Bab 2: Antara Curhat Colongan dan Transferan Sayang

​Aiswa merebahkan tubuhnya di atas kasur tanpa sempat ganti baju. Rasanya tulang-tulangnya seperti dipreteli satu per satu. Mengurus anak-anak TK saat study tour ke kebun binatang ternyata jauh lebih melelahkan daripada lari maraton.

​"Energi mereka itu pakai baterai apa, sih? Nggak habis-habis!" gumamnya pada langit-langit kamar.

Padahal kaki Aiswa rasanya sudah ingin mogok kerja sejak tadi di area kolam renang. Namun, meski badannya remuk, ia tidak bisa menahan senyum saat mengingat tingkah polos murid-muridnya. Menjadi guru TK memang hobi menguji tekanan darah, tapi juga obat moodbooster paling ampuh.

​Ponsel di sampingnya bergetar. Sebuah nama muncul di layar: Aditya (Calon Imam).

Seketika, rasa pegalnya seolah terbang dibawa angin. Dengan semangat 45, Aiswa menggeser tombol hijau untuk panggilan video.

​"Halo sayang, assalamualaikum!" sapa Aiswa dengan suara yang sengaja diceriakan.

​"Waalaikumsalam, Cantik," sahut Aditya dari seberang sana dengan suara baritonnya yang menenangkan.

"Gimana hari ini? Capek banget, ya? Mukanya sampai ditekuk begitu."

​Aiswa langsung mengeluarkan jurus andalannya: curhat tanpa titik koma.

Ia menceritakan dari mulai anak yang hampir terpeleset, hingga drama menemukan anak hilang yang membuatnya hampir berubah jadi singa.

​"Kamu beneran bilang begitu ke bapaknya?" tanya Aditya tak percaya.

Ia tertawa kecil membayangkan pacarnya yang biasanya lemah lembut,meski kadang suka tantrum kalau lapar, berani memberikan wejangan pada orang asing.

​"Iya! Hampir saja aku omeli habis-habisan. Untung batin aku teriak, Aiswa sabar... Aiswa sabar..." ucap Aiswa sambil mengelus dadanya dramatis.

​"Habisnya, tempat seramai itu kok anaknya dibiarkan lepas jangkauan. Kalau diculik gimana? Repot, kan?" lanjutnya menggebu-gebu.

Inilah yang Aiswa sukai dari Aditya. Pria itu selalu bisa jadi pendengar yang baik, tempat sampah bagi semua keluh kesahnya tanpa pernah menghakimi.

​"Lagipula, Mas... bapaknya itu aneh banget tahu nggak?" Aiswa mulai mengeluarkan bakat julid terselubungnya.

​"Aneh gimana?"

​"Mas bayangkan, ke tempat wisata kebun binatang dan kolam renang, dia pakai setelan jas kantor lengkap! Dia itu mau berenang atau mau rapat direksi? Apa nggak lucu kalau dia naik perosotan pelangi sambil presentasi pakai proyektor?" seloroh Aiswa.

​Aditya tertawa lepas.

"Mungkin dia saking sibuknya sampai nggak sempat ganti baju, Ais."

​"Tetap saja aneh!"

​Baru saja Aiswa ingin melanjutkan sesi gosipnya, tiba-tiba muncul notifikasi panggilan masuk di layar ponsel.

Arka (Adik Durhaka).

​"Mas, Ais tutup dulu ya? Ini Arka telepon, ganggu aja nih bocah. Tapi penting kayaknya. Nanti Ais telepon lagi, ya?"

​"Oke sayang, salam buat keluarga ya."

​Sambungan terputus. Aiswa segera beralih ke panggilan video sang adik.

"Halo, assalamualaikum, Kak!" sapa Arka di layar.

​"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Apa kabar adikku yang paling jauh?"

