Penampakan

Belum sempat Alawiyah kembali meneruskan kalimatnya, Kang Ojek menghentikan kendaraannya.

Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan, akhirnya mereka tiba disebuah pintu gerbang yang terbuat dari tumpukan batu dan tidak ada nama desa tersebut.

"Kang, ini beneran desanya?"Alawiyah turun dari ojek yang membawanya. Ditangan kanannya ia menarik koper.

"Kan—desa Getih yang dilereng Gunung Kawi, ya ini." pria itu kembali menekan ucapannya.

"Ya, sudah. Berapa ongkosnya, Kang?"

"Seratus ribu saja,"

Tak ingin berdebat, Alawiyah membuka dompetnya, lalu menyerahkan uang tersebut kepada kang ojek.

Pria tampak melirik kearah rumah warga yang memiliki bangunan cukup luas dan juga mewah.

"Hiiih!" pria itu bergidik ngeri, lalu tancap gas, dan menuju pulang dari arah yang berlawanan.

Alawiyah kembali bingung dengan sikap yang ditunjukkan oleh pria tersebut. "Aneh," gumamnya lirih, sembari menatap kepergian pria tersebut.

"Doain kita segera ketemu sama ayahmu, ya, Nak." bisiknya dengan lembut, sembari mengusap perutnya yang membuncit.

Ia menghela nafasnya dengan berat, lalu menatap gerbang tanpa nama itu dengan perasaan yang tak nyaman.

Entah aura apa yang datang, ia merasakan bulu kuduknya meremang, serta suara-suara samar yang seolah memanggil namanya.

Bahkan ia merasa jika terdapat banyak pasang mata sedang memperhatikannya.

"Perasaanku kenapa gak enak—ya?" Alawiyah menyapu tengkuknya, dan desiran-desiran dialiran darahnya seolah berpacu cukup kencang.

Tatapan masih menyapu setiap rumah yang ada di sepanjang jalanan desa.

Rasa takjub, dan juga merasa penasaran membuatnya berdecak heran.

"Katanya desa terisolasi, tetapi kenapa rumah-rumah mereka sangat mewah?" Alawiyah merasa bingung dengan kondisi yang tidak sesuai ekspektasinya.

Sebab Kang Ojek mengatakan desa terisolasi, maka dalam bayangannya adalah desa dengan kehidupan yang cukup memprihatikan, dan rumah-rumah yang berdinding reot.

Tetapi tidak bagi Desa Getih, dimana rumah-rumah warga cukup mewah, bangunan gedung bertingkat hampir menyeluruh rumah dan itu yang berada ditepian jalan, serta mobil semua warga memilikinya.

Alawiyah melangkahkan kakinya memasuki gerbang. Ia ingin bertanya, tetapi pada siapa? Sebab tidak mungkin mengetuk pintu rumah pagar.

Wuuuuuussh

Desiran angin menyapanya, dan membuat bulu kuduknya kembali meremang.

"Alawiyah, pergi, pergilah, jangan masuk desa ini," sebuah bisikan yang seolah begitu jelas ditelinganya, tetapi tidak berwujud.

"Astaghfirullah," ia terkejut dengan bisikan tersebut. Jantungnya berdegub lebih kencang, dan membuatnya memegangi dada kirinya.

Ia mencari siapa yang berbisik padanya, tetapi tak ia temukan, semua terasa sepi.

"Mungkin hanya halusinasiku saja," ia menepis semua keraguan yang datang mengingatkannya.

Ia menghela dengan berat, lalu memaksakan tekadnya untuk masuk ke dalam, dan bertanya pada siapa saja nanti yang ditemuinya dijalan. Ia mengingat, jika nama ibu mertuanya adalah Ratih.

"Alawiyah, pergi, pergi selamatkan bayimu dan juga nyawamu!" bisikan itu semakin bergema ditelinganya, membuat ia dilema , sebab ia harus mencari suaminya.

Ia yang mendengar suara seruan tak berwujud itu langsung menutup telinganya dan melanjutkan perjalanannya.

Baru saja ia melangkah memasuki pintu gerbang. Ia harus syok dengan apa yang disaksikan.

"Hah!" tiba-tiba ia dikejutkan oleh penampakan aneh diatas genteng warga, dimana seekor kera dengan kepala manusia tampak bertengger disana.

