Bab Empat

Di antara keinginan memiliki anak dan luka yang tak terucap, Hana dihadapkan pada kenyataan paling pahit—bahwa kadang, orang yang paling kita perjuangkan … justru menjadi alasan kita harus belajar melepaskan.

Setelah setengah jam perjalanan akhirnya mereka sampai di rumah. Farhan langsung menuju kamar. Di perjalanan keduanya hanya diam.

Farhan membuka bajunya dan langsung masuk kamar mandi. Hana tampak menarik napas. Selama empat tahun pernikahan mereka, suaminya tak pernah mengacuhkan dirinya begini. Walau ia memang tak romantis.

Hana juga mengganti bajunya dengan baju rumahan. Tak berapa lama Farhan keluar dari kamar mandi.

Farhan langsung naik ke ranjang dan membuka laptop. Melihat pekerjaannya. Suasana kamar jadi terasa sunyi.

"Mas, kamu tak serius'kan ingin menikah lagi?" tanya Hana memecahkan kesunyian di kamar itu.

Farhan tampak menoleh. Ia mematikan laptopnya. Memandangi Hana dengan tatapan tajam.

"Hana, sudah aku katakan, aku tak ingin menyakiti kamu. Tapi aku menginginkan keturunan. Semua temanku telah memiliki anak, bahkan ada yang telah duduk di sekolah dasar anaknya!"

Hana menarik napas dalam. Ia paham dengan keinginan suaminya, karena ia juga menginginkan hal yang sama. Setiap acara reuni, teman mereka selalu menanyakan anak.

"Mas, aku juga ingin punya anak," jawab Hana.

"Keinginan saja tak akan bisa mewujudkan impian itu!"

Dahi Hana berkerut mendengar ucapan suaminya, "Maksud Mas apa?" tanyanya.

"Hana, empat tahun aku sudah bersabar menantikan kehadiran buah hati. Selama ini aku tak pernah betul-betul menuntutmu. Tapi batas kesabaran seseorang itu ada batasnya. Aku sudah tak bisa menunggu lagi!" seru Farhan.

"Jangan bilang ... Mas setuju dengan keinginan Mama untuk menikah lagi," ucap Hana dengan terbata.

Suasana mendadak menjadi sunyi. Farhan tak memberikan jawaban. Sama seperti saat di rumah mama tadi.

"Mas, jangan diam saja. Apakah Mas juga ingin menikah lagi?" Hana kembali menanyakan hal yang sama.

Farhan tetap diam. Tatapannya tidak lagi setajam tadi, tapi justru terasa lebih berat. Seolah-olah ada sesuatu yang ia tahan, sesuatu yang sebenarnya ingin ia ucapkan tapi tak mampu keluar begitu saja.

Hana menatapnya lekat, menunggu. Jantungnya berdegup tak karuan.

“Mas ….” Suaranya melemah, hampir seperti bisikan, “Jawab aku, jangan diam saja.”

Farhan menghela napas panjang. Ia mengusap wajahnya kasar, lalu menunduk sejenak sebelum akhirnya kembali menatap Hana.

“Aku … masih mempertimbangkan keinginan Mama, Hana.”

Seolah ada sesuatu yang runtuh di dalam dada Hana. Ia tidak langsung menangis. Tidak langsung marah. Hanya diam.

“Mempertimbangkan?” ulangnya lirih, seperti memastikan bahwa ia tidak salah dengar.

Farhan mengangguk pelan. “Aku sudah berusaha, Hana. Kita sudah berusaha. Berobat ke sana ke sini, ikut program ini itu … tapi hasilnya tetap sama.”

Hana menunduk. Tangannya mencengkeram ujung baju rumahannya tanpa sadar.

“Jadi … solusinya menikah lagi?” tanyanya pelan, suaranya mulai bergetar.

“Aku butuh keturunan,” jawab Farhan, kali ini lebih tegas. “Itu bukan sekadar keinginan, Hana. Itu tanggung jawab. Aku anak satu-satunya. Mama berharap besar padaku.”

