Berlatih Kembali di Sekte Bukit Bintang

Keesokan harinya, embun pagi masih menggantung di ujung daun ketika Gao Rui sudah berdiri tegak di tengah halaman rumahnya. Udara pagi terasa sejuk. Tanah masih sedikit lembap. Cahaya matahari baru saja muncul di balik bukit memantulkan kilau keemasan di rerumputan.

Gao Rui mengenakan pakaian latihan sederhana. Rambutnya diikat rapi. Wajahnya tenang tanpa sedikit pun kesombongan yang biasanya muncul pada anak seusianya.

Beberapa bulan terakhir namanya memang telah mengguncang seluruh Kekaisaran Zhou. Pendekar Naga Bintang. Jenius nomor satu generasi muda. Anak ajaib yang tak tertandingi.

Namun Gao Rui tahu satu hal. Semakin tinggi seseorang berdiri, semakin jelas langit luas yang belum terjangkau. Masih terlalu banyak hal yang belum ia pahami. Masih terlalu banyak jalan yang belum ia tempuh.

Karena itulah pagi ini ia tetap berlatih. Bukan demi pujian. Bukan demi nama. Melainkan demi terus melangkah.

“Huff”

Gao Rui menarik napas panjang. Kakinya perlahan bergeser membentuk posisi awal.

Hari ini ia melatih Teknik Langkah Petir. Salah satu teknik gerak kaki tingkat tinggi yang diwariskan gurunya, Boqin Changing. Teknik yang mampu meningkatkan kecepatan tubuh hingga batas yang lebih tinggi.

Namun justru karena itu teknik ini sangat sulit dikuasai. Satu kesalahan kecil dan aliran tenaga dalam bisa kacau. Satu pijakan meleset, tubuh bisa kehilangan keseimbangan.

Tatapan Gao Rui menjadi fokus. Lalu....

Sret!

Tubuhnya lenyap dari tempat semula. Daun-daun di halaman mendadak beterbangan. Sosok Gao Rui muncul di sisi timur halaman lalu menghilang lagi sebelum bayangannya sempat utuh.

Sret! Sret! Sret!

Gerakannya seperti sambaran cahaya. Kadang muncul di dekat pohon plum. Kadang di atas batu taman. Kadang sudah berada di atap teras… hanya dalam satu tarikan napas.

Namun jika diperhatikan lebih teliti langkahnya bukan sekadar cepat. Setiap pijakan, ringan. Setiap perpindahan, presisi. Setiap tarikan napas, selaras dengan aliran tenaga dalam di tubuhnya.

Waktu terus berlalu. Keringat tipis mulai muncul di pelipis Gao Rui. Napasnya sedikit lebih berat namun matanya justru semakin terang.

Ia terus mengulang. Terus memperbaiki. Saat gerakannya terlalu cepat hingga mengganggu aliran tenaga, ia ulangi. Saat pijakannya sedikit meleset, ia perbaiki.

Tak ada rasa puas diri. Tak ada rasa cukup. Karena bagi Gao Rui, puncak bukan tempat untuk beristirahat. Puncak hanyalah awal untuk melihat gunung lain yang lebih tinggi.

Beberapa saat kemudian…

Sret!

Tubuh Gao Rui berhenti di tengah halaman. Debu halus turun perlahan di sekelilingnya. Daun-daun yang tadi beterbangan jatuh satu per satu.

Ia berdiri diam. Lalu sudut bibirnya terangkat tipis.

“…Sudah cukup lama bersembunyi di sana?”

Suaranya tenang. Tidak keras namun jelas terdengar. Gao Rui perlahan menoleh ke arah sebuah pohon besar di sudut halaman. Pohon tua dengan batang lebar, tempat bayangan pagi jatuh paling pekat. Tatapannya lembut bahkan sedikit jenaka.

“Kalau terus mengintip seperti itu…” katanya santai, “aku jadi merasa langkahku tadi terlalu jelek.”

