SERIBU JARUM EMAS

SERIBU JARUM EMAS

BAB 1: JARUM YANG BERNYANYI DI MALAM HARI

Langit malam di atas Kota Kekaisaran Chang An terlihat gelap dan sunyi. Bulan purnama bersinar samar tertutup kabut tipis, memantulkan cahaya keperakan di atas atap-atap genteng kuno yang berjajar rapi. Angin berhembus dingin, membawa aroma bunga plum yang harum, namun bercampur dengan bau besi tajam yang menusuk hidung—aroma yang selalu hadir sebelum pertumpahan darah terjadi.

Di sebuah gang sempit yang gelap, diapit oleh dua tembok tinggi yang menjulang seperti tembok penjara, suasana mencekam.

Sepuluh orang pria berbadan kekar, mengenakan pakaian hitam legam dan wajah tertutup kain, sedang mengepung satu sosok tunggal di tengah lingkaran maut. Di tangan masing-masing, mereka menggenggam golok berkarat yang panjangnya hampir satu meter. Mata pisau itu berkilau ganas, seolah sudah haus akan nyawa.

"Kau pikir dengan baju putih lusuh itu kau bisa lolos dari tangan kami, bocah sialan?" geram ketua kelompok itu. Ia adalah pria bertubuh raksasa dengan bekas luka memanjang dari dahi hingga ke dagu, membuat wajahnya terlihat semakin mengerikan.

"Kami dari Sekte Darah Hitam tidak pernah melepaskan mangsa kami. Hari ini... adalah hari kematianmu!"

Sosok yang dikepung itu tidak bergeming sedikitpun. Ia hanya berdiri santai, kedua tangannya dimasukkan ke dalam lengan bajunya yang lebar, seolah tidak peduli dengan ancaman nyawa yang mengintai di depannya.

Ia adalah seorang pemuda yang tampan luar biasa. Wajahnya bersih, kulitnya putih bersih, dan rambut hitam pekatnya diikat rapi dengan pita kayu sederhana. Namun, yang paling mencolok adalah ekspresi di wajahnya.

Ia tersenyum.

Bukan senyum ketakutan, bukan pula senyum marah. Melainkan senyum santai, bahkan terlihat sedikit ceroboh, seolah-olah ia bukan sedang dikepung oleh pembunuh bayaran, melainkan sedang duduk santai di taman menikmati secangkir teh hangat.

Namanya Mo Fei.

Di dunia persilatan yang luas ini, nama Mo Fei mungkin tidak setenar Pendekar Pedang Naga atau Raja Tombak yang gagah berani. Tapi bagi mereka yang hidup di dunia bawah tanah, bagi para pembunuh dan penjahat, nama Mo Fei adalah sinyal kematian yang nyata.

"Kalian ini... berisik sekali," ucap Mo Fei pelan. Suaranya lembut, namun terdengar jelas sampai ke telinga sepuluh orang itu, memotong suara angin yang menderu.

"Malam ini seharusnya tenang dan damai. Kenapa harus ada yang merusak suasana dengan amarah yang tak berguna?"

"Berisik!!" teriak si Ketua Luka Pipi, emosinya meledak mendengar jawaban santai itu. "Kau berani menertawakan kami?! Serang!! Bunuh dia!! Cincang tubuhnya jadi seribu potong!! Jangan biarkan satu tulang pun utuh!!"

WUUUSSS!!!

Sepuluh golok diayunkan serentak dengan kekuatan penuh. Udara terbelah, mengeluarkan suara menderu ganas seperti raungan binatang buas. Sepuluh senjata mematikan itu bergerak begitu cepat, menutup segala celah yang bisa dilalui oleh tubuh manusia.

Dalam serangan itu, tidak ada ampun. Hanya ada niat membunuh yang membara.

Para penjahat itu yakin seyakin-yakinnya. Meskipun lawannya adalah pendekar tingkat tinggi, mustahil ada orang yang bisa selamat dari hujan golok sepadat ini. Tubuh bocah berbaju putih itu pasti akan hancur lebur dalam sekejap.

Namun...

Tepat saat senjata-senjata itu tinggal sejengkal lagi dari tubuh Mo Fei, saat jarak antara hidup dan mati tinggal sehelai rambut...

Ting... Ting... Ting-ting-ting!!!

Serentak terdengar bunyi berdenting halus.

Bunyi itu sangat cepat, begitu rapat dan berurutan, hingga terdengar seperti satu bunyi panjang yang memecah keheningan malam. Bunyinya bukan suara besi berbenturan keras dan kasar, melainkan seperti suara kaca berdering halus, atau... suara jarum yang bernyanyi di tengah angin.

Seketika...

Waktu seolah berhenti berputar.

Angin pun seakan berhenti berhembus.

Sepuluh orang penyerang itu membeku kaku di posisi mereka masing-masing. Tangan mereka masih terangkat menggenggam gagang golok, mulut mereka masih terbuka lebar seolah baru saja berteriak mengerikan, tapi... tidak ada satu pun suara yang keluar dari kerongkongan mereka.

Mata mereka terbelalak besar, bola matanya menonjol keluar, penuh dengan keterkejutan dan ketakutan yang tak terlukiskan. Wajah mereka pucat pasi seperti mayat hidup.

Satu per satu...

Plak!

Golok-golok besar yang tadinya terangkat tinggi itu terlepas begitu saja dari genggaman tangan mereka yang tiba-tiba menjadi lemas, jatuh menghantam tanah berbatu dengan suara berisik.

Lalu, tubuh mereka pun ikut robohur.

BUM! BUM! BUM!

Suara benturan keras terdengar bergantian saat tubuh-tubuh kekar itu ambruk ke tanah tanpa daya, tak bergerak lagi.

Hening.

Kembali hanya ada suara angin yang berhembus pelan.

Di tengah tumpukan tubuh yang tak bernyawa itu, Mo Fei masih berdiri tegak. Baju putihnya masih bersih, tak seujung rambut pun tersentuh, tak setetes darah pun menempel. Ia perlahan mengeluarkan tangannya dari dalam lengan baju, lalu menepuk-nepuk bahunya seolah ada debu halus yang menempel.

Ia melirik santai ke arah tubuh si Ketua Luka Pipit yang paling besar itu.

Tepat di antara kedua alis pria itu, tepat di titik pertemuan antara kehidupan dan kematian, tertancap sebuah benda kecil yang berkilauan memantukan cahaya bulan.

Sebuah jarum emas.

Panjangnya tidak lebih dari satu jari jempol, tipisnya seperti helai rambut, namun tajamnya bisa menembus baja keras.

Hal yang sama terjadi pada kesembilan orang lainnya. Di titik vital yang sama, tepat di antara alis, semua tertancap satu jarum emas yang sama persis.

Tidak ada darah yang menetes. Tidak ada luka yang mengerikan.

Mereka mati begitu cepat, begitu bersih, sebelum sempat merasakan sakit, bahkan sebelum sempat menyadari bahwa mereka sudah terkena serangan mematikan.

"Sayang sekali," gumam Mo Fei sambil menghela napas pendek, senyumnya masih mengembang manis di bibirnya. "Aku sudah bilang kan... jangan berisik. Jarum-jarumku ini sangat sensitif. Mereka tidak suka orang yang suka berteriak-teriak tak jelas dan mengganggu ketenangan malam."

Ia melangkah santai berjalan melewati tubuh-tubuh itu. Saat ia berjalan, terlihat kilatan-kilatan kecil berwarna emas terbang keluar dari tubuh para penjahat itu. Gerakannya anggun seperti kupu-kupu, melayang kembali dengan patuh masuk ke dalam lengan baju Mo Fei.

Seribu jarum itu, kembali ke sarangnya.

Di kejauhan, di atas atap sebuah kuil tua yang runtuh, dua sosok pendekar topeng sedang menyaksikan seluruh kejadian itu dari tadi. Tangan mereka gemetar hebat, keringat dingin membasahi seluruh punggung mereka meskipun udara malam tidak terlalu dingin.

"Apakah... apakah kau melihat gerakannya tadi?" bisik salah satu dari mereka dengan suara parau dan tertahan.

"Tidak... Aku tidak melihat apa-apa," jawab temannya dengan napas memburu. "Aku hanya melihat kilatan cahaya emas sekilas lewat di depan mataku, dan... semuanya sudah berakhir. Itu bukan kecepatan yang bisa dicapai oleh manusia biasa."

"Padahal senjatanya hanya jarum kecil... tidak gagah, tidak menakutkan... tapi kenapa kekuatannya..."

"Itu bukan sekadar senjata. Itu adalah Seni Maut," potong temannya dengan nada penuh hormat bercampur ketakutan yang luar biasa. "Dia tidak melempar jarum. Dia menembakkan niat membunuh yang terkonsentrasi pada satu titik terkecil. Di tangannya, benda sekecil apa pun bisa menjadi senjata paling mematikan di dunia."

Mereka berdua tahu betul, jika tadi mereka turun dan ikut menyerang, nasib mereka pasti tidak akan berbeda dengan teman-temannya di bawah sana.

"Siapa dia sebenarnya? Pendekar dari Sekte Mana?"

"Dia Mo Fei," jawab temannya. "Orang-orang menyebutnya Pengamat Malam. Orang yang datang tanpa suara, dan pergi tanpa meninggalkan jejak, kecuali mayat-mayat yang tertancap jarum emas."

Mo Fei sudah sampai di ujung gang. Ia berhenti sejenak, mendongak menatap ke arah bulan purnama yang bersinar terang di langit tinggi.

"Dunia persilatan ini semakin hari semakin ramai dan berisik ya," gumamnya pelan, bicara pada angin dan bulan. "Banyak sekali serigala berbulu domba yang merasa diri mereka raja hutan. Mungkin... sudah waktunya aku membersihkan sedikit tempat ini supaya lebih teduh."

Ia tersenyum lagi, kali ini senyum itu terlihat lebih lebar, sedikit nakal, namun menyimpan bahaya yang tak terbayangkan bagi siapa saja yang berani menjadi musuhnya.

"Siapa tahu... sambil bekerja membersihkan dunia, aku bisa menemukan seseorang yang layak menerima salah satu jarumku... atau mungkin... seseorang yang bisa membuatku berhenti tersenyum sendirian di tengah malam yang sepi ini."

Dengan langkah ringan seperti melayang di atas awan, sosok berbaju putih itu menghilang lenyap di balik kabut malam, meninggalkan misteri dan legenda baru yang akan segera bergema di seluruh penjuru dunia persilatan.

Terpopuler

Comments

Fwyz

Fwyz

ih apalah nih judul ngerii amatt, btw ceritanya epick sih, thc thor

2026-05-05

1

lihat semua
Episodes
1 BAB 1: JARUM YANG BERNYANYI DI MALAM HARI
2 BAB 2: KEDATANGAN DI PAVILIUN BUNGA
3 BAB 3: JARUM YANG TAK TERLIHAT
4 BAB 4: GADA RAKSASA VS JARUM TIPIS
5 BAB 5: RAHASIA LEMBAH NAGA TIDUR
6 BAB 6: PENDEKAR KIPAS PERAK
7 BAB 7: KERIBUTAN DI PASAR MALAM
8 BAB 8: PELAJARAN UNTUK SI SOMBONG
9 BAB 9: JARING RACUN DAN CAHAYA EMAS
10 BAB 10: PESTA PARA RAJA PEDANG
11 BAB 11: PERTARUNGAN DI ATAS AWAN
12 BAB 12: KEKAGUMAN DAN CEMBURU
13 BAB 13: JEJAK MISTERIUS DI PENGINAPAN
14 BAB 14: MATA BATIN YANG MELIHAT SEGALANYA
15 BAB 15: RAHASIA DI BALIK TOPENG
16 BAB 16: KUIL TERTINGGAL DAN JURUS PALING RAHASIA
17 BAB 17: KEBENARAN YANG MENYAKITKAN
18 BAB 18: HUJAN DAN KEPUTUSAN YANG BERAT
19 BAB 19: PERJALANAN MENUJU PUSARAN BADAI
20 BAB 20: PENGUASA BARU DAN PERTARUNGAN TERAKHIR
21 BAB 21: PERTARUNGAN YANG MENGHANCURKAN
22 BAB 22: WUJUD IBLIS DAN KEKUATAN YANG TAK TERDUGA
23 BAB 23: PERTARUNGAN HIDUP DAN MATI
24 BAB 24: RAHASIA DI BALIK SEGALANYA
25 BAB 25: JEJAK YANG HILANG DAN TEMPAT PERLINDUNGAN
26 BAB 26: JEJAK DI TANAH TERLARANG
27 BAB 27: BISIKAN DALAM KABUT
28 BAB 28: PINTU YANG TERKUNCI RAPAT
29 BAB 29: KISAH DUA JIWA YANG TERPISAH
30 BAB 30: KEKUATAN BARU DAN JALAN BARU
31 BAB 31: GEMPA DI LEMBAH BELA DIRI
32 BAB 32: NAMA YANG MENGGUNCANG DUNIA
33 BAB 33: MALAM PENUH RAHASIA DAN BAHAYA
34 BAB 34: PERTARUNGAN PENENTUAN NASIB
35 BAB 35: ANGIN PERUBAHAN DAN RAHASIA BARU
36 BAB 36: PERJALANAN MENUJU PUSARAN BADAI
37 BAB 37: KOTA NAGA TIDUR YANG MEMATIKAN
38 BAB 38: PANGERAN KELIMA DAN PERMAINAN MENTAL
39 BAB 39: PERTARUNGAN DUA KEKUATAN BESAR
40 BAB 40: TANTANGAN DI GERBANG ISTANA
41 BAB 41: PERTARUNGAN DUA MONSTER KEKUATAN
42 BAB 42: DALAM HANTUAN ISTANA SURGA GELAP
43 BAB 43: DI BALIK PINTU RAKSASA
44 BAB 44: PERTARUNGAN DUA KEKUATAN MUTLAK
45 BAB 45: AKHIR DARI KEKUASAAN KEGELAPAN
46 BAB 46: DUNIA YANG JAUH LEBIH LUAS
47 BAB 47: JANTUNG DUNIA, BENUA TENGAH
48 BAB 48: TINGKATAN DUNIA PERSILATAN
49 BAB 49: PEMBUKTIAN DI HALAMAN SERIBU PEDANG
50 BAB 50: GUA CAHAYA PURBA DAN RAHASIA TINGKAT TINGGI
51 BAB 51: DATARAN LANGIT DAN PARA JENIUS DUNIA
52 BAB 52: GONG PERTAMA DAN KEKUATAN BARU
53 BAB 53: PERTEMUAN DENGAN PARA JENIUS
54 BAB 54: PERTEMPURAN HIDUP MATI DI DATARAN LANGIT
55 BAB 55: LEGENDA BARU DAN WARISAN LANGIT
56 BAB 56: MENEROBOS KABUT HITAM
57 BAB 57: HUTAN JIWA HILANG DAN UJIAN BATIN
58 BAB 58: GURUN PASIR NERAKA DAN PANAS YANG MEMBAKAR JIWA
59 BAB 59: PEGUNUNGAN KEMATIAN DAN PINTU GERBANG TERAKHIR
60 BAB 60: RAHASIA MASA LALU DAN PERSIAPAN TERAKHIR
61 BAB 61: GERBANG TERBUKA DAN ISTANA KEGELAPAN
62 BAB 62: RUANG SINGGASANA DAN PERTEMUAN TERAKHIR
63 BAB 63: PERTARUNGAN DUA CAHAYA — AWAL DARI SEGALANYA
64 BAB 64: INTI KEKUATAN DAN PERBEDAAN JALAN
65 BAB 65: PUNCAK KEKUATAN — DUA CAHAYA MENYATU DAN BERBEDA
66 BAB 66: SISA-SISA CAHAYA DAN JEJAK YANG BELUM USAI
67 BAB 67: PERSIAPAN MENEMPUH SAMUDERA DAN WARISAN LELUHUR
68 BAB 68: DI TENGAH SAMUDERA DAN PULAU TANPA NAMA
69 BAB 69: LAUTAN KABUT ABADI DAN PENJAGA LAMA
70 BAB 70: GERBANG DUNIA DAN PENJAGA BATU YANG ABADI
71 BAB 71: JALAN MENUJU PUNCAK ASAL MULA
72 BAB 72: ISTANA CAHAYA DAN SUMBER SEGALANYA
73 BAB 73: KEMBALI KE GERBANG DUNIA
74 BAB 74: SAMUDERA CAHAYA DAN PERTANDA PERTEMUAN
75 BAB 75: KEMBALI KE TANAH AIR YANG BERSINAR
76 BAB 76: DEWAN DUA BELAS NEGERI DAN PANGGILAN DUNIA
77 BAB 77: OMBAK KABUT DI UJUNG DUNIA
78 BAB 78: DI BALIK GERBANG BATU ABADI
79 Bab 79: Ujian di Balik Pemandangan Palsu
80 Bab 80: Harga Sebuah Pengorbanan
81 Bab 81 – 99: Jejak Cahaya yang Tertinggal + bab 100
Episodes

