MALAM PERTAMA YANG DINGIN

💌 PERNIKAHAN SANG MAFIA 💌

🍀 HAPPY READING 🍀

.

.

Pesta resepsi usai sudah. Musik riang, tawa para tamu, dan gemerincing gelas kristal yang terdengar sepanjang siang dan sore itu kini perlahan menghilang, digantikan oleh keheningan malam yang menyelimuti kediaman besar keluarga Valtieri. Para tamu undangan sudah pulang satu per satu setelah memberi ucapan selamat dan doa, meninggalkan sisa-sisa kemegahan pesta yang kini terasa sepi dan kosong.

Bagi Elara, hari itu terasa seperti mimpi buruk yang panjang dan melelahkan. Sejak keluar dari kapel tadi siang, ia harus tersenyum, menyapa, dan bersalaman dengan ratusan orang asing yang sebagian besar adalah rekan bisnis atau kolega Dante. Wajahnya terasa kaku karena terlalu lama memaksakan senyum, dan kakinya terasa pegal karena harus berdiri dan berjalan seharian dalam gaun pengantin yang berat serta sepatu high heels tinggi yang runcing. Namun yang paling melelahkan justru batinnya. Sepanjang hari itu, ia merasa seperti patung pajangan yang dipamerkan Dante kepada para tamu untuk menunjukkan betapa sempurnanya transaksi pernikahan ini.

Sekarang, Elara sedang duduk di tepi tempat tidur di kamar pribadinya, atau tepatnya kamar yang kini ia bagi bersama Dante. Ia sudah mengganti gaun pengantinnya dengan gaun tidur berbahan sutra tipis berwarna putih polos yang disiapkan oleh Bianca. Rambut pirangnya yang tadi disanggul rapi kini sudah terurai tergerai lembut menutupi punggungnya. Ia menunduk diam, memainkan ujung gaunnya dengan jari-jarinya yang dingin, menunggu kehadiran suaminya itu dengan perasaan yang berkecamuk antara takut, cemas, dan bingung.

Pintu kamar itu tiba-tiba terbuka dari luar, membuat tubuh Elara menegang seketika. Ia mendongak dan melihat sosok Dante berdiri di ambang pintu. Pria itu sudah tidak mengenakan jas hitamnya lagi, kemeja putihnya kini kancing atasnya sudah dibuka dan lengan bajunya digulung hingga siku, memperlihatkan kulitnya yang putih bersih namun penuh guratan otot yang keras. Wajahnya yang tampan itu terlihat sedikit lelah, namun tatapan matanya yang tajam itu masih sama menyala dan tidak ada tanda-tanda kelemahan sedikit pun.

Dante masuk ke dalam kamar itu, lalu menutup pintu di belakangnya rapat-rapat. Ia berjalan perlahan mendekati arah Elara dengan langkah yang tenang namun berat, seolah membawa beban besar di pundaknya. Elara menelan salivanya, hatinya berdegup semakin kencang seiring dengan mendekatnya jarak di antara mereka.

Dante berhenti tepat di depan Elara, menatap wanita itu dari atas dengan tatapan yang sulit diartikan. "Sudah siap?" tanyanya singkat, suaranya terdengar serak namun tetap tegas.

Elara mengangkat wajahnya menatap Dante, matanya menatap balik tatapan pria itu dengan ragu. "Siap untuk apa?" tanyanya balik dengan suara yang sedikit bergetar.

Dante tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke matanya. Ia lalu duduk di samping Elara di tepi tempat tidur itu, membuat Elara otomatis bergeser sedikit menjauh.

"Untuk memulai peran barumu sebagai Nyonya Valtieri, tentu saja," jawab Dante santai, lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kepala tempat tidur itu. "Mulai hari ini, kau bukan lagi putri manja dari Tuan Sterling yang bisa melakukan sesuka hati. Kau adalah istriku, dan kau harus bisa menyesuaikan diri dengan kehidupan di sini. Kau harus belajar cara bersikap, cara bicara, dan cara berpakaian sesuai dengan standarku. Aku tidak ingin ada satu pun orang yang meremehkanmu, karena itu sama saja dengan meremehkanku."

