Mbok Ratih

"Mengapa setiap rumah warga menyebarkan aroma yang sangat aneh?" Alawiyah menutup hidungnya dengan ujung hijabnya.

Rasa mual terkadang membuat peruknya serasa seperti diaduk.

Akan tetapi, Alawiyah memaksakan kakinya yang sudah terasa pegal untuk terus melangkah, meskipun rasa sakit kadang datang dan hilang begitu saja.

Sesekali ia menarik nafasnya yang terasa berat, tendangan-tendangan kecil dari calon bayinya, seperti isyarat, agar ibunya tetap tegar.

"Kemana aku harus bertanya? Semua pintu rumah tertutup." keluhnya, sembari mengamati seluruh rumah yang tampak mewah.

Ia merasa, jika rumah-rumah warga tidak ada satupun yang sederhana seolah sebuah parodi kemewahan yang saling berlomba—siapa yang paling kaya.

"Sebenarnya apa usaha mereka?" rasa penasaran terus bergelayut dibenaknya, dan membuat ia seperti berada dilorong surga duniawi.

Sepanjang mata memandang, ia disuguhkan dengan kemegahan dan kemewahan. Bahkan ditempat asalnya ia tidak pernah melihat semua itu.

Setelah jauh berjalan, ia melihat ada perkampungan lain didalamnya, tepatnya berada dilereng-lereng gunung, dan itu sangat kontras dengan rumah dibagian tepi jalan, dan berjarak hingga lima ratus meter, yang semuanya serba mewah, tetapi tidak dibagian rumah ini.

"Ternyata ada juga rumahnya yang biasa saja, ku kira semua mewah." ucapnya dengan lirih.

Tetapi disisi bagian kiri, semua warganya sudah hidup lebih dari berkecukupan, sedangkan di sisi kanan rumah-rumah warga masih sederhana, dengan bangunan semi permanen bahkan ada yang terbuat dari dinding papan yang sudah tampak rapuh dengan cat memudar dan kusam.

Saat menatap rumah itu, ia merasakan sesuatu yang berbeda, dimana hatinya begitu damai meski jauh mewah dari rumah yang lainnya.

"Tapi kenapa lebih adem liat rumah yang paling buruk diantara yang lainnya, ya?" Alawiyah kembali berguman.

Ia memutar pandangannya ke sisi kiri. Sebuah rumah megah dengan bangunan tiga lantai, dengan cat berwarna hitam.

Rumah itu cukup luas. Bahkan Alawiyah memperkirakan, lebarnya saja mencapai tiga puluh meter, dan panjangnya yang juga sama, membuat ia melongo.

Aura rumah tersebut, membuat Alawiyah merasakan bulu kuduknya meremang.

Ia bergidik ngeri, menyapu punggungnya, seolah ada yang terus saja mengawasi—perutnya.

"Kenapa kelihatan serem‐ya?" ia memindai rumah mewah tersebut, hingga melihat sesuatu diatas bubungannya, terdapat sosok yang membuat bulu kuduk Alawiyah meremang.

"Apa itu?" ia menyipitkan matanya, memindai sosok makhluk berwarna hitam, dengan bulu tebal, dan taring yang mencuat di sudut mulutnya.

"Astaghfirullah ...." Alawiyah terlonjak kaget, ia memegang dadanya yang bergemuruh, dimana sosok itu menatap tajam padanya.

Aroma singkong bakar menguar hingga terendus ke indera penciumannya.

Alawiyah merasakan gemuruh dadanya yang menderu, dan ia mersa semakin aneh dengan desa yang disebut suaminya sebagai 'Desa Getih'.

"Kamu sedang apa, Mbak?" suara seorang gadis berambut lurus panjang sepunggung, membuyarkan lamunan Alawiyah.

"Astaghfirullah, kamu ngagetin saya saja," Alawiyah kembali beristihfar, sembari mengusap dadanya yang bergemuruh, dan ia memindai wajah gadis yang menyapanya, sedang menggunakan sepeda motor matic dengan keluaran terbaru.

"Mbak, barusan ngucapin apa—ya?" ia kembali bertanya, sebelum Alawiyah sempat menjawab pertanyaan pertama, sembari mengerutkan keningnya.

Baginya, kalimat istghfar yang diucapkan oleh Alawiyah sangatlah asing baginya.

Kali ini, Alawiyah yang melongo. "Maaf, memangnya agama kamu apaan, Dik?" ia bertanya, sebab merasa jika pertanyaan gadis itu sangatlah terlalu berlebihan.

