Niat awal datang ke kota yang sering sekali Sella kunjungi, hanya ingin mencari baju baru, ataupun melihat-lihat bangunan tinggi nan cantik itu. Akan tetapi sebuah pesan singkat dari seseorang, mengharuskan Sella menunda keinginannya.
"Jika pun aku kesal, tapi aku tidak bisa menolaknya."
Diam menyunggingkan senyum, berjalan beriringan dengan seseorang yang kini membalikkan tubuh untuk melangkah mundur, agar jelas melihat wajah cantik milik Sella. Tapi hal itu malah membuat Sella membuang napas pendek, akan tingkah konyol yang di lakukan temannya saat ini.
"Berjalanlah dengan benar, agar kau tidak jatuh." Pinta Sella yang benar-benar di abaikan oleh pria tampan itu.
"Kau pasti akan langsung menolong ku. Karena kau bukan tipe orang yang mengabaikan orang begitu saja. Apalagi__ jika orang itu sangat butuh bantuan mu." Tanpa ragu kalimat itu keluar dari mulut sang pria.
Tirtha Anreyasatria, pria tampan dermawan yang penuh wibawa mengerikan saat kedua bola mata hitam pekat itu bertemu dengan manik mahoni milik siapapun. Tapi saat beradu argumen bersama wanita cantik di hadapannya, Tirtha langsung merubah sorot matanya penuh ketulusan, kehangatan yang tidak semua orang dapatkan.
Ingat!! Mereka berdua hanya teman, tidak lebih dari itu. Karena Tirtha sendiri juga harus menjaga perasaan tetangga atas rumahnya yang mungkin saat ini tengah berbaring di atas kasur.
"Tapi tidak untuk kali ini Tirtha. Aku akan mengabaikan mu." Balas Sella, melangkah lebih cepat dari sebelumnya. Meninggalkan Tirtha yang kembali tersenyum, sebelum merubah posisi berjalannya untuk menjajarkan kedua kakinya dengan milik Sella.
"Jika kau mengabaikan ku, kau tidak akan datang menemui ku saat ini. Bukankah seperti itu?" Goda Tirtha yang memang senang menjahili Sella. Apalagi jika tetangga ada di sekitar mereka. Tapi sayangnya__ orang itu tidak ada disini.
"Aku datang ke kota ini tidak hanya sekali, tapi berulang kali. Hari ini aku berniat ingin shoping, merilekskan pikiran ku. Tapi kau malah melihat ku. Mau tidak mau, aku harus menemui mu, bukan?" Senyum kecil yang terlukis di wajah Sella, sebentar menoleh ke samping untuk melihat wajah Tirtha. Itu membuat Tirtha semakin sulit menyembunyikan lengkungan sempurna di mimik wajahnya.
Kepala Tirtha mengangguk, dan Tirtha juga tidak bisa membantah apa yang baru saja menyapa pendengarannya. Karena Tirtha tidak mau mendatangkan suasana tidak nyaman dibenak Sella. Dan akhirnya, Tirtha memilih untuk mencari topik lain, agar Sella bertahan lebih sedikit lebih lama lagi bersamanya hari ini.
"Kau ingin makan?" Tawar Tirtha sembari memelankan langkah kakinya, terhenti tepat di depan bistro yang belum pernah Sella kunjungi sebelumnya.
Tidak langsung memberi balasan, kedua mata Sella melihat ke arah bangunan sederhana di antara beberapa bangunan tinggi di sisi kanan dan kiri. "Aku tidak begitu lapar. Tapi aku akan menemani mu makan."
Tirtha yang mendengar penuturan dari Sella, hanya mengangguk kecil tanpa melunturkan senyumannya. Sebelum melangkah masuk lebih dulu ke dalam bistro, yang diikuti oleh Sella tanpa ragu. Karena Sella yakin, jika Tirtha tidak akan mengajaknya masuk ke tempat yang mahal harganya.
Jika pun tempat itu sangat sederhana, tapi mereka memiliki pengunjung yang tidak sedikit. Hal itu membuat Sella sadar, jika kenyamanan itu memang harus di prioritaskan. Seperti bistro yang Sella kunjungi hari ini .. benar-benar sangat nyaman. Rasanya Sella ingin berkunjung setiap hari. Tapi sepertinya itu sangat mustahil.
Bukan Tirtha namanya jika pria itu hanya memesan satu porsi untuk dirinya sendiri. Karena Tirtha tidak mau terlihat seperti pria yang mementingkan perutnya sendiri. Tanpa peduli jika kini Tirtha mendapat tatapan tidak sudah dari Sella.
"Bukankah aku sudah bilang padamu, jika aku tidak lapar sama sekali." Cetus Sella terdengar sangat rendah di telinga Tirtha.
