Meyakinkan Gao Rui

Gao Rui langsung menoleh cepat. Matanya sedikit membesar, jelas tak menyangka ajakan itu keluar begitu saja.

“Aku?”

Nada suaranya penuh keterkejutan. Bocah itu bahkan sempat mengira dirinya salah dengar. Ia menatap Lan Suya beberapa saat lalu mengerutkan kening tipis.

“Bibi Ya… kau sedang bercanda?”

Lan Suya tertawa kecil. Tawa lembutnya pecah bersama desir angin.

“Menurutmu aku terlihat seperti sedang bercanda?”

Gao Rui menatap wajah wanita itu lebih saksama. Namun ekspresi Lan Suya tenang bahkan terlalu tenang. Tak ada sedikit pun tanda main-main.

Wanita itu lalu menyandarkan tubuhnya santai di tiang teras. Sorot matanya menatap jauh ke arah pegunungan.

“Aku memang harus pergi ke ibu kota besok,” katanya pelan. “Kelompok Dagang Harta Langit sudah berkembang terlalu besar. Kantor utama kita di sana sekarang sudah terlalu sempit.”

Ia tersenyum tipis.

“Aku berniat membeli tempat yang baru. Tempat yang lebih besar… lebih luas… lebih layak untuk menjadi pusat perdagangan kita.”

Gao Rui mendengar itu namun wajahnya tetap datar. Ia menatap kotak bekal di pangkuannya lalu menggeleng pelan.

“Kalau soal bisnis… aku tidak mengerti apa-apa.”

Nada suaranya jujur. Tidak ada minat sedikit pun.

“Urusan jual beli… kantor dagang… itu bukan hal yang kupikirkan.”

Lan Suya meliriknya. Sudut bibirnya sedikit terangkat.

“Jadi… kau menolak?”

Gao Rui mengangguk ringan.

“Aku rasa… aku tidak perlu ikut.”

Lan Suya tak tampak kecewa. Justru senyumnya semakin samar seperti seseorang yang sudah menduga jawaban itu sejak awal.

Ia lalu mencondongkan tubuh sedikit. Nada suaranya berubah lebih santai namun mengandung umpan yang tajam.

“Kalau begitu… bagaimana kalau perjalanan ini bukan cuma soal kelompok dagang?”

Gao Rui mengangkat alis tipis.

Lan Suya menatapnya lurus.

“Dalam perjalanan ke ibu kota… aku juga akan mampir ke beberapa tempat yang pernah disebut gurumu.”

Tubuh Gao Rui langsung sedikit menegang.

Lan Suya menangkap perubahan kecil itu dan dalam hati tersenyum.

“Gurumu, Boqin Changing, pernah memberitahuku… ada beberapa wilayah tersembunyi yang menyimpan sumber daya luar biasa. Tempat-tempat yang jarang diketahui orang.”

Angin sore kembali berembus. Namun kali ini hati Gao Rui justru terasa sedikit bergetar. Nama gurunya selalu punya bobot tersendiri di hatinya.

Lan Suya melanjutkan dengan tenang,

“Aku memang berniat memeriksa tempat-tempat itu. Siapa tahu… informasi gurumu benar.”

Ia lalu menoleh penuh arti.

“Bagaimana, Rui’er?”

Tatapannya lembut namun menusuk tepat ke rasa ingin tahu Gao Rui.

“Apa kau tidak ingin melihat sendiri… apakah yang dikatakan gurumu itu nyata?”

Gao Rui terdiam. Tangannya yang memegang tutup kotak bekal perlahan mengencang. Dalam benaknya bayangan Boqin Changing muncul begitu jelas. Sosok guru yang misterius, tenang, namun tak pernah bicara tanpa alasan.

Kalau gurunya sampai menyebut tempat-tempat itu pasti ada sesuatu yang penting di sana. Namun ia masih diam. Masih menimbang.

Lan Suya memperhatikannya beberapa saat. Lalu ia tiba-tiba menghela napas kecil pura-pura kecewa.

“Hmm… jadi begitu.”

Gao Rui menoleh.

Lan Suya menatap langit lalu berkata dengan nada seolah biasa saja,

“Kurasa… kau memang tidak terlalu yakin pada ucapan gurumu.”