 "Astaghfirullah!" pekiknya dengan rasa keterkejutan, saat menyaksikan kejanggalan yang dilihatnya. Ia meneoan salivanya, seolah semua itu membuatnya seperti dehidrasi.

Jantungnya berdegub kencang, dan ia mencoba mengedipkan kedua matanya, menganggap jika apa yang dilihatnya hanyalah sebuah ilusi belaka.

"Apa aku salah lihat—Ya?" ia kembali bergumam, lalu melihat ke atas genteng itu lagi.

Alih-alih hanya sebuah ilusi, tetapi ia masih tetap melihat wujud Kera berkepala manusia tersebut.

"Jadi, ini semua beneran ada?" ia bertanya pada dirinya sendiri, dan masih dalam tatapan rasa takut, sosok Kera berkepala manusia itu menatapnya dengan wajah sangat dingin, dan tampak bulir bening jatuh disudut matanya, entah apa yang membuatnya tampak begitu sedih.

"Kenapa setannya jadi mellow?" Alawiyah merasa bingung, apakah ia harus takut, atau mesti kasihan pada sosok tersebut.

Perlahan perutnya mendadak keram, mungkin disebabkan ia terlalu jauh menempuh perjalanan.

"Astaghfirullah ... Sakit banget," Alawiyah mengeluh sakit, ia mencari tempat untuk dijadikannya beristirahat sejenak, dan keringat dingin mulai mengalir disudut pelipisnya.

Nafasnya mulai terasa berat, janin didalam perutnya tampak menendang-nendang dengan gerakan yang halus.

Ia mengalihkan pandangannya ke sisi kanan, terlihat rumah berlantai tiga yang tak kalah megahnya, dan digarasi yang pintunya terbuka, terlihat tiga buah mobil mewah berjejer dengan menampilkan kemewahan duniawi.

"Kok bisa ada, ya? Desa terisolasi, tetapi penduduknya sangat kaya raya?" Alawiyah tampak takjub. Tetapi—lagi ada bisikan yang datang, mengharuskannya untuk pergi.

Baru saja ia merasa kagum, kini ia kembali dikejutkan dengan penampakan yang tak kalah menyeramkan dari rumah disisi kiri, dimana sosok makhluk setengah ular melingkar diatas salah satu mobil mewah tersebut.

"Astaghfirullah," Alawiyah kembali terpekik, dan wajahnya memucat, semakin lama ia melihat rumah-rumah mewah warga, semakin membuatnya merasakan sakit dan keram dibagian perutnya.

"Mengapa rumah mewah mereka dihuni berbagai makhluk mengerikan?" Alawiyah semakin bingung, dan niatnya ingin beristirahat, terpaksa ia urungkan, dan memilih melanjutkan perjalanannya.

"Aduuh, perutku sakit banget," rintihnya dengan wajah menahan sakit. Langkahnya tertatih. Tetapi ia tidak berani sekedar untuk bertanya dimana rumah Bayu—suaminya, pada warga pemilik rumah mewah.

Ia mengedarkan pandangannya ke arah jalan, berharap ada yang melintas, sebab rumah-rumah mewah itu berpagar semuanya, seolah saling berlomba, siapa diantara mereka yang paling kaya.

Wajahnya semakin pucat, dan janin dalam kandungannya terys saja aktif, seolah merasakan sesuatu yang tak wajar.

"Nak, jangan nakal—ya. Ibu harus ketemu rumah ayahmu, kita harus kumpul kembali," Alawiyah mengusap perutnya yang menegang.

"Mas Bayu. Kamu dimana—sih? Apakah kamu tidak merasakan getaran yang sama, tentang arti kerinduan, dari aku adan juga anakmu," Alawiyah merasakan dadanya semakin sesak. Ada gejolak emosi yang terpaksa ia keluarkan.

Bulir bening jatuh sudut dimatanya. Ia merasa jika dirinya sangat rapuh, dan bertemu dengan Bayu adalah harapan yang sedang ia bangun.

Tanpa sadar, ia tersedu. Ia tidak tahu, apakah langkahnya salah, tetapi ia berharap, jika semua ini adalah gerak yang dituntun oleh Sang Maha Kuasa.

Wuuuuussh

Desiran angin kembali berdesir, dan menghantarkan aroma yang cukup beragam.

