ATURAN DALAM BAYANGAN

💌 PERNIKAHAN SANG MAFIA 💌

🍀 HAPPY READING 🍀

.

.

Sisa hari itu berlalu dalam keheningan yang menyesakkan. Setelah kepergian Dante, seorang wanita paruh baya dengan wajah datar namun gerak-gerik yang sigap menghampiri Elara. Ia memperkenalkan dirinya sebagai Bianca, pengurus rumah tangga sekaligus orang kepercayaan Dante. Tanpa banyak bicara, Bianca memandu Elara menuju kamar yang akan menjadi tempat tinggalnya mulai sekarang.

Mereka berjalan melewati lorong-lorong panjang yang dipenuhi lukisan-lukisan antik bernilai tinggi namun bernuansa gelap. Di sepanjang jalan, tidak ada satu pun staf rumah tangga yang berani menatap mata Elara. Semua berjalan tertunduk, seolah membawa beban berat di pundak mereka. Suasana di kediaman itu benar-benar berbeda dengan apa yang biasa Elara rasakan. Di rumah ayahnya, meskipun penuh tekanan bisnis, setidaknya masih ada tawa atau obrolan ringan sesekali. Namun di sini, keheningan terasa seperti aturan mutlak yang tidak boleh dilanggar.

"Ini kamar Anda, Nona Elara," ujar Bianca sambil membuka pintu kayu besar berukiran indah. Ruangan itu luas, dihiasi perabotan bergaya klasik yang mewah, namun nuansa warnanya yang didominasi hitam, emas kusam, dan merah tua membuatnya terlihat kaku dan dingin. "Mulai besok pagi, saya akan datang jam enam pagi untuk membangunkan Anda. Ada beberapa aturan dasar yang harus Anda patuhi selama tinggal di sini."

Elara meletakkan tas tangannya di atas meja rias, lalu memutar badan menatap Bianca dengan tatapan tajam. "Aturan? Aku ini istri majikanmu, bukan tahanan. Kenapa aku harus diatur sedemikian rupa?"

Wajah Bianca tetap datar, tidak terlihat terganggu sedikit pun oleh nada bicara Elara. "Maafkan saya, Nona. Tapi ini adalah aturan yang berlaku untuk semua orang di kediaman Tuan Valtieri, tanpa terkecuali. Sebagai calon istrinya, Anda harus tahu agar tidak menimbulkan kesalahpahaman yang tidak diinginkan."

Bianca berdeham pelan, lalu melanjutkan penjelasannya dengan nada datar dan cepat, seolah sudah hafal di luar kepala. "Pertama, Anda tidak boleh keluar dari kediaman ini tanpa izin tertulis dari Tuan Valtieri. Kedua, jika Tuan Valtieri sedang ada di rumah, Anda harus menemuinya di ruang makan saat makan pagi, siang, dan malam, kecuali jika beliau berhalangan. Ketiga, jangan pernah masuk ke ruang kerja Tuan Valtieri tanpa dipanggil. Itu adalah wilayah terlarang. Keempat, jika ada tamu yang datang, Anda harus bersikap sopan dan menjaga sikap sebagai nyonya rumah. Jangan terlalu banyak bertanya atau ikut campur urusan Tuan Valtieri. Dan yang terakhir, apa pun yang terjadi di dalam kediaman ini, apa pun yang Anda lihat atau dengar, tidak boleh keluar dari mulut Anda sedikit pun. Ingatlah itu baik-baik, Nona."

Darah Elara mendidih mendengar penjelasan itu. Rasanya ia bukan akan menjadi istri sah, melainkan tawanan yang diikat dengan aturan-aturan kaku. "Ini keterlaluan! Apakah aku ini binatang kurungan yang harus dikunci rapat di sini? Dante benar-benar tidak punya perasaan sedikit pun ya," ucapnya dengan nada meninggi.