Beberapa detik suasana hening. Lalu sebuah tawa kecil terdengar dari balik batang pohon.

“Hehehe… bocah ini.”

Sosok tua perlahan melangkah keluar dari balik bayangan. Jubah abu-abu sederhana membungkus tubuh kurus namun tegap. Rambut putihnya tergerai, matanya tajam seperti elang. Namun dalam tatapan itu ada kebijaksanaan yang menekan langit.

Aura yang ia bawa tenang. Namun justru karena tenang itu terasa menggetarkan. Tetua Agung Xu Qung. Salah satu tetua tertinggi Sekte Bukit Bintang. Sosok yang bahkan para pendekar senior pun segan.

Gao Rui tersenyum tipis. Sama sekali tidak terkejut. Ia lalu menangkupkan tangan dengan hormat.

“Selamat datang… Tetua Agung. Apa yang membuatmu repot-repot kemari?”

Xu Qung tersenyum kecil. Keriput di sudut matanya tampak semakin jelas namun justru memberinya wibawa yang hangat.

“Aku hanya sedang berjalan-jalan pagi,” katanya santai sambil menatap halaman yang masih dipenuhi bekas pijakan Gao Rui. “Lalu dari kejauhan… aku mendengar suara angin berdesir aneh dari kediamanmu. Kukira ada murid nakal sedang merusak halaman orang.”

Ia terkekeh pelan.

“Ternyata… bocah monster ini sedang berlatih.”

Gao Rui tersenyum tipis. Ia menunduk hormat.

“Maaf jika mengganggu ketenangan Tetua Agung.”

“Mengganggu?” Xu Qung mendengus pelan. “Justru aku datang karena tertarik. Teknik langkah kakimu… jauh lebih matang dari terakhir kali kulihat. Pijakanmu ringan, aliran tenagamu stabil, bahkan ritme napasmu hampir sempurna.”

Tatapan lelaki tua itu menajam penuh apresiasi.

“Kemampuanmu semakin meningkat saja, Gao Rui. Di usia seperti ini, kau sudah bisa membuat para tetua sekte terdiam.”

Gao Rui tidak menunjukkan kebanggaan sedikit pun. Ia hanya tersenyum rendah hati.

“Terima kasih atas pujian Tetua Agung. Tapi aku masih jauh dari cukup. Teknik ini masih banyak celahnya… dan aku pun masih harus belajar lebih banyak.”

Xu Qung memandangnya beberapa saat lalu mengangguk puas. Sikap seperti inilah yang paling ia hargai dari bocah ini. Bakat tinggi bukan hal langka di dunia persilatan. Namun hati yang tetap rendah justru jauh lebih sulit ditemukan.

“Bagus,” katanya akhirnya. “Kalau begitu… daripada terus berkutat di halaman, bagaimana kalau kau menemaniku berjalan-jalan keliling sekte?”

Gao Rui sedikit terdiam. Meski Xu Qung bicara santai, ajakan seorang Tetua Agung jelas bukan sesuatu yang pantas ditolak begitu saja. Lagipula Gao Rui tahu, orang setingkat Xu Qung tidak mungkin datang hanya untuk memuji latihannya.

 Gao Rui segera menangkupkan tangan.

“Tentu. Aku akan menemanimu.”

Xu Qung tersenyum puas.

“Bagus. Sudah lama aku tidak berjalan santai ditemani anak muda.”

Tak lama kemudian keduanya pun meninggalkan halaman.

Pagi di Sekte Bukit Bintang begitu damai. Jalan setapak batu membelah taman-taman luas yang dipenuhi pohon pinus, bambu, dan bunga plum. Kabut tipis masih menyelimuti lereng gunung membuat seluruh sekte terlihat seperti negeri di atas awan.

Xu Qung berjalan santai dengan tangan di belakang punggung. Langkahnya lambat namun mantap. Gao Rui berjalan di sampingnya, tenang dan hormat.

Sepanjang jalan para murid yang berpapasan segera berhenti dan menangkupkan tangan.

