Retaknya Langit di Atas Pesantren

Sisa aroma wine yang dibuang Gus Malik semalam seolah masih menempel di langit-langit indra penciuman Lea, meski ruangan itu telah dibersihkan hingga mengilap. Lea terbangun dengan kepala yang berdenyut hebat. Efek alkohol dan tangis yang meledak semalam menyisakan mata yang bengkak dan rasa pahit di tenggorokan.

Ia duduk di tepi ranjang, menatap pantulan dirinya di cermin. Rambut pirangnya berantakan, dan ia merasa seperti alien yang terdampar di planet yang salah. Baru saja ia hendak meraih ponsel untuk memeriksa pesan dari Tom, sebuah suara jeritan tertahan dari arah kamar utama memecah kesunyian pagi.

"Mas... Mas Malik..."

Itu suara Najwa. Namun, nadanya tidak lembut seperti biasanya. Ada nada cekat, rasa sakit yang teramat sangat, dan keputusasaan di sana.

Lea langsung berlari keluar kamar tanpa memedulikan penampilannya yang hanya mengenakan kaos oversize. Di koridor, ia berpapasan dengan Gus Malik yang berlari lebih cepat. Wajah pria itu, yang biasanya kaku dan tenang bak batu karang, kini pucat pasi. Matanya memancarkan ketakutan yang murni.

Begitu Lea sampai di ambang pintu kamar Najwa, pemandangan di depannya membuat jantungnya seolah berhenti berdetak.

Najwa tergeletak di lantai di samping tempat tidurnya. Tangannya mencengkeram kuat seprai yang terseret jatuh. Wajahnya yang biasanya bersinar kini berwarna abu-abu kusam. Dan yang paling mengerikan, darah merah segar mengalir dari mulutnya, mengotori khimar putih yang belum sempat ia lepas sempurna setelah shalat Subuh.

"Najwa! Humaira!" Gus Malik berlutut di samping istrinya.

Pria yang biasanya sangat menjaga jarak itu kini mendekap tubuh Najwa dengan tangan yang gemetar hebat. Ia tidak peduli lagi dengan sorban yang jatuh atau bajunya yang mulai ternoda darah.

"Istighfar, Sayang... istighfar," bisik Malik dengan suara parau. Ia mencoba menyeka darah di bibir Najwa dengan tangannya sendiri, namun darah itu terus keluar seolah tak mau berhenti.

Lea mematung di pintu. Lututnya lemas. "Kak... Kak Najwa..."

Najwa mencoba bicara, namun yang keluar hanyalah suara napas yang berbunyi *ngik* yang sesak. Matanya yang sayu mencari-cari sosok adiknya. Saat ia melihat Lea berdiri gemetar di sana, ia mengulurkan tangannya yang lemah.

"Lea..." suaranya nyaris menyerupai bisikan angin.

"Mas, bawa ke rumah sakit! Tunggu apa lagi?!" teriak Lea histeris, menyadarkan Malik dari keterpakuannya.

Malik segera menggendong tubuh istrinya yang kini terasa sangat ringan—seolah penyakit itu telah mengisap seluruh kehidupan dari tubuh Najwa. "Siapkan mobil! Cepat!" perintah Malik kepada santri yang mulai berkerumun di luar karena mendengar keributan.

Suasana Rumah Sakit Islam di pusat kota terasa begitu dingin. Lea duduk di kursi tunggu kayu yang keras, sementara Gus Malik berdiri membelakangi semua orang, menghadap dinding kaca yang menampilkan langit Jakarta yang mendung.

Arkan, bocah kecil itu, tertidur di pangkuan Lea karena kelelahan setelah menangis sepanjang jalan. Lea menatap keponakannya itu. Wajah Arkan sangat mirip dengan Najwa. Polos, tenang, dan belum tahu bahwa dunianya sedang berada di ambang kehancuran.

"Gus..." Lea memanggil pelan. Suaranya serak.