Alis Gao Rui langsung berkerut. Lan Suya pura-pura tak melihat reaksinya.

“Mungkin… kau takut kalau ternyata tempat-tempat itu kosong. Tak ada apa-apa di sana. Dan semua yang dikatakan gurumu… hanya salah perkiraan.”

Kalimat itu seperti batu kecil yang dilempar ke permukaan danau tenang. Riak besar langsung muncul di hati Gao Rui. Bocah itu menoleh tajam. Sorot matanya yang tenang kini memancarkan keyakinan keras.

“Guru tidak mungkin salah.”

Nada suaranya tegas. Tanpa ragu.

Lan Suya menoleh perlahan. Wajahnya masih tampak tenang namun dalam hati ia nyaris tertawa puas.

“Oh?”

Gao Rui menatap lurus ke depan.

“Guru tidak pernah bicara sembarangan. Kalau ia bilang tempat itu punya sesuatu… maka pasti ada.”

Lan Suya tersenyum kecil. Senyum yang kali ini sulit disembunyikan.

“Nah… itu baru murid Boqin Changing.”

Ia lalu berdiri perlahan dari tempat duduknya. Jubahnya berkibar lembut diterpa angin.

“Kalau kau seyakin itu…”

Lan Suya mengulurkan tangan ke arah Gao Rui. Matanya berbinar penuh kelicikan yang manis.

“Ayo ikut denganku.”

Suaranya terdengar ringan namun penuh tantangan.

“Kita buktikan bersama… apakah ucapan gurumu benar.”

Gao Rui terdiam sesaat. Sorot matanya berubah pelan. Dari ragu menjadi mantap. Rasa penasaran yang sejak tadi menyesak di dadanya kini tak bisa lagi ia abaikan. Akhirnya ia mengangguk.

“Baik.”

Satu kata itu keluar mantap.

“Aku ikut.”

Lan Suya tersenyum lebar. Wajahnya tampak puas bahkan sedikit bangga.

“Bagus.”

Gao Rui menatapnya.

“Besok pagi?”

Lan Suya mengangguk.

“Besok pagi.”

Gao Rui menarik napas pelan. Ada rasa aneh yang muncul di dadanya. Sedikit gugup, sedikit antusias dan lebih banyak rasa penasaran.

Sementara itu Lan Suya menatap bocah di hadapannya lalu menahan tawa kecil dalam hati.

“Meyakinkan Rui’er ternyata jauh lebih mudah daripada meyakinkan kakak ipar itu…”

Namun tentu sajanpikiran itu hanya ia simpan sendiri. Wanita itu lalu tersenyum lembut. Menatap langit kembali.

Besok perjalanan mereka akan dimulai. Tanpa disadari siapa pun roda takdir Gao Rui telah mulai bergerak semakin jauh.

...******...

Keesokan harinya langit pagi di Sekte Bukit Bintang tampak begitu jernih. Embun masih menempel di pucuk-pucuk rumput. Kabut tipis menggantung di lereng gunung membuat seluruh sekte terlihat tenang dan damai seperti biasanya. Namun pagi itu, hati Gao Rui tidak setenang biasanya.

Sejak fajar menyingsing, ia sudah bangun dan bersiap. Jubah latihannya telah ia ganti dengan pakaian perjalanan sederhana berwarna gelap.

Hari ini ia akan meninggalkan sekte. Ia akan pergi jauh. Bukan hanya turun gunung untuk beberapa hari melainkan menempuh perjalanan panjang ke ibu kota bersama Lan Suya.

Kemarin, rasa penasaran akan petunjuk gurunya membuatnya mengangguk tanpa pikir panjang. Namun pagi ini setelah semua benar-benar terasa nyata barulah satu hal penting terlintas di benaknya. Ia bahkan belum meminta izin.

Gao Rui berdiri diam di tengah kamar. Alisnya sedikit berkerut.

“Aku belum bicara pada tetua sekte…”

Ia menghela napas pelan. Kalau pergi diam-diam jelas itu tidak pantas. Apalagi Tetua Agung Xu Qung selama ini begitu banyak membimbingnya. Namun semuanya sudah terlanjur disepakati.

