BLOOD OF THE BETRAYER
Langit Arkheim tidak lagi berwarna biru; ia adalah kanvas abu-abu yang ternoda oleh jelaga peperangan yang tak kunjung hilang, sebuah selubung suram yang seolah menolak membiarkan cahaya matahari menyentuh bumi ini. Tahun 1330 seharusnya menjadi gerbang menuju fajar bagi era baru, sebuah janji damai di mana anak cucu mereka kelak tidak lagi perlu mengenal bau amis darah atau rasa dinginnya ujung pedang. Namun, bagi Alon von Graham, aroma besi berkarat dan kematian itu justru tercium jauh lebih tajam dan pekat saat ia perlahan mendaki jalan setapak berbatu menuju Bukit Bangkai.
Tempat itu bukan sekadar gundukan tanah biasa. Bukit itu adalah monumen bisu, makam raksasa yang berdiri tegak sebagai saksi bisu dari kemenangan besar yang mereka raih lima tahun silam. Di bawah lapisan tanah yang kini mulai ditumbuhi rumput liar dan lumut kelabu, bersemayam ribuan jasad pasukan legiun neraka yang telah mereka bantai bersama—mayat-mayat makhluk kegelapan yang tubuhnya hancur, namun energi jahatnya masih merembes perlahan ke permukaan, menciptakan hawa dingin yang menusuk tulang. Angin yang bertiup di sini membawa bisikan-bisikan samar, sisa-sisa dendam dari jiwa-jiwa yang gagal mereka musnahkan sepenuhnya.
Di puncak bukit yang tertinggi, tepat di tengah-tengah medan pemakaman kuno itu, sesosok berdiri diam menanti. Jack von Granadia. Jubah kebesarannya yang berwarna hitam pekat dengan sulaman benang emas kusam berkibar liar ditiup angin kencang, menyembunyikan wujud aslinya seolah ia adalah bayangan yang terlepas dari tubuh pemiliknya. Di pinggangnya, tergantung Slash—pedang legendaris yang namanya dicatat dalam sejarah sebagai pembawa harapan, namun kini bilahnya memantulkan cahaya redup yang tampak lebih haus darah daripada sebelumnya.
"Kau terlambat, Saudaraku," sapa Jack. Suaranya berat, dalam, namun ada nada asing yang bergetar di sana—sebuah intonasi dingin, hampa, dan tak bernyawa, sangat berbeda dari suara lantang dan hangat yang dulu selalu memimpin barisan pasukan di samping Alon.
Alon von Graham menghentikan langkahnya beberapa langkah di hadapan sahabat karibnya itu. Ia tersenyum tipis, sebuah lengkungan bibir yang lemah namun penuh ketulusan, sama sekali tanpa rasa curiga atau waspada. Baginya, Jack bukan sekadar kawan seperjuangan; Jack adalah separuh jiwanya, satu-satunya orang yang pernah berdiri bersamanya menembus lautan api dan mayat selama puluhan tahun.
"Memulihkan aliran waktu dan menyeimbangkan kembali arus sihir di desa-desa perbatasan membutuhkan ketelitian yang luar biasa, Jack," jawab Alon pelan, matanya menatap lurus ke manik mata sahabatnya yang tampak sayu namun tajam. "Kau tahu betapa rapuhnya struktur alam semesta setelah perang besar itu. Aku tidak bisa membiarkan warga sipil tersedot ke dalam pusaran waktu yang salah."
Jack tidak membalas senyuman itu. Wajahnya tetap datar, seolah topeng besi telah menempel permanen di sana. Ia berbalik sedikit, meraih dua buah cawan perak tua yang terletak di atas sebuah meja batu kasar yang tertanam di tanah. Permukaan perak itu kusam, memantulkan bayangan langit yang muram. Di dalam kedua cawan itu, terdapat cairan berwarna merah pekat, begitu gelap hingga tampak hampir hitam seperti darah yang sudah lama membeku.