Gus Malik tidak berbalik. Bahunya yang lebar nampak bergetar. Untuk pertama kalinya, Lea menyadari bahwa pria "sempurna" di mata orang-orang ini hanyalah seorang manusia biasa yang sedang hancur lebur.

"Kenapa lo nggak bilang kalau kondisinya separah ini?" tanya Lea, kali ini tanpa nada ketus. "Kalau gue tahu... gue nggak akan bikin ulah semalam."

Malik menarik napas panjang, sebuah tarikan napas yang terdengar menyakitkan. Ia akhirnya berbalik sedikit, namun tetap tidak menatap mata Lea. Ia menatap lantai, suaranya terdengar hampa.

"Dia yang meminta saya untuk menyembunyikannya darimu. Dia ingin kamu pulang karena rindu, bukan karena rasa kasihan," Malik menjeda. "Tapi sepertinya, waktu sudah tidak bisa diajak berkompromi lagi."

Seorang dokter keluar dari ruang ICU dengan wajah yang tak memberikan harapan. Malik segera menghampiri, mendengarkan penjelasan dokter dengan tubuh yang kaku. Lea tidak bisa mendengar dengan jelas, namun ia melihat Malik mendadak limbung, tangannya bertumpu pada dinding untuk menjaga agar ia tidak jatuh.

"Hanya mukjizat, Gus..." hanya potongan kalimat itu yang terdengar di telinga Lea.

Setelah dokter pergi, Malik berjalan perlahan menuju Lea. Ia berhenti sekitar dua meter di depannya. Tanpa menatap wajah Lea, ia bicara dengan nada yang sangat rendah, hampir seperti gumaman putus asa.

"Dia ingin bertemu denganmu. Masuklah."

Lea meletakkan Arkan di kursi dengan hati-hati, lalu melangkah masuk ke ruang ICU yang penuh dengan bunyi mesin *beeping* yang menyiksa. Di sana, di tengah tumpukan selang, Najwa berbaring. Sebuah masker oksigen menutupi separuh wajahnya.

"Lea..."

Lea memegang tangan kakaknya yang kini terasa sangat kurus. "Gue di sini, Kak. Jangan banyak bicara dulu."

Najwa menggeleng lemah. Ia melepaskan masker oksigennya sebentar dengan sisa tenaganya. "Waktu Kakak... nggak banyak. Lea, lihat Kakak."

Lea menunduk, air matanya jatuh tepat di atas tangan Najwa.

"Mas Malik... dia pria yang baik. Jangan lihat dinginnya, tapi lihat hatinya. Janji sama Kakak... jaga dia. Jaga Arkan. Jangan biarkan mereka sendirian saat Kakak pergi."

"Kak, lo bakal sembuh. Kita bisa ke luar negeri, kita cari pengobatan di sana—"

"Lea," potong Najwa lembut namun tajam. "Pulanglah ke pelukan yang halal. Jangan di London lagi. Mas Malik... dia akan menjagamu lebih dari dia menjaga nyawanya sendiri. Kakak percayakan mereka padamu."

Najwa terbatuk lagi, noda merah kembali muncul. Perawat segera masuk dan meminta Lea keluar agar pasien bisa beristirahat.

Di luar, Lea melihat Gus Malik sedang duduk bersimpuh di atas lantai koridor rumah sakit, di atas sajadah kecil yang selalu ia bawa. Pria itu sedang bersujud sangat lama. Lea tidak tahu apa yang ia minta dalam doanya, tapi isak tangis tertahan yang keluar dari punggung Malik yang bergetar sudah cukup menjelaskan segalanya.

Lea bersandar di dinding rumah sakit. Dunianya di London, klub malam, Tom, kebebasan... semuanya terasa memudar, menjadi buram. Yang ada sekarang hanyalah noda darah di baju kakaknya dan seorang pria dingin yang sedang memohon pada Tuhan agar istrinya jangan diambil dulu.

