BAB 2: EMAS DI BALIK KERIKIL

Arka masih berdiri terpaku di depan cermin retaknya selama hampir sepuluh menit. Dia mencoba memejamkan mata, lalu membukanya kembali, berharap semua ini bukan sekadar mimpi gila akibat benturan di kepala. Namun, setiap kali kelopak matanya terbuka, dunia di depannya tampak jauh lebih "telanjang". Dia bisa melihat serat kayu pada pintu kamarnya yang mulai lapuk, melihat debu yang menari-nari di udara dengan sangat jelas, bahkan bisa merasakan denyut nadi di pergelangan tangannya sendiri yang berdetak lebih kuat dari biasanya.

"Kakek misterius itu... siapa dia sebenarnya?" gumam Arka pelan.

Perutnya tiba-tiba keroncongan, mengingatkannya bahwa dia hanya makan satu bungkus mi instan sejak kemarin. Dia merogoh saku celananya, hanya ada selembar uang lima ribu rupiah pemberian Kevin yang sudah kumal dan beberapa koin receh. Penghinaan kemarin kembali terngiang di telinganya, tapi kali ini rasa sakit hatinya berubah menjadi ambisi yang dingin.

Arka segera mencuci muka, mengenakan jaketnya yang paling mendingan—meski warnanya sudah memudar—dan memutuskan untuk keluar. Dia butuh membuktikan kekuatan mata ini di dunia nyata.

Tujuannya satu: Pasar Antik dan Bursa Batu Mulia di ujung kota. Tempat itu adalah sarang bagi para spekulan, orang kaya yang bosan, dan orang miskin yang berharap mukjizat. Di sana, orang membeli sebongkah batu mentah yang tampak seperti kerikil jalanan dengan harga jutaan rupiah, berharap di dalamnya ada giok berkualitas tinggi. Satu tebakan benar bisa membuatmu kaya mendadak, satu tebakan salah bisa membuatmu gila.

Sesampainya di sana, bau kemenyan, suara gerinda pemotong batu, dan hiruk-pikuk tawar-menawar langsung menyambutnya. Arka berjalan menyusuri kios-kios kecil di pinggiran. Dia tidak punya modal jutaan, dia hanya punya nyali dan sepasang mata yang aneh.

"Ayo, batu dari Kalimantan! Baru datang! Hanya lima ratus ribu satu bongkah!" teriak seorang pedagang dengan kumis tebal.

Arka berhenti di depan kios itu. Dia mencoba memfokuskan pandangannya pada tumpukan batu hitam kecokelatan yang terlihat tidak menarik. Awalnya, dia hanya melihat permukaan kasar batu itu. Namun, saat dia menahan napas dan memusatkan seluruh pikirannya ke mata kanannya, sensasi hangat kembali muncul.

Tiba-tiba, lapisan luar batu itu seolah memudar, menjadi transparan seperti air jernih. Arka terbelalak. Di dalam batu pertama, isinya hanya tanah dan batuan beku yang tak berguna. Batu kedua sama saja. Namun, di sudut tumpukan, ada sebuah batu kecil seukuran kepalan tangan bayi yang bentuknya sangat buruk dan penuh retakan.

Saat Arka menatap batu buruk itu, matanya menangkap kilauan hijau yang sangat pekat dan murni di bagian tengahnya. Hijau itu seolah bernapas, memancarkan aura yang menenangkan.

"Instingku bilang... ini bukan batu biasa," batin Arka. Dia tidak butuh layar bantuan untuk tahu bahwa itu adalah harta karun.

"Bang, yang ini berapa?" Arka menunjuk batu buruk tadi.

Si pedagang melirik sinis. "Itu? Itu batu sisa, buat ganjal pintu juga nggak laku. Kasih saya seratus ribu saja, ambil sana."

Arka berpura-pura ragu. "Mahal banget, Bang. Ini kan retak-retak. Lima puluh ribu deh, saya cuma punya uang segini buat makan."

