4. Yang Tidak Bisa Ia Pahami

Belvina tidak langsung menjawab. Tatapannya bertahan sesaat, lalu perlahan bergeser. Bukan menghindar. Lebih seperti… kehilangan minat.

Matanya jatuh pada meja makan di depan mereka. Beragam hidangan tersaji rapi. Mewah. Hangat. Aromanya naik perlahan, memenuhi udara.

Perutnya bereaksi lebih dulu sebelum pikirannya sempat menahan. Ia menelan ludah halus.

"Astaga… ini semua dimakan orang tiap hari?"

Ekspresinya tetap terjaga.

Namun sorot matanya berubah sepersekian detik, cukup untuk seseorang yang memerhatikan dengan serius bisa menangkapnya.

Dan Alden, tidak melewatkan itu. Tatapannya turun mengikuti arah pandang Belvina. Ke makanan. Lalu kembali ke wajahnya. Keningnya berkerut tipis.

Aneh.

Baru saja wanita itu bicara seperti tidak peduli apa pun. Sekarang, terlihat… tertarik?

Kontras itu terlalu jelas.

Dan justru itu, yang membuat Alden semakin sulit mengalihkan perhatian.

Belvina menarik napas kecil. Tenang. Ia sekarang bukan Dina. Ia Belvina.

Perlahan, ia mengambil sendok. Mencicipi satu suapan. Lalu, diam. Rasanya langsung memenuhi mulutnya.

Dalam kepalanya, satu kata muncul jelas: "Gila. Enak banget."

Namun wajahnya tetap datar. Ia menelan, mengambil suapan berikutnya. Lalu berikutnya lagi.

Masih berusaha tenang. Masih berusaha terlihat biasa. Meski kecepatannya… sedikit meningkat tanpa ia sadari.

Di seberangnya, Alden memerhatikannya tanpa suara. Tanpa ekspresi jelas. Namun matanya tajam.

“Lapar?” ucapnya tiba-tiba.

Nada suaranya ringan, tapi jelas… menyindir.

“Atau capek berakting seharian?”

Sendok Belvina berhenti sepersekian detik. Ia meliriknya sekilas. Tatapan datar. Tanpa tersinggung. Tanpa reaksi berlebihan.

Lalu—

Ia kembali makan. Seolah-olah komentar itu… tidak layak ditanggapi.

"Menganggu sekali," gerutunya dalam hati.

Alden menyandarkan punggungnya, mengamati lebih serius.

Cara makannya rapi, tapi tidak lagi dibuat-buat. Tidak ada gerakan elegan berlebihan yang biasanya selalu ditampilkan.

Yang ada justru, efisien. Fokus. Seperti seseorang yang benar-benar menikmati makanan.

Alisnya berkerut tipis. "Aneh."

-

Setelah makan malam, Belvina langsung beranjak dari kursinya.

Tanpa menunggu. Tanpa menoleh. Ia berjalan meninggalkan meja makan. Langkahnya tenang. Tegas. Mantap.

Para pelayan diam-diam menatapnya.

Alden juga. Alis pria itu sedikit berkerut.

"Kenapa cara jalannya terasa berbeda?"

Biasanya, Belvina berjalan seperti model di atas catwalk. Terlalu dibuat-buat. Terlalu sadar diri.

Namun sekarang?

Tidak ada gaya berlebihan. Tidak ada usaha menarik perhatian. Hanya langkah lurus… tanpa ragu. Dan justru karena itu, ia terlihat lebih elegan.

Belvina masuk ke kamar. Pintu tertutup di belakangnya. Matanya langsung menyapu seisi ruangan.

Luas. Mewah. Terlalu rapi.

"Jadi ini kamarnya…"

Potongan-potongan ingatan Belvina yang asli mulai kembali. Seperti puzzle yang perlahan tersusun.

Letak lemari. Kamar mandi. Meja rias. Tempat-tempat yang tadi terasa asing, kini mulai terasa… dikenali.

Ia melangkah ke depan cermin. Berhenti. Menatap dirinya sendiri. Wajah itu, indah. Kulit mulus. Fitur sempurna. Tubuh proporsional.

