Mesin mobil menderu pelan di sepanjang jalan raya yang mulai padat, namun suasana di dalam kabin terasa lebih dingin daripada hembusan AC.
Fathan berkali-kali melirik Humairah dari sudut matanya.
Wanita itu hanya terdiam, tatapannya kosong menembus kaca jendela, seolah jiwanya sudah tidak lagi berada di sana.
"Aku minta maaf," ucap Fathan memecah kesunyian. Suaranya rendah, ada nada penyesalan yang coba ia selipkan.
Humairah tidak bergeming. "Ustadz, aku hanya ingin tenang. Dan bukankah aku hanya wanita murahan? Jangan meminta maaf pada wanita murahan ini."
Kalimat itu menghujam jantung Fathan. Kata-kata yang ia lontarkan semalam dengan penuh amarah kini berbalik menyerangnya seperti belati yang tajam.
Fathan tidak membalas lagi, ia memilih menginjak pedal gas lebih dalam, melajukan mobilnya menuju rumah orang tua Humairah.
Setelah satu jam menempuh perjalanan, Fathan menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah makan.
Perutnya yang kosong sejak pagi mulai terasa perih, teringat ia belum sempat menyentuh sarapan di meja makan tadi.
"Ayo kita sarapan dulu," ajak Fathan sambil melepas sabuk pengamannya.
"Kita butuh tenaga sebelum sampai ke rumah Abimu."
Humairah menggeleng pelan tanpa menoleh. "Aku tidak lapar, Ustadz. Ustadz makan sendiri saja. Aku hanya wanita murahan, tidak pantas duduk satu meja dengan Ustadz."
Fathan menghela napas panjang, sangat panjang.
Ia menyandarkan punggungnya di kursi kemudi, merasa sangat frustrasi dengan dinding es yang kini dibangun Humairah.
"Humairah, aku benar-benar minta maaf atas ucapan kasarku semalam. Aku sedang kalap."
"Kalap atau jujur, itu tipis bedanya, Ustadz," sahut Humairah lirih.
Fathan menatap pintu masuk rumah makan itu, lalu beralih menatap istrinya yang masih memegangi tas kecilnya dengan erat.
Rasa lapar yang tadinya menyiksa mendadak hilang, berganti dengan rasa sesak yang tak menentu.
Bagaimana mungkin ia bisa menelan makanan dengan tenang sementara wanita di sampingnya sedang hancur karena ulahnya.
Akhirny…
Ijab Kabul Tanpa Qalbu
Bab 16
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 83 Episodes
Comments