03. Mabuk

Vincent Louis Oliver

...----------------...

Dagh...!

"Aakkkhhh...!! Alicia...!!!" Vincent berteriak seraya memukul kaca mobilnya yang melaju kencang itu menggunakan sebelah tangannya memegang botol alkohol.

"You're bi**h..!" umpatnya. "Kenapa kamu menyerah secepat ini?!! Aku sudah menyiapkan semuanya untuk kita, Alicia!" tambahnya.

"Anj**k..! Akkkhh...!!" teriak Vincent lagi seraya kembali memukuli kemudi mobil dan kaca jendela secara brutal. Laki-laki itu benar-benar frustasi. Diputuskan tunangannya benar-benar membuat Vincent tak terkontrol. Bahkan kini ia tengah dalam perjalanan pulang setelah menghabiskan malamnya di sebuah club sejak tadi. Pria itu berkendara sambil mabuk. Penampilannya sudah acak-acakan. Sesekali ia menenggak alkoholnya seraya mengucap sumpah serapahnya untuk sang mantan tunangan.

Tak butuh waktu lama Vincent pun tiba di kediaman pribadinya. Laki-laki itu keluar dari kendaraan mewahnya dan berjalan masuk ke dalam rumah megah miliknya. Jalannya sempoyongan, penampilannya compang camping dengan kemeja putih yang kedua lengannya sudah tergulung hingga ke siku. Tiga kancing atasnya sudah terlepas. Jas hitam mahal yang biasanya ia kenakan kini nampak ia sampirkan di pundak. sedangkan satu tangannya memegang alkohol yang sesekali diteguknya.

Braakk....

Pintu dibuka dengan kasar. Laki laki itu jatuh tersungkur karena tak mampu menjaga keseimbangan tubuhnya.

"Sh*t!" Kalimat itu keluar dari mulut sang pebisnis muda. Ia kembali bangkit. Ia kembali mengayunkan kakinya masuk ke dalam rumah sambil terus meracau memaki nama Alicia.

Hingga tiba-tiba...

Laki-laki itu menghentikan langkahnya ketika sampai di ujung tangga menuju lantai dua. Matanya yang merah menatap ke arah sofa panjang ruang tengah hunian itu. Seorang gadis nampak terlelap disana. Ya, itu Alina!

Vincent menyipitkan matanya. Ia menenggak alkoholnya sekali lagi lalu berjalan mendekati wanita yang masih terlelap tersebut. Laki-laki itu berdiri dengan angkuhnya tepat di hadapan Alina yang tertidur. Ia memiringkan kepalanya sambil lagi-lagi menenggak air minum kesukaannya itu. Sedangkan matanya tak lepas dari wajah cantik yang nampak tertidur pulas di sana.

"Alicia..." ucapnya.

Tidak! Vincent yang setengah sadar karena pengaruh alkohol mengira bahwa Alina adalah Alicia!

"Aku tahu kamu menungguku," tambahnya seraya mengeluarkan senyuman creepy.

Vincent menenggak alkoholnya lagi. Ia kemudian membungkukkan badannya. Mendekatkan wajahnya pada wajah Alina yang terlelap. Laki-laki itu memiringkan kepalanya seraya menampilkan sebuah senyuman mengerikan. Dalam pandangan matanya, ia melihat wajah Alicia sedang tidur dengan nyenyak nya. Sangat cantik. Sangat menggoda gairahnya.

Tangan kekar itu tergerak mengusap lembut rambut Alina. Biraahinya mulai bergejolak. Wangi tubuh Alina menari nari di hidungnya. Membuat sesuatu dalam dirinya mulai terbangun di sana.

Vincent makin mengikis jarak dengan Alina. Ia menggerakkan kepalanya menghirup aroma tubuh itu. Hidungnya kini bahkan hampir menempel ke ceruk leher Alina. Sedangkan sebelah tangannya mengusap-usap lembut rambut Alina yang seolah tak menggubris keberadaan Vincent saking lelapnya.