Tidak ada yang kurang.

"Astaga..ini beneran wajahku sekarang?"

Ia menatap cermin tak berkedip. Tangannya terangkat mengusap dan menepuk pipinya sendiri. Memastikan ini bukan mimpi.

"Ini bukan mimpi. Aaa... Ya Tuhan.... Ini benar-benar cantik," pekiknya tak kuasa menahan bahagia.

Tapi, tatapannya turun. Ke pakaian. Lalu ke riasan wajahnya. Ia mengembuskan napas kasar.

“Terlalu berusaha…”

Makeup tebal. Pakaian mencolok. Semua terlalu… memaksa.

Bukannya terlihat anggun, justru seperti seseorang yang memohon untuk diperhatikan.

"Aku yakin wajahnya akan jauh lebih cantik jika gak pakai make-up kayak badut gini."

Ia masuk ke kamar mandi.

Air hangat memenuhi bathtub. Tubuhnya tenggelam perlahan. Otot-ototnya yang tegang mulai mengendur. Matanya terpejam sesaat.

“Enak sekali jadi orang kaya…” gumamnya pelan.

“Kamar mandi ini saja… empat kali lebih besar dari kontrakanku.”

Sudut bibirnya naik tipis. Ironis.

Beberapa menit kemudian, ia keluar dengan rambut basah dan bathrobe membalut tubuhnya.

Ia membuka lemari. Dan mendengus.

Deretan lingerie tergantung rapi di dalamnya. Tipis. Transparan. Nyaris tidak menutup apa-apa.

“Astaga…”

Ia meraih salah satunya. Mengangkatnya sedikit.

“Ini baju atau… saringan tahu?”

Ia menatapnya dengan ekspresi campuran antara tidak percaya dan geli, bahkan sedikit...jijik.

“Memalukan sekali…” gumamnya, lalu mengembalikannya.

Ia menyapu isi lemari dengan tatapan kritis. Gaun-gaun mewah. Warna mencolok. Potongan berani.

“Glamor semua…” Ia menghela napas panjang. “Sepertinya aku harus beli pakaian baru.”

Akhirnya, ia memilih satu gaun tidur yang paling “normal”.

Memakainya, lalu duduk di tepi ranjang. Tangannya meraih ponsel. Layarnya menyala.

“Kita lihat…” gumamnya pelan. “Berapa saldo rekeningnya.”

Beberapa detik tanpa suara. Lalu, matanya membesar.

“Ini… bercanda?”

Angka di layar itu, tidak masuk akal. Jauh. Terlalu jauh dari dunia yang ia kenal. Bahkan dalam mimpinya pun… tidak pernah membayangkan angka sebesar itu.

Napasnya tertahan. Tangannya sedikit gemetar.

“Ini… semua milikku sekarang?”

Lalu—

“Aku kaya.”

Kalimat itu keluar lebih pelan. Seolah ia sendiri masih mengujinya.

Detik berikutnya—

“Aku kaya!”

Tangannya langsung naik, memegang kedua pipinya. Kakinya menghentak pelan ke lantai, sekali… dua kali… lalu semakin cepat, seperti anak kecil yang tidak bisa menahan kegirangan.

“Gila…”

Ia menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Berusaha menenangkan diri, tapi sudut bibirnya sudah terlanjur terangkat.

Matanya kembali ke layar. Angka itu masih di sana. Tidak hilang. Tidak berubah.

Bukan mimpi.

Senyumnya melebar, kali ini tanpa ditahan.

“Kalau ini mimpi…” gumamnya lirih, “jangan bangunin aku.”

***

Sementara itu di kamar sebelah. Alden berdiri di depan cermin kamarnya. Rambutnya masih sedikit basah. Kemeja sudah diganti dengan piyama rapi. Namun pikirannya, tidak setenang penampilannya.

"Dia berubah."

Alisnya berkerut tipis.

"Trik baru?"

Sudut bibirnya terangkat samar.

“Main tarik ulur…” gumamnya pelan.

Masuk akal. Belvina bukan tipe yang menyerah. Kalau cara lama gagal, tentu dia akan mencoba cara lain.

Namun, tatapannya sedikit menggelap.

