Kenapa masih sesakit ini bun ?

   Nindy di langsung menuju halaman belakang sekolah saat dia tidak menemukan Sheeva baik dikelas maupun di ruang osis. Benar saja sahabat baiknya itu sedang duduk di bawah rindangnya pohon rambutan.

Melihat tubuh sahabat baiknya bergetar hebat, Nindy tau kalau Sheeva sedang tidak baik-baik saja. Dia menghela nafas.kedatangan anak baru tadi pasti mengungkit luka lama Sheeva.

" Sheev..!" Sheeva menoleh,air matanya sudah tumpah. Reflek Nindy langsung memeluk erata tubuh sahabatnya itu.

" Nin kenapa sesakit ini ?" Nindy tak menjawab, dia hanya terus memeluk tubuh Sheeva.

" Mau masuk kelas apa pulang ?" Ucap Nindy setelah dia merasa Sheeva sedikit agak tenang.

" Kalau au pulang tidak apa. Barusan ada pengumunan, karena ada rapat yang tidak ada ekstra boleh pulang "

" Pulang saja "

" Ya sudah, kamu tunggu saja di parkiran. Biar tas sama barang kamu aku yang ambil dikelas " Nindy membantu Sheeva berdiri.

" Makasih banyak ya NIn "

" Sama-sama, itulah gunanya sahabat Sheev. Udah hapus dulu air mata kamu.jangan biarkan mereka tau sisi rapuhmu " Sheeva mengangguk, dia meraih tisu yang d sodorkan Nindy lalu secara perlahan menghapus air matanya.

Nindy memaksa mengantar Sheeva pulang. Tidak mungkin dia membiarkan Sheeva pulang seorang diri dalam suasana hatinya yang sedang tidak baik begini.

Dia juga sudah inisiatif menghubungi Misya agar tak terkejut saat melihat Sheeva pulang lebih awal dan dalam kondisi begini. Dan Misya juga tanpa di minta Andi segera menjemput bunda Aya, karena hanya beliau yang bisa menenangkan Sheeva.

" Sudah ya jangan nangis terus, kepala kakak bisa sakit kalau begini " Dengan lembut bunda Aya mencoba menenangkan Sheeva.

" Kenapa masih sesakit ini ya bun ?" Pertanyaan itu lagi yang keluar dari mulut mungil Sheeva. Bunda hanya bisa menghela nafas. Begitu juga dengan Nindy dan Misya yang duduk tidak jauh dari Sheeva dan bunda Aya.

" Karena kakak mengenggamnya terlalu erat " Ucap Bunda Aya sembari menguap lembut surai hitam legam milik Sheeva. salah satu hal yang di turunkan seorang Maharani di tubuh putrinya itu.

" Ihklaskan dan perlahan lepaskan nak, agar jiwamu tidak terus-terusan merasa sakit."

" Ihklas bukan berarti melupakan, hanya berdamailah dengan dirimu sendiri. Yakinkan dalam dirimu, jika apapun itu yang terjadi dalam hidupmu adalah takdir yang maha kuasa."

" Apa aku bisa bun ?" Lagi-lagi bunda Aya menghela nafas. Menghadapi Sheeva dalam kondisi begini hanya perlu bersabar dan mengenggamnya penuh kasih sayang.

"Tentu kak, semua tergantung pada dirimu sendiri."

" Jangan terus kuras energimu buat memikirkan kenapa semua harus begini, kenepa semua harus terjadi pada diriku ?"

" Pergunakan saja waktu kakak untuk mengejar asa yang ada di dalam diri kakak. Dan perlahan lepaskan amarah yang ada dalam dadamu ini " Ucap bunda Aya sembari mengusap lembut dada Sheeva.

" Bunda tidak meminta kamu melupakan, tidak nak, karena semakin keras kita mencoba melupakan maka justru akan semakin menyakiti kamu, karena secara tidak langsung kamu justru mengingatnya kembali "

" Lepaskan pelan-pelan amarah yang kamu pendam selama ini. Belajar ihklas atas segela ketetapan yang maha kuasa. Agar kamu tidak lelah sendiri sayang " Sheeva tertunduk.

" Terus kalau tiba-tiba ketemu mereka begini gimana bun ?"

" Kalau tiba-tiba papa ada di hadapanku gimana bun ?"

Dengan lembut bunda Aya menghapus air mata yang membasahi pipi Sheeva.

" Cukup lakukan wajibmu sebagai seorang anak. Jangan lantas kamu hilang rasa hormat karena papamu sedang terseah dan berbuat salah "

" Biar bagaimana hanya dia orang tuamu yang masih ada di dunia ini. Bunda yakin kok, jauh di dalam lubuk hati papamu ada cinta yang masih tersisa untukmu "

" Apa kakak tidak pernah sekali saja kangen sama papa atau bang jagad ?" Sheeva mengeleng.

