Kota baru

“Selamat datang di Kota Velmora.”

Diana menghirup udara segar begitu tiba di Velmora. Perjalanan dari Westoria ke Velmora cukup jauh, tetapi itu memang pilihannya sendiri—menjauh sejauh mungkin dari semua kenangan menyakitkan.

Bandara Velmora terlihat ramai oleh para penumpang yang lalu-lalang, tetapi Diana justru merasa asing di kota baru ini.

Ia segera memesan taksi online menuju tempat tinggal barunya. Sebelum datang ke kota ini, Ibu Kartini—ibu kos lamanya—lebih dulu menghubungi keluarganya yang tinggal di Velmora untuk membantu Diana mencari kontrakan atau rumah sementara.

Beberapa saat kemudian, taksi online yang ia pesan pun tiba.

“Ibu Diana?” tanya sopir taksi.

Diana mengangguk pelan.

Sopir itu membantu memasukkan koper Diana ke dalam bagasi, lalu perjalanan pun dimulai.

Mobil perlahan meninggalkan area bandara.

Diana menatap ke luar jendela sepanjang perjalanan. Kota Velmora terlihat begitu berbeda dari Westoria. Jalanannya lebih tenang, suasananya terasa asing, namun entah kenapa juga memberi sedikit ketenangan di hatinya.

Ia hanya berharap keputusan ini adalah keputusan yang benar.

Tangannya perlahan mengusap perutnya.

“Sayang, makasih ya. Kamu nggak bikin Bunda mual. Kamu anak yang hebat.”

Selama masa kehamilannya, Diana belum merasakan mual ataupun pusing berlebihan. Ia hanya sesekali merasa kelelahan.

Tak selang lama, taksi berhenti di depan sebuah rumah minimalis yang ukurannya cukup besar.

Diana menatap rumah itu dengan terkejut.

“Ini beneran rumahnya?”

Ia menatap bangunan tersebut tak percaya.

Dengan cepat, Diana menghubungi Ibu Kartini. Untungnya, panggilannya langsung diangkat.

“Halo, Diana. Kamu sudah sampai, Nak?”

“Iya, Bu. Bu... Diana mau tanya, Ibu nggak salah kirim alamat rumah sewa ini?”

“Tidak, Nak. Itu benar alamatnya. Kenapa? Kamu tidak suka?”

“Bukan seperti itu, Bu. Rumahnya besar sekali, Bu. Diana cuma butuh rumah kecil. Tabungan Diana juga nggak banyak.”

“Tidak perlu pikirkan itu, Diana. Ibu sudah menganggap kamu seperti anak sendiri. Dan anak yang kamu kandung itu juga sudah Ibu anggap sebagai cucu Ibu. Jadi, kamu nggak perlu sungkan. Tinggal saja di sana.”

Air mata Diana menetes perlahan mendengar ucapan tulus itu.

“Makasih, Bu... semoga Tuhan membalas semua kebaikan Ibu,” ucapnya dengan tulus.

“Aamiin. Sebentar lagi sepupu Ibu akan datang ke sana.”

Panggilan pun berakhir.

Tak lama kemudian, seorang wanita yang tampaknya seusia Ibu Kartini datang menghampiri rumah itu.

“Diana, ya?”

Diana mengangguk lalu menyalami wanita itu dengan sopan.

“Iya, Bu.”

“Saya Kartika, sepupu Kartini. Dia sudah banyak cerita tentang kamu,” ucap Kartika ramah.

Diana hanya membalas dengan senyum tipis. Ada rasa malu yang menyelinap di hatinya saat mengingat nasib hidupnya sekarang.

Kartika menepuk pundak Diana dengan lembut.

“Ini sudah menjadi takdirmu. Dan kamu memilih untuk tidak membuang anak itu, itu artinya kamu sudah menjalankan tanggung jawabmu dengan baik,” ucap Kartika lembut. “Rawat dia dengan baik.”

Air mata Diana kembali hampir jatuh, tetapi ia menahannya.

“Iya, Bu,” jawab Diana pelan.

Kartika lalu menyerahkan sebuah kunci rumah.

“Ini kuncinya. Semua sudah dibersihkan, jadi kamu bisa langsung beristirahat di dalam. Maaf Ibu nggak bisa menemani lama-lama, Ibu ada keperluan di gereja.”

“Iya, Bu. Tidak apa-apa. Makasih sebelumnya.”

Kartika mengangguk pelan lalu berpamitan pergi.

Diana akhirnya masuk ke dalam rumah.

Ia menatap sekeliling perlahan.

Rumah itu terlihat bersih, rapi, dan nyaman. Bahkan terdapat dua kamar di dalamnya.

Diana meletakkan kopernya lalu berjalan perlahan menuju kamar.

Tubuhnya terasa sangat lelah setelah perjalanan panjang.

Ia merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk sambil menatap langit-langit kamar.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, hatinya terasa sedikit lebih tenang.