"Kalau ini akting… terlalu rapi."

Beberapa detik terasa sunyi.

Lalu ia berbalik. Langkahnya mantap saat keluar dari kamar. Tujuannya jelas.

BRAK—

Pintu kamar Belvina terbuka tanpa ketukan.

Belvina yang sedang duduk di tepi ranjang langsung tersentak. Kepalanya menoleh cepat.

Tatapannya tajam.

“Jangan masuk kamar orang sembarangan,” ucapnya dingin. “Ketuk dulu sebelum masuk.”

Alden berdiri di ambang pintu. Tidak bergerak. Tidak juga meminta maaf. Namun matanya, mengunci wanita di depannya.

Satu detik. Dua detik.

Biasanya, begitu ia muncul di pintu itu, Belvina akan langsung tersenyum lebar.

Buru-buru bangkit. Menghampiri. Seolah kehadirannya adalah hal paling dinantikan di dunia.

Tapi sekarang?

Tidak ada senyum. Tidak ada langkah mendekat. Tidak ada… apa pun. Yang ada-- Suara dingin. Tatapan tajam. Dan itu, jauh lebih mengganggu.

Alden melangkah masuk. Perlahan. Pintu di belakangnya tertutup.

Klik.

 

...✨“Perubahan paling berbahaya bukan yang terlihat… tapi yang tidak bisa dijelaskan.”...

...“Ketika perhatian berhenti, barulah rasa penasaran dimulai.”...

...“Kemiskinan mengajarkan bertahan. Kekayaan… menguji siapa kita sebenarnya.”...

...“Yang tidak bisa dibaca selalu lebih mengganggu daripada yang terang-terangan menentang.”✨...

.

To be continued

Terpopuler

Comments

anonim

anonim

Dina masuk ke kamar Belvina. Ketika di depan cermin, menatap dirinya - kaget memekik bahagia. Belvina cantik.

Dina yang tadinya mencari pekerjaan sulit, kini jadi orang kaya.

Mandi berendam di bathtub - kamar mandinya empat kali lebih besar dari kontrakannya.

Dina benar-benar menjadi orang kaya. Ketika melihat saldo rekening Belvina - matanya membesar.

2026-06-01

1

🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍

🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍

aduuhh Din untung jingkrak²nya pas Alden belum masuk ke kamarMu.🤭🤭

tapi ngomong² terus gimana raga Dina dan Ruh'nya Belvina ya, apa memang sudah di makamkan dan Ruhnya Belvina juga ikut terkubur ga akan balik lagi buat minta raganya.🤔