“Lalu aku?” Hana langsung mengangkat wajahnya. Matanya mulai berkaca-kaca. “Aku ini apa, Mas? Selama ini aku berusaha juga! Aku yang minum obat, aku yang bolak-balik ke dokter, aku yang menahan semua omongan orang!”

Farhan terdiam. Nada suara Hana tidak tinggi, tapi penuh luka.

“Setiap ditanya kapan punya anak… aku yang tersenyum, aku yang jawab seadanya, padahal di dalam hati rasanya seperti ditusuk,” lanjut Hana, suaranya semakin lirih. “Mas pikir aku tidak ingin punya anak?”

Farhan mengalihkan pandangan. Rahangnya mengeras.

“Aku tahu kamu juga ingin,” ucap Farhan. “Tapi kenyataannya belum ada. Dan waktu terus berjalan.”

“Jadi karena waktu … Mas memilih jalan ini?” Hana tersenyum pahit.

Sunyi kembali menyelimuti kamar itu. Hanya suara detak jam di dinding yang terdengar samar.

Beberapa detik berlalu sebelum Hana kembali berbicara. “Kalau Mas menikah lagi … aku harus bagaimana?” tanyanya pelan.

Pertanyaan itu sederhana, tapi menghantam Farhan lebih keras dari apa pun. Ia menatap Hana lagi. Kali ini lebih lama.

“Aku tidak akan menceraikan kamu,” jawabnya.

Hana tertawa kecil. Bukan tawa bahagia, lebih seperti tawa yang dipaksakan.

“Lucu ya,” gumamnya. “Mas bilang tidak mau menyakitiku, tapi semua yang Mas lakukan sekarang justru menyakitiku.”

Farhan menghela napas berat. “Aku tidak punya pilihan lain.”

“Ada,” potong Hana cepat.

Farhan menatapnya.

“Ada pilihan untuk tetap bersamaku dan menerima keadaan ini. Seperti aku yang menerimanya selama ini. Dokter juga mengatakan kalau aku tak ada masalah.”

“Dan hidup tanpa anak?” tanya Farhan, nada suaranya sedikit meninggi. “Kamu pikir itu mudah bagiku?”

“Lalu kamu pikir ini mudah bagiku, Mas?” balas Hana, kini tak mampu lagi menahan emosinya. Air matanya jatuh tanpa bisa dicegah. “Melihat suami sendiri ingin berbagi dengan wanita lain demi sesuatu yang bahkan aku juga inginkan?”

Farhan terdiam lagi. Kali ini lebih lama.

Hana menghapus air matanya, tapi tangannya gemetar.

“Mas …,” ucapnya dengan suara yang kembali melembut, nyaris putus asa. “Kalau memang ini tentang anak kita masih bisa mencoba cara lain. Adopsi misalnya.”

Farhan langsung menggeleng. “Aku ingin darah dagingku sendiri.”

Jawaban itu seperti pisau. Hana menutup matanya sejenak. Dadanya terasa sesak.

“Jadi semua usaha aku selama ini tidak cukup di mata Mas?”

“Bukan begitu,” jawab Farhan cepat, tapi terdengar ragu. “Aku menghargai semuanya. Tapi aku juga harus realistis.”

Hana menatapnya lagi. Kali ini lebih dalam, seolah mencoba mengenali pria yang sudah empat tahun menjadi suaminya.

“Realistis atau egois?” tanyanya pelan.

Farhan langsung menegang. “Hana—”

“Aku hanya bertanya,, Mas,” potong Hana, suaranya terdengar lelah. “Karena yang aku lihat sekarang Mas hanya memikirkan keinginan Mas sendiri.”

“Itu bukan hanya keinginanku!” tegas Farhan. “Itu harapan keluarga.”

“Dan aku bukan keluarga?” tanya Hana cepat.

Suasana kembali hening. Kata-kata itu menggantung di udara. Farhan membuka mulutnya, tapi tak ada suara yang keluar.

Hana tersenyum tipis, penuh kepahitan. “Aku mengerti sekarang,” katanya pelan. “Di mata Mama, aku hanya istri yang gagal memberi keturunan. Dan di mata Mas … aku mulai menjadi beban.”

“Itu tidak benar,” jawab Farhan, tapi suaranya tidak lagi sekuat sebelumnya.

