Bab 3: Jejak Digital dan Langkah Sang Predator

​Akhir pekan bagi Aiswa adalah kemewahan. Akhirnya, ia bisa meliburkan diri dari teriakan lucu murid-muridnya dan instruksi "jangan lari-lari" yang biasa ia teriakkan setiap jam. Hari ini, sahabat-sahabatnya mengajak bertemu.

​Aiswa memiliki lingkaran pertemanan yang cukup, atau sangat ramai. Namanya Sembilan Nyawa (SEMBI-LANN). Sesuai inisial mereka bersembilan yaitu: Shena, Elena, Mikha, Bella, Ilana, Lalita, Aiswa, Nita, dan Nala. Kalau ditambah tiga orang lagi, mereka sudah bisa mendaftar jadi tim sepak bola cadangan. Namun, mengumpulkan sembilan kepala dalam satu waktu itu mustahil. Selalu saja ada yang absen.

​Hari ini, Nala dan Nita berhalangan, sementara Bella dan Ilana baru bisa menyusul siang nanti. Alhasil, Aiswa berangkat lebih awal bersama Elena menuju sebuah mall untuk berburu beberapa barang sebelum mampir ke kafe tempat mereka janjian.

​"Ayo, El, foto dulu! Mumpung pencahayaannya bagus," ajak Aiswa di salah satu sudut mall yang estetik.

Setelah berpose manis, Aiswa langsung mengunggahnya ke Instagram Story. Baru satu menit, tapi Aiswa tidak tahu bahwa satu menit itu adalah awal dari segalanya.

***

​Sementara itu, di sebuah kantor dengan interior serba monokrom yang kaku, Lucas meletakkan sebuah map tebal di atas meja kerja yang luas.

​"Laporan lengkap mengenai Nona Aiswa, Tuan," ucap Lucas formal.

​Devan Argian meraih map itu tanpa ekspresi. Matanya yang tajam menyisir setiap baris informasi, dari riwayat pendidikan, tempat mengajar, detail keluarga Ayah Agus, hingga jejak digital di media sosial. Devan kemudian merogoh ponsel dari saku jasnya, mencari satu nama akun yang tertera di laporan tersebut. Begitu ketemu, ia berhenti sejenak. Ada unggahan cerita baru di sana.

​"Lucas," panggil Devan tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponsel.

"Jika Saya membuka ceritanya ini, apakah dia akan tahu?"

​"Tentu saja terlihat, Tuan. Siapa pun yang melihat akan masuk ke dalam riwayat penayangan," jawab Lucas jujur.

​Devan mendongak, menatap Lucas dengan sorot mata yang membuat asistennya itu langsung merinding.

"Pertanyaan Saya bukan ke situ."

​Lucas tertegun, otaknya berputar cepat mencari maksud sang bos.

​"Bukankah Saya sudah bilang, amankan akun di ponsel Saya. Buat siapa pun tidak akan tahu jika aku 'menyusup' melalui perangkat ini," ujar Devan dingin, menekankan setiap kata seolah sedang memberi peringatan keras.

​Lucas seketika menunduk.

"Benar, Tuan. Maafkan saya, saya sempat lupa perihal pengaturan privasi khusus yang Anda minta."

​Setelah memastikan "keamanannya", Devan mengetuk layar. Snapgram Aiswa terbuka. Di sana, terlihat Aiswa bersama seorang teman wanitanya sedang berpose di sebuah mal.

Devan mengenali tempat itu. Unggahan itu baru dikirim satu menit yang lalu. Artinya, targetnya masih ada di sana.

​Devan menutup map laporan itu dengan suara berdebam kecil, lalu meletakkan ponselnya.

​"Lucas, siapkan mobil!" perintahnya singkat.

​"Baik, Tuan."

Lucas tidak berani banyak bertanya meski batinnya dipenuhi tanda tanya. Menurut jadwal dari sekretaris, hari ini tidak ada agenda rapat atau kunjungan luar. Apa rencana bosnya kali ini?

​Kali ini pun, Devan memerintahkan Lucas untuk menyetir sendiri tanpa membawa sopir pribadi.

Jika menyangkut hal "privat", Devan hanya memercayai Lucas.