Updated 81 Episodes

1
BAB 1: JARUM YANG BERNYANYI DI MALAM HARI
2
BAB 2: KEDATANGAN DI PAVILIUN BUNGA
3
BAB 3: JARUM YANG TAK TERLIHAT
4
BAB 4: GADA RAKSASA VS JARUM TIPIS
5
BAB 5: RAHASIA LEMBAH NAGA TIDUR
6
BAB 6: PENDEKAR KIPAS PERAK
7
BAB 7: KERIBUTAN DI PASAR MALAM
8
BAB 8: PELAJARAN UNTUK SI SOMBONG
9
BAB 9: JARING RACUN DAN CAHAYA EMAS
10
BAB 10: PESTA PARA RAJA PEDANG
11
BAB 11: PERTARUNGAN DI ATAS AWAN
12
BAB 12: KEKAGUMAN DAN CEMBURU
13
BAB 13: JEJAK MISTERIUS DI PENGINAPAN
14
BAB 14: MATA BATIN YANG MELIHAT SEGALANYA
15
BAB 15: RAHASIA DI BALIK TOPENG
16
BAB 16: KUIL TERTINGGAL DAN JURUS PALING RAHASIA
17
BAB 17: KEBENARAN YANG MENYAKITKAN
18
BAB 18: HUJAN DAN KEPUTUSAN YANG BERAT
19
BAB 19: PERJALANAN MENUJU PUSARAN BADAI
20
BAB 20: PENGUASA BARU DAN PERTARUNGAN TERAKHIR
21
BAB 21: PERTARUNGAN YANG MENGHANCURKAN
22
BAB 22: WUJUD IBLIS DAN KEKUATAN YANG TAK TERDUGA
23
BAB 23: PERTARUNGAN HIDUP DAN MATI
24
BAB 24: RAHASIA DI BALIK SEGALANYA
25
BAB 25: JEJAK YANG HILANG DAN TEMPAT PERLINDUNGAN
26
BAB 26: JEJAK DI TANAH TERLARANG
27
BAB 27: BISIKAN DALAM KABUT
28
BAB 28: PINTU YANG TERKUNCI RAPAT
29
BAB 29: KISAH DUA JIWA YANG TERPISAH
30
BAB 30: KEKUATAN BARU DAN JALAN BARU
31
BAB 31: GEMPA DI LEMBAH BELA DIRI
32
BAB 32: NAMA YANG MENGGUNCANG DUNIA
33
BAB 33: MALAM PENUH RAHASIA DAN BAHAYA
34
BAB 34: PERTARUNGAN PENENTUAN NASIB
35
BAB 35: ANGIN PERUBAHAN DAN RAHASIA BARU
36
BAB 36: PERJALANAN MENUJU PUSARAN BADAI
37
BAB 37: KOTA NAGA TIDUR YANG MEMATIKAN
38
BAB 38: PANGERAN KELIMA DAN PERMAINAN MENTAL
39
BAB 39: PERTARUNGAN DUA KEKUATAN BESAR
40
BAB 40: TANTANGAN DI GERBANG ISTANA
41
BAB 41: PERTARUNGAN DUA MONSTER KEKUATAN
42
BAB 42: DALAM HANTUAN ISTANA SURGA GELAP
43
BAB 43: DI BALIK PINTU RAKSASA
44
BAB 44: PERTARUNGAN DUA KEKUATAN MUTLAK
45
BAB 45: AKHIR DARI KEKUASAAN KEGELAPAN
46
BAB 46: DUNIA YANG JAUH LEBIH LUAS
47
BAB 47: JANTUNG DUNIA, BENUA TENGAH
48
BAB 48: TINGKATAN DUNIA PERSILATAN
49
BAB 49: PEMBUKTIAN DI HALAMAN SERIBU PEDANG
50
BAB 50: GUA CAHAYA PURBA DAN RAHASIA TINGKAT TINGGI
51
BAB 51: DATARAN LANGIT DAN PARA JENIUS DUNIA
52
BAB 52: GONG PERTAMA DAN KEKUATAN BARU
53
BAB 53: PERTEMUAN DENGAN PARA JENIUS
54
BAB 54: PERTEMPURAN HIDUP MATI DI DATARAN LANGIT
55
BAB 55: LEGENDA BARU DAN WARISAN LANGIT
56
BAB 56: MENEROBOS KABUT HITAM
57
BAB 57: HUTAN JIWA HILANG DAN UJIAN BATIN
58
BAB 58: GURUN PASIR NERAKA DAN PANAS YANG MEMBAKAR JIWA
59
BAB 59: PEGUNUNGAN KEMATIAN DAN PINTU GERBANG TERAKHIR
60
BAB 60: RAHASIA MASA LALU DAN PERSIAPAN TERAKHIR
61
BAB 61: GERBANG TERBUKA DAN ISTANA KEGELAPAN
62
BAB 62: RUANG SINGGASANA DAN PERTEMUAN TERAKHIR
63
BAB 63: PERTARUNGAN DUA CAHAYA — AWAL DARI SEGALANYA
64
BAB 64: INTI KEKUATAN DAN PERBEDAAN JALAN
65
BAB 65: PUNCAK KEKUATAN — DUA CAHAYA MENYATU DAN BERBEDA
66
BAB 66: SISA-SISA CAHAYA DAN JEJAK YANG BELUM USAI
67
BAB 67: PERSIAPAN MENEMPUH SAMUDERA DAN WARISAN LELUHUR
68
BAB 68: DI TENGAH SAMUDERA DAN PULAU TANPA NAMA
69
BAB 69: LAUTAN KABUT ABADI DAN PENJAGA LAMA
70
BAB 70: GERBANG DUNIA DAN PENJAGA BATU YANG ABADI
71
BAB 71: JALAN MENUJU PUNCAK ASAL MULA
72
BAB 72: ISTANA CAHAYA DAN SUMBER SEGALANYA
73
BAB 73: KEMBALI KE GERBANG DUNIA
74
BAB 74: SAMUDERA CAHAYA DAN PERTANDA PERTEMUAN
75
BAB 75: KEMBALI KE TANAH AIR YANG BERSINAR
76
BAB 76: DEWAN DUA BELAS NEGERI DAN PANGGILAN DUNIA
77
BAB 77: OMBAK KABUT DI UJUNG DUNIA
78
BAB 78: DI BALIK GERBANG BATU ABADI
79
Bab 79: Ujian di Balik Pemandangan Palsu
80
Bab 80: Harga Sebuah Pengorbanan
81
Bab 81 – 99: Jejak Cahaya yang Tertinggal + bab 100

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!