Setelah drama tawar-menawar yang cukup alot demi menutupi kecurigaannya, si pedagang akhirnya melepas batu itu dengan harga tujuh puluh ribu rupiah—setengahnya adalah uang hasil Arka meminjam dari teman kosnya kemarin.

Arka membawa batu itu ke tempat pemotongan umum di tengah pasar. Di sana, seorang pria tua dengan kacamata tebal sedang mengoperasikan mesin pemotong cakram. Beberapa orang kaya berpakaian rapi sedang mengantre, menunggu batu-batu mahal mereka dibelah.

"Heh, kurir? Kamu mau potong batu apa? Batu kali?" celetuk seorang pria paruh baya bertubuh tambun yang sedang memegang cerutu. Namanya adalah Pak Broto, kolektor giok yang cukup dikenal sombong di pasar itu.

Orang-orang di sekitar tertawa melihat Arka yang kumal membawa batu yang terlihat seperti sampah.

"Hanya mencoba peruntungan, Pak," jawab Arka tenang.

"Coba peruntungan itu pake modal, Nak. Bukan pake kerikil sisa konstruksi," timpal Pak Broto sambil memamerkan batu miliknya yang seharga dua puluh juta rupiah. "Lihat ini, batu dari Myanmar. Pasti isinya giok tipe A. Kamu mending pulang, uang segitu mending buat beli sabun biar nggak bau apek."

Arka hanya tersenyum tipis. "Gimana kalau kita taruhan, Pak? Kalau batu saya isinya lebih bagus dari punya Bapak, Bapak bayar biaya potong batu saya."

Pak Broto tertawa terbahak-bahak sampai perutnya berguncang. "Boleh! Jangankan bayar biaya potong, kalau kerikilmu itu ada isinya, saya beli sepuluh kali lipat dari harga belimu! Tapi kalau isinya cuma semen, kamu harus berlutut dan bersihin sepatu saya pake baju kamu itu!"

Arka mengangguk setuju. Penonton mulai berkumpul, mencium aroma konflik yang menarik.

Batu milik Pak Broto dipotong lebih dulu. Suara mesin menderu nyaring, air pendingin menyemprot ke mana-mana. Saat batu itu terbelah dua... hening. Isinya putih pucat, hanya ada sedikit bintik hijau kusam yang disebut "giok sampah". Pak Broto pucat pasi. Dua puluh jutanya melayang jadi abu.

"Sekarang giliran saya, Kek," kata Arka pada si pemotong.

Si kakek pemotong batu menggelengkan kepala melihat batu Arka, tapi dia tetap bekerja. Begitu cakram pemotong menyentuh permukaan batu buruk itu, hanya dalam hitungan detik, air pendingin yang mengalir tiba-tiba berubah warna menjadi kehijauan.

"Tunggu!" teriak si kakek pemotong. Dia menghentikan mesinnya, tangannya gemetar. Dia mengambil air botol dan menyiram sisa debu pada belahan batu itu.

Seketika, seluruh pasar seolah berhenti berdetak. Dari balik batu retak yang dihina semua orang itu, muncul pancaran warna hijau zamrud yang begitu jernih, transparan, dan tanpa cacat sedikit pun. Cahaya matahari yang masuk ke lobi pasar seolah terserap dan terpantul kembali dengan kemilau yang mewah.

"Imperial Jade! Ini... ini Giok Kekaisaran!" teriak seseorang dari kerumunan.

"Gila! Benar-benar hijau murni tanpa serat! Ini kualitas langka yang cuma ada di pelelangan internasional!"

Pak Broto hampir menjatuhkan cerutunya. Matanya melotot seolah mau copot. "Nggak mungkin... kerikil itu..."

Arka menarik napas lega. Matanya tidak menipunya. Penglihatan tembus pandang itu nyata, dan itu sangat akurat.

