Luka yang Tersembunyi

Sore itu, langit Jakarta berubah warna menjadi oranye keunguan yang pekat. Aurora menyeret langkahnya keluar dari gerbang SMA Cakrawala. Tubuhnya terasa remuk. Setelah membersihkan tribun, ia harus mengikuti sisa materi MPLS dengan perut kosong karena jam istirahatnya habis untuk menjalani hukuman.

Ia berdiri di halte bus, mencoba merapikan pita rambutnya yang sudah miring. Namun, perhatiannya teralih saat sebuah motor sport hitam menderu keras di depannya. Arvin berhenti tepat di depan halte, helm full-face-nya masih terpasang, namun tatapan matanya yang tajam menembus kaca pelindung.

"Mau pulang?" suara Arvin terdengar teredam.

Aurora mengangguk ragu. "I-iya, Kak."

"Jangan harap gue bakal kasih tumpangan," ketus Arvin sambil menarik gas motornya, menciptakan kepulan asap knalpot yang membuat Aurora terbatuk. "Kalau sampai Papa tanya kenapa lo telat, jangan berani bawa-bawa nama gue. Bilang saja lo memang lamban."

Motor itu melesat pergi, meninggalkan Aurora dalam kepulan debu dan rasa sesak yang kian menghimpit.

Sesampainya di rumah, suasana sudah sangat mencekam. Mobil sedan mewah milik ayahnya sudah terparkir di garasi, menandakan sang penguasa rumah telah kembali lebih awal. Aurora masuk melalui pintu samping, mencoba mengendap-endap menuju kamarnya.

"Dari mana saja kamu?"

Suara berat Bramantyo Tenggara menghentikan langkah Aurora di dekat ruang tengah. Ayahnya sedang berdiri di sana, memegang segelas wiski, sementara Eros dan Juna duduk di sofa dengan wajah dingin.

"Tadi... ada hukuman di sekolah, Pa," jawab Aurora lirih, kepalanya tertunduk dalam.

"Hukuman?" Eros menyahut dengan nada meremehkan. "Baru hari pertama dan kamu sudah mencoreng nama keluarga di sekolah itu? Apa yang kamu lakukan? Mencuri? Atau membuat kekacauan seperti caramu merusak keluarga ini dulu?"

"Bukan, Kak... tadi makalahku kotor, jadi—"

"Cukup," potong Bramantyo. Ia meletakkan gelasnya ke meja dengan dentuman yang menggema di ruangan luas itu. "Saya tidak mau dengar alasan. Kamu memalukan. Mulai besok, poin kamu akan saya pantau melalui Arvin. Jika saya dengar kamu mendapat hukuman lagi, saya tidak akan ragu untuk memindahkan kamu ke sekolah asrama yang paling ketat."

"Tapi Pa, Aurora sudah berusaha—"

"Masuk ke kamarmu! Jangan keluar sampai besok pagi. Saya tidak mau melihat wajahmu di meja makan malam ini," perintah Bramantyo tanpa sedikit pun rasa kasihan.

Aurora berlari menuju kamarnya. Di dalam ruangan sempit itu, ia mengunci pintu dan merosot ke lantai. Air matanya pecah. Ia memeluk lututnya, mencoba meredam suara tangisnya agar tidak terdengar ke luar. Di rumah ini, bahkan menangis pun harus dilakukan dengan sembunyi-sembunyi.

Tiba-tiba, ketukan lembut terdengar di pintunya yang tersembunyi di balik lemari. Itu adalah pintu kecil yang menghubungkan kamarnya dengan area dapur, pintu yang hanya diketahui oleh Nenek Lastri.

"Ra... ini Nenek, Sayang," bisik suara itu.

Aurora segera membuka pintu. Nenek Lastri masuk dengan membawa nampan berisi nasi goreng dan segelas susu hangat. Wajah tua itu tampak sangat sedih melihat mata cucunya yang bengkak.

"Makan dulu, Cah Ayu. Nenek tahu kamu lapar," ucap Nenek sambil mengusap air mata di pipi Aurora.

"Nenek... kenapa Papa benci banget sama aku? Apa aku benar-benar sejahat itu karena lahir ke dunia?" tanya Aurora di sela isaknya.

Nenek Lastri memeluk Aurora erat.

