Bab Lima

Semua masih terlihat sama pagi itu kecuali satu hal, Hana mulai sadar, ia perlahan akan digantikan.

Pagi datang seperti biasa, seolah tidak terjadi apa-apa semalam.

Cahaya matahari masuk perlahan melalui celah tirai, menyapu lembut kamar yang masih terasa dingin. Hana sudah bangun lebih dulu. Ia duduk sejenak di tepi ranjang, menatap kosong ke arah lantai, seperti mencoba memastikan dirinya benar-benar siap menjalani hari ini.

Percakapan semalam masih terngiang jelas di kepalanya. Tentang pilihan. Tentang kemungkinan jika dirinya yang perlahan mulai tergeser.

Hana menarik napas panjang, lalu berdiri. Ia tidak ingin larut terlalu lama. Setidaknya, tidak pagi ini.

Seperti hari-hari sebelumnya, ia berjalan ke dapur. Tangannya mulai bergerak otomatis, mengambil bahan, menyalakan kompor, menyiapkan sarapan. Semua terasa begitu familiar, seperti rutinitas yang selama ini ia jalani tanpa banyak berpikir.

Tapi hari ini terasa ada yang berbeda. Bukan dari apa yang ia lakukan, tapi dari apa yang ia rasakan. Rumah ini terasa sepi dan ia merasa asing.

Meski begitu, ia tetap memasak. Nasi goreng sederhana, telur dadar, dan teh hangat kesukaan Farhan. Ia juga menyiapkan bekal makan siang seperti biasanya berupa nasi, ayam kecap, dan tumis sayur. Semua tetap sama.

Seolah-olah dengan menjaga semuanya tetap berjalan seperti biasa, ia bisa menahan sesuatu agar tidak benar-benar runtuh.

Tak lama kemudian, Farhan keluar dari kamar. Ia sudah rapi, mengenakan kemeja kerja seperti biasanya. Wajahnya datar, sulit ditebak.

“Pagi,” ucap Hana pelan.

“Pagi,” jawab Farhan singkat.

Tidak ada lanjutan percakapan. Tidak ada pembahasan tentang semalam. Seolah keduanya sepakat untuk menaruh semua itu di sudut yang tidak disentuh, setidaknya untuk sekarang. Mereka sarapan dalam diam.

Hanya suara sendok yang beradu dengan piring sesekali terdengar. Hana sesekali melirik Farhan, tapi tidak berani membuka pembicaraan.

Farhan pun sama. Ia fokus pada makanannya, sesekali meneguk teh, tanpa benar-benar menatap Hana.

Setelah selesai, Farhan berdiri.

“Aku berangkat,” ucapnya singkat.

Hana mengangguk. Ia segera mengambil kotak bekal yang sudah ia siapkan, lalu memberikannya pada suaminya.

“Ini bekalnya, Mas.”

Farhan menerimanya tanpa banyak bicara. “Iya.”

Tak ada ucapan terima kasih. Tak ada senyum. Seperti semua hanya rutinitas.

Beberapa detik kemudian, suara pintu tertutup terdengar. Farhan sudah pergi.

Hana berdiri di ruang makan, menatap kursi kosong di depannya. Dadanya terasa sedikit sesak, tapi ia menahannya. Ia sudah terlalu lelah untuk menangis pagi-pagi.

Di kantor, Farhan mencoba menenggelamkan dirinya dalam pekerjaan.

Tumpukan berkas, email yang harus dibalas, dan rapat yang silih berganti cukup membantu mengalihkan pikirannya. Setidaknya untuk beberapa jam.

Namun, di sela-sela kesibukan itu, bayangan Hana tetap muncul. Tatapan mata yang penuh luka.

Suara lirih yang menahan tangis. Dan kalimat yang terus terngiang, “Aku tidak akan jadi penghalang kebahagiaan Mas.”

Farhan menghela napas panjang. Ia memijat pelipisnya pelan. Belum sempat pikirannya benar-benar tenang, ponselnya bergetar. Nama “Mama” muncul di layar.

Farhan ragu sejenak, lalu mengangkatnya. “Iya, Ma.”

“Farhan, kamu lagi sibuk?” suara Mama Meri terdengar seperti biasa, tenang, tapi tegas.

“Lumayan, Ma. Kenapa?”

“Mama mau makan siang bareng kamu. Kamu bisa, kan?”

Farhan terdiam sejenak, lalu menjawab, “Bisa, Ma.”

“Bagus. Mama tunggu di restoran langganan kita, ya.”

“Iya, Ma.”

Telepon terputus.

Farhan menatap layar ponselnya beberapa detik sebelum akhirnya menghela napas lagi. Ia tahu, pertemuan ini tidak akan sekadar makan siang biasa.