Dari bau amis dan anyir darah, bau bangkai, bau Tai kering, bahkan aroma melati, dan bau busuk berpadu menjadi satu.

Terpopuler

Comments

kinoy

kinoy

tumbal siluman kera deh kyknya

2026-03-26

2

Shankara Senja

Shankara Senja

ngeyel...alawiyah di jabarkan orangnya taat agama ga sih..ta ga nyalahin dia klo nyati susminya..tp pake perhitungan yg matang..ga kasian sm calon bayinya..

2026-04-28

0

Desyi Alawiyah

Desyi Alawiyah

Halo Kak, selamat atas launching karya barunya.. Semoga banyak yang suka yah dan ceritanya menarik... 😇

2026-03-27

2

lihat semua
Episodes
1 Awal
2 Penampakan
3 Mbok Ratih
4 Novita
5 Sentuhan
6 Sentuhan-2
7 Sikap Misterius
8 Sosok
9 Wajah Pucat
10 Merasa Heran
11 Desa Tanpa Suara Adzan
12 Di Geruduk
13 Tatapan Novita
14 Hantaran
15 Hantaran-2
16 Tragedi Mangga
17 Rundingan
18 Jasad Ratna
19 Jasad Ratna—2
20 Jasad Ratna—3
21 Sosok Itu
22 Membenci
23 Tawaran
24 Juminten
25 Menyapa
26 Tejo
27 Air Mata Tejo
28 Bertemu
29 Bau
30 Suara Tangisnya
31 Aroma Mencurigakan
32 Perlawanan
33 Panci
34 Suitan
35 Sesuatu
36 Pertemuan
37 Pertemuan—2
38 Pertemuan—3
39 Jasad Gina dan Juminten
40 Rini
41 Rini—2
42 Tumbal
43 Jejak
44 Jejak—2
45 Jiwa Hana
46 Jiwa Hana
47 Barter
48 Kaget
49 Dendam Ki Priyono
50 Draft
51 Pilihan Jono
52 Dzikir Mengguncang Getih
53 Demo
54 Juragan Tresno
55 Fitnah
56 Rapat Darurat
57 Kegaduhan
58 May Day di Kediaman Ki Priyono
59 Wadah
60 Fitnah
61 Fitnah—2
62 Fitnah—3
63 Fitnah—4
64 Balasan
65 Balasan—2
66 Tujuh Panggung Demit
67 Nawang Wulan
68 Perang Bathin Bagas
69 Bagas—2
70 Malam
71 Subuh Di Rumah Ratih
72 Linda
73 Linda—2
74 Menyerang
75 Serangan—2
76 Linda—4
77 Keresahan
78 Panik
79 Kepanikan
80 Kepanikan—2
81 Kepanikan —3
82 Chaos Di Bukit Angker
83 Nyai Kembang Murka
84 Pimpinan Baru
85 Menyerang Linda
86 Perjuangan Nawang Wulan
87 Perjuangan Nawang Wulan-2
88 Serangan Di Rumah Bayu
89 Terpecah Belah
90 Akibat Pemutusan
91 Paduka Pocong
92 Malam Berdarah
93 Tarung
94 Amukan Surti
95 Petaka
96 Air Mata
97 Dia
98 Gugup Untuk Pertama Kalinya
99 Alawiyah?
100 Bisik-Bisik
101 Suketi
102 Suketi-2
103 Panggung Demit Ayu Keempat
104 Pedati
105 Pengintai
106 Ke Bukit Angker
107 Hati
108 Di Bukit Angker
109 Retak
110 Adzan Pertama
111 Ikrar Di Gerbang Desa
112 Mimpi Berulang
113 Wajah Misterius
114 Wajah Di Balik Mukena
115 Pengintai Di Balik Kabut
116 Sang Peneror
117 Rapat Dadakan
118 Serangan Licik
119 Serangan Licik—2
120 Rasa Yang Berbeda
121 Omelan Wowo
122 Gangguan Proyek
123 Hati Yang Hampa
124 Dia
125 Sang Sundel
126 Perasaan
127 Jalan Sesat
128 Jalan Sesat—2
129 Racun Yang Menyebar
130 Clara
131 Sendang Puteri
132 Darah Penyeimbang
133 Cemburu
134 Darah Lain
135 Bangkit
136 Gadis Itu
137 Serangan Banaspati
138 Tidak Surut
139 Serangan Gagak
140 Berpindah Tempat
141 Aura Yang Berbeda
142 Seseorang
143 Umpan Darah
144 Tumbal Darah
145 Asap Yang Padam
146 Alawiyah
147 Pamit Ke Kota
148 Keluarga Clara
149 Pernikahan
150 Malam Pengantin
Episodes

