Novita

Alawiyah yang berdiri tepat dibagian barisan depan, diam membeku. Ia berusaha mengumpulkan sisa tenaganya dan suaranya seperti tercekat ditenggorokan.

"Mas Bayu!" pekik Alawiyah, akhirnya kalimat itu meluncur dari mulutnya.

Ia memastikan, jika itu adalah suaminya, saat melihat siapa yang terbaring diatas sebuah tikar dengan kasur yang melepek.

Teriakannya membuat orang-orang menoleh ke arahnya. Merasa penasaran tentang siapa yang sedang berteriak menyebut nama pria itu, dan—tentunya dengan perut yang membuncit.

Novita yang ikut mendengarnya, berubah drastis rona wajahnya. Apalagi saat melihat Alawiyah duduk bersimpuh disisi kiri Bayu.

"Mas, Mas Bayu. Bangunlah. Ini aku, Mas. Aku datang sengaja mencarimu, tetapi kenapa kondsimu seperti ini" cecaran pertanyaan yang tak dapat dijawab satupun oleh Bayu.

Alawiyah terisak, bahkan ia tak peduli dengan tatapan keheranan dari para warga, termasuk Ratih sang pemilik rumah.

"K—Kamu siapa?" Ratih terlihat bingung, dengan wanita muda yang ada dihadapannya.

Alawiyah mengangkat wajahnya, ia mengusap bulir bening yang jatuh disudut matanya, hatinya hancur, sebab melihat kondisi suaminya yang sangat miris.

"Saya istrinya, dan Mas Bayu pergi pulang kampung, janji mau balik lagi ke kota," ucapannya tergantung ditenggorokannya.

Ia mengusap ingus yang keluar dari hidungnya, lalu melanjutkan kembali kalimatnya. "Tetapi tidak ada kabar, dan saya memutuskan untuk mencarinya, sesuai alamat yang pernah ia sebutkan," Alawiyah menjelaskan siapa dirinya.

"A—Apa? Kamu istri Bayu? Kenapa dia tidak pernah cerita kalau sudah menikah?" Ratih tampak terkejut, dan menatap wajah wanita muda yang tak lain adalah menantunya.

Tak hanya Alawiyah, bahkan Novita juga merasa seperti syok saat mendengarnya. Ia memilih berjalan mundur, dan meninggalkan rumah Ratih yang dipenuhi hal sangat rancu.

Alawiyah juga bingung untuk menjawabnya. Sebab selama menikah dengan Bayu, ia tak pernah dikenalkan sekalipun dengan anggota keluarganya.

"Si Mbok siapanya Mas Bayu?" kali ini, Alawiyah balik bertanya.

"Kamu menantuku," jawab Ratih datar, wajahnya tak menggambarkan sedikitpun rasa bahagia, saat melihat kedatangan menantu yang membawa sekaligus calon cucu.

Sontak saja, peristiwa itu mendapat perhatian dari para warga yang berada diruangan tersebut.

"Mbok?" Alawiyah mengulurkan tangannya, dan menyalim tangan wanita tersebut. Ia sangat bahagia, sebab akhirnya bertemu dengan ibu mertuanya.

Ratih menyambutnya dengan wajah datar, dan bergegas melepaskannya.

Tentu saja itu berbeda dengan ekspektasi Alawiyah, yang berharap mendapatkan sambutan hangat, namun semua berbanding terbalik.

Diantara para tetangga, hampir semua diantaranya mereka sedang menatap perut Alawiyah yang membuncit cukup besar, dan tatapan mereka terlihat begitu sangat dalam dan juga dingin, membuat ia langsung bergidik ngeri.

"Siapa nama—?" tanya Pak Tresno.

"Maaf, tolong panggilkan Ki Priyono, cepat," potong Ratih dengan cepat, seolah tak memberi kesempatan pada Alawiyah untuk menyebutkan namanya.

"Nduk, kamu masuk ke kamar dulu, jangan keluar sebelum Mbok panggil. Kamu istirahat. Kamar Bayu sebelah sana." Ratih meminta Alawiyah untuk segera masuk ke dalam kamar.

Meskipun saat tadi sikapnya dingin, tapi kali ini, ia terlihat sangat tegas, dan tak memberi kesempatan Alawiyah untuk membantah

"Tapi Mas—"

"Biar Mbok yang menangani," potong Ratih dengan tatapan perintah, dan sedikit tajam, membuat Alawiyah merasa sangat takut.

