Sangkar Kayu Cendana

Perjalanan dari bandara menuju komplek pesantren di pinggiran Jakarta terasa seperti eksekusi mati yang diperlambat bagi Lea. Di dalam mobil mewah yang aromanya didominasi wangi kayu cendana dan parfum maskulin yang samar, keheningan terasa begitu pekat hingga Lea merasa bisa mendengarnya.

Gus Malik duduk di kursi kemudi dengan punggung tegak, matanya fokus pada jalanan seolah-olah spion tengah adalah benda terlarang karena di sana, ia bisa saja tidak sengaja menangkap bayangan Lea yang duduk di kursi belakang. Najwa duduk di sampingnya, terus menggenggam tangan Malik dengan satu tangan, sementara tangan lainnya sesekali mengusap kepala Arkan yang mulai terkantuk-kantuk di pangkuan Lea.

Lea menatap keluar jendela. Gedung-gedung tinggi Jakarta perlahan berganti menjadi deretan pohon rindang dan tembok-tembok tinggi yang membatasi area pesantren.

"Kenapa kita ke sini?" tanya Lea ketus, memecah kesunyian. "Gue mau ke rumah Ibu. Lo bilang Ibu sakit, Kak."

Najwa menoleh kecil, senyumnya nampak getir. "Ibu ada di rumah utama pesantren, Lea. Sejak kondisinya menurun, Mas Malik meminta Ibu tinggal bersama kami supaya lebih mudah dipantau."

Lea mendengus. "Baguslah. Jadi gue nggak perlu lama-lama di sini. Lihat Ibu, mastiin dia nggak mati, terus gue cabut."

*Ciiiittt!*

Rem mendadak membuat tubuh Lea terdorong ke depan. Gus Malik menghentikan mobil tepat di depan gerbang kayu besar yang melengkung indah. Pria itu tidak berbalik, namun cengkeramannya pada kemudi terlihat memutih.

"Jaga lisanmu, Kalea," suara Malik terdengar seperti gemuruh rendah sebelum badai. "Kamu sedang berada di lingkungan yang menjaga adab. Jika tidak bisa menghormati istrimu sendiri, setidaknya hormati Ibu yang sedang berjuang melawan sakitnya."

Lea tertawa hambar, meski jantungnya berdegup kencang karena aura intimidasi pria itu. "Oh, akhirnya 'Patung Es' ini bisa bicara juga? Gue pikir lo cuma bisa istighfar kalau lihat gue."

"Mas... sudah," bisik Najwa lembut, menyentuh lengan suaminya.

Malik menarik napas panjang, memejamkan mata sejenak, lalu kembali menjalankan mobil masuk ke dalam area pesantren. Lea membuang muka, hatinya mendidih. Ia merasa seperti alien yang baru saja mendarat di planet yang penuh aturan kaku.

Begitu sampai di rumah utama yang bergaya arsitektur Jawa-modern itu, Lea langsung turun tanpa menunggu dibukakan pintu. Ia melangkah lebar menuju pintu jati besar, namun langkahnya terhenti saat ia menyadari betapa kontras penampilannya dengan lingkungan sekitar. Santri-santri yang sedang menyapu halaman atau berjalan menuju masjid mendadak berhenti. Mereka menunduk, namun Lea tahu mereka sedang berbisik-bisik melihat wanita dengan celana jeans ketat dan rambut pirang yang mencolok masuk ke kediaman Gus mereka.

"Lea, lewat sini," panggil Najwa, menuntunnya menuju sebuah kamar luas di lantai bawah.

Di dalam kamar yang tenang dan harum minyak zaitun itu, seorang wanita tua terbaring lemah. Ibunya. Wajah wanita itu pucat, tubuhnya jauh lebih kurus dari terakhir kali Lea melihatnya di layar ponsel.

"Ibu..." suara Lea bergetar. Seberapa pun bencinya ia pada aturan keluarga ini, melihat wanita yang melahirkannya dalam kondisi seperti ini tetap menghancurkan hatinya.

Ia duduk di tepi ranjang, hendak memegang tangan ibunya, namun tangannya berhenti di udara. Ia merasa tangannya yang penuh kuteks merah ini tak pantas menyentuh kulit suci ibunya.

"Lea? Ini Lea?" suara ibu sangat parau. Matanya terbuka sedikit, menatap wajah anaknya dengan binar haru. "Kamu pulang, Nak... Alhamdulillah..."