​"Kita akan ke mana, Tuan?" tanya Lucas hati-hati setelah mereka membelah jalanan kota.

​Devan menatap lurus ke depan, wajahnya datar tak terbaca.

"Sekolah Zianna."

Lucas hanya mengangguk patuh meski benaknya dipenuhi tanda tanya. Ke sekolah Nona Muda? Untuk apa? Bukankah ini hari libur?

Tanpa menunggu lama, mobil mewah itu membelah jalanan dan sampai di sekolah Zianna. Meski kegiatan belajar-mengajar libur, area kolam renang sekolah tetap ramai karena Zianna mengikuti les renang tambahan setiap akhir pekan.

Jika ada yang bertanya mengapa Devan tetap sibuk di hari libur jawabannya sederhana, dia adalah manusia gila kerja. Namun, minggu ini ia sengaja mengebut semua urusan kantor karena minggu depan ia telah berjanji mengajak Zianna berlibur.

Liburan yang merupakan sebuah "penebusan dosa" karena pada libur semester lalu ia terlalu sibuk hingga rencana liburan dengan sang putri batal total, alhasil Ia didiamkan Zianna seharian penuh. Sebagai permintaan maaf Ia akan mengganti liburan itu di Minggu depan.

Sesampainya di tepi kolam, Zianna tampak heran melihat sosok papanya muncul di saat jam les masih berlangsung. Gadis kecil itu langsung menghampiri Papanya.

"Papa? Kenapa ke sini?"

"Papa mau ajak kamu ke suatu tempat," Ucap Devan.

Namun bukannya senang, wajah Zianna berubah kesal.

"Papaa, kan papa tahu hari ini itu jadwal Zianna les renang, mau ajak ke mana sih," gadis kecil itu menyilangkan kedua tangannya.

Devan berjongkok, lalu membisikkan sesuatu tepat di telinga putrinya. Seketika, wajah kesal Zianna berubah berbinar bahagia. Ia tampak sangat antusias, bahkan sampai menarik-narik ujung jas papanya agar segera menuju mobil.

"Nona, kita ganti baju dulu!" seru Mbak Suci, Baby-sitter Zianna, yang tergopoh-gopoh mengejar.

Setelah berganti pakaian, Zianna berlari kecil menuju mobil. Mbak Suci hendak ikut masuk, namun langkahnya terhenti oleh tatapan tajam Devan.

"Kamu kembali saja ke rumah," perintah Devan mutlak.

"Tapi Tuan, saya pengasuh Nona Zianna. Takut nanti kalau Nona butuh sesuatu atau...,"

Ucapan Suci langsung terputus saat netra dingin Devan menghujamnya. Aura intimidasi itu sanggup membungkam siapa pun dalam hitungan detik.

"Baik, Tuan," cicit Suci sambil menunduk dalam.

Devan kemudian menggendong Zianna dengan lembut, satu-satunya momen di mana sisi hangatnya terlihat. Mereka pun masuk ke dalam mobil.

"Ke mana kita, Tuan?" tanya Lucas saat mesin mulai menderu.

"Mall pusat kota," ucap Devan datar tanpa mengalihkan pandangan dari Zianna yang duduk di pangkuannya.

Lucas mengangguk patuh, tanpa ia tahu kalau itu adalah Mall yang baru saja muncul di unggahan story Aiswa tadi.

"Oh ya, Lucas," panggil Devan tiba-tiba.

"Gaji bulan ini akan saya transfer dua kali lipat sebagai bonus langsung dariku."

Senyum lebar langsung merekah di wajah Lucas. Matanya berbinar membayangkan angka nol yang berderet di saldo rekeningnya. Bonus dari seorang Devan Argian bukanlah recehan, jumlahnya cukup untuk membuat kantongnya tebal seketika.

Memang Boss ini kalau kasih kerjaan suka lupa hari, weekend pun aku harus jadi supir pribadi. Tapi kalau bonusnya begini sih... saldo aman, hati riang! batin Lucas tertawa puas di balik kemudi.