“Salam untuk Tetua Agung!”

“Salam, Senior Rui!”

“Senior Rui!”

Suara-suara hormat terdengar silih berganti. Bahkan beberapa murid yang jelas lebih tua usia darinya tetap menunduk hormat sambil memanggilnya senior.

Gao Rui hanya membalas dengan anggukan sopan. Wajahnya tetap tenang seolah semua itu hal biasa.

Di dunia persilatan, usia memang bukan penentu utama penghormatan. Yang dihormati adalah kekuatan. Siapa yang lebih tinggi jalannya dialah yang layak disebut senior.

Meski Gao Rui jauh lebih muda, semua orang tahu kenyataannya. Di generasi muda Sekte Bukit Bintang bahkan mungkin di seluruh Kekaisaran Zhou nyaris tak ada yang mampu menandinginya.

Xu Qung melirik Gao Rui dari samping. Melihat bocah itu tetap tenang meski disapa dengan hormat dari segala arah, hatinya semakin kagum.

Bakat luar biasa, hati setenang air, dan tidak silau oleh pujian. Dalam hati, Xu Qung bergumam pelan.

“Anak ini… benar-benar calon pilar sekte di masa depan.”

Langkah mereka terus berlanjut menyusuri jalur batu yang menanjak ke arah paviliun puncak. Angin gunung berembus lembut membawa aroma pinus dan embun.

Lalu… Xu Qung tiba-tiba membuka suara.

“Gao Rui… apa kau sudah mendengar kabar gurumu, Boqin Changing?”

Gao Rui sedikit mengernyit. Langkahnya melambat sepersekian saat. Nama gurunya selalu mampu membuat hatinya bergetar.

Ia menoleh pada Xu Qung, tatapannya tenang namun jelas menyimpan harap.

“Belum,” jawabnya jujur. “Sudah cukup lama aku tidak mendapat kabar apa pun tentang Guru. Terakhir kali aku hanya tahu ia pergi ke Kekaisaran Qin untuk urusan penting.”

Nada suara Gao Rui tetap terkendali namun Xu Qung bisa menangkap rasa rindu yang samar di balik ketenangan murid muda itu.

Tetua tua itu tersenyum kecil. Janggut putihnya bergoyang tertiup angin gunung.

“Kebetulan… aku baru saja mendengar kabar tentangnya.”

Mata Gao Rui langsung menajam. Wajahnya yang biasanya tenang… kini tampak lebih hidup.

“Kabar apa?”

Xu Qung berhenti sejenak di tepi jalur batu. Dari sana, hamparan pegunungan terlihat luas, lautan awan membentang di bawah kaki mereka. Ia menatap cakrawala sejenak lalu berkata pelan, namun setiap katanya terasa berat.

“Gurumu… baru saja membantu Kaisar Shang merebut kembali tahtanya.”

Angin gunung berembus lembut… namun Gao Rui merasa dadanya bergetar.

Xu Qung melanjutkan.

“Kekaisaran Shang beberapa waktu ini dilanda kekacauan. Kudeta dari dalam istana hampir membuat dinasti itu runtuh. Banyak jenderal besar gugur… para bangsawan saling mengkhianati.”

“Tapi di saat paling genting… Boqin Changing muncul.”

Tatapan Xu Qung sedikit berubah bahkan seorang Tetua Agung seperti dirinya tak bisa menyembunyikan rasa kagum saat menyebut nama itu.

“Dengan pedangnya, ia membuka jalan bagi Kaisar Shang untuk kembali duduk di singgasana.”

Xu Qung menghela napas pelan.

“Dan bukan hanya itu…”

Ia menatap Gao Rui lurus-lurus.

“Setelah peristiwa itu… Kaisar Shang secara resmi mengangkat gurumu sebagai Pelindung Kekaisaran Shang.”

Gao Rui terdiam. Untuk sesaat… langkahnya benar-benar berhenti.

Xu Qung melanjutkan dengan nada dalam.

