Tamparan Madam Seraphina

Suasana mansion Moretti tidak pernah benar-benar tenang setelah insiden kalung berlian.

Meski kalung asli sudah ditemukan di kamar Selene, tak seorang pun berani membicarakannya terang-terangan. Para pelayan hanya saling bertukar pandang saat berpapasan. Kepala pelayan memilih pura-pura lupa. Marta menghela napas panjang setiap kali melihat Elara.

Sementara di ruang utama, nama keluarga Moretti terasa tercoreng.

Bagi Seraphina, itu jauh lebih menyakitkan daripada kehilangan perhiasan.

Ia berdiri di depan jendela besar ruang pribadinya, memandangi taman dengan wajah dingin. Tangan kirinya menggenggam cangkir teh, tangan kanannya mengepal kuat.

Harga dirinya baru saja diinjak.

Dan yang lebih memalukan lagi… oleh seorang pelayan.

“Madam…”

Kepala pelayan masuk dengan hati-hati.

“Ada apa?” tanya Seraphina tanpa menoleh.

“Para tamu makan malam nanti sudah mengonfirmasi kehadiran.”

“Bagus.”

“Dan… Tuan Damian meminta semua orang bersikap biasa seperti tidak terjadi apa-apa.”

Seraphina akhirnya menoleh.

Tatapannya tajam.

“Tidak terjadi apa-apa?”

Kepala pelayan langsung menunduk.

“Saya hanya menyampaikan pesan Tuan.”

Seraphina tertawa kecil. Tawa yang tak mengandung kehangatan.

“Anakku pikir reputasi keluarga bisa diselamatkan hanya dengan diam?”

Ia meletakkan cangkir dengan suara keras.

“Tidak. Malam ini semua harus kembali normal. Rumah ini tidak boleh terlihat retak.”

“Baik, Madam.”

“Dan panggil Elara.”

Kepala pelayan menelan ludah.

“Sekarang?”

“Sekarang.”

---

Elara sedang menyusun peralatan makan di ruang makan saat panggilan itu datang.

Ia menatap sendok perak di tangannya beberapa detik, lalu meletakkannya dengan tenang.

Marta mendekat cemas.

“Jangan pergi sendiri. Aku takut wanita itu belum selesai.”

Elara tersenyum tipis.

“Dia memang belum selesai.”

“Lalu kenapa kau tenang sekali?”

“Karena orang marah sering membuat kesalahan.”

Ia berbalik dan berjalan menuju lantai dua.

Marta hanya bisa memandangi punggung gadis itu sambil bergumam pelan.

“Entah siapa kau sebenarnya, Nak…”

---

Kamar pribadi Seraphina dipenuhi aroma parfum mahal dan amarah yang belum padam.

Saat Elara masuk, wanita itu duduk di kursi dekat meja rias dengan kaki bersilang. Wajahnya sempurna oleh riasan, tetapi matanya penuh racun.

“Kau memanggil saya, Madam?”

“Dekat.”

Elara melangkah maju.

“Lebih dekat.”

Ia berhenti dua langkah dari Seraphina.

Wanita itu menatapnya dari kepala sampai kaki.

“Kau puas sekarang?”

“Saya tidak mengerti maksud Madam.”

“Jangan pura-pura bodoh.” Seraphina berdiri. “Kau membuat putriku tampak seperti pencuri. Kau membuatku terlihat seperti wanita tua yang tak bisa mengurus rumah.”

Elara menjawab tenang.

“Saya hanya mengatakan kebenaran.”

“Di rumah ini, kebenaran adalah apa yang kuucapkan.”

Kalimat itu keluar dingin dan mutlak.

Elara tak bergeming.

“Mungkin itu sebabnya semua orang di rumah ini takut bicara jujur.”

Seraphina membeku sesaat.

Lalu matanya menyala penuh murka.

“Kau pikir karena Damian tidak mengusirmu, kau sudah menang?”

“Saya tidak sedang bermain.”

“Tidak?” Seraphina mendekat. “Lalu apa arti semua tatapanmu? Cara bicaramu? Kau menantangku diam-diam.”

Elara menatap lurus.

“Kalau Madam merasa tertantang oleh seorang pelayan… mungkin masalahnya bukan pada saya.”

Plak!

Tamparan keras menghantam pipi kanan Elara kali ini.

Suara benturan menggema di ruangan mewah itu.

Kepalanya sedikit berpaling. Rambutnya jatuh menutupi sebagian wajah.