"Pak Broto, sepertinya sepatu Bapak masih bersih, nggak perlu saya lap," ucap Arka dingin. "Dan tadi Bapak bilang mau beli sepuluh kali lipat dari harga beli saya? Saya beli tujuh puluh ribu, jadi Bapak mau bayar tujuh ratus ribu buat giok yang harganya minimal bisa sampai dua ratus juta ini?"

Wajah Pak Broto merah padam karena malu. Penonton menyoraki pria sombong itu.

Tiba-tiba, seorang wanita cantik dengan setelan jas formal dan kacamata hitam berjalan menembus kerumunan. Auranya begitu elegan dan berwibawa, membuat orang-orang secara otomatis memberinya jalan. Dia adalah Clarissa, putri dari pemilik grup perhiasan terbesar di kota ini.

Clarissa melepas kacamata hitamnya, menatap giok di tangan Arka dengan binar kekaguman, lalu beralih menatap Arka yang penampilannya sangat kontras dengan harta yang dipegangnya.

"Anak muda, jangan dengarkan orang tua sombong itu," suara Clarissa lembut tapi tegas. "Nama saya Clarissa. Saya dari Permata Nusantara. Giok ini... jika kamu bersedia, saya akan membelinya sekarang juga dengan harga lima ratus juta rupiah secara tunai."

Seluruh pasar gempar. Lima ratus juta! Dari uang tujuh puluh ribu menjadi setengah miliar hanya dalam waktu kurang dari satu jam!

Arka sempat terpaku melihat kecantikan Clarissa yang seperti bidadari, tapi dia segera menguasai diri. Dia menatap mata Clarissa, dan entah kenapa, matanya memberitahunya sesuatu yang lain. Dia bisa melihat detak jantung wanita itu yang sedikit tidak beraturan, dan ada rona merah di pipinya—Clarissa benar-benar menginginkan giok ini bukan hanya untuk bisnis, tapi karena dia terkesan dengan keberuntungan (atau kemampuan) Arka.

"Tentu, Nona Clarissa. Tapi saya punya satu syarat," ucap Arka dengan nada yang kini lebih percaya diri.

Clarissa mengangkat alisnya, tertarik. "Syarat apa?"

"Bukan soal uang. Saya butuh kartu nama Anda. Saya rasa, ini bukan terakhir kalinya saya menemukan benda seperti ini," jawab Arka sambil memberikan senyum paling manis yang bisa ia berikan.

Clarissa terpana sejenak. Jarang ada pria, apalagi yang terlihat miskin, berani menatap matanya dengan begitu berani dan penuh rahasia. Dia tersenyum kecil, lalu mengeluarkan kartu nama berlapis emas dari dompetnya.

"Menarik. Aku tunggu kejutanmu berikutnya, Arka."

Arka menerima kartu itu. Di saat yang sama, dia melirik ke arah Kevin yang entah sejak kapan ada di pinggiran kerumunan, menatap Arka dengan wajah iri dan tidak percaya. Arka hanya mengangkat gioknya tinggi-tinggi ke arah Kevin, memberikan isyarat bahwa mulai detik ini, roda nasib telah berputar.

Hari itu, Arka pulang bukan lagi sebagai kurir miskin yang dihina. Dia pulang sebagai pemuda yang baru saja menggenggam kunci untuk menguasai dunia.

#urban_fantasi #harem #romance #komedi #mata_sakti

Terpopuler

Comments

Manusia Ikan 🫪

Manusia Ikan 🫪

ini tipikal cerita seperti drama china ya?