Arkananta, adik ke dua Aiswa, saat ini dia bekerja di luar kota sebagai operator alat berat. Kontak nya dinamakan adik durhaka oleh Aiswa karena memang mereka ibarat tom and Jerry dunia nyata. Namun tetap saja ketika LDR dengan sang adik Aiswa tetap merasa rindu, teman ributnya tidak ada di rumah.

​"Bunda mana?" tanya Arka langsung tanpa basa-basi.

​Aiswa langsung memasang wajah tersinggung.

"Yee! Sapa kakak tercantikmu ini dulu kek, tanya kabar kek. Langsung 'Bunda mana'. Telepon ke HP Bunda saja sana!"

​"HP Bunda nggak aktif, lagi mati kali. Kakak di mana itu?"

​"Lagi di kamar, mau pingsan karena capek."

​"Ya sudah, cepat kasih ke Bunda, aku mau ngobrol."

​Aiswa menyipitkan mata.

"Dih, maksa. Kasih dulu seratus supaya urusan tidak terputus," ucap Aiswa jenaka sambil menunjukkan telapak tangan.

​Arka geleng-geleng kepala.

"Iya, nanti aku transfer buat jajan bulan ini. Cepat!"

​"Uhuy! Senangnya dalam hati, punya adik royal sekali..." Aiswa menyanyi sumbang sambil bangkit dari kasurnya. Ia berjalan keluar kamar menuju ruang tamu.

"Ibunda Ratuuu! Yuhuuu! Di mana dikau Bunda?" teriak Aiswa menggelegar sampai burung tetangga mungkin ikut kaget.

​"Apa sih, Kak? Teriak-teriak kayak di hutan saja," sahut Bunda Ayunda yang sedang asyik menonton TV bersama Ayah Agus.

​"Ini, Bunda... anak Bunda yang paling ganteng sejagat raya menelepon. Silakan berbicara," ucap Aiswa dengan gaya drakor, menyerahkan ponselnya.

​"Eh, siapa yang paling ganteng? Anak Bunda paling ganteng itu Aksa!" si bungsu Aksa yang sedang tiduran di sofa tiba-tiba protes.

​"Ups, keceplosan!" Aiswa menutup mulutnya akting kaget.

"Maaf adik kakak tersayang, kamu ganteng kok... beda satu persen saja di bawah Arka," tambahnya kemudian langsung kabur sebelum bantal sofa terbang ke arahnya.

​Aiswa tahu kalau sudah mengobrol dengan Arka, Ayah dan Bunda tidak akan selesai dalam lima menit. Ia memutuskan membiarkan ponselnya "disandera" sementara ia pergi mandi dan bersiap tidur. Tubuhnya sudah benar-benar protes ingin diistirahatkan.