Namun ia tidak jatuh.

Tidak menangis.

Tidak memohon.

Ia hanya perlahan menoleh kembali.

Tatapannya tetap tenang.

Justru itu membuat Seraphina semakin marah.

“Kenapa kau tidak menangis?!”

Elara menjawab pelan.

“Karena saya sudah terbiasa melihat orang lemah memakai tangan saat tak punya argumen.”

Seraphina nyaris tak percaya dengan keberanian itu.

“Kau!”

Tangannya terangkat lagi.

Namun sebelum tamparan kedua jatuh, sebuah suara terdengar dari pintu.

“Cukup.”

Damian berdiri di ambang pintu.

Setelan hitamnya rapi seperti biasa, wajahnya dingin, tetapi sorot matanya tajam.

Seraphina menoleh tajam.

“Masuk tanpa mengetuk sekarang?”

Damian tak menjawab. Ia menatap pipi Elara yang memerah.

“Ibu sudah selesai?”

“Ia kurang ajar.”

“Dia staf rumah ini.”

“Dia pelayan!”

“Dan Ibu tetap tak berhak memukul siapa pun.”

Ruangan mendadak hening.

Elara sedikit mengangkat alis.

Ini pertama kalinya Damian menegur ibunya secara langsung di hadapannya.

Seraphina tertawa sinis.

“Untuk siapa kau bicara seperti itu? Untuk keluarga ini… atau untuk perempuan ini?”

Damian berjalan masuk beberapa langkah.

“Untuk martabat rumah ini.”

“Jangan bohong padaku.”

Seraphina mendekat pada putranya.

“Aku ibumu. Aku tahu wajahmu. Kau mulai memperhatikannya.”

Damian menegang.

“Jangan berlebihan.”

“Oh? Lalu kenapa kau datang secepat ini setelah pelayan memanggilmu?”

Damian diam.

Memang benar. Seorang staf melihat Elara dipanggil dan memberi tahu Damian. Entah kenapa, ia langsung meninggalkan ruang kerja.

Seraphina menyadari keheningan itu.

Ia tersenyum tipis penuh racun.

“Menarik.”

Lalu ia menoleh ke Elara.

“Kau cukup pandai. Membuat pria dingin seperti Damian mulai bergerak.”

Elara menjawab datar.

“Saya tidak punya waktu memainkan putra Madam.”

Seraphina kembali naik darah.

“Keluar!”

Damian tidak bergerak.

Seraphina berteriak lebih keras.

“Kalian berdua keluar dari kamarku!”

---

Di lorong lantai dua, pintu kamar tertutup keras dari dalam.

Damian berdiri beberapa detik tanpa bicara.

Elara hendak berjalan pergi.

“Tunggu.”

Ia berhenti.

Damian menatap wajahnya.

“Ambil es.”

“Tidak perlu.”

“Itu perintah.”

Elara tersenyum tipis.

“Tuan suka memberi perintah saat terlambat.”

Damian mengernyit.

“Apa maksudmu?”

“Tamparan pertama… Tuan diam.”

Ia menatap lurus ke matanya.

“Tamparan kedua… Tuan datang.”

Nada suaranya lembut, tapi menusuk.

Damian tidak langsung menjawab.

Ia memang diam saat pertama kali Elara dipukul di ruang makan. Dan sejak saat itu, bayangan wajah gadis itu terus mengganggunya.

“Aku tidak biasa mencampuri urusan rumah.”

“Lalu jangan mulai sekarang hanya karena merasa bersalah.”

Elara berbalik hendak pergi.

Damian menahan lengannya.

Sentuhan itu membuat keduanya terdiam sesaat.

Kulit Elara dingin.

Tatapannya turun ke tangan Damian yang memegangnya.

“Tuan.”

Damian langsung melepaskan.

Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, ia merasa kikuk.

“Aku hanya…”

“Apa?”

Ia tak punya jawaban.

Elara merapikan lengan seragamnya.

“Kalau Tuan benar-benar ingin menolong seseorang, cobalah lebih cepat lain kali.”

Lalu ia pergi meninggalkan lorong.

Damian berdiri mematung.

Kata-kata itu terasa lebih keras dari tamparan apa pun.

---

Di dapur, Marta buru-buru mendekat saat Elara masuk.

“Ya Tuhan… pipimu lagi?”

Elara mengambil kain dingin dan menempelkannya santai.