“Itu berarti… sekarang Boqin Changing bukan hanya pelindung Kekaisaran Qin… Tapi juga pelindung Kekaisaran Shang.”

“Dua kekaisaran… berada di bawah bayang namanya.”

Suasana mendadak hening. Burung-burung kecil berkicau di kejauhan. Kabut pagi perlahan tersibak oleh cahaya mentari. Namun bagi Gao Rui semua suara seolah menjauh. Yang tersisa hanya satu hal di dalam hatinya. Bangga.

Mata Gao Rui perlahan berbinar. Biasanya bocah itu selalu tenang. Selalu menahan emosi. Namun kali ini sinar di matanya begitu terang hingga sulit disembunyikan.

Sudut bibirnya terangkat, senyum tulus yang jarang terlihat.

“Guru…”

Ia mengepalkan tangan perlahan di samping tubuhnya. Bukan karena tegang tapi karena hatinya terlalu penuh.

Boqin Changing adalah sosok yang baginya bagaikan langit. Orang yang mengangkatnya dari dasar, membimbingnya, menempanya, mengajarinya arti kekuatan, dan keteguhan hati. Mendengar gurunya kini berdiri di puncak dunia rasanya lebih membahagiakan daripada mendengar pujian untuk dirinya sendiri.

Xu Qung menatap ekspresi Gao Rui… lalu tersenyum kecil.

“Heh… akhirnya aku melihat wajahmu seperti anak seusiamu.”

Gao Rui tersadar. Ia sedikit tertawa kecil lalu menunduk hormat.

“Maaf, Tetua Agung. Aku hanya…”

“Senang?” Xu Qung menyambung.

Gao Rui mengangguk. Tatapannya kembali menatap langit luas di kejauhan.

“Ya. Sangat senang.”

Suaranya lembut namun penuh keyakinan.

“Guru memang pantas berada di sana.”

Ia menarik napas dalam. Angin gunung menerpa wajahnya membawa rasa hangat yang aneh di dada.

Lalu mata Gao Rui perlahan berubah tajam. Binar kebahagiaan itu kini bercampur tekad.

“Dan suatu hari nanti…”

Xu Qung meliriknya.

Gao Rui menatap cakrawala dengan tenang.

“Aku akan berdiri di sampingnya. Bukan sebagai murid yang berlindung di belakang namanya…”

“Tapi sebagai pendekar yang cukup kuat… untuk membuat Guru bangga.”

Sesaat Xu Qung terdiam. Lalu lelaki tua itu tertawa pelan. Tawa yang hangat penuh kepuasan.

“Hahaha… bagus.”

Ia menepuk pundak Gao Rui perlahan.

“Dengan hati seperti itu… cepat atau lambat… seluruh dunia memang akan mendengar namamu.”

Angin pagi kembali berembus. Di atas puncak Sekte Bukit Bintang, seorang bocah berdiri menatap langit yang luas. Di matanya bukan hanya rasa bangga. Tapi juga bara tekad yang perlahan mulai menyala semakin terang.

Terpopuler

Comments

Mbah Haryo

Mbah Haryo

oke...klar maraton di pendekar naga bintang 1 & 2..
skarang dsini kitanyah...
support sderhana di TMHL...
like coment vite subrek & 5 stars...
cuss.

2026-04-30

1

Putera Saaban

Putera Saaban

boqim dan gui panjangkan ceritanya

2026-04-13

1

Raju

Raju

gau rui.... ilmu padi...

