Bab 4. Arifin mengenali

Satu sosok tubuh seorang gadis tergantung begitu saja di atas pohon kapuk, bahkan baju yang sudah dia pakai sama sekali tidak bisa dikenali akibat darah yang terus keluar dari dalam tubuh dan juga tercabik-cabik oleh sesuatu, mereka semua yang ada di sana masih penasaran siapa yang telah meninggal dunia dengan cara seperti ini.

Sebab wajah gadis itu tertutup dan tidak bisa terlihat sama sekali bagaimana rupa serta dia ini siapa, namun yang jelas saat ini Narti begitu berdebar sekali karena dia merasa seperti ada sesuatu yang bersangkutan dengan gadis tersebut sehingga dia terduduk lemah tanpa berkedip menatap jasad itu.

Mau mengenali dari baju juga tidak mungkin karena baju itu telah robek di sana dan di sini belum lagi darah yang terus membasahi baju tersebut, jelas dia sama sekali tidak bisa menebak apakah ini Mirasih atau orang lain yang sudah meninggal dunia dengan cara sadis karena di bunuh oleh seseorang.

Namun yang jelas saat ini Narti merasa Dia memiliki hubungan dengan gadis yang meninggal dengan cara tergantung itu, kalau dia sudah menepis prasangka buruk tersebut namun tetap saja tidak bisa hilang dari dalam hati ini, mungkin itu yang di sebut sebagai firasat seorang Ibu ketika ada sesuatu yang tidak beres kepada sang anak.

Sebab Mirasih juga pergi sejak tadi malam dan sampai sekarang belum kembali sehingga wajar saja bila Narti berpikir demikian, meski batin dia terus aja menolak dan mengatakan bahwa itu bukan Mirasih tapi ada firasat lain yang mengatakan bahwa itu mungkin saja anak dia yang telah tidak pulang semalaman.

Ini para warga belum ada yang berani menyentuh tubuh gadis tergantung itu karena mereka sedang menunggu polisi yang akan menurunkan, jadi sekarang mereka hanya bisa berkumpul di bawah pohon sambil melihat dan sebagian orang juga malah mengambil foto untuk di sebarkan Karena sekarang begitu banyak media sosial menyebar berita bila ada sesuatu yang mengerikan seperti ini.

"Tapi warga kita sama sekali tidak ada yang kehilangan anak kan?" Pak RT menatap seluruh warga yang sudah berkumpul.

"Alhamdulilah tidak, Pak." jawab yang lain serentak.

"Maaf, tapi Mirasih malam ini dia tidak pulang Dan semoga saja ini bukan dia." Arifin menjawab di hadapan Pak RT.

"Hah ke mana Mirasih pergi dan Kenapa dia tidak pulang?!" Pak RT juga jadi kaget karena tadi dia sudah agak lega.

"Dia berpamitan ingin menonton organ tunggal tapi sampai sekarang memang belum kembali." jawab Arifin.

"Ya Allah tapi semoga ini bukan dia." harap Pak RT sambil menoleh kepada mayat tergantung itu.

"Lagian kok ya bisa nonton organ tunggal saja sampai tidak pulang semalaman." celetuk Ibu Ibu julid.

"Paling Mirasih pergi dengan Jarwo karena dia kan cinta berat dengan pria itu." sahut Fitri.

"Ya gimana tidak cinta berat orang jarwo itu orang kaya, jadi pasti Mirasih mau melakukan apa saja biar bisa menjadi menantu keluarga Pak Sarbeni." timpal Aulia.

"Tolong jangan berbicara seperti itu karena kondisi kita saat ini sedang tidak baik-baik saja, mohon untuk menjaga lisan dan tidak menyakiti orang lain." Pak RT berkata dengan sangat bijak.

"Jangan hanya bisa mengetahui orang karena kita juga bukan manusia yang sempurna." Arifin menatap Aulia dan juga Fitri dengan tatapan tajam.