2026-07-29

1

Rhea Kim

Rhea Kim

benerrr dinaaa nikmati aja.... jadi kaya raya 😭🤣🤣🤣🤣

2026-07-25

1

lihat semua
Episodes
1 1. Ketika Takdir Memaksaku Menjadi Dia
2 2. Mulai Hari Ini, Bukan Belvina
3 3. Tidak Tertarik
4 4. Yang Tidak Bisa Ia Pahami
5 5. Di Luar Perhitungannya
6 6. Sesuatu yang Tidak Cocok
7 7. Dunia yang Terlalu Mahal
8 8. Ketenangan yang Mengganggu
9 9. Yang Tidak Bisa Dikendalikan
10 10. Jawaban yang Tidak Diberikan
11 11. Masuk ke Duniamu
12 12. Saat Dia Berhenti Peduli
13 13. Batas yang Tidak Pernah Disepakati
14 14. Aku Tidak Mengemis Cinta
15 15. Saat Ia Berhenti Memohon
16 16. Saat Kendali Tak Lagi di Tangannya
17 17. Ketika Ia Tak Lagi Menunggu
18 18. Istri Pajanganku Jadi Rebutan
19 19. Terlambat Menyadari
20 20. Rumah yang Pernah Menghinaku
21 21. Manis Sebelum Badai
22 22. Rumah yang Bukan Karena Aku
23 23. Tempat yang Dulu Kupilih
24 24. Jangan Coba Kabur Lagi
25 25. Pagi Setelah Kekacauan
26 26. Wajah yang Tak Ingin Dilihat
27 27. Wanita yang Tak Lagi Sama
28 28. Keyakinan Ganjil
29 29. Istriku Membajak Mobilku
30 30. Hari Saat Alden Turun Kasta
31 31. Satu Kamar, Dua Ego
32 32. Salah Tarik
33 33. Masalahku Kamu
34 34. Jangan Salahkan Aku
35 35. Bekas yang Sama
36 36. Komunikasi Pakai Gigi
37 37. Datang di Waktu yang Menarik
38 38. Perubahan yang Tidak Diinginkan
39 39. Yang Mulai Bergerak
40 40. Jarak yang Terlihat Dekat
41 41. Menolak Tapi Goyah
42 42. Semakin Menjauh, Semakin Ditarik
43 43. Di Antara Penolakan dan Kepemilikan
44 44. Di Balik Sikap Tenang
45 45. Saat Ia Memilih Pergi
46 46. Pelarian yang Sia-Sia
47 47. Bukan Lagi Tempat Aman
48 48. Saat Takdir Terulang
49 49. Sesuatu yang Tidak Ditulis
50 50. Novel yang Tidak Lengkap
51 51. Ruang di Antara Mereka
52 52. Kesempatan Kedua
53 53. Posisi yang Mulai Bergeser
54 54. Rumah yang Tak Lagi Dingin
55 55. Aku Tidak Memilih Dia
56 56. Bukan Karena Kasihan
57 57. Yang Mulai Terlihat
58 58. Saat Kau Mulai Melihatku
59 59. Di Sisi Alden
60 60. Pagi dalam Pelukan Musuh
61 61. Dalam Jangkauan Mataku
62 62. Yang Mulai Kehilangan Kendali
63 63. Harapan yang Mulai Tumbuh
64 64. Harapan yang Mulai Mengikat
65 65. Janji Seorang Ayah
66 66. Perlahan Menjadi Rumah
67 67. Antara Takut dan Percaya
68 68. Janji dan Detak Jantung
69 69. Awal Kehilangannya
70 70. Utang yang Telah Lunas
71 71. Alasan untuk Pulang
72 72. Persetujuan yang Mencurigakan
73 73. Saat Kepercayaan Berpindah
74 74. Rumor Lama
75 75. Sebuah Pengakuan Tanpa Kata
76 76. Saat Aku Mulai Mempercayaimu
77 77. Kepercayaan yang Rapuh
78 78. Lebih Berharga dari Harta
79 79. Harga Sebuah Kepercayaan
80 80. Batas yang Jelas
81 81. Wanita yang Dipilih
82 82. Peringatan Terakhir
83 83. Saat Ancaman Menjadi Nyata
84 84. Pahlawan Palsu
85 85. Ketika Topeng Runtuh
86 86. Putusnya Semua Ikatan
87 87. Satu Langkah ke Dalam Perangkap
88 88. Perlombaan Melawan Waktu
89 89. Tak Ada Jalan Kembali
90 90. Harga Sebuah Obsesi
91 91. Selamat, Tapi Belum Aman
92 92. Akhir Sebuah Obsesi
93 93. Keluarga yang Akhirnya Kumiliki
94 94. Kebahagiaan Sebelum Babak Terakhir
95 95 Semalam Tanpa Alden
96 96. Tak Lagi Saling Menjauh
97 97. Akhir Sebuah Obsesi
98 98. Akhir dari Penantian
99 99. Karya Baru
100 100. Kembali Menjadi Rumah
Episodes