2026-04-10

1

lihat semua
Episodes
1 Gao Rui Pendekar Naga Bintang
2 Berlatih Kembali di Sekte Bukit Bintang
3 Ingin Mengajak Gao Rui Keluar
4 Izin Diberikan
5 Meyakinkan Gao Rui
6 Meninggalkan Sekte
7 Kelompok Harta Langit
8 Hari Pertama Perjalanan
9 Tambang Bijih Besi
10 Membuktikan Ucapan
11 Kemarahan Lan Suya
12 Berkunjung ke Toko Pakaian
13 Ada Pencuri
14 Memberi Pelajaran
15 Penginapan Teratai Emas
16 Mencoba Gaya Lan Suya
17 Beraninya Menyebutku Penipu
18 Tuan Muda Harta Langit
19 Hanya Gao Rui yang Bisa
20 Menyegarkan Suasana
21 Tingkatan Beladiri
22 Tantangan yang Tidak Disengaja
23 Berlatih Tanding
24 Mengambil Hadiah
25 Istana Permata Naga
26 Pesta Keluarga Shou
27 Pemimpin Rumah Dagang Naga Emas
28 Ulang Tahun Nyonya An Ra
29 Di Antara Harta Langit dan Naga Emas
30 Hadiah Pertama Gao Rui
31 Hadiah Kedua Gao Rui
32 Berebut Memperkenalkan Diri
33 Keputusan Ini Kami Batalkan
34 Pesta Akhirnya Berakhir
35 Aku Ingin Kau Bergabung Denganku
36 Menolak Penawaran
37 Meninggalkan Kota
38 Menuju Tambang Emas
39 Mengganggu Kawasan Mereka
40 Sampai di Tempat yang Dituju
41 Cadangan Logam yang Melimpah
42 Pasukan Harimau Darah
43 Gao Rui Pemanah Handal
44 Terus Memberikan Kejutan
45 Gerbang Kota Luohe
46 Ketimpangan yang Nyata
47 Kelompok Anak Muda Kota Luohe
48 Upaya Merundung Gao Rui
49 Gao Rui vs Lingkaran Pewaris Atas
50 Gao Rui vs Dua Pendekar Raja
51 Gao Rui vs Semuanya
52 Berniat Membawanya
53 Dia Tuan Muda Harta Langit
54 Balasan dari Bai Kai
55 Jangan Meremehkan Dunia Ini
56 Rencana Kerjasama
57 Tarik Ulur di Meja Pertemuan
58 Hari yang Melelahkan
59 Fakta yang Mengejutkan
60 Saling Merendahkan Diri
61 Dunia yang Baru untuk Gao Rui
62 Toko Buku Tua
63 Legenda Hidup Kekaisaran Zhou
64 Pertemuan Dua Juara di Masa yang Berbeda
65 Keinginan untuk Kembali
66 Kesepakatan Dua Juara
67 Benda Asing yang Dijual di Toko
68 Kesibukan Sebelum Penandatanganan Kerjasama
69 Masalah Muncul
70 Menenangkan Lan Suya
71 Apa Kau Tidak Keberatan?
72 Bergabung dengan Harta Langit
