NICKTAN: Si Pembalap Dingin
Disini, Kisah Nicktan Megantara Dimulai...
Aroma bensin dan aspal terbakar biasanya menjadi oksigen utama bagi Nicktan Megantara. Namun sore ini, ia terpaksa menghirup aroma biji kopi yang dipanggang di dalam Skyline Cafe. Nick melangkah masuk dengan bahu tegap dan wajah ketus yang sudah menjadi barikade alami agar orang orang tak berani mendekat.
"Lo beneran mau kopi, Nick? Gue pikir lo butuh meditasi atau semedi gitu sebelum race besok," celetuk Ardan sambil mengekor di belakang Nick, matanya tak lepas dari jadwal di tablet.
Nick tidak menoleh, suaranya berat dan tidak bersahabat. "Gue butuh kafein, Dan. Bukan petuah bijak dari lo."
"Galak amat. Marah karena hasil latihan tadi atau karena berita pagi ini?" Ardan menyeringai, sengaja memancing emosi sahabatnya.
Nick berhenti mendadak, membuat Ardan hampir menabrak punggung tegapnya. Nick menoleh sedikit, menatap Ardan dengan mata tajam. "Berita sampah yang bilang gue suka sama lo?"
"Nah, itu tahu!" Ardan tertawa renyah. "Gue sih santai aja dibilang pacar lo. Tapi lo, kaku banget sih jadi orang. Coba sekali-kali gandeng cewek, biar tim publikasi nggak pusing nutupin isu gay lo itu."
"Gue nggak kaku. Gue cuma males ribet sama makhluk yang hobi nangis dan banyak maunya," jawab Nick ketus sambil melanjutkan langkah menuju meja kosong.
"Makhluk yang lo maksud itu namanya perempuan, Nick. Bukan alien," timpal Ardan gemas. "Lo itu ganteng, kaya, pembalap profesional juga. Masa nggak ada satu pun yang nyangkut di hati lo? Atau jangan-jangan lo emang_.."
"Satu kata lagi keluar dari mulut lo soal itu, gue pecat lo jadi manajer hari ini juga," potong Nick pedas.
"Oke, oke! Gue diem. Galak banget, pantesan jomblo karatan," gumam Ardan pelan, namun masih bisa didengar Nick.
Ketenangan itu hanya bertahan lima detik. Di sudut kafe, suasana mendadak pecah oleh suara teriakan melengking seorang gadis. Elea Quenby Valerine sedang berdiri di atas kursi, memegang gelas plastik berisi iced americano dengan wajah memerah menahan tawa sekaligus kesal.
"Lo kalau nggak mau ikut hiking bilang aja, curut! Jangan banyak alasan, gue siram juga lo!" teriak Elea nyaring pada temannya.
"Ele, santai! Gelas lo lepasin! Malu dilihatin orang, El!" seru Riko, teman cowoknya yang jangkung, mencoba membujuk.
"Nggak ada malu-maluan! Rasain nih serangan badai kopi!" seru Elea tanpa beban.
Elea mengayunkan tangannya dengan semangat. Gelas plastik itu meluncur, cairannya terbang membentuk busur cokelat di udara. Riko menghindar dengan refleks kilat, dan tepat pada detik itu, Nicktan Megantara melintas tepat di depan meja mereka.
BYUR!
Cairan cokelat pekat itu mendarat sempurna. Bukan di lantai, melainkan tepat di wajah tampan Nicktan Megantara. Rambutnya yang tertata rapi kini lepek dan meneteskan cairan kopi.
Hening. Kafe yang tadinya bising mendadak sedingin kutub utara.
Nick memejamkan matanya rapat-rapat. Rahangnya mengeras. Ardan di sampingnya terkejut sampai menahan napas, tahu betul kalau bos mudanya ini punya sumbu pendek yang siap meledak.
"Mampus..." bisik Ardan pelan.
Elea mematung. Gelas plastiknya masih menggantung kosong di udara. Ia menatap pria di depannya. pria yang wajahnya sering ia lihat di baliho sirkuit internasional. Teman-teman cowok Elea yang tadinya tertawa, mendadak lemas seketika.
"Nicktan Megantara?" gumam Riko pelan dengan wajah pucat.
Nick membuka matanya perlahan, menatap Elea dengan tatapan yang seolah bisa menguliti gadis itu hidup hidup. Ia mengusap wajahnya dengan telapak tangan, membuat kopi itu makin berlepotan ke mana-mana. "Lo..." suara Nick rendah, bergetar karena emosi yang meluap.
Elea menelan ludah. Alih-alih takut, hatinya justru berdesir aneh. Gila, aslinya jauh lebih ganteng daripada di TV, meskipun lagi mandi kopi, batinnya nakal. Namun, melihat tangan Nick yang mengepal, Elea tahu dia harus menggunakan jurus seribu bayangan.