Hana menggeleng perlahan. “Kalau itu tidak benar … Mas tidak akan mempertimbangkan menikah lagi.”

Farhan tak bisa membantah.

Hana bangkit dari duduknya di tepi ranjang. Ia berjalan perlahan ke arah jendela, membuka tirai sedikit. Lampu-lampu kota terlihat dari kejauhan, tapi tak mampu menghangatkan hatinya.

“Mas tahu tidak …,” ucap Hana tanpa menoleh, “Dulu aku selalu bangga dengan pernikahan kita.”

Farhan menatap punggungnya. Diam, ingin mendengarkan lanjutan dari ucapan sang istri.

“Aku selalu bilang ke teman-teman … walaupun Mas tidak romantis, tapi Mas setia. Mas bertanggung jawab. Mas tidak pernah menyakitiku.”

Hana terdiam sejenak, menarik napas panjang. “Tapi ternyata … aku salah.”

Farhan langsung bangkit dari ranjang. “Hana, jangan bicara seperti itu.”

“Lalu aku harus bicara seperti apa?” Hana menoleh, matanya merah. “Aku harus tersenyum dan bilang aku baik-baik saja saat suamiku ingin menikah lagi?”

Farhan mendekat beberapa langkah, tapi berhenti. Jarak di antara mereka terasa begitu jauh, meski hanya beberapa meter.

“Aku belum memutuskan,” ucap Farhan, mencoba meredakan keadaan.

“Tapi Mas sudah mengizinkan kemungkinan itu ada,” balas Hana cepat. “Dan itu saja sudah cukup untuk menghancurkanku.”

Keduanya kembali diam. Kali ini lebih sunyi dari sebelumnya.

Akhirnya, Hana mengusap air matanya sekali lagi dan menarik napas dalam.

“Kalau memang itu keputusan Mas nanti …,” ucapnya pelan, “Aku tidak akan menahan.”

Farhan menatapnya kaget. “Maksudmu?”

Hana tersenyum kecil, tapi matanya penuh luka. “Aku tidak akan jadi penghalang kebahagiaan Mas.”

“Hana ... Apa maksudnya kamu menerima keputusan ini?" tanya Farhan dengan suara pelan, seolah takut bicara.

"Entahlah, Mas. Aku juga masih memikirkan semua ini." Setelah mengucapkan itu Hana berjalan keluar kamar. Udara di kamar terasa pengap. Ia butuh udara segar. Farhan tak menahan langkah istrinya.

Terpopuler

Comments

Nandi Ni

Nandi Ni

speechles akoooo...emang bener sih tujuan pernikahan emang untuk berkembang biak menghasilkan keturunan.Tapi apakah harus tekan menekan gini pake dateline lgi kya kerjaan yg musti wajib lapor tepat waktu gitu.Hadirnya anak kan juga salah satu rezeki,dan rezeki manusia itu Tuhan yg atur kan? gimana konsepnya jika anak belum lahir adalah salah dari seorang isteri?

2026-04-22

1

❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️

❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️

kamu memang lelaki egois banget ya.... dengan gampang nya kamu minta ijin poligmi tanpa memikirkan perasaan istri mu yang selalu dihina oleh ibu kamu...... yah ... selamat menyongsong penyesalan yang suatu saat nanti akan kamu rasakan menyiksamu sampai rasanya kamu tidak ingin hidup lagi karena rasa bersalah mu itu.....😤😤😤😤😤

2026-04-22

0

Ilfa Yarni

Ilfa Yarni

cerai ska hana benci liat laki2 egois lagian untuk apa mempertahankan klo hati kita sakit dan jg hanya dr salah satu pihak aja sakit hati mending lepaskan semoga km jg dpt laki2 yg bisa mengerti dan menyayangi km