"Di kolom KTP, tertulis Islam." jawabnya dengan santai. Ia menenteng kantong kresek berwarna putih, didalamnya terdapat dua ekor ayam berbulu hitam, yang biasa disebut ayam cemani.

Alawiyah kembali melongo, dan lelucon apa yang disuguhkan dihadapannya.

Bagaimana tidak, orang non muslim saja tentu mengenal ucapan istighfar, lalu bagaimana dengan ia yang mengaku Islam?"

"Serius, Islam?" Alawiyah masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya.

"Ya, dan ucapan Mbak barusan, membuat rumah kami bergetar kuat, dan memberikan hawa panas," gadis itu menjelaskan kembali, dan menegaskan, jika Alawiyah dilarang mengucapkan kalimat-kalimat suci.

"Novita, masuk!" suara seorang wanita menghentikan pembicaraan keduanya.

Wanita berambut panjang yang di sanggul, dengan perhiasan yang cukup mencolok, banyak melingkar ditangan dan lehernya.

Ia lebih mirip dengan julukan toko mas berjalan.

Wajah wanita itu tampak menatap dingin dengan kehadiran Alawiyah. Tetapi hanya sesaat, sebab senyumnya merekah, saat melihat perut yang membuncit

Teriakan barusan, membuat gadis itu bergegas masuk dengan mengendarai motornya, tanpa ucapan pamit, meski berbasa-basi—melewati pintu pagar yang berlapis emas.

Saat Novita turun dari motornya, sosok berbulu hitam dengan taring mencuat, serta matanya yang merah menyala, mengikuti gadis itu dari arah belakang.

Ia seperti seorang bodyguard, yang terus saja mengawasinya.

Belum sempat Alawiyah mencerna semuanya, ia kembali dikejutkan oleh suara teriakan menggema diudara.

"Tolong ...., tolong saya!" pekik seorang wanita dengan suara lantang.

Pakaiannya sangat sederhana, rambut beruban, dan disanggul layaknya para ibu-ibu didesa, dan wajahnya tampak pucat, lelah, dan juga lesu, serta ada ketakutan yang cukup kentara diwajahnya.

Alawiyah berdiri mematung, ia juga bingung, apakah harus menghampiri wanita itu, atau diam tanpa melakukan apapun sebab saat ini, ia juga sedang membutuhkan pertolongan.

Hatinya tergerak, ia melangkah menghampiri, dengan langkahnya yang tertatih.

Saat bersamaan, wanita pemilik rumah mewah dengan cat berwarna hitam, membuka pintu pagar rumahnya, dan bergegas menuju rumah wanita berdinding reot tersebut.

"Heemm ... Ternyata ia memiliki jiwa sosial tinggi, pantas saja diberi kekayaan yang berlimpah," gumam Alawiyah, saat melihat wanita dengan perhiasan emas yang hampir memenuhi tubuhnya.

Alawiyah mencoba berfikir positif, dengan apa yang dilihatnya, meski hatinya merasa janggal.

Tak berselang lama, warga mulai mengerumuni rumah reot tersebut.

Pintu-pintu yang tadinya tertutup, perlahan terbuka, mereka seolah ingin memberikan pertolongan dan bantuan kepada pemilik rumah yang paling miskin, dan sudah memasuki rumah.

Saat berada dikerumunan itu, Alawiyah semakin terbengong, karena baik laki-laki dan perempuan, semuanya menggunakan perhian emas yang mencolok.

Bahkan ada seorang pria yang membuat rompi dengan bahan emas dua puluh empat karat.

Alawiyah melongo, menatap satu persatu para warga yang hadir, seolah saling berlomba dengan siapa yang memiliki emas paling banyak.

"Ada apa lagi, Mbak Ratih?" tanya seorang wanita yang sebaya dengan wanita pemilik rumah.

Ia tak lain adalah tetangga yang berada disisi kanan wanita itu—wanita pemilik rumah megah, yang tadi menatap Alawiyah dengan dingin.

Sedangkan Novita, ikut bersama ibunya, melongok melihat kondisi seseorang yang terbaring tanpa daya diatas kasur yang melepek.

Pakaian gadis itu sangat mencolok, dan hanya menggunakan tank top, serta celana cukup pendek sebatas paha, dan ia menatap lekat wajah seorang pria yang terbujur disana.

Ia tampak gelisah, dan tatapannya tak lepas dari wajah pria tersebut.

"Gak tau, Mbak. Tiba-tiba muntah lagi," jawab Ratih dengan lirih. Dadanya bagaikan terhimpit beban yang cukup berat, sehingga menarik nafas saja harus membutuhkan tenaga yang cukup.

Alawiyah menoleh ke arah wanita pemilik rumah, ia ingin melihat siapa sebenarnya yang sakit, sebab merasa sangat penasaran.