Elara mendengarkan kata-kata Dante itu dengan perasaan yang makin sesak di dadanya. Jadi baginya, peran istri hanyalah soal penampilan dan gengsi semata? "Jadi selama aku bisa menutup mulutku rapat-rapat dan tampil sempurna di depan umum, maka aku dianggap istri yang baik bagimu? Apakah begitu, Dante?" tanyanya dengan nada yang sedikit meninggi, menahan amarah yang mulai naik.

Dante menoleh ke arah Elara, menatap wanita itu dengan tatapan yang semakin tajam. "Jangan salah paham, Elara. Aku tidak memintamu menjadi boneka bisu. Tapi ingatlah posisimu. Dunia tempat kita tinggal ini sangatlah kejam dan penuh tipu daya. Satu kesalahan kecil saja yang kau buat, bisa menjadi bumerang yang menghancurkan kita berdua. Terutama dirimu. Aku melakukan ini bukan semata-mata karena ingin mengaturmu, tapi demi keamanan dan keselamatanmu juga."

"Keamanan? Keselamatan?" Elara tertawa kecil dengan nada sinis. "Apakah memaksaku menikah dengan orang asing yang bahkan tidak peduli perasaanku itu namanya menjaga keselamatan, Dante? Bagimu aku ini apa? Barang dagangan yang sudah kau bayar lunas sehingga sekarang bisa kau miliki sepenuhnya?"

Wajah Dante berubah menjadi dingin seketika. Ia bangkit berdiri dari tempat duduknya, lalu menatap Elara dengan tatapan yang menekan. "Berhati-hatilah dengan ucapanmu, Elara. Kau tahu betul kenapa kita ada di posisi ini sekarang. Ini adalah perjanjian yang sudah disepakati oleh ayahmu dan aku. Kau menyelamatkan ayahmu dan keluargamu dari kehancuran, sedangkan aku mendapatkan pasangan yang pantas untuk menduduki posisi sebagai Nyonya Valtieri. Tidak ada yang namanya pemaksaan di sini. Semuanya sudah atas dasar persetujuan bersama."

"Persetujuan bersama katamu?" potong Elara cepat, air mata mulai menetes di sudut matanya. "Kalau begitu, bagaimana dengan persetujuanku? Apakah kau pernah bertanya padaku apa aku menginginkan pernikahan ini? Apa aku menginginkan hidup seperti ini? Tidak, kan? Kalian semua memutuskan semuanya di belakangku, seolah aku ini barang yang tidak punya perasaan dan keinginan!"

Suara Elara itu terdengar lantang dan bergetar menahan tangis. Ia sudah tidak peduli lagi apakah ucapannya itu akan membuat Dante marah atau tidak. Rasanya beban di dadanya sudah terlalu berat untuk ia tahan sendirian. Ia butuh tempat untuk meluapkan emosinya.

Ruangan itu menjadi hening seketika setelah suara Elara menghilang. Dante menatap wanita itu lekat-lekat, melihat air mata yang mulai mengalir di pipi putihnya. Untuk sesaat, sorot mata hijau gelap pria itu tampak sedikit melembut, seolah ada rasa bersalah yang samar terselip di sana. Namun seketika itu juga, tatapan itu kembali berubah menjadi dingin dan tertutup rapat.

Dante menghela napas panjang, lalu kembali duduk di samping Elara. Ia tidak menghapus air mata di pipi wanita itu, namun suaranya terdengar sedikit lebih tenang dari sebelumnya saat ia bicara.

"Aku tahu ini berat bagimu, Elara. Dan aku tahu kau tidak menginginkan semua ini terjadi," ucap Dante perlahan, nadanya terdengar lebih rendah dari biasanya. "Tapi percayalah, di dunia ini, tidak ada satu pun hal yang benar-benar berjalan sesuai dengan keinginan kita. Kadang kita harus mengorbankan satu hal untuk mendapatkan hal lain yang lebih penting. Ayahmu memilih untuk mengorbankan kebebasanmu demi menyelamatkan keluargamu, dan kau memilih untuk menyetujuinya demi ayahmu. Begitu pula denganku. Aku juga harus melakukan banyak hal yang tidak aku inginkan demi mencapai tujuanku."

