Kenapa dia harus pindah kesini ?

   Hari ini aku bisa berangkat lebih awal dari hari biasanya. Tak perlu lagi ku pacu si coklat motor matic yang kubeli setahun lalu. Tiga bulan terakhir aku terpaksa berangkat agak siang karena harus membantu mbak Miysa buka toko sembakoku terlebih dahulu.

   Alhamdulillah setelah tiga bulan buka tokoku mulai ramai dan jika hanya berdua sama mbak Misya saja kami kewalahan melayani pembeli.Akhirnya mulai hari ini aku merekrut dua kakak asuh ku di panti untuk membantu mbak menjaga toko.

   Awalnya mbak Misya selalu menolak saat aku bilang mau membuka lowongan katanya kita berdua saja cukup. Tapi, karena semakin kesini semakin ramai dia nyerah juga akhirnya.

  " Sheev, usul kamu kemaren kayaknya memang benar deh ?" Ucap mbak May dua hari lalu.

  " Usul yang mana mbak ?" Ucapku dengan masih sibuk menghitung penghasilan kami hari itu.

  " Cari pegawai " Aku terkekeh.

  " Lha siapa coba yang kemaren bilang masih bisa handle semua sendiri ?" Mbak Misya hanya tersenyum.

  " Makin hari pelangan kita makin banyak Sheev, suka kewalahan kalau pas kamu nggak ada. Kasian pada ngantri pelangan kita "

   " Kira-kira mbak ada pandangan tidak ?"

   " Kemaren sih Mutia sama Andi yang cerita lagi cari pekerjaan " Aku menoleh ketika nama kak Andi di sebut. Karena setau aku kak Andi sudah tiga bulan kerja jadi OB di salah satu perusahaan swasta.

    " Lho bukannya kak Andi katanya kerja di perusahaan jadi OB mbak ?" Aku tanya saja dari pada penasaran.

   " Udah nggak di perpanjang kontraknya. Kamu tau kan Andi itu kelawatan rajinnya. Ada seniornya yang nggak suka. "

   " Ada orang kerja rajin kok malah nggak suka gimana ceritanya itu ?"

  " Ya begitulah dunia kerja Sheev "

   " Oya rencana mau ambil berapa orang kamu ?"

  " Gimana kalau dua-duanya biar di sini mbak, soalnya aku ada rencana buat beli armada buat kirim barang. Jadi pembeli yang beli dalam partai besar bisa mendapat jasa antar begitu mbak "

   " Kak Andi bisa nyetir nggak ya mbak ?"

   " Bisa kayaknya. Kalau boleh saran Sheev, jangan dulu beli mobil. Bisakan motor roda tiga dulu."

" Yang ada gerobak belakangnya gitu mbak ?' mbak Misya mengangguk.

" Iya Sheev soalnya yang buat parkir an juga belum ada"

" Ya udah itu dulu juga tidak apa-apa mbak "

Jadilah mulai pagi ini kak Andi dan mbak Mutia sudah mulai aktif di toko. Jadi aku bisa berangkat sekolah lebih awal dan lebih tenang.

Sekolah masih terlihat sepi, maklum baru pukul 06.30 pagi. Biasa anak-anak baru akan datang di pukul 06.45. Kebanyakan siswa memilih datang mepet jam masuk, bahkan tidak sedikit yang jadinya terlambat.

" Pagi Sheeva tumben sudah sampai jam segini ?" Langkahku terhenti sejenak, karena sapaan dari Bisma.

" Pagi juga Bis, iya jalanan agak lenggang tadi."

" Aku duluan Bis " aku melangkah tanpa menunggu jawaban dari Bisma.

Kelasku masih terasa lengang, banyak bangku yang masih kosong. Ku putuskan membuak buku desaiku yang selau ku bawa kemana-mana. Lumayan sembari menunggu jam masuk setidaknya satu desai baju bisa aku selesaikan.

Menjelang jam masuk kelas ku mulai ramai. Akau masih fokus dengan gambar milikku. sampai...

" Hay Sheevaku tumben sudah sampai ?" Nindi sepertinya terkejut melihatku sudah berada di kelas.

" Iya mbak Misya sudah ada yang bantuin di toko, jadi aku bisa berangkat lebih awal. Nggak perlu bantu mbak Misya buka toko dulu "

" Wah bu bos kita bisa santai dong sekarang ? "

" Kalau begitu balik sekolah nanti bisa dong mampir ke kafe sebentar, mama sama kak Agung kangen kamu katanya."

" Lihat nanti ya Nin, soalnya hari ini ada suplayer mau datang." Nindy mengacungkan ibu jarinya lalu beralih duduk di bangkunya sendiri.

Bel tanda jam pelajaran pertama akan dimulai sudah berbunyi. Kelasku mendadak riuh saat bu Sari wali kelas kami masuk bersama seorang siswa baru.

Aku terkejut begitu mengetahui yang masuk bersama bu Sari adalah Pamungkas saudara tiriku. Jantungku berdetak tak karuan. Kenapa dia harus pindah ke sekolah ini, bagaimana kalau nanti dia harus bertemu dengan papa dan saudara tiriku yang lain ?

