Nick menyesap kopi hitam yang baru saja diantarkan pelayan dengan gerakan kaku. Meskipun Ardan sudah memesankan minuman termahal di kafe ini sebagai permintaan maaf atas insiden tadi, tetap saja rasa lengket di balik kemejanya membuat mood Nick berada di titik nadir.
"Gimana kopinya? Lebih enak dari siraman cewek tadi kan?" celetuk Ardan sambil mengaduk minumannya santai.
Nick tidak menjawab. Ia hanya menatap nanar bercak cokelat yang mulai mengering di kain kemejanya. "Gue benci hari ini, Dan. Gue bener-bener benci hari ini."
"Santai, Nick. Baru juga satu kemeja sepuluh juta yang hancur. Bukan karier lo," ledek Ardan lagi.
Nick merogoh saku, mengeluarkan ponselnya untuk sekadar mengalihkan pikiran dari bayangan wajah gadis gila bernama Elea itu. Namun, baru saja jempolnya menyentuh layar, sebuah notifikasi muncul. Nama pengirimnya membuat rahang Nick mengeras seketika.
Papa Azeus: Nick, pulang lo! Gue tunggu dalam 30 menit, lo harus udah ada di depan muka gue.
Nick menghela napas panjang, suaranya hampir terdengar seperti geraman tertahan. "Sial. Baru juga mau tenang dikit, ngapain sih?"
Ardan yang mengintip layar ponsel Nick langsung menyimpan kembali dompetnya setelah membayar di kasir. "Waduh, panggilan alam dari Singa Megantara. Mending lo balik sekarang, Nick. Lo tahu bokap lo gimana kalau urusan waktu."
"Gue baru minum dua teguk, Dan!" protes Nick ketus.
"Salah dikit, lo digilas sama dia. Inget, bokap lo nggak pernah bercanda soal durasi," Ardan menepuk bahu Nick, mengisyaratkan agar mereka segera beranjak.
Nick tidak membantah lagi. Ia berdiri dengan kasar, meninggalkan cangkir kopinya yang masih separuh penuh. Sepanjang perjalanan di dalam mobil, ia hanya diam menatap jalanan dengan tatapan kosong, tangannya terkepal di atas paha.
"Kira-kira ada apa ya?" tanya Ardan memecah keheningan saat ia menyetir.
"Mana gue tahu. Paling bahas kontrak atau mesin lagi," jawab Nick dingin.
"Atau... soal gosip yang tadi pagi?" Ardan melirik Nick lewat spion tengah dengan seringai usil.
Nick hanya mendengus. "Berisik lo."
Setibanya di rumah megah keluarga Megantara, atmosfer dingin langsung menyambut. Nick melangkah masuk ke ruang tengah yang luas, di mana sebuah televisi raksasa menyala menampilkan cuplikan berita gosip yang membuat telinga Nick panas seketika. Di layar itu, terlihat foto Nick dan Ardan yang diambil secara sembunyi sembunyi saat di sirkuit. mereka tampak sangat akrab, Ardan merangkul bahu Nick sambil tertawa lebar.
Azeus Megantara duduk di sofa kulit dengan gaya cool, bertumpang kaki sambil memegang gelas berisi wiski. Matanya menatap tajam ke arah layar TV seolah sedang menganalisis strategi perang.
"Ada apa sih, Pa? Baru juga gue mau napas sebentar di luar, udah disuruh pulang aja," protes Nick sambil berdiri tegak di depan ayahnya.
Azeus tidak langsung menjawab. Ia menyesap wiskinya perlahan, lalu memberikan isyarat dagu agar Nick dan Ardan duduk. Mereka berdua menurut, meski Nick duduk dengan punggung tegak dan rahang yang mengeras.
"Lo liat berita itu?" tanya Azeus datar tanpa mengalihkan pandangan dari TV.
"Berita sampah? Iya, gue liat," sahut Nick pendek.
Azeus menaruh gelasnya di meja dengan bunyi klang yang cukup keras. Ia menoleh, menatap Nick dengan mata elangnya yang masih setajam dulu. "Buktiin ke gue kalau berita ini nggak bener!"
Nick mendengus kasar. "Itu cuma gosip murahan, Pa. Media cuma pinter nyari sudut pandang kamera yang aneh. Masa Papa percaya begituan? Gue normal Pa."
"Gue nggak peduli lo normal atau nggak di dalem hati lo," potong Azeus dengan otoritas yang tak terbantahkan. "Masalahnya, imej lo itu aset tim. Sponsor mulai nanya nanya, dan gue nggak mau nama Megantara jadi bahan tertawaan cuma karena pembalap utamanya dikira lebih suka sama asistennya daripada sama cewek."