”I love you so much, babe," bisiknya sambil tersenyum creepy. Laki laki itu makin mendekatkan wajahnya. Dengan satu gerakan ia menggerakkan lidahnya, menyapu ceruk leher Alina dari bawah ke atas. Hal itupun sontak membuat Alina terbangun dari tidurnya.

"Sssttt..." Vincent meletakkan jari telunjuknya di bibirnya. Posisi mereka sangat dekat. Vincent mengungkung gadis itu di atas sofa. Alina yang terkejut pun nampak membuka matanya lebar-lebar.

"T-Tuan Vincent?" ucapnya.

Apa ini majikanku? Ngapain dia? Batin Alina bertanya-tanya.

Vincent membelai rambut Alina. "I love you, sayang. Kamu cantik sekali," bisiknya.

Bau alkohol menyeruak dari mulut pria itu. Alina menggelengkan kepalanya samar seolah sudah bisa memahami semuanya. Laki-laki ini mabuk! Sial, kenapa tidak ada yang bilang kalau Vincent ini pemabuk!

"Kamu menungguku, kan?" Tangan itu makin berani menari-nari menyusuri lengan atas Alina.

"T-Tuan, jangan! Tuan sedang mabuk," ucap Alina gugup sembari menepis tangan Vincent.

"Sssttt...siapa yang mabuk? Aku nggak mabuk, honey," jawab Vincent.

"I Miss you...so much..." ucapnya lirih dan terdengar penuh naffsu. Lidah itu bergerak menyapu bibir bawahnya. Menggambarkan betapa ia sangat menginginkan wanita di hadapannya ini.

"Take off your clothes!" perintah pria itu. Alina makin gugup. Ia memalingkan wajahnya sambil meremas bagian depan kaos sederhananya.

"Tuan sedang mabuk. Mohon menyingkir biar saya buatkan susu untuk Tuan," ucap wanita itu.

Vincent tertawa creepy. "Ayolah! Kamu terlalu banyak basa basi. Aku sudah tidak tahan. Sejak kapan aku suka susu selain...punyamu," ucapnya sembari mencoba menyentuh wajah Alina. Namun lagi dan lagi, Alina menepisnya.

Vincent tak berhenti. Ia kembali mendekatkan wajahnya mencoba mencium Alina namun dengan cepat gadis itu mendorongnya dan berteriak. "Jangan...!!"

Vincent jatuh tersungkur. Botol alkoholnya jatuh. Alina lari. Ia tak mau ambil resiko.

"Anj*Ng!" umpat Vincent yang tak terima dengan respon Alina. Vincent bergerak cepat Ia bangkit dari posisinya kemudian mengejar Alina. Langkah kakinya yang lebar dan panjang dengan cepat mampu mengejar Alina yang mulai ketakutan. Ditariknya baju gadis itu dengan kasar dan melemparkannya kembali ke sofa ruang tengah tersebut. Kaos itupun nampak koyak di bagian lengan atas hingga dadanya. Menampilkan tubuh mulus dengan setitik tahi lalat kemerah-merahan di bagian depan.

"Mau kemana kamu?" tanya Vincent dingin. Alina tak mampu menjawab. Ia sudah ketakutan. Laki-laki itu mengikis jarak dengannya sambil melepaskan kancing-kancing bajunya.

"Bertahun-tahun kita pacaran. Aku mencintai kamu benar-benar, tapi kamu dengan gampangnya meninggalkan aku. Anj*Ng, kamu!"

Alina tak menjawab. Menjelaskan pada orang mabuk tidak akan ada gunanya. Yang paling penting sekarang adalah lari.

Alina melompat dari sofa. Ia kembali berlari menjauh dari Vincent. Namun tiba-tiba...

Seeett....

"Akkkhh..!" Alina memekik. Vincent mencengkeram rambut Alina dari belakang lalu menariknya hingga membentur dada bidangnya. Satu tangannya yang bebas kemudian mencekik leher Alina.

