BAB 3: GANTI KULIT

Langkah kaki Arka terasa lebih ringan saat meninggalkan bursa batu mulia. Di saku celana jinnya yang sudah mulai robek di bagian lutut, terselip sebuah kartu nama berwarna hitam dop dengan tulisan emas yang elegan: Clarissa – CEO Permata Nusantara. Di tangan satunya, dia menggenggam ponsel murahnya yang layarnya retak seribu, namun menampilkan notifikasi yang bisa membuat jantung siapapun copot.

Transfer Masuk: Rp500.000.000,00.

Arka berhenti sejenak di bawah halte bus yang mulai sepi. Dia menatap angka nol yang berderet di layar ponselnya itu selama hampir satu menit. Lima ratus juta. Bagi orang seperti Pak Broto atau Clarissa, mungkin itu hanya harga satu jam tangan atau tas mewah. Tapi bagi Arka, yang sebulan lalu harus membagi satu bungkus mi instan untuk dua hari, uang ini adalah nafas kehidupan. Ini adalah peluru pertama untuk senapan balas dendamnya.

"Dunia beneran lucu ya," gumam Arka sambil terkekeh sinis. "Kemarin aku diusir kayak anjing karena telat bayar kos sejuta. Sekarang, aku bisa beli gedung kos itu sekalian sama harga diri pemiliknya."

Dia memejamkan mata sejenak, merasakan sensasi hangat di mata kanannya yang perlahan mulai mereda. Kekuatan ini bukan mimpi. Mata Ilahi ini nyata. Dan dia bersumpah tidak akan menyia-nyiakannya.

Tujuannya sekarang jelas: Grand Wijaya Mall.

Itu adalah pusat perbelanjaan paling elite di pusat kota. Tempat di mana lantai marmernya selalu berkilau dan bau parfum mahal tercium bahkan dari jarak sepuluh meter sebelum pintu masuk. Dulu, Arka hanya berani melewati gedung itu dengan motor bututnya saat mengantar pesanan ojek online. Dia ingat betul bagaimana satpam di sana sering menatapnya dengan tatapan "Jangan-lama-lama-di-sini-kamu-bikin-kotor-pemandangan".

Begitu turun dari taksi—yang sopirnya sempat menatapnya curiga karena takut Arka tidak bisa bayar—Arka melangkah masuk. AC dingin langsung menyergap kulitnya yang masih agak lembap karena keringat dan sisa gerimis.

Di dalam mal, orang-orang berpakaian rapi, membawa tas belanja dari merk-merk internasional yang harganya selangit. Arka, dengan kaos oblong yang warnanya sudah memudar dan sepatu kets yang solnya hampir lepas, terlihat seperti noda hitam di atas kanvas putih yang bersih.

Dia berjalan menuju sebuah butik bernama Vangogh Heritage. Itu adalah butik khusus pria yang hanya melayani pelanggan kelas atas. Jas-jas yang dipajang di etalase depannya bukan cuma pakaian, tapi karya seni.

Baru saja Arka menginjakkan kaki di atas karpet beludru merah butik itu, seorang pelayan pria berambut klimis dengan setelan jas abu-abu langsung berdiri menghalangi jalannya. Namanya, menurut papan nama di dadanya, adalah Fandi.

Fandi menatap Arka dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan ekspresi jijik yang tidak ditutup-tutupi. Dia tidak menyapa "Selamat siang" atau "Ada yang bisa dibantu?". Dia malah bersedekap.

"Mas, salah alamat ya? Toko baju murah atau obralan ada di lantai dasar, deket area parkir motor. Di sini khusus barang high-end," ucap Fandi dengan nada meremehkan yang sangat kental.

Arka tidak langsung marah. Dia malah tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terlihat tenang tapi mematikan. "Saya nggak salah alamat. Saya mau cari jas."

Fandi mendengus, hampir tertawa mengejek. "Cari jas? Mas tahu nggak jas paling murah di sini harganya berapa? Tiga puluh juta. Itu mungkin gaji Mas selama dua tahun jadi kurir. Jadi tolong, jangan buang-buang waktu saya. Saya lagi nunggu pelanggan VIP."