Terpopuler

Comments

Lisa

Lisa

Rejeki nomplok utk Lucas nih 😊👍

2026-05-19

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Tante Guru dan Tuan Kaku
2 Bab 2: Antara Curhat Colongan dan Transferan Sayang
3 Bab 3: Jejak Digital dan Langkah Sang Predator
4 Bab 4: Jebakan Makan Siang dan Teman yang Kurang Akhlak
5 Bab 5: Kerjasama Ayah dan Anak yang Terlalu Epic
6 Bab 6: Tim Makcomblang dan Siasat Tuan Muda
7 Bab 7: Jebakan Berkedok Seminar
8 Bab 8: Pernyataan Perang di Bawah Langit Bali
9 Bab 9: Senam Jantung di Bawah Matahari Bali
10 Bab 10: Diplomasi Kamar Mandi dan Jebakan Outdoor
11 Bab 11: Skakmat di Depan Mikrofon
12 Bab 12: Antara Nyawa dan Trauma Masa Lalu
13 Bab 13: Pulang dalam Genggaman Sang Predator
14 Bab 14: Jet Pribadi dan Lamaran Jalur Bocil
15 Bab 15: Investor di Balik Bayang-bayang
16 Bab 16: Sidang Pleno Geng Sembilan Nyawa
17 Bab 17: Pilihan di Ujung Tanduk
18 Bab 18: Karung untuk Sang Sultan
19 Bab 19: Singa Betina dalam Kandang Naga
20 Bab 20: Runtuhnya Benteng Terakhir
21 Bab 21: Payung, Jas, dan Jebakan Ibu-Ibu
22 Bab 22: Melawan Trauma demi Sang Pemilik Hati
23 Bab 23: Strategi Penaklukan Sang Calon Menantu
24 Bab 24: Pasukan Pengompor dan Kiriman Misterius
25 Bab 25: Piyama Biru Muda dan Misi Melabrak Duda
26 Bab 26: Kopi Hitam dan Zirah Pelindung Sang CEO
27 Bab 27: Ruang Kedap Suara dan Hadiah yang Tertunda
28 Bab 28: Kandang Singa, Foto Masa Lalu, dan Ancaman Bungkam
29 Bab 29: Sesuap Nasi, Tuduhan Buta, dan Kekecewaan yang Pecah
30 Bab 30: Pecahnya Topeng Kesabaran, Pengakuan Tak Terduga, dan Batas Akhir
31 Bab 31: Dialog Dua Orang Asing, Perlindungan Posesif, dan Dekapan Hangat
32 Bab 32: Sentuhan Kecil, Skenario Duda, dan Potret Keluarga Bahagia
33 Bab 33: Gelang Manik-Manik, Proyek Sains Aksara, dan Lampu Hijau Calon Ipar
34 Bab 34: Lamaran di Ruang Tamu Lesehan
35 Bab 35: Bestie Zianna dan Sidang Meja Makan
36 Bab 36: Kejutan Instan, Pawang Buaya, dan Rahasia sang CEO
37 Bab 37: Air Mata Albi dan Pengawasan Jarak Jauh
38 Bab 38: Pelukan Ibu dan Skenario Rahasia sang CEO
39 Bab 39: Labrakan Nyonya Besar dan Gebrakan Pintu Ruangan
40 Bab 40: Skakmat sang CEO
41 Bab 41: Mode Singa dan Rahasia CCTV
42 Bab 42: Air Mata Penyesalan sang Nyonya Besar
43 Bab 43: Obat sang CEO
44 Bab 44: Sengatan di Butik Sultan
45 Bab 45: Ancaman di Depan Angkot
46 Bab 46: Singa Betina Sedang Mengamuk
47 Bab 47: Guyuran Air dan Pelindung Tak Terduga
48 Bab 48: Hangat di Balik Dinginnya Argian
49 Bab 49: Sisi Hangat Sang Predator
50 Bab 50: Uang Tanpa Limit dan Skakmat di Kursi Belakang
51 Bab 51: Sambutan Hangat di Rumah Klasik
52 Bab 52: Strategi Licik di Kursi Belakang
53 Bab 53: Drama Telur Gulung dan Hadirnya sang Bidadari