"Iya, Bu. Lea di sini," bisik Lea, akhirnya memberanikan diri menggenggam tangan ibunya.

Najwa berdiri di ambang pintu bersama Malik. Najwa menangis dalam diam, sementara Malik hanya berdiri mematung, menatap pemandangan itu dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Najwa... Malik... kemari," panggil Ibu lemah.

Saat Malik mendekat, ia mencium tangan ibu mertuanya dengan takzim. Malik terlihat sangat berbeda saat berada di dekat Ibu ada kelembutan yang tersembunyi di balik wajah kakunya.

"Jaga Lea ya..." bisik Ibu tiba-tiba.

Lea tersentak. "Bu, apa sih? Aku cuma sebentar di sini. Aku punya kerjaan di London, punya—"

"Ibu lelah, Lea," potong Ibu dengan suara yang nyaris hilang. "Ibu tenang kalau tahu kamu ada yang membimbing. Najwa sudah cerita semuanya..."

Lea mengerutkan kening. "Cerita apa? Kak?"

Najwa segera mendekat dan memeluk bahu Lea. "Nanti kita bicara, Lea. Ibu harus istirahat."

Malam itu, Lea ditempatkan di sebuah kamar tamu yang luas. Kamar itu sangat bersih, dengan sajadah tertata rapi di sudut dan aroma mawar yang menenangkan. Namun bagi Lea, kamar ini terasa seperti sel penjara.

Ia baru saja selesai m

embersihkan riasannya saat pintu kamarnya diketuk. Najwa masuk membawa sebuah kotak kayu berukir.

"Boleh Kakak masuk?"

Lea hanya mengangguk, duduk di pinggir ranjang dengan kaos santai yang untungnya masih cukup tertutup.

Najwa duduk di sampingnya, lalu membuka kotak itu. Isinya adalah sebuah mukena sutra putih yang sangat indah dan sebuah Al-Qur'an kecil.

"Lea, ada sesuatu yang harus Kakak bicarakan. Sebenarnya... alasan Kakak memintamu pulang bukan hanya karena Ibu."

"Gue udah tahu. Lo mau pamer kalau lo punya suami Gus ganteng dan hidup sempurna di sini kan?"

Najwa menggeleng perlahan, air mata mulai menggenang di matanya yang indah. "Kakak sakit, Lea. Kanker serviks stadium lanjut. Dokter bilang... kemungkinan Kakak bertahan tidak lama lagi."

Dunia seolah runtuh menimpa kepala Lea. Ia membeku. "Nggak... nggak lucu, Kak. Tadi lo kelihatan sehat-sehat aja."

"Itu karena Kakak berusaha kuat di depan Arkan dan Mas Malik. Tapi tubuh Kakak sudah menyerah," Najwa memegang tangan Lea, tangannya terasa sangat dingin. "Mas Malik tahu. Dia hancur, tapi dia tetap tegar demi Kakak. Dia suami yang luar biasa, Lea. Dia tidak pernah membiarkan Kakak merasa sendirian."

Lea masih terdiam, otaknya berusaha memproses informasi ini.

"Dan Kakak punya satu permohonan," lanjut Najwa, suaranya kini bergetar hebat. "Kakak tidak mau Arkan kehilangan sosok ibu. Kakak tidak mau Mas Malik kehilangan arah. Kakak ingin... kamu yang menggantikan posisi Kakak."

"Lo gila!" Lea berdiri seketika, mundur menjauh dari Najwa. "Gue nggak tahu agama! Gue nggak bisa pakai kerudung! Gue punya pacar di London! Dan yang paling penting... suami lo itu benci sama gue! Dia lihat gue kayak lihat setan!"

"Dia hanya belum mengenalmu, Lea. Di balik sifat dinginnya, dia pria yang paling setia. Dia akan menjagamu sebagaimana dia menjagaku."

"Gue bukan barang warisan, Kak! Gue bukan ban serep yang bisa lo pasang kalau ban utama lo bocor!" teriak Lea frustrasi.

"Ini bukan soal warisan, Lea. Ini soal menyelamatkanmu," Najwa ikut berdiri, memeluk Lea dengan sisa tenaganya. "Kakak tahu kamu menderita di London. Kakak tahu kamu merasa dibuang. Ini cara Kakak menarikmu kembali ke jalan yang benar. Mas Malik bisa membimbingmu."

"Gue nggak mau dibimbing! Gue mau hidup gue sendiri!"