"Pelanggan VIP? Oh, maksudmu orang yang punya uang?" Arka melangkah maju satu tindak, membuat Fandi refleks mundur karena merasa terintimidasi oleh sorot mata Arka yang tiba-tiba menajam.

"Kurang ajar ya kamu! Keluar sekarang, atau saya panggil sekuriti!" teriak Fandi mulai emosi.

Keributan kecil itu menarik perhatian beberapa pelanggan lain di dalam butik. Seorang wanita paruh baya yang sedang melihat dasi sutra menatap Arka dengan pandangan menghina, seolah-olah keberadaan Arka di sana bisa menularkan kemiskinan.

Tepat saat itu, Arka mengaktifkan Mata Ilahi-nya. Dia tidak mencari giok sekarang, dia mencari kelemahan. Dia melihat ke arah rak jas di belakang Fandi. Matanya menembus lapisan kain, melihat struktur jahitan, dan tiba-tiba dia melihat sesuatu yang menarik pada sebuah jas berwarna biru gelap (navy) yang dipajang di manekin utama.

"Jas navy di sana itu... harganya delapan puluh juta, kan?" tanya Arka tiba-tiba.

Fandi melotot. "Iya, dan itu jas limited edition karya desainer Italia. Jangan bilang kamu mau beli itu. Nyentuh aja kamu nggak boleh!"

"Lucu ya," Arka terkekeh. "Delapan puluh juta untuk jas yang jahitannya di ketiak kiri sedikit renggang dan kancing keduanya hampir lepas karena kesalahan produksi? Vangogh Heritage ternyata jualan barang cacat?"

Wajah Fandi langsung pucat pasi. "Ngaco kamu! Jangan asal bicara ya!"

"Cek aja sendiri," tantang Arka.

Mendengar itu, manajer butik, seorang pria paruh baya bernama Pak Hendra, keluar dari ruangannya. Dia sudah mendengar perdebatan itu sejak tadi. Dia segera mendekati manekin yang dimaksud Arka. Dengan teliti, dia memeriksa jahitan di bawah lengan kiri. Matanya membelalak. Benar. Ada sedikit perenggangan benang yang hampir tidak terlihat oleh mata telanjang, dan kancingnya memang sedikit goyang.

Pak Hendra menatap Arka dengan pandangan berubah drastis. Dari mana pemuda kumal ini tahu detail sekecil itu dari jarak tiga meter?

"Mas... bagaimana Anda bisa tahu?" tanya Pak Hendra dengan nada yang jauh lebih sopan.

Arka tidak menjawab pertanyaan itu. Dia hanya merogoh saku belakang celananya, mengeluarkan dompet kulitnya yang sudah mengelupas, dan menarik sebuah kartu debit berwarna hitam—kartu eksklusif yang baru saja dia dapatkan dari bank setelah menunjukkan saldo lima ratus jutanya.

Arka meletakkan kartu itu di meja kasir dengan bunyi plak yang mantap.

"Saya ambil jas itu. Ambilkan yang baru dari gudang, jangan yang di manekin ini. Oh, dan sekalian kemeja sutra putih, sepatu pantofel kulit sapi asli, dan jam tangan yang ada di etalase itu," kata Arka tenang.

Fandi, si pelayan sombong tadi, gemetar. "Mas... kartu itu..."

"Gesek aja dulu. Kalau saldonya nggak cukup, saya sendiri yang bakal jalan kaki keluar dari mal ini sambil telanjang," ucap Arka dingin.

Pak Hendra dengan sigap mengambil kartu itu dan memasukkannya ke mesin EDC. Dia menekan angka: Rp125.000.000,00 untuk seluruh setelan yang diminta Arka

Beep. APPROVED.

Hening. Suasana butik itu mendadak jadi sunyi senyap, hanya suara mesin pendingin ruangan yang terdengar. Fandi hampir jatuh terduduk. Seratus dua puluh lima juta keluar begitu saja dari kantong orang yang dia sebut "sampah" tadi.