54 Bab 54: Komplotan Kembar Fiktif
55 Bab 55: Koboi Nyasar yang Salah Alamat
56 Bab 56: Kepulangan sang Predator
57 Bab 57: Urusan Kenegaraan yang Kelewat Batas
58 Bab 58: Aliansi di Atas Langit dan Lem Kambing Pak Duda
59 Bab 59: Diplomasi Duda Edan dan Operasi Jemput "Anak Kita"
60 Bab 60: Strategi Pelukan Massal ala Bapak dan Anak
61 Bab 61: Tabib Dadakan dan Diplomasi Pohon Mangga
62 Bab 62: Diplomasi Pohon Mangga dan Kekalahan Mutlak sang CEO
63 Bab 63: Sop Ayam Kampung dan Badai yang Kembali Mendekat
64 Bab 64: Gertakan Singa dan Takdir yang Bergeser
65 Bab 65: Strategi, Ciuman Pertama, dan Sandera di Lapangan
66 Bab 66: Jejak Masa Lalu dan Siasat Sang Singa
67 Bab 67: Sahabat MUA, Ramalan Jodoh, dan Batuk yang Mencurigakan
68 Bab 68: Aliansi Dua Singa dan Pintu Neraka yang Terbuka
69 Bab 69: Hadiah Mantan dan Kalkulasi Investasi Dadakan
70 Bab 70: Duel Harga Diri, Tas Bermerek, dan Serangan Balik Atlet Sekolah
71 Bab 71: Power Matriark Tertinggi dan Cilok Puluhan Juta
72 Bab 72: Sidang Paripurna Sembilan Nyawa dan Sinyal Hijau dari Kasta Tertinggi
73 Bab 73: Invasi Tengah Malam dan Detak Jantung yang Terancam Pensiun Dini
74 Bab 74: Modus Jalur VIP dan Ancaman Kanibalisme Aiswa
75 Bab 75: Trauma yang Terkunci dan Lompatan di Ambang Batas
76 Bab 76: Cermin Retak Masa Lalu dan Tangisan di Balik Kaca
77 Bab 77: Kulit Ayam, Gombalan Kumur-Kumur, dan Teori Kepemilikan Duda Sinting
78 Bab 78: Ancaman Dingin sang Penguasa dan Kotak Rahasia yang Tertinggal
79 Bab 79: Kilau Emas dan Cemburu sang Penguasa
80 Bab 80: Ultimatum Maut sang Singa Posesif
81 Bab 81: Alarm Bahaya, Teori Hukum sang Duda, dan Gangguan "Bobo Cantik" Zianna
82 Bab 82: Lapangan Pribadi Sang Tuan Muda dan Refleks Pelukan yang Salah Alamat
83 Bab 83: Kalah Tanding tapi Menang Banyak
84 Bab 84: Pasukan Skuter Jas Hitam dan Syok Jilid Tiga sang Guru PAUD
85 Bab 85: Peringatan Berdarah sang Asisten dan Gosip Panas Kakak-Adik
86 Bab 86: Terapi Belanja Dua Puluh Juta dan Gosip Panas Cincin sang Mantan
87 Bab 87: Sidang Sembilan Nyawa dan Penggerebekan Lamaran Dadakan
88 Bab 88: Mode Preman VS Skakmat Sang Duda
89 Bab 89: Ketika Guru PAUD Kehilangan Anggun di Depan Lucas
90 Bab 90: Jebakan Mbak Suci dan Pengawalan Ala Keluarga Ningrat
91 Bab 91: Gosip Sumala, Misteri Air Mata sang Ibu Peri, dan Janji di Tepi Jalan
92 Bab 92: Istana Hutan Lindung, Rencana Mbak Suci, dan Analisis Genius sang Bocil
93 Bab 93: Senyum Licik di Balik Pintu dan Penerbangan Tengah Malam
94 Bab 94: Penyusup Subuh, Cas Energi sang Tirani, dan Pelukan Tanpa Sadar
95 Bab 95: Sarapan "Penyusup" dan Rusaknya Rencana Rahasia
96 Bab 96: Retaknya Dunia Shena
97 Bab 97: Retaknya Dunia Cemara, Duda Palsu, dan Skenario Bom Waktu