"Bukan, Ra. Kamu itu anugerah. Papa dan kakak-kakakmu hanya... mereka hanya terlalu mencintai mamamu, dan mereka belum bisa merelakannya. Mereka menyalahkanmu karena itu hal termudah yang bisa mereka lakukan untuk menutupi rasa sakit mereka sendiri."

"Tapi ini sudah enam belas tahun, Nek. Sampai kapan aku harus jadi orang asing di rumahku sendiri?"

Nenek tidak bisa menjawab. Beliau hanya bisa memberikan pelukan hangat yang selama ini menjadi satu-satunya tempat Aurora bersandar.

Tanpa mereka sadari, di balik pintu kamar yang sedikit terbuka, Juna—kakak ketiga yang dikenal paling genius dan pendiam—berdiri di kegelapan koridor. Ia baru saja hendak mengambil buku di perpustakaan saat mendengar isakan Aurora. Juna menatap pintu itu dengan ekspresi datar, namun jemarinya yang memegang buku tampak sedikit bergetar.

Ada sesuatu dalam tangisan Aurora yang entah bagaimana menyentil sisi kecil di hatinya yang sudah lama ia kunci rapat. Namun, saat teringat wajah sang ibu di foto pemakaman, Juna kembali mengeraskan hatinya. Ia berbalik dan pergi, meninggalkan adiknya yang hancur dalam kesepian.

Malam itu, di bawah temaram lampu meja, Aurora mengambil buku catatannya. Ia menulis satu kalimat baru:

Hari ini, temannya Kak Arvin memberiku air minum. Ternyata, orang asing bisa lebih baik daripada saudara sendiri.

Ia memejamkan mata, berharap esok hari ia memiliki kekuatan lebih untuk bertahan. Karena ia tahu, hari kedua MPLS akan jauh lebih berat dengan Arvin yang terus mengawasinya seperti elang yang siap menerkam.

Episodes
1 Ruang Makan yang Membeku
2 Poin yang Terenggut
3 Luka yang Tersembunyi
4 Sarapan Sisa
5 bab 5
6 bab 6
7 bab 7
8 bab 8
9 bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12:
13 Bab 13:
14 Bab 14: Catatan yang Tertinggal
15 Bab 15: Pelarian di Ujung Nadir
16 Bab 16: Denyut yang Dipinjam
17 Bab 17: Hukuman Bernama Lupa
18 Bab 18: Pulang ke Neraka
19 Bab 19: Pesta di Atas Luka
20 Bab 20: Lima Menit Tanpa Cahaya
21 Bab 21: Ruang Steril dan Kebenaran yang Terlambat
22 Bab 22: Penyesalan di Sisi Ranjang dan Badai yang Berbalik
23 Bab 23: Taruhan di Atas Meja Steril
24 Bab 24: Hukum Tabur Tuai
25 Bab 25: Gelap yang Menatap Balik
26 Bab 26: Sentuhan yang Dikenali
27 Bab 27: Pengkhianatan di Balik Dinding Marmer
28 Bab 28: Pecahnya Dinasti Tenggara dan Kepulangan yang Terlambat
29 Bab 29: Dilema Hemodialisis
30 Bab 30: Detoksifikasi dan Memori yang Retak
31 Bab 31: Benteng Trauma
32 Bab 32: Klien Anonim dari Masa Lalu
33 Bab 33: Sketsa Pertama dan Detak yang Melemah
34 Bab 34: Surat Persetujuan Berdarah
35 Bab 35: Tiga Jam di Ambang Maut
36 Bab 36: Gema di Batas Nadir
37 Bab 37: Aroma Masakan Pertama
38 Bab 38: Suapan Kedamaian
39 Bab 39: Akun Misterius dan Kecurigaan Juna
40 Bab 40: Konfrontasi di Balik Layar
41 Bab 41: Menuju Perbukitan Utara
42 Bab 42: Barikade di Jalur Gunung
43 Bab 43: Gerbang Vila dan Senyum yang Hilang
44 Bab 44: Rahasia yang Terbakar
45 Bab 45: Sketsa yang Menangis
46 Bab 46: Cahaya di Balik Jendela
47 Bab 47: Ulang Tahun yang Terlambat
48 Retakan pada Jantung yang Bahagia
49 ....
50 Pertaruhan di Tengah Malam
51 Langkah Pertama di Taman Lavender
52 Impian yang Tertunda
53 Persiapan di Balik Layar
54 Hari Pembukaan Galeri
55 Kebenaran di Batas Usia
56 Runtuhnya Benteng Ilusi
57 Lembar Baru yang Rapuh
58 Daftar Keinginan Kecil
59 Aroma Tepung di Dapur Bawah
60 Surat dari Balik Jeruji Besi
61 Kepulangan ke Rumah Utama
62 Permintaan Terakhir untuk Sang Ayah
63 Air Mata di Atas Kain Kafan
64 Keinginan Kedua: Menuju Pantai Sunyi
65 Di Bawah Cahaya Rembulan
66 Detak yang Melambat
67 Pesan Malam yang Tak Terbalas
68 Fajar yang Menanti
69 Senyum Terakhir di Kamar Vila
70 Setelah Fajar Berlalu
71 [SPECIAL] Ruang Kenangan & Tabur Bunga
Episodes

Updated 71 Episodes

1
Ruang Makan yang Membeku
2
Poin yang Terenggut
3
Luka yang Tersembunyi
4
Sarapan Sisa
5
bab 5
6
bab 6
7
bab 7
8
bab 8
9
bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12:
13
Bab 13:
14
Bab 14: Catatan yang Tertinggal
15
Bab 15: Pelarian di Ujung Nadir
16
Bab 16: Denyut yang Dipinjam
17
Bab 17: Hukuman Bernama Lupa
18
Bab 18: Pulang ke Neraka
19
Bab 19: Pesta di Atas Luka
20
Bab 20: Lima Menit Tanpa Cahaya
21
Bab 21: Ruang Steril dan Kebenaran yang Terlambat
22
Bab 22: Penyesalan di Sisi Ranjang dan Badai yang Berbalik
23
Bab 23: Taruhan di Atas Meja Steril
24
Bab 24: Hukum Tabur Tuai
25
Bab 25: Gelap yang Menatap Balik
26
Bab 26: Sentuhan yang Dikenali
27
Bab 27: Pengkhianatan di Balik Dinding Marmer
28
Bab 28: Pecahnya Dinasti Tenggara dan Kepulangan yang Terlambat
29
Bab 29: Dilema Hemodialisis
30
Bab 30: Detoksifikasi dan Memori yang Retak
31
Bab 31: Benteng Trauma
32
Bab 32: Klien Anonim dari Masa Lalu
33
Bab 33: Sketsa Pertama dan Detak yang Melemah
34
Bab 34: Surat Persetujuan Berdarah
35
Bab 35: Tiga Jam di Ambang Maut
36
Bab 36: Gema di Batas Nadir
37
Bab 37: Aroma Masakan Pertama
38
Bab 38: Suapan Kedamaian
39
Bab 39: Akun Misterius dan Kecurigaan Juna
40
Bab 40: Konfrontasi di Balik Layar
41
Bab 41: Menuju Perbukitan Utara
42
Bab 42: Barikade di Jalur Gunung
43
Bab 43: Gerbang Vila dan Senyum yang Hilang
44
Bab 44: Rahasia yang Terbakar
45
Bab 45: Sketsa yang Menangis
46
Bab 46: Cahaya di Balik Jendela
47
Bab 47: Ulang Tahun yang Terlambat
48
Retakan pada Jantung yang Bahagia
49
....
50
Pertaruhan di Tengah Malam
51
Langkah Pertama di Taman Lavender
52
Impian yang Tertunda
53
Persiapan di Balik Layar
54
Hari Pembukaan Galeri
55
Kebenaran di Batas Usia
56
Runtuhnya Benteng Ilusi
57
Lembar Baru yang Rapuh
58
Daftar Keinginan Kecil
59
Aroma Tepung di Dapur Bawah
60
Surat dari Balik Jeruji Besi
61
Kepulangan ke Rumah Utama
62
Permintaan Terakhir untuk Sang Ayah
63
Air Mata di Atas Kain Kafan
64
Keinginan Kedua: Menuju Pantai Sunyi
65
Di Bawah Cahaya Rembulan
66
Detak yang Melambat
67
Pesan Malam yang Tak Terbalas
68
Fajar yang Menanti
69
Senyum Terakhir di Kamar Vila
70
Setelah Fajar Berlalu
71
[SPECIAL] Ruang Kenangan & Tabur Bunga

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!