Dante berhenti sejenak, menatap lurus ke depan seolah sedang mengingat sesuatu yang jauh di masa lalu. "Dunia yang aku tinggali ini, Elara... sangatlah kotor, gelap, dan berbahaya. Banyak orang yang ingin menjatuhkanku, banyak orang yang ingin melihatku hancur lebur. Dan dengan menjadi istriku, kau juga otomatis menjadi sasaran empuk bagi musuh-musuhku. Makanya aku bersikap tegas dan membuat aturan-aturan ketat. Bukan untuk mengekangmu, tapi untuk melindungimu agar tidak menjadi korban dari pertarungan kekuasaanku ini."

Elara diam saja mendengar penjelasan Dante itu. Ia menoleh ke samping, mencoba mencari kebenaran di balik kata-katanya. Apakah benar Dante melakukan semua ini demi melindunginya? Atau itu hanya alasan manis yang diucapkan pria itu agar ia mau menurutinya? Elara sama sekali tidak tahu. Yang ia tahu hanyalah bahwa di balik kekuasaan dan kekayaan yang dimiliki Dante itu, tersembunyi bahaya besar yang mengintai di mana-mana. Dan sekarang, ia harus menghadapi bahaya itu bersama pria misterius ini.

Dante menoleh kembali ke arah Elara, lalu mengulurkan tangannya perlahan, menyeka sisa air mata di pipi wanita itu dengan jari-jarinya yang kasar namun hangat. Gerakannya itu tiba-tiba membuat napas Elara tertahan. Ia menatap mata Dante yang kini menatapnya lekat-lekat dengan sorot mata yang sulit diartikan.

"Mulai besok, kehidupan barumu akan benar-benar dimulai. Aku akan mengajarimu segala hal yang harus kau ketahui tentang dunia ini, cara bersikap, cara bicara, dan cara melindungi dirimu sendiri. Tapi untuk malam ini... istirahatlah. Kau pasti lelah sekali hari ini," ucap Dante pelan, lalu menarik tangannya kembali dan bangkit berdiri.

Elara menatap Dante dengan bingung saat melihat pria itu berjalan menuju sofa besar yang ada di sudut kamar itu dan mulai bersiap untuk tidur di sana.

"Kau... tidak tidur di sini?" tanya Elara tanpa sadar bertanya, suaranya terdengar samar di udara.

Dante menoleh ke arahnya, lalu menggelengkan kepalanya sedikit. "Untuk saat ini, lebih baik kita tidur terpisah. Sampai kau benar-benar siap untuk menerima keberadaan ku di sisimu," jawabnya tenang, lalu berbaring di sofa itu dan memejamkan matanya.

Elara terdiam kaku di tempatnya. Entah kenapa, di satu sisi ia merasa lega karena tidak harus berbagi tempat tidur yang sama dengan Dante malam ini. Namun di sisi lain, ada rasa aneh yang tidak bisa ia jelaskan di dalam hatinya saat melihat Dante tidur di sofa yang sempit itu.

Malam itu berlalu dalam keheningan yang panjang. Elara berbaring di atas tempat tidurnya menatap langit-langit kamar yang gelap itu, pikirannya terus berkecamuk memikirkan nasibnya di masa depan. Ia sadar bahwa perjalanan panjang dan sulit masih menantinya ke depan. Dan untuk bisa bertahan hidup di dunia milik Dante yang keras dan berbahaya ini, ia harus menjadi wanita yang lebih kuat, lebih tangguh, dan lebih cerdas dari sebelumnya. Ia tidak boleh terus-menerus terpuruk dalam kesedihan dan keputusasaan. Ia harus bangkit dan berjuang demi dirinya sendiri maupun orang-orang yang dicintainya.

Di sudut ruangan itu, Dante terbaring diam di atas sofa dengan mata terpejam. Namun pikirannya tidak sepenuhnya tenang. Di dalam hatinya yang terdalam, pria itu juga menyadari bahwa pernikahan ini membawa konsekuensi besar bagi hidupnya maupun Elara. Dan entah kenapa, wanita itu perlahan namun pasti mulai membuat hatinya yang beku itu bergetar dengan cara yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

BERSAMBUNG

^_^

Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini novel ke 14 aku 😍

Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.

^_^

Terpopuler

Comments

Gretchen Paula

Gretchen Paula

Jadi ceritanya mereka gak mau tidur bareng 🤭 suka banget dengan dante thor. dia lelaki dingin tapi gak mau nyakitin 😊 suka deh

2026-04-25

0

Angela Catrine 💢

Angela Catrine 💢

Ahhhhhh.....dante sudah ada rasa kayaknya....melihat elara dingin dan. gak takut sama sekali membuat dante tertarik nie 🤭

2026-04-24

0

Serena Aurora

Serena Aurora

Tapi aku suka karakter Dante disinii lho. dingin dingin tapi buat jatuh cinta 😅

2026-04-24

0

lihat semua
Episodes
1 PERTEMUAN TAK DIINGINKAN
2 ATURAN DALAM BAYANGAN
3 PERSIAPAN PERNIKAHAN
4 JANJI DI BAWAH ALTAR
5 MALAM PERTAMA YANG DINGIN
6 DIBALIK PINTU RUANG KERJA
7 JEJAK MASA LALU
8 BAYANGAN PENGKHIANAT
9 KEPUTUSAN BERESIKO
10 BISIKAN BAHAYA
11 IDENTITAS PENGKHIANAT
12 KABAR BURUK
13 PENYELAMATAN DI HUTAN
14 KEPUTUSAN BARU
15 MISTERI INFORMAN
16 KONSEKUENSI
17 PERTEMUAN RAHASIA
18 PERTEMUAN RAHASIA
19 PENGKHIANAT DIAMANKAN
20 BERTEMU UNCLE ANDREAS
21 JEJAK ABU-ABU
22 BERDONASI
23 LANGKAH BERANI
24 UJIAN BERAT
25 TERJADI LEDAKAN
26 TIDAK MENYERAH
27 BAHAYA YANG LEBIH BESAR
28 PERMAINAN DI BALIK LAYAR
29 ANTARA PERCAYA DAN CURIGA
30 KETEGANGAN YANG MEMUNCAK
31 DIAMBANG KEHANCURAN
32 PERTARUNGAN BESAR
33 KEBENARAN YANG TERKUAK
34 PERTARUNGAN TERAKHIR
35 ELARA SAKIT
36 ELARA SAKIT PART 2
37 JARING LABA-LABA
38 STRATEGI TERAKHIR
39 MEMBAGI RASA HANGAT
40 MEMBERIKAN CINTA
41 MENENANGKANNYA
42 JEJAK DI BALIK LAYAR
43 BAYANG-BAYANG DI CABANG TIMUR
44 JEJAK DIGITAL
45 RAPAT EVALUASI RUTIN
46 JERAT DI GUDANG GELAP
47 WAJAH DI BALIK TOPENG
48 MENGUNCI PINTU GERBANG
49 KABAR BURUK DI GERBANG DEPAN
50 JEJAK DIGITAL YANG TERPUTUS
51 JEBAK DI UJUNG TANDUK
52 BENTENG DARI KEBENARAN
53 ALIANSI DI UJUNG TANDUK
54 AKU MENUNGGUMU
55 MALAM PANJANG
56 JERAT DIPLOMATIK
57 UJI MENTAL DI PERSIDANGAN.
58 BISIK-BISIK DI BALIK LAYAR
59 KEDIAMAN VALTTIERI
60 PEMBURUAN BAYANG-BAYANG
61 KEMARAHAN ELARA
62 PENGADILAN PENUH SESAK
63 SIDANG LANJUTAN
64 SELALU PULANG PADAMU
65 MENIKMATI WAKTU BERDUA
66 MASIH DI VILA VALTTIERI
67 KEMENANGAN
68 FONDASI YANG KOKOH
69 MENATAP CAKRAWALA BARU
70 STRATEGI DI BALIK LAYAR
71 TAKDIR TERINDAH
72 TATAPAN PENUH KASIH
73 RASA SAYANG
74 TAK TERGOYAHKAN
75 SAATNYA BERTATAP MUKA
76 PERTEMUAN DUA PIHAK
77 ARUS YANG KUAT
78 UJIAN YANG TAK TERDUGA
79 TITIK TEMU DI TENGAH PERBEDAAN
80 MERANCANG STRATEGI BARU
81 KESUKSESAN MENARIK PERHATIAN
82 JALAN YANG SELARAS
83 MEMBANGUN KEPEMPIMPINAN BARU
84 DIANTARA OMBAK DAN TAWA
Episodes