"Mohon maaf yang sebesar-besarnya, Tuan!" Pak Hendra langsung membungkuk dalam-dalam. "Fandi, cepat siapkan ruang VIP! Layani Tuan ini dengan standar tertinggi! Sekarang!"

"Nggak perlu," potong Arka. Dia menatap Fandi yang wajahnya sudah seperti kertas putih. "Saya nggak mau dilayani orang yang matanya katarak dan lebih mementingkan bungkus daripada isi. Biar Pak Hendra saja yang urus."

Selama satu jam berikutnya, Arka mendapatkan perlakuan bak raja. Dia mandi di kamar mandi eksklusif butik, mencukur jenggot tipisnya yang tidak rapi, dan mengenakan setelan jas navy yang pas di tubuhnya. Jas itu seolah menyatu dengan kulitnya, memberikan kesan wibawa yang luar biasa. Bahunya yang dulu sering membungkuk karena beban hidup, kini tegak.

Saat Arka keluar dari ruang ganti, Pak Hendra dan beberapa pelayan wanita di sana sempat menahan napas. Pemuda kurir tadi sudah hilang. Yang berdiri di depan mereka sekarang adalah seorang pria tampan dengan aura misterius, seolah dia adalah pewaris konglomerat yang baru pulang dari luar negeri.

"Luar biasa, Tuan. Anda terlihat... berbeda," puji Pak Hendra tulus.

Arka menatap pantulan dirinya di cermin besar. Matanya kini tidak hanya melihat rahasia di balik benda, tapi juga memancarkan kepercayaan diri yang mematikan.

"Bungkus baju lama saya. Buang saja ke tempat sampah," kata Arka sambil merapikan kerah jasnya.

Dia melangkah keluar dari butik. Setiap langkah sepatunya yang mengkilap di atas lantai marmer mal menimbulkan bunyi yang tegas. Orang-orang yang tadi memandangnya rendah kini justru berbisik-bisik, bertanya-tanya siapa "pangeran" baru yang sedang berjalan ini.

Arka memutuskan untuk mencari makan siang. Dia berjalan menuju area Fine Dining di lantai paling atas. Namun, saat dia melewati sebuah restoran Italia terbuka bernama La Luna, langkahnya mendadak terhenti.

Di sana, di meja pojok dekat jendela besar yang menghadap ke jalan raya, duduk dua orang yang sangat dia kenal.

Siska. Mantan pacarnya yang memutuskan Arka di bawah hujan dua hari lalu dengan alasan "Kamu nggak punya masa depan". Siska terlihat cantik dengan gaun merah ketat, tertawa manja sambil menyandarkan kepalanya di bahu seorang pria.

Pria itu adalah Rendy. Anak pemilik dealer mobil bekas yang dulu sering menjadikan Arka bahan lelucon di depan teman-temannya. Rendy sedang memamerkan kunci mobil BMW-nya di atas meja dengan sengaja.

"Aduh sayang, nanti kalau kita nikah, aku mau pesta di hotel bintang lima ya. Nggak kayak si Arka itu, mungkin dia cuma bisa ngajak aku makan di warteg," suara Siska terdengar renyah, diikuti tawa sombong Rendy.

"Arka? Hahaha, anak itu palingan sekarang lagi dikejar-kejar penagih hutang. Jangan sebut namanya lagi lah, bikin selera makan ilang aja," sahut Rendy sambil meminum wine-nya.

Arka menyeringai. Sebuah seringai dingin yang penuh arti. Dia merapikan jas navy-nya, memperbaiki letak jam tangan mewahnya, lalu melangkah mantap menuju meja mereka.

"Wah, kebetulan banget ya. Lagi bahas masa depan, atau lagi bahas masa lalu?"

Suara berat dan penuh wibawa itu membuat Siska dan Rendy serentak menoleh. Dan saat mereka melihat siapa yang berdiri di depan mereka, waktu seolah berhenti berputar.