Gao Rui menatap keluar jendela. Matahari pagi mulai menembus sela pepohonan. Waktu pertemuan dengan Lan Suya sebentar lagi tiba.

Setelah berpikir sejenak ia akhirnya mengambil keputusan.

“Nanti saat bertemu Bibi Ya… aku akan memintanya bicara lebih dulu dengan Tetua Agung.”

Bagaimanapun Lan Suya lebih dekat dengan Xu Qung. Jika wanita itu yang bicara tentu semuanya akan lebih mudah.

Setelah merasa sedikit tenang Gao Rui melangkah keluar rumah perlahan.

Pagi di halaman rumahnya terasa begitu sunyi. Angin gunung berembus lembut mengibaskan ujung rambutnya. Gao Rui berdiri sejenak di depan pintu. Tatapannya menyapu rumah kecil yang selama ini menjadi tempat ia tinggal, tempat ia berlatih, tempat ia mengenang gurunya.

Untuk sesaat ada rasa asing yang menyelinap di dadanya. Bukan takut. Hanya perasaan seperti seseorang yang tahu bahwa setelah melangkah pergi hari ini, hidupnya tak akan pernah benar-benar sama lagi.

Gao Rui menatap rumah itu untuk terakhir kalinya pagi itu. Lalu perlahan ia berbalik. Tanpa ragu lagi, langkahnya bergerak menuruni jalan batu menuju tempat yang telah disepakati dengan Lan Suya.

Tempat itu masih berada di wilayah Sekte Bukit Bintang, sebuah dataran lapang di dekat tebing timur. Tempat itu cukup sepi jauh dari keramaian murid-murid yang biasanya mulai berlatih pagi hari.

Sepanjang perjalanan Gao Rui memikirkan apa yang akan ia katakan nanti. Dalam benaknya ia bahkan sudah membayangkan ekspresi Tetua Agung Xu Qung jika mendengar dirinya hendak pergi jauh.

“Semoga Bibi Ya bisa membantuku menjelaskan…”

Tak lama kemudian ia pun tiba di dataran lapang itu. Namun begitu langkahnya berhenti di tepi lapangan, tubuh Gao Rui langsung membeku. Matanya sedikit membesar.

Di sana Lan Suya memang sudah berdiri menunggunya. Wanita itu tampak santai seperti biasa. Mengenakan jubah perjalanan berwarna biru muda, rambutnya terikat rapi, wajahnya tenang dengan senyum samar.

Namun bukan itu yang membuat Gao Rui terkejut. Di samping Lan Suya berdiri seseorang yang sangat ia kenal. Jubah tetua berwarna abu tua berkibar pelan tertiup angin pagi. Tangan pria tua itu bersedekap di depan dada. Wajahnya tampak tenang tapi sorot matanya jelas sedang menatap Gao Rui dengan penuh arti. Tetua Agung Xu Qung.

Jantung Gao Rui seolah berhenti sesaat. Ia bahkan sempat refleks memeriksa langkahnya sendiri seolah takut datang ke tempat yang salah. Namun tidak. Ini memang tempat perjanjian mereka.

Lan Suya melihat ekspresi kaget di wajah bocah itu lalu tak bisa menahan tawa kecil.

“Rui’er…” katanya santai. “Kau datang tepat waktu.”

Gao Rui masih berdiri kaku. Tatapannya berpindah dari Lan Suya ke Xu Qung lalu kembali lagi. Untuk pertama kalinya pagi itu bocah yang biasanya tenang itu tampak benar-benar bingung.

“Tetua Agung kau di sini…?”

Nada suaranya pelan penuh keterkejutan.

Xu Qung mendengus ringan. Sudut bibirnya sedikit terangkat entah geli atau kesal.

“Kenapa?” katanya datar. “Melihatku di sini… kau seperti melihat hantu.”