98 Bab 98: Siasat di Atas Meja, Dominasi Duda Sultan, dan Sleep Call Tanpa Rencana
99 Bab 96: Kebun Tomat sang Nyonya, Gaun Lima Warna, dan Nasihat dari Balkon Istana
100 Bab 100: Tuan Muda di Kebun Tomat dan Teori Ganti Rugi Sultan
101 Bab 101: Trik Akting Kelas Teri, Kebijakan Bunda, dan Kegagalan Drama Kolosal
102 Bab 102: Obsesi di Balik Cermin, Niat Tersembunyi, dan Kepolosan Si Putri Kecil
103 Bab 103: Rencana yang Melenceng, Jeritan di Dekat Tangga, dan Bisikan Palsu
104 Bab 104: Pelukan Pagi Hari dan Air Mata Penyesalan
105 Bab 105: Penolakan Sang Tirani, Pintu yang Tertutup, dan Reuni Sembilan Nyawa
106 Bab 106: Teori di Kamar Kosan, Manipulasi Wajah Peri, dan Konspirasi Tujuh Sumur
107 Bab 107: Calon Suami, Ongkos Lima Puluh Ribuan, dan Tabir yang Terkuak
108 Bab 108: Skenario Sang Dalang, Umpan Beracun, dan Kembalinya Calon Nyonya Argian
109 Bab 109: Pemanasan, Drama Action, dan Hukuman Sang Calon Suami
110 Bab 110: Topeng yang Terlepas, Amukan sang Ular, dan Luka untuk sang Calon Istri
111 Bab 111: Bahkan Semut pun Tak Boleh
112 Bab 112: Calon Nyonya Rumah, Pelukan Kerinduan, dan Boneka Kelinci
113 Bab 113: Geng Sembilan Nyawa dan Detak Jantung Aksara
114 Bab 114: Gulai Ayam, Pengukuran Gaun, dan Kejutan Tiga Hari Lagi
115 Bab 115: Khodam Preman, Sosok Misterius, dan Fans Fanatik
116 Bab 116: Hukuman Khas Aiswa, Singa Rumah, dan Kepulangan Arkananta
117 Bab 117: Deep Talk, Kehebohan Grub, dan Curiga pada Sang Duda
118 Bab 118: Khawatir sang Duda, Pengakuan Datar, dan Incaran Misterius
119 Bab 119: Kejutan di Hari Pertunangan
120 Bab 120: Aku-Kamu, Peringatan Tegas, dan Pengintai dari Lantai Atas
121 Bab 121: Insting Shena, Perintah Rahasia, dan Kejutan MUA
122 Bab 122: Kehangatan Meja Makan dan Ledakan Amarah
123 Bab 123: Hama Sekolah dan Penyelamatan Seru
124 Bab 124: Perang Toa, Tumbler Bunda, dan Bayangan Anna
125 Bab 125: Di Balik Pintu Semesta Devan
126 Bab 126: Penawar Tanpa Resep
127 Bab 127: Pengakuan dan Bayang-Bayang Musuh Dalam Selimut
128 Bab 128: Kartu Hitam, Kode PIN, dan Rahasia Satu Butir Pil
129 Bab 129: Insiden di Jalan dan Perangkap yang Terbuka
130 Bab 130: Satu Langkah ke Arahku
131 Bab 131: Pamitan Arka, Rencana Prancis, dan Becandaan Berbahaya Nala
132 Bab 132: Kalung Kelinci, Foto Bersama, dan Godaan Sebelum Berangkat
133 Bab 133: Pengawal Cilik, Cemburu Aluna, dan Asumsi Aksara
134 Bab 134: Ponsel yang Hancur dan Rahasia Kalung Kelinci
135 Bab 135: Kostum Pelangi Nala dan Senjata Aksara
136 Bab 136: Obrolan di Taman Kota dan Kalung yang Terlepas
137 Bab 137: Gosip Saudara Tiri dan Senjata Momen Canggung
138 Bab 138: Kilas Balik Memori dan Usilnya Sang Kakak
139 Bab 139: Pertemuan Tak Terduga di Toko Kue dan Peringatan Keras Aruna
Episodes