Restoran itu cukup ramai siang itu, tapi tetap terasa nyaman seperti biasanya. Farhan melangkah masuk, matanya langsung mencari sosok mamanya.

Dan ia menemukannya. Duduk di meja dekat jendela. Tapi tidak sendiri.

Langkah Farhan sempat terhenti. Di samping Mama Meri, duduk seorang perempuan yang ia kenal. Chika. Farhan mengerutkan kening sesaat, lalu tetap melangkah mendekat.

“Ma,” sapanya.

Mama Meri tersenyum. “Farhan, sini duduk.”

Farhan duduk, matanya sempat melirik ke arah Chika.

“Siang, Mas,” sapa Chika dengan senyum manis.

“Siang,” jawab Farhan singkat. Ada sedikit kecanggungan di udara, tapi Mama Meri seolah tidak peduli.

“Sudah pesan?” tanya Farhan.

“Sudah. Mama pesankan yang biasa kamu suka,” jawab Mama Meri santai.

Tak lama, makanan datang. Mereka mulai makan, tapi percakapan terasa ringan, sekilas tentang pekerjaan, tentang keluarga lain.

Sampai akhirnya, Mama Meri meletakkan sendoknya. “Farhan,” panggilnya.

Farhan langsung tahu arah pembicaraan ini, “Iya, Ma.”

“Kamu sudah pikirkan soal yang kemarin?”

Farhan menarik napas pelan. “Masih aku pikirkan, Ma.”

Mama Meri menatapnya serius. “Jangan terlalu lama. Ini bukan hal kecil.”

Farhan diam. Mama Meri melanjutkan, “Mama hanya ingin yang terbaik buat kamu. Kamu butuh keturunan. Itu penting.”

Chika yang sejak tadi diam, hanya menunduk, tapi sesekali melirik Farhan.

“Kalau istrimu tidak bisa menerima …,” lanjut Mama Meri, suaranya lebih tegas, “lebih baik kalian pisah.”

Farhan langsung menegang. “Ma .…”

“Daripada kamu terus menunda sesuatu yang jelas kamu butuhkan,” potong Mama Meri.

Suasana meja itu mendadak terasa lebih berat. Farhan menatap piringnya, lalu mengangkat wajahnya perlahan.

“Aku akan pikirkan, Ma,” ucapnya akhirnya.

Mama Meri mengangguk, seolah cukup puas dengan jawaban itu. Makan siang dilanjutkan, tapi rasanya sudah tidak sama lagi. Setelah makan, Farhan kembali ke kantor

Sore menjelang malam saat Farhan akhirnya pulang. Langit sudah gelap, lampu-lampu jalan mulai menyala. Ia memarkir mobilnya di depan rumah, lalu masuk dengan langkah sedikit lelah.

Hana sedang berada di ruang tamu. Ia menoleh saat mendengar pintu dibuka.

“Mas sudah pulang?”

“Iya,” jawab Farhan sambil melepas sepatu.

Hana berdiri, lalu berjalan mendekat. “Mas …,” panggilnya pelan. Farhan menoleh.

“Mana kotak bekalnya?” tanya Hana.

Farhan mengerutkan kening. “Bekal?”

“Iya … kotak bekal yang aku kasih pagi tadi.”

Farhan terdiam beberapa detik, lalu berkata, “Memang aku bawa?”

Hana terlihat bingung. “Loh … Mas kenapa tanya gitu? Kan Mas bawa tadi.”

Farhan menghela napas pelan. “Aku tadi makan sama klien. Lupa kalau bawa bekal.”

Kalimat itu sebenarnya sederhana. Tapi cukup untuk membuat sesuatu di dalam hati Hana kembali terasa jatuh.

“Oh …,” jawab Hana pelan.

Ia berusaha tersenyum, tapi matanya tidak bisa menyembunyikan kekecewaan.

“Ya sudah,” lanjutnya, mencoba terdengar biasa. “Nanti kotaknya aku ambil di tas Mas.”

Farhan hanya mengangguk. Hening kembali menyelimuti mereka. Beberapa detik berlalu sebelum Hana kembali berbicara.

“Mas sudah makan, ya?”

“Sudah.”

Hana mengangguk pelan. “Aku belum. Tapi … temani aku makan malam, ya?”

Farhan menatapnya sejenak. “Iya.”

Hana tersenyum kecil, lalu berjalan ke dapur. Ia menyiapkan makanan, menata piring, seperti biasa. Seperti tidak terjadi apa-apa. Anggap saja semuanya masih utuh. Padahal di dalam dirinya, perlahan, ada sesuatu yang mulai retak.