“Masih utuh, kan?”

“Bagaimana kau bisa bercanda?”

“Kalau aku marah terus, aku cepat tua.”

Marta hampir menangis.

“Kenapa kau tidak pergi saja dari sini?”

Elara menatap dirinya di pantulan kaca lemari.

Pipi kanannya memerah.

Namun matanya justru semakin dingin.

“Karena mereka belum selesai menunjukkan siapa diri mereka.”

“Dan kau?”

Elara tersenyum tipis.

“Aku juga belum.”

---

Malam itu makan malam keluarga berlangsung tegang.

Seraphina bersikap seolah tak terjadi apa-apa.

Selene lebih banyak diam.

Damian hampir tak menyentuh makanannya.

Sementara Elara berdiri di sudut ruangan menuangkan anggur dengan wajah tenang.

Beberapa kali Damian melirik pipinya.

Beberapa kali Elara pura-pura tidak melihat.

Di tengah makan malam, seorang pelayan masuk tergesa.

“Madam… ada tamu datang.”

Seraphina kesal.

“Siapa datang tanpa undangan?”

Pelayan itu menelan ludah.

“Seorang pria tua… dengan iring-iringan mobil hitam.”

Elara menghentikan gerakan tangannya.

Damian menyadarinya.

Seraphina berdiri.

“Nama?”

Pelayan menjawab gemetar.

“Dia bilang… Tuan Octavian ingin bertemu Nona Elara.”

Sendok di tangan Seraphina jatuh ke piring.

Damian menatap Elara tajam.

Dan untuk pertama kalinya…

gadis yang selalu menunduk itu tidak terlihat seperti pelayan sama sekali.