Updated 150 Episodes

1
Awal
2
Penampakan
3
Mbok Ratih
4
Novita
5
Sentuhan
6
Sentuhan-2
7
Sikap Misterius
8
Sosok
9
Wajah Pucat
10
Merasa Heran
11
Desa Tanpa Suara Adzan
12
Di Geruduk
13
Tatapan Novita
14
Hantaran
15
Hantaran-2
16
Tragedi Mangga
17
Rundingan
18
Jasad Ratna
19
Jasad Ratna—2
20
Jasad Ratna—3
21
Sosok Itu
22
Membenci
23
Tawaran
24
Juminten
25
Menyapa
26
Tejo
27
Air Mata Tejo
28
Bertemu
29
Bau
30
Suara Tangisnya
31
Aroma Mencurigakan
32
Perlawanan
33
Panci
34
Suitan
35
Sesuatu
36
Pertemuan
37
Pertemuan—2
38
Pertemuan—3
39
Jasad Gina dan Juminten
40
Rini
41
Rini—2
42
Tumbal
43
Jejak
44
Jejak—2
45
Jiwa Hana
46
Jiwa Hana
47
Barter
48
Kaget
49
Dendam Ki Priyono
50
Draft
51
Pilihan Jono
52
Dzikir Mengguncang Getih
53
Demo
54
Juragan Tresno
55
Fitnah
56
Rapat Darurat
57
Kegaduhan
58
May Day di Kediaman Ki Priyono
59
Wadah
60
Fitnah
61
Fitnah—2
62
Fitnah—3
63
Fitnah—4
64
Balasan
65
Balasan—2
66
Tujuh Panggung Demit
67
Nawang Wulan
68
Perang Bathin Bagas
69
Bagas—2
70
Malam
71
Subuh Di Rumah Ratih
72
Linda
73
Linda—2
74
Menyerang
75
Serangan—2
76
Linda—4
77
Keresahan
78
Panik
79
Kepanikan
80
Kepanikan—2
81
Kepanikan —3
82
Chaos Di Bukit Angker
83
Nyai Kembang Murka
84
Pimpinan Baru
85
Menyerang Linda
86
Perjuangan Nawang Wulan
87
Perjuangan Nawang Wulan-2
88
Serangan Di Rumah Bayu
89
Terpecah Belah
90
Akibat Pemutusan
91
Paduka Pocong
92
Malam Berdarah
93
Tarung
94
Amukan Surti
95
Petaka
96
Air Mata
97
Dia
98
Gugup Untuk Pertama Kalinya
99
Alawiyah?
100
Bisik-Bisik
101
Suketi
102
Suketi-2
103
Panggung Demit Ayu Keempat
104
Pedati
105
Pengintai
106
Ke Bukit Angker
107
Hati
108
Di Bukit Angker
109
Retak
110
Adzan Pertama
111
Ikrar Di Gerbang Desa
112
Mimpi Berulang
113
Wajah Misterius
114
Wajah Di Balik Mukena
115
Pengintai Di Balik Kabut
116
Sang Peneror
117
Rapat Dadakan
118
Serangan Licik
119
Serangan Licik—2
120
Rasa Yang Berbeda
121
Omelan Wowo
122
Gangguan Proyek
123
Hati Yang Hampa
124
Dia
125
Sang Sundel
126
Perasaan
127
Jalan Sesat
128
Jalan Sesat—2
129
Racun Yang Menyebar
130
Clara
131
Sendang Puteri
132
Darah Penyeimbang
133
Cemburu
134
Darah Lain
135
Bangkit
136
Gadis Itu
137
Serangan Banaspati
138
Tidak Surut
139
Serangan Gagak
140
Berpindah Tempat
141
Aura Yang Berbeda
142
Seseorang
143
Umpan Darah
144
Tumbal Darah
145
Asap Yang Padam
146
Alawiyah
147
Pamit Ke Kota
148
Keluarga Clara
149
Pernikahan
150
Malam Pengantin

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!