Terpopuler

Comments

Ilfa Yarni

Ilfa Yarni

benci banget sama laki2 yg mau disetir orang tua dan saranku hana km pisah saja ngapain lg mikirin orang glyg jelas2 udah ga sayang dan ga mau bela km lg pergilah tata lg hidupmu menuju masa depan yg cerah suatu saat km pasti akan bahagia jgn tinggal lg dlm kluarga toxic itu

2026-04-22

2

Nandi Ni

Nandi Ni

Sebenarnya sebagai orangtua,cukup doa dan restu aja untuk rumahtangga anaknya.Jangan terlalu dalam masuk dan menjadi penentu keputusan,cukup sebagai pendengar bila diperlukan.Itu menurutku sih🤭

2026-04-22

0

ken darsihk

ken darsihk

Hana kamu jangan pura-pura kuat , kalau memang harus berpisah berpisah sajah ini semua untuk kewarasan diri mu sendiri
Daripada kamu berpura-pura kuat tapi kamu terzholimi oleh suami dan ibu mertua mu

2026-04-22

0

lihat semua
Episodes
1 Bab Satu
2 Bab Dua
3 Bab Tiga
4 Bab Empat
5 Bab Lima
6 Bab Enam
7 Bab Tujuh
8 Bab Delapan
9 Bab Sembilan
10 Bab Sepuluh
11 Bab Sebelas
12 Bab Dua Belas
13 Bab Tiga Belas
14 Bab Empat Belas
15 Bab Lima Belas
16 Bab Enam Belas
17 Bab Tujuh Belas
18 Bab Delapan Belas
19 Bab Sembilan Belas
20 Bab Dua Puluh
21 Bab Dua Puluh Satu
22 Bab Dua Puluh Dua
23 Bab Dua Puluh Tiga
24 Bab Dua Puluh Empat
25 Bab Dua Puluh Lima
26 Bab Dua Puluh Enam
27 Bab Dua Puluh Tujuh
28 Bab Dua Puluh Delapan
29 Bab Dua Puluh Sembilan
30 Bab Tiga Puluh
31 Bab Tiga Puluh Satu
32 Bab Tiga Puluh Dua
33 Bab Tiga Puluh Tiga
34 Bab Tiga Puluh Empat
35 Bab Tiga Puluh Lima
36 Bab Tiga Puluh Enam
37 Bab Tiga Puluh Tujuh
38 Bab Tiga Puluh Delapan
39 Bab Tiga Puluh Sembilan
40 Bab Empat Puluh
41 Bab Empat Puluh Satu
42 Bab Empat Puluh Dua
43 Bab Empat Puluh Tiga
44 Bab Empat Puluh Empat
45 Bab Empat Puluh Lima
46 Bab Empat Puluh Enam
47 Bab Empat Puluh Tujuh
48 Bab Empat Puluh Delapan
49 Bab Empat Puluh Sembilan
50 Bab Lima Puluh
51 Bab Lima Puluh Satu
52 Bab Lima Puluh Dua
53 Bab Lima Puluh Tiga
54 Bab Lima Puluh Empat
55 Bab Lima Puluh Lima
56 Bab Lima Puluh Enam
57 Bab Lima Puluh Tujuh
58 Bab Lima Puluh Delapan
59 Bab Lima Puluh Sembilan
60 Bab Enam Puluh
61 Bab Enam Puluh Satu
62 Bab Enam Puluh Dua
63 Bab Enam Puluh Tiga
64 Bab Enam Puluh Empat
65 Bab Enam Puluh Lima
66 Bab Enam Puluh Enam
67 Bab Enam Puluh Tujuh
68 Bab Enam Puluh Delapan
69 Bab Enam Puluh Sembilan
70 Bab Tujuh Puluh
71 Bab Tujuh Puluh Satu
72 Bab Tujuh Puluh Dua
73 Bab Tujuh Puluh Tiga
74 Bab Tujuh Puluh Empat
75 Bab Tujuh Puluh Lima
76 Bab Tujuh Puluh Enam
77 Bab Tujuh Puluh Tujuh
78 Bab Tujuh Puluh Delapan
79 Bab Tujuh Puluh Sembilan
80 Bab Delapan Puluh
81 Bab Delapan Puluh Satu
82 Bab Delapan Puluh Dua
83 Bab Delapan Puluh Tiga
84 Bab Delapan Puluh Empat
85 Bab Delapan Puluh Lima
86 Bab Delapan Puluh Enam
87 Bab Delapan Puluh Tujuh
88 Bab Delapan Puluh Delapan
89 Bab Delapan Puluh Sembilan
90 Bab Sembilan Puluh
91 Bab Sembilan Puluh Satu
92 Bab Sembilan Puluh Dua
93 Bab Sembilan Puluh Tiga
94 Bab Sembilan Puluh Empat
95 Bab Sembilan Puluh Lima
96 Bab Sembilan Puluh Enam
97 Bab Sembilan Puluh Tujuh
98 Bab Sembilan Puluh Delapan
99 Bab Sembilan Puluh Sembilan
100 Bab Seratus
101 Bab Seratus Satu
102 Bab Seratus Dua
103 Bab Seratus Tiga
104 Bab Seratus Empat
105 Bab Seratus Lima
106 Bab Seratus Enam
107 Bab Seratus Tujuh
108 Promo Novel Terbaru
Episodes

