Bab 2. Belum pulang

"Sudah pukul dua pagi, Mirasih belum juga pulang." Narti dengan cemas menunggu di depan rumah karena sang anak tak kunjung muncul.

"Kemana perginya Mirasih ini." Hamdan juga bingung karena sang anak belum kembali.

"Mas kamu jaga rumah saja dulu ya karena aku akan mencari Mirasih di tempat organ sana." Narti ingin menyusul Mirasih saja.

"Tapi ini juga sudah malam aku takut nanti malah kamu ada apa-apa di jalan." Hamdan juga bingung karena dia sebagai suami malah tidak bisa bertanggung jawab.

"Tenang saja, aku sudah tua dan tidak ada yang naksir dengan aku." Narti masih bisa bergurau walau sebenarnya saat ini dia sangat pusing.

Hamdan menatap Narti yang sudah keluar dari dalam rumah dan menuju tempat hiburan itu berada, tentu sebagai orang tua rasa cemas di dalam hati sangat berlebihan karena mereka agak takut juga bila nanti ternyata Mirasih justru mendapat celaka ketika sedang bermain dengan teman yang lain di desa ini.

Kadang kalau sudah memiliki anak gadis dan menanjak remaja seperti itu maka mereka harus sekuat tenaga menjaga mereka semua, ini Hamdan malah sakit keras seperti itu dan kadang peran dia sebagai kepala keluarga bisa di ganti oleh Narti, Untung dia memiliki istri yang bisa cepat tanggap dan tidak pernah banyak tingkah.

Narti sebenarnya adalah wanita yang cantik dan bila dia berdandan maka masih ada pria yang tertarik dengan kecantikan wanita Madura itu, namun Narti tidak pernah berpikir untuk mencari pria lain dalam hidup ini, menurut dia menikah hanya sekali dan walau saat ini suami sedang sakit keras tapi tetap saja dia tunggu.

Kesetiaan yang jarang di miliki oleh wanita lain karena mereka terkadang memilih untuk menyerah saja ketika sang suami sudah tidak mampu untuk mencari nafkah, Hamdan memang sudah lama sakit kanker paru-paru seperti itu namun dia tak kunjung sehat dan kadang dalam pikiran Hamdan juga ingin kematian saja.

Rasa putus asa karena terus saja menyusahkan sang istri dan tidak bisa membahagiakan anak beserta dengan istri, walau selama ini Narti tidak pernah mengeluh tentang keberadaan dia yang hanya menyebabkan beban namun tetap saja Hamdan terkadang merasa rendah diri dan tidak sanggup untuk berbicara banyak kepada Narti.

Terlebih ketika Mirasih sudah berulah seperti ini maka Hamdan yang merasa paling malu, bukan hanya malu tapi juga merasa tidak berguna sebagai seorang Ayah, seperti saat ini contohnya ketika nanti memilih untuk keluar sendiri tanpa ada yang menemani hanya karena dia ingin mencari sang anak yang entah ada di mana sekarang.

Andai Hamdan sehat maka pasti dia yang bisa keluar dari rumah ini untuk mencari keberadaan Mirasih lalu membawa anak gadis mereka pulang ke rumah, ini malah sang istri yang keluar tengah malam dan tidak peduli dengan rasa takut yang timbul di dalam hati ini karena suasana di desa ini juga cukup gelap bila sudah malam hari.

"Maafkan aku, Narti." Hamdan sangat menyesal sekali.

"Andai aku sehat maka aku tidak akan membuat kau sengsara seperti itu, aku belum bisa membuat kau bahagia." isak Hamdan di depan rumah.

"Ngapain duduk depan rumah malam begini, Ham?" tegur Arifin yang baru pulang ronda.

"Ini aku sedang menunggu Mirasih pulang." jawab Hamdan.

"Mirasih kemana memang nya?" Arifin agak kaget juga.

"Tadi berpamitan ingin menonton organ tunggal, tapi sampai sekarang malah tak kunjung kembali." cemas Hamdan.

