Murka di Tanah Suci

Malam di pesantren terasa jauh lebih mencekam daripada hiruk-pikuk London yang tak pernah tidur. Setelah melihat noda darah di sapu tangan Najwa tadi sore, Lea merasa seolah ada tali tak kasatmata yang melilit lehernya, menariknya masuk ke dalam kehidupan yang paling ia hindari.

Lea mengunci pintu kamar tamu dari dalam. Ia tidak tahan lagi. Ruangan yang didominasi aroma kayu cendana dan buku-buku agama ini terasa seperti penjara bawah tanah. Dengan tangan gemetar, ia menyambar ponselnya. Ia butuh suara yang mengenalnya sebagai Kalea, bukan sebagai "istri pengganti".

Ia mendial nomor Bunda adik dari ibunya yang selama dua puluh tahun ini merawatnya di London. Bagi Lea, Bunda adalah satu-satunya rumah yang ia punya.

"Bunda..." suara Lea pecah begitu wajah Bunda muncul di layar ponsel. "Pulangkan Lea, Bun. Jemput Lea sekarang. Mereka gila! Kak Najwa... dia mau Lea nikah sama suaminya!"

Bunda di seberang sana terdiam, matanya nampak sembab. "Lea, sayang... Bunda sudah bicara dengan Najwa seminggu yang lalu. Dia sangat ketakutan, Lea. Dia tidak percaya pada siapa pun untuk menjaga Arkan dan Mas Malik selain kamu."

"Tapi Lea nggak cinta sama dia, Bun! Dia benci sama Lea! Dia lihat Lea kayak lihat najis!" Lea berteriak tertahan. "Bunda tahu kan Lea punya Tom? Lea punya hidup di sana!"

"Lea, terkadang hidup menuntut pengorbanan yang tidak masuk akal," suara Bunda melemah. "Bunda tidak bisa menjemputmu. Ibumu... dia juga memohon pada Bunda agar kamu tetap di sana. Maafkan Bunda, Lea."

Sambungan diputus sepihak. Lea melempar ponselnya ke atas kasur. Ia merasa dikhianati oleh seluruh dunia. Untuk meredakan sesak, ia melakukan *video call* dengan Tom. Begitu wajah Tom muncul, air mata Lea jatuh lebih deras. Melihat apartemen mereka yang modern melalui layar ponsel membuat Lea semakin depresi.

Setelah menutup telepon, rasa frustrasi Lea mencapai puncaknya. Ia membutuhkan sesuatu untuk membungkam otaknya. Dengan nekat, ia membongkar bagian paling bawah kopernya, mengeluarkan sebotol kecil *Red Wine* yang ia beli di bandara. Ia tahu ini gila, tapi ia butuh mati rasa.

Lea melangkah ke balkon kamar yang menghadap ke taman belakang. Ia duduk di lantai balkon, bersandar pada pagar, lalu meneguk cairan merah itu langsung dari botolnya. Rasa hangat yang membakar tenggorokan sedikit membuatnya rileks.

"Kalian semua jahat..." gumamnya parau.

Ia kembali meneguk wine itu, membiarkan kepalanya sedikit melayang. Sampai sebuah suara bariton yang dingin menyeruak membelah malam dari arah bawah.

"Apa yang sedang kamu lakukan, Kalea?"

Lea tersentak. Ia menoleh ke bawah. Di sana stands Gus Malik. Pria itu berdiri kaku, kepalanya menunduk dalam, menatap tanah di bawah kakinya. Tangannya menggenggam tasbih dengan erat, namun rahangnya yang mengeras menunjukkan kemarahan yang luar biasa. Meski ia tidak menatap Lea secara langsung, auranya sangat mengintimidasi.

"A-apaan sih?" jawab Lea, mencoba berani meski lidahnya mulai kelu. "Gue cuma lagi minum. Haus."

"Turun sekarang," perintah Malik. Suaranya rendah namun tajam, tanpa sedikit pun mengangkat pandangannya ke arah balkon. "Buang benda najis itu dan segera temui saya di ruang tengah. Sekarang!"

Lea gemetar. Dengan langkah limbung, ia masuk ke kamar dan berjalan menuju ruang tengah. Gus Malik sudah di sana, berdiri membelakangi pintu masuk, menghadap jendela besar yang gelap.

Begitu Lea sampai di ruangan itu, Malik berbicara tanpa berbalik badan. Ia menolak menatap Lea yang saat ini masih mengenakan pakaian tidur minim.

"Kamu tahu di mana kamu berdiri saat ini?" tanya Malik, suaranya bergetar karena menahan amarah. "Ini pesantren. Dan kamu... dengan beraninya membawa najis ini ke dalam rumah saya?"