Updated 108 Episodes

1
Bab Satu
2
Bab Dua
3
Bab Tiga
4
Bab Empat
5
Bab Lima
6
Bab Enam
7
Bab Tujuh
8
Bab Delapan
9
Bab Sembilan
10
Bab Sepuluh
11
Bab Sebelas
12
Bab Dua Belas
13
Bab Tiga Belas
14
Bab Empat Belas
15
Bab Lima Belas
16
Bab Enam Belas
17
Bab Tujuh Belas
18
Bab Delapan Belas
19
Bab Sembilan Belas
20
Bab Dua Puluh
21
Bab Dua Puluh Satu
22
Bab Dua Puluh Dua
23
Bab Dua Puluh Tiga
24
Bab Dua Puluh Empat
25
Bab Dua Puluh Lima
26
Bab Dua Puluh Enam
27
Bab Dua Puluh Tujuh
28
Bab Dua Puluh Delapan
29
Bab Dua Puluh Sembilan
30
Bab Tiga Puluh
31
Bab Tiga Puluh Satu
32
Bab Tiga Puluh Dua
33
Bab Tiga Puluh Tiga
34
Bab Tiga Puluh Empat
35
Bab Tiga Puluh Lima
36
Bab Tiga Puluh Enam
37
Bab Tiga Puluh Tujuh
38
Bab Tiga Puluh Delapan
39
Bab Tiga Puluh Sembilan
40
Bab Empat Puluh
41
Bab Empat Puluh Satu
42
Bab Empat Puluh Dua
43
Bab Empat Puluh Tiga
44
Bab Empat Puluh Empat
45
Bab Empat Puluh Lima
46
Bab Empat Puluh Enam
47
Bab Empat Puluh Tujuh
48
Bab Empat Puluh Delapan
49
Bab Empat Puluh Sembilan
50
Bab Lima Puluh
51
Bab Lima Puluh Satu
52
Bab Lima Puluh Dua
53
Bab Lima Puluh Tiga
54
Bab Lima Puluh Empat
55
Bab Lima Puluh Lima
56
Bab Lima Puluh Enam
57
Bab Lima Puluh Tujuh
58
Bab Lima Puluh Delapan
59
Bab Lima Puluh Sembilan
60
Bab Enam Puluh
61
Bab Enam Puluh Satu
62
Bab Enam Puluh Dua
63
Bab Enam Puluh Tiga
64
Bab Enam Puluh Empat
65
Bab Enam Puluh Lima
66
Bab Enam Puluh Enam
67
Bab Enam Puluh Tujuh
68
Bab Enam Puluh Delapan
69
Bab Enam Puluh Sembilan
70
Bab Tujuh Puluh
71
Bab Tujuh Puluh Satu
72
Bab Tujuh Puluh Dua
73
Bab Tujuh Puluh Tiga
74
Bab Tujuh Puluh Empat
75
Bab Tujuh Puluh Lima
76
Bab Tujuh Puluh Enam
77
Bab Tujuh Puluh Tujuh
78
Bab Tujuh Puluh Delapan
79
Bab Tujuh Puluh Sembilan
80
Bab Delapan Puluh
81
Bab Delapan Puluh Satu
82
Bab Delapan Puluh Dua
83
Bab Delapan Puluh Tiga
84
Bab Delapan Puluh Empat
85
Bab Delapan Puluh Lima
86
Bab Delapan Puluh Enam
87
Bab Delapan Puluh Tujuh
88
Bab Delapan Puluh Delapan
89
Bab Delapan Puluh Sembilan
90
Bab Sembilan Puluh
91
Bab Sembilan Puluh Satu
92
Bab Sembilan Puluh Dua
93
Bab Sembilan Puluh Tiga
94
Bab Sembilan Puluh Empat
95
Bab Sembilan Puluh Lima
96
Bab Sembilan Puluh Enam
97
Bab Sembilan Puluh Tujuh
98
Bab Sembilan Puluh Delapan
99
Bab Sembilan Puluh Sembilan
100
Bab Seratus
101
Bab Seratus Satu
102
Bab Seratus Dua
103
Bab Seratus Tiga
104
Bab Seratus Empat
105
Bab Seratus Lima
106
Bab Seratus Enam
107
Bab Seratus Tujuh
108
Promo Novel Terbaru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!