Terpopuler

Comments

Lisa

Lisa

Ceritanya menarik juga nih

2026-05-19

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Tante Guru dan Tuan Kaku
2 Bab 2: Antara Curhat Colongan dan Transferan Sayang
3 Bab 3: Jejak Digital dan Langkah Sang Predator
4 Bab 4: Jebakan Makan Siang dan Teman yang Kurang Akhlak
5 Bab 5: Kerjasama Ayah dan Anak yang Terlalu Epic
6 Bab 6: Tim Makcomblang dan Siasat Tuan Muda
7 Bab 7: Jebakan Berkedok Seminar
8 Bab 8: Pernyataan Perang di Bawah Langit Bali
9 Bab 9: Senam Jantung di Bawah Matahari Bali
10 Bab 10: Diplomasi Kamar Mandi dan Jebakan Outdoor
11 Bab 11: Skakmat di Depan Mikrofon
12 Bab 12: Antara Nyawa dan Trauma Masa Lalu
13 Bab 13: Pulang dalam Genggaman Sang Predator
14 Bab 14: Jet Pribadi dan Lamaran Jalur Bocil
15 Bab 15: Investor di Balik Bayang-bayang
16 Bab 16: Sidang Pleno Geng Sembilan Nyawa
17 Bab 17: Pilihan di Ujung Tanduk
18 Bab 18: Karung untuk Sang Sultan
19 Bab 19: Singa Betina dalam Kandang Naga
20 Bab 20: Runtuhnya Benteng Terakhir
21 Bab 21: Payung, Jas, dan Jebakan Ibu-Ibu
22 Bab 22: Melawan Trauma demi Sang Pemilik Hati
23 Bab 23: Strategi Penaklukan Sang Calon Menantu
24 Bab 24: Pasukan Pengompor dan Kiriman Misterius
25 Bab 25: Piyama Biru Muda dan Misi Melabrak Duda
26 Bab 26: Kopi Hitam dan Zirah Pelindung Sang CEO
27 Bab 27: Ruang Kedap Suara dan Hadiah yang Tertunda
28 Bab 28: Kandang Singa, Foto Masa Lalu, dan Ancaman Bungkam
29 Bab 29: Sesuap Nasi, Tuduhan Buta, dan Kekecewaan yang Pecah
30 Bab 30: Pecahnya Topeng Kesabaran, Pengakuan Tak Terduga, dan Batas Akhir
31 Bab 31: Dialog Dua Orang Asing, Perlindungan Posesif, dan Dekapan Hangat
32 Bab 32: Sentuhan Kecil, Skenario Duda, dan Potret Keluarga Bahagia
33 Bab 33: Gelang Manik-Manik, Proyek Sains Aksara, dan Lampu Hijau Calon Ipar
34 Bab 34: Lamaran di Ruang Tamu Lesehan
35 Bab 35: Bestie Zianna dan Sidang Meja Makan
36 Bab 36: Kejutan Instan, Pawang Buaya, dan Rahasia sang CEO
37 Bab 37: Air Mata Albi dan Pengawasan Jarak Jauh
38 Bab 38: Pelukan Ibu dan Skenario Rahasia sang CEO
39 Bab 39: Labrakan Nyonya Besar dan Gebrakan Pintu Ruangan
40 Bab 40: Skakmat sang CEO
41 Bab 41: Mode Singa dan Rahasia CCTV
42 Bab 42: Air Mata Penyesalan sang Nyonya Besar
43 Bab 43: Obat sang CEO
44 Bab 44: Sengatan di Butik Sultan
45 Bab 45: Ancaman di Depan Angkot
46 Bab 46: Singa Betina Sedang Mengamuk
47 Bab 47: Guyuran Air dan Pelindung Tak Terduga
48 Bab 48: Hangat di Balik Dinginnya Argian
49 Bab 49: Sisi Hangat Sang Predator
50 Bab 50: Uang Tanpa Limit dan Skakmat di Kursi Belakang
51 Bab 51: Sambutan Hangat di Rumah Klasik
52 Bab 52: Strategi Licik di Kursi Belakang
53 Bab 53: Drama Telur Gulung dan Hadirnya sang Bidadari
54 Bab 54: Komplotan Kembar Fiktif