#urbanfantasi #harem#romansa #komedi

#mata #sakti

Terpopuler

Comments

Aris Matthew

Aris Matthew

Okb omongannya sombong amat. Gini kok pemeran utama

2026-06-13

1

Fa Kurniawan Fario

Fa Kurniawan Fario

MC nya jadi OKB songong banget
padahal duit nya gk seberapa

2026-06-21

0

Manusia Biasa

Manusia Biasa

potensi menjadi sigma ini mc🗿

2026-04-14

3

lihat semua
Episodes
1 BAB 1: PENGHINAAN DI HARI HUJAN
2 BAB 2: EMAS DI BALIK KERIKIL
3 BAB 3: GANTI KULIT
4 BAB 4: TAMPARAN TANPA TANGAN
5 BAB 5: MATA YANG MELIHAT SEGALANYA
6 BAB 6: DUEL DUA MATA SAKTI
7 BAB 7: MULUT BUSUK SANG TUAN MUDA
8 BAB 8: HARGA SEBUAH PENGLIHATAN
9 BAB 9: SISA AMARAH DAN DARAH YANG MENDIDIH
10 BAB 10: TARIAN GAGAK DI ATAS SENG
11 BAB 11: GERBANG NERAKA TERBUKA
12 BAB 12: JATUHNYA SANG RAJA BISNIS
13 BAB 13: SISA ABU DAN PELUKAN YANG HANGAT
14 BAB 14: DARAH DI ATAS CATUR
15 BAB 15: MATA DEWA DI ATAS BATU SAMPAH
16 BAB 16: TARING MACAN VS MATA DEWA
17 BAB 17: DI BALIK TIRAI HUJAN
18 BAB 18: SURAT UNDANGAN DARI NERAKA
19 BAB 19: DI HADAPAN SANG RAJA MACAN
20 BAB 20: PASAR HANTU DAN HARGA SEBUAH NYAWA
21 BAB 21: DARAH DIBAYAR DARAH, NYAWA DIBAYAR NYAWA
22 JATUHNYA SANG PANGERAN KLAN MAHESA
23 PESAN BERDARAH UNTUK KONSORSIUM
24 GEMPA DI BALIK MEJA PERJAMUAN
25 TARIAN IBLIS DI LORONG SUNYI
26 GEMURUH LANGIT DAN DARAH TUA
27 SISI GELAP MATA SAKTI
28 Pengadilan Para Pecundang
29 Bisikan di Antara Retakan Langit
30 SUJUD SANG PEMIMPIN
31 ARSITEK TAKDIR DAN DARAH YANG MEMBEKU
32 PASAR HANTU DAN HARGA SEBUAH NYAWA
33 PENGKHIANATAN DI BAWAH BULAN BERDARAH
34 SISA ABU DAN MAHKOTA BERDUR
35 PERJAMUAN BANGKAI DAN CAHAYA MERAH
36 PERJAMUAN DI UJUNG BELATI
37 MONUMEN DAGING DAN DEBU
38 RITUAL DI ATAS DEBU
39 MEJA PERJUDIAN NYAWA
40 PERJAMUAN PARA SERIGALA
41 DARAH DI ATAS AWAN
42 PERJAMUAN NYAWA DI SENTOSA COVE
43 PECAHNYA CAKRAWALA
44 JANIN YANG MENETAS
45 SISA ABU DAN RAHASIA YANG MENGGIGIL
46 BRANKAS GENESIS DAN DARAH YANG BERTERIAK
47 DEWI YANG MEMINJAM RAGA
48 KUTUKAN YANG TERBUANG
49 HARGA SEBUAH KEBANGKITAN
50 PERJUDIAN DI ATAS DARAH DAN DEBU
51 PERJAMUAN DARAH ADIWANGSA
52 PERJAMUAN MAUT DI LANGIT JAKARTA
53 PESAN DARI KUBURAN
54 BENTURAN DUA JIWA DAN KEMATIAN DARI LANGIT
55 DEBU SURGA DAN JANJI YANG TERSISA
56 RERUNTUHAN ISTANA PASIR DAN SURAT DARI KEMATIAN
57 SINGGASANA DI ATAS LUMPUR