2026-05-04

0

Jumli

Jumli

kayak nonton langsung, seru banget bacanya

2026-05-01

3

Manusia Biasa

Manusia Biasa

waduh modal batu doang. gue juga mau wkwk😂

2026-04-14

3

lihat semua
Episodes
1 BAB 1: PENGHINAAN DI HARI HUJAN
2 BAB 2: EMAS DI BALIK KERIKIL
3 BAB 3: GANTI KULIT
4 BAB 4: TAMPARAN TANPA TANGAN
5 BAB 5: MATA YANG MELIHAT SEGALANYA
6 BAB 6: DUEL DUA MATA SAKTI
7 BAB 7: MULUT BUSUK SANG TUAN MUDA
8 BAB 8: HARGA SEBUAH PENGLIHATAN
9 BAB 9: SISA AMARAH DAN DARAH YANG MENDIDIH
10 BAB 10: TARIAN GAGAK DI ATAS SENG
11 BAB 11: GERBANG NERAKA TERBUKA
12 BAB 12: JATUHNYA SANG RAJA BISNIS
13 BAB 13: SISA ABU DAN PELUKAN YANG HANGAT
14 BAB 14: DARAH DI ATAS CATUR
15 BAB 15: MATA DEWA DI ATAS BATU SAMPAH
16 BAB 16: TARING MACAN VS MATA DEWA
17 BAB 17: DI BALIK TIRAI HUJAN
18 BAB 18: SURAT UNDANGAN DARI NERAKA
19 BAB 19: DI HADAPAN SANG RAJA MACAN
20 BAB 20: PASAR HANTU DAN HARGA SEBUAH NYAWA
21 BAB 21: DARAH DIBAYAR DARAH, NYAWA DIBAYAR NYAWA
22 JATUHNYA SANG PANGERAN KLAN MAHESA
23 PESAN BERDARAH UNTUK KONSORSIUM
24 GEMPA DI BALIK MEJA PERJAMUAN
25 TARIAN IBLIS DI LORONG SUNYI
26 GEMURUH LANGIT DAN DARAH TUA
27 SISI GELAP MATA SAKTI
28 Pengadilan Para Pecundang
29 Bisikan di Antara Retakan Langit
30 SUJUD SANG PEMIMPIN
31 ARSITEK TAKDIR DAN DARAH YANG MEMBEKU
32 PASAR HANTU DAN HARGA SEBUAH NYAWA
33 PENGKHIANATAN DI BAWAH BULAN BERDARAH
34 SISA ABU DAN MAHKOTA BERDUR
35 PERJAMUAN BANGKAI DAN CAHAYA MERAH
36 PERJAMUAN DI UJUNG BELATI
37 MONUMEN DAGING DAN DEBU
38 RITUAL DI ATAS DEBU
39 MEJA PERJUDIAN NYAWA
40 PERJAMUAN PARA SERIGALA
41 DARAH DI ATAS AWAN
42 PERJAMUAN NYAWA DI SENTOSA COVE
43 PECAHNYA CAKRAWALA
44 JANIN YANG MENETAS
45 SISA ABU DAN RAHASIA YANG MENGGIGIL
46 BRANKAS GENESIS DAN DARAH YANG BERTERIAK
47 DEWI YANG MEMINJAM RAGA
48 KUTUKAN YANG TERBUANG
49 HARGA SEBUAH KEBANGKITAN
50 PERJUDIAN DI ATAS DARAH DAN DEBU
51 PERJAMUAN DARAH ADIWANGSA
52 PERJAMUAN MAUT DI LANGIT JAKARTA
53 PESAN DARI KUBURAN
54 BENTURAN DUA JIWA DAN KEMATIAN DARI LANGIT
55 DEBU SURGA DAN JANJI YANG TERSISA
56 RERUNTUHAN ISTANA PASIR DAN SURAT DARI KEMATIAN
57 SINGGASANA DI ATAS LUMPUR
58 TARIAN GAGAK BUTA
59 AMIS DARAH DI PELABUHAN MATI
60 GERHANA NYAWA DI ATAS DEK NAGA HITAM