"Rini, tolong panggilkan Ki Priyono, Bayu kembali muntah darah," suara wanita itu lirih, dan tampak ketakutan.

"Hah, Bayu, jangan-jangan itu Bayu suamiku." Alawiyah bergegas menyibak kerumunan—tak.peduli dengan tatapan liar dari orang-orang sekitarnya.

Ia bahkan tak peduli, jika ia orang asing, sebab rasa penasaran cukup besar didalam hatinya.

"Bayu, Bayu, sadarlah." Ratih terlihat panik, ia melihat puteranya sudah terbaring dengan mata tertutup.

Terpopuler

Comments

⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandini💘🦉☆⃝𝗧ꋬꋊ

⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandini💘🦉☆⃝𝗧ꋬꋊ

wkwkwk... kak @Siti H 🤭🤭🤭

2026-03-29

1

V3

V3

di desa terisolir , rumah-rumah warga semuanya spt bangunan gedung bertingkat ,,, saling berlomba-lomba tinggi nya ,,,
dn untuk orang-orang nya semuanya mjd Toko Mas Berjalan 🤣🤣

2026-03-29

0

 SENJA

SENJA

wah gawat istighfar aja kagak tau dia 😐

2026-04-04

0

lihat semua
Episodes
1 Awal
2 Penampakan
3 Mbok Ratih
4 Novita
5 Sentuhan
6 Sentuhan-2
7 Sikap Misterius
8 Sosok
9 Wajah Pucat
10 Merasa Heran
11 Desa Tanpa Suara Adzan
12 Di Geruduk
13 Tatapan Novita
14 Hantaran
15 Hantaran-2
16 Tragedi Mangga
17 Rundingan
18 Jasad Ratna
19 Jasad Ratna—2
20 Jasad Ratna—3
21 Sosok Itu
22 Membenci
23 Tawaran
24 Juminten
25 Menyapa
26 Tejo
27 Air Mata Tejo
28 Bertemu
29 Bau
30 Suara Tangisnya
31 Aroma Mencurigakan
32 Perlawanan
33 Panci
34 Suitan
35 Sesuatu
36 Pertemuan
37 Pertemuan—2
38 Pertemuan—3
39 Jasad Gina dan Juminten
40 Rini
41 Rini—2
42 Tumbal
43 Jejak
44 Jejak—2
45 Jiwa Hana
46 Jiwa Hana
47 Barter
48 Kaget
49 Dendam Ki Priyono
50 Draft
51 Pilihan Jono
52 Dzikir Mengguncang Getih
53 Demo
54 Juragan Tresno
55 Fitnah
56 Rapat Darurat
57 Kegaduhan
58 May Day di Kediaman Ki Priyono
59 Wadah
60 Fitnah
61 Fitnah—2
62 Fitnah—3
63 Fitnah—4
64 Balasan
65 Balasan—2
66 Tujuh Panggung Demit
67 Nawang Wulan
68 Perang Bathin Bagas
69 Bagas—2
70 Malam
71 Subuh Di Rumah Ratih
72 Linda
73 Linda—2
74 Menyerang
75 Serangan—2
76 Linda—4
77 Keresahan
78 Panik
79 Kepanikan
80 Kepanikan—2
81 Kepanikan —3
82 Chaos Di Bukit Angker
83 Nyai Kembang Murka
84 Pimpinan Baru
85 Menyerang Linda
86 Perjuangan Nawang Wulan
87 Perjuangan Nawang Wulan-2
88 Serangan Di Rumah Bayu
89 Terpecah Belah
90 Akibat Pemutusan
91 Paduka Pocong
92 Malam Berdarah
93 Tarung
94 Amukan Surti
95 Petaka
96 Air Mata
97 Dia
98 Gugup Untuk Pertama Kalinya
99 Alawiyah?
100 Bisik-Bisik
101 Suketi
102 Suketi-2
103 Panggung Demit Ayu Keempat
104 Pedati
105 Pengintai
106 Ke Bukit Angker
107 Hati
108 Di Bukit Angker
109 Retak
110 Adzan Pertama
111 Ikrar Di Gerbang Desa
112 Mimpi Berulang
113 Wajah Misterius
114 Wajah Di Balik Mukena
115 Pengintai Di Balik Kabut
116 Sang Peneror
117 Rapat Dadakan
118 Serangan Licik
119 Serangan Licik—2
120 Rasa Yang Berbeda
121 Omelan Wowo
122 Gangguan Proyek
123 Hati Yang Hampa
124 Dia
125 Sang Sundel
126 Perasaan
127 Jalan Sesat
128 Jalan Sesat—2
129 Racun Yang Menyebar
130 Clara
131 Sendang Puteri
132 Darah Penyeimbang
133 Cemburu
134 Darah Lain
135 Bangkit
136 Gadis Itu
137 Serangan Banaspati
138 Tidak Surut
139 Serangan Gagak
140 Berpindah Tempat
141 Aura Yang Berbeda
142 Seseorang
143 Umpan Darah
144 Tumbal Darah
145 Asap Yang Padam
146 Alawiyah
147 Pamit Ke Kota
148 Keluarga Clara
149 Pernikahan
150 Malam Pengantin
Episodes