"Mohon perhatiannya, Nona. Tuan Valtieri melakukan ini bukan tanpa alasan. Dunia tempat kami tinggal ini sangat berbahaya. Aturan-aturan ini dibuat demi keselamatan Anda juga," jawab Bianca tenang, meskipun samar terdengar nada peringatan di ujung kalimatnya. "Sekarang, jika tidak ada hal lain, saya permisi dulu. Besok pagi saya akan datang lagi. Istirahatlah, Nona. Besok adalah hari yang panjang."

Setelah Bianca keluar dan menutup pintu rapat-rapat, Elara langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur yang empuk namun terasa kaku di hatinya. Ia menatap langit-langit kamar yang tinggi, merasakan air mata perih mulai menetes di sudut matanya. Bagaimana bisa hidupnya berubah drastis dalam waktu sesingkat itu? Dulu ia adalah mahasiswi arsitektur yang ceria dan penuh cita-cita, yang sibuk mengurus tugas kuliah dan proyek-proyek desain bangunan. Namun sekarang, ia harus menjadi istri seorang pemimpin mafia yang terkenal kejam, terkunci di dalam gedung megah namun dingin ini, terikat dengan aturan-aturan yang mengekang.

Malam itu, Elara sulit untuk memejamkan mata. Pikirannya terus berputar memikirkan nasibnya di masa depan. Ia teringat kembali wajah Dante yang dingin dan tajam, nada bicaranya yang penuh wibawa namun mengintimidasi. Ia bertanya-tanya, apakah di balik topeng dingin itu, benar-benar tidak ada sisi kemanusiaan sedikit pun? Atau apakah Dante memang terlahir sebagai sosok monster tanpa perasaan seperti yang dikabarkan orang-orang?

▪️▪️▪️▪️▪️

Keesokan paginya, tepat pukul enam pagi, Bianca mengetuk pintu kamar Elara dan masuk membawa nampan berisi sarapan ringan serta beberapa setelan pakaian. Elara bangun dengan mata sembab dan kepala terasa pening. Ia menatap pakaian-pakaian yang disodorkan Bianca. Itu adalah gaun-gaun elegan berwarna gelap, yang terlihat mahal namun kaku dan tertutup, sama seperti suasana rumah itu.

"Ini pakaian yang disiapkan untuk Anda hari ini. Nanti siang akan ada tim penata rias dan penjahit yang datang untuk menyiapkan segala keperluan pernikahan besok. Dan pukul tujuh pagi, Tuan Valtieri sudah menunggu di ruang makan," ujar Bianca sambil menata pakaian itu di atas sofa.

Elara menghela napas panjang, berusaha menahan rasa kesal yang kembali naik. Ia bergegas mandi dan bersiap, lalu mengenakan salah satu gaun yang disiapkan untuknya. Gaun berwarna hitam legam dengan potongan yang sopan namun menonjolkan lekuk tubuhnya. Saat ia berjalan menuju ruang makan, ia merasakan tatapan-tatapan mata staf rumah tangga sedang mengawasinya dari kejauhan, membuatnya merasa sangat tidak nyaman.

Sesampainya di ruang makan yang luas dan megah itu, Dante sudah duduk di kursi utama, sedang membaca koran sambil menyeruput kopi hitam di depannya. Ia mengenakan kemeja putih polos dengan lengan digulung hingga siku, memperlihatkan otot lengannya yang kekar serta bekas luka samar yang melintang di sana. Rambut hitamnya sedikit berantakan, namun justru membuatnya terlihat semakin tampan dan berkarisma, meskipun wajahnya tetap dingin tanpa ekspresi.

Mendengar langkah kaki Elara mendekat, Dante meletakkan korannya, lalu menatap Elara dari ujung kaki hingga kepala dengan tatapan yang menelanjangi. Elara merinding seketika di bawah tatapan itu. Ia berhenti di samping kursi yang tersedia di hadapan Dante, menundukkan kepala sedikit karena tidak berani menatap mata pria itu terlalu lama.

"Duduklah," ucap Dante singkat, lalu kembali menyantap sarapannya.

Elara duduk dengan ragu-ragu. Ia menyentuh roti gandum di piringnya, namun sama sekali tidak memiliki selera makan. Keheningan memenuhi ruangan itu untuk beberapa saat, hanya terdengar suara sendok dan garpu yang berbenturan dengan piring porselen.

"Kau terlihat cantik," ucap Dante tiba-tiba, memecah keheningan itu. Nada bicaranya datar, seolah sedang memuji sebuah barang koleksi, bukan calon istrinya.

Elara mendongak, menatap Dante dengan tatapan bingung sekaligus curiga. "Kau memujiku hanya karena aku memakai pakaian pilihanmu?"

Dante mengangkat alisnya sedikit, lalu menaruh sendoknya. Ia menatap Elara dengan tatapan tajam. "Aku hanya menyatakan fakta. Tapi ingatlah satu hal, Elara. Kecantikanmu itu milikku sekarang. Dan kau harus selalu tampil sempurna sesuai dengan statusmu sebagai istriku. Aku tidak ingin orang-orang meremehkanku dengan membawa istri yang tidak terawat."

Kalimat itu menusuk hati Elara seperti pisau tajam. Jadi baginya, ia hanyalah sebuah aksesori yang harus tampil sempurna untuk menunjang gengsinya saja? "Apakah bagimu, aku ini hanya barang pajangan, Dante? Sesuatu yang bisa kau pamerkan dan kau atur sesuka hatimu?" tanya Elara dengan suara bergetar, berusaha menahan tangisnya agar tidak jatuh lagi di hadapan pria itu.

Wajah Dante semakin dingin. Ia bersandar di kursinya, menatap Elara dengan tatapan yang sulit diartikan. "Jangan membuat kesimpulan sendiri. Kau tahu kenapa kita menikah, kan? Ini adalah perjanjian. Dan dalam perjanjian ini, ada hak dan kewajiban masing-masing. Tugasmu adalah menjadi istri yang patuh, tampil sempurna di hadapan publik, dan menjadi pasangan yang pantas bersanding denganku. Sedangkan tugasku adalah melindungimu dan keluargamu dari ancaman bahaya, serta memenuhi segala kebutuhanmu. Tidak lebih, tidak kurang."

Dante berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang semakin tegas. "Dan satu hal lagi. Jangan pernah berpikir untuk mencoba melawanku atau berusaha kabur. Di luar sana, dunia ini jauh lebih kejam dan berbahaya dari pada di sini. Di sini, setidaknya kau aman. Tapi jika kau mencoba keluar dari batas yang sudah aku tentukan, maka aku tidak bisa menjamin keselamatanmu lagi. Ingatlah itu baik-baik, Elara Sterling."

Setelah mengucapkan kalimat itu, Dante berdiri tegak, lalu berjalan meninggalkan ruang makan tanpa menoleh ke belakang lagi, seolah-olah keberadaan Elara tidak terlalu penting baginya.

Elara terdiam kaku di kursinya, merasakan tubuhnya gemetar hebat. Kata-kata Dante barusan seolah menjadi peringatan keras baginya, sekaligus menjadi pengingat pahit tentang posisinya saat ini. Ia sadar, perjuangannya untuk bertahan hidup di dunia gelap milik Dante ini baru saja benar-benar dimulai. Dan jalan yang harus ia tempuh ke depannya, pasti akan jauh lebih terjal dan berbahaya daripada apa yang ia bayangkan selama ini.

BERSAMBUNG

^_^

Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini novel ke 14 aku 😍

Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.