55 Bab 55: Koboi Nyasar yang Salah Alamat
56 Bab 56: Kepulangan sang Predator
57 Bab 57: Urusan Kenegaraan yang Kelewat Batas
58 Bab 58: Aliansi di Atas Langit dan Lem Kambing Pak Duda
59 Bab 59: Diplomasi Duda Edan dan Operasi Jemput "Anak Kita"
60 Bab 60: Strategi Pelukan Massal ala Bapak dan Anak
61 Bab 61: Tabib Dadakan dan Diplomasi Pohon Mangga
62 Bab 62: Diplomasi Pohon Mangga dan Kekalahan Mutlak sang CEO
63 Bab 63: Sop Ayam Kampung dan Badai yang Kembali Mendekat
64 Bab 64: Gertakan Singa dan Takdir yang Bergeser
65 Bab 65: Strategi, Ciuman Pertama, dan Sandera di Lapangan
66 Bab 66: Jejak Masa Lalu dan Siasat Sang Singa
67 Bab 67: Sahabat MUA, Ramalan Jodoh, dan Batuk yang Mencurigakan
68 Bab 68: Aliansi Dua Singa dan Pintu Neraka yang Terbuka
69 Bab 69: Hadiah Mantan dan Kalkulasi Investasi Dadakan
70 Bab 70: Duel Harga Diri, Tas Bermerek, dan Serangan Balik Atlet Sekolah
71 Bab 71: Power Matriark Tertinggi dan Cilok Puluhan Juta
72 Bab 72: Sidang Paripurna Sembilan Nyawa dan Sinyal Hijau dari Kasta Tertinggi
73 Bab 73: Invasi Tengah Malam dan Detak Jantung yang Terancam Pensiun Dini
74 Bab 74: Modus Jalur VIP dan Ancaman Kanibalisme Aiswa
75 Bab 75: Trauma yang Terkunci dan Lompatan di Ambang Batas
76 Bab 76: Cermin Retak Masa Lalu dan Tangisan di Balik Kaca
77 Bab 77: Kulit Ayam, Gombalan Kumur-Kumur, dan Teori Kepemilikan Duda Sinting
78 Bab 78: Ancaman Dingin sang Penguasa dan Kotak Rahasia yang Tertinggal
79 Bab 79: Kilau Emas dan Cemburu sang Penguasa
80 Bab 80: Ultimatum Maut sang Singa Posesif
81 Bab 81: Alarm Bahaya, Teori Hukum sang Duda, dan Gangguan "Bobo Cantik" Zianna
82 Bab 82: Lapangan Pribadi Sang Tuan Muda dan Refleks Pelukan yang Salah Alamat
83 Bab 83: Kalah Tanding tapi Menang Banyak
84 Bab 84: Pasukan Skuter Jas Hitam dan Syok Jilid Tiga sang Guru PAUD
85 Bab 85: Peringatan Berdarah sang Asisten dan Gosip Panas Kakak-Adik
86 Bab 86: Terapi Belanja Dua Puluh Juta dan Gosip Panas Cincin sang Mantan
87 Bab 87: Sidang Sembilan Nyawa dan Penggerebekan Lamaran Dadakan
88 Bab 88: Mode Preman VS Skakmat Sang Duda
89 Bab 89: Ketika Guru PAUD Kehilangan Anggun di Depan Lucas
90 Bab 90: Jebakan Mbak Suci dan Pengawalan Ala Keluarga Ningrat
91 Bab 91: Gosip Sumala, Misteri Air Mata sang Ibu Peri, dan Janji di Tepi Jalan
92 Bab 92: Istana Hutan Lindung, Rencana Mbak Suci, dan Analisis Genius sang Bocil
93 Bab 93: Senyum Licik di Balik Pintu dan Penerbangan Tengah Malam
94 Bab 94: Penyusup Subuh, Cas Energi sang Tirani, dan Pelukan Tanpa Sadar
95 Bab 95: Sarapan "Penyusup" dan Rusaknya Rencana Rahasia
96 Bab 96: Retaknya Dunia Shena
97 Bab 97: Retaknya Dunia Cemara, Duda Palsu, dan Skenario Bom Waktu