" Kamu kenapa Sheev, kenal sama anak baru itu ?" Nindy rupanya begitu peka. Aku hanya bisa menjawab dengan angukan.

" Siapa ?"

" Anak papaku " Nindy pun sepertinya juga terkejut. Dia menatap sendu kearahku.

" Are you ok ? " Aku mengeleng lemah.

Anehnya pamungkas tak terkejut melihat keberadaanku. Dia malah terlihat menunduk saat kamitak sengaja saling tatap. Ada apa dengan anak ini, bukankah dia biasanya selalu membuat onar ?

Aku sudah mencoba fokus dengan pelajaran akan tetapi, konsentrasiku benar-benar sudah pecah. Bahkan sampai bel tanda jam istirahat berbunyi.

" Sheev ke kantin yuk ?" Ucap Nindy.

" Kamu duluan aja Nin, aku mau ketoilet dulu "

" Ya mana seru Sheev ?"

" Kan ada ayang kamu Nin, itu sudah di jemput "Nindy hanya tersenyum.

" Ya sudah aku duluan. Langsung nyusul ke kantin ya ?" Aku hanya menjawab dengan anggukan.

Tanpa ku duga setelah kepergian Nindy dan kelas mulai kosong, Pamungkas mendekat kearahku dan langsung duduk di depanku.

" Sorry !" Aku terkejut.

Seorang pamungkas yang hanya tau membuat onar mengucap maaf, demi apa ini ?

" Untuk apa ?"

" Untuk sikap burukku di masa lalu " Aku semakin heran di buatnya. Ini benar Pamungkas bukan sih ?

" Yang sudah berlalu ya sudah biarkan saja berlalu. Aku hanya minta satu hal sama kamu ?"

" Apa itu ?"

" Tolong jangan sampai ada yang tau kalau aku saudara tirmu "

" Why ?"

" Aku hanya ingin hidup tenang. Anggap saja Queen kalian sudah mati " Pamungkas nampak keberatan dengan ucapanku.

" Dan satu lagi, jangan sampai ada keluargamu yang tau kalau aku di sini "

" Jangan risau gue udah lama keluar dari rumah itu " aku dapat melihat dengan jelas ada amarah dari sorot mata Pamungkas.

" Kenapa ? " jujur aju penasaran, anak mami seperti dia milih keluar dari rumah nyamannya.

" Sama kayak loe, gue nggak nyaman disana "

" Loe tau kan bang Jagad dan bang Erlan masih selalu mengawasi loe ?" aku mengangguk.

" Papa sehat kan ?"

" Sehat badanya, tapi, mentalnya seprtinya nggak "

" Loe nggak mau ambil apa yang sebenarnya menjadi hak loe ?" Aku lagi-lagi di buat terkejut dengan pertanyaan yang di lontarkan pamungkas.

" Buat apa ?"

" Toh tanpa itu semua aku masih bisa hidup sampai saat ini "

" Queen.."

" Please jangan panggil aku dengan panggilan itu "

" Sorry !"

Aku memilih keluar kelas lebih dulu. Sesak rasanya dadaku jika harus berlama-lama ada bersama seseorang yang membuat kenangan pahit itu berputar kembali.

Lima tahun aku menjauh, mencoba menyembuhkan luka itu sendiri. Menutup segala akses dengan orang-orang yang bergelar keluargaku. Walau ku tahu bang Jagad dan bang Erlan tidak pernah lepas mengawasiku.

" Mah kenapa masih sesakit ini " bulir air mataku tak mampu ku bendung.

Bayangan ketika mama harus meregang nyawa di hadapku kembali menari-nari di atas kepalaku.

Aku baru kelas 7 waktu itu dan harus meyaksikan mamaku mengalami insiden kecelakan persis di depan mataku.

Siang itu mama menjemputku saat pulang sekolah karena bang Jagad harus menghadiri pesta ulang tahun mama kadungnya. Yang tak lain adalah mama tiriku.

Mama yang baru keluar dari mobil tiba-tiba di tabrak dengan keras oleh sebuah sepeda motor yang melaju dengan kencang. Mama terpental jauh, tubuhku bergetar hebat waktu itu. Bahkan sampai sekarang aku masih selalu begitu jika mengingat hal itu.

Dari segala kejadian itu hal yang membuat ku sakit adalah papa yang tak kunjung datang meskipun sudah aku kabari sejak awal. Bahkan dia baru datang saat kami sudah selesai menguburkan jasad mama. Hanya bang Jagad yang lansung datang. Dan hanya om David dan bunda Aya lah yang mendampingiku sedari awal.

Tak menaruh rasa benci, hanya masih sakit jika bertemu dengan mereka. Untuk itu kau pergi ke panti asuhan bunda Aya.

Terpopuler

Comments

𝐈𝐬𝐭𝐲

𝐈𝐬𝐭𝐲

lanjuut thor ..