"Dua puluh lima tahun lamanya kita berjalan berdampingan," ucap Jack, suaranya bergetar menahan sesuatu yang berat, entah itu emosi atau sekadar kekuatan jahat yang menguasainya. "Dari saat kita masih berlatih memegang pedang hingga kita menjadi dua pilar terkuat yang menopang langit Arkheim. Hari ini, biarlah anggur dan ingatan akan darah yang telah kita tumpahkan bersama ini mengikat janji kita selamanya. Bahwa tanah ini... Arkheim, akan selalu memiliki dua pelindung yang tak tergantikan."
"Demi kedamaian abadi Arkheim," jawab Alon dengan nada yang penuh keyakinan tulus. Ia menerima cawan perak itu dengan tangan yang mantap, tanpa keraguan sedikit pun. Ia mengangkatnya sedikit ke arah Jack sebagai tanda penghormatan, lalu meminum seluruh isinya dalam satu tegukan besar.
Detik berikutnya, dunia seakan runtuh dan berputar kacau.
Cawan perak itu terlepas dari genggaman Alon, jatuh ke tanah berbatu dengan suara denting yang panjang dan menyayat hati. Tubuh Alon langsung membungkuk ke depan, tangannya mencengkeram kuat dadanya seolah ada api neraka yang melahap paru-parunya dari dalam. Rasa panas yang luar biasa, tajam, dan menyengat mulai menjalar dengan kecepatan kilat melalui setiap pembuluh darahnya, membakar setiap serat otot dan saraf yang dimilikinya.
Ini bukan sekadar racun biasa. Alon bisa merasakannya dengan insting penyihir agungnya—zat yang baru saja ia telan adalah kutukan murni, disedot langsung dari sumur terdalam dan paling gelap di alam neraka, ramuan yang dirancang khusus untuk menghancurkan keberadaan makhluk hidup hingga ke tingkat jiwa dan raga.
Alon menatap tangannya sendiri yang gemetar hebat. Kulit yang semula bersih, kencang, dan penuh energi kehidupan, kini perlahan berubah warna menjadi kehitaman. Dagingnya mengerut, layu, dan mulai membusuk di tempat, seolah hukum alam dipaksa berjalan ribuan kali lebih cepat hanya pada sel-sel tubuhnya saja. Waktu, elemen yang selama ini ia kendalikan dan ia jaga keseimbangannya, kini justru menjadi senjata yang menyiksanya sendiri, memakannya hidup-hidup dari dalam ke luar.
"Jack... apa yang kau lakukan...?" suara Alon terdengar parau, hampir tak terdengar, saat ia terjerembap ke tanah yang keras dan dingin. Mulutnya terbuka lebar, memuntahkan cairan hitam kental yang berbau belerang dan kematian.
Di hadapannya, Jack von Granadia berdiri tegak, tak bergeming sedikit pun melihat penderitaan sahabatnya. Perlahan dan dengan gerakan yang sangat terkendali, ia mencabut pedang Slash dari sarungnya. Tanpa sepatah kata pun, tanpa ragu sedikit pun, ia berbalik ke samping dan mengayunkan pedangnya dalam satu gerakan kilat yang mematikan. Tiga bayangan hitam yang ternyata adalah pengawal setia Alon—orang-orang yang bersumpah mati melindunginya—jatuh bersamaan, leher mereka terbelah bersih sebelum sempat mengeluarkan suara. Darah segar mereka menyiprati wajah dan jubah Jack, namun ia tidak berkedip, tidak merasakan apa-apa.
Saat Jack kembali menoleh ke arah Alon, mata sahabatnya itu telah berubah. Di bawah kelopak matanya yang gelap, memancarkan cahaya aura ungu pekat, tanda mutlak bahwa jiwa dan raganya tak lagi milik dunia manusia ini. Ia telah dijajah, diubah, atau mungkin telah lama menjual dirinya kepada entitas yang jauh lebih jahat.
"Kenapa, Jack...?" tanya Alon lagi, kali ini suaranya terdengar seperti rintihan binatang terluka. Ia mencoba merangkak mendekat, kukunya mencakar tanah berbatu hingga patah dan berdarah, berusaha menggapai sosok yang dulu paling ia percaya. "Kita sudah menang... Perang sudah selesai... Kita memenangkan segalanya demi rakyat..."