Dengan rasa takut bercampur sungkan, ia akhirnya patuh menuju kamar, dan sesungguhnya ia sangat lelah, sebab baru saja dari perjalanan yang cukup jauh.

Saat memasuki kamar Bayu. Ia merasakan energi negatif yang cukup kuat, dan membuatnya bergidik ngeri.

Akan tetapi, rasa lelah membuatnya ingin segera tidur, meskipun sejujurnya ia ingin melihat kondisi suaminya yang tampak sekarat.

"Apa yang terjadi pada Mas Bayu?" Alawiyah sangat penasaran. Sebab ia masih mengingat saat sebelum pulang kampung, tubuh suaminya cukup berisi dan juga tampan.

Tapi saat ini, ia begitu kurus, seperti sakit yang cukup lama, dan cairan pekat darah masih melekat dipakaiannya.

"Bayu, sadarlah," suara Ratih kembali terdengar pilu. Rasa penasaran, membuat ia mengintip dari lubang kunci pintu.

"Hah!" Alawiyah tersentak kaget, saat melihat tubuh Bayu yang tadi ia lihat pucat pasi, berubah menjadi batang pisang, dan membuatnya terkejut.

"Astaghfirullah," ucapnya dengan nada tercekat ditenggorokan.

Saat ia melihatnya kembali, tubuh itu kembali seperti Bayu semula, terbujur diatas pembaringan, dengan mata yang tertutup dan tak bergerak sama sekali.

"Apa yang terjadi?" Alawiyah tampak kebingungan, dan tanpa sebab, ia seperti diserang rasa kantuk yang cukup hebat, dan semakin lama, ia tak dapat menguasainya, lalu memilih untuk berbaring, dan dengan cepat ia tertidur lelap.

Sementara itu, Ki Priyono, seorang dukun sakti yang dikenal didesa itu datang ke rumah Ratih, pakaiannya serba hitam, dan ia menggunakan ikat kepala dengan warna yang sama.

"Ki, Bayu kembali muntah darah, tolonglah, Ki. Sudah sangat lama ia menderita," Ratih memohon dengan sangat penuh harapan.

Ki Priyono mencoba memejamkan kedua matanya, ia merapalkan mantra yang berniat untuk menyembuhkan Bayu, dan ini sudah yang ke empat kalinya, tetapi tak juga membuahkan hasil.

Sesaat ia membuka matanya kembali, dan nafasnya cukup tersengal. Lalu menatap Ratih dengan perasaan yang galau—ada rasa putus asa yang tergambar cukup jelas.

"Saya akan coba, tetapi saya gak janji berhasil!" ungkap Ki Priyono.

"Tolonglah, Ki. Berapa biayanya, saya akan coba cari, yang penting anak saya sembuh," Ratih tampak memohon.

"Dia meminta pertukaran," nada bicara Ki Priyono cukup gemetar.

"Maksudnya?" Ratih tampak khawatir. Wajahnya pucat.

Ki Priyono menghela nafasnya dengan berat, lalu berbisik pada Ratih.

"Hah! Gila!" pekik Ratih dengan tubuh gemetar.

"Maaf, Ratih. Saya tidak bisa. Sebaiknya kamu cari dukun yang lebih hebat." pria itu angkat tangan untuk mengobati Bayu yang sedang terbaring tak berdaya.

Ratih terlihat lemas. Beberapa warga mulai memberikan semangat. "Sabar, ya—Tih." Ratna mengusap punggung Ratih, yang mana wanita itu terdiam menatap tubuh puteranya yang terbaring tanpa respon apapun.

Satu persatu, warga mulai meninggalkan rumah Ratih, dan kembali ke rumah mereka masing-masing.

Hari mulai tampak senja, ia hanya mampu meratapi penyakit puteranya.

"Bagaimana dengan Bayu, Mbok?" seorang wanita berusia tiga puluh tahun dengan dua orang anak yang masih berumur delapan tahun dan juga empat tahun nyelonong masuk ke rumah Ratih.

"Rin, apakah kamu tau dukun yang paling sakti? Ki Priyono sudah gak sanggup menangani penyakit mas-mu." sahut Ratih dengan wajah yang tampak lesu.

Rini diam membeku. Ia sepertinya sudah mendatangi semua dukun sakti yang ada, tetapi tetap saja tak berhasil.

"Mau dicari kemana lagi, Mbok? Semua sudah saya datangkan," wajah Rini juga tampak lesu. Sebab bukan saja hanya tenaga yang terkuras untuk merawat Bayu, tetapi juga biaya yang cukup banyak.