"Loh kami kan berbicara fakta tentang Mirasih ini, dia tidak pulang semalam dan sudah pasti dia pergi bersama dengan Jarwo." Fitri menjelaskan tanpa ada rasa bersalah.

"Kan semua orang yang ada di desa ini juga tahu kalau Mirasih begitu mencintai Jarwo." sambung Aulia.

Arifin rasanya ingin berdebat lagi dengan mereka namun dia merasa percuma setelah menyadari bahwa rombongan para wanita ini tidak akan pernah bisa berhenti untuk mengatai Mirasih, jadi percuma saja dia berdebat dengan mereka semua dan itu hanya akan membuang tenaga serta emosi yang tidak akan bisa tersalur.

Ketika Pak RT akan berbicara lagi kepada mereka semua, saat itu mobil polisi datang dan mereka semua segera menyingkir karena polisi yang akan segera menurunkan mayat gadis ini, Narti yang ada di sana sudah tidak bisa berkata apa-apa karena dia pun sangat berdebar dan ingin melihat apa memang ini sang anak.

Rasa tubuh begitu lemah seolah tidak berdaya karena dia terus saja berdebat di dalam hati, perdebatan yang begitu ketara antara ini memang sang anak atau bukan tapi yang jelas di sisi lain dia merasa bahwa ini memang Mirasih yang telah mengalami nasib buruk ketika dia pergi tadi malam.

"Kamu jangan panik dulu seperti itu karena belum tentu itu Mirasih." Puspita mendekati Narti.

"Ta..tapi aku sangat takut bila ternyata memang itu adalah Mirasih." Narti berkata dengan suara gemetar.

"Tidak, itu pasti bukan dia karena tidak mungkin ada warga sini yang mau menyakiti Mirasih sampai seperti itu." Puspita berkata dengan sangat yakin.

Narti memang sudah sangat ketakutan dan bahkan sekarang seluruh tubuh terasa begitu dingin, walau Puspita mengatakan demikian namun tetap saja hati ini menolak untuk percaya Karena dia memang merasa bahwa sang anak telah mengalami nasib buruk dan sekarang tergantung di atas pohon kapuk dengan keadaan tubuh hancur lebur.

"Ya Allah tega sekali yang membunuh dengan cara seperti ini." Puspita menahan nafas ketika mayat gadis itu sudah mulai turun.

"Seluruh organ tubuh dia keluar semua, ini seperti dibelah dengan sesuatu ya." ujar Fitri yang sudah terlebih dahulu mendekati.

"Ayo lihat wajah dia apakah itu memang Mirasih atau orang lain." Aulia sudah tidak sabar.

"Ya mana boleh kita memegang karena sudah ada polisi." Fitri memberi kode kepada Aulia.

"Pak polisi cepat lihat wajah dia ini, kami ingin tahu siapa yang sudah meninggal dunia." Aulia dengan tidak tahu malu mendesak polisi tersebut.

"Tolong jangan mendekat seperti ini dan jangan sampai menyentuh mayat." polisi memberi peringatan kepada mereka berdua.

"Warga kami ada yang menghilang satu orang, Pak! tolong pastikan apa ini memang Mirasih atau orang lain yang tergantung di sini." Pak RT mewakili untuk berbicara.

"Kita harus membawa mayat ini terlebih dahulu agar bisa untuk diselidiki lebih lanjut." ujar polisi.

Namun Arifin sudah tidak sabar lagi dan kemudian dia menerobos rombongan para manusia yang berjejer rapat karena mereka semua penasaran dengan mayat itu, dia menyibak rambut yang menutupi wajah sang gadis dan seketika dia ambruk di tanah ketika sudah melihat sendiri bagaimana wajah gadis itu walau mengalami banyak luka namun tetap saja Arifin bisa mengenali.

Selamat pagi besti, jangan lupa like dan komen nya ya.

Terpopuler

Comments

ismi

ismi

nahkan mirasih dibunuh secara sadis biar gk ada yg mengenali,,itu pak polisinya eko sama beni bukan

2026-03-30

4

istrinya_kimseokjin

istrinya_kimseokjin

itu gimana yaa klo ktemu purnama dan rombonganya, dia memang dbnuh tp kan dia jg secara suka rela tidur dg jarwo. apa gak habis mirasih dbuli ama para member purnama

2026-04-02

0

☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔

☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔

masih misteri siapa yang bunuh Mirasih ....bisa kaya di cabik2 binatang buas seperti itu

2026-03-30

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Mirasih
2 Bab 2. Belum pulang
3 Bab 3.Mayat tergantung
4 Bab 4. Arifin mengenali
5 Bab 5. Kematian Mirasih
6 Bab 6. Laila
7 Bab 7. Mayat Laila
8 Bab 8. Menuduh Mirasih
9 Bab 9. kesedihan Narti
10 Bab 10. Menggembala kambing
11 Bab 11. Kecemasan Sarmini
12 Bab 12. Iwan hilang
13 Bab 13. Mencari Iwan
14 Bab 14. Belum ketemu
15 Bab 15. Tekad Narti
16 Bab 16. Himbauan Pak Rt
17 Bab 17. korban lagi
18 Bab 18. Untung ada Mansur
19 Bab 19. Gosip dulu
20 Bab 20. Debat dengan Pak RT
21 Bab 21. Percakapan
22 Bab 22. Suara kambing
23 Bab 23. Di sesatkan
24 Bab 24. di rumah Purnama
25 Bab 25. Mansur ngompol
26 Bab 26. Kedatangan Purnama
27 Bab 27. Masih menyelidiki
28 Bab 28. Mencari dukun
29 Bab 29. Akan cari dukun
30 Bab 30. Dukun paten
31 Bab 31. memulai ritual
32 Bab 32. Iblis ratusan tahun
33 Bab 33. debat Sarmini
34 Bab 34. Narti mendengar
35 Bab 35. Purnama datang.
36 Bab 36. Rahasia
37 Bab 37. Jenderal perang
38 Bab 38. peringatan kematian
39 Bab 39. peringatan sungai darah
40 Bab 40. Kembali debat
41 Bab 41. Mirasih atau bukan
42 Bab 42. Nolan jadi tumbal
43 Bab 43. Menemukan
44 Bab 44. Bertarung
45 Bab 45. debat dengan Arifin
46 Bab 46. Di paksa pulang.
47 Bab 47. mukade
48 Bab 48. Jarwo tertekan
49 Bab 49. Bertemu Purnama.
50 Bab 50. Cerita Jarwo
51 Bab 51. Flashback
52 Bab 52. Flashback part 2
53 Bab 53. Flashback off
54 Bab 54. Sarmini
55 Bab 55. Saiyara keras kepala
56 Bab 56. Kuku Nana patah
57 Bab 57. Saiyara
58 Bab 58. Ketakutan tiga gadis
59 Bab 59. Memberi laporan
60 Bab 60. Narti kabur
61 Bab 61. Mencari Sarmini
62 Bab 62. Memberitahu Sagara
63 Bab 63. Sedih nya Sagara
64 Bab 64. Mengurus mayat Hamdan
65 Bab 65. Mengatur rencana
66 Bab 66. Menghajar Jarwo
67 Bab 67. Arya bergerak
68 Bab 68. Menangkap Mirasih
69 Bab 69. Arjuna
70 Bab 70. Korban lagi
71 Bab 71. Derita Nana
72 Bab 72. Perjuangan Sagara
73 Bab 73. Serangan bola api
74 Bab 74. Pengorbanan
75 Bab 75. Jarwo
76 Bab 76. Kembali
77 Bab 77. Mayat Jarwo
78 Bab 78. Duka Anita
79 Bab 79. Fitnah Arifin
80 Bab 80. Belum ada penawar
81 Bab 81. Rencana
82 Bab 82. Mendapat mangsa
83 Bab 83. Musnah nya Mirasih
84 Bab 84. Penyerangan
85 Bab 85. Pertempuran
86 Bab 86. Helm
87 Bab 87. Kekalahan
88 Bab 88. Menyiksa
89 Bab 89. Rasa bahagia Narti
90 Bab 90. Selesai
Episodes

Updated 90 Episodes

1
Bab 1. Mirasih
2
Bab 2. Belum pulang
3
Bab 3.Mayat tergantung
4
Bab 4. Arifin mengenali
5
Bab 5. Kematian Mirasih
6
Bab 6. Laila
7
Bab 7. Mayat Laila
8
Bab 8. Menuduh Mirasih
9
Bab 9. kesedihan Narti
10
Bab 10. Menggembala kambing
11
Bab 11. Kecemasan Sarmini
12
Bab 12. Iwan hilang
13
Bab 13. Mencari Iwan
14
Bab 14. Belum ketemu
15
Bab 15. Tekad Narti
16
Bab 16. Himbauan Pak Rt
17
Bab 17. korban lagi
18
Bab 18. Untung ada Mansur
19
Bab 19. Gosip dulu
20
Bab 20. Debat dengan Pak RT
21
Bab 21. Percakapan
22
Bab 22. Suara kambing
23
Bab 23. Di sesatkan
24
Bab 24. di rumah Purnama
25
Bab 25. Mansur ngompol
26
Bab 26. Kedatangan Purnama
27
Bab 27. Masih menyelidiki
28
Bab 28. Mencari dukun
29
Bab 29. Akan cari dukun
30
Bab 30. Dukun paten
31
Bab 31. memulai ritual
32
Bab 32. Iblis ratusan tahun
33
Bab 33. debat Sarmini
34
Bab 34. Narti mendengar
35
Bab 35. Purnama datang.
36
Bab 36. Rahasia
37
Bab 37. Jenderal perang
38
Bab 38. peringatan kematian
39
Bab 39. peringatan sungai darah
40
Bab 40. Kembali debat
41
Bab 41. Mirasih atau bukan
42
Bab 42. Nolan jadi tumbal
43
Bab 43. Menemukan
44
Bab 44. Bertarung
45
Bab 45. debat dengan Arifin
46
Bab 46. Di paksa pulang.
47
Bab 47. mukade
48
Bab 48. Jarwo tertekan
49
Bab 49. Bertemu Purnama.
50
Bab 50. Cerita Jarwo
51
Bab 51. Flashback
52
Bab 52. Flashback part 2
53
Bab 53. Flashback off
54
Bab 54. Sarmini
55
Bab 55. Saiyara keras kepala
56
Bab 56. Kuku Nana patah
57
Bab 57. Saiyara
58
Bab 58. Ketakutan tiga gadis
59
Bab 59. Memberi laporan
60
Bab 60. Narti kabur
61
Bab 61. Mencari Sarmini
62
Bab 62. Memberitahu Sagara
63
Bab 63. Sedih nya Sagara
64
Bab 64. Mengurus mayat Hamdan
65
Bab 65. Mengatur rencana
66
Bab 66. Menghajar Jarwo
67
Bab 67. Arya bergerak
68
Bab 68. Menangkap Mirasih
69
Bab 69. Arjuna
70
Bab 70. Korban lagi
71
Bab 71. Derita Nana
72
Bab 72. Perjuangan Sagara
73
Bab 73. Serangan bola api
74
Bab 74. Pengorbanan
75
Bab 75. Jarwo
76
Bab 76. Kembali
77
Bab 77. Mayat Jarwo
78
Bab 78. Duka Anita
79
Bab 79. Fitnah Arifin
80
Bab 80. Belum ada penawar
81
Bab 81. Rencana
82
Bab 82. Mendapat mangsa
83
Bab 83. Musnah nya Mirasih
84
Bab 84. Penyerangan
85
Bab 85. Pertempuran
86
Bab 86. Helm
87
Bab 87. Kekalahan
88
Bab 88. Menyiksa
89
Bab 89. Rasa bahagia Narti
90
Bab 90. Selesai

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!