Updated 150 Episodes

1
Awal
2
Penampakan
3
Mbok Ratih
4
Novita
5
Sentuhan
6
Sentuhan-2
7
Sikap Misterius
8
Sosok
9
Wajah Pucat
10
Merasa Heran
11
Desa Tanpa Suara Adzan
12
Di Geruduk
13
Tatapan Novita
14
Hantaran
15
Hantaran-2
16
Tragedi Mangga
17
Rundingan
18
Jasad Ratna
19
Jasad Ratna—2
20
Jasad Ratna—3
21
Sosok Itu
22
Membenci
23
Tawaran
24
Juminten
25
Menyapa
26
Tejo
27
Air Mata Tejo
28
Bertemu
29
Bau
30
Suara Tangisnya
31
Aroma Mencurigakan
32
Perlawanan
33
Panci
34
Suitan
35
Sesuatu
36
Pertemuan
37
Pertemuan—2
38
Pertemuan—3
39
Jasad Gina dan Juminten
40
Rini
41
Rini—2
42
Tumbal
43
Jejak
44
Jejak—2
45
Jiwa Hana
46
Jiwa Hana
47
Barter
48
Kaget
49
Dendam Ki Priyono
50
Draft
51
Pilihan Jono
52
Dzikir Mengguncang Getih
53
Demo
54
Juragan Tresno
55
Fitnah
56
Rapat Darurat
57
Kegaduhan
58
May Day di Kediaman Ki Priyono
59
Wadah
60
Fitnah
61
Fitnah—2
62
Fitnah—3
63
Fitnah—4
64
Balasan
65
Balasan—2
66
Tujuh Panggung Demit
67
Nawang Wulan
68
Perang Bathin Bagas
69
Bagas—2
70
Malam
71
Subuh Di Rumah Ratih
72
Linda
73
Linda—2
74
Menyerang
75
Serangan—2
76
Linda—4
77
Keresahan
78
Panik
79
Kepanikan
80
Kepanikan—2
81
Kepanikan —3
82
Chaos Di Bukit Angker
83
Nyai Kembang Murka
84
Pimpinan Baru
85
Menyerang Linda
86
Perjuangan Nawang Wulan
87
Perjuangan Nawang Wulan-2
88
Serangan Di Rumah Bayu
89
Terpecah Belah
90
Akibat Pemutusan
91
Paduka Pocong
92
Malam Berdarah
93
Tarung
94
Amukan Surti
95
Petaka
96
Air Mata
97
Dia
98
Gugup Untuk Pertama Kalinya
99
Alawiyah?
100
Bisik-Bisik
101
Suketi
102
Suketi-2
103
Panggung Demit Ayu Keempat
104
Pedati
105
Pengintai
106
Ke Bukit Angker
107
Hati
108
Di Bukit Angker
109
Retak
110
Adzan Pertama
111
Ikrar Di Gerbang Desa
112
Mimpi Berulang
113
Wajah Misterius
114
Wajah Di Balik Mukena
115
Pengintai Di Balik Kabut
116
Sang Peneror
117
Rapat Dadakan
118
Serangan Licik
119
Serangan Licik—2
120
Rasa Yang Berbeda
121
Omelan Wowo
122
Gangguan Proyek
123
Hati Yang Hampa
124
Dia
125
Sang Sundel
126
Perasaan
127
Jalan Sesat
128
Jalan Sesat—2
129
Racun Yang Menyebar
130
Clara
131
Sendang Puteri
132
Darah Penyeimbang
133
Cemburu
134
Darah Lain
135
Bangkit
136
Gadis Itu
137
Serangan Banaspati
138
Tidak Surut
139
Serangan Gagak
140
Berpindah Tempat
141
Aura Yang Berbeda
142
Seseorang
143
Umpan Darah
144
Tumbal Darah
145
Asap Yang Padam
146
Alawiyah
147
Pamit Ke Kota
148
Keluarga Clara
149
Pernikahan
150
Malam Pengantin

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!