"Loh sudah pukul dua lewat ini, kau tidak berpesan apa kalau pulang harus jam segini." Arifin juga ikut cemas sekarang karena dia masih sepupu Hamdan.

Hamdan menarik nafas panjang karena sebenarnya dia juga sudah berpesan kepada sang anak agar segera pulang ketika sudah selesai, ini malah sudah tengah malam begini Dan hampir subuh tapi Mirasih tak kunjung kembali sehingga sudah pasti sebagai orang tua timbul rasa cemas dalam hati yang begitu besar.

"Ya sudah kalau begitu aku akan mencari dulu keberadaan dia." Arifin tak jadi pulang ke rumah.

"Tadi Narti juga pergi mencari dia ke arah kulon." ujar Hamdan.

"Ya Allah sudah malam begini malah membuat orang tua susah saja kau ini Mirasih." kesal Arifin karena dia juga agak tahu bagaimana tabiat gadis itu.

"Tolong bantu Narti ya, Fin." pinta Hamdan memelas.

Arifin mengangguk dan memang dia tidak jadi pulang ke rumah karena kasihan juga melihat Hamdan yang sedang sakit tapi duduk di depan teras seperti itu karena menunggu sang anak, malah yang lebih parah lagi Narti sudah pergi untuk mencari keberadaan Mirasih yang saat ini entah ada di mana.

...****************...

"Massss aaaaahhh."

Seorang gadis menggeliat di atas ranjang ketika menikmati sentuhan dari tangan kekasih nya, Jarwo sendiri sudah tidak tahan dan ketika mendengar Mirasih mendesah seperti itu maka dia semakin tidak terkendali saja, mana dalam pengaruh alkohol sehingga sudah pasti nafsu yang ada di dalam diri begitu kencang.

Cup.

Cup.

"Aaaaahh geli mas." Mirasih agak mendorong kepala Jarwo ketika dia meninggalkan cupang pada bagian leher.

"Sayang aku mau." Jarwo menatap Mirasih dengan tatapan begitu sayu.

"Tapi nanti kamu jangan tinggalin aku kalau aku sudah tidak perawan lagi ya." Mirasih juga takut bila nanti dia akan di tinggal oleh Jarwo.

"Tidak akan, aku pasti akan segera menikahi kamu." janji Jarwo sambil meremas gunung kembar yang masih begitu kenyal.

"Aaaah aaaah." Mirasih sendiri sudah terbuai karena dia menikmati belaian yang begitu lembut.

"Aku sangat mencintai kamu, Mirasih!" bisik Jarwo sambil menjilat telinga mungil gadis ini.

Tentu saja Mirasih menjadi begitu terbuai dan keputusan dia untuk menyerahkan mahkota yang selama ini telah dia jaga menjadi begitu bulat, sebab dalam hati dia sangat yakin bahwa Jarwo pasti akan segera menikahi ketika mereka telah bersetubuh seperti saat ini, justru bila dia tidak menuruti keinginan Jarwo maka takut nanti pria itu akan mencari gadis lain.

"Eeemmmp kau wangi sekali, sayang." bisik Jarwo menjilat put*Ng Mirasih.

"Aaaah geli, Mas." Mirasih tidak pernah merasakan sensasi seperti ini sehingga dia mengelijang.

"Nikmati saja ya, nanti sebentar akan terasa sakit tapi setelah itu kita akan merasakan sensasi yang begitu luar biasa." bisik Jarwo sambil mengeluarkan senjata dia.

Mirasih hanya tertegun karena ada rasa takut namun ada juga rasa yakin untuk memberikan hal ini kepada Jarwo, setan dalam kepala terus saja berbisik bahwa setelah dia melakukan persetubuhan ini maka Jarwo akan menikahi dan mereka bisa hidup bahagia bersama lalu Mirasih mendapatkan hidup yang enak.

Selamat pagi besti, jangan lupa like dan komen nya ya.