Jack perlahan berjongkok di samping tubuh Alon yang mulai membusuk itu. Ia menunduk, menatap sahabat lamanya dengan tatapan kosong yang dipenuhi rasa haus akan kekuasaan yang tak terpuaskan. Ekspresi wajahnya bukan lagi milik manusia yang pernah berjuang demi keadilan.
"Dunia ini terlalu sempit dan picik untuk memiliki dua matahari, Alon," ucap Jack dingin, kata-katanya jatuh seperti kepingan es yang tajam. "Rakyat memujamu, menyanyikan namamu di setiap puisi dan doa, menganggapmu sebagai satu-satunya penyelamat mereka. Sementara aku... aku hanyalah bayang-bayang bisu yang berjalan di balik punggungmu, sosok yang terlupakan begitu bahaya berlalu. Apakah adil jika aku hanya menjadi pendampingmu selamanya?"
Jack mengangkat tangan kanannya, menunjuk ke langit kelabu di atas mereka.
"Dewa Iblis Kedua telah membuka mataku pada kebenaran yang lebih tinggi. Dia memberiku penglihatan tentang sebuah kekaisaran yang abadi, sebuah peradaban di mana tidak ada lagi kematian, tidak ada lagi pemberontakan, dan tidak ada kebebasan—hanya ada kepatuhan total di bawah satu kekuasaan mutlak. Di bawah kepemimpinan tunggalku."
Ia tersenyum, senyum yang mengerikan dan penuh kesombongan. Tangannya yang kuat dan kasar menjambak rambut Alon, menarik kepala sahabatnya itu agar mereka saling berhadapan tepat di depan mata.
"Aku lebih baik memerintah di atas singgasana yang terbuat dari reruntuhan mayat dan debu, daripada harus berbagi takhta di surga yang palsu bersamamu," bisik Jack dengan nada yang bergetar penuh ambisi gila. "Dan kekuatanmu... penguasaan mutlakmu terhadap arus waktu... itulah harga mahal yang harus kubayar. Esensi waktumu akan menjadi bahan bakar utama untuk memanggil kembali pasukan neraka yang jauh lebih besar, pasukan yang akan menaklukkan dunia ini sepenuhnya kali ini."
Saat Jack mulai merapalkan mantra kuno dalam bahasa yang keras dan mendengung, cahaya ungu mulai keluar dari telapak tangannya, perlahan menyedot sisa-sisa energi kehidupan dan benih kekuatan waktu yang masih tertinggal di tubuh Alon. Rasa sakit itu melampaui apa pun yang pernah dirasakan manusia. Namun, di tengah siksaan itu, di ambang batas kematiannya yang pasti, Alon von Graham justru membuka matanya lebar-lebar. Di saat tubuhnya hancur lebur dan jiwanya terancam dicabut, ia akhirnya menyentuh hakikat waktu yang sebenarnya, sebuah rahasia yang tersembunyi di balik tabir realitas.
Waktu bukanlah garis lurus yang berjalan ke depan saja. Ia adalah sungai besar yang berkelok, berputar, dan bisa dibalikkan arusnya oleh mereka yang cukup gila dan berani untuk tenggelam ke dalam dasarnya.
"Jika kau menginginkan kegelapan, Jack..." bisik Alon. Suaranya yang parau tiba-tiba bergema kuat, berpadu dengan energi magis yang meledak-ledak, seolah ribuan suara orang berbicara serentak dari masa lalu, masa kini, dan masa depan. "Maka aku akan membawamu masuk ke dalamnya selamanya."
Dengan sisa nyawa yang tinggal sedikit dan kekuatan tekad yang jauh melampaui batas kemampuannya, Alon tidak hanya menahan kutukan yang memakan tubuhnya. Ia memutar balik takdir di seluruh wilayah Bukit Bangkai itu. Tanah di bawah mereka berguncang hebat, bergemuruh seolah bumi itu sendiri sedang marah. Retakan-retakan besar terbuka di mana-mana, dan dari celah-celah tanah itu, tangan-tangan kerangka yang kering, rapuh, dan berlumuran sisa-sisa daging mulai mencuat keluar.