73 Bantuan Lain
74 Menuju Perkebunan Teh Harta Langit
75 Batalkan Kesepakatan Itu
76 Dalang Utama
77 Keluar dari Persembunyian
78 Hakim Langit Yuang Dao
79 Cara Mengakhiri Ini Semua
80 Ia Layak Mati
81 Kembali ke Kota Luohe
82 Hari Penandatanganan Kerjasama
83 Tuan Muda Harta Langit Tiba
84 Panggung Harta Langit dan Kayu Mawar
85 Kerjasama Terjalin
86 Aku Kembali
87 Pergi Bersamanya
88 Kelompok Angin Malam
89 Diijinkan Bertarung
90 Sisi Dingin Gao Rui
91 Aku Tidak Membunuh Sembarangan
92 Mencari Seruling Itu
93 Menemukannya
94 Dari Mana Saja Kalian?
95 Kekuatan Ditempa Dalam Kereta Kuda
96 Keadaan Desa yang Aneh
97 Menara Bintang Darah
98 Tekad Orang-Orang Harta Langit
99 Menuju Sarang Pencuri
100 Waktunya Berburu
101 Gao Rui Ketahuan
102 Melawan Menara Bintang Darah
103 Musuh Datang Lebih Banyak
104 Pendekar Naga Bintang vs Harimau Hitam
105 Saatnya Menghabisinya
106 Melawan Pendekar Suci
107 Gao Rui Terluka
108 Pertarungan Sengit
109 Seruling Suara Neraka
110 Lantunan Nada Seruling Suara Neraka
111 Mencari Gao Rui
112 Keterkejutan Orang-Orang Harta Langit
113 Kembali ke Desa
114 Roh Seruling Suara Neraka
115 Penjelasan Gao Rui
116 Sampai di Tujuan Akhir
117 Bertemu Kenalan Lama
118 Keributan Kecil
119 Permohonan Maaf
120 Ayo Main ke Rumahku
121 Kaisar Zhou Ren
122 Pertemuan dengan Kaisar
123 Seseorang Ingin Bertemu Dengan Gurumu
124 Harta Langit Disegel
125 Semua Karena Ulahku
126 Tidak Ada yang Bisa Membantu
127 Seperti Inilah Dunia Bekerja
128 Naiknya Kualitas Tulang Gao Rui
129 Rencana Dijalankan
130 Pertemuan dengan Patriak Keluarga Can
131 Aku Datang Untuk Menyelamatkanmu
132 Ancaman Gao Rui
133 Usaha Lan Suya Masih Belum Berhasil
134 Harta Langit Dapat Dibuka Kembali
135 Rumor Beredar
136 Kuda Besar yang Memilih Tunduk
137 Berburu Bersama Pangeran Hong
138 Kemampuan Memanah Gao Rui
139 Dikepung di Hutan
140 Biarkan Orang Tua Ini Bergerak
141 Kekuatan Hakim Langit Yuang Dao
142 Kejutan Untuk Gao Rui
143 Keinginan Untuk Berpetualang
144 Pengumuman
145 PENGUMUMAN
Episodes

Updated 145 Episodes

1
Gao Rui Pendekar Naga Bintang
2
Berlatih Kembali di Sekte Bukit Bintang
3
Ingin Mengajak Gao Rui Keluar
4
Izin Diberikan
5
Meyakinkan Gao Rui
6
Meninggalkan Sekte
7
Kelompok Harta Langit
8
Hari Pertama Perjalanan
9
Tambang Bijih Besi
10
Membuktikan Ucapan
11
Kemarahan Lan Suya
12
Berkunjung ke Toko Pakaian
13
Ada Pencuri
14
Memberi Pelajaran
15
Penginapan Teratai Emas
16
Mencoba Gaya Lan Suya
17
Beraninya Menyebutku Penipu
18
Tuan Muda Harta Langit
19
Hanya Gao Rui yang Bisa
20
Menyegarkan Suasana
21
Tingkatan Beladiri
22
Tantangan yang Tidak Disengaja
23
Berlatih Tanding
24
Mengambil Hadiah
25
Istana Permata Naga
26
Pesta Keluarga Shou
27
Pemimpin Rumah Dagang Naga Emas
28
Ulang Tahun Nyonya An Ra
29
Di Antara Harta Langit dan Naga Emas
30
Hadiah Pertama Gao Rui
31
Hadiah Kedua Gao Rui
32
Berebut Memperkenalkan Diri
33
Keputusan Ini Kami Batalkan
34
Pesta Akhirnya Berakhir
35
Aku Ingin Kau Bergabung Denganku
36
Menolak Penawaran
37
Meninggalkan Kota
38
Menuju Tambang Emas
39
Mengganggu Kawasan Mereka
40
Sampai di Tempat yang Dituju
41
Cadangan Logam yang Melimpah
42
Pasukan Harimau Darah
43
Gao Rui Pemanah Handal
44
Terus Memberikan Kejutan
45
Gerbang Kota Luohe
46
Ketimpangan yang Nyata
47
Kelompok Anak Muda Kota Luohe
48
Upaya Merundung Gao Rui
49
Gao Rui vs Lingkaran Pewaris Atas
50
Gao Rui vs Dua Pendekar Raja
51
Gao Rui vs Semuanya
52
Berniat Membawanya
53
Dia Tuan Muda Harta Langit
54
Balasan dari Bai Kai
55
Jangan Meremehkan Dunia Ini
56
Rencana Kerjasama
57
Tarik Ulur di Meja Pertemuan
58
Hari yang Melelahkan
59
Fakta yang Mengejutkan
60
Saling Merendahkan Diri
61
Dunia yang Baru untuk Gao Rui
62
Toko Buku Tua
63
Legenda Hidup Kekaisaran Zhou
64
Pertemuan Dua Juara di Masa yang Berbeda
65
Keinginan untuk Kembali
66
Kesepakatan Dua Juara
67
Benda Asing yang Dijual di Toko
68
Kesibukan Sebelum Penandatanganan Kerjasama
69
Masalah Muncul
70
Menenangkan Lan Suya
71
Apa Kau Tidak Keberatan?
72
Bergabung dengan Harta Langit
73
Bantuan Lain
74
Menuju Perkebunan Teh Harta Langit
75
Batalkan Kesepakatan Itu
76
Dalang Utama
77
Keluar dari Persembunyian
78
Hakim Langit Yuang Dao
79
Cara Mengakhiri Ini Semua
80
Ia Layak Mati
81
Kembali ke Kota Luohe
82
Hari Penandatanganan Kerjasama
83
Tuan Muda Harta Langit Tiba
84
Panggung Harta Langit dan Kayu Mawar
85
Kerjasama Terjalin
86
Aku Kembali
87
Pergi Bersamanya
88
Kelompok Angin Malam
89
Diijinkan Bertarung
90
Sisi Dingin Gao Rui
91
Aku Tidak Membunuh Sembarangan
92
Mencari Seruling Itu
93
Menemukannya
94
Dari Mana Saja Kalian?
95
Kekuatan Ditempa Dalam Kereta Kuda
96
Keadaan Desa yang Aneh
97
Menara Bintang Darah
98
Tekad Orang-Orang Harta Langit
99
Menuju Sarang Pencuri
100
Waktunya Berburu
101
Gao Rui Ketahuan
102
Melawan Menara Bintang Darah
103
Musuh Datang Lebih Banyak
104
Pendekar Naga Bintang vs Harimau Hitam
105
Saatnya Menghabisinya
106
Melawan Pendekar Suci
107
Gao Rui Terluka
108
Pertarungan Sengit
109
Seruling Suara Neraka
110
Lantunan Nada Seruling Suara Neraka
111
Mencari Gao Rui
112
Keterkejutan Orang-Orang Harta Langit
113
Kembali ke Desa
114
Roh Seruling Suara Neraka
115
Penjelasan Gao Rui
116
Sampai di Tujuan Akhir
117
Bertemu Kenalan Lama
118
Keributan Kecil
119
Permohonan Maaf
120
Ayo Main ke Rumahku
121
Kaisar Zhou Ren
122
Pertemuan dengan Kaisar
123
Seseorang Ingin Bertemu Dengan Gurumu
124
Harta Langit Disegel
125
Semua Karena Ulahku
126
Tidak Ada yang Bisa Membantu
127
Seperti Inilah Dunia Bekerja
128
Naiknya Kualitas Tulang Gao Rui
129
Rencana Dijalankan
130
Pertemuan dengan Patriak Keluarga Can
131
Aku Datang Untuk Menyelamatkanmu
132
Ancaman Gao Rui
133
Usaha Lan Suya Masih Belum Berhasil
134
Harta Langit Dapat Dibuka Kembali
135
Rumor Beredar
136
Kuda Besar yang Memilih Tunduk
137
Berburu Bersama Pangeran Hong
138
Kemampuan Memanah Gao Rui
139
Dikepung di Hutan
140
Biarkan Orang Tua Ini Bergerak
141
Kekuatan Hakim Langit Yuang Dao
142
Kejutan Untuk Gao Rui
143
Keinginan Untuk Berpetualang
144
Pengumuman
145
PENGUMUMAN

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!