Alina panik. Rambutnya dijambak. Lehernya dicekik. Ia memegangi kedua tangan pria itu seolah minta dilepaskan.

"T-Tuan..." ucapnya yang kesulitan bernafas.

Vincent mengecup lembut ceruk leher itu. Membuat Alina merinding karenanya.

"Mau kemana kamu, sialan? Kau pikir kau bisa lari dariku, hmm?"

"Sa-sakit.." ucap Alina makin ketakutan. Vincent kembali mengendus ceruk leher Alina.

"I want to have a baby.." bisiknya. Alina menegang. Ia menggelengkan kepalanya cepat. Belum sempat gadis itu menolak, Vincent membanting tubuh mungil itu ke sofa lalu dengan cepat menindihnya.

"Kamu akan diam jika kau mengandung bayiku," ucapnya.

"Tuan, jangan! Saya bukan....."

Plak...!

Vincent menampar pipi itu dengan keras lalu mencengkeram dagunya dengan kasar.

"Aku tidak suka penolakan!" ucapnya dingin lalu melempar wajah itu.

Alina mulai menangis, tapi Vincent tak peduli. Kedua tangan gadis itu dicengkeram dengan satu tangan yang kuat tepat di atas kepalanya. Membuat wanita itu tak bisa berontak.

"Lakukan yang kamu bisa!" ucap pria itu dingin dibarengi sebuah senyum menakutkan.

"Tolong...!!!!" Alina memekik. Ia menjerit sekuat tenaga saat tangan dan mulut Vincent dengan penuh nafsuu mulai menggerayangi leher dan dadanya. Alina berusaha berontak. Kakinya menendang-nendang udara kala lidah itu menyapu bibirnya yang terus menutup. Satu tangan Vincent mencengkeram kuat dagu Alina, memaksa wanita itu untuk membuka mulutnya. Air mata Alina bercucuran. Ia menangis tanpa suara di tengah usahanya keluar dari kungkungan.

"Buka mulutmu, siaalaan!!"

Plak..!

"Open your f**king mouth, NOW!!"

Vincent menampar pipi Alina berkali-kali sambil mengeluarkan umpatan-umpatan kasar. Gadis itu menangis. Sedikit darah mengalir dari ujung bibirnya. Ia menjerit dan meringis kesakitan saat tangan besar itu dengan lancang meremaas dadanya. Sakit, geli, perasaan yang tak bisa dijelaskan karena ini adalah pengalaman pertamanya dijamah pria. Kasar pula!

"Katakan sekarang, apa pria itu pernah melakukan ini padamu, hmm?" bisik Vincent sambil mengoyak kaos murah itu. Ia mengeluarkan gumpalan daging dengan tombol kecil di ujungnya itu lalu menamparnya berkali-kali. Alina terus menangis. Jantungnya berdebar kuat. Takut, jijik, geli. Terlebih lagi ketika pria itu mulai memainkan lidahnya menari-nari di ujung tombol merah muda kecoklatan miliknya sambil sesekali menyesapnya.

"Emmhh..." Suara itu lolos dari bibir Alina. Membuat Vincent menyeringai di sela-sela aktivitasnya.

"Kau mulai menikmatinya?" tanya pria itu sambil kembali mencengkeram dagu Alina.

"Lepaskan saya, Tuan! Hiks..."

"Setelah aku berhasil merobek milikmu!" ucapnya mengerikan sembari dengan cepat menurunkan rok panjang milik Alina dan masuk ke sela-paha paha gadis itu. Alina makin menangis. Ia berusaha mendorong kepala laki-laki itu namun tak kuat. Vincent menggila di bawah sana. Ia begitu rakus bak singa kelaparan yang mendapatkan daging segar.