Ribuan jasad yang telah dikubur selama sepuluh tahun lamanya—baik itu pasukan manusia yang gugur maupun makhluk neraka yang dikalahkan—bangkit kembali dari tidur panjang mereka. Mata tengkorak mereka menyala dengan api hijau pucat, bukan lagi sebagai pelayan iblis atau pasukan pembunuh, melainkan sebagai tentara pembalas dendam yang terikat sepenuhnya pada kemarahan dan kehendak terakhir Alon von Graham.
Dari titik itulah, perang saudara yang paling mengerikan dalam sejarah Arkheim dimulai. Sebuah perang yang berlangsung selama sepuluh tahun penuh, di mana sang pengendali waktu yang tubuhnya perlahan membusuk terus mengejar sang pengkhianat yang kini memegang pedang iblis dan kekuatan kegelapan. Di setiap langkah perjalanan itu, kota-kota hancur, hutan-hutan menjadi gundul, dan sungai-sungai berubah warna menjadi merah darah. Alon terus hidup dalam siksaan abadi, menahan pembusukan tubuhnya hanya dengan satu tujuan: menghentikan ambisi sahabatnya yang telah menjadi monster.
Hingga akhirnya, takdir membawa mereka kembali ke tempat yang paling pantas untuk sebuah akhir: Lembah Kematian, tempat di mana udaranya begitu tipis hingga nyawa sulit bertahan.
Di sana, Alon berdiri tegak meski tubuhnya tinggal separuh daging dan tulang, wajahnya pucat dan penuh luka, namun matanya masih menyala dengan sisa-sisa cahaya kehidupan yang tak tergoyahkan. Di hadapannya, Jack von Granadia tergeletak di tanah, bersimbah darah dari ratusan luka yang didapatnya selama sepuluh tahun pelarian dan pertempuran. Pedang legendaris Slash yang dulu dianggap tak terkalahkan kini telah retak dan patah di tengah, tak lagi berkilau, dan kehilangan seluruh kekuatannya.
Di bawah langit kelabu yang sama persis seperti sepuluh tahun lalu, Alon melangkah mendekat. Napasnya berat, namun suaranya terdengar tenang, bergetar bukan karena marah, melainkan karena kesedihan yang mendalam dan tak terukur.
"Inilah akhirnya..." ucap Alon pelan, matanya menatap wajah sahabat lamanya yang kini penuh luka dan kepayahan. "Kita telah menghancurkan segalanya demi ambisi dan kesalahpahaman, Jack. Kau yang dulu aku kagumi, kau yang dulu aku percaya... telah lama mati, digantikan oleh bayangan yang haus kekuasaan."
Alon mengangkat senjatanya, sebilah belati kuno yang ia buat sendiri dari sisa-sisa jiwanya. Tangannya tidak lagi gemetar.
"Selamat tinggal, temanku... sahabatku... dan musuhku."
Dengan satu gerakan yang mantap namun penuh kepedihan, Alon menancapkan senjatanya tepat ke jantung Jack, menembus sisa-sisa perlindungan sihir gelap yang masih tersisa. Tubuh Jack tersentak hebat, matanya terbelalak seolah ingin mengatakan sesuatu yang terlambat, sebelum akhirnya cahaya ungu di matanya padam selamanya. Napas terakhirnya terhembus, lenyap bersama angin yang membawa debu peradaban yang telah mereka rusak berdua.
Dan di sanalah, di antara tumpukan mayat dan reruntuhan mimpi, Alon von Graham akhirnya membiarkan dirinya runtuh. Tugasnya selesai, pembalasannya tuntas, dan kini saatnya baginya untuk ikut tenggelam ke dalam kegelapan yang sama, menyusul sahabatnya ke alam kematian yang abadi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments