Poin yang Terenggut

Teriknya matahari di SMA Cakrawala seolah tidak memberi ampun. Di tengah lapangan, ratusan siswa baru berbaris rapi di bawah komando para pengurus OSIS.

Aurora berdiri di barisan paling belakang, mencoba menutupi luka lecet di sikunya dengan lengan seragam. Peluhnya bercucuran, membasahi papan nama kardus yang kini sedikit melengkung.

"Perhatian semuanya!" suara Kaila Ranisatya menggema melalui pengeras suara. "Sekarang adalah waktu pemeriksaan kelengkapan atribut. Siapa pun yang atributnya tidak lengkap atau kotor, akan mendapatkan pengurangan poin kedisiplinan dan hukuman tambahan!"

Jantung Aurora mencelos. Ia melirik kertas makalah di dalam map beningnya yang kini memiliki noda bekas tapak sepatu Arvin. Noda itu hitam, pekat, dan sangat mencolok di atas kertas putih bersih.

Satu per satu pengurus OSIS mulai berkeliling. Saat giliran barisan Aurora, seorang kakak kelas laki-laki bertampang garang berhenti tepat di depannya.

"Mana makalah Visi Misi kamu?" tanya kakak kelas itu ketus.

Dengan tangan gemetar, Aurora menyerahkannya. Kakak kelas itu mengerutkan dahi, lalu mengangkat kertas itu tinggi-tinggi.

"Apa-apaan ini? Kamu mengumpulkan tugas atau sampah? Kenapa ada bekas sepatu di sini? Kamu menginjak tugas kamu sendiri?"

"Bukan, Kak... itu tadi..." Aurora menggantung kalimatnya. Ia melihat Arvin sedang duduk di pinggir lapangan bersama gengnya, memperhatikannya sambil tertawa kecil dan meminum es teh. Arvin menatapnya dengan tatapan menantang, seolah berani jika Aurora menyebut namanya.

"Tadi apa?! Kamu nggak menghargai tugas yang kami berikan?!" bentak kakak kelas itu lagi.

"Maaf, Kak. Tadi terjatuh dan tidak sengaja terinjak," bohong Aurora lirih. Ia menunduk, tak sanggup melihat wajah-wajah yang mulai menghakiminya.

"Alasan! Karena kamu tidak rapi, poin kamu saya potong sepuluh. Dan sebagai hukuman, setelah apel ini, kamu harus membersihkan seluruh sampah di tribun penonton sendirian!"

Aurora hanya bisa mengangguk pasrah. Di pinggir lapangan, Arvin tampak membisikkan sesuatu kepada Bimo, lalu mereka tertawa lebih keras. Rasa sakit di hati Aurora jauh lebih perih daripada panas matahari yang menyengat kulitnya.

Satu jam kemudian, lapangan mulai sepi karena para siswa baru dipindahkan ke aula yang ber-AC untuk menerima materi. Namun tidak bagi Aurora. Ia masih berada di tribun penonton yang luas, memunguti botol plastik dan bungkus makanan satu per satu. Tangannya yang mungil mulai memerah karena panasnya beton tribun.

"Kasihan banget sih, si anak baru."

Aurora tersentak. Ia menoleh dan menemukan Arvin berdiri di atas tribun, beberapa anak tangga dari tempatnya berdiri. Arvin tidak sendirian; Bimo dan beberapa teman lainnya ada di sana.

"Gara-gara lo ceroboh di koridor tadi, lo jadi babu sekolah sekarang," ejek Arvin. Ia sengaja menjatuhkan botol minumnya yang masih setengah penuh ke arah kaki Aurora, membuat airnya muncrat mengenai sepatu Aurora. "Eh, jatuh. Pungut dong, Dek."

Bimo yang melihat itu mulai merasa tidak enak. "Vin, sudah lah. Dia kan sudah dihukum."

Arvin tidak peduli. Ia berjalan mendekati Aurora, suaranya mengecil menjadi bisikan yang hanya bisa didengar oleh gadis itu.

"Ini baru permulaan, Aurora. Kalau lo pikir sekolah ini bakal jadi tempat lo bisa bernapas lega, lo salah besar. Di sini, gue rajanya. Dan lo tetaplah noda yang harus gue singkirkan."

Aurora berhenti memunguti sampah. Ia berdiri dan menatap mata kakaknya yang penuh kebencian itu. "Kenapa, Kak? Kenapa Kakak benci banget sama aku? Aku nggak pernah minta untuk dilahirkan ke dunia ini. Kalau aku bisa milih, aku juga nggak mau lahir kalau itu artinya harus buat Mama pergi."

Suasana mendadak dingin meskipun matahari sedang terik. Senyum di wajah Arvin menghilang, digantikan oleh rahang yang mengeras. Ia mencengkeram bahu Aurora dengan kuat, membuat gadis itu meringis kesakitan.

"Jangan pernah sebut kata 'Mama' dari mulut kotor lo itu," desis Arvin tajam. "Lo nggak pantas."

Arvin melepaskan cengkeramannya dengan kasar hingga Aurora terhuyung menabrak kursi tribun. Tanpa sepatah kata lagi, Arvin berbalik dan pergi meninggalkan tribun.

Bimo sempat terdiam sejenak, menatap. Aurora yang kini kembali berjongkok memunguti sampah dengan bahu yang bergetar karena tangis yang ditahan. Bimo mendekat, lalu diam-diam meletakkan sebotol air mineral dingin di dekat tangan Aurora.

"Minum, Ra. Jangan sampai pingsan," ucap Bimo pendek sebelum menyusul Arvin.

Aurora menatap botol air itu. Itu adalah kebaikan kecil pertama yang ia terima di sekolah ini, tapi ironisnya, itu datang dari teman orang yang paling membencinya.

Malam nanti, ia harus pulang ke rumah itu lagi. Rumah di mana empat orang kakak laki-lakinya akan menatapnya dengan kebencian yang sama, dan seorang Ayah yang menganggapnya tidak ada. Aurora mengusap air matanya dengan punggung tangan, lalu melanjutkan pekerjaannya.

"Tolong... sayangi aku sedikit saja," bisiknya pada angin, sebuah doa yang entah kapan akan dikabulkan.

Episodes
1 Ruang Makan yang Membeku
2 Poin yang Terenggut
3 Luka yang Tersembunyi
4 Sarapan Sisa
5 bab 5
6 bab 6
7 bab 7
8 bab 8
9 bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12:
13 Bab 13:
14 Bab 14: Catatan yang Tertinggal
15 Bab 15: Pelarian di Ujung Nadir
16 Bab 16: Denyut yang Dipinjam
17 Bab 17: Hukuman Bernama Lupa
18 Bab 18: Pulang ke Neraka
19 Bab 19: Pesta di Atas Luka
20 Bab 20: Lima Menit Tanpa Cahaya
21 Bab 21: Ruang Steril dan Kebenaran yang Terlambat
22 Bab 22: Penyesalan di Sisi Ranjang dan Badai yang Berbalik
23 Bab 23: Taruhan di Atas Meja Steril
24 Bab 24: Hukum Tabur Tuai
25 Bab 25: Gelap yang Menatap Balik
26 Bab 26: Sentuhan yang Dikenali
27 Bab 27: Pengkhianatan di Balik Dinding Marmer
28 Bab 28: Pecahnya Dinasti Tenggara dan Kepulangan yang Terlambat
29 Bab 29: Dilema Hemodialisis
30 Bab 30: Detoksifikasi dan Memori yang Retak
31 Bab 31: Benteng Trauma
32 Bab 32: Klien Anonim dari Masa Lalu
33 Bab 33: Sketsa Pertama dan Detak yang Melemah
34 Bab 34: Surat Persetujuan Berdarah
35 Bab 35: Tiga Jam di Ambang Maut
36 Bab 36: Gema di Batas Nadir
37 Bab 37: Aroma Masakan Pertama
38 Bab 38: Suapan Kedamaian
39 Bab 39: Akun Misterius dan Kecurigaan Juna
40 Bab 40: Konfrontasi di Balik Layar
41 Bab 41: Menuju Perbukitan Utara
42 Bab 42: Barikade di Jalur Gunung
43 Bab 43: Gerbang Vila dan Senyum yang Hilang
44 Bab 44: Rahasia yang Terbakar
45 Bab 45: Sketsa yang Menangis
46 Bab 46: Cahaya di Balik Jendela
47 Bab 47: Ulang Tahun yang Terlambat
48 Retakan pada Jantung yang Bahagia
49 ....
50 Pertaruhan di Tengah Malam
51 Langkah Pertama di Taman Lavender
52 Impian yang Tertunda
53 Persiapan di Balik Layar
54 Hari Pembukaan Galeri
55 Kebenaran di Batas Usia
56 Runtuhnya Benteng Ilusi
57 Lembar Baru yang Rapuh
58 Daftar Keinginan Kecil
59 Aroma Tepung di Dapur Bawah
60 Surat dari Balik Jeruji Besi
61 Kepulangan ke Rumah Utama
62 Permintaan Terakhir untuk Sang Ayah
63 Air Mata di Atas Kain Kafan
64 Keinginan Kedua: Menuju Pantai Sunyi
65 Di Bawah Cahaya Rembulan
66 Detak yang Melambat
67 Pesan Malam yang Tak Terbalas
68 Fajar yang Menanti
69 Senyum Terakhir di Kamar Vila
70 Setelah Fajar Berlalu
71 [SPECIAL] Ruang Kenangan & Tabur Bunga
Episodes

Updated 71 Episodes

1
Ruang Makan yang Membeku
2
Poin yang Terenggut
3
Luka yang Tersembunyi
4
Sarapan Sisa
5
bab 5
6
bab 6
7
bab 7
8
bab 8
9
bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12:
13
Bab 13:
14
Bab 14: Catatan yang Tertinggal
15
Bab 15: Pelarian di Ujung Nadir
16
Bab 16: Denyut yang Dipinjam
17
Bab 17: Hukuman Bernama Lupa
18
Bab 18: Pulang ke Neraka
19
Bab 19: Pesta di Atas Luka
20
Bab 20: Lima Menit Tanpa Cahaya
21
Bab 21: Ruang Steril dan Kebenaran yang Terlambat
22
Bab 22: Penyesalan di Sisi Ranjang dan Badai yang Berbalik
23
Bab 23: Taruhan di Atas Meja Steril
24
Bab 24: Hukum Tabur Tuai
25
Bab 25: Gelap yang Menatap Balik
26
Bab 26: Sentuhan yang Dikenali
27
Bab 27: Pengkhianatan di Balik Dinding Marmer
28
Bab 28: Pecahnya Dinasti Tenggara dan Kepulangan yang Terlambat
29
Bab 29: Dilema Hemodialisis
30
Bab 30: Detoksifikasi dan Memori yang Retak
31
Bab 31: Benteng Trauma
32
Bab 32: Klien Anonim dari Masa Lalu
33
Bab 33: Sketsa Pertama dan Detak yang Melemah
34
Bab 34: Surat Persetujuan Berdarah
35
Bab 35: Tiga Jam di Ambang Maut
36
Bab 36: Gema di Batas Nadir
37
Bab 37: Aroma Masakan Pertama
38
Bab 38: Suapan Kedamaian
39
Bab 39: Akun Misterius dan Kecurigaan Juna
40
Bab 40: Konfrontasi di Balik Layar
41
Bab 41: Menuju Perbukitan Utara
42
Bab 42: Barikade di Jalur Gunung
43
Bab 43: Gerbang Vila dan Senyum yang Hilang
44
Bab 44: Rahasia yang Terbakar
45
Bab 45: Sketsa yang Menangis
46
Bab 46: Cahaya di Balik Jendela
47
Bab 47: Ulang Tahun yang Terlambat
48
Retakan pada Jantung yang Bahagia
49
....
50
Pertaruhan di Tengah Malam
51
Langkah Pertama di Taman Lavender
52
Impian yang Tertunda
53
Persiapan di Balik Layar
54
Hari Pembukaan Galeri
55
Kebenaran di Batas Usia
56
Runtuhnya Benteng Ilusi
57
Lembar Baru yang Rapuh
58
Daftar Keinginan Kecil
59
Aroma Tepung di Dapur Bawah
60
Surat dari Balik Jeruji Besi
61
Kepulangan ke Rumah Utama
62
Permintaan Terakhir untuk Sang Ayah
63
Air Mata di Atas Kain Kafan
64
Keinginan Kedua: Menuju Pantai Sunyi
65
Di Bawah Cahaya Rembulan
66
Detak yang Melambat
67
Pesan Malam yang Tak Terbalas
68
Fajar yang Menanti
69
Senyum Terakhir di Kamar Vila
70
Setelah Fajar Berlalu
71
[SPECIAL] Ruang Kenangan & Tabur Bunga

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!