"Hehe... maaf ya, Kak? Nggak sengaja. Beneran deh, itu... kopinya enak kok, tulus dari hati. Mau gue pesenin lagi?" ucap Elea dengan wajah tanpa dosa, mencoba memasang senyum paling manis miliknya.
Nick tidak menjawab. Ia hanya menatap Elea dengan aura dingin yang mematikan.
"Gue ganti deh kemejanya? Atau mau gue lap pakai tisu?" Elea mulai melangkah mundur perlahan, matanya melirik ke arah pintu keluar. "Tapi kayaknya Kakak lebih keren kalau pakai warna cokelat begini. Lebih... aesthetic?"
"Diem lo," desis Nick tajam.
Elea tertawa kaku. "Oke, gue diem. Kalau gitu, gue cabut dulu ya! Dadah Kakak Pembalap!"
Elea berbalik untuk lari, namun Nick lebih cepat. Tanpa membuka mata sepenuhnya karena perih, tangannya terjulur ke depan dan....
HAP!
Ia menjewer kerah tas ransel Elea dari belakang, menahan gadis itu di tempat.
"Mau kemana?" tanya Nick, suaranya sedingin es.
"Aduh, lepasin dong, Kak!!" Elea meronta pelan, otaknya berputar cepat mencari cara kabur. Tiba tiba, ia menatap ke arah pintu masuk dengan wajah panik yang dibuat buat. "Eh, Papa?! Papa kok udah jemput?!"
Refleks, Nick yang memiliki rasa hormat tinggi pada figur orang tua. terutama ayahnya, Azeus langsung menoleh ke arah pintu. Ia mengira itu adalah ayah si gadis yang mungkin akan membuat urusan ini makin panjang. Ardan dan teman teman Elea pun kompak ikut menoleh karena kaget.
Kosong. Tidak ada siapa-siapa di sana.
Elea dengan cerdik melepaskan diri, lalu berlari sekencang mungkin menuju pintu keluar.
"Nick, lo beneran ditipu anak SMA pakai trik paling jadul sedunia," celetuk Ardan yang tak bisa lagi menahan tawa.
"Sialan," gumam Nick pedas. Wajahnya merah padam, bukan cuma karena kopi, tapi karena malu tertipu mentah mentah.
Nick menolehkan kepalanya yang masih basah ke arah meja teman-teman Elea. Empat cowok berseragam sekolah itu sempat membeku melihat tatapan tajam Nick yang seolah bisa menguliti mereka hidup-hidup.
"Siapa nama cewek gila tadi?" tanya Nick dingin.
"E-Elea, Kak! Elea Quenby!" jawab salah satu dari mereka gemetaran.
"Sana pergi, sebelum gue hilang sabar," usir Nick pendek.
Tanpa perlu perintah kedua, mereka kompak menyambar barang masing masing dan lari terbirit-birit menyusul Elea. Suasana kafe kembali sunyi, menyisakan Nick yang akhirnya duduk dengan kaku di depan Ardan, menyambar tisu untuk mengelap wajahnya yang lengket.
Ardan memperhatikan sahabatnya itu dengan seringai meledek. "Gila ya, seumur-umur gue nemenin lo balapan, baru kali ini gue liat Nicktan Megantara mati kutu ditipu trik sepele."
"Berisik, Dan."
"Gue punya firasat, Nick. Cewek tadi nggak bakal cuma jadi angin lewat. Lo bakal ketemu lagi sama tuh cegil. Jarang-jarang ada cewek yang berani ngerjain lo sampe begini," lanjut Ardan sambil terkekeh...
Nick menaruh tisu kotor itu ke atas meja dengan gerakan perlahan namun penuh penekanan. Ia menatap Ardan dengan mata datar tanpa emosi. "Firasat lo nggak laku di sirkuit, apalagi di hidup gue."
"Ya, ya, terserah lo. Tapi kemeja lo itu harganya sepuluh juta, Nick. Masa lo biarin gitu aja?"
"Dan, satu hal lagi," Nick mencondongkan tubuhnya, suaranya rendah dan menusuk. "Kalau lo masih mau gue bayar buat jadi manajer, fokus ke jadwal gue, bukan ke imajinasi sampah lo tentang cewek tadi. Paham?"
Ardan mengangkat kedua tangannya, menyerah. "Paham, Tuan Muda. Paham banget." Ardan mendengus sebal
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 418 Episodes
Comments
Jhylara_Anfi
Hai kk aku mampir dari tiktok langsung kesini🤭😁jangan lupa mampir di cerita aku juga ya🙏
2026-06-01
1
Rosdianah 🌷
semangat ya Thor 💪🏼 Aku Nemu cerita mu dari Tiktok 🥰
2026-06-18
0
Sitinj23 Nj
jiwa" penasaran liat dari apk toktok
2026-07-01
0