“Semoga ini jadi awal yang bagus,” gumamnya pelan.

Tatapannya perlahan turun ke arah perutnya.

“Aku harus cari kerja.”

Ia kembali mengelus perutnya dengan lembut.

“Doain Bunda ya, Sayang... semoga Bunda cepat dapat pekerjaan.”

°°••°°

“Apa yang kamu pikirkan, Samuel?”

Iren menatap tajam putranya dari seberang meja makan. Wajah Samuel terlihat kosong sejak mengetahui Diana berhenti bekerja di toko milik keluarganya.

Piring nasi yang ada di hadapannya bahkan belum tersentuh sedikit pun.

Samuel tersentak dari lamunannya. Ia buru-buru menggeleng pelan.

“Aku nggak apa-apa, Ma,” jawabnya singkat.

Iren menyipitkan mata, seolah tidak percaya begitu saja.

“Terus apa yang bikin kamu melamun, Sam? Sedari tadi aku perhatikan kamu nggak nafsu makan.”

Citra yang duduk di samping Samuel ikut menatap pria itu dengan wajah kesal.

“Apa kehadiranku di sini tidak kamu anggap?” ujar Citra dengan nada kecewa.

Samuel langsung tersadar. Ia buru-buru menggenggam tangan Citra di atas meja.

“Maaf, Sayang. Pekerjaan kantor bikin aku nggak bisa fokus. Maafkan aku, ya.”

Citra masih memasang wajah cemberut, sementara Bayu hanya menatap putranya dengan dingin.

Sebagai ayah, Bayu tahu Samuel sedang berbohong.

“Sibuk sesibuk apa pun kamu dengan pekerjaan, ingat ada Citra di dekatmu. Lupakan pekerjaan sesaat,” ucap Iren sambil menatap tajam putranya, seakan memberi peringatan.

Samuel mengembuskan napas pelan.

“Maaf, Ma.”

Ia kembali menatap Citra dan berusaha menunjukkan senyum manis.

“Maafkan aku, ya. Aku janji akan menyelesaikan pekerjaanku secepat mungkin supaya kita bisa honeymoon ke Noverra.”

Samuel menjeda ucapannya sejenak.

“Di sana juga akan memasuki musim salju. Itu impian kamu, kan?”

Mata Citra langsung berbinar.

Wajah kesalnya seketika berubah menjadi sumringah.

“Kita akan honeymoon di Noverra?”

Samuel mengangguk sambil tersenyum tipis.

“Iya, Sayang. Tiketnya sudah aku pesan.”

Wajah Citra langsung berbinar penuh antusias.

“Benarkah? Aku selalu ingin melihat salju di Noverra,” ucapnya girang. Rasa kesalnya seketika menghilang begitu saja.

Samuel tersenyum tipis, berusaha terlihat tenang meski pikirannya masih berantakan.

“Iya. Kamu pasti suka di sana,” balasnya singkat.

Melihat suasana kembali mencair, Iren dan Bayu mengembuskan napas lega. Setidaknya, untuk saat ini Citra tidak lagi curiga.

“Kalau begitu, kita harus segera menyelesaikan semua persiapan pernikahan kalian,” ujar Iren sambil tersenyum.

Ciara, mama Citra ikut mengangguk antusias. “Benar. Minggu depan kita harus final fitting gaun pengantin.”

Citra langsung tersenyum lebar. “Aku juga sudah memilih konsep dekorasi. Aku ingin pesta pernikahan bertema garden party yang elegan.”

“Itu ide yang bagus,” ujar Iren setuju.

Mereka pun mulai membahas detail pernikahan, mulai dari dekorasi, daftar tamu, hingga lokasi bulan madu.

Samuel tetap ikut dalam pembicaraan itu, sesekali memberikan pendapat tentang acara pernikahan mereka.

Meski begitu, pikirannya terus melayang pada Diana yang entah berada di mana saat ini.

Wanita yang kini berada di tempat yang bahkan tidak ia ketahui.