98 Bab 98: Siasat di Atas Meja, Dominasi Duda Sultan, dan Sleep Call Tanpa Rencana
99 Bab 96: Kebun Tomat sang Nyonya, Gaun Lima Warna, dan Nasihat dari Balkon Istana
100 Bab 100: Tuan Muda di Kebun Tomat dan Teori Ganti Rugi Sultan
101 Bab 101: Trik Akting Kelas Teri, Kebijakan Bunda, dan Kegagalan Drama Kolosal
102 Bab 102: Obsesi di Balik Cermin, Niat Tersembunyi, dan Kepolosan Si Putri Kecil
103 Bab 103: Rencana yang Melenceng, Jeritan di Dekat Tangga, dan Bisikan Palsu
104 Bab 104: Pelukan Pagi Hari dan Air Mata Penyesalan
105 Bab 105: Penolakan Sang Tirani, Pintu yang Tertutup, dan Reuni Sembilan Nyawa
106 Bab 106: Teori di Kamar Kosan, Manipulasi Wajah Peri, dan Konspirasi Tujuh Sumur
107 Bab 107: Calon Suami, Ongkos Lima Puluh Ribuan, dan Tabir yang Terkuak
108 Bab 108: Skenario Sang Dalang, Umpan Beracun, dan Kembalinya Calon Nyonya Argian
109 Bab 109: Pemanasan, Drama Action, dan Hukuman Sang Calon Suami
110 Bab 110: Topeng yang Terlepas, Amukan sang Ular, dan Luka untuk sang Calon Istri
111 Bab 111: Bahkan Semut pun Tak Boleh
112 Bab 112: Calon Nyonya Rumah, Pelukan Kerinduan, dan Boneka Kelinci
113 Bab 113: Geng Sembilan Nyawa dan Detak Jantung Aksara
114 Bab 114: Gulai Ayam, Pengukuran Gaun, dan Kejutan Tiga Hari Lagi
115 Bab 115: Khodam Preman, Sosok Misterius, dan Fans Fanatik
116 Bab 116: Hukuman Khas Aiswa, Singa Rumah, dan Kepulangan Arkananta
117 Bab 117: Deep Talk, Kehebohan Grub, dan Curiga pada Sang Duda
118 Bab 118: Khawatir sang Duda, Pengakuan Datar, dan Incaran Misterius
119 Bab 119: Kejutan di Hari Pertunangan
120 Bab 120: Aku-Kamu, Peringatan Tegas, dan Pengintai dari Lantai Atas
121 Bab 121: Insting Shena, Perintah Rahasia, dan Kejutan MUA
122 Bab 122: Kehangatan Meja Makan dan Ledakan Amarah
123 Bab 123: Hama Sekolah dan Penyelamatan Seru
124 Bab 124: Perang Toa, Tumbler Bunda, dan Bayangan Anna
125 Bab 125: Di Balik Pintu Semesta Devan
126 Bab 126: Penawar Tanpa Resep
127 Bab 127: Pengakuan dan Bayang-Bayang Musuh Dalam Selimut
128 Bab 128: Kartu Hitam, Kode PIN, dan Rahasia Satu Butir Pil
129 Bab 129: Insiden di Jalan dan Perangkap yang Terbuka
130 Bab 130: Satu Langkah ke Arahku
131 Bab 131: Pamitan Arka, Rencana Prancis, dan Becandaan Berbahaya Nala
132 Bab 132: Kalung Kelinci, Foto Bersama, dan Godaan Sebelum Berangkat
133 Bab 133: Pengawal Cilik, Cemburu Aluna, dan Asumsi Aksara
134 Bab 134: Ponsel yang Hancur dan Rahasia Kalung Kelinci
135 Bab 135: Kostum Pelangi Nala dan Senjata Aksara
136 Bab 136: Obrolan di Taman Kota dan Kalung yang Terlepas
137 Bab 137: Gosip Saudara Tiri dan Senjata Momen Canggung
138 Bab 138: Kilas Balik Memori dan Usilnya Sang Kakak
139 Bab 139: Pertemuan Tak Terduga di Toko Kue dan Peringatan Keras Aruna
Episodes