Hari itu, langit di atas pesantren terasa benar-benar retak, dan Lea tahu, ia tidak akan pernah bisa pulang ke London sebagai orang yang sama lagi. Takdir telah mengikatnya di sini, di tanah yang dulu sangat ia benci.

Episodes
1 Pintu Kepulangan
2 Sangkar Kayu Cendana
3 Sisa Kenangan di Sudut Kota
4 Murka di Tanah Suci
5 Retaknya Langit di Atas Pesantren
6 Perjanjian di Ambang Duka
7 Akad di Ambang Perpisahan
8 Titah yang Menghancurkan
9 Serpihan Luka di Balik Pintu
10 Skandal di Balik Bayang-Bayang
11 Prahara di Kamar Terlarang
12 12: Manis di Balik Luka
13 Gema di Lorong Sunyi
14 Es Krim dan Getaran yang Tak Terduga
15 Rahasia yang Terhempas Badai
16 Badai di Jantung Kota
17 Prahara di Lembah Kelam
18 Puing-Puing di Balik Fajar
19 Luka yang Membekas di Meja Makan
20 Jejak Baru dan Rumah yang Sepi
21 Cahaya dalam Kegelapan
22 Di Balik Deru Badai
23 Fajar yang Berbeda
24 Jeratan Muslihat dan Penyerahan Diri
25 Kedamaian yang Terancam
26 Rahasia di Balik Selimut Sutra
27 Bayang-Bayang Badai Baru
28 Melebur dalam Hujan Badai
29 Semburat Fajar dan Jejak yang Tertinggal
30 Duri yang Mulai Tumbuh
31 Menembus Batas Kegelapan
32 Lembaran Baru di Balik Kabut
33 Buah dari Keikhlasan
34 Ketika Lilin Mulai Redup
35 Detik-Detik di Ambang Perpisahan
36 Air Mata yang Membasuh Bumi
37 Lembaran Baru dalam Panggilan Suci
38 Serpihan Luka di Balik Kain Hitam
39 Kerikil Tajam di Jalan Hijrah
40 Badai yang Menguji Keteguhan
41 Kebenaran yang Menuntut Keadilan
42 Detak Jantung yang Menyatukan Rasa
43 Sinar Baru di Langit Al-Fatih
44 Panggung Dunia dan Cahaya Takdir
45 Cahaya yang Menjemput Kebahagiaan
46 Langkah di Atas Sajadah Takdir
47 Riak Kecil di Balik Sinar Kebahagiaan
48 Tajam Lidah Sang Tamu
49 Riak yang Menjadi Gelombang
50 Barisan Pembela di Balik Tabir
51 Ular di Bawah Selimut Kampus
52 Taring-Taring Kesombongan
53 Palu Sidang di Tangan Tirani
54 Gemuruh Setelah Badai
55 Babak Baru di Atas Mimbar Ndalem
56 Benteng Keimanan dan Angin Badai dari London
57 Hidayah yang Mengetuk Pintu Hati
58 Benteng Hukum di Bawah Atap Pesantren
59 Lembaran Baru di Bawah Langit Subuh
60 Strategi di Atas Sajadah Perjuangan
61 Gurita Birokrasi dan Panggung Asia Tenggara
62 Badai Digital dan Keteguhan di Balik Mihrab
63 Jerat Hukum dan Panggung yang Berbalik
64 Barikade Aspal dan Pintu Langit yang Mengetuk
65 Kepulangan Para Pemenang dan Gerbang Masa Depan
66 Peletakan Batu Pertama dan Bayang-Bayang dari Masa Lalu
67 Palu Hukum Internasional dan Deklarasi di Balik Tembok Syariat
68 Deru Ekskavator dan Sinergi Dua Dunia
69 Hujan Pertama dan Ujian Komitmen
70 Lentera di Balik Kabut Fajar
71 Mengalirkan Berkah, Menenun Sejarah
72 Pondasi yang Berbicara
73 Mahkota di Atas Pucuk Bukit
74 Gerilya di Balik Layar
75 Merawat Akar, Menjaga Warisan
Episodes