Episodes
1 Harga kehormatan
2 Kutukan Mantan
3 Pergi membawa luka
4 Pergi tanpa jejak
5 Kota baru
6 Jejak yang tertinggal
7 Pavlova Story
8 Kejujuran
9 USG pertama
10 Dampak kepergian Diana
11 Hari bahagia mereka
12 Pernikahan sang pengkhianat
13 Pria bermata elang
14 Malam pertama
15 Wanita itu lagi
16 Semakin kehilangan
17 Permainan kotor
18 Sebelum racun itu tersebar
19 Perjumpaan yang disengaja
20 Jangan ganggu Diana
21 Tidak ada bantahan
22 Pengecualian
23 Pagi yang tidak sempurna
24 Nanti Anda jatuh cinta
25 Aku hampir kehilanganmu
26 Harga yang harus dibayar
27 Korsleting atau sabotase?
28 Reyhan Althar
29 Izinkan aku menjaga kalian
30 Kamu tidak sendiri lagi
31 Retaknya sebuah rumah tangga
32 Tinggal aku
33 Ketakutan baru
34 Keraguan Diana
35 Pertemuan yang mengubah segalanya
36 Secepatnya
37 Rumah yang akhirnya menerimaku
38 Pria dari masa lalu
39 Tamparan untuk Samuel
40 Pengakuan Samuel
41 Tempat berlindung
42 Cinta palsu dalam pernikahan
43 Obsesi Samuel
44 Alamat palsu
45 Pelukan itu...
46 Salah paham
47 Pernikahan Sang Raja Bisnis
48 Reyhan menggagalkan segalanya
49 Istri Nathaniel De Luca
50 Jejak Reyhan
51 Lindungi Reyhan!
52 Dibalik pintu
53 Papa dan Istriku
54 Terbongkar
55 Dilindungi
56 Kebusukan terbongkar
57 Diusir dari rumah
58 Karma mulai bekerja
59 Skandal dan pembalasan
60 Aku anak siapa?
61 Dua keluarga
62 Hadiah untuk Niel
63 Anggota baru
64 Es krim untuk orang sedih
65 Jangan-jangan Dia...
66 Saya tidak pernah melakukannya
67 Ketakutan seorang Ibu
68 Ketika ngidam dimulai
69 Bakso isian coklat
70 Semua atas nama kamu
71 Hari bahagia kalian berakhir
72 Firasat seorang Ibu
73 Pertemuan yang tertunda
74 Rahasia yang mulai mengutuk
75 Kelumpuhan
76 Target baru
77 Kebencian yang dibenci
78 Dramastis
79 Harga sebuah dendam
80 Om itu di rumah sakit
81 Reyhan hilang
82 Perburuan dimulai
83 Kembali ke pelukan
84 Pantaskan dirimu
85 Rafaalle Gabriella De Luca
86 Rahasia tujuh belas tahun
87 Ayah tetap Ayah
88 Pria yang selama ini kukenal
89 Akhir yang bahagia
Episodes

Updated 89 Episodes

1
Harga kehormatan
2
Kutukan Mantan
3
Pergi membawa luka
4
Pergi tanpa jejak
5
Kota baru
6
Jejak yang tertinggal
7
Pavlova Story
8
Kejujuran
9
USG pertama
10
Dampak kepergian Diana
11
Hari bahagia mereka
12
Pernikahan sang pengkhianat
13
Pria bermata elang
14
Malam pertama
15
Wanita itu lagi
16
Semakin kehilangan
17
Permainan kotor
18
Sebelum racun itu tersebar
19
Perjumpaan yang disengaja
20
Jangan ganggu Diana
21
Tidak ada bantahan
22
Pengecualian
23
Pagi yang tidak sempurna
24
Nanti Anda jatuh cinta
25
Aku hampir kehilanganmu
26
Harga yang harus dibayar
27
Korsleting atau sabotase?
28
Reyhan Althar
29
Izinkan aku menjaga kalian
30
Kamu tidak sendiri lagi
31
Retaknya sebuah rumah tangga
32
Tinggal aku
33
Ketakutan baru
34
Keraguan Diana
35
Pertemuan yang mengubah segalanya
36
Secepatnya
37
Rumah yang akhirnya menerimaku
38
Pria dari masa lalu
39
Tamparan untuk Samuel
40
Pengakuan Samuel
41
Tempat berlindung
42
Cinta palsu dalam pernikahan
43
Obsesi Samuel
44
Alamat palsu
45
Pelukan itu...
46
Salah paham
47
Pernikahan Sang Raja Bisnis
48
Reyhan menggagalkan segalanya
49
Istri Nathaniel De Luca
50
Jejak Reyhan
51
Lindungi Reyhan!
52
Dibalik pintu
53
Papa dan Istriku
54
Terbongkar
55
Dilindungi
56
Kebusukan terbongkar
57
Diusir dari rumah
58
Karma mulai bekerja
59
Skandal dan pembalasan
60
Aku anak siapa?
61
Dua keluarga
62
Hadiah untuk Niel
63
Anggota baru
64
Es krim untuk orang sedih
65
Jangan-jangan Dia...
66
Saya tidak pernah melakukannya
67
Ketakutan seorang Ibu
68
Ketika ngidam dimulai
69
Bakso isian coklat
70
Semua atas nama kamu
71
Hari bahagia kalian berakhir
72
Firasat seorang Ibu
73
Pertemuan yang tertunda
74
Rahasia yang mulai mengutuk
75
Kelumpuhan
76
Target baru
77
Kebencian yang dibenci
78
Dramastis
79
Harga sebuah dendam
80
Om itu di rumah sakit
81
Reyhan hilang
82
Perburuan dimulai
83
Kembali ke pelukan
84
Pantaskan dirimu
85
Rafaalle Gabriella De Luca
86
Rahasia tujuh belas tahun
87
Ayah tetap Ayah
88
Pria yang selama ini kukenal
89
Akhir yang bahagia

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!