58 TARIAN GAGAK BUTA
59 AMIS DARAH DI PELABUHAN MATI
60 GERHANA NYAWA DI ATAS DEK NAGA HITAM
61 RATAPAN GIOK DAN AMUK SANG PENYALIB DEWA
62 SISA DEBU DAN JANJI DARAH
63 MONOLOG DI ATAS NYAWA YANG TERCECER
64 CAKRAWALA PEMBALASAN DAN KUTUKAN MATA DEWA
65 SISA ABU DAN EMBUN PEMULIHAN
66 PERJAMUAN PENGKHIANATAN DI ATAS ALTAR KACA
67 NYANYIAN DARAH DI JAYAGIRI
68 SALJU DI ATAS BETON BERDARAH
69 PERJAMUAN BANGKAI DI CAKRAWALA
70 FRAGMEN JIWA YANG PECAH
71 REQUIEM DI ATAS PUING CAKRAWALA
72 LITANI DEBU DAN DETAK TERAKHIR
73 TARIAN JAGAL DI ATAS SALJU HITAM
74 PERJAMUAN NISAN DI CAKRAWALA JAKARTA
75 KEJATUHAN SANG ARSITEK TAKDIR
76 RAHIM KEBENCIAN DAN NADI BUMI
77 DISSECTION OF REALITY (PEMBEDAHAN REALITA)
78 KANIBALISME CAHAYA DAN PERJAMUAN TERAKHIR
79 PERJAMUAN DEBU DAN MAHKOTA GERHANA
80 PINTU GEHENNA DAN RITUAL PEMBANTAIAN DEWA
81 SISA DEBU DI UJUNG JARI
82 AMUK SANG KAISAR DI NEGERI JIRAN
83 PERJAMUAN TERAKHIR DI ALPEN DAN MEMORI YANG BERDARAH
84 HUJAN ABU DI JAKARTA DAN BISIKAN PERAK
85 GUGURNYA KESADARAN DAN KEDATANGAN SANG GURU
86 Bayangan di Bawah Tanah
87 Litani Pecahnya Cangkang Fana
88 Pemusnahan di Bawah Langit yang Pucat
89 Elegi Runtuhnya Pilar Langit
90 Fragmen Sukma yang Tercecer
91 Jalan Menuju Kubah Bisu
92 Mata yang Membuka Realitas
93 KURSI KOSONG DI MEJA DEWA
94 ENTROPY YANG MENGGERAT
95 KULMINASI DARI KEPUTUSASAAN
96 gema dari kegelapan
97 Ruang Antara Dua Titik Akhir
98 Turun ke Batas yang Hidup
99 Kesadaran yang Berkeringat
100 Titik Balik dari Kesadaran
101 KESADARAN GELAP
102 GERBANG KEHANCURAN
103 AKAR YANG BERDETAK
104 PERTAMA KALI BERNAFAS
105 TITIK JERAT
106 GRAVITASI EGO PERTAMA
107 RETAKNYA KONSENSUS ALAM
108 TRAGEDI DI KOTA TANPA NAMA
109 BEBAN MERAH SANG DEWA
110 TITIK DIDIH KONFLIK BARU
111 KESUNYIAN PASCA-PERANG
112 ARTEFAK DARI AWAL
113 PENGUMPULAN KEMBALI
114 PERJALANAN KE DALAM
115 HARMONI YANG MENGGIGIT
116 HARGA DARI NADA
117 GRAVITASI KEDUA
118 KEHENINGAN YANG BERBOBOT
119 WARISAN DI DALAM KEHENINGAN
120 SUARA DARI DALAM POHON
121 PENYAKIT YANG INDAH
122 PERJANJIAN DI TEPI ABYSS
123 KETIKA SEGALANYA BERUBAH
124 PERTEMPURAN DI TEPI KEABADIAN
125 KETIKA LAGU TIDAK PERNAH BERAKHIR
126 PENGUMUMAN SPRESIAL: AKHIRNYA ZEUS KEMBALI! (Wajib Baca, Bro!)
127 pengumuman buat pembaca setia mata sakti mohon mampir ke naskah kedua ya
128 pengumuman
Episodes