Updated 84 Episodes

1
PERTEMUAN TAK DIINGINKAN
2
ATURAN DALAM BAYANGAN
3
PERSIAPAN PERNIKAHAN
4
JANJI DI BAWAH ALTAR
5
MALAM PERTAMA YANG DINGIN
6
DIBALIK PINTU RUANG KERJA
7
JEJAK MASA LALU
8
BAYANGAN PENGKHIANAT
9
KEPUTUSAN BERESIKO
10
BISIKAN BAHAYA
11
IDENTITAS PENGKHIANAT
12
KABAR BURUK
13
PENYELAMATAN DI HUTAN
14
KEPUTUSAN BARU
15
MISTERI INFORMAN
16
KONSEKUENSI
17
PERTEMUAN RAHASIA
18
PERTEMUAN RAHASIA
19
PENGKHIANAT DIAMANKAN
20
BERTEMU UNCLE ANDREAS
21
JEJAK ABU-ABU
22
BERDONASI
23
LANGKAH BERANI
24
UJIAN BERAT
25
TERJADI LEDAKAN
26
TIDAK MENYERAH
27
BAHAYA YANG LEBIH BESAR
28
PERMAINAN DI BALIK LAYAR
29
ANTARA PERCAYA DAN CURIGA
30
KETEGANGAN YANG MEMUNCAK
31
DIAMBANG KEHANCURAN
32
PERTARUNGAN BESAR
33
KEBENARAN YANG TERKUAK
34
PERTARUNGAN TERAKHIR
35
ELARA SAKIT
36
ELARA SAKIT PART 2
37
JARING LABA-LABA
38
STRATEGI TERAKHIR
39
MEMBAGI RASA HANGAT
40
MEMBERIKAN CINTA
41
MENENANGKANNYA
42
JEJAK DI BALIK LAYAR
43
BAYANG-BAYANG DI CABANG TIMUR
44
JEJAK DIGITAL
45
RAPAT EVALUASI RUTIN
46
JERAT DI GUDANG GELAP
47
WAJAH DI BALIK TOPENG
48
MENGUNCI PINTU GERBANG
49
KABAR BURUK DI GERBANG DEPAN
50
JEJAK DIGITAL YANG TERPUTUS
51
JEBAK DI UJUNG TANDUK
52
BENTENG DARI KEBENARAN
53
ALIANSI DI UJUNG TANDUK
54
AKU MENUNGGUMU
55
MALAM PANJANG
56
JERAT DIPLOMATIK
57
UJI MENTAL DI PERSIDANGAN.
58
BISIK-BISIK DI BALIK LAYAR
59
KEDIAMAN VALTTIERI
60
PEMBURUAN BAYANG-BAYANG
61
KEMARAHAN ELARA
62
PENGADILAN PENUH SESAK
63
SIDANG LANJUTAN
64
SELALU PULANG PADAMU
65
MENIKMATI WAKTU BERDUA
66
MASIH DI VILA VALTTIERI
67
KEMENANGAN
68
FONDASI YANG KOKOH
69
MENATAP CAKRAWALA BARU
70
STRATEGI DI BALIK LAYAR
71
TAKDIR TERINDAH
72
TATAPAN PENUH KASIH
73
RASA SAYANG
74
TAK TERGOYAHKAN
75
SAATNYA BERTATAP MUKA
76
PERTEMUAN DUA PIHAK
77
ARUS YANG KUAT
78
UJIAN YANG TAK TERDUGA
79
TITIK TEMU DI TENGAH PERBEDAAN
80
MERANCANG STRATEGI BARU
81
KESUKSESAN MENARIK PERHATIAN
82
JALAN YANG SELARAS
83
MEMBANGUN KEPEMPIMPINAN BARU
84
DIANTARA OMBAK DAN TAWA

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!