^_^

Terpopuler

Comments

Sofhia Magdalena

Sofhia Magdalena

Luar biasa 👍 jalan ceritanya sepertinya seru ini thorrrrrrrrrrrrr

2026-04-22

0

Serena Aurora

Serena Aurora

orang pertama yang selalu pantau author itu ya SAYA 😅

2026-04-22

0

Flowers🪴

Flowers🪴

kalau cerita col begini aku suka banget lho Thor 😚

2026-04-22

0

lihat semua
Episodes
1 PERTEMUAN TAK DIINGINKAN
2 ATURAN DALAM BAYANGAN
3 PERSIAPAN PERNIKAHAN
4 JANJI DI BAWAH ALTAR
5 MALAM PERTAMA YANG DINGIN
6 DIBALIK PINTU RUANG KERJA
7 JEJAK MASA LALU
8 BAYANGAN PENGKHIANAT
9 KEPUTUSAN BERESIKO
10 BISIKAN BAHAYA
11 IDENTITAS PENGKHIANAT
12 KABAR BURUK
13 PENYELAMATAN DI HUTAN
14 KEPUTUSAN BARU
15 MISTERI INFORMAN
16 KONSEKUENSI
17 PERTEMUAN RAHASIA
18 PERTEMUAN RAHASIA
19 PENGKHIANAT DIAMANKAN
20 BERTEMU UNCLE ANDREAS
21 JEJAK ABU-ABU
22 BERDONASI
23 LANGKAH BERANI
24 UJIAN BERAT
25 TERJADI LEDAKAN
26 TIDAK MENYERAH
27 BAHAYA YANG LEBIH BESAR
28 PERMAINAN DI BALIK LAYAR
29 ANTARA PERCAYA DAN CURIGA
30 KETEGANGAN YANG MEMUNCAK
31 DIAMBANG KEHANCURAN
32 PERTARUNGAN BESAR
33 KEBENARAN YANG TERKUAK
34 PERTARUNGAN TERAKHIR
35 ELARA SAKIT
36 ELARA SAKIT PART 2
37 JARING LABA-LABA
38 STRATEGI TERAKHIR
39 MEMBAGI RASA HANGAT
40 MEMBERIKAN CINTA
41 MENENANGKANNYA
42 JEJAK DI BALIK LAYAR
43 BAYANG-BAYANG DI CABANG TIMUR
44 JEJAK DIGITAL
45 RAPAT EVALUASI RUTIN
46 JERAT DI GUDANG GELAP
47 WAJAH DI BALIK TOPENG
48 MENGUNCI PINTU GERBANG
49 KABAR BURUK DI GERBANG DEPAN
50 JEJAK DIGITAL YANG TERPUTUS
51 JEBAK DI UJUNG TANDUK
52 BENTENG DARI KEBENARAN
53 ALIANSI DI UJUNG TANDUK
54 AKU MENUNGGUMU
55 MALAM PANJANG
56 JERAT DIPLOMATIK
57 UJI MENTAL DI PERSIDANGAN.
58 BISIK-BISIK DI BALIK LAYAR
59 KEDIAMAN VALTTIERI
60 PEMBURUAN BAYANG-BAYANG
61 KEMARAHAN ELARA
62 PENGADILAN PENUH SESAK
63 SIDANG LANJUTAN
64 SELALU PULANG PADAMU
65 MENIKMATI WAKTU BERDUA
66 MASIH DI VILA VALTTIERI
67 KEMENANGAN
68 FONDASI YANG KOKOH
69 MENATAP CAKRAWALA BARU
70 STRATEGI DI BALIK LAYAR
71 TAKDIR TERINDAH
72 TATAPAN PENUH KASIH
73 RASA SAYANG
74 TAK TERGOYAHKAN
75 SAATNYA BERTATAP MUKA
76 PERTEMUAN DUA PIHAK
77 ARUS YANG KUAT
78 UJIAN YANG TAK TERDUGA
79 TITIK TEMU DI TENGAH PERBEDAAN
80 MERANCANG STRATEGI BARU
81 KESUKSESAN MENARIK PERHATIAN
82 JALAN YANG SELARAS
83 MEMBANGUN KEPEMPIMPINAN BARU
84 DIANTARA OMBAK DAN TAWA
Episodes