Ratih terduduk lesu, ia menoleh ke arah kamar, tempat dimana Alawiyah—menantunya sedang beristirahat, membuat ia semakin gelisah.

Diantara kekacauan yang terjadi dirumah Ratih, Ratna dan Novita sedang berada di sebuah kamar kosong, bersama ayam cemani, dan beberapa alat sesaji.

Terpopuler

Comments

𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ

𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ

ohh jadi ini ulah tetangga ya

2026-04-18

1

Rembulan menangis

Rembulan menangis

knp up ulang lg thor
pdahal smua kmarin uda saya baca smua di tungguin lnjutan nya yg ada up ulang 🥱

2026-03-28

0

V3

V3

yg kmrn gda Novita ,,, tp yg ini ada Novita nya 🤣
ternyata Novita suka dg Bayu 🤣🤣

2026-03-29

0

lihat semua
Episodes
1 Awal
2 Penampakan
3 Mbok Ratih
4 Novita
5 Sentuhan
6 Sentuhan-2
7 Sikap Misterius
8 Sosok
9 Wajah Pucat
10 Merasa Heran
11 Desa Tanpa Suara Adzan
12 Di Geruduk
13 Tatapan Novita
14 Hantaran
15 Hantaran-2
16 Tragedi Mangga
17 Rundingan
18 Jasad Ratna
19 Jasad Ratna—2
20 Jasad Ratna—3
21 Sosok Itu
22 Membenci
23 Tawaran
24 Juminten
25 Menyapa
26 Tejo
27 Air Mata Tejo
28 Bertemu
29 Bau
30 Suara Tangisnya
31 Aroma Mencurigakan
32 Perlawanan
33 Panci
34 Suitan
35 Sesuatu
36 Pertemuan
37 Pertemuan—2
38 Pertemuan—3
39 Jasad Gina dan Juminten
40 Rini
41 Rini—2
42 Tumbal
43 Jejak
44 Jejak—2
45 Jiwa Hana
46 Jiwa Hana
47 Barter
48 Kaget
49 Dendam Ki Priyono
50 Draft
51 Pilihan Jono
52 Dzikir Mengguncang Getih
53 Demo
54 Juragan Tresno
55 Fitnah
56 Rapat Darurat
57 Kegaduhan
58 May Day di Kediaman Ki Priyono
59 Wadah
60 Fitnah
61 Fitnah—2
62 Fitnah—3
63 Fitnah—4
64 Balasan
65 Balasan—2
66 Tujuh Panggung Demit
67 Nawang Wulan
68 Perang Bathin Bagas
69 Bagas—2
70 Malam
71 Subuh Di Rumah Ratih
72 Linda
73 Linda—2
74 Menyerang
75 Serangan—2
76 Linda—4
77 Keresahan
78 Panik
79 Kepanikan
80 Kepanikan—2
81 Kepanikan —3
82 Chaos Di Bukit Angker
83 Nyai Kembang Murka
84 Pimpinan Baru
85 Menyerang Linda
86 Perjuangan Nawang Wulan
87 Perjuangan Nawang Wulan-2
88 Serangan Di Rumah Bayu
89 Terpecah Belah
90 Akibat Pemutusan
91 Paduka Pocong
92 Malam Berdarah
93 Tarung
94 Amukan Surti
95 Petaka
96 Air Mata
97 Dia
98 Gugup Untuk Pertama Kalinya
99 Alawiyah?
100 Bisik-Bisik
101 Suketi
102 Suketi-2
103 Panggung Demit Ayu Keempat
104 Pedati
105 Pengintai
106 Ke Bukit Angker
107 Hati
108 Di Bukit Angker
109 Retak
110 Adzan Pertama
111 Ikrar Di Gerbang Desa
112 Mimpi Berulang
113 Wajah Misterius
114 Wajah Di Balik Mukena
115 Pengintai Di Balik Kabut
116 Sang Peneror
117 Rapat Dadakan
118 Serangan Licik
119 Serangan Licik—2
120 Rasa Yang Berbeda
121 Omelan Wowo
122 Gangguan Proyek
123 Hati Yang Hampa
124 Dia
125 Sang Sundel
126 Perasaan
127 Jalan Sesat
128 Jalan Sesat—2
129 Racun Yang Menyebar
130 Clara
131 Sendang Puteri
132 Darah Penyeimbang
133 Cemburu
134 Darah Lain
135 Bangkit
136 Gadis Itu
137 Serangan Banaspati
138 Tidak Surut
139 Serangan Gagak
140 Berpindah Tempat
141 Aura Yang Berbeda
142 Seseorang
143 Umpan Darah
144 Tumbal Darah
145 Asap Yang Padam
146 Alawiyah
147 Pamit Ke Kota
148 Keluarga Clara
149 Pernikahan
150 Malam Pengantin
Episodes