Terpopuler

Comments

ismi

ismi

mirasih buta mata hatinya karena ekonomi ,,dia pikir setelah menyerahkan harta mahkota yg paling berhaga buat jarwo akan dinikahi dan hidup enak yg ada dibuang dan lepas tangung jawabnya jarwo dengan dalih melakukanya suka sama suka,,

2026-03-29

1

Dewi

Dewi

Ksian skli ibu sm bpakny..
pdhal mreka prhtian ke anak hnya sja mreka org kekurgan materi..

kdg ank nakal tau trsesat kan bnyk dr kurg prhtian ort,krn tak da yg mnsehati tk ada yg ngsih prhtian akhrny bnyk nyri prhtian dr luar..

2026-04-16

0

Ela Jutek

Ela Jutek

wah gak punya otak tu Asih, gak kasian ma pak mak nya apa itu

2026-03-29

4

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Mirasih
2 Bab 2. Belum pulang
3 Bab 3.Mayat tergantung
4 Bab 4. Arifin mengenali
5 Bab 5. Kematian Mirasih
6 Bab 6. Laila
7 Bab 7. Mayat Laila
8 Bab 8. Menuduh Mirasih
9 Bab 9. kesedihan Narti
10 Bab 10. Menggembala kambing
11 Bab 11. Kecemasan Sarmini
12 Bab 12. Iwan hilang
13 Bab 13. Mencari Iwan
14 Bab 14. Belum ketemu
15 Bab 15. Tekad Narti
16 Bab 16. Himbauan Pak Rt
17 Bab 17. korban lagi
18 Bab 18. Untung ada Mansur
19 Bab 19. Gosip dulu
20 Bab 20. Debat dengan Pak RT
21 Bab 21. Percakapan
22 Bab 22. Suara kambing
23 Bab 23. Di sesatkan
24 Bab 24. di rumah Purnama
25 Bab 25. Mansur ngompol
26 Bab 26. Kedatangan Purnama
27 Bab 27. Masih menyelidiki
28 Bab 28. Mencari dukun
29 Bab 29. Akan cari dukun
30 Bab 30. Dukun paten
31 Bab 31. memulai ritual
32 Bab 32. Iblis ratusan tahun
33 Bab 33. debat Sarmini
34 Bab 34. Narti mendengar
35 Bab 35. Purnama datang.
36 Bab 36. Rahasia
37 Bab 37. Jenderal perang
38 Bab 38. peringatan kematian
39 Bab 39. peringatan sungai darah
40 Bab 40. Kembali debat
41 Bab 41. Mirasih atau bukan
42 Bab 42. Nolan jadi tumbal
43 Bab 43. Menemukan
44 Bab 44. Bertarung
45 Bab 45. debat dengan Arifin
46 Bab 46. Di paksa pulang.
47 Bab 47. mukade
48 Bab 48. Jarwo tertekan
49 Bab 49. Bertemu Purnama.
50 Bab 50. Cerita Jarwo
51 Bab 51. Flashback
52 Bab 52. Flashback part 2
53 Bab 53. Flashback off
54 Bab 54. Sarmini
55 Bab 55. Saiyara keras kepala
56 Bab 56. Kuku Nana patah
57 Bab 57. Saiyara
58 Bab 58. Ketakutan tiga gadis
59 Bab 59. Memberi laporan
60 Bab 60. Narti kabur
61 Bab 61. Mencari Sarmini
62 Bab 62. Memberitahu Sagara
63 Bab 63. Sedih nya Sagara
64 Bab 64. Mengurus mayat Hamdan
65 Bab 65. Mengatur rencana
66 Bab 66. Menghajar Jarwo
67 Bab 67. Arya bergerak
68 Bab 68. Menangkap Mirasih
69 Bab 69. Arjuna
70 Bab 70. Korban lagi
71 Bab 71. Derita Nana
72 Bab 72. Perjuangan Sagara
73 Bab 73. Serangan bola api
74 Bab 74. Pengorbanan
75 Bab 75. Jarwo
76 Bab 76. Kembali
77 Bab 77. Mayat Jarwo
78 Bab 78. Duka Anita
79 Bab 79. Fitnah Arifin
80 Bab 80. Belum ada penawar
81 Bab 81. Rencana
82 Bab 82. Mendapat mangsa
83 Bab 83. Musnah nya Mirasih
84 Bab 84. Penyerangan
85 Bab 85. Pertempuran
86 Bab 86. Helm
87 Bab 87. Kekalahan
88 Bab 88. Menyiksa
89 Bab 89. Rasa bahagia Narti
90 Bab 90. Selesai
Episodes