" Hanya bayangan mama yang kesakitan dan diam-diam menangis yang muncul di benakku ketika mengingat papa " Jawab Sheeva engan suara dingin.

Bunda Aya, Misya dan Nindy hanya bisa menghela nafas. Mereka tau betapa menumpuknya luka dihati seorang Sheeva. Bahkan luka itulah yang mengubah pribadi seorang Sheeva menjadi lebih dinggi dan tertutup.

" Tidak apa-apa sayang. Pelan-pelan saja. Lebih banyak mendekatkan diri pada yang maha kuasa saja. Mintalah kelapangan hati. Agar hidup yang kamu jalani menjadi lebih ringan ke depannya." Sheeva hanya mengangguk, perlahan dia rebahkan kepalanya di pangkuan wanita yang terus memeluknya selema lima tahun belakangan ini.

Dengan lembut bunda Aya mengusap kepala Sheeva. masih segar dalam ingatannya kala malam-malam Sheeva datang kepantinya dalam kondisi basah kuyub karena kehujanan. Dan berakhir dia deman berhari-hari.

Tatapan kosong Sheeva kala itu terus terbayang di pelupuk matanya. Dan tangis sheeva secara diam-diam di malam hari selalu menemaninya di satu tahun kepindahan Sheeva.

Kehilangan mamanya membuat Sheeva kehilangan pula keceriaannya. Terlebih sikap acuh papanya dan mulut jahat saudara dan ibu tirinya membuat Sheeva kian terpuruk.

Butuh bertahun-tahun dia memulihkan kondisi Sheeva waktu itu. Bahkan Sheeva terpaksa rutin menemui psikiater demi kesehatan jiwanya yang teramat terguncang saat itu. Masih bisa dia tatap hingga saat ini adalah anugrah yang tak terhingga. Jiwa labil anak umur 13 tahun itu sempat membuat Sheeva hampir mengakhiri hidupnya dengan cara memotong nadinya. Beruntung David datang tepat waktu.

" Tidur dia bunda ?" Ucap Nindy yang mendengar dengkuran halus Sheeva. Bunda aya mengangguk.

Dengan pelan beliau memindahkan kepala Sheeva ke banta agar lebih nyaman.

" Benar Nin, Pamungkas pindah ke sekolah Sheeva ?" Ucap Bunda Aya setelah mereka keluar dari kamar Sheeva.

" Iya bunda baru hari ini dan sau kelas dengan kami " Bunda Aya memejamkan matanya.

" Tapi anehnya dia tidak membuat huru-hara bun "

" Maksudnya ?"

" Ya kita kan tau gimana nyebelinnya bocah satu itu mbak ?" Misya mengangguk.

" Dia lho bahkan tertunduk saa nggak sengaja bersitatap dengan Sheeva mbak, kayak merasa bersalah atau apa ya. Pokoknya nggak dia banget mbak "

" Serius kamu ?" Nindy mengangguk.

" dan dari info yang aku dapat dari ayang beb aku kak, dia udah keluar dari rumah Sheeva sejak beberapa bulan yang lalu katanya "

" Entah apa lagi yang dilakukan kak Pandu dan istrinya sampai anak semanja Pamungkas memilih keluar dari rumahnya " Ucap Bunda Aya lirih.

" Biarin aja bun, mau kocar- kacir keluarga mereka juga bodo amat. Karma sedang berlaku sepertinya "

" Huss jangan bilang begitu nak"

" Gemes habisnya bunda, ada keluarga model tuturan Fir'aun semua begitu. Mana hidup lagi " Maysa hanya bisa mengelengkan kepala melihat Nindy terus mengumpat.

" Ya udah biar Sheeva tidur terlebih dahulu. Bunda kan masakan sup favorit dia, siapa tau dengan sup itu dia mau makan setelah dia bangun nanti "

" Aku bantuin ya bun ?" Ucap Nindy. Bunda Aya hanya mengangguk.