"Aku dengar. Dan aku tidak mau kau hanya menemani ku, aku juga ingin aku makan. Entah nanti, kau akan menghabiskannya atau tidak itu terserah mu. Tapi yang jelas, jika saat makan bersama ku kau juga harus makan." Kalimat yang keluar dari mulut Tirtha memang sangat sederhana tapi setiap kata yang terucap sedikit terselip penekanan mendalam.
"Kau tidak berubah sama sekali. Kau selalu memberi makan teman-teman saat bersama mu." Pasrah Sella. Menyandarkan tubuhnya dengan napas pendek, pandangan melihat sekitar yang benar-benar masih asing di penglihatan Sella. Membiarkan Tirtha yang kini mulai sibuk dengan poselnya itu.
Sampai makanan yang di pesan Tirtha tiba di depan mata mereka, spontan tersenyum pada pelayan muda yang sungguh menarik perhatian Sella. Dan bukan berarti Sella menyimpan rasa kepada pria muda itu.
"Terima kasih." Ucap Sella yang hanya mendapat anggukkan kecil dari sang pelayan, dan senyum menawannya.
"Ada apa?" Tanya Tirtha melihat Sella, sebelum menoleh ke belakang untuk mengikuti arah pandang Sella sebentar. Dan kembali pada wanita cantik di depan matanya saat ini.
"Bukan apa-apa." Balas Sella tersenyum kecil.
"Kau mengenalnya?" Rasa ingin tahu itu semakin tinggi di jiwa Tirtha, kini muali menyumpal mulutnya. Karena perutnya sendari tadi minta untuk diisi.
"Tidak!!" Ucap Sella dengan gelengan kecil dari kepalanya. "Hanya saja-- sangat di sayangkan, wajah setampan itu menjadi pelayan di tempat ini. Seharusnya dia memanfaatkan wajahnya__"
Seketika Sella diam menutup mulutnya, karena sadar dengan apa yang baru saja Sella lontarkan. Tidak seharusnya Sella mengatakan hal itu, karena jalan hidup Sella juga tidak semulus jalan raya.
"Kenapa?" Kening Tirtha mengerut sama, menatap Sella dengan sorot mata khawatir, karena wanita itu tiba-tiba diam tidak menuntaskan perkataannya.
"Seharusnya aku tidak memberinya komentar, bukan?" Senyum nanar tercetak jelas di wajah Sella. Benar-benar merasa bersalah, dan tidak enak sendiri.
Tirtha menegak minumannya terlebih dahulu sebelum memberi balasan. "Hal itu sangat wajar. Dan kau pun juga tidak perlu merasa bersalah."
Diam sejenak, Tirtha menelan ludahnya. Beralih pada pelayan pria muda yang di maksud oleh Sella. "Benar apa yang kau katakan, seharusnya dia memanfaatkan wajahnya. Jika aku memberinya tawaran untuk bergabung di perusahaan ku, apa dia akan menerimanya?"
Kedua mata Tirta yang bertemu dengan milik Sella. Wanita itu hanya bisa bergumam secara spontan, karena tahu maksud di balik perkataan Tirtha. Apalagi lengkungan sempurna penuh arti itu membuat Sella kembali tersenyum nanar.
"Bagaimana? Apa yang kau lakukan di rumah kali ini?" Pertanyaan tidak terduga dari Tirtha, yang tidak lagi membuat Sella merasa heran ataupun terkejut.
"Tidur." Dengan asal Sella memberi sahutan. "Karena aku harus melakukannya, agar jiwaku tidak lelah."
"Apa kau tidak bosan melakukan hal itu setiap hari?" Bukan Tirtha namanya jika memilih jalan untuk menyerang, karena sulit mendapatkan wanita seperti Sella.
"Bosan itu pasti ada, tapi aku sangat-sangat menyukainya." Begitu riang dan senang hati, Sella melontarkan perkataannya, yang masih juga belum membuat Tirtha merasa bosan dengan sikap Sella.
"Benarkah??" Sebentar jari telunjuk tangan kanan Tirtha mengusap ujung hidungnya yang merasa gatal tanpa sebab. "Apa kau tidak ada niatan bergabung dengan perusahaan ku? Karena aku benar-benar membutuhkan teman untuk mengoperasikannya."
"Perusahaan mana yang kau maksud?" Tidak begitu cepat Sella menampilkan perkataannya.
"Aku sudah mengatakannya padamu bukan? Jika aku akan mengelola perusahaan ayah ku. Dan saat ini aku benar-benar butuh teman, agar semuanya berjalan tanpa hambatan." Mungkin kalimat yang dicetuskan Tirtha terdengar sedikit ambigu. Tapi hal itu dapat Sella mengerti tanpa banyak tanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 81 Episodes
Comments
Elva Evoot
semangat kak, di tunggu bab selanjutnya
2026-04-11
1
Shood
apakah itu gorengan kk 😭
2026-04-21
1
brooklyn bebé
semangat kakk,aku tunggu kelanjutan dari cerita ini!!😍
2026-04-12
2