Updated 100 Episodes

1
1. Ketika Takdir Memaksaku Menjadi Dia
2
2. Mulai Hari Ini, Bukan Belvina
3
3. Tidak Tertarik
4
4. Yang Tidak Bisa Ia Pahami
5
5. Di Luar Perhitungannya
6
6. Sesuatu yang Tidak Cocok
7
7. Dunia yang Terlalu Mahal
8
8. Ketenangan yang Mengganggu
9
9. Yang Tidak Bisa Dikendalikan
10
10. Jawaban yang Tidak Diberikan
11
11. Masuk ke Duniamu
12
12. Saat Dia Berhenti Peduli
13
13. Batas yang Tidak Pernah Disepakati
14
14. Aku Tidak Mengemis Cinta
15
15. Saat Ia Berhenti Memohon
16
16. Saat Kendali Tak Lagi di Tangannya
17
17. Ketika Ia Tak Lagi Menunggu
18
18. Istri Pajanganku Jadi Rebutan
19
19. Terlambat Menyadari
20
20. Rumah yang Pernah Menghinaku
21
21. Manis Sebelum Badai
22
22. Rumah yang Bukan Karena Aku
23
23. Tempat yang Dulu Kupilih
24
24. Jangan Coba Kabur Lagi
25
25. Pagi Setelah Kekacauan
26
26. Wajah yang Tak Ingin Dilihat
27
27. Wanita yang Tak Lagi Sama
28
28. Keyakinan Ganjil
29
29. Istriku Membajak Mobilku
30
30. Hari Saat Alden Turun Kasta
31
31. Satu Kamar, Dua Ego
32
32. Salah Tarik
33
33. Masalahku Kamu
34
34. Jangan Salahkan Aku
35
35. Bekas yang Sama
36
36. Komunikasi Pakai Gigi
37
37. Datang di Waktu yang Menarik
38
38. Perubahan yang Tidak Diinginkan
39
39. Yang Mulai Bergerak
40
40. Jarak yang Terlihat Dekat
41
41. Menolak Tapi Goyah
42
42. Semakin Menjauh, Semakin Ditarik
43
43. Di Antara Penolakan dan Kepemilikan
44
44. Di Balik Sikap Tenang
45
45. Saat Ia Memilih Pergi
46
46. Pelarian yang Sia-Sia
47
47. Bukan Lagi Tempat Aman
48
48. Saat Takdir Terulang
49
49. Sesuatu yang Tidak Ditulis
50
50. Novel yang Tidak Lengkap
51
51. Ruang di Antara Mereka
52
52. Kesempatan Kedua
53
53. Posisi yang Mulai Bergeser
54
54. Rumah yang Tak Lagi Dingin
55
55. Aku Tidak Memilih Dia
56
56. Bukan Karena Kasihan
57
57. Yang Mulai Terlihat
58
58. Saat Kau Mulai Melihatku
59
59. Di Sisi Alden
60
60. Pagi dalam Pelukan Musuh
61
61. Dalam Jangkauan Mataku
62
62. Yang Mulai Kehilangan Kendali
63
63. Harapan yang Mulai Tumbuh
64
64. Harapan yang Mulai Mengikat
65
65. Janji Seorang Ayah
66
66. Perlahan Menjadi Rumah
67
67. Antara Takut dan Percaya
68
68. Janji dan Detak Jantung
69
69. Awal Kehilangannya
70
70. Utang yang Telah Lunas
71
71. Alasan untuk Pulang
72
72. Persetujuan yang Mencurigakan
73
73. Saat Kepercayaan Berpindah
74
74. Rumor Lama
75
75. Sebuah Pengakuan Tanpa Kata
76
76. Saat Aku Mulai Mempercayaimu
77
77. Kepercayaan yang Rapuh
78
78. Lebih Berharga dari Harta
79
79. Harga Sebuah Kepercayaan
80
80. Batas yang Jelas
81
81. Wanita yang Dipilih
82
82. Peringatan Terakhir
83
83. Saat Ancaman Menjadi Nyata
84
84. Pahlawan Palsu
85
85. Ketika Topeng Runtuh
86
86. Putusnya Semua Ikatan
87
87. Satu Langkah ke Dalam Perangkap
88
88. Perlombaan Melawan Waktu
89
89. Tak Ada Jalan Kembali
90
90. Harga Sebuah Obsesi
91
91. Selamat, Tapi Belum Aman
92
92. Akhir Sebuah Obsesi
93
93. Keluarga yang Akhirnya Kumiliki
94
94. Kebahagiaan Sebelum Babak Terakhir
95
95 Semalam Tanpa Alden
96
96. Tak Lagi Saling Menjauh
97
97. Akhir Sebuah Obsesi
98
98. Akhir dari Penantian
99
99. Karya Baru
100
100. Kembali Menjadi Rumah

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!