Di luar kamar, di balik pintu kayu yang tebal, Gus Malik berdiri mematung. Ia mendengar setiap teriakan Lea. Tangannya terkepal kuat di samping tubuh. Ia membenci rencana ini. Ia membenci kenyataan bahwa ia harus menikahi wanita yang menurutnya sangat jauh dari kriteria wanita shalihah hanya karena itu adalah wasiat terakhir istri tercintanya.

Malik menatap langit-langit koridor yang gelap. Ya Allah, jika ini adalah ujian kesabaran yang Kau berikan, mampukah hamba melaluinya tanpa menyakiti amanah ini?

Malik berbalik dan melangkah pergi dengan langkah berat, meninggalkan dua saudari yang sedang menangisi takdir yang tidak adil di dalam kamar. Hidup Lea baru saja berubah menjadi labirin yang tak punya pintu keluar.

Terpopuler

Comments

falea sezi

falea sezi

bner siapa mau nikah ma suami warisan🤣 dikira ban serep apa enak aja lu mbl

2026-06-20

0

Sri Jumiati

Sri Jumiati

bagus ceritanyq

2026-05-15

0

lihat semua
Episodes
1 Pintu Kepulangan
2 Sangkar Kayu Cendana
3 Sisa Kenangan di Sudut Kota
4 Murka di Tanah Suci
5 Retaknya Langit di Atas Pesantren
6 Perjanjian di Ambang Duka
7 Akad di Ambang Perpisahan
8 Titah yang Menghancurkan
9 Serpihan Luka di Balik Pintu
10 Skandal di Balik Bayang-Bayang
11 Prahara di Kamar Terlarang
12 12: Manis di Balik Luka
13 Gema di Lorong Sunyi
14 Es Krim dan Getaran yang Tak Terduga
15 Rahasia yang Terhempas Badai
16 Badai di Jantung Kota
17 Prahara di Lembah Kelam
18 Puing-Puing di Balik Fajar
19 Luka yang Membekas di Meja Makan
20 Jejak Baru dan Rumah yang Sepi
21 Cahaya dalam Kegelapan
22 Di Balik Deru Badai
23 Fajar yang Berbeda
24 Jeratan Muslihat dan Penyerahan Diri
25 Kedamaian yang Terancam
26 Rahasia di Balik Selimut Sutra
27 Bayang-Bayang Badai Baru
28 Melebur dalam Hujan Badai
29 Semburat Fajar dan Jejak yang Tertinggal
30 Duri yang Mulai Tumbuh
31 Menembus Batas Kegelapan
32 Lembaran Baru di Balik Kabut
33 Buah dari Keikhlasan
34 Ketika Lilin Mulai Redup
35 Detik-Detik di Ambang Perpisahan
36 Air Mata yang Membasuh Bumi
37 Lembaran Baru dalam Panggilan Suci
38 Serpihan Luka di Balik Kain Hitam
39 Kerikil Tajam di Jalan Hijrah
40 Badai yang Menguji Keteguhan
41 Kebenaran yang Menuntut Keadilan
42 Detak Jantung yang Menyatukan Rasa
43 Sinar Baru di Langit Al-Fatih
44 Panggung Dunia dan Cahaya Takdir
45 Cahaya yang Menjemput Kebahagiaan
46 Langkah di Atas Sajadah Takdir
47 Riak Kecil di Balik Sinar Kebahagiaan
48 Tajam Lidah Sang Tamu
49 Riak yang Menjadi Gelombang
50 Barisan Pembela di Balik Tabir
51 Ular di Bawah Selimut Kampus
52 Taring-Taring Kesombongan
53 Palu Sidang di Tangan Tirani
54 Gemuruh Setelah Badai
55 Babak Baru di Atas Mimbar Ndalem
56 Benteng Keimanan dan Angin Badai dari London
57 Hidayah yang Mengetuk Pintu Hati
58 Benteng Hukum di Bawah Atap Pesantren
59 Lembaran Baru di Bawah Langit Subuh
60 Strategi di Atas Sajadah Perjuangan
61 Gurita Birokrasi dan Panggung Asia Tenggara
62 Badai Digital dan Keteguhan di Balik Mihrab
63 Jerat Hukum dan Panggung yang Berbalik
64 Barikade Aspal dan Pintu Langit yang Mengetuk
65 Kepulangan Para Pemenang dan Gerbang Masa Depan
66 Peletakan Batu Pertama dan Bayang-Bayang dari Masa Lalu
67 Palu Hukum Internasional dan Deklarasi di Balik Tembok Syariat
68 Deru Ekskavator dan Sinergi Dua Dunia
69 Hujan Pertama dan Ujian Komitmen
70 Lentera di Balik Kabut Fajar
71 Mengalirkan Berkah, Menenun Sejarah
72 Pondasi yang Berbicara
73 Mahkota di Atas Pucuk Bukit
74 Gerilya di Balik Layar
75 Merawat Akar, Menjaga Warisan
Episodes