Terpopuler

Comments

Anonim

Anonim

Serunya aku suka 😍😍

2026-07-17

0

lihat semua
Episodes
1 Gadis yang Selalu Menunduk
2 Bab 2 Kalung Berlian yang Hilang
3 Bab 3 – Tuduhan di Depan Semua Orang
4 Tamparan Madam Seraphina
5 Damian Hanya Diam
6 Diusir Malam Itu Juga
7 Gerbang yang Tertutup
8 Iring-Iringan Mobil Hitam
9 Kedatangan Tuan Octavian
10 Semua Orang Membeku
11 Nama Asli Elara Vasiliev
12 Pewaris yang Dicari Bertahun-Tahun
13 Seraphina Mulai Panik
14 Damian Menyesal Terlambat
15 Elara Pergi Tanpa Menoleh
16 Rumah Besar Keluarga Vasiliev
17 Kalung yang Ternyata Palsu
18 Bukti Kamera CCTV
19 Pelayan Lama Membocorkan Rahasia
20 Moretti Jadi Bahan Tertawaan
21 BAB 21 Elara Belajar Memimpin
22 BAB 22 Dewan Direksi Meragukan Dia
23 BAB 23 Rapat Pertama yang Mengejutkan
24 BAB 24 Damian Datang Meminta Maaf
25 BAB 25 Pintu Ditutup di Wajahnya
26 BAB 26 Seraphina Kehilangan Investor
27 BAB 27 Selene Menyusun Fitnah Baru
28 BAB 28 Undangan Gala Tahunan
29 BAB 29.Elara Muncul dengan Identitas Baru
30 BAB 30 Semua Mata Menatapnya
31 BAB 31 Damian Tak Bisa Berkata-kata
32 BAB 32 Seraphina Dipermalukan Publik
33 BAB 33 Selene Menuduh Elara Palsu
34 BAB 34 Tes DNA di Tengah Acara
35 BAB 35 Hasil yang Membungkam Semua
36 BAB 36 Saham Moretti Turun Drastis
37 BAB 37 Damian Mulai Melawan Ibunya
38 BAB 38 Elara Menolak Masa Lalu
39 BAB 39 Tuan Octavian Jatuh Sakit
40 BAB 40 Musuh Menyerang Perusahaan
41 BAB 41 Sabotase di Pabrik Utama
42 BAB 42 Elara Turun Tangan Sendiri
43 BAB 43 Direktur Pengkhianat Terbongkar
44 BAB 44 DAMIAN MENOLONG DIAM-DIAM
45 BAB 45 Elara Tidak Percaya Lagi
46 BAB 46 SELENE BERSEKUTU DENGAN RIVAL
47 BAB 47 Adrian Volkov Muncul
48 BAB 48 Investor Muda yang Berbahaya
49 BAB 49 Tawaran Pernikahan Politik
50 BAB 50 Octavian Memaksa Elara Memilih
51 BAB 51 DAMIAN CEMBURU TERLAMBAT
52 BAB 52 Moretti Hampir Bangkrut
53 BAB 53 Seraphina Menjual Aset Rahasia
54 BAB 54 Elara Membeli Semuanya
55 BAB 55 Rumah Moretti Disita Bank
56 BAB 56 Damian Tinggal Sendiri
57 BAB 57 – Selene Kabur Membawa Uang
58 BAB 58 – Adrian Mendekati Elara
59 BAB 59 Ciuman yang Disalahartikan
60 BAB 60 Damian Menyaksikan Sendiri
61 BAB 61 Elara Menjaga Jarak
62 BAB 62 Damian Mengejar Tanpa Henti
63 BAB 63 Masa Lalu Elara Terbuka
64 BAB 64 Ia Pernah Diselamatkan Damian
65 BAB 65 Tapi Damian Memilih Diam
66 BAB 66 Seraphina Meminta Maaf Palsu
67 BAB 67 Elara Menolak Air Matanya
68 BAB 68 Selene Kembali dengan Bukti Palsu
69 BAB 69 Skandal Elara Viral
70 BAB 70 Saham Vasiliev Anjlok
71 BAB 69 Skandal Elara Viral
72 BAB 70 Saham Vasiliev Anjlok
73 BAB 71 Adrian Menolong Terlalu Cepat
74 BAB 72 Elara Curiga
75 BAB 73 Damian Menemukan Dalang Sebenarnya
76 BAB 74. Selene Menjadi Umpan
77 BAB 75 Rekaman Rahasia Bocor
78 BAB 76 Elara Membalikkan Permainan
79 BAB 77 Damian Terluka Melindunginya
80 BAB 78 Elara Tak Bisa Mengabaikannya Lagi
81 BAB 78 Octavian Melarang Elara
82 BAB 80 Rumah Sakit Tidak Lagi Aman
83 Bab 81
84 BAB 82
85 BAB 83
86 BAB 84
87 BAB 85
88 bab 86
89 BAB 87
90 BAB 88
91 BAB 89
92 BAB 90
93 BAB 91 Racun di Gelas Anggur
94 BAB 92 Semua Menuduh Elara
95 BAB 93 Damian Membelanya di Publik
96 BAB 94 Elara Ditahan Polisi
97 BAB 95 Bukti Mengarah k Casian
98 BAB 96 Cassian Menghilang
99 BAB 97 Damian Menjual Perusahaannya
100 BAB 98 – Damian Menukar Segalanya Demi Elara
101 BAB 99. Cassian Meninggalkan Petunjuk Terakhir
102 BAB 100. Elara Menangis untuk Pertama Kalinya
103 BAB 101 Elara dan Damian Berperang Bersama
104 BAB 102 – SELENE DIKHIANATI CASSIAN
105 BAB 103 – SERAPHINA KEHILANGAN SEGALANYA
106 BAB 104. Rumah Besar Vasiliev Dilelang
Episodes