Terpopuler

Comments

Arie Chaniago70

Arie Chaniago70

🙂🙂🙂🙂🌹🌹🌹

2026-04-17

1

@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦

@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦

Jlebz 🌽🔥

2026-04-15

1

Zainal Arifin

Zainal Arifin

joooooooosssss 😀😀😀

2026-04-12

1

lihat semua
Episodes
1 Gao Rui Pendekar Naga Bintang
2 Berlatih Kembali di Sekte Bukit Bintang
3 Ingin Mengajak Gao Rui Keluar
4 Izin Diberikan
5 Meyakinkan Gao Rui
6 Meninggalkan Sekte
7 Kelompok Harta Langit
8 Hari Pertama Perjalanan
9 Tambang Bijih Besi
10 Membuktikan Ucapan
11 Kemarahan Lan Suya
12 Berkunjung ke Toko Pakaian
13 Ada Pencuri
14 Memberi Pelajaran
15 Penginapan Teratai Emas
16 Mencoba Gaya Lan Suya
17 Beraninya Menyebutku Penipu
18 Tuan Muda Harta Langit
19 Hanya Gao Rui yang Bisa
20 Menyegarkan Suasana
21 Tingkatan Beladiri
22 Tantangan yang Tidak Disengaja
23 Berlatih Tanding
24 Mengambil Hadiah
25 Istana Permata Naga
26 Pesta Keluarga Shou
27 Pemimpin Rumah Dagang Naga Emas
28 Ulang Tahun Nyonya An Ra
29 Di Antara Harta Langit dan Naga Emas
30 Hadiah Pertama Gao Rui
31 Hadiah Kedua Gao Rui
32 Berebut Memperkenalkan Diri
33 Keputusan Ini Kami Batalkan
34 Pesta Akhirnya Berakhir
35 Aku Ingin Kau Bergabung Denganku
36 Menolak Penawaran
37 Meninggalkan Kota
38 Menuju Tambang Emas
39 Mengganggu Kawasan Mereka
40 Sampai di Tempat yang Dituju
41 Cadangan Logam yang Melimpah
42 Pasukan Harimau Darah
43 Gao Rui Pemanah Handal
44 Terus Memberikan Kejutan
45 Gerbang Kota Luohe
46 Ketimpangan yang Nyata
47 Kelompok Anak Muda Kota Luohe
48 Upaya Merundung Gao Rui
49 Gao Rui vs Lingkaran Pewaris Atas
50 Gao Rui vs Dua Pendekar Raja
51 Gao Rui vs Semuanya
52 Berniat Membawanya
53 Dia Tuan Muda Harta Langit
54 Balasan dari Bai Kai
55 Jangan Meremehkan Dunia Ini
56 Rencana Kerjasama
57 Tarik Ulur di Meja Pertemuan
58 Hari yang Melelahkan
59 Fakta yang Mengejutkan
60 Saling Merendahkan Diri
61 Dunia yang Baru untuk Gao Rui
62 Toko Buku Tua
63 Legenda Hidup Kekaisaran Zhou
64 Pertemuan Dua Juara di Masa yang Berbeda
65 Keinginan untuk Kembali
66 Kesepakatan Dua Juara
67 Benda Asing yang Dijual di Toko