Updated 139 Episodes

1
Bab 1: Tante Guru dan Tuan Kaku
2
Bab 2: Antara Curhat Colongan dan Transferan Sayang
3
Bab 3: Jejak Digital dan Langkah Sang Predator
4
Bab 4: Jebakan Makan Siang dan Teman yang Kurang Akhlak
5
Bab 5: Kerjasama Ayah dan Anak yang Terlalu Epic
6
Bab 6: Tim Makcomblang dan Siasat Tuan Muda
7
Bab 7: Jebakan Berkedok Seminar
8
Bab 8: Pernyataan Perang di Bawah Langit Bali
9
Bab 9: Senam Jantung di Bawah Matahari Bali
10
Bab 10: Diplomasi Kamar Mandi dan Jebakan Outdoor
11
Bab 11: Skakmat di Depan Mikrofon
12
Bab 12: Antara Nyawa dan Trauma Masa Lalu
13
Bab 13: Pulang dalam Genggaman Sang Predator
14
Bab 14: Jet Pribadi dan Lamaran Jalur Bocil
15
Bab 15: Investor di Balik Bayang-bayang
16
Bab 16: Sidang Pleno Geng Sembilan Nyawa
17
Bab 17: Pilihan di Ujung Tanduk
18
Bab 18: Karung untuk Sang Sultan
19
Bab 19: Singa Betina dalam Kandang Naga
20
Bab 20: Runtuhnya Benteng Terakhir
21
Bab 21: Payung, Jas, dan Jebakan Ibu-Ibu
22
Bab 22: Melawan Trauma demi Sang Pemilik Hati
23
Bab 23: Strategi Penaklukan Sang Calon Menantu
24
Bab 24: Pasukan Pengompor dan Kiriman Misterius
25
Bab 25: Piyama Biru Muda dan Misi Melabrak Duda
26
Bab 26: Kopi Hitam dan Zirah Pelindung Sang CEO
27
Bab 27: Ruang Kedap Suara dan Hadiah yang Tertunda
28
Bab 28: Kandang Singa, Foto Masa Lalu, dan Ancaman Bungkam
29
Bab 29: Sesuap Nasi, Tuduhan Buta, dan Kekecewaan yang Pecah
30
Bab 30: Pecahnya Topeng Kesabaran, Pengakuan Tak Terduga, dan Batas Akhir
31
Bab 31: Dialog Dua Orang Asing, Perlindungan Posesif, dan Dekapan Hangat
32
Bab 32: Sentuhan Kecil, Skenario Duda, dan Potret Keluarga Bahagia
33
Bab 33: Gelang Manik-Manik, Proyek Sains Aksara, dan Lampu Hijau Calon Ipar
34
Bab 34: Lamaran di Ruang Tamu Lesehan
35
Bab 35: Bestie Zianna dan Sidang Meja Makan
36
Bab 36: Kejutan Instan, Pawang Buaya, dan Rahasia sang CEO
37
Bab 37: Air Mata Albi dan Pengawasan Jarak Jauh
38
Bab 38: Pelukan Ibu dan Skenario Rahasia sang CEO
39
Bab 39: Labrakan Nyonya Besar dan Gebrakan Pintu Ruangan
40
Bab 40: Skakmat sang CEO
41
Bab 41: Mode Singa dan Rahasia CCTV
42
Bab 42: Air Mata Penyesalan sang Nyonya Besar
43
Bab 43: Obat sang CEO
44
Bab 44: Sengatan di Butik Sultan
45
Bab 45: Ancaman di Depan Angkot
46
Bab 46: Singa Betina Sedang Mengamuk
47
Bab 47: Guyuran Air dan Pelindung Tak Terduga
48
Bab 48: Hangat di Balik Dinginnya Argian
49
Bab 49: Sisi Hangat Sang Predator
50
Bab 50: Uang Tanpa Limit dan Skakmat di Kursi Belakang
51
Bab 51: Sambutan Hangat di Rumah Klasik
52
Bab 52: Strategi Licik di Kursi Belakang
53
Bab 53: Drama Telur Gulung dan Hadirnya sang Bidadari
54
Bab 54: Komplotan Kembar Fiktif
55
Bab 55: Koboi Nyasar yang Salah Alamat
56
Bab 56: Kepulangan sang Predator