Updated 128 Episodes

1
BAB 1: PENGHINAAN DI HARI HUJAN
2
BAB 2: EMAS DI BALIK KERIKIL
3
BAB 3: GANTI KULIT
4
BAB 4: TAMPARAN TANPA TANGAN
5
BAB 5: MATA YANG MELIHAT SEGALANYA
6
BAB 6: DUEL DUA MATA SAKTI
7
BAB 7: MULUT BUSUK SANG TUAN MUDA
8
BAB 8: HARGA SEBUAH PENGLIHATAN
9
BAB 9: SISA AMARAH DAN DARAH YANG MENDIDIH
10
BAB 10: TARIAN GAGAK DI ATAS SENG
11
BAB 11: GERBANG NERAKA TERBUKA
12
BAB 12: JATUHNYA SANG RAJA BISNIS
13
BAB 13: SISA ABU DAN PELUKAN YANG HANGAT
14
BAB 14: DARAH DI ATAS CATUR
15
BAB 15: MATA DEWA DI ATAS BATU SAMPAH
16
BAB 16: TARING MACAN VS MATA DEWA
17
BAB 17: DI BALIK TIRAI HUJAN
18
BAB 18: SURAT UNDANGAN DARI NERAKA
19
BAB 19: DI HADAPAN SANG RAJA MACAN
20
BAB 20: PASAR HANTU DAN HARGA SEBUAH NYAWA
21
BAB 21: DARAH DIBAYAR DARAH, NYAWA DIBAYAR NYAWA
22
JATUHNYA SANG PANGERAN KLAN MAHESA
23
PESAN BERDARAH UNTUK KONSORSIUM
24
GEMPA DI BALIK MEJA PERJAMUAN
25
TARIAN IBLIS DI LORONG SUNYI
26
GEMURUH LANGIT DAN DARAH TUA
27
SISI GELAP MATA SAKTI
28
Pengadilan Para Pecundang
29
Bisikan di Antara Retakan Langit
30
SUJUD SANG PEMIMPIN
31
ARSITEK TAKDIR DAN DARAH YANG MEMBEKU
32
PASAR HANTU DAN HARGA SEBUAH NYAWA
33
PENGKHIANATAN DI BAWAH BULAN BERDARAH
34
SISA ABU DAN MAHKOTA BERDUR
35
PERJAMUAN BANGKAI DAN CAHAYA MERAH
36
PERJAMUAN DI UJUNG BELATI
37
MONUMEN DAGING DAN DEBU
38
RITUAL DI ATAS DEBU
39
MEJA PERJUDIAN NYAWA
40
PERJAMUAN PARA SERIGALA
41
DARAH DI ATAS AWAN
42
PERJAMUAN NYAWA DI SENTOSA COVE
43
PECAHNYA CAKRAWALA
44
JANIN YANG MENETAS
45
SISA ABU DAN RAHASIA YANG MENGGIGIL
46
BRANKAS GENESIS DAN DARAH YANG BERTERIAK
47
DEWI YANG MEMINJAM RAGA
48
KUTUKAN YANG TERBUANG
49
HARGA SEBUAH KEBANGKITAN
50
PERJUDIAN DI ATAS DARAH DAN DEBU
51
PERJAMUAN DARAH ADIWANGSA
52
PERJAMUAN MAUT DI LANGIT JAKARTA
53
PESAN DARI KUBURAN
54
BENTURAN DUA JIWA DAN KEMATIAN DARI LANGIT
55
DEBU SURGA DAN JANJI YANG TERSISA
56
RERUNTUHAN ISTANA PASIR DAN SURAT DARI KEMATIAN
57
SINGGASANA DI ATAS LUMPUR
58
TARIAN GAGAK BUTA
59
AMIS DARAH DI PELABUHAN MATI
60
GERHANA NYAWA DI ATAS DEK NAGA HITAM
61
RATAPAN GIOK DAN AMUK SANG PENYALIB DEWA
62
SISA DEBU DAN JANJI DARAH
63
MONOLOG DI ATAS NYAWA YANG TERCECER
64