68 Kesibukan Sebelum Penandatanganan Kerjasama
69 Masalah Muncul
70 Menenangkan Lan Suya
71 Apa Kau Tidak Keberatan?
72 Bergabung dengan Harta Langit
73 Bantuan Lain
74 Menuju Perkebunan Teh Harta Langit
75 Batalkan Kesepakatan Itu
76 Dalang Utama
77 Keluar dari Persembunyian
78 Hakim Langit Yuang Dao
79 Cara Mengakhiri Ini Semua
80 Ia Layak Mati
81 Kembali ke Kota Luohe
82 Hari Penandatanganan Kerjasama
83 Tuan Muda Harta Langit Tiba
84 Panggung Harta Langit dan Kayu Mawar
85 Kerjasama Terjalin
86 Aku Kembali
87 Pergi Bersamanya
88 Kelompok Angin Malam
89 Diijinkan Bertarung
90 Sisi Dingin Gao Rui
91 Aku Tidak Membunuh Sembarangan
92 Mencari Seruling Itu
93 Menemukannya
94 Dari Mana Saja Kalian?
95 Kekuatan Ditempa Dalam Kereta Kuda
96 Keadaan Desa yang Aneh
97 Menara Bintang Darah
98 Tekad Orang-Orang Harta Langit
99 Menuju Sarang Pencuri
100 Waktunya Berburu
101 Gao Rui Ketahuan
102 Melawan Menara Bintang Darah
103 Musuh Datang Lebih Banyak
104 Pendekar Naga Bintang vs Harimau Hitam
105 Saatnya Menghabisinya
106 Melawan Pendekar Suci
107 Gao Rui Terluka
108 Pertarungan Sengit
109 Seruling Suara Neraka
110 Lantunan Nada Seruling Suara Neraka
111 Mencari Gao Rui
112 Keterkejutan Orang-Orang Harta Langit
113 Kembali ke Desa
114 Roh Seruling Suara Neraka
115 Penjelasan Gao Rui
116 Sampai di Tujuan Akhir
117 Bertemu Kenalan Lama
118 Keributan Kecil
119 Permohonan Maaf
120 Ayo Main ke Rumahku
121 Kaisar Zhou Ren
122 Pertemuan dengan Kaisar
123 Seseorang Ingin Bertemu Dengan Gurumu
124 Harta Langit Disegel
125 Semua Karena Ulahku
126 Tidak Ada yang Bisa Membantu
127 Seperti Inilah Dunia Bekerja
128 Naiknya Kualitas Tulang Gao Rui
129 Rencana Dijalankan
130 Pertemuan dengan Patriak Keluarga Can
131 Aku Datang Untuk Menyelamatkanmu
132 Ancaman Gao Rui
133 Usaha Lan Suya Masih Belum Berhasil
134 Harta Langit Dapat Dibuka Kembali
135 Rumor Beredar
136 Kuda Besar yang Memilih Tunduk
137 Berburu Bersama Pangeran Hong
138 Kemampuan Memanah Gao Rui
139 Dikepung di Hutan
140 Biarkan Orang Tua Ini Bergerak
141 Kekuatan Hakim Langit Yuang Dao
142 Kejutan Untuk Gao Rui
143 Keinginan Untuk Berpetualang
144 Pengumuman
145 PENGUMUMAN
Episodes

