Lampu sorot menyilaukan mata.
Gudang Nomor 17 yang semula gelap kini berubah terang benderang.
Puluhan sinar laser merah menempel tepat di dada Elara dan Adrian.
Suara logam senapan yang dikokang bergema dari segala arah.
Klik... klik...
Sedikitnya tiga puluh pria bertopeng muncul dari balik kontainer, balkon besi, dan atap gudang.
Mereka mengenakan seragam hitam tanpa identitas.
Satu-satunya tanda yang sama...
adalah lambang seekor burung gagak berwarna perak di lengan kiri mereka.
Raven.
Adrian perlahan mengangkat kedua tangannya.
Namun matanya terus mengamati setiap sudut gudang.
Dua penembak jitu di balkon.
Empat orang di sisi kiri.
Enam orang di belakang kontainer.
Sisanya membentuk lingkaran.
"Jangan bergerak."
bisiknya kepada Elara.
"Mereka sudah menyiapkan posisi tembak."
Elara mengepalkan tangan.
"Aku tidak datang untuk bertarung."
"Masalahnya..."
gumam Adrian.
"...mereka belum tentu berpikir sama."
Suara langkah kaki terdengar dari lantai dua gudang.
Tok... tok... tok...
Semua anak buah Raven langsung menundukkan kepala.
Seolah seseorang yang sangat mereka hormati sedang datang.
Dari balik bayangan...
muncul seorang pria mengenakan mantel panjang hitam.
Wajahnya tertutup topeng logam berwarna putih.
Tak seorang pun dapat melihat wajah aslinya.
Hanya matanya yang tampak tajam.
"Selamat datang..."
ucap pria itu tenang.
"...Nona Elara Vasiliev."
Elara menatap lurus ke arahnya.
"Kau pemimpin Raven?"
Pria itu tersenyum kecil.
"Aku hanya seseorang..."
"...yang ingin berbicara."
"Aku tidak datang untuk berbicara."
jawab Elara dingin.
"Aku datang mengambil Damian."
Pria bertopeng tertawa pelan.
"Langsung pada inti persoalan."
"Aku menyukai itu."
Ia menjentikkan jarinya.
Tak!
Pintu baja besar di sisi kanan gudang perlahan terbuka.
Suara rantai besi bergesekan memenuhi ruangan.
Semua mata tertuju ke arah pintu itu.
Langkah kaki terdengar dari dalam.
Pelan.
Berat.
Semakin mendekat.
Jantung Elara berdegup kencang.
Sampai akhirnya...
sebuah sosok keluar dari balik pintu.
Pria itu mengenakan pakaian hitam sederhana.
Lengan kirinya masih dibalut perban.
Wajahnya sedikit pucat.
Namun tatapan matanya tetap tajam.
"Damian..."
bisik Elara.
Matanya membesar.
Damian benar-benar masih hidup.
Namun...
sesuatu terasa berbeda.
Damian berjalan dengan tenang.
Tidak ada rantai.
Tidak ada borgol.
Tidak ada senjata yang diarahkan kepadanya.
Ia berhenti tepat di samping pemimpin Raven.
Seolah...
ia memang berada di pihak mereka.
Elara menggeleng pelan.
"Damian..."
"Apa yang mereka lakukan padamu?"
Damian menatap Elara.
Sorot matanya sulit dibaca.
"Aku baik-baik saja."
"Kalau begitu kemarilah."
Damian tidak bergerak.
Elara kembali memanggil.
"Damian!"
Pria itu tetap diam.
Hanya memandang Elara dari kejauhan.
Pemimpin Raven tersenyum puas.
"Kelihatannya..."
"...dia tidak ingin pergi."
Adrian mulai menyadari sesuatu.
Tatapan Damian...
terlalu tenang.
Bukan tatapan seorang sandera.
Namun juga...
bukan tatapan seorang pengkhianat.
Seolah ada pesan yang sedang disembunyikannya.
"Tuan Damian."
ucap pemimpin Raven.
"Menurutmu..."
"...apa yang harus kita lakukan terhadap tamu kita?"
Seluruh gudang menjadi sunyi.
Semua orang menunggu jawaban Damian.
Elara memandangnya penuh harap.
Damian menarik napas pelan.
Lalu berkata datar,
"Turunkan senjata."
Seluruh anak buah Raven saling berpandangan.
Pemimpin Raven mengangkat alis.
"Kau yakin?"
Damian mengangguk.
"Mereka tidak akan menyerang."
Pemimpin Raven tersenyum tipis.
"Baik."
Ia mengangkat tangan.
Puluhan senjata perlahan diturunkan.
Meski demikian...
tak seorang pun benar-benar lengah.
Elara memanfaatkan kesempatan itu.
Ia melangkah maju.
"Damian."
Namun baru dua langkah...
Damian mengangkat tangannya.
"Berhenti."
Suara itu begitu dingin.
Elara langsung terdiam.
"Jangan mendekat."
Kalimat itu menusuk hati Elara.
"Kenapa?"
Damian tidak menjawab.
Ia hanya menatapnya.
Tatapan itu membuat E…
ART Yang Diremehkan Itu Ternyata Pewaris Konglomerat
BAB 87
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 106 Episodes
Comments