2026-04-21

0

lihat semua
Episodes
1 Bab Satu
2 Bab Dua
3 Bab Tiga
4 Bab Empat
5 Bab Lima
6 Bab Enam
7 Bab Tujuh
8 Bab Delapan
9 Bab Sembilan
10 Bab Sepuluh
11 Bab Sebelas
12 Bab Dua Belas
13 Bab Tiga Belas
14 Bab Empat Belas
15 Bab Lima Belas
16 Bab Enam Belas
17 Bab Tujuh Belas
18 Bab Delapan Belas
19 Bab Sembilan Belas
20 Bab Dua Puluh
21 Bab Dua Puluh Satu
22 Bab Dua Puluh Dua
23 Bab Dua Puluh Tiga
24 Bab Dua Puluh Empat
25 Bab Dua Puluh Lima
26 Bab Dua Puluh Enam
27 Bab Dua Puluh Tujuh
28 Bab Dua Puluh Delapan
29 Bab Dua Puluh Sembilan
30 Bab Tiga Puluh
31 Bab Tiga Puluh Satu
32 Bab Tiga Puluh Dua
33 Bab Tiga Puluh Tiga
34 Bab Tiga Puluh Empat
35 Bab Tiga Puluh Lima
36 Bab Tiga Puluh Enam
37 Bab Tiga Puluh Tujuh
38 Bab Tiga Puluh Delapan
39 Bab Tiga Puluh Sembilan
40 Bab Empat Puluh
41 Bab Empat Puluh Satu
42 Bab Empat Puluh Dua
43 Bab Empat Puluh Tiga
44 Bab Empat Puluh Empat
45 Bab Empat Puluh Lima
46 Bab Empat Puluh Enam
47 Bab Empat Puluh Tujuh
48 Bab Empat Puluh Delapan
49 Bab Empat Puluh Sembilan
50 Bab Lima Puluh
51 Bab Lima Puluh Satu
52 Bab Lima Puluh Dua
53 Bab Lima Puluh Tiga
54 Bab Lima Puluh Empat
55 Bab Lima Puluh Lima
56 Bab Lima Puluh Enam
57 Bab Lima Puluh Tujuh
58 Bab Lima Puluh Delapan
59 Bab Lima Puluh Sembilan
60 Bab Enam Puluh
61 Bab Enam Puluh Satu
62 Bab Enam Puluh Dua
63 Bab Enam Puluh Tiga
64 Bab Enam Puluh Empat
65 Bab Enam Puluh Lima
66 Bab Enam Puluh Enam
67 Bab Enam Puluh Tujuh
68 Bab Enam Puluh Delapan
69 Bab Enam Puluh Sembilan
70 Bab Tujuh Puluh
71 Bab Tujuh Puluh Satu
72 Bab Tujuh Puluh Dua
73 Bab Tujuh Puluh Tiga
74 Bab Tujuh Puluh Empat
75 Bab Tujuh Puluh Lima
76 Bab Tujuh Puluh Enam
77 Bab Tujuh Puluh Tujuh
78 Bab Tujuh Puluh Delapan
79 Bab Tujuh Puluh Sembilan
80 Bab Delapan Puluh
81 Bab Delapan Puluh Satu
82 Bab Delapan Puluh Dua
83 Bab Delapan Puluh Tiga
84 Bab Delapan Puluh Empat
85 Bab Delapan Puluh Lima
86 Bab Delapan Puluh Enam
87 Bab Delapan Puluh Tujuh
88 Bab Delapan Puluh Delapan
89 Bab Delapan Puluh Sembilan
90 Bab Sembilan Puluh
91 Bab Sembilan Puluh Satu
92 Bab Sembilan Puluh Dua
93 Bab Sembilan Puluh Tiga
94 Bab Sembilan Puluh Empat
95 Bab Sembilan Puluh Lima
96 Bab Sembilan Puluh Enam
97 Bab Sembilan Puluh Tujuh
98 Bab Sembilan Puluh Delapan
99 Bab Sembilan Puluh Sembilan
100 Bab Seratus
101 Bab Seratus Satu
102 Bab Seratus Dua
103 Bab Seratus Tiga
104 Bab Seratus Empat
105 Bab Seratus Lima
106 Bab Seratus Enam
107 Bab Seratus Tujuh
108 Promo Novel Terbaru
Episodes