Updated 90 Episodes

1
Bab 1. Mirasih
2
Bab 2. Belum pulang
3
Bab 3.Mayat tergantung
4
Bab 4. Arifin mengenali
5
Bab 5. Kematian Mirasih
6
Bab 6. Laila
7
Bab 7. Mayat Laila
8
Bab 8. Menuduh Mirasih
9
Bab 9. kesedihan Narti
10
Bab 10. Menggembala kambing
11
Bab 11. Kecemasan Sarmini
12
Bab 12. Iwan hilang
13
Bab 13. Mencari Iwan
14
Bab 14. Belum ketemu
15
Bab 15. Tekad Narti
16
Bab 16. Himbauan Pak Rt
17
Bab 17. korban lagi
18
Bab 18. Untung ada Mansur
19
Bab 19. Gosip dulu
20
Bab 20. Debat dengan Pak RT
21
Bab 21. Percakapan
22
Bab 22. Suara kambing
23
Bab 23. Di sesatkan
24
Bab 24. di rumah Purnama
25
Bab 25. Mansur ngompol
26
Bab 26. Kedatangan Purnama
27
Bab 27. Masih menyelidiki
28
Bab 28. Mencari dukun
29
Bab 29. Akan cari dukun
30
Bab 30. Dukun paten
31
Bab 31. memulai ritual
32
Bab 32. Iblis ratusan tahun
33
Bab 33. debat Sarmini
34
Bab 34. Narti mendengar
35
Bab 35. Purnama datang.
36
Bab 36. Rahasia
37
Bab 37. Jenderal perang
38
Bab 38. peringatan kematian
39
Bab 39. peringatan sungai darah
40
Bab 40. Kembali debat
41
Bab 41. Mirasih atau bukan
42
Bab 42. Nolan jadi tumbal
43
Bab 43. Menemukan
44
Bab 44. Bertarung
45
Bab 45. debat dengan Arifin
46
Bab 46. Di paksa pulang.
47
Bab 47. mukade
48
Bab 48. Jarwo tertekan
49
Bab 49. Bertemu Purnama.
50
Bab 50. Cerita Jarwo
51
Bab 51. Flashback
52
Bab 52. Flashback part 2
53
Bab 53. Flashback off
54
Bab 54. Sarmini
55
Bab 55. Saiyara keras kepala
56
Bab 56. Kuku Nana patah
57
Bab 57. Saiyara
58
Bab 58. Ketakutan tiga gadis
59
Bab 59. Memberi laporan
60
Bab 60. Narti kabur
61
Bab 61. Mencari Sarmini
62
Bab 62. Memberitahu Sagara
63
Bab 63. Sedih nya Sagara
64
Bab 64. Mengurus mayat Hamdan
65
Bab 65. Mengatur rencana
66
Bab 66. Menghajar Jarwo
67
Bab 67. Arya bergerak
68
Bab 68. Menangkap Mirasih
69
Bab 69. Arjuna
70
Bab 70. Korban lagi
71
Bab 71. Derita Nana
72
Bab 72. Perjuangan Sagara
73
Bab 73. Serangan bola api
74
Bab 74. Pengorbanan
75
Bab 75. Jarwo
76
Bab 76. Kembali
77
Bab 77. Mayat Jarwo
78
Bab 78. Duka Anita
79
Bab 79. Fitnah Arifin
80
Bab 80. Belum ada penawar
81
Bab 81. Rencana
82
Bab 82. Mendapat mangsa
83
Bab 83. Musnah nya Mirasih
84
Bab 84. Penyerangan
85
Bab 85. Pertempuran
86
Bab 86. Helm
87
Bab 87. Kekalahan
88
Bab 88. Menyiksa
89
Bab 89. Rasa bahagia Narti
90
Bab 90. Selesai

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!