"Ini cara gue bertahan hidup di sini!" teriak Lea, egonya meledak. "Lo semua maksa gue! Kenapa lo nggak protes ke Kak Najwa? Kenapa lo cuma bisa nyalahin gue?"

Gus Malik beristighfar berkali-kali. Ia masih memunggungi Lea, tangannya mengepal di samping tubuh. Ia sama sekali tidak menyentuh Lea, bahkan tidak sudi membalikkan badan untuk sekadar memastikan keadaan adik iparnya itu.

"Jangan pernah bawa-bawa nama istri saya dengan mulutmu yang kotor oleh khamr itu," desis Malik tajam. "Saya tidak pernah menginginkan rencana ini. Kamu adalah ujian paling berat bagi saya. Jika bukan karena wasiat Najwa, saya sudah mengusirmu detik ini juga!"

"Kalau gitu usir gue! Usir!" tantang Lea.

Malik melangkah maju menuju pintu keluar, tetap tanpa menatap Lea. Ia menjaga jarak sejauh mungkin, seolah mendekati Lea akan menodai prinsip hidupnya.

"Kamu akan tetap di sini sampai Najwa merasa tenang. Tapi camkan ini..." Malik berhenti di ambang pintu, masih memunggungi Lea. "Satu kali lagi kamu berbuat maksiat di rumah ini, saya sendiri yang akan memastikan kamu dikurung di dalam kamar tanpa akses ke dunia luar sampai kamu mengerti apa itu adab. Jangan coba-coba menguji kesabaran saya."

Malik pergi dengan langkah cepat tanpa menoleh sedikit pun. Lea luruh di lantai, menangis meraung-raung dalam diam di tengah kegelapan rumah yang terasa semakin mencekik, sementara bau wine masih memenuhi ruangan itu sebagai saksi bisu kehancurannya.

Episodes
1 Pintu Kepulangan
2 Sangkar Kayu Cendana
3 Sisa Kenangan di Sudut Kota
4 Murka di Tanah Suci
5 Retaknya Langit di Atas Pesantren
6 Perjanjian di Ambang Duka
7 Akad di Ambang Perpisahan
8 Titah yang Menghancurkan
9 Serpihan Luka di Balik Pintu
10 Skandal di Balik Bayang-Bayang
11 Prahara di Kamar Terlarang
12 12: Manis di Balik Luka
13 Gema di Lorong Sunyi
14 Es Krim dan Getaran yang Tak Terduga
15 Rahasia yang Terhempas Badai
16 Badai di Jantung Kota
17 Prahara di Lembah Kelam
18 Puing-Puing di Balik Fajar
19 Luka yang Membekas di Meja Makan
20 Jejak Baru dan Rumah yang Sepi
21 Cahaya dalam Kegelapan
22 Di Balik Deru Badai
23 Fajar yang Berbeda
24 Jeratan Muslihat dan Penyerahan Diri
25 Kedamaian yang Terancam
26 Rahasia di Balik Selimut Sutra
27 Bayang-Bayang Badai Baru
28 Melebur dalam Hujan Badai
29 Semburat Fajar dan Jejak yang Tertinggal
30 Duri yang Mulai Tumbuh
31 Menembus Batas Kegelapan
32 Lembaran Baru di Balik Kabut
33 Buah dari Keikhlasan
34 Ketika Lilin Mulai Redup
35 Detik-Detik di Ambang Perpisahan
36 Air Mata yang Membasuh Bumi
37 Lembaran Baru dalam Panggilan Suci
38 Serpihan Luka di Balik Kain Hitam
39 Kerikil Tajam di Jalan Hijrah
40 Badai yang Menguji Keteguhan
41 Kebenaran yang Menuntut Keadilan
42 Detak Jantung yang Menyatukan Rasa
43 Sinar Baru di Langit Al-Fatih
44 Panggung Dunia dan Cahaya Takdir
45 Cahaya yang Menjemput Kebahagiaan
46 Langkah di Atas Sajadah Takdir
47 Riak Kecil di Balik Sinar Kebahagiaan
48 Tajam Lidah Sang Tamu
49 Riak yang Menjadi Gelombang
50 Barisan Pembela di Balik Tabir
51 Ular di Bawah Selimut Kampus
52 Taring-Taring Kesombongan
53 Palu Sidang di Tangan Tirani
54 Gemuruh Setelah Badai
55 Babak Baru di Atas Mimbar Ndalem
56 Benteng Keimanan dan Angin Badai dari London
57 Hidayah yang Mengetuk Pintu Hati
58 Benteng Hukum di Bawah Atap Pesantren
59 Lembaran Baru di Bawah Langit Subuh
60 Strategi di Atas Sajadah Perjuangan
61 Gurita Birokrasi dan Panggung Asia Tenggara
62 Badai Digital dan Keteguhan di Balik Mihrab
63 Jerat Hukum dan Panggung yang Berbalik
64 Barikade Aspal dan Pintu Langit yang Mengetuk
65 Kepulangan Para Pemenang dan Gerbang Masa Depan
66 Peletakan Batu Pertama dan Bayang-Bayang dari Masa Lalu
67 Palu Hukum Internasional dan Deklarasi di Balik Tembok Syariat
68 Deru Ekskavator dan Sinergi Dua Dunia
69 Hujan Pertama dan Ujian Komitmen
70 Lentera di Balik Kabut Fajar
71 Mengalirkan Berkah, Menenun Sejarah
72 Pondasi yang Berbicara
73 Mahkota di Atas Pucuk Bukit
74 Gerilya di Balik Layar
75 Merawat Akar, Menjaga Warisan
Episodes