2026-05-03

1

lihat semua
Episodes
1 Luka itu belum juga sembuh
2 SMA Harapan Bangsa
3 Kenapa dia harus pindah kesini ?
4 Kenapa masih sesakit ini bun ?
5 Zalindra Kay Aditama
6 Tak mau hilang kesempatan.
7 Rejeki di sore hari
8 Markas the King
9 Jangan macam-macam Kay
10 Duduk bersama
11 Jangan ganggu kenyamanan Sheeva
12 Huru-hara
13 Tak nyaman
14 Dia bukan anak pelakor
15 Gue keluar
16 Bakti sosial jilid 1
17 Bakti sosial part 2
18 Belanja kebutuhan toko
19 Anggap saja aku sudah mati
20 Jangan lagi ganggu Sheeva
21 Sheeva koma ?
22 Siapa dia son ?
23 Cepatlah bangun Sweety
24 Sheeva siuman
25 Aku bikin repot ya ?
26 Nggak nafsu daddy sama dia
27 Beginikah di peluk seorang ayah ?
28 Maukah mendengar cerita hidupku ?
29 Cerita Sheeva
30 Entah aku anak kandugnya atau bukan
31 Ciuman
32 Mulut orang cantik jangan buat bicara buruk
33 Jasmine kembali berulah
34 Di panggil BK
35 Kalian jadian aja
36 Bala bantuan
37 Jangan paksa dirimu
38 Eldrick syailendra
39 kapan aku bisa memeluknya dengan erat ?
40 Calon mantu tante
41 Maafin aku abang
42 Sheeva di culik
43 Beraninya kalian melukai cucuku
44 Kamu Yakin ?
45 Aku lelah bunda
46 Biar nggak di modusin
47 Maafin mama ya opa
48 Aku tidak akan kecewa
49 Memberi pelajaran
50 Berdamai dengan takdir
51 Jalan-jalan yuk
52 Rumah baru untuk Widya
53 Sheeva sama aku
54 Apa ada yang aku tidak tau opa ?
55 Mungkin ini karmaku
56 Teman ngobrol
57 Pandu kecelakaan
58 Mulai terkuak
59 Kemana kamu Sheev ?
60 Aku anak siapa ?
61 Sheeva butuh kita
62 Aku pulang kak
63 Maaf aku kekanak-kanakan
64 Erlangga Wijaya
65 Aku pikir abang paling memahaminya
66 Siapa yang membawa dia kesana ?
67 Wasana Warsa
68 Dad, tolong lamar Sheeva untukku
69 Andai aku tak egois
70 Makan malam dadakan
71 Aku pikir kamu ngambek
72 Balapan
73 Anda pikir ruko saya yayasan sosial
Episodes

Updated 73 Episodes

1
Luka itu belum juga sembuh
2
SMA Harapan Bangsa
3
Kenapa dia harus pindah kesini ?
4
Kenapa masih sesakit ini bun ?
5
Zalindra Kay Aditama
6
Tak mau hilang kesempatan.
7
Rejeki di sore hari
8
Markas the King
9
Jangan macam-macam Kay
10
Duduk bersama
11
Jangan ganggu kenyamanan Sheeva
12
Huru-hara
13
Tak nyaman
14
Dia bukan anak pelakor
15
Gue keluar
16
Bakti sosial jilid 1
17
Bakti sosial part 2
18
Belanja kebutuhan toko
19
Anggap saja aku sudah mati
20
Jangan lagi ganggu Sheeva
21
Sheeva koma ?
22
Siapa dia son ?
23
Cepatlah bangun Sweety
24
Sheeva siuman
25
Aku bikin repot ya ?
26
Nggak nafsu daddy sama dia
27
Beginikah di peluk seorang ayah ?
28
Maukah mendengar cerita hidupku ?
29
Cerita Sheeva
30
Entah aku anak kandugnya atau bukan
31
Ciuman
32
Mulut orang cantik jangan buat bicara buruk
33
Jasmine kembali berulah
34
Di panggil BK
35
Kalian jadian aja
36
Bala bantuan
37
Jangan paksa dirimu
38
Eldrick syailendra
39
kapan aku bisa memeluknya dengan erat ?
40
Calon mantu tante
41
Maafin aku abang
42
Sheeva di culik
43
Beraninya kalian melukai cucuku
44
Kamu Yakin ?
45
Aku lelah bunda
46
Biar nggak di modusin
47
Maafin mama ya opa
48
Aku tidak akan kecewa
49
Memberi pelajaran
50
Berdamai dengan takdir
51
Jalan-jalan yuk
52
Rumah baru untuk Widya
53
Sheeva sama aku
54
Apa ada yang aku tidak tau opa ?
55
Mungkin ini karmaku
56
Teman ngobrol
57
Pandu kecelakaan
58
Mulai terkuak
59
Kemana kamu Sheev ?
60
Aku anak siapa ?
61
Sheeva butuh kita
62
Aku pulang kak
63
Maaf aku kekanak-kanakan
64
Erlangga Wijaya
65
Aku pikir abang paling memahaminya
66
Siapa yang membawa dia kesana ?
67
Wasana Warsa
68
Dad, tolong lamar Sheeva untukku
69
Andai aku tak egois
70
Makan malam dadakan
71
Aku pikir kamu ngambek
72
Balapan
73
Anda pikir ruko saya yayasan sosial

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!