Updated 150 Episodes

1
Awal
2
Penampakan
3
Mbok Ratih
4
Novita
5
Sentuhan
6
Sentuhan-2
7
Sikap Misterius
8
Sosok
9
Wajah Pucat
10
Merasa Heran
11
Desa Tanpa Suara Adzan
12
Di Geruduk
13
Tatapan Novita
14
Hantaran
15
Hantaran-2
16
Tragedi Mangga
17
Rundingan
18
Jasad Ratna
19
Jasad Ratna—2
20
Jasad Ratna—3
21
Sosok Itu
22
Membenci
23
Tawaran
24
Juminten
25
Menyapa
26
Tejo
27
Air Mata Tejo
28
Bertemu
29
Bau
30
Suara Tangisnya
31
Aroma Mencurigakan
32
Perlawanan
33
Panci
34
Suitan
35
Sesuatu
36
Pertemuan
37
Pertemuan—2
38
Pertemuan—3
39
Jasad Gina dan Juminten
40
Rini
41
Rini—2
42
Tumbal
43
Jejak
44
Jejak—2
45
Jiwa Hana
46
Jiwa Hana
47
Barter
48
Kaget
49
Dendam Ki Priyono
50
Draft
51
Pilihan Jono
52
Dzikir Mengguncang Getih
53
Demo
54
Juragan Tresno
55
Fitnah
56
Rapat Darurat
57
Kegaduhan
58
May Day di Kediaman Ki Priyono
59
Wadah
60
Fitnah
61
Fitnah—2
62
Fitnah—3
63
Fitnah—4
64
Balasan
65
Balasan—2
66
Tujuh Panggung Demit
67
Nawang Wulan
68
Perang Bathin Bagas
69
Bagas—2
70
Malam
71
Subuh Di Rumah Ratih
72
Linda
73
Linda—2
74
Menyerang
75
Serangan—2
76
Linda—4
77
Keresahan
78
Panik
79
Kepanikan
80
Kepanikan—2
81
Kepanikan —3
82
Chaos Di Bukit Angker
83
Nyai Kembang Murka
84
Pimpinan Baru
85
Menyerang Linda
86
Perjuangan Nawang Wulan
87
Perjuangan Nawang Wulan-2
88
Serangan Di Rumah Bayu
89
Terpecah Belah
90
Akibat Pemutusan
91
Paduka Pocong
92
Malam Berdarah
93
Tarung
94
Amukan Surti
95
Petaka
96
Air Mata
97
Dia
98
Gugup Untuk Pertama Kalinya
99
Alawiyah?
100
Bisik-Bisik
101
Suketi
102
Suketi-2
103
Panggung Demit Ayu Keempat
104
Pedati
105
Pengintai
106
Ke Bukit Angker
107
Hati
108
Di Bukit Angker
109
Retak
110
Adzan Pertama
111
Ikrar Di Gerbang Desa
112
Mimpi Berulang
113
Wajah Misterius
114
Wajah Di Balik Mukena
115
Pengintai Di Balik Kabut
116
Sang Peneror
117
Rapat Dadakan
118
Serangan Licik
119
Serangan Licik—2
120
Rasa Yang Berbeda
121
Omelan Wowo
122
Gangguan Proyek
123
Hati Yang Hampa
124
Dia
125
Sang Sundel
126
Perasaan
127
Jalan Sesat
128
Jalan Sesat—2
129
Racun Yang Menyebar
130
Clara
131
Sendang Puteri
132
Darah Penyeimbang
133
Cemburu
134
Darah Lain
135
Bangkit
136
Gadis Itu
137
Serangan Banaspati
138
Tidak Surut
139
Serangan Gagak
140
Berpindah Tempat
141
Aura Yang Berbeda
142
Seseorang
143
Umpan Darah
144
Tumbal Darah
145
Asap Yang Padam
146
Alawiyah
147
Pamit Ke Kota
148
Keluarga Clara
149
Pernikahan
150
Malam Pengantin

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!