Updated 75 Episodes

1
Pintu Kepulangan
2
Sangkar Kayu Cendana
3
Sisa Kenangan di Sudut Kota
4
Murka di Tanah Suci
5
Retaknya Langit di Atas Pesantren
6
Perjanjian di Ambang Duka
7
Akad di Ambang Perpisahan
8
Titah yang Menghancurkan
9
Serpihan Luka di Balik Pintu
10
Skandal di Balik Bayang-Bayang
11
Prahara di Kamar Terlarang
12
12: Manis di Balik Luka
13
Gema di Lorong Sunyi
14
Es Krim dan Getaran yang Tak Terduga
15
Rahasia yang Terhempas Badai
16
Badai di Jantung Kota
17
Prahara di Lembah Kelam
18
Puing-Puing di Balik Fajar
19
Luka yang Membekas di Meja Makan
20
Jejak Baru dan Rumah yang Sepi
21
Cahaya dalam Kegelapan
22
Di Balik Deru Badai
23
Fajar yang Berbeda
24
Jeratan Muslihat dan Penyerahan Diri
25
Kedamaian yang Terancam
26
Rahasia di Balik Selimut Sutra
27
Bayang-Bayang Badai Baru
28
Melebur dalam Hujan Badai
29
Semburat Fajar dan Jejak yang Tertinggal
30
Duri yang Mulai Tumbuh
31
Menembus Batas Kegelapan
32
Lembaran Baru di Balik Kabut
33
Buah dari Keikhlasan
34
Ketika Lilin Mulai Redup
35
Detik-Detik di Ambang Perpisahan
36
Air Mata yang Membasuh Bumi
37
Lembaran Baru dalam Panggilan Suci
38
Serpihan Luka di Balik Kain Hitam
39
Kerikil Tajam di Jalan Hijrah
40
Badai yang Menguji Keteguhan
41
Kebenaran yang Menuntut Keadilan
42
Detak Jantung yang Menyatukan Rasa
43
Sinar Baru di Langit Al-Fatih
44
Panggung Dunia dan Cahaya Takdir
45
Cahaya yang Menjemput Kebahagiaan
46
Langkah di Atas Sajadah Takdir
47
Riak Kecil di Balik Sinar Kebahagiaan
48
Tajam Lidah Sang Tamu
49
Riak yang Menjadi Gelombang
50
Barisan Pembela di Balik Tabir
51
Ular di Bawah Selimut Kampus
52
Taring-Taring Kesombongan
53
Palu Sidang di Tangan Tirani
54
Gemuruh Setelah Badai
55
Babak Baru di Atas Mimbar Ndalem
56
Benteng Keimanan dan Angin Badai dari London
57
Hidayah yang Mengetuk Pintu Hati
58
Benteng Hukum di Bawah Atap Pesantren
59
Lembaran Baru di Bawah Langit Subuh
60
Strategi di Atas Sajadah Perjuangan
61
Gurita Birokrasi dan Panggung Asia Tenggara
62
Badai Digital dan Keteguhan di Balik Mihrab
63
Jerat Hukum dan Panggung yang Berbalik
64
Barikade Aspal dan Pintu Langit yang Mengetuk
65
Kepulangan Para Pemenang dan Gerbang Masa Depan
66
Peletakan Batu Pertama dan Bayang-Bayang dari Masa Lalu
67
Palu Hukum Internasional dan Deklarasi di Balik Tembok Syariat
68
Deru Ekskavator dan Sinergi Dua Dunia
69
Hujan Pertama dan Ujian Komitmen
70
Lentera di Balik Kabut Fajar
71
Mengalirkan Berkah, Menenun Sejarah
72
Pondasi yang Berbicara
73
Mahkota di Atas Pucuk Bukit
74
Gerilya di Balik Layar
75
Merawat Akar, Menjaga Warisan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!