57
Bab 57: Urusan Kenegaraan yang Kelewat Batas
58
Bab 58: Aliansi di Atas Langit dan Lem Kambing Pak Duda
59
Bab 59: Diplomasi Duda Edan dan Operasi Jemput "Anak Kita"
60
Bab 60: Strategi Pelukan Massal ala Bapak dan Anak
61
Bab 61: Tabib Dadakan dan Diplomasi Pohon Mangga
62
Bab 62: Diplomasi Pohon Mangga dan Kekalahan Mutlak sang CEO
63
Bab 63: Sop Ayam Kampung dan Badai yang Kembali Mendekat
64
Bab 64: Gertakan Singa dan Takdir yang Bergeser
65
Bab 65: Strategi, Ciuman Pertama, dan Sandera di Lapangan
66
Bab 66: Jejak Masa Lalu dan Siasat Sang Singa
67
Bab 67: Sahabat MUA, Ramalan Jodoh, dan Batuk yang Mencurigakan
68
Bab 68: Aliansi Dua Singa dan Pintu Neraka yang Terbuka
69
Bab 69: Hadiah Mantan dan Kalkulasi Investasi Dadakan
70
Bab 70: Duel Harga Diri, Tas Bermerek, dan Serangan Balik Atlet Sekolah
71
Bab 71: Power Matriark Tertinggi dan Cilok Puluhan Juta
72
Bab 72: Sidang Paripurna Sembilan Nyawa dan Sinyal Hijau dari Kasta Tertinggi
73
Bab 73: Invasi Tengah Malam dan Detak Jantung yang Terancam Pensiun Dini
74
Bab 74: Modus Jalur VIP dan Ancaman Kanibalisme Aiswa
75
Bab 75: Trauma yang Terkunci dan Lompatan di Ambang Batas
76
Bab 76: Cermin Retak Masa Lalu dan Tangisan di Balik Kaca
77
Bab 77: Kulit Ayam, Gombalan Kumur-Kumur, dan Teori Kepemilikan Duda Sinting
78
Bab 78: Ancaman Dingin sang Penguasa dan Kotak Rahasia yang Tertinggal
79
Bab 79: Kilau Emas dan Cemburu sang Penguasa
80
Bab 80: Ultimatum Maut sang Singa Posesif
81
Bab 81: Alarm Bahaya, Teori Hukum sang Duda, dan Gangguan "Bobo Cantik" Zianna
82
Bab 82: Lapangan Pribadi Sang Tuan Muda dan Refleks Pelukan yang Salah Alamat
83
Bab 83: Kalah Tanding tapi Menang Banyak
84
Bab 84: Pasukan Skuter Jas Hitam dan Syok Jilid Tiga sang Guru PAUD
85
Bab 85: Peringatan Berdarah sang Asisten dan Gosip Panas Kakak-Adik
86
Bab 86: Terapi Belanja Dua Puluh Juta dan Gosip Panas Cincin sang Mantan
87
Bab 87: Sidang Sembilan Nyawa dan Penggerebekan Lamaran Dadakan
88
Bab 88: Mode Preman VS Skakmat Sang Duda
89
Bab 89: Ketika Guru PAUD Kehilangan Anggun di Depan Lucas
90
Bab 90: Jebakan Mbak Suci dan Pengawalan Ala Keluarga Ningrat
91
Bab 91: Gosip Sumala, Misteri Air Mata sang Ibu Peri, dan Janji di Tepi Jalan
92
Bab 92: Istana Hutan Lindung, Rencana Mbak Suci, dan Analisis Genius sang Bocil
93
Bab 93: Senyum Licik di Balik Pintu dan Penerbangan Tengah Malam
94
Bab 94: Penyusup Subuh, Cas Energi sang Tirani, dan Pelukan Tanpa Sadar
95
Bab 95: Sarapan "Penyusup" dan Rusaknya Rencana Rahasia
96
Bab 96: Retaknya Dunia Shena
97
Bab 97: Retaknya Dunia Cemara, Duda Palsu, dan Skenario Bom Waktu
98
Bab 98: Siasat di Atas Meja, Dominasi Duda Sultan, dan Sleep Call Tanpa Rencana