Updated 145 Episodes

1
Gao Rui Pendekar Naga Bintang
2
Berlatih Kembali di Sekte Bukit Bintang
3
Ingin Mengajak Gao Rui Keluar
4
Izin Diberikan
5
Meyakinkan Gao Rui
6
Meninggalkan Sekte
7
Kelompok Harta Langit
8
Hari Pertama Perjalanan
9
Tambang Bijih Besi
10
Membuktikan Ucapan
11
Kemarahan Lan Suya
12
Berkunjung ke Toko Pakaian
13
Ada Pencuri
14
Memberi Pelajaran
15
Penginapan Teratai Emas
16
Mencoba Gaya Lan Suya
17
Beraninya Menyebutku Penipu
18
Tuan Muda Harta Langit
19
Hanya Gao Rui yang Bisa
20
Menyegarkan Suasana
21
Tingkatan Beladiri
22
Tantangan yang Tidak Disengaja
23
Berlatih Tanding
24
Mengambil Hadiah
25
Istana Permata Naga
26
Pesta Keluarga Shou
27
Pemimpin Rumah Dagang Naga Emas
28
Ulang Tahun Nyonya An Ra
29
Di Antara Harta Langit dan Naga Emas
30
Hadiah Pertama Gao Rui
31
Hadiah Kedua Gao Rui
32
Berebut Memperkenalkan Diri
33
Keputusan Ini Kami Batalkan
34
Pesta Akhirnya Berakhir
35
Aku Ingin Kau Bergabung Denganku
36
Menolak Penawaran
37
Meninggalkan Kota
38
Menuju Tambang Emas
39
Mengganggu Kawasan Mereka
40
Sampai di Tempat yang Dituju
41
Cadangan Logam yang Melimpah
42
Pasukan Harimau Darah
43
Gao Rui Pemanah Handal
44
Terus Memberikan Kejutan
45
Gerbang Kota Luohe
46
Ketimpangan yang Nyata
47
Kelompok Anak Muda Kota Luohe
48
Upaya Merundung Gao Rui
49
Gao Rui vs Lingkaran Pewaris Atas
50
Gao Rui vs Dua Pendekar Raja
51
Gao Rui vs Semuanya
52
Berniat Membawanya
53
Dia Tuan Muda Harta Langit
54
Balasan dari Bai Kai
55
Jangan Meremehkan Dunia Ini
56
Rencana Kerjasama
57
Tarik Ulur di Meja Pertemuan
58
Hari yang Melelahkan
59
Fakta yang Mengejutkan
60
Saling Merendahkan Diri
61
Dunia yang Baru untuk Gao Rui
62
Toko Buku Tua
63
Legenda Hidup Kekaisaran Zhou
64
Pertemuan Dua Juara di Masa yang Berbeda
65
Keinginan untuk Kembali
66
Kesepakatan Dua Juara
67
Benda Asing yang Dijual di Toko
68
Kesibukan Sebelum Penandatanganan Kerjasama
69
Masalah Muncul
70
Menenangkan Lan Suya
71
Apa Kau Tidak Keberatan?
72
Bergabung dengan Harta Langit
73
Bantuan Lain
74
Menuju Perkebunan Teh Harta Langit
75
Batalkan Kesepakatan Itu
76
Dalang Utama
77
Keluar dari Persembunyian
78
Hakim Langit Yuang Dao
79
Cara Mengakhiri Ini Semua
80
Ia Layak Mati
81
Kembali ke Kota Luohe
82
Hari Penandatanganan Kerjasama
83
Tuan Muda Harta Langit Tiba
84
Panggung Harta Langit dan Kayu Mawar
85
Kerjasama Terjalin
86
Aku Kembali
87
Pergi Bersamanya
88
Kelompok Angin Malam
89
Diijinkan Bertarung
90
Sisi Dingin Gao Rui
91
Aku Tidak Membunuh Sembarangan
92
Mencari Seruling Itu
93
Menemukannya
94
Dari Mana Saja Kalian?
95
Kekuatan Ditempa Dalam Kereta Kuda
96
Keadaan Desa yang Aneh
97
Menara Bintang Darah
98
Tekad Orang-Orang Harta Langit
99
Menuju Sarang Pencuri
100
Waktunya Berburu
101
Gao Rui Ketahuan
102
Melawan Menara Bintang Darah
103
Musuh Datang Lebih Banyak
104
Pendekar Naga Bintang vs Harimau Hitam
105
Saatnya Menghabisinya
106
Melawan Pendekar Suci
107
Gao Rui Terluka
108
Pertarungan Sengit
109
Seruling Suara Neraka
110
Lantunan Nada Seruling Suara Neraka
111
Mencari Gao Rui
112
Keterkejutan Orang-Orang Harta Langit
113
Kembali ke Desa
114
Roh Seruling Suara Neraka
115
Penjelasan Gao Rui
116
Sampai di Tujuan Akhir
117
Bertemu Kenalan Lama
118
Keributan Kecil
119
Permohonan Maaf
120
Ayo Main ke Rumahku
121
Kaisar Zhou Ren
122
Pertemuan dengan Kaisar
123
Seseorang Ingin Bertemu Dengan Gurumu
124
Harta Langit Disegel
125
Semua Karena Ulahku
126
Tidak Ada yang Bisa Membantu
127
Seperti Inilah Dunia Bekerja
128
Naiknya Kualitas Tulang Gao Rui
129
Rencana Dijalankan
130
Pertemuan dengan Patriak Keluarga Can
131
Aku Datang Untuk Menyelamatkanmu
132
Ancaman Gao Rui
133
Usaha Lan Suya Masih Belum Berhasil
134
Harta Langit Dapat Dibuka Kembali
135
Rumor Beredar
136
Kuda Besar yang Memilih Tunduk
137
Berburu Bersama Pangeran Hong
138
Kemampuan Memanah Gao Rui
139
Dikepung di Hutan
140
Biarkan Orang Tua Ini Bergerak
141
Kekuatan Hakim Langit Yuang Dao
142
Kejutan Untuk Gao Rui
143
Keinginan Untuk Berpetualang
144
Pengumuman
145
PENGUMUMAN

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!