Updated 84 Episodes

1
PERTEMUAN TAK DIINGINKAN
2
ATURAN DALAM BAYANGAN
3
PERSIAPAN PERNIKAHAN
4
JANJI DI BAWAH ALTAR
5
MALAM PERTAMA YANG DINGIN
6
DIBALIK PINTU RUANG KERJA
7
JEJAK MASA LALU
8
BAYANGAN PENGKHIANAT
9
KEPUTUSAN BERESIKO
10
BISIKAN BAHAYA
11
IDENTITAS PENGKHIANAT
12
KABAR BURUK
13
PENYELAMATAN DI HUTAN
14
KEPUTUSAN BARU
15
MISTERI INFORMAN
16
KONSEKUENSI
17
PERTEMUAN RAHASIA
18
PERTEMUAN RAHASIA
19
PENGKHIANAT DIAMANKAN
20
BERTEMU UNCLE ANDREAS
21
JEJAK ABU-ABU
22
BERDONASI
23
LANGKAH BERANI
24
UJIAN BERAT
25
TERJADI LEDAKAN
26
TIDAK MENYERAH
27
BAHAYA YANG LEBIH BESAR
28
PERMAINAN DI BALIK LAYAR
29
ANTARA PERCAYA DAN CURIGA
30
KETEGANGAN YANG MEMUNCAK
31
DIAMBANG KEHANCURAN
32
PERTARUNGAN BESAR
33
KEBENARAN YANG TERKUAK
34
PERTARUNGAN TERAKHIR
35
ELARA SAKIT
36
ELARA SAKIT PART 2
37
JARING LABA-LABA
38
STRATEGI TERAKHIR
39
MEMBAGI RASA HANGAT
40
MEMBERIKAN CINTA
41
MENENANGKANNYA
42
JEJAK DI BALIK LAYAR
43
BAYANG-BAYANG DI CABANG TIMUR
44
JEJAK DIGITAL
45
RAPAT EVALUASI RUTIN
46
JERAT DI GUDANG GELAP
47
WAJAH DI BALIK TOPENG
48
MENGUNCI PINTU GERBANG
49
KABAR BURUK DI GERBANG DEPAN
50
JEJAK DIGITAL YANG TERPUTUS
51
JEBAK DI UJUNG TANDUK
52
BENTENG DARI KEBENARAN
53
ALIANSI DI UJUNG TANDUK
54
AKU MENUNGGUMU
55
MALAM PANJANG
56
JERAT DIPLOMATIK
57
UJI MENTAL DI PERSIDANGAN.
58
BISIK-BISIK DI BALIK LAYAR
59
KEDIAMAN VALTTIERI
60
PEMBURUAN BAYANG-BAYANG
61
KEMARAHAN ELARA
62
PENGADILAN PENUH SESAK
63
SIDANG LANJUTAN
64
SELALU PULANG PADAMU
65
MENIKMATI WAKTU BERDUA
66
MASIH DI VILA VALTTIERI
67
KEMENANGAN
68
FONDASI YANG KOKOH
69
MENATAP CAKRAWALA BARU
70
STRATEGI DI BALIK LAYAR
71
TAKDIR TERINDAH
72
TATAPAN PENUH KASIH
73
RASA SAYANG
74
TAK TERGOYAHKAN
75
SAATNYA BERTATAP MUKA
76
PERTEMUAN DUA PIHAK
77
ARUS YANG KUAT
78
UJIAN YANG TAK TERDUGA
79
TITIK TEMU DI TENGAH PERBEDAAN
80
MERANCANG STRATEGI BARU
81
KESUKSESAN MENARIK PERHATIAN
82
JALAN YANG SELARAS
83
MEMBANGUN KEPEMPIMPINAN BARU
84
DIANTARA OMBAK DAN TAWA

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!