Updated 75 Episodes

1
Pintu Kepulangan
2
Sangkar Kayu Cendana
3
Sisa Kenangan di Sudut Kota
4
Murka di Tanah Suci
5
Retaknya Langit di Atas Pesantren
6
Perjanjian di Ambang Duka
7
Akad di Ambang Perpisahan
8
Titah yang Menghancurkan
9
Serpihan Luka di Balik Pintu
10
Skandal di Balik Bayang-Bayang
11
Prahara di Kamar Terlarang
12
12: Manis di Balik Luka
13
Gema di Lorong Sunyi
14
Es Krim dan Getaran yang Tak Terduga
15
Rahasia yang Terhempas Badai
16
Badai di Jantung Kota
17
Prahara di Lembah Kelam
18
Puing-Puing di Balik Fajar
19
Luka yang Membekas di Meja Makan
20
Jejak Baru dan Rumah yang Sepi
21
Cahaya dalam Kegelapan
22
Di Balik Deru Badai
23
Fajar yang Berbeda
24
Jeratan Muslihat dan Penyerahan Diri
25
Kedamaian yang Terancam
26
Rahasia di Balik Selimut Sutra
27
Bayang-Bayang Badai Baru
28
Melebur dalam Hujan Badai
29
Semburat Fajar dan Jejak yang Tertinggal
30
Duri yang Mulai Tumbuh
31
Menembus Batas Kegelapan
32
Lembaran Baru di Balik Kabut
33
Buah dari Keikhlasan
34
Ketika Lilin Mulai Redup
35
Detik-Detik di Ambang Perpisahan
36
Air Mata yang Membasuh Bumi
37
Lembaran Baru dalam Panggilan Suci
38
Serpihan Luka di Balik Kain Hitam
39
Kerikil Tajam di Jalan Hijrah
40
Badai yang Menguji Keteguhan
41
Kebenaran yang Menuntut Keadilan
42
Detak Jantung yang Menyatukan Rasa
43
Sinar Baru di Langit Al-Fatih
44
Panggung Dunia dan Cahaya Takdir
45
Cahaya yang Menjemput Kebahagiaan
46
Langkah di Atas Sajadah Takdir
47
Riak Kecil di Balik Sinar Kebahagiaan
48
Tajam Lidah Sang Tamu
49
Riak yang Menjadi Gelombang
50
Barisan Pembela di Balik Tabir
51
Ular di Bawah Selimut Kampus
52
Taring-Taring Kesombongan
53
Palu Sidang di Tangan Tirani
54
Gemuruh Setelah Badai
55
Babak Baru di Atas Mimbar Ndalem
56
Benteng Keimanan dan Angin Badai dari London
57
Hidayah yang Mengetuk Pintu Hati
58
Benteng Hukum di Bawah Atap Pesantren
59
Lembaran Baru di Bawah Langit Subuh
60
Strategi di Atas Sajadah Perjuangan
61
Gurita Birokrasi dan Panggung Asia Tenggara
62
Badai Digital dan Keteguhan di Balik Mihrab
63
Jerat Hukum dan Panggung yang Berbalik
64
Barikade Aspal dan Pintu Langit yang Mengetuk
65
Kepulangan Para Pemenang dan Gerbang Masa Depan
66
Peletakan Batu Pertama dan Bayang-Bayang dari Masa Lalu
67
Palu Hukum Internasional dan Deklarasi di Balik Tembok Syariat
68
Deru Ekskavator dan Sinergi Dua Dunia
69
Hujan Pertama dan Ujian Komitmen
70
Lentera di Balik Kabut Fajar
71
Mengalirkan Berkah, Menenun Sejarah
72
Pondasi yang Berbicara
73
Mahkota di Atas Pucuk Bukit
74
Gerilya di Balik Layar
75
Merawat Akar, Menjaga Warisan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!