Updated 108 Episodes

1
Bab Satu
2
Bab Dua
3
Bab Tiga
4
Bab Empat
5
Bab Lima
6
Bab Enam
7
Bab Tujuh
8
Bab Delapan
9
Bab Sembilan
10
Bab Sepuluh
11
Bab Sebelas
12
Bab Dua Belas
13
Bab Tiga Belas
14
Bab Empat Belas
15
Bab Lima Belas
16
Bab Enam Belas
17
Bab Tujuh Belas
18
Bab Delapan Belas
19
Bab Sembilan Belas
20
Bab Dua Puluh
21
Bab Dua Puluh Satu
22
Bab Dua Puluh Dua
23
Bab Dua Puluh Tiga
24
Bab Dua Puluh Empat
25
Bab Dua Puluh Lima
26
Bab Dua Puluh Enam
27
Bab Dua Puluh Tujuh
28
Bab Dua Puluh Delapan
29
Bab Dua Puluh Sembilan
30
Bab Tiga Puluh
31
Bab Tiga Puluh Satu
32
Bab Tiga Puluh Dua
33
Bab Tiga Puluh Tiga
34
Bab Tiga Puluh Empat
35
Bab Tiga Puluh Lima
36
Bab Tiga Puluh Enam
37
Bab Tiga Puluh Tujuh
38
Bab Tiga Puluh Delapan
39
Bab Tiga Puluh Sembilan
40
Bab Empat Puluh
41
Bab Empat Puluh Satu
42
Bab Empat Puluh Dua
43
Bab Empat Puluh Tiga
44
Bab Empat Puluh Empat
45
Bab Empat Puluh Lima
46
Bab Empat Puluh Enam
47
Bab Empat Puluh Tujuh
48
Bab Empat Puluh Delapan
49
Bab Empat Puluh Sembilan
50
Bab Lima Puluh
51
Bab Lima Puluh Satu
52
Bab Lima Puluh Dua
53
Bab Lima Puluh Tiga
54
Bab Lima Puluh Empat
55
Bab Lima Puluh Lima
56
Bab Lima Puluh Enam
57
Bab Lima Puluh Tujuh
58
Bab Lima Puluh Delapan
59
Bab Lima Puluh Sembilan
60
Bab Enam Puluh
61
Bab Enam Puluh Satu
62
Bab Enam Puluh Dua
63
Bab Enam Puluh Tiga
64
Bab Enam Puluh Empat
65
Bab Enam Puluh Lima
66
Bab Enam Puluh Enam
67
Bab Enam Puluh Tujuh
68
Bab Enam Puluh Delapan
69
Bab Enam Puluh Sembilan
70
Bab Tujuh Puluh
71
Bab Tujuh Puluh Satu
72
Bab Tujuh Puluh Dua
73
Bab Tujuh Puluh Tiga
74
Bab Tujuh Puluh Empat
75
Bab Tujuh Puluh Lima
76
Bab Tujuh Puluh Enam
77
Bab Tujuh Puluh Tujuh
78
Bab Tujuh Puluh Delapan
79
Bab Tujuh Puluh Sembilan
80
Bab Delapan Puluh
81
Bab Delapan Puluh Satu
82
Bab Delapan Puluh Dua
83
Bab Delapan Puluh Tiga
84
Bab Delapan Puluh Empat
85
Bab Delapan Puluh Lima
86
Bab Delapan Puluh Enam
87
Bab Delapan Puluh Tujuh
88
Bab Delapan Puluh Delapan
89
Bab Delapan Puluh Sembilan
90
Bab Sembilan Puluh
91
Bab Sembilan Puluh Satu
92
Bab Sembilan Puluh Dua
93
Bab Sembilan Puluh Tiga
94
Bab Sembilan Puluh Empat
95
Bab Sembilan Puluh Lima
96
Bab Sembilan Puluh Enam
97
Bab Sembilan Puluh Tujuh
98
Bab Sembilan Puluh Delapan
99
Bab Sembilan Puluh Sembilan
100
Bab Seratus
101
Bab Seratus Satu
102
Bab Seratus Dua
103
Bab Seratus Tiga
104
Bab Seratus Empat
105
Bab Seratus Lima
106
Bab Seratus Enam
107
Bab Seratus Tujuh
108
Promo Novel Terbaru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!