Cukup lama Vincent bermain-main di sana menggunakan mulut dan juga jari-jarinya. Benda yang semula kering kini berubah menjadi basah. Setelah puas ia pun menjauhkan kepalanya dari sana tanpa melepaskan kuasa atas Alina. Satu tangannya mencekik leher Alina, sedangkan satu lainnya melepaskan kemeja dan juga ikat pinggangnya. Seonggok benda yang tak semua orang boleh melihatnya itu pun dikeluarkan dari sarangnya. Terlihat sudah sangat siap untuk memporak porandakan Alina yang malang.

"Kau takut, sayang?"

"A-ampun, Tuan! Ja-jangan. Hiks..."

Vincent menyeringai. "Kau berlagak seperti gadis kampung yang polos. Pintar sekali kau acting. Bukankah kita sudah sering melakukan ini? Kita tidak akan berhenti sebelum aku selesai dan kau membersihkanku dengan mulutmu itu!" ucap Vincent sambil memberikan beberapa tamparan di sela-sela kedua belah kaki Alina.

Wanita itu makin menangis. Ia tak menyangka akan mendapatkan perlakuan seperti ini di hari pertamanya bekerja.

Vincent belum selesai dengan aksinya. Ia Diusap-usapnya benda berurat itu dengan satu tangannya yang berlumuran saliva. Ia menarik tubuh Alina. Mencari posisi yang nyaman lalu bersiap disana. Alina menangis. Laki-laki itu menampar pipi Alina tiap kali wanita itu berontak. Ia kemudian membuka kedua belah paha Alina dengan kasar lalu berancang-ancang untuk melakukan penyatuan.

"Jangan, Tuan! Ampuuunn...." rintih Alina yang sudah mulai kewalahan. Vincent tak peduli. Ia masih berusaha merobek pertahanan Alina yang begitu suli untuk diterobos. Laki laki itu meringis. Sangat sempit.

"TOLOOOONNNGGG.....!"

Plaaakk..! Vincent menampar gadis itu dengan sangat keras

Alina menjerit. Ia merasakan perih di bawah sana. Sesuatu yang terasa begitu besar merangsek masuk di bawah sana. Terasa sangat penuh. Sangat sesak. Hingga sesuatu terasa robek.

"Aaahhh...." Vincent mendeesa ah. Benda berharga miliknya berhasil masuk dengan sempurna. Sedikit ngilu. Tapi sensasinya sangat luar biasa.

Laki-laki kembali mengungkung Alina.

"Nikmat sekali, sayang," bisiknya tepat di wajah Alina. Sedangkan satu tangannya nampak mengusap lembut kepala gadis itu.Alina berontak. Ia mencoba mendorong pria itu dan memukuli dada bidang itu dengan sisa-sisa tenaganya.

"Menangislah! Aku suka melihat air matamu," ucapnya yang kemudian kembali menggerakkan lidahnya mengusap air mata di pipi gadis itu.

Adegan pun berlanjut. Laki-laki itu menggerakkan pinggulnya naik turun. Memompa sesuatu yang nampak berdarah di sana diiringi dengan tangisan Alina. Malam itupun berlalu. Jam dinding yang berdenting menjadi saksi tentang adegan pemaksaan yang berhasil merenggut kehormatan sang gadis desa.

Terpopuler

Comments

Desyi Alawiyah

Desyi Alawiyah

Alina 😭😭😭 Oh Tuan Vincent, kau pasti akan menyesal setelah kau sadar nanti..

Perempuan yang kamu jamah itu bukan Alicia, tapi Alina... 😯😯

Kasihan Alina, baru bekerja udah mendapat perlakuan buruk dari majikannya 😌

2026-04-13

1

whiteblack✴️

whiteblack✴️

gila kau vincent🤬!! gara" putus bejat kau ya cent setan.

