.... Ini benar-benar cantik," pekiknya tak kuasa menahan bahagia.
Tapi, tatapannya turun. Ke pakaian. Lalu ke riasan wajahnya. Ia mengembuskan napas kasar.
“Terlalu berusaha…”
Makeup tebal. Pakaian mencolok. Semua terlalu… memaksa.
Bukannya terlihat anggun, justru seperti seseorang yang memohon untuk diperhatikan.
"Aku yakin wajahnya akan jauh lebih cantik jika gak pakai make-up kayak badut gini."
Ia masuk ke kamar mandi.
Air hangat memenuhi bathtub. Tubuhnya tenggelam perlahan. Otot-ototnya yang tegang mulai mengendur. Matanya terpejam sesaat.
“Enak sekali jadi orang kaya…” gumamnya pelan.
“Kamar mandi ini saja… empat kali lebih besar dari kontrakanku.”
Sudut bibirnya naik tipis. Ironis.
Beberapa menit kemudian, ia keluar dengan rambut basah dan bathrobe membalut tubuhnya.
Ia membuka lemari. Dan mendengus.
Deretan lingerie tergantung rapi di dalamnya. Tipis. Transparan. Nyaris tidak menutup apa-apa.
“Astaga…”
Ia meraih salah satunya. Mengangkatnya sedikit.
“Ini baju atau… saringan tahu?”
Ia menatapnya dengan ekspresi campuran antara tidak percaya dan geli, bahkan sedikit...jijik.
“Memalukan sekali…” gumamnya, lalu mengembalikannya.
Ia menyapu isi lemari dengan tatapan kritis. Gaun-gaun mewah. Warna mencolok. Potongan berani.
“Glamor semua…” Ia menghela napas panjang. “Sepertinya aku harus beli pakaian baru.”
Akhirnya, ia memilih satu gaun tidur yang paling “normal”.
Memakainya, lalu duduk di tepi ranjang. Tangannya meraih ponsel. Layarnya menyala.
“Kita lihat…” gumamnya pelan. “Berapa saldo rekeningnya.”
Beberapa detik tanpa suara. Lalu, matanya membesar.
“Ini… bercanda?”
Angka di layar itu, tidak masuk akal. Jauh. Terlalu jauh dari dunia yang ia kenal. Bahkan dalam mimpinya pun… tidak pernah membayangkan angka sebesar itu.
Napasnya tertahan. Tangannya sedikit gemetar.
“Ini… semua milikku sekarang?”
Lalu—
“Aku kaya.”
Kalimat itu keluar lebih pelan. Seolah ia sendiri masih mengujinya.
Detik berikutnya—
“Aku kaya!”
Tangannya langsung naik, memegang kedua pipinya. Kakinya menghentak pelan ke lantai, sekali… dua kali… lalu semakin cepat, seperti anak kecil yang tidak bisa menahan kegirangan.
“Gila…”
Ia menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Berusaha menenangkan diri, tapi sudut bibirnya sudah terlanjur terangkat.
Matanya kembali ke layar. Angka itu masih di sana. Tidak hilang. Tidak berubah.
Bukan mimpi.
Senyumnya melebar, kali ini tanpa ditahan.
“Kalau ini mimpi…” gumamnya lirih, “jangan bangunin aku.”
***
Sementara itu di kamar sebelah. Alden berdiri di depan cermin kamarnya. Rambutnya masih sedikit basah. Kemeja sudah diganti dengan piyama rapi. Namun pikirannya, tidak setenang penampilannya.
"Dia berubah."
Alisnya berkerut tipis.
"Trik baru?"
Sudut bibirnya terangkat samar.
“Main tarik ulur…” gumamnya pelan.
Masuk akal. Belvina bukan tipe yang menyerah. Kalau cara lama gagal, tentu dia akan mencoba cara lain.
Namun, tatapannya sedikit menggelap.
"Kalau ini akting… terlalu rapi."
Beberapa detik terasa sunyi.
Lalu ia berbalik. Langkahnya mantap saat keluar dari kamar. Tujuannya jelas.
BRAK—
Pintu kamar Belvina terbuka tanpa ketukan.
Belvina yang sedang duduk di tepi ranjang langsung tersentak. Kepalanya menoleh cepat.
Tatapannya tajam.
“Jangan masuk kamar orang sembarangan,” ucapnya dingin. “Ketuk dulu sebelum masuk.”
Alden berdiri di ambang pintu. Tidak bergerak. Tidak juga meminta maaf. Namun matanya, mengunci wanita di depannya.
Satu detik. Dua detik.
Biasanya, begitu ia muncul di pintu itu, Belvina akan langsung tersenyum lebar.
Buru-buru bangkit. Menghampiri. Seolah kehadirannya adalah hal paling dinantikan di dunia.
Tapi sekarang?
Tidak ada senyum. Tidak ada langkah mendekat. Tidak ada… apa pun. Yang ada-- Suara dingin. Tatapan tajam. Dan itu, jauh lebih mengganggu.
Alden melangkah masuk. Perlahan. Pintu di belakangnya tertutup.
Klik.
...✨“Perubahan paling berbahaya bukan yang terlihat… tapi yang tidak bisa dijelaskan.”...
...“Ketika perhatian berhenti, barulah rasa penasaran dimulai.”...
...“Kemiskinan mengajarkan bertahan. Kekayaan… menguji siapa kita sebenarnya.”...
...“Yang tidak bisa dibaca selalu lebih mengganggu daripada yang terang-terangan menentang.”✨...
.
To be continued
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
anonim
Dina masuk ke kamar Belvina. Ketika di depan cermin, menatap dirinya - kaget memekik bahagia. Belvina cantik.
Dina yang tadinya mencari pekerjaan sulit, kini jadi orang kaya.
Mandi berendam di bathtub - kamar mandinya empat kali lebih besar dari kontrakannya.
Dina benar-benar menjadi orang kaya. Ketika melihat saldo rekening Belvina - matanya membesar.
2026-06-01
1
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
aduuhh Din untung jingkrak²nya pas Alden belum masuk ke kamarMu.🤭🤭
tapi ngomong² terus gimana raga Dina dan Ruh'nya Belvina ya, apa memang sudah di makamkan dan Ruhnya Belvina juga ikut terkubur ga akan balik lagi buat minta raganya.🤔
2026-07-29
1
Rhea Kim
benerrr dinaaa nikmati aja.... jadi kaya raya 😭🤣🤣🤣🤣
2026-07-25
1