99
Bab 96: Kebun Tomat sang Nyonya, Gaun Lima Warna, dan Nasihat dari Balkon Istana
100
Bab 100: Tuan Muda di Kebun Tomat dan Teori Ganti Rugi Sultan
101
Bab 101: Trik Akting Kelas Teri, Kebijakan Bunda, dan Kegagalan Drama Kolosal
102
Bab 102: Obsesi di Balik Cermin, Niat Tersembunyi, dan Kepolosan Si Putri Kecil
103
Bab 103: Rencana yang Melenceng, Jeritan di Dekat Tangga, dan Bisikan Palsu
104
Bab 104: Pelukan Pagi Hari dan Air Mata Penyesalan
105
Bab 105: Penolakan Sang Tirani, Pintu yang Tertutup, dan Reuni Sembilan Nyawa
106
Bab 106: Teori di Kamar Kosan, Manipulasi Wajah Peri, dan Konspirasi Tujuh Sumur
107
Bab 107: Calon Suami, Ongkos Lima Puluh Ribuan, dan Tabir yang Terkuak
108
Bab 108: Skenario Sang Dalang, Umpan Beracun, dan Kembalinya Calon Nyonya Argian
109
Bab 109: Pemanasan, Drama Action, dan Hukuman Sang Calon Suami
110
Bab 110: Topeng yang Terlepas, Amukan sang Ular, dan Luka untuk sang Calon Istri
111
Bab 111: Bahkan Semut pun Tak Boleh
112
Bab 112: Calon Nyonya Rumah, Pelukan Kerinduan, dan Boneka Kelinci
113
Bab 113: Geng Sembilan Nyawa dan Detak Jantung Aksara
114
Bab 114: Gulai Ayam, Pengukuran Gaun, dan Kejutan Tiga Hari Lagi
115
Bab 115: Khodam Preman, Sosok Misterius, dan Fans Fanatik
116
Bab 116: Hukuman Khas Aiswa, Singa Rumah, dan Kepulangan Arkananta
117
Bab 117: Deep Talk, Kehebohan Grub, dan Curiga pada Sang Duda
118
Bab 118: Khawatir sang Duda, Pengakuan Datar, dan Incaran Misterius
119
Bab 119: Kejutan di Hari Pertunangan
120
Bab 120: Aku-Kamu, Peringatan Tegas, dan Pengintai dari Lantai Atas
121
Bab 121: Insting Shena, Perintah Rahasia, dan Kejutan MUA
122
Bab 122: Kehangatan Meja Makan dan Ledakan Amarah
123
Bab 123: Hama Sekolah dan Penyelamatan Seru
124
Bab 124: Perang Toa, Tumbler Bunda, dan Bayangan Anna
125
Bab 125: Di Balik Pintu Semesta Devan
126
Bab 126: Penawar Tanpa Resep
127
Bab 127: Pengakuan dan Bayang-Bayang Musuh Dalam Selimut
128
Bab 128: Kartu Hitam, Kode PIN, dan Rahasia Satu Butir Pil
129
Bab 129: Insiden di Jalan dan Perangkap yang Terbuka
130
Bab 130: Satu Langkah ke Arahku
131
Bab 131: Pamitan Arka, Rencana Prancis, dan Becandaan Berbahaya Nala
132
Bab 132: Kalung Kelinci, Foto Bersama, dan Godaan Sebelum Berangkat
133
Bab 133: Pengawal Cilik, Cemburu Aluna, dan Asumsi Aksara
134
Bab 134: Ponsel yang Hancur dan Rahasia Kalung Kelinci
135
Bab 135: Kostum Pelangi Nala dan Senjata Aksara
136
Bab 136: Obrolan di Taman Kota dan Kalung yang Terlepas
137
Bab 137: Gosip Saudara Tiri dan Senjata Momen Canggung
138
Bab 138: Kilas Balik Memori dan Usilnya Sang Kakak
139
Bab 139: Pertemuan Tak Terduga di Toko Kue dan Peringatan Keras Aruna

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!