CAKRAWALA PEMBALASAN DAN KUTUKAN MATA DEWA
65
SISA ABU DAN EMBUN PEMULIHAN
66
PERJAMUAN PENGKHIANATAN DI ATAS ALTAR KACA
67
NYANYIAN DARAH DI JAYAGIRI
68
SALJU DI ATAS BETON BERDARAH
69
PERJAMUAN BANGKAI DI CAKRAWALA
70
FRAGMEN JIWA YANG PECAH
71
REQUIEM DI ATAS PUING CAKRAWALA
72
LITANI DEBU DAN DETAK TERAKHIR
73
TARIAN JAGAL DI ATAS SALJU HITAM
74
PERJAMUAN NISAN DI CAKRAWALA JAKARTA
75
KEJATUHAN SANG ARSITEK TAKDIR
76
RAHIM KEBENCIAN DAN NADI BUMI
77
DISSECTION OF REALITY (PEMBEDAHAN REALITA)
78
KANIBALISME CAHAYA DAN PERJAMUAN TERAKHIR
79
PERJAMUAN DEBU DAN MAHKOTA GERHANA
80
PINTU GEHENNA DAN RITUAL PEMBANTAIAN DEWA
81
SISA DEBU DI UJUNG JARI
82
AMUK SANG KAISAR DI NEGERI JIRAN
83
PERJAMUAN TERAKHIR DI ALPEN DAN MEMORI YANG BERDARAH
84
HUJAN ABU DI JAKARTA DAN BISIKAN PERAK
85
GUGURNYA KESADARAN DAN KEDATANGAN SANG GURU
86
Bayangan di Bawah Tanah
87
Litani Pecahnya Cangkang Fana
88
Pemusnahan di Bawah Langit yang Pucat
89
Elegi Runtuhnya Pilar Langit
90
Fragmen Sukma yang Tercecer
91
Jalan Menuju Kubah Bisu
92
Mata yang Membuka Realitas
93
KURSI KOSONG DI MEJA DEWA
94
ENTROPY YANG MENGGERAT
95
KULMINASI DARI KEPUTUSASAAN
96
gema dari kegelapan
97
Ruang Antara Dua Titik Akhir
98
Turun ke Batas yang Hidup
99
Kesadaran yang Berkeringat
100
Titik Balik dari Kesadaran
101
KESADARAN GELAP
102
GERBANG KEHANCURAN
103
AKAR YANG BERDETAK
104
PERTAMA KALI BERNAFAS
105
TITIK JERAT
106
GRAVITASI EGO PERTAMA
107
RETAKNYA KONSENSUS ALAM
108
TRAGEDI DI KOTA TANPA NAMA
109
BEBAN MERAH SANG DEWA
110
TITIK DIDIH KONFLIK BARU
111
KESUNYIAN PASCA-PERANG
112
ARTEFAK DARI AWAL
113
PENGUMPULAN KEMBALI
114
PERJALANAN KE DALAM
115
HARMONI YANG MENGGIGIT
116
HARGA DARI NADA
117
GRAVITASI KEDUA
118
KEHENINGAN YANG BERBOBOT
119
WARISAN DI DALAM KEHENINGAN
120
SUARA DARI DALAM POHON
121
PENYAKIT YANG INDAH
122
PERJANJIAN DI TEPI ABYSS
123
KETIKA SEGALANYA BERUBAH
124
PERTEMPURAN DI TEPI KEABADIAN
125
KETIKA LAGU TIDAK PERNAH BERAKHIR
126
PENGUMUMAN SPRESIAL: AKHIRNYA ZEUS KEMBALI! (Wajib Baca, Bro!)
127
pengumuman buat pembaca setia mata sakti mohon mampir ke naskah kedua ya
128
pengumuman

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!