61 RATAPAN GIOK DAN AMUK SANG PENYALIB DEWA
62 SISA DEBU DAN JANJI DARAH
63 MONOLOG DI ATAS NYAWA YANG TERCECER
64 CAKRAWALA PEMBALASAN DAN KUTUKAN MATA DEWA
65 SISA ABU DAN EMBUN PEMULIHAN
66 PERJAMUAN PENGKHIANATAN DI ATAS ALTAR KACA
67 NYANYIAN DARAH DI JAYAGIRI
68 SALJU DI ATAS BETON BERDARAH
69 PERJAMUAN BANGKAI DI CAKRAWALA
70 FRAGMEN JIWA YANG PECAH
71 REQUIEM DI ATAS PUING CAKRAWALA
72 LITANI DEBU DAN DETAK TERAKHIR
73 TARIAN JAGAL DI ATAS SALJU HITAM
74 PERJAMUAN NISAN DI CAKRAWALA JAKARTA
75 KEJATUHAN SANG ARSITEK TAKDIR
76 RAHIM KEBENCIAN DAN NADI BUMI
77 DISSECTION OF REALITY (PEMBEDAHAN REALITA)
78 KANIBALISME CAHAYA DAN PERJAMUAN TERAKHIR
79 PERJAMUAN DEBU DAN MAHKOTA GERHANA
80 PINTU GEHENNA DAN RITUAL PEMBANTAIAN DEWA
81 SISA DEBU DI UJUNG JARI
82 AMUK SANG KAISAR DI NEGERI JIRAN
83 PERJAMUAN TERAKHIR DI ALPEN DAN MEMORI YANG BERDARAH
84 HUJAN ABU DI JAKARTA DAN BISIKAN PERAK
85 GUGURNYA KESADARAN DAN KEDATANGAN SANG GURU
86 Bayangan di Bawah Tanah
87 Litani Pecahnya Cangkang Fana
88 Pemusnahan di Bawah Langit yang Pucat
89 Elegi Runtuhnya Pilar Langit
90 Fragmen Sukma yang Tercecer
91 Jalan Menuju Kubah Bisu
92 Mata yang Membuka Realitas
93 KURSI KOSONG DI MEJA DEWA
94 ENTROPY YANG MENGGERAT
95 KULMINASI DARI KEPUTUSASAAN
96 gema dari kegelapan
97 Ruang Antara Dua Titik Akhir
98 Turun ke Batas yang Hidup
99 Kesadaran yang Berkeringat
100 Titik Balik dari Kesadaran
101 KESADARAN GELAP
102 GERBANG KEHANCURAN
103 AKAR YANG BERDETAK
104 PERTAMA KALI BERNAFAS
105 TITIK JERAT
106 GRAVITASI EGO PERTAMA
107 RETAKNYA KONSENSUS ALAM
108 TRAGEDI DI KOTA TANPA NAMA
109 BEBAN MERAH SANG DEWA
110 TITIK DIDIH KONFLIK BARU
111 KESUNYIAN PASCA-PERANG
112 ARTEFAK DARI AWAL
113 PENGUMPULAN KEMBALI
114 PERJALANAN KE DALAM
115 HARMONI YANG MENGGIGIT
116 HARGA DARI NADA
117 GRAVITASI KEDUA
118 KEHENINGAN YANG BERBOBOT
119 WARISAN DI DALAM KEHENINGAN
120 SUARA DARI DALAM POHON
121 PENYAKIT YANG INDAH
122 PERJANJIAN DI TEPI ABYSS
123 KETIKA SEGALANYA BERUBAH
124 PERTEMPURAN DI TEPI KEABADIAN
125 KETIKA LAGU TIDAK PERNAH BERAKHIR
126 PENGUMUMAN SPRESIAL: AKHIRNYA ZEUS KEMBALI! (Wajib Baca, Bro!)
127 pengumuman buat pembaca setia mata sakti mohon mampir ke naskah kedua ya
128 pengumuman
Episodes