" kalau begitu aku turun ya bun. Buat bantuin Mutia dan Andi "

" Iya mbak "

Episodes
1 Luka itu belum juga sembuh
2 SMA Harapan Bangsa
3 Kenapa dia harus pindah kesini ?
4 Kenapa masih sesakit ini bun ?
5 Zalindra Kay Aditama
6 Tak mau hilang kesempatan.
7 Rejeki di sore hari
8 Markas the King
9 Jangan macam-macam Kay
10 Duduk bersama
11 Jangan ganggu kenyamanan Sheeva
12 Huru-hara
13 Tak nyaman
14 Dia bukan anak pelakor
15 Gue keluar
16 Bakti sosial jilid 1
17 Bakti sosial part 2
18 Belanja kebutuhan toko
19 Anggap saja aku sudah mati
20 Jangan lagi ganggu Sheeva
21 Sheeva koma ?
22 Siapa dia son ?
23 Cepatlah bangun Sweety
24 Sheeva siuman
25 Aku bikin repot ya ?
26 Nggak nafsu daddy sama dia
27 Beginikah di peluk seorang ayah ?
28 Maukah mendengar cerita hidupku ?
29 Cerita Sheeva
30 Entah aku anak kandugnya atau bukan
31 Ciuman
32 Mulut orang cantik jangan buat bicara buruk
33 Jasmine kembali berulah
34 Di panggil BK
35 Kalian jadian aja
36 Bala bantuan
37 Jangan paksa dirimu
38 Eldrick syailendra
39 kapan aku bisa memeluknya dengan erat ?
40 Calon mantu tante
41 Maafin aku abang
42 Sheeva di culik
43 Beraninya kalian melukai cucuku
44 Kamu Yakin ?
45 Aku lelah bunda
46 Biar nggak di modusin
47 Maafin mama ya opa
48 Aku tidak akan kecewa
49 Memberi pelajaran
50 Berdamai dengan takdir
51 Jalan-jalan yuk
52 Rumah baru untuk Widya
53 Sheeva sama aku
54 Apa ada yang aku tidak tau opa ?
55 Mungkin ini karmaku
56 Teman ngobrol
57 Pandu kecelakaan
58 Mulai terkuak
59 Kemana kamu Sheev ?
60 Aku anak siapa ?
61 Sheeva butuh kita
62 Aku pulang kak
63 Maaf aku kekanak-kanakan
64 Erlangga Wijaya
65 Aku pikir abang paling memahaminya
66 Siapa yang membawa dia kesana ?
67 Wasana Warsa
68 Dad, tolong lamar Sheeva untukku
69 Andai aku tak egois
70 Makan malam dadakan
71 Aku pikir kamu ngambek
72 Balapan
73 Anda pikir ruko saya yayasan sosial
Episodes

Updated 73 Episodes

1
Luka itu belum juga sembuh
2
SMA Harapan Bangsa
3
Kenapa dia harus pindah kesini ?
4
Kenapa masih sesakit ini bun ?
5
Zalindra Kay Aditama
6
Tak mau hilang kesempatan.
7
Rejeki di sore hari
8
Markas the King
9
Jangan macam-macam Kay
10
Duduk bersama
11
Jangan ganggu kenyamanan Sheeva
12
Huru-hara
13
Tak nyaman
14
Dia bukan anak pelakor
15
Gue keluar
16
Bakti sosial jilid 1
17
Bakti sosial part 2
18
Belanja kebutuhan toko
19
Anggap saja aku sudah mati
20
Jangan lagi ganggu Sheeva
21
Sheeva koma ?
22
Siapa dia son ?
23
Cepatlah bangun Sweety
24
Sheeva siuman
25
Aku bikin repot ya ?
26
Nggak nafsu daddy sama dia
27
Beginikah di peluk seorang ayah ?
28
Maukah mendengar cerita hidupku ?
29
Cerita Sheeva
30
Entah aku anak kandugnya atau bukan
31
Ciuman
32
Mulut orang cantik jangan buat bicara buruk
33
Jasmine kembali berulah
34
Di panggil BK
35
Kalian jadian aja
36
Bala bantuan
37
Jangan paksa dirimu
38
Eldrick syailendra
39
kapan aku bisa memeluknya dengan erat ?
40
Calon mantu tante
41
Maafin aku abang
42
Sheeva di culik
43
Beraninya kalian melukai cucuku
44
Kamu Yakin ?
45
Aku lelah bunda
46
Biar nggak di modusin
47
Maafin mama ya opa
48
Aku tidak akan kecewa
49
Memberi pelajaran
50
Berdamai dengan takdir
51
Jalan-jalan yuk
52
Rumah baru untuk Widya
53
Sheeva sama aku
54
Apa ada yang aku tidak tau opa ?
55
Mungkin ini karmaku
56
Teman ngobrol
57
Pandu kecelakaan
58
Mulai terkuak
59
Kemana kamu Sheev ?
60
Aku anak siapa ?
61
Sheeva butuh kita
62
Aku pulang kak
63
Maaf aku kekanak-kanakan
64
Erlangga Wijaya
65
Aku pikir abang paling memahaminya
66
Siapa yang membawa dia kesana ?
67
Wasana Warsa
68
Dad, tolong lamar Sheeva untukku
69
Andai aku tak egois
70
Makan malam dadakan
71
Aku pikir kamu ngambek
72
Balapan
73
Anda pikir ruko saya yayasan sosial

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!