Updated 75 Episodes

1
Pintu Kepulangan
2
Sangkar Kayu Cendana
3
Sisa Kenangan di Sudut Kota
4
Murka di Tanah Suci
5
Retaknya Langit di Atas Pesantren
6
Perjanjian di Ambang Duka
7
Akad di Ambang Perpisahan
8
Titah yang Menghancurkan
9
Serpihan Luka di Balik Pintu
10
Skandal di Balik Bayang-Bayang
11
Prahara di Kamar Terlarang
12
12: Manis di Balik Luka
13
Gema di Lorong Sunyi
14
Es Krim dan Getaran yang Tak Terduga
15
Rahasia yang Terhempas Badai
16
Badai di Jantung Kota
17
Prahara di Lembah Kelam
18
Puing-Puing di Balik Fajar
19
Luka yang Membekas di Meja Makan
20
Jejak Baru dan Rumah yang Sepi
21
Cahaya dalam Kegelapan
22
Di Balik Deru Badai
23
Fajar yang Berbeda
24
Jeratan Muslihat dan Penyerahan Diri
25
Kedamaian yang Terancam
26
Rahasia di Balik Selimut Sutra
27
Bayang-Bayang Badai Baru
28
Melebur dalam Hujan Badai
29
Semburat Fajar dan Jejak yang Tertinggal
30
Duri yang Mulai Tumbuh
31
Menembus Batas Kegelapan
32
Lembaran Baru di Balik Kabut
33
Buah dari Keikhlasan
34
Ketika Lilin Mulai Redup
35
Detik-Detik di Ambang Perpisahan
36
Air Mata yang Membasuh Bumi
37
Lembaran Baru dalam Panggilan Suci
38
Serpihan Luka di Balik Kain Hitam
39
Kerikil Tajam di Jalan Hijrah
40
Badai yang Menguji Keteguhan
41
Kebenaran yang Menuntut Keadilan
42
Detak Jantung yang Menyatukan Rasa
43
Sinar Baru di Langit Al-Fatih
44
Panggung Dunia dan Cahaya Takdir
45
Cahaya yang Menjemput Kebahagiaan
46
Langkah di Atas Sajadah Takdir
47
Riak Kecil di Balik Sinar Kebahagiaan
48
Tajam Lidah Sang Tamu
49
Riak yang Menjadi Gelombang
50
Barisan Pembela di Balik Tabir
51
Ular di Bawah Selimut Kampus
52
Taring-Taring Kesombongan
53
Palu Sidang di Tangan Tirani
54
Gemuruh Setelah Badai
55
Babak Baru di Atas Mimbar Ndalem
56
Benteng Keimanan dan Angin Badai dari London
57
Hidayah yang Mengetuk Pintu Hati
58
Benteng Hukum di Bawah Atap Pesantren
59
Lembaran Baru di Bawah Langit Subuh
60
Strategi di Atas Sajadah Perjuangan
61
Gurita Birokrasi dan Panggung Asia Tenggara
62
Badai Digital dan Keteguhan di Balik Mihrab
63
Jerat Hukum dan Panggung yang Berbalik
64
Barikade Aspal dan Pintu Langit yang Mengetuk
65
Kepulangan Para Pemenang dan Gerbang Masa Depan
66
Peletakan Batu Pertama dan Bayang-Bayang dari Masa Lalu
67
Palu Hukum Internasional dan Deklarasi di Balik Tembok Syariat
68
Deru Ekskavator dan Sinergi Dua Dunia
69
Hujan Pertama dan Ujian Komitmen
70
Lentera di Balik Kabut Fajar
71
Mengalirkan Berkah, Menenun Sejarah
72
Pondasi yang Berbicara
73
Mahkota di Atas Pucuk Bukit
74
Gerilya di Balik Layar
75
Merawat Akar, Menjaga Warisan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!