Updated 128 Episodes

1
BAB 1: PENGHINAAN DI HARI HUJAN
2
BAB 2: EMAS DI BALIK KERIKIL
3
BAB 3: GANTI KULIT
4
BAB 4: TAMPARAN TANPA TANGAN
5
BAB 5: MATA YANG MELIHAT SEGALANYA
6
BAB 6: DUEL DUA MATA SAKTI
7
BAB 7: MULUT BUSUK SANG TUAN MUDA
8
BAB 8: HARGA SEBUAH PENGLIHATAN
9
BAB 9: SISA AMARAH DAN DARAH YANG MENDIDIH
10
BAB 10: TARIAN GAGAK DI ATAS SENG
11
BAB 11: GERBANG NERAKA TERBUKA
12
BAB 12: JATUHNYA SANG RAJA BISNIS
13
BAB 13: SISA ABU DAN PELUKAN YANG HANGAT
14
BAB 14: DARAH DI ATAS CATUR
15
BAB 15: MATA DEWA DI ATAS BATU SAMPAH
16
BAB 16: TARING MACAN VS MATA DEWA
17
BAB 17: DI BALIK TIRAI HUJAN
18
BAB 18: SURAT UNDANGAN DARI NERAKA
19
BAB 19: DI HADAPAN SANG RAJA MACAN
20
BAB 20: PASAR HANTU DAN HARGA SEBUAH NYAWA
21
BAB 21: DARAH DIBAYAR DARAH, NYAWA DIBAYAR NYAWA
22
JATUHNYA SANG PANGERAN KLAN MAHESA
23
PESAN BERDARAH UNTUK KONSORSIUM
24
GEMPA DI BALIK MEJA PERJAMUAN
25
TARIAN IBLIS DI LORONG SUNYI
26
GEMURUH LANGIT DAN DARAH TUA
27
SISI GELAP MATA SAKTI
28
Pengadilan Para Pecundang
29
Bisikan di Antara Retakan Langit
30
SUJUD SANG PEMIMPIN
31
ARSITEK TAKDIR DAN DARAH YANG MEMBEKU
32
PASAR HANTU DAN HARGA SEBUAH NYAWA
33
PENGKHIANATAN DI BAWAH BULAN BERDARAH
34
SISA ABU DAN MAHKOTA BERDUR
35
PERJAMUAN BANGKAI DAN CAHAYA MERAH
36
PERJAMUAN DI UJUNG BELATI
37
MONUMEN DAGING DAN DEBU
38
RITUAL DI ATAS DEBU
39
MEJA PERJUDIAN NYAWA
40
PERJAMUAN PARA SERIGALA
41
DARAH DI ATAS AWAN
42
PERJAMUAN NYAWA DI SENTOSA COVE
43
PECAHNYA CAKRAWALA
44
JANIN YANG MENETAS
45
SISA ABU DAN RAHASIA YANG MENGGIGIL
46
BRANKAS GENESIS DAN DARAH YANG BERTERIAK
47
DEWI YANG MEMINJAM RAGA
48
KUTUKAN YANG TERBUANG
49
HARGA SEBUAH KEBANGKITAN
50
PERJUDIAN DI ATAS DARAH DAN DEBU
51
PERJAMUAN DARAH ADIWANGSA
52
PERJAMUAN MAUT DI LANGIT JAKARTA
53
PESAN DARI KUBURAN
54
BENTURAN DUA JIWA DAN KEMATIAN DARI LANGIT
55
DEBU SURGA DAN JANJI YANG TERSISA
56
RERUNTUHAN ISTANA PASIR DAN SURAT DARI KEMATIAN
57
SINGGASANA DI ATAS LUMPUR
58
TARIAN GAGAK BUTA
59
AMIS DARAH DI PELABUHAN MATI
60
GERHANA NYAWA DI ATAS DEK NAGA HITAM
61
RATAPAN GIOK DAN AMUK SANG PENYALIB DEWA
62
SISA DEBU DAN JANJI DARAH
63
MONOLOG DI ATAS NYAWA YANG TERCECER
64