Updated 106 Episodes

1
Gadis yang Selalu Menunduk
2
Bab 2 Kalung Berlian yang Hilang
3
Bab 3 – Tuduhan di Depan Semua Orang
4
Tamparan Madam Seraphina
5
Damian Hanya Diam
6
Diusir Malam Itu Juga
7
Gerbang yang Tertutup
8
Iring-Iringan Mobil Hitam
9
Kedatangan Tuan Octavian
10
Semua Orang Membeku
11
Nama Asli Elara Vasiliev
12
Pewaris yang Dicari Bertahun-Tahun
13
Seraphina Mulai Panik
14
Damian Menyesal Terlambat
15
Elara Pergi Tanpa Menoleh
16
Rumah Besar Keluarga Vasiliev
17
Kalung yang Ternyata Palsu
18
Bukti Kamera CCTV
19
Pelayan Lama Membocorkan Rahasia
20
Moretti Jadi Bahan Tertawaan
21
BAB 21 Elara Belajar Memimpin
22
BAB 22 Dewan Direksi Meragukan Dia
23
BAB 23 Rapat Pertama yang Mengejutkan
24
BAB 24 Damian Datang Meminta Maaf
25
BAB 25 Pintu Ditutup di Wajahnya
26
BAB 26 Seraphina Kehilangan Investor
27
BAB 27 Selene Menyusun Fitnah Baru
28
BAB 28 Undangan Gala Tahunan
29
BAB 29.Elara Muncul dengan Identitas Baru
30
BAB 30 Semua Mata Menatapnya
31
BAB 31 Damian Tak Bisa Berkata-kata
32
BAB 32 Seraphina Dipermalukan Publik
33
BAB 33 Selene Menuduh Elara Palsu
34
BAB 34 Tes DNA di Tengah Acara
35
BAB 35 Hasil yang Membungkam Semua
36
BAB 36 Saham Moretti Turun Drastis
37
BAB 37 Damian Mulai Melawan Ibunya
38
BAB 38 Elara Menolak Masa Lalu
39
BAB 39 Tuan Octavian Jatuh Sakit
40
BAB 40 Musuh Menyerang Perusahaan
41
BAB 41 Sabotase di Pabrik Utama
42
BAB 42 Elara Turun Tangan Sendiri
43
BAB 43 Direktur Pengkhianat Terbongkar
44
BAB 44 DAMIAN MENOLONG DIAM-DIAM
45
BAB 45 Elara Tidak Percaya Lagi
46
BAB 46 SELENE BERSEKUTU DENGAN RIVAL
47
BAB 47 Adrian Volkov Muncul
48
BAB 48 Investor Muda yang Berbahaya
49
BAB 49 Tawaran Pernikahan Politik
50
BAB 50 Octavian Memaksa Elara Memilih
51
BAB 51 DAMIAN CEMBURU TERLAMBAT
52
BAB 52 Moretti Hampir Bangkrut
53
BAB 53 Seraphina Menjual Aset Rahasia
54
BAB 54 Elara Membeli Semuanya
55
BAB 55 Rumah Moretti Disita Bank
56
BAB 56 Damian Tinggal Sendiri
57
BAB 57 – Selene Kabur Membawa Uang
58
BAB 58 – Adrian Mendekati Elara
59
BAB 59 Ciuman yang Disalahartikan
60
BAB 60 Damian Menyaksikan Sendiri
61
BAB 61 Elara Menjaga Jarak
62
BAB 62 Damian Mengejar Tanpa Henti
63
BAB 63 Masa Lalu Elara Terbuka
64
BAB 64 Ia Pernah Diselamatkan Damian
65
BAB 65 Tapi Damian Memilih Diam
66
BAB 66 Seraphina Meminta Maaf Palsu
67
BAB 67 Elara Menolak Air Matanya
68
BAB 68 Selene Kembali dengan Bukti Palsu
69
BAB 69 Skandal Elara Viral
70
BAB 70 Saham Vasiliev Anjlok
71
BAB 69 Skandal Elara Viral
72
BAB 70 Saham Vasiliev Anjlok
73
BAB 71 Adrian Menolong Terlalu Cepat
74
BAB 72 Elara Curiga
75
BAB 73 Damian Menemukan Dalang Sebenarnya
76
BAB 74. Selene Menjadi Umpan
77
BAB 75 Rekaman Rahasia Bocor
78
BAB 76 Elara Membalikkan Permainan
79
BAB 77 Damian Terluka Melindunginya
80
BAB 78 Elara Tak Bisa Mengabaikannya Lagi
81
BAB 78 Octavian Melarang Elara
82
BAB 80 Rumah Sakit Tidak Lagi Aman
83
Bab 81
84
BAB 82
85
BAB 83
86
BAB 84
87
BAB 85
88
bab 86
89
BAB 87
90
BAB 88
91
BAB 89
92
BAB 90
93
BAB 91 Racun di Gelas Anggur
94
BAB 92 Semua Menuduh Elara
95
BAB 93 Damian Membelanya di Publik
96
BAB 94 Elara Ditahan Polisi
97
BAB 95 Bukti Mengarah k Casian
98
BAB 96 Cassian Menghilang
99
BAB 97 Damian Menjual Perusahaannya
100
BAB 98 – Damian Menukar Segalanya Demi Elara
101
BAB 99. Cassian Meninggalkan Petunjuk Terakhir
102
BAB 100. Elara Menangis untuk Pertama Kalinya
103
BAB 101 Elara dan Damian Berperang Bersama
104
BAB 102 – SELENE DIKHIANATI CASSIAN
105
BAB 103 – SERAPHINA KEHILANGAN SEGALANYA
106
BAB 104. Rumah Besar Vasiliev Dilelang

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!