2026-04-23

1

Cicitaa🤡

Cicitaa🤡

lemah kali jadi laki 🙄

2026-04-29

1

lihat semua
Episodes
1 01. Pembantu Baru
2 02. Vincent Louis Oliver
3 03. Mabuk
4 04. Janji dan Kesepakatan
5 05. Makan Malam
6 06. Finding You, Alicia
7 07. Tragedi Kedua
8 08. Menyesal
9 09. Jangan-jangan?
10 10. Positif!
11 11. Pamit
12 12. Hancur Dan Terusir
13 13. Sang Perenggut Mahkota
14 14. Berjanji
15 15. Menepati Janji
16 16. Apartemen
17 17. Sepi
18 18. Larangan!
19 19. Ayam Bumbu Bali
20 20. Minta Maaf
21 21. Jalan-jalan Pagi
22 22. Pizza
23 23. Mabuk Lagi
24 24. Orang Asing
25 25. Larangan Lagi!
26 26. Makanan Gratis
27 27. Nonton Film
28 28. Sakit Perut
29 29. Baikan
30 30. Janjian
31 31. Insiden
32 32. Takut Salah Paham
33 33. Tentang Yuda
34 34. Mandi
35 35. Sate Kambing
36 36. Alina, Vincent, Dion, dan Alicia
37 37. Nyonya Theressa
38 38. Nyonya Theressa 2
39 39. Jalan-jalan
40 40. Kamu Punya Aku
41 41. Pulang Kampung
42 42. Sumpah
43 43. Kembali Pulang
44 44. Ketegangan
45 45. Kembalinya Sang Mantan
46 46. Dia Tetap Putri Kita
47 47. Menemui Pak Herman
48 48. Pemuda Tongkrongan
49 49. Nikahi Putriku!
50 50. Saya Berjanji
51 51. Malam Yang Dingin
52 52. Cinta Dan Air Mata Di Tempat Yang Berbeda
53 53. Satu Lawan Tujuh
54 54. Ma lam Perta ma
55 55. Ma lam Per tama 2
56 56. Kembali Ke Apartemen
57 57. Alicia Lagi
58 58. Kembali Ke Kantor
59 59. Dendam Dan Masa Lalu
60 60. Maaf Dari Mantan
Episodes

Updated 60 Episodes

1
01. Pembantu Baru
2
02. Vincent Louis Oliver
3
03. Mabuk
4
04. Janji dan Kesepakatan
5
05. Makan Malam
6
06. Finding You, Alicia
7
07. Tragedi Kedua
8
08. Menyesal
9
09. Jangan-jangan?
10
10. Positif!
11
11. Pamit
12
12. Hancur Dan Terusir
13
13. Sang Perenggut Mahkota
14
14. Berjanji
15
15. Menepati Janji
16
16. Apartemen
17
17. Sepi
18
18. Larangan!
19
19. Ayam Bumbu Bali
20
20. Minta Maaf
21
21. Jalan-jalan Pagi
22
22. Pizza
23
23. Mabuk Lagi
24
24. Orang Asing
25
25. Larangan Lagi!
26
26. Makanan Gratis
27
27. Nonton Film
28
28. Sakit Perut
29
29. Baikan
30
30. Janjian
31
31. Insiden
32
32. Takut Salah Paham
33
33. Tentang Yuda
34
34. Mandi
35
35. Sate Kambing
36
36. Alina, Vincent, Dion, dan Alicia
37
37. Nyonya Theressa
38
38. Nyonya Theressa 2
39
39. Jalan-jalan
40
40. Kamu Punya Aku
41
41. Pulang Kampung
42
42. Sumpah
43
43. Kembali Pulang
44
44. Ketegangan
45
45. Kembalinya Sang Mantan
46
46. Dia Tetap Putri Kita
47
47. Menemui Pak Herman
48
48. Pemuda Tongkrongan
49
49. Nikahi Putriku!
50
50. Saya Berjanji
51
51. Malam Yang Dingin
52
52. Cinta Dan Air Mata Di Tempat Yang Berbeda
53
53. Satu Lawan Tujuh
54
54. Ma lam Perta ma
55
55. Ma lam Per tama 2
56
56. Kembali Ke Apartemen
57
57. Alicia Lagi
58
58. Kembali Ke Kantor
59
59. Dendam Dan Masa Lalu
60
60. Maaf Dari Mantan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!