CAKRAWALA PEMBALASAN DAN KUTUKAN MATA DEWA
65
SISA ABU DAN EMBUN PEMULIHAN
66
PERJAMUAN PENGKHIANATAN DI ATAS ALTAR KACA
67
NYANYIAN DARAH DI JAYAGIRI
68
SALJU DI ATAS BETON BERDARAH
69
PERJAMUAN BANGKAI DI CAKRAWALA
70
FRAGMEN JIWA YANG PECAH
71
REQUIEM DI ATAS PUING CAKRAWALA
72
LITANI DEBU DAN DETAK TERAKHIR
73
TARIAN JAGAL DI ATAS SALJU HITAM
74
PERJAMUAN NISAN DI CAKRAWALA JAKARTA
75
KEJATUHAN SANG ARSITEK TAKDIR
76
RAHIM KEBENCIAN DAN NADI BUMI
77
DISSECTION OF REALITY (PEMBEDAHAN REALITA)
78
KANIBALISME CAHAYA DAN PERJAMUAN TERAKHIR
79
PERJAMUAN DEBU DAN MAHKOTA GERHANA
80
PINTU GEHENNA DAN RITUAL PEMBANTAIAN DEWA
81
SISA DEBU DI UJUNG JARI
82
AMUK SANG KAISAR DI NEGERI JIRAN
83
PERJAMUAN TERAKHIR DI ALPEN DAN MEMORI YANG BERDARAH
84
HUJAN ABU DI JAKARTA DAN BISIKAN PERAK
85
GUGURNYA KESADARAN DAN KEDATANGAN SANG GURU
86
Bayangan di Bawah Tanah
87
Litani Pecahnya Cangkang Fana
88
Pemusnahan di Bawah Langit yang Pucat
89
Elegi Runtuhnya Pilar Langit
90
Fragmen Sukma yang Tercecer
91
Jalan Menuju Kubah Bisu
92
Mata yang Membuka Realitas
93
KURSI KOSONG DI MEJA DEWA
94
ENTROPY YANG MENGGERAT
95
KULMINASI DARI KEPUTUSASAAN
96
gema dari kegelapan
97
Ruang Antara Dua Titik Akhir
98
Turun ke Batas yang Hidup
99
Kesadaran yang Berkeringat
100
Titik Balik dari Kesadaran
101
KESADARAN GELAP
102
GERBANG KEHANCURAN
103
AKAR YANG BERDETAK
104
PERTAMA KALI BERNAFAS
105
TITIK JERAT
106
GRAVITASI EGO PERTAMA
107
RETAKNYA KONSENSUS ALAM
108
TRAGEDI DI KOTA TANPA NAMA
109
BEBAN MERAH SANG DEWA
110
TITIK DIDIH KONFLIK BARU
111
KESUNYIAN PASCA-PERANG
112
ARTEFAK DARI AWAL
113
PENGUMPULAN KEMBALI
114
PERJALANAN KE DALAM
115
HARMONI YANG MENGGIGIT
116
HARGA DARI NADA
117
GRAVITASI KEDUA
118
KEHENINGAN YANG BERBOBOT
119
WARISAN DI DALAM KEHENINGAN
120
SUARA DARI DALAM POHON
121
PENYAKIT YANG INDAH
122
PERJANJIAN DI TEPI ABYSS
123
KETIKA SEGALANYA BERUBAH
124
PERTEMPURAN DI TEPI KEABADIAN
125
KETIKA LAGU TIDAK PERNAH BERAKHIR
126
PENGUMUMAN SPRESIAL: AKHIRNYA ZEUS KEMBALI! (Wajib Baca, Bro!)
127
pengumuman buat pembaca setia mata sakti mohon mampir ke naskah kedua ya
128
pengumuman

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!