"Ya terus gue harus ngapain? Klarifikasi di medsos? Males banget, Pa. Nggak penting," jawab Nick ketus.
Azeus mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Nick intens. "Nggak perlu klarifikasi pakai kata-kata. Bawa satu cewek ke hadapan gue dalam waktu seminggu. Jadiin dia pacar lo, biar mulut orang-orang di luar sana bungkam."
Mata Nick melotot sempurna. "Apa apaan sih, Pa?! Papa tahu sendiri gue nggak jago cari cewek! Itu makhluk paling ribet sedunia, gue males. Mending gue disuruh balapan sepuluh seri berturut turut tanpa henti daripada harus nyari pacar!"
Azeus berdiri, merapikan kemejanya, lalu menatap Nick dengan senyum miring yang penuh ancaman. "Gue nggak mau denger alasan. Pokoknya gue mau lo bawa cewek, kenalin ke gue"
"Nggak mau. Itu buang-buang waktu," tolak Nick keras kepala.
Azeus tertawa rendah, suara tawanya terdengar berbahaya. "Oh, lo mau main keras kepala sama gue? Oke. Kalau dalam seminggu lo nggak bawa pacar ke depan muka gue, gue bakal bakar koleksi motor lo di garasi satu satu. Mulai dari yang paling mahal."
Wajah Nick memucat seketika. "Pa! Itu nggak adil! Itu motor hasil keringat gue!"
"Dunia emang nggak pernah adil, Nick. Sama kayak lo yang nggak adil ke diri sendiri karena kaku banget sama cewek," Azeus menepuk bahu Nick dengan keras, lalu beralih menatap Ardan. "Ardan, awasi dia. Kalau dia coba-coba nyewa pacar bayaran atau pake jasa talent, lapor ke gue. Motornya langsung gue siram bensin detik itu juga."
Azeus berlalu pergi begitu saja menuju ruang kerjanya, meninggalkan Nick yang masih berdiri mematung dengan napas memburu karena syok.
Ardan menghela napas panjang, menatap Nick dengan rasa kasihan sekaligus ingin tertawa. "Mampus lo, Nick. Motor koleksi lo taruhannya. Ducati lo, BMW lo... wah, bisa jadi abu semua."
"Diem lo! Ini semua gara gara lo yang ngerangkul-rangkul gue di sirkuit!" bentak Nick frustrasi.
"Loh? Kok gue? Emang dasarnya lo yang nggak pernah deket sama cewek," bela Ardan. "Terus sekarang gimana? Mau cari di mana lo cewek yang tahan sama sikap kaku lo?"
Nick mengacak rambutnya yang tadi sudah rapi. Ia duduk kembali dengan lemas, menutup wajah dengan kedua tangannya. "Gue harus dapet cewek dari mana dalam seminggu? Gue bahkan nggak tahu cara mulai ngomong sama mereka tanpa bikin mereka nangis atau benci sama gue."
Ardan menyandarkan punggungnya ke sofa. "Ya usaha, Nick. Masa kalah sama motor?"
Nick terdiam. Tiba-tiba, bayangan wajah Elea yang tertawa puas setelah menipunya di kafe tadi melintas di pikirannya. Wajah gadis yang berani menyiramnya, yang tidak takut menatap matanya, dan yang sukses melarikan diri dengan trik paling bodoh sedunia.
"Gadis gila itu..." gumam Nick pelan.
"Siapa? Cewek kopi tadi?" tanya Ardan antusias.
"Bukan siapa-siapa," jawab Nick cepat dengan wajah ketus andalannya. "Gue benci dia. Dia pembawa sial."
"Hati-hati, Nick. Biasanya benci sama cinta itu bedanya tipis. Apalagi lo butuh penyelamat buat garasi lo," Ardan menyeringai nakal.
Nick berdiri, menatap Ardan dengan tajam. "Jangan mulai, Dan. Gue lebih mending nabrakin mobil ke pembatas sirkuit daripada harus berurusan lagi sama cewek barbar kayak dia. Ngerti?"
"Iya, iya. Kita liat aja nanti siapa yang bakal lo bawa ke depan bokap lo," gumam Ardan melenggang pergi.
Nick menutup pintu kamarnya dengan bantingan keras. Pikirannya benar-benar kacau. Antara ancaman garasi yang akan dibakar dan harga dirinya yang sedang dipertaruhkan. Namun entah kenapa, rasa kesalnya pada Elea justru memberikan satu titik terang di tengah keputusasaannya. setidaknya, gadis itu satu satunya yang tidak memperlakukannya seperti pajangan kaca yang mudah pecah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 418 Episodes
Comments
Smile Angel
Baru part 2 ceritanya ga membosankan lanjutin aah
2026-05-17
0