Updated 139 Episodes

1
Bab 1: Tante Guru dan Tuan Kaku
2
Bab 2: Antara Curhat Colongan dan Transferan Sayang
3
Bab 3: Jejak Digital dan Langkah Sang Predator
4
Bab 4: Jebakan Makan Siang dan Teman yang Kurang Akhlak
5
Bab 5: Kerjasama Ayah dan Anak yang Terlalu Epic
6
Bab 6: Tim Makcomblang dan Siasat Tuan Muda
7
Bab 7: Jebakan Berkedok Seminar
8
Bab 8: Pernyataan Perang di Bawah Langit Bali
9
Bab 9: Senam Jantung di Bawah Matahari Bali
10
Bab 10: Diplomasi Kamar Mandi dan Jebakan Outdoor
11
Bab 11: Skakmat di Depan Mikrofon
12
Bab 12: Antara Nyawa dan Trauma Masa Lalu
13
Bab 13: Pulang dalam Genggaman Sang Predator
14
Bab 14: Jet Pribadi dan Lamaran Jalur Bocil
15
Bab 15: Investor di Balik Bayang-bayang
16
Bab 16: Sidang Pleno Geng Sembilan Nyawa
17
Bab 17: Pilihan di Ujung Tanduk
18
Bab 18: Karung untuk Sang Sultan
19
Bab 19: Singa Betina dalam Kandang Naga
20
Bab 20: Runtuhnya Benteng Terakhir
21
Bab 21: Payung, Jas, dan Jebakan Ibu-Ibu
22
Bab 22: Melawan Trauma demi Sang Pemilik Hati
23
Bab 23: Strategi Penaklukan Sang Calon Menantu
24
Bab 24: Pasukan Pengompor dan Kiriman Misterius
25
Bab 25: Piyama Biru Muda dan Misi Melabrak Duda
26
Bab 26: Kopi Hitam dan Zirah Pelindung Sang CEO
27
Bab 27: Ruang Kedap Suara dan Hadiah yang Tertunda
28
Bab 28: Kandang Singa, Foto Masa Lalu, dan Ancaman Bungkam
29
Bab 29: Sesuap Nasi, Tuduhan Buta, dan Kekecewaan yang Pecah
30
Bab 30: Pecahnya Topeng Kesabaran, Pengakuan Tak Terduga, dan Batas Akhir
31
Bab 31: Dialog Dua Orang Asing, Perlindungan Posesif, dan Dekapan Hangat
32
Bab 32: Sentuhan Kecil, Skenario Duda, dan Potret Keluarga Bahagia
33
Bab 33: Gelang Manik-Manik, Proyek Sains Aksara, dan Lampu Hijau Calon Ipar
34
Bab 34: Lamaran di Ruang Tamu Lesehan
35
Bab 35: Bestie Zianna dan Sidang Meja Makan
36
Bab 36: Kejutan Instan, Pawang Buaya, dan Rahasia sang CEO
37
Bab 37: Air Mata Albi dan Pengawasan Jarak Jauh
38
Bab 38: Pelukan Ibu dan Skenario Rahasia sang CEO
39
Bab 39: Labrakan Nyonya Besar dan Gebrakan Pintu Ruangan
40
Bab 40: Skakmat sang CEO
41
Bab 41: Mode Singa dan Rahasia CCTV
42
Bab 42: Air Mata Penyesalan sang Nyonya Besar
43
Bab 43: Obat sang CEO
44
Bab 44: Sengatan di Butik Sultan
45
Bab 45: Ancaman di Depan Angkot
46
Bab 46: Singa Betina Sedang Mengamuk
47
Bab 47: Guyuran Air dan Pelindung Tak Terduga
48
Bab 48: Hangat di Balik Dinginnya Argian
49
Bab 49: Sisi Hangat Sang Predator
50
Bab 50: Uang Tanpa Limit dan Skakmat di Kursi Belakang
51
Bab 51: Sambutan Hangat di Rumah Klasik
52
Bab 52: Strategi Licik di Kursi Belakang
53
Bab 53: Drama Telur Gulung dan Hadirnya sang Bidadari
54
Bab 54: Komplotan Kembar Fiktif
55
Bab 55: Koboi Nyasar yang Salah Alamat
56
Bab 56: Kepulangan sang Predator
57
Bab 57: Urusan Kenegaraan yang Kelewat Batas
58
Bab 58: Aliansi di Atas Langit dan Lem Kambing Pak Duda
59
Bab 59: Diplomasi Duda Edan dan Operasi Jemput "Anak Kita"
60
Bab 60: Strategi Pelukan Massal ala Bapak dan Anak
61
Bab 61: Tabib Dadakan dan Diplomasi Pohon Mangga
62
Bab 62: Diplomasi Pohon Mangga dan Kekalahan Mutlak sang CEO
63
Bab 63: Sop Ayam Kampung dan Badai yang Kembali Mendekat
64
Bab 64: Gertakan Singa dan Takdir yang Bergeser
65
Bab 65: Strategi, Ciuman Pertama, dan Sandera di Lapangan
66
Bab 66: Jejak Masa Lalu dan Siasat Sang Singa
67
Bab 67: Sahabat MUA, Ramalan Jodoh, dan Batuk yang Mencurigakan
68
Bab 68: Aliansi Dua Singa dan Pintu Neraka yang Terbuka
69
Bab 69: Hadiah Mantan dan Kalkulasi Investasi Dadakan
70
Bab 70: Duel Harga Diri, Tas Bermerek, dan Serangan Balik Atlet Sekolah
71
Bab 71: Power Matriark Tertinggi dan Cilok Puluhan Juta
72
Bab 72: Sidang Paripurna Sembilan Nyawa dan Sinyal Hijau dari Kasta Tertinggi
73
Bab 73: Invasi Tengah Malam dan Detak Jantung yang Terancam Pensiun Dini
74
Bab 74: Modus Jalur VIP dan Ancaman Kanibalisme Aiswa
75
Bab 75: Trauma yang Terkunci dan Lompatan di Ambang Batas
76
Bab 76: Cermin Retak Masa Lalu dan Tangisan di Balik Kaca
77
Bab 77: Kulit Ayam, Gombalan Kumur-Kumur, dan Teori Kepemilikan Duda Sinting
78
Bab 78: Ancaman Dingin sang Penguasa dan Kotak Rahasia yang Tertinggal
79
Bab 79: Kilau Emas dan Cemburu sang Penguasa
80
Bab 80: Ultimatum Maut sang Singa Posesif
81
Bab 81: Alarm Bahaya, Teori Hukum sang Duda, dan Gangguan "Bobo Cantik" Zianna
82
Bab 82: Lapangan Pribadi Sang Tuan Muda dan Refleks Pelukan yang Salah Alamat
83
Bab 83: Kalah Tanding tapi Menang Banyak
84
Bab 84: Pasukan Skuter Jas Hitam dan Syok Jilid Tiga sang Guru PAUD
85
Bab 85: Peringatan Berdarah sang Asisten dan Gosip Panas Kakak-Adik
86
Bab 86: Terapi Belanja Dua Puluh Juta dan Gosip Panas Cincin sang Mantan
87
Bab 87: Sidang Sembilan Nyawa dan Penggerebekan Lamaran Dadakan
88
Bab 88: Mode Preman VS Skakmat Sang Duda
89
Bab 89: Ketika Guru PAUD Kehilangan Anggun di Depan Lucas
90
Bab 90: Jebakan Mbak Suci dan Pengawalan Ala Keluarga Ningrat
91
Bab 91: Gosip Sumala, Misteri Air Mata sang Ibu Peri, dan Janji di Tepi Jalan
92
Bab 92: Istana Hutan Lindung, Rencana Mbak Suci, dan Analisis Genius sang Bocil
93
Bab 93: Senyum Licik di Balik Pintu dan Penerbangan Tengah Malam
94
Bab 94: Penyusup Subuh, Cas Energi sang Tirani, dan Pelukan Tanpa Sadar
95
Bab 95: Sarapan "Penyusup" dan Rusaknya Rencana Rahasia
96
Bab 96: Retaknya Dunia Shena
97
Bab 97: Retaknya Dunia Cemara, Duda Palsu, dan Skenario Bom Waktu
98
Bab 98: Siasat di Atas Meja, Dominasi Duda Sultan, dan Sleep Call Tanpa Rencana
99
Bab 96: Kebun Tomat sang Nyonya, Gaun Lima Warna, dan Nasihat dari Balkon Istana
100
Bab 100: Tuan Muda di Kebun Tomat dan Teori Ganti Rugi Sultan
101
Bab 101: Trik Akting Kelas Teri, Kebijakan Bunda, dan Kegagalan Drama Kolosal
102
Bab 102: Obsesi di Balik Cermin, Niat Tersembunyi, dan Kepolosan Si Putri Kecil
103
Bab 103: Rencana yang Melenceng, Jeritan di Dekat Tangga, dan Bisikan Palsu
104
Bab 104: Pelukan Pagi Hari dan Air Mata Penyesalan
105
Bab 105: Penolakan Sang Tirani, Pintu yang Tertutup, dan Reuni Sembilan Nyawa
106
Bab 106: Teori di Kamar Kosan, Manipulasi Wajah Peri, dan Konspirasi Tujuh Sumur
107
Bab 107: Calon Suami, Ongkos Lima Puluh Ribuan, dan Tabir yang Terkuak
108
Bab 108: Skenario Sang Dalang, Umpan Beracun, dan Kembalinya Calon Nyonya Argian
109
Bab 109: Pemanasan, Drama Action, dan Hukuman Sang Calon Suami
110
Bab 110: Topeng yang Terlepas, Amukan sang Ular, dan Luka untuk sang Calon Istri
111
Bab 111: Bahkan Semut pun Tak Boleh
112
Bab 112: Calon Nyonya Rumah, Pelukan Kerinduan, dan Boneka Kelinci
113
Bab 113: Geng Sembilan Nyawa dan Detak Jantung Aksara
114
Bab 114: Gulai Ayam, Pengukuran Gaun, dan Kejutan Tiga Hari Lagi
115
Bab 115: Khodam Preman, Sosok Misterius, dan Fans Fanatik
116
Bab 116: Hukuman Khas Aiswa, Singa Rumah, dan Kepulangan Arkananta
117
Bab 117: Deep Talk, Kehebohan Grub, dan Curiga pada Sang Duda
118
Bab 118: Khawatir sang Duda, Pengakuan Datar, dan Incaran Misterius
119
Bab 119: Kejutan di Hari Pertunangan
120
Bab 120: Aku-Kamu, Peringatan Tegas, dan Pengintai dari Lantai Atas
121
Bab 121: Insting Shena, Perintah Rahasia, dan Kejutan MUA
122
Bab 122: Kehangatan Meja Makan dan Ledakan Amarah
123
Bab 123: Hama Sekolah dan Penyelamatan Seru
124
Bab 124: Perang Toa, Tumbler Bunda, dan Bayangan Anna
125
Bab 125: Di Balik Pintu Semesta Devan
126
Bab 126: Penawar Tanpa Resep
127
Bab 127: Pengakuan dan Bayang-Bayang Musuh Dalam Selimut
128
Bab 128: Kartu Hitam, Kode PIN, dan Rahasia Satu Butir Pil
129
Bab 129: Insiden di Jalan dan Perangkap yang Terbuka
130
Bab 130: Satu Langkah ke Arahku
131
Bab 131: Pamitan Arka, Rencana Prancis, dan Becandaan Berbahaya Nala
132
Bab 132: Kalung Kelinci, Foto Bersama, dan Godaan Sebelum Berangkat
133
Bab 133: Pengawal Cilik, Cemburu Aluna, dan Asumsi Aksara
134
Bab 134: Ponsel yang Hancur dan Rahasia Kalung Kelinci
135
Bab 135: Kostum Pelangi Nala dan Senjata Aksara
136
Bab 136: Obrolan di Taman Kota dan Kalung yang Terlepas
137
Bab 137: Gosip Saudara Tiri dan Senjata Momen Canggung
138
Bab 138: Kilas Balik Memori dan Usilnya Sang Kakak
139
Bab 139: Pertemuan